Anda di halaman 1dari 18

Critical Thinking Dalam

Asuhan Bayi Baru Lahir

Kelompok 4 :
1. Else Christine Br. Ginting
2. Lely Sinaga
3. Dian Syahwitri
Critical Thinking (Berfikir Kritis) dalam Asuhan Kebidanan

Berpikir kritis adalah cara berpikir tentang subjek, konten, atau masalah yang dilakukan
oleh pemikir secara aktif dan terampil secara konseptual dan memaksakan standar yang
tinggi atas intelektualitas mereka. Dapat juga diartikan sebagai proses berfikir secara
aktif dalam menerapkan, menganalisis, mensintesis, dan mengevaluasi informasi yang
dikumpulkan dan atau dihasilkan melalui observasi, pengalaman, refleksi, penalaran,
atau komunikasi, sebagai acuan dalam meyakini suatu konsep dan atau dalam melakukan
tindakan. Dalam pelaksanaannya, hal ini didasarkan pada nilai-nilai universal intelektual
yang melampaui cabang suatu ilmu yang meliputi: kejelasan, akurasi, presisi,
konsistensi, relevansi, bukti suara, alasan yang baik, kedalaman, luasnya ilmu, dan
keadilan.
Dengan adanya proses berfikir kritis diharapkan dapat:

Menimbulkan pertanyaan penting terkait topik/masalah yang sedang


difikirkan, kemudian dapat merumuskan masalah dengan jelas dan tepat

Mengumpulkan dan menilai informasi yang relevan, menggunakan ide-ide


abstrak untuk menafsirkan secara efektif terkait kesimpulan yang beralasan
dan solusi pemecahan masalah, menguji alternatif pemecahan masalah
terhadap kriteria dan standar yang relevan

Berpikir terbuka dalam sistem pemikiran alternatif, mampu mengakui


dan menilai setiap permasalahan dengan asumsi yang beralasan, dapat
menimbulkan implikasi, dan konsekuensi praktis

Berkomunikasi secara efektif dengan orang lain dalam mencari


tahu solusi untuk masalah yang kompleks
Tiga kunci utama untuk dapat berfikir kritis: RED (Recognize assumptions,
Evaluate arguments dan Draw conclusions) = mengenali masalah, menilai
beberapa pendapat, dan menarik kesimpulan. Dalam menyimpulkan hasil
pemikiran kritis, diperlukan upaya gigih untuk memeriksa setiap keyakinan
atau pemahaman akan pengetahuan berdasarkan dukungan bukti ilmiah
(evidence based) yang mendukung kecenderungan pengambilan kesimpulan
tersebut.

Proses berfikir kritis merupakan kerangka dasar bidan dalam memberikan


asuhan kebidanan, dalam bingkai manajemen kebidanan. Sehingga, apabila
bidan memberikan asuhan kebidanan kepada klien dengan menerapkan
prinsip-prinsip manajemen kebidanan dengan sistematis dan terpola, maka
bidan tersebut telah menerapkan proses berfikir kritis
2.2 Permasalahan Bayi Baru Lahir dan Menanganinya

Bayi baru lahir atau neonatus meliputi umur 0 – 28 hari. Kehidupan pada masa neonatus
ini sangat rawan oleh karena memerlukan penyesuaian fisiologik agar bayi di luar
kandungan dapat hidup sebaik-baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingginya angka
kesakitan dan angka kematian neonatus. Diperkirakan 2/3 kematian bayi di bawah umur
satu tahun terjadi pada masa neonatus. Peralihan dari kehidupan intrauterin ke
ekstrauterin memerlukan berbagai perubahan biokimia dan faali

Banyak masalah pada bayi baru lahir yang berhubungan dengan gangguan atau kegagalan
penyesuaian biokimia dan faali yang disebabkan oleh prematuritas, kelainan anatomik,
dan lingkungan yang kurang baik dalam kandungan, pada persalinan maupun sesudah
lahir.
Masalah pada neonatus biasanya timbul sebagai akibat yang spesifik terjadi pada masa
perinatal. Tidak hanya merupakan penyebab kematian tetapi juga kecacatan. Masalah
ini timbul sebagai akibat buruknya kesehatan ibu, perawatan kehamilan yang kurang
memadai, manajemen persalinan yang tidak tepat dan tidak bersih, kurangnya
perawatan bayi baru lahir. Kalau ibu meninggal pada waktu melahirkan, si bayi akan
mempunyai kesempatan hidup yang kecil.

Adapun masalah Bayi baru Lahir beberapanya antara lain yaitu sebagai berikut :

1. Ikterus
Selama masa pasca melahirkan, bayi baru lahir melepaskan pigmen empedu yang
menyebabkan kulit menguning. Ikterus terjadi pada hari ke 4-5 setelah kelahiran
dan berakhir pada hari ke 9-10. Untuk bayi prematur, ikterus akan berlangsung
lebih lama. Ikterus fisiologis pada neonatus adalah hal yang masih normal dan
tidak menyebabkan gangguan pada tumbuh kembang anak.
2. Penurunan berat badan

Ini terjadi 3-4 hari setelah kelahiran dan penyebabnya adalah perubahan
lingkungan. Setelah 2 minggu menjalani perawatan intensif dan menyusu, bayi
akan mendapatkan berat badannya yang semula dan beratnya akan mulai
bertambah seiring berjalannya waktu.

3. Bersin dan hidung tersumbat


Ini disebabkan oleh iritasi, seperti saat anak menghirup asap rokok, debu
(hindari menempatkan kipas angin di kamar anak karena kipas dengan mudah
menyebarkan debu dari satu tempat ke tempat lainnya), dan udara kering.
Untuk mencegah bersin dan hidung tersumbat pada anak, hindari iritasi (bulu
hewan, asap rokok, debu), gunakan humidifier di dalam ruangan, gunakan
semprotan hidung atau obat iritasi hidung. Tetes hidung adalah larutan natrium
klorida 0,9% dan alat sedot hidung untuk anak-anak yang menggunakan bola
karet disterilkan dengan air mendidih.
4. Cegukan

Pada bayi dan dewasa, ada banyak cara untuk mengatasi cegukan. Namun, ibu
tidak boleh menerapkan cara ekstrem pada bayi baru lahir seperti yang dilakukan
oleh orang dewasa. Cegukan pada bayi akan menghilang secara alami tanpa
perlu terlalu dikhawatirkan. Jika cegukan bayi berlangsung lama, sekitar 5-10
menit, ibu dapat memompa ASI ke sendok, dan menyuapi beberapa sendok ASI
atau air putih dapat mengurangi kemungkinan bayi menyusu terlalu cepat.

5. Infeksi pernapasan

Ini disebabkan oleh virus atau bakteri dan sangat umum pada bayi. Penyakit ini
berlangsung selama satu atau dua minggu dengan hidung meler, demam, dan
tidak menyusu untuk beberapa hari, yang dapat bertahan sekitar 2-3 minggu.
Gejala yang lebih serius memerlukan perawatan dokter. Oleh karena itu, penting
bagi anak-anak untuk segera memeriksakan diri ke dokter.
Critical Thinking Dalam Kasus Bayi Baru Lahir

Bayi berjenis kelamin perempuan lahir pada tanggal 16 Maret 2017 pukul 04.00
WIB dari Ny.”N” 25 tahun secara spontan pervaginam dengan usia gestasi 42-43
minggu, setelah lahir bayi tidak segera menangis dengan APGAR score 5/6. Berat
badan lahir 3100 gram PB 49 cm dan LK 34 cm. Ketuban hijau, genitalia (+),
anus (+), kelainan kongenital (-). Janin lahir dengan presentasi kepala tunggal
hidup. Kemudian bayi dipindahkan ke Ruangan Perinatologi pukul 06.00 wib dan
diletakkan kedalam inkubator dengan suhu 28oC. Bidan meminta surat
persetujuan tindakan medis untuk pemasangan infus, pemasangan NGT, injeksi
dan pemberian obat. Dalam pemberian terapi, bidan berkolaborasi dengan dokter
spesialis anak untuk pemberian oksigen, cairan infus, injeksi obat. Pemenuhan
nutrisi ASI juga terbatas karena kondisi bayi yang masih lemah dan tidak kuat
hisap. Bayi mengalami hipotermi dengan suhu 35,5oC. dan bayi juga menderita
asfiksia dan infeksi neonaturum.
A. Kata kunci Masalah

1. Bayi lahir usia gestasi 42-43 minggu


2. Kondisi bayi yang masih lemah
3. APGAR score 5/6
4. Bayi mengalami hipotermi dengan suhu 35,5oC
5. Bayi juga menderita asfiksia dan infeksi neonaturum
b. Critical Thinking Masalah

1. Yang menjadi inti permasalahan kasus tersebut

Yang menjadi inti masalah dalam kasus diatas adalah bayi Ny. N lahir lebih lama dari perkiraan
minggu yang sudah di tetapkan menurut hitungan yaitu lahir di usia gestasi 42 minggu dan pada saat
dilahirkan bayi tidak segera menangis, kondisi bayi juga masih lemah, dilakukan pemeriksaan fisik
apgar score bayi di dapati 5/6, bayi juga mengalami hipotermi dengan suhu 35,5C dari hasil
pemeriksaan fisik kesimpulan yang didapat bayi menderita asfiksia dan infeksi neonatorum. Pada
keadaan ini yang dialami oleh bayi Ny. N adalah Asfiksia Neonatorum.
asfiksia neonatorum ialah keadaan bayi tidak dapat segera bernafas secara spontan dan teratur setelah
lahir.masalah ini erat kaitannya dengan gangguan kesehatan ibu hamil, kelainan tali pusat atau
masalah yang mempengaruhi kesejahteraan bayi selama atau sesudah persalinan. (Asuhan Persalinan
Normal, 2007).
2. Penyebab masalah tersebut dapat muncul

Asfiksia neonatorum yang di alami oleh bayi Ny. N disebabkan karena Ny.N sendiri

mengalami preeklamsi selama masa kehamilan sehingga mengakibatkan insufisinsi

uteroplasenta yaitu terganggunya sirkulasi darah ke placenta yang menyebabkan bayi

kekurangan oksigen dan berefek ketidaknormalan pada system pernafasan janin.


