Anda di halaman 1dari 37

CONTOH SOAL

PENDAPATAN (17.1-17.12)
17.1 PENJUALAN DENGAN OBLIGASI

 PT Bigi memiliki kesepakatan dengan


pelanggannya, jika dalam periode 12 bulan
yang berakhir 31 desemeber, mereka
membeli dagang paling sedikit senilai
Rp.100.000.000, maka mereka akan
menerima diskon 2%. Diperkirakan pada
akhir desember nanti, penjualan akan
mencapai nilaia lebih dari Rp.100.000.000.
 PT Bigi harus mengakui pendapatan setelah diskon
2% dari nilai Rp.90.000.000, sehingga pendapatan
yang diakui adalah sebesar Rp.88.200.000.
 Jurnal yang dibuat oleh PT Bigi :
Piutang Usaha 88.200.000
Penjualan 88.200.000

 Jika pelanggan tersebut tidak mencapai batas


pemberian diskon, sehingga diskon batal diberikan,
maka PT bigi mencatat sebagai berikut.

Kas 90.000.000
Piutang Usaha 88.200.000
Pendapatan lain-diskon tidak diambil 1.800.000
Contoh 17.2 Penjualan dan
pembayaran tertunda
 PT Raddin menjual barang dengan biaya Rp10.000.000 kepada PT
starter seharga Rp14.000.000 dengan memberikan periode kredit
selama 6 bulan. Untuk penjualan yang dilakukan secara tunai untuk
jenis barang yang sama, PT Raddin mengenakan harga tunai sebesar
Rp12.000.000.
 Bagaimana PT Raddin mengukur nilai pendapatan yang diakui dari
transaksi tersebut?
◦ Berdasarkan transaksi tersebut, PT Raddin secara efektif telah
memberikan fasilitas pembiayaan kepada PT Starter selama 6
bulan tanggal waktu periode pembayaran. Diketahui bahwa harga
normal/harga tunai adalah Rp12.000.000. Dengan demikian,
pendapatan yang diakui adalah sebesar nilai diskonto dari
Rp14.000.000 ke harga jual tunai, yaitu sebesar Rp12.000.000.
Selisih antara nilai nominal imbalan sebesar Rp14.000.000 dan
nilai diskonto Rp12.000.000, yaitu sebesar Rp2.000.000 akan
diakui sebagai pendapatan bunga selama periode 6 bulan.
Jurnalnya adalah sebagai berikut:
Pada saat penjualan
Piutang 14.000.000
Penjualan 120.000.000
Pendapatan Bunga Ditangguhkan 2.000.000

 Setiap akhir bulan (selama 6 bulan), entitas mengakui pendapatan


bunga akrual sebagai berikut:

Pendapatan Bunga Ditangguhkan 333.334


Pendapatan Bunga
(1/6 X Rp200.000) 333.334
Contoh 17.3 Penjualan dengan
Pembayaran Cicilan
 Jika pembayaran dilakukan secara cicilan, maka prinsipnya tetap
sama, pendapatan diakui sebesar nilai wajar yaitu kini imbalan yang
akan diterima.
◦ Misalnya PT Gema menjual peralatan dengan cara pembayaran
cicilan. Pelanggan diberikan kesempatan untuk mencicil sebanyak
14 kali dengan cicilan masing-masing sebesar Rp1.000.000. Jika
barang diserahkan kepada pelanggan pada saat penjualan awal dan
saat yang sama dengan pembayaran cicilan pertama, maka
pendapatan yang diakui adalah sebagai berikut. Asumsi tingkat
diskonto adalah 10%.
◦ Jurnal untuk penjualan awal dan penerimaan cicilan pertama:

Piutang 8.103.356
Penjualan 8.103.356
Kas 1.000.000
Piutang 1.000.000
 *(Rp1.000.000 cicilan pertama dan nilai
kini dari 13 kali cicilan berikutnya
Rp7.103.356)
 **(cicilan pertama)
 Pendapatan bunga yang diakui selam
periode cicilan adalah sebesar selisih
antara nilai penjualan Rp14.000.000
dengan Rp8.103.356. Pendapatan bunga
diakui menggunakan metode bunga efektif.
 Skedul cicilan dan perhitungan bunga
adalah sebagai berikut.
Jumlah cicilan Bunga (10% dari Cicilan Nilai
Period nilai terutang) pokok terutang
e (Rp1.000.000
-cicilan
bunga)
8.103.356
1 1.000.000 - 1.000.000 7.103.356
2 1.000.000 710.336 289.664 6.813.692
3 1.000.000 681.369 318.631 6.495.061
4 1.000.000 649.506 350.494 6.144.567
5 1.000.000 614.457 385.543 5.759.024
6 1.000.000 575.902 424.098 5.334.926
7 1.000.000 533.493 466.507 4.868.419
8 1.000.000 486.842 513.158 4.355.261
9 1.000.000 435.526 564.474 3.790.787
10 1.000.000 379.079 620.921 3.169.865
11 1.000.000 316.987 683.013 2.486.852
12 1.000.000 248.685 751.315 1.735.537
13 1.000.000 173.554 826.446 909.091
14 1.000.000 90.909 909.091 (0)
 Penerimaan cicilan kedua jurnalnya
adalah sebagai berikut:
Kas 1.000.000
Piutang 289.664
Pendapatan Bunga 710.336
Contoh 17.4 Pengakuan Pendapatan
saat Penyerahan Barang
 PT Abadi menjual beberapa peralatan dengan harga tunai senilai
Rp10.000.000 untuk peralatannya saja atau Rp13.000.000 jika
termasuk jasa perawatan peralatan tersebut selama 2 tahun. Dalam
kasus ini, PT Abadi akan mengakui pendapatan dari penjualan barang
sebesar Rp10.000.000 pada saat penyerahan barang. Sedangkan
Rp3.000.000 akan diakui selama 2 tahun sebagai pendapatan jasa.
◦ Jurnalnya pada saat penjualan awal adalah sebagai berikut:

Kas 13.000.000
Penjualan peralatan 10.000.000
Pendapatan Jasa Ditangguhkan 3.000.000
Penjualan dengan Pembayaran di
Muka
 Membayar uang muka pada saat pesanan dilakukan. Uang muka ini tidak
dapat dikembalikan. Kapan perusahaan tersebut dapat mengakui
pendapatan?
◦ Pada saat penerimaan uang muka, diakui sebagai liabilitas pada akun
pendapatan diterima di muka.

Kas xxx
Pendapatan Diterima di Muka xxx

pendapatan diakui pada saat barang telah jadi dan diserahkan kepada
konsumen, dengan jurnal sebagai berikut:
Pendapatan Diterima di Muka xxx
Pendapatan Penjualan xxx
Contoh 17.5 Penjualan dan Retur
 PT Tugu Indah menjual peralatan pertanian senilai Rp4.000.000 pada 10
Agustus 2015 dan diasumsikan jumlah retur dapat diestimasi dengan andal.
Pada tanggal 30 Agustus 2015, terdapat retur senilai 10.000. Pada tanggal
31 Desember 2015 berdasarkan pengalaman masa lalu, PT Tugu Indah
mengestimasikan jumlah retur diperkirakan sebesar 2% dari penjualan.
Bagaimana PT Tugu Indah mengakui pendapatannyaa?

10 Agustus 2015 Piutang 4.000.000


Penjualan 4.000.000

30 Agustus 2015 Retur Penjualan 10.000


Piutang 10.000

31 Deaember 2015 Retur Penjualan 70.000


Penyisihan Retur Penjualan 70.000
((Rp4.000.000 x 2%)-Rp10.000)
CONTOH 17.6 Penjualan dengan perjanjian
membeli kembali (Buyback Agreement)

 PT.pianika menjual barang dagangannya berupa alat musik kepada


PT Hiburan senilai Rp80.000.000. harga pokok penjualan barang
tersebut adalah Rp60.000.000. PT.Pianika setuju untuk membeli
kembali barang tersebut dua tahun lagi pada nilai wajarnya. PT
Pianika dan tidak ada pembatasan kepada PT Hiburan dalam
menggunakan barang tersebut selama 2 tahun.
Dalam kasus ini, tampak bahwa risiko dan manfaat signifikan
telah berpindah kepada PT Hiburan, karena PT Hiburan akan
menerima nilai wajar pada saat pembelian kembali oleh PT Pianika
menunjukan bahwa PT Pianika telah memindahkan risiko kepada
PT Hiburan. Tambah lagi tidak ada pembatasan apa pun dalam
penggunaan barang, yang artinya PT Pianika telah memindahkan
manfaat signifikan dari barang tersebut kepada PT Hiburan.
Dengan demikian penjualan dapat diakui, sebagai berikut.
Kas 80.000.000
Penjualan 80.000.000

Beban Pokok Penjualan 60.00.000


Persediaan 60.00.000

Situasi lain misalnya, pada transaksi tersebut PT Hiburan


mendatangani surat utang untuk membayar pembelian
barang tersebut dengan pembayaran bulanan selama 24
bulan. Terdapat beberapa syarat atau pembatasan dalam
menggunakan barang tersebut setelah dua tahun seharga
Rp55.000.000. Dalam kasus ini, transaksi tidak dapat diakui
sebagai penjualan karena terdapat pembatasan penggunaan
dan PT Pianika setuju untuk membeli lagi pada harga dan
waktu yang telah ditentukan. Dengan demikian, risiko dan
manfaat signifikan masih berada di PT Pianika. Transaksi ini
mungkin dapat diakui sebagai transaksi sewa pembiayaan
yang akan dibahas pada bab tentang sewa.
Contoh 17.7 Penjualan Barang Konsinyasi

PT Indah mengirimkan barang konsinyasi umtuk dijual oleh PT Balada


seniali Rp.67.000.000. Ongkos kirim barang tersebut untuk sampai ke PT
Balada adalah Rp.3.000.000. Sampai akhir periode diketahui bahwa 60%
dari barang konsinyasi terjual senilai Rp.50.000.000 tunai. PT Balada
mengirimkan nota pemberitahuan penjualan barang konsinyasi dengan
menyerahkan uang kas dari penjualan kepada PT Indah dengan memotong
komisi penjualan sebesar 10%. Bagaimana ayat jurnal terkait transaksi
konsinyasi tersebut di kedua belah pihak?
PT Indah (consignor) PT Balada (consignee)

Pengiriman barang konsinyasi

Persediaan konsinyasi 67.000.000 Tidak ada jurnal


Persediaan barang jadi (hanya memo penerimaan barang konsinyasi)
67.000.000
Pembayaran ongkos angkut ke consignee

Persediaan konsinyasi 3.000.000 Tidak ada jurnal


Kas
3.000.000
Penjualan barang konsinyasi

Tidak ada jurnal Kas 50.000.000


Utang kpd consignor 50.000.000

Laporan penjualan dan pembayaran oleh consignee

Kas 45.000.000 Utang kpd consignor 50.000.000


Beban komisi Pendapatan komisi 5.000.000
5.000.000 Kas
Penjualan 45.000.000
50.000.000
Jurnal penyesuaian oleh consignor
Baban pokok penjualan 42.000.000 Tidak ada jurnal
Persediaan konsinyasi 42.000.000
(Rp.67.000.000 + Rp.3.000.000) X 60%
Contoh 17.8 Pengakuan Pendapatan
terkait Program Loyalitas
 Sebuah toko penjual pakaian menjual satu unit pakaian
seharga Rp100.000. Pada saat penjualan, pelanggan akan
diberikan voucher yang bernilai diskon Rp50.000 yang
berlaku untuk pembelian berikutnya untuk pakaian jenis
yang sama. Toko ini memiliki pengalaman bahwa untuk
setiap 2 voucher yang dikeluarkan, terdapat 1 voucher
yang akan ditukarkan.
 Dalam hal ini pelanggan membeli pakaian dan voucher,
dengan demikian imbalan yang diterima dari penjualan
ini juga dialokasikan untuk voucher. Terdapat 2 cara
untuk mengalokasikan pendapatan untuk voucher, yaitu
(1) Metode Residual dan (2) Metode Nilai Wajar relatif.
1. Metode Residual
Dengan menggunakan metode residual, pendapatan dialokasikan ke
voucher berdasarkan nilai wajar voucher tersebut, dan sisanya
dialokasikan ke penjualan pakaian.
Nilai wajar voucher adalah ekspektasi ditukar (1 dari 2 voucher
diestimasikan akan ditukar) adalah 50% dari nilai voucher Rp50.000, yaotu
sebesar Rp25.000. Misalkan ada 10 unit pakaian terjual, maka jurnal pada
saat penjualan awal adalah sebagai berikut:

Kas 10.000.000
Pendapatan 750.000
Pendapatan Ditangguhkan 250.000

Pendapatan Ditangguhkan 50.000*


Kas 50.000
Pendapatan 100.000
*(1/5 x Rp250.000)
 Maka untuk keseluruhan estimasi penjualan berikutnya menggunakan
voucher sebanyak 5 pakaian, jurnalnya adalah sebagai berikut.

Pendapatan Ditangguhkan 250.000


Kas 250.000
Pendapatan 500.000

2. Metode Nilai Wajar Relatif


Dengan menggunakan metode nilai waja relatif, pendapatan dialokasikan ke
setiap komponen menggunakan dasar nilai wajar relatif.
berdasarkan ilustrasi sebelumnya, masih dengan contoh yang sama dengan
mengasumsikan 10 unit pakaian yang terjual. Diketahui nilai wajar pakaian
adalah Rp100.000 dan nilai wajar voucher adalah Rp25.000. Pendapatan
yang dialokasikan untuk penjualan pakaian per unit, yaitu Rp80.000
((Rp100.000/Rp125.000)X Rp100.000) dan pendapatan yang dialokasikan
untuk voucher adalah Rp20.000 unit ((Rp25.000/Rp125.000)X Rp100.000).
Jurnal untuk mengakui pendapatan dari 10 unit pakaian yang terjual adalah
sebagai berikut.
Kas 1.000.000
Pendapatan 800.000
Pendapatan Ditangguhkan 200.000

 Jurnal untuk mengakui seluruh penjualan berikutnya sesuai estimasi


sebanyak 50% voucher yang ditukar (50% x 10 unit = 5 unit) adalah sebagai
berikut.

Pendapatan Ditangguhkan 200.000


Kas 250.000
Pendapatan 450.000
Kas 40.000
Penjualan 40.000

Beban Pokok Penjualan 30.000


Persediaan 30.000
(2 X Rp15.00)
17.9 Penentuan Nilai Pendapatan
Kontrak
Suatu kontrak memuat klausul tentang eskalasi biaya
(penyesuaian biaya) untuk menyesuaikan harga kontrak
terhadap tingkat inflasi yang diumumkan pemerintah.
Nilai kontrak sebesar Rp2000.000.000 dan tingkat inflasi
yg diumumkan pemerintah untuk periode terkait adalah
7%. Tentukan jumlah kenaikan atau penurunan
pendapatan kontrak untuk periode tersebut!
Pendapatan kontrak naik sebesar Rp14.000.000
(Rp2000.000.000 X 7%)
Terkadang suatu kontrak memuat klausul
tentang penalti yang disebabkan oleh
keterlambatan penyelesaian pekerjaan oleh
kontraktor. Nilai yang disetujui dalam kontrak
awal adalah Rp3000.000.000.
Penalti yang disetujui adalah Rp2000.000 per hari
keterlambatan. Akibat suatu masalah yang dialami
oleh kontraktor.
Penyelesaian kontrak mengalami keterlambatan
selama 10 hari setelah tanggal yang disepakati
dalam kontrak. Tentukan berapa kenaikan
penurunan pendapatan kontark!
Pendapatan kontak turun sebesar
Rp20.000.000 (Rp2000.000 X 10 hari).
Contoh 17.10 Metode Presentase Penyelesaian dengan
Perhitