Anda di halaman 1dari 27

KELOMPOK 4:

MUHAMMAD QASHMAL FACHREZI


MUHAMMAD RAFLI ADITYA
MOCHAMMAD RIDZKY
NAURAH NAJLA
NOVA RIZKY PAHLEVI
PIRANINDHA BAGAS

APBN
dan
A.PENGERTIAN, FUNGSI, DAN TUJUAN
PENYUSUNAN APBN
Pengertian APBN
Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), adalah rencana keuangan tahunan
pemerintahan negara Indonesia yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat. APBN berisi daftar
sistematis dan terperinci yang memuat rencana penerimaan dan pengeluaran negara selama satu tahun
anggaran (1 Januari – 31 Desember). APBN, Perubahan APBN, dan Pertanggungjawaban APBN setiap
tahun ditetapkan denganUndang-Undang
Fungsi APBN
1. Fungsi alokasi, yaitu penerimaan yang berasal dari pajak dapat dialokasikan untuk
pengeluaran yang bersifat umum, seperti pembangunan jembatan, jalan, dan taman
umum.
2. Fungsi distribusi, yaitu pendapatan yang masuk bukan hanya digunakan untuk
kepentingan umum,tetapi juga dapat dipindahkan untuk subsidi dan dana pensiun.
3. Fungsi stabilisasi, yaitu Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) berfungsi
sebagai pedoman agar pendapatan dan pengeluaran keunagn negara teratur sesuai
dengan di terapkan.Jika pemndapatan dipakai sesuai dengan yang di
terapkan, Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) berfungsi sebagai stabilisator.
Tujuan Penyusunan APBN
Sebagai pedoman untuk pemerintah terhadap untuk pengeluaran negara dalam
melakukan tugan yang dilakukan oleh negara hanya untuk meningkatkan produksi, untuk
memberi kesempatan kerja dan untuk menumbuhkan perekonomian dan untuk mencapai
kemakmuran terhadap masyarakat.
B. SUMBER-SUMBER PENERIMAAN DAN JENIS-
JENIS BELANJA NEGARA
Sumber-Sumber Penerimaan Negara
1. Penerimaan perpajakan adalah semua penerimaan negara yang terdiri atas pajak dalam negeri dan pajak
perdagangan internasional.
a. Pajak dalam negeri adalah semua penerimaan negara yang berasal dari pajak penghasilan, pajak
pertambahan nilai barang dan jasa dan pajak penjualan atas barang mewah, pajak bumi dan bangunan,
cukai, dan pajak lainnya.
b. Pajak perdagangan internasional adalah semua penerimaan negara yang berasal dari bea masuk
dan bea keluar.
2. Penerimaan negara bukan pajak, yang selanjutnya disingkat PNBP, adalah semua penerimaan Pemerintah Pusat
yang diterima dalam bentuk penerimaan dari sumber daya alam, bagian Pemerintah atas laba badan usaha
milik negara (BUMN), penerimaan negara bukan pajak lainnya, serta pendapatan badan layanan umum (BLU).
3. Penerimaan hibah adalah semua penerimaan negara baik dalam bentuk devisa dan/atau devisa yang
dirupiahkan, rupiah, maupun dalam bentuk barang, jasa, dan surat berharga yang diperoleh dari pemberi
hibah yang tidak perlu dibayar kembali dan yang tidak mengikat, baik yang berasal dari dalam negeri
maupun dari luar negeri.
Jenis-jenis Belanja Negara
1. Belanja Pemerintah Pusat menurut organisasi adalah belanja Pemerintah Pusat yang
dialokasikan kepada kementerian negara/lembaga (K/L), sesuai dengan program-
program Rencana Kerja Pemerintah yang akan dijalankan.
2. Belanja Pemerintah Pusat menurut fungsi adalah belanja Pemerintah Pusat yang
digunakan untuk menjalankan fungsi pelayanan umum, fungsi pertahanan, fungsi
ketertiban dan keamanan, fungsi ekonomi, fungsi lingkungan hidup, fungsi perumahan
dan fasilitas umum, fungsi kesehatan, fungsi pariwisata dan budaya, fungsi agama,
fungsi pendidikan, dan fungsi perlindungan sosial.
3. Belanja Pemerintah Pusat menurut jenis adalah belanja Pemerintah Pusat yang digunakan
untuk membiayai belanja pegawai, belanja barang, belanja modal, pembayaran bunga
utang, subsidi, belanja hibah, bantuan sosial, dan belanja lain-lain.
a. Belanja pegawai adalah belanja Pemerintah Pusat yang digunakan untuk membiayai
kompensasi dalam bentuk uang atau barang yang diberikan kepada pegawai Pemerintah
Pusat, pensiunan, anggota Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik
Indonesia, dan pejabat negara, baik yang bertugas di dalam negeri maupun di luar negeri,
sebagai imbalan atas pekerjaan yang telah dilaksanakan, kecuali pekerjaan yang berkaitan
dengan pembentukan modal.
b. Belanja barang adalah belanja Pemerintah Pusat yang digunakan untuk membiayai
pembelian barang dan jasa yang habis pakai untuk memproduksi barang dan jasa, baik
yang dipasarkan maupun yang tidak dipasarkan, dan pengadaan barang yang dimaksudkan
untuk diserahkan atau dijual kepada masyarakat, serta belanja perjalanan.
c. Belanja modal adalah belanja Pemerintah Pusat yang dilakukan dalam rangka
pembentukan modal dalam bentuk tanah, peralatan dan mesin, gedung dan bangunan,
jaringan, serta dalam bentuk fisik lainnya.
d. Pembayaran bunga utang adalah belanja Pemerintah Pusat yang digunakan untuk
membayar kewajiban atas penggunaan pokok utang baik utang dalam negeri maupun luar
negeri, yang dihitung berdasarkan ketentuan dan persyaratan dari utang yang sudah ada
dan perkiraan utang baru, termasuk untuk biaya terkait dengan pengelolaan utang.
e. Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang
memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa, yang memenuhi hajat
hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau oleh
masyarakat.
f. Subsidi energi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan atau lembaga
yang menyediakan dan mendistribusikan bahan bakar minyak (BBM) jenis tertentu, liquefied
petroleum gas (LPG) tabung 3 (tiga) kilogram, dan tenaga listrik sehingga harga jualnya
terjangkau oleh masyarakat yang membutuhkan.
g. Belanja hibah adalah belanja Pemerintah Pusat yang bersifat sukarela dengan pengalihan
hak dalam bentuk uang, barang, atau jasa dari Pemerintah kepada BUMN, pemerintah
negara lain, lembaga/organisasi internasional, pemerintah daerah khususnya pinjaman
dan/atau hibah luar negeri yang diterushibahkan ke daerah yang tidak perlu dibayar
kembali, bersifat tidak wajib dan tidak mengikat, serta tidak secara terus menerus dan
dilakukan dengan naskah perjanjian antara pemberi hibah dan penerima hibah.
h. Bantuan sosial adalah semua pengeluaran negara dalam bentuk transfer uang/barang
yang diberikan kepada masyarakat melalui kementerian negara/lembaga dan/atau
pemerintah daerah guna melindungi masyarakat dari kemungkinan terjadinya berbagai risiko
sosial.
i. Belanja lain-lain adalah semua pengeluaran atau belanja pemerintah pusat yang
dialokasikan untuk membiayai keperluan lembaga yang belum mempunyai kode bagian
anggaran, keperluan yang bersifat ad hoc (tidak terus menerus), kewajiban pemerintah
berupa kontribusi atau iuran kepada organisasi/lembaga keuangan internasional yang belum
ditampung dalam bagian anggaran kementerian negara/lembaga, dan dana cadangan
risiko fiskal serta mengantisipasi kebutuhan mendesak.
4. Transfer ke daerah adalah pengeluaran negara dalam rangka pelaksanaan desentralisasi
fiskal berupa dana perimbangan, dana otonomi khusus, dan dana penyesuaian.
a. Dana perimbangan adalah dana yang bersumber dari pendapatan APBN yang
dialokasikan kepada daerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan
desentralisasi yang terdiri atas dana bagi hasil, dana alokasi umum, dan dana alokasi khusus,
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
1) Dana bagi hasil, yang selanjutnya disingkat DBH, adalah dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah berdasarkan angka persentase
tertentu untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka pelaksanaan desentralisasi,
sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan
Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
2) Dana alokasi umum, yang selanjutnya disingkat DAU, adalah dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah dengan tujuan pemerataan
kemampuan keuangan antardaerah untuk mendanai kebutuhan daerah dalam rangka
pelaksanaan desentralisasi, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun
2004 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah,
dihitung dari Pendapatan Dalam Negeri (PDN) neto.
3) Dana alokasi khusus, yang selanjutnya disingkat DAK, adalah dana yang bersumber dari
pendapatan APBN yang dialokasikan kepada daerah tertentu dengan tujuan untuk membantu
mendanai kegiatan khusus yang merupakan urusan daerah dan sesuai dengan prioritas
nasional, sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang
Perimbangan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintahan Daerah.
b. Dana otonomi khusus adalah dana yang dialokasikan untuk membiayai pelaksanaan
otonomi khusus suatu daerah, sebagaimana ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 35
Tahun 2008 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1
Tahun 2008 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2001 tentang
Otonomi Khusus Bagi Provinsi Papua menjadi Undang-Undang dan Undang-Undang Nomor
11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.
c. Dana penyesuaian adalah dana yang dialokasikan untuk membantu daerah dalam rangka
melaksanakan kebijakan tertentu Pemerintah dan DPR sesuai peraturan perundangan, yang
terdiri atas dana insentif daerah, Dana Tambahan Penghasilan Guru Pegawai Negeri Sipil
Daerah (PNSD), dana-dana yang dialihkan dari Kementerian Pendidikan Nasional ke Transfer
ke Daerah, berupa Tunjangan Profesi Guru dan Bantuan Operasional Sekolah (BOS), Dana
Penyesuaian Infrastruktur Daerah, serta Kurang Bayar Dana Sarana dan Prasarana
Infrastruktur Provinsi Papua Barat
C.MEKANISME PENYUSUNAN APBN DAN
PENGARUHNYA TERHADAP PEREKONOMIAN
Mekanisme Penyusunan APBN
1. Prinsip Penyusunan APBN
1. Berdasarkan aspek pendapatan, prinsip penyusunan APBN ada tiga, yaitu:
Intensifikasi penerimaan anggaran dalam jumlah dan kecepatan penyetoran.
Intensifikasi penagihan dan pemungutan piutang negara.
Penuntutan ganti rugi atas kerugian yang diderita oleh negara dan penuntutan denda.
2. Sementara berdasarkan aspek pengeluaran, prinsip penyusunan APBN adalah:
Hemat, efesien, dan sesuai dengan kebutuhan.
Terarah, terkendali, sesuai dengan rencana program atau kegiatan.
Semaksimah mungkin menggunakan hasil produksi dalam negeri dengan memperhatikan
kemampuan atau potensi nasional.
2. Asas Penyusunan APBN
Dalam menyusunan APBN didasarkan pada tiga asas yang harus dilakukan diketahui pemerintah yang
dijadikan sebagai dasar penyusunan APBN, sebagai berikut.
a. Kemandirian, artinya pembiayaan oleh negara didasarkan atas kemampuan negara, pinjaman luar
negeri hanyalah sebagai pelengkap.
b. Penghematan atau peningkatan efisiensi dan produktivitas
c. Penajaman prioritas pembangunan, maksud dari penajaman perioritas pembagunan adalah APBN
harus mendahulukan pembiayaan yang lebih bermanfaat
3. Landasan Hukum APBN
a. UUD 1945 pasal 23 ayat 1 yang berbunyi : Anggaran pendapatan dan Belanja Negara
ditetapkan setiap tahun
b. UU No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan Negara
c. UU No. 33 tahun 2004 tentang perimbangan keuangan pemerintah Pusat dan Daerah
4. Cara Penyusunan APBN
1. Pemerintah menyusun rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN), RAPBN disusun
pemerintah atas dasar usulan anggaran yang dibuat oleh setiap departemen atau lembaga negara
yang diusulkan kepada pemerintah dalam bentuk DUK (daftar usulan kegiatan) dan DUP (daftar usulan
proyek). DUK diusulkan untuk membiayai pembangunan.
2. Pemerintah mengajukan RAPBN kepada DPR untuk dibahas.
3. DPR membahas RAPBN dengan tujuan : diterima atau ditolak.
4.Jika diterima, RAPBN akan disahkan menjadi APBN dan disampaikan kepada pemerintah untuk
dilaksanakan. Namun, jika ditolak maka pemerintah harus menggunakan APBN sebelumnya.
Pengaruh APBN Terhadap Perekonomian
1. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi masyarakat, maksudnya dapat mengetahui besarnya
GNP dari tahun ke tahun.
2. Menciptakan kestabilan keuangan atau moneter negara, maksudnya dapat mengatur jumlah
uang yang beredar di masyarakat.
3. Menimbulkan investasi masyarakat, karena dapat mengembangkan industri - industri dalam
negeri.
4. Memperlancar distribusi pendapatan, maksudnya dapat mengetahui sumber penerimaan dan
penggunaan untk belanja pegawai dan belanja barang atau jasa serta yang lainnya.
5. Memperluas kesempatan kerja, karena terdapat pembangunan proyek - proyek negara dan
investasi negara, sehingga dapat membuka lapangan kerja yang baru dan dapat meningkatkan
kesejahteraan masyarakat.

Dampak adanya APBN terhadap perekonomian suatu negara akan tampak jelas sekali. Apabila
suatu negara di dalam APBN-nya menunjukkan prioritas di bidang industri, maka
perekonomiannya akan cenderung mengarah kepada peningkatan di bidang industri. Jika di
dalam APBN suatu negara memprioritaskan pembangunan sarana dan prasarana, maka
perekonomian negara tersebut ingin memotivasi para investor baru untuk membuka dan
meningkatkan investasinya sehingga diharapkan meningkatkan hasil produksi, kesempatan kerja,
dan penghasilkan masyarakat meningkat yang pada akhirnya meningkatkan kemakmuran
masyarakat.
APBD
ANGGARAN PENDAPATAN DAN BELANJA DAERAH
Wujud pengelolaan keuangan daerah yang ditetapkan setiap
tahun dengan peraturan daerah

APBD disusun sebagai pedoman pendapatan dan


belanja dalam melaksanakan kegiatan pemerintah
daerah
Landasan Hukum Pengelolaan Keuangan Daerah dan APBD
UUD 1945 Amandemen IV Bab VIII
UU No. 17 tahun 2003 tentang keuangan Negara
UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara
UU No. 15 Tahun 2005 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.
UU No. 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah
UU No. 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan Daerah
PP No. 58 tahun 2005 tentang Pengelolaan Keuangan Daerah
Permendagri No. 21 /2011 Tentang perubahan kedua atas Permendagri No. 13/2006
PP No. 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan
Peraturan Daerah terkait
Fungsi APBD :
1. Fungsi otorisasi

Anggaran daerah menjadi dasar untuk


melaksanakan pendapatan dan belanja pada
tahun yang bersangkutan

2. Fungsi perencanaan

Pedoman untuk merencanakan


kegiatan pada tahun tersebut
3. Fungsi pengawasan

Mengawasi agar kegiatan sesuai


dengan tujuan yang direncanakan

4. Fungsi alokasi
Anggaran harus diarahkan untuk mengurangi
pengangguran dan pemborosan sumber daya,
serta meningkatkan efisiensi dan efektivitas
perekonomian
5. Fungsi distribusi

Memperhatikan rasa keadilan


dan kepatutan

6. Fungsi stabilisasi

Memelihara keseimbangan
perekonomian
Kebijakan Penyusunan APBN
a. Pendapatan Daerah
Anggaran pendapatan
Anggaran belanja
Pembiayaan
b. Belanja Daerah
Pengeluaran dari kas daerah yang merupakan kewajiban daerah

c. Pembiayaan Daerah
Transaksi keuangan untuk menutupi defisit atau untuk memanfaatkan surplus
Sumber Penerimaan :

A. Pendapatan Asli Daerah (PAD)


Pendapatan Asli Daerah (PAD) adalah pendapatan yang diperoleh daerah yang dipungut
berdasarkan peraturan daerah sesuai dengan peraturan perundang - undangan.
Pendapatan asli daerah bersumber dari :
1) Pajak daerah;
2) Retribusi daerah;
3) Hasil pengelolaan kekayaan daerah yang dipisahkan;
4) Lain - lain PAD yang sah.
B. Dana Perimbangan C. Pendapatan Daerah Yang Sah
Dana perimbangan adalah dana yang bersumber Pendapatan daerah yang sah diperoleh dari :
dari APBN yang di alokasikan kepada daerah untuk
membiayai kebutuhan daerah. Dana perimbangan 1) Hibah;
meliputi :
2) Dana darurat;
1) Dana bagi hasil pajak / bagi hasil bukan pajak;
3) Dana bagi hasil pajak dan provinsi;
2) Dana Alokasi Umum (DAU), yang digunakan
untuk mengatasi kepentingan antardaerah agar 4) Dana penyesuaian dan otonomi khusus;
terjadi pemerataan kemampuan keuangan
antardaerah; 5) Bantuan keuangan dari provinsi.
3) Dana Alokasi Khusus (DAK), yang digunakan
sebagai pembiayaan kebutuhan khusus daerah.
Pembelanjaan Daerah terdiri atas :
1) Belanja Aparatur Daerah, yang meliputi
a) Belanja Administrasi Umum
b) Belanja Operasi dan Pemeliharaan
c) Belanja Modal
2) Belanja Pelayanan Publik, yang meliputi:
a) Belanja Administrasi Umum
b) Belanja Operasi dan Pemeliharaan
c) Belanja Modal
3) Belanja Bagi Hasil dan Bantuan Keuangan
4) Belanja Tidak Tersangka
Mekanisme penyusunan APBD
Prinsip Penyusunan APBD
 Sesuai dengan kebutuhan
 Tepat waktu
 Transparan
 Melibatkan partisipasi masyarakat
 Memperhatikan rasa keadilan dan kepatutan
Substansi APBD tidak bertentangan dengan kepentingan
umum, peraturan yang lebih tinggi dan peraturan daerah
lainnya
Contoh APBD
DAMPAK APBD TERHADAP PEREKONOMIAN

a. APBD digunakan untuk memperbaiki dan menjaga kestabilan ekonomi daerah.


b. APBD diharapkan mampu menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk berinvestasi.
c. APBD mampu memberi pengaruh terhadap pertumbuhan perekonomian daerah dengan mengikut sertakan
secara aktif peran masyarakat.
d. APBD dapat menimbulkan raja percaya masyarakat terhadap pemerintah daerah sehingga peran
masyarakat dalam pertumbuhan ekonomi akan semakin besar
e. Meningkatkan sektor ekonomi masyarakat, artinya masyarakat mampu mengetahui GNP dari tahun ini dan
seterusnya.
f. Memunculkan dan menimbulkan tingkat investasi masyarakat, ini terjadi karna masyarakat dapat
mengembangkan industri-industri yang berada dalam negeri.
g. Memperluas kesempatan kerja masyarakat, ini terjadi karna muncul dan terbangunnya lapangan kerja di
daerah.