3. Cara untuk mengatasi masalah tersebut

Faktor – faktor yang mempengaruhi terjadinya asfiksia neonatorum pada saat di dalam
kandungan antara lain :
 Adanya komplikasi selama persalinan normal
 Gangguan letak plasenta
 Ketuban pecah dini
 Masalah gangguan pernafasan pada bayi
 Anemia pada ibu hamil
 Tekanan darah tinggi pada ibu hamil
 Ibu hamil terkena tekanan darah rendah
 Pengaruh obat bius selama persalinan caesar
 Bayi terkena meconium aspiration sindrom
 Bayi lahir prematur
• Resiko bayi yang lahir asfiksisa

Bayi yang terkena asfiksia mungkin akan mengalami kondisi yang berbeda dibandingkan
bayi yang lahir dengan sehat. Saat bayi sudah lahir namun tidak bisa bernafas dengan baik
maka bisa menyebabkan tubuh mereka kekurangan oksigen. Kondisi ini jika berlangsung
dalam waktu yang lama atau ketika bantuan oksigen sudah diberikan namun tidak
membaik, maka bisa menyebabkan bayi mengalami resiko kerusakan otak. Resiko lain
yang dihadapi oleh bayi adalah mereka bisa mengalami asidosis, yaitu sebuah kelainan
dimana terlalu banyak zat asam dalam darah. Resiko lain yang sering terjadi jika bayi tidak
bisa bernafas dengan baik juga termasuk kejang dan cedera otak seperti cerebral palsy.)
Mengingat ada berbagai penyebab asfiksia pada bayi yang baru lahir maka sebaiknya ibu
hamil harus waspada. Mengetahui status kesehatan bayi sebelum dilahirkan dan sesudah
dilahirkan bisa menjamin bayi akan tumbuh sehat.
• Tanda tanda yang perlu di perhatikan pada bayi yang mengalami asfiksia
neonatorum

Denyut Peningkatan kecepatan denyut jantung umumnya tidak banyak artinya, akan
jantung janin tetapi apabila frekuensi turun sampai ke bawah 100 kali per menit di luar
his, dan lebih-lebih jika tidak teratur, hal itu merupakan tanda bahaya.

Mekonium pada presentasi sungsang tidak ada artinya, akan tetapi pada
Mekonium presentasi kepala mungkin menunjukkan gangguan oksigenisasi dan harus
dalam air diwaspadai. Adanya mekonium dalam air ketuban pada presentasi kepala
ketuban dapat merupakan indikasi untuk mengakhiri persalinan bila hal itu dapat
dilakukan dengan mudah.

Dengan menggunakan amnioskop yang dimasukkan lewat serviks dibuat


Pemeriksaan sayatan kecil pada kulit kepala janin, dan diambil contoh darah janin. Darah
pH darah ini diperiksa pH-nya. Adanya asidosis menyebabkan turunnya pH. Apabila
janin pH itu turun sampai di bawah 7,2 hal itu dianggap sebagai tanda bahaya
gawat janin mungkin disertai asfiksia.
Klasifikasi klinik nilai apgar :
1. Asfiksia berat (nilai apgar 0-3).
Memerlukan resusitasi segera secara aktif, dan pemberian oksigen terkendali.
Karena selalu disertai asidosis, maka perlu diberikan natrikus bikarbonas 7,5%
dengan dosis 2,4ml /kg BB, dan cairan glukosa 40% 1-2ml/kg BB, diberikan via
vena umbilikus.
2. Asfiksia ringan sedang (nilai apgar 4-6).
Memerlukan resusitasi dan pemberian oksigen sampai bayi dapat bernafas
normal kembali.
3. Bayi normal atau sedikit asfiksia (nilai apgar 7-9).
4. Bayi normal dengan nilai apgar 10 (Mochtar,1998).
• Klasifikasi Penanganan Asfiksia pada Bayi Baru Lahir

Sesuai dengan kasus yang dialami by Ny.”N” ,bayi Ny.”N” mengalami asfiksia ringan sedang. Maka
penanganan yang dilakukan sebagai berikut :
1. Nilai keadaan bayi.
2. Mencuci tangan pada air mengalir dan memakai sarung tangan steril.
3. Mencegah kehilangan panas pada bayi dengan cara mengeringkan tubuh bayi dan membungkus bayi
dengan kain yang bersih dan kering kecuali muka dan dada.
4. Mengatur posisi bayi sedikit ekstensi dengan mengganjal bahu bayi dengan kain.
5. Membersihkan jalan nafas dengan mengisap lendir menggunakan Dee-Lee, masukkan Dee-Lee 3-5 cm
pada bagian mulut dan 2-3 cm pada bagian hidung.
6. Nilai keadaan bayi.
7. Berikan rangsangan taktil dengan cara menggosok punggung bayi dan menepuk telapak kaki bayi.
8. Berikan oksigen 1-2 liter/menit.
9. Nilai kembali keadaan bayi.
10. Berikan asuhan bayi baru lahir normal.
TERIMA KASIH