Anda di halaman 1dari 15

A.

Definisi

Diabetes melitus adalah gangguan metabolik kronik yang tidak dapat


disembuhkan, tetapi dapat dikontrol yang dikarakteristikan dengan ketidak ade
kuatan penggunaan insulin (Barbara Engram; 1999, 532)

Klasifikasi diabetes melitus

a. DM

• Tipe I : IDDM

• Tipe II : NIDDM

b.Gangguan toleransi glukosa

c. Diabtets kehamilan
B. Etiologi

Penyebab Diabetes Melitus berdasarkan klasifikasi menurut WHO tahun 1995


adalah :

1. DM tipe 1 (IDDM :DM tergantung insulin)

• Faktor genetik

• Faktor infeksi virus

2. DM tipe II ( DM tidak tergantung insulin NIDDM )

Terjadi paling sering pada orang dewasa, dimana terjadi obesitas pada individu
obesitas dapat menurunkan jumlah resoptor insulin dari dalam sel target
insulin diseluruh tubuh.

3. DM malnutrisi
• Fibro calculous pancreatic DM (FCPD)
• Protein defisiensi pancreatic diabetes melitus (PDPD)
4. DM tipe lain

• Penyakit pankreas seperti : pancreatitis, Ca Pancreas dll

• Penyakit hormonal

C. Manifestasi Klinis

1. Poliuria

2. Polidipsi

3. Polipagia

4. Penurunan berat badan

5. Kelemahan,keletihan dan mengantuk

6. Kesemutan pada ekstremitas

7. Infeksi kulit pruritas

8. Kadar glukosa puasa tidak normal


PATOFISIOLOGI

Faktor resiko
(aktivitas fisik, usia Faktor
Faktor genetik
yang lebih tua, lingkungan
obesitas

Diabetes Pengambilan
tipe II kalori yang
berlebihan

Temuan klinis
•Abnormal pola Gejala variabel
sekresi insulin •Hiperglikemia
•Penurunan ambilan •Haus yang berlebihan
glukosa dan •Sering buang air kecil
penigkatan glukosa •polyphagia
postprandial
•Penigkatan
pelepasan glukosa
oleh hati
D. Pemeriksaan Penunjang

1. Kadar glukosa darah

2. Kriteria diagnostik WHO untuk diabetes mellitus pada sedikitnya 2 kali


pemeriksaan

3. Tes laboratorium DM

4. Tes saring

5. Tes diagnostik

6. Tes monitoring terapi

7. Tes untuk mendeteksi komplikasi


E. Penatalaksanaan

Insulin pada dm tipe 2 diperlukan pada keadaan :

1. Penurunan berat badan yang cepat

2. Hiperlglikemia berat yang disertai ketosis

3. Ketoasidosis diabetk (kad) atau hiperglikemia hiperpsmolar non ketotik


(honk)

4. Hiperglikemia dengan asidosis laktat

5. Gagal dengan kombinasi OHO dosis normal

6. Stres berat (infeksi sistemik, operasi besar)

7. Gangguan fungsi ginjal atau hati yang berat

8. Kontraindikasi dan atau alergi terhadap OHO


F. Discharge planning

1. Lakukan olahraga secara rutin dan pertahankan bb yang ideal

2. Kurangi konsumsi makanan yang banyak mengandung gula dan


karbohidrat

3. Jangan mengurangi jadwal makan atau menunda waktu makan karena


hal ini akan menyebabkan fluktuasi (ketidakstabilan) kadar gula darah

4. Pelajari mencegah infeksi

5. Perbanyak konsumsi makanan yang banyak mengandung serat

6. Hindari konsumsi makanan tinggi lemak dan yang banyak mengandung


banyak kolesterol

7. Hindari minuman yang beralkohol dan kurangi konsumsi garam


Asuhan Keperawatan Diabetes Melitus

Pengkajian

Diagnosa Intervensi
keperawatan
A. Pengkajian

1. Identitas

2. Riwayat penyakit sekarang

Biasanya klien masuk ke RS dengan keluhan utama gatal-gatal pada kulit


yang disertai bisul/lalu tidak sembuh-sembuh, kesemutan/rasa berat, mata
kabur, kelemahan tubuh.

3. Riwayat kesehatan dahulu

4. Riwayat anggota keluarga yang menderita DM

5. Psikososial

6. Aktivitas

7. Pemeriksaan fisik
b. Diagnosa
1. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b.d ganguan
keseimbangan insulin, makanan dan aktivitas jasmani

2. Resiko syok b.d ketidakmampuan elektrolit kedalam sel tubuh,


hipovolemia

3. Resiko infeksi b.d inkomplit pengosongan kandung kemih

4. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer b.d penurunan sirkulasi darah


keperifer, proses penyakit DM

5. Resikoketidakseimbangan elektrolit b.d gejala poliuria dan dehidrasi

6. keeletihan
C. INTERVENSI

1. Pantau tanda vital Hipovolemia dapat ditandai dengan hipotensi dan


takikardi

2. Kaij suhu, warna kulit dan kelembaban. Demam, kulit kemerahan,


kering sebagai cerminan dari dehidrasi.

3. Ukur BB setiap hari Memberikan hasil pengkajian yang terbaik dan


status cairan yang sedang berlangsung dan selanjutnya dalam
memberikan cairan pengganti

4. Tingkatkan lingkungan yang nyaman selimuti dengan selimut


tipis Menghindari pemanasan yang berlebihan pada pasien yang akan
menimbulkan kehilangan cairan.

5. Observasi tanda-tanda infeksi dan peradangan.


6 Tingkatkan upaya pencegahan dengan mencuci tangan bagi semua orang
yang berhubungan dengan pasien, meskipun pasien itu sendiri. Mencegah
timbulnya infeksi nasokomial.

7 Pertahankan teknik aseptik prosedur invasif. Kadar glukosa tinggi akan


menjadi media terbaik bagi pertumbuhan kuman.

8 Bantu pasien melakukan oral higiene.

9 Kolaborasi tentang pemberian antibiotik yang sesuai Penanganan awal


dapat membantu mencegah timbulnya sepsis.

10 Tentukan program diet dan pola makan pasien dan bandingkan dengan
makanan yang dihabiskan pasien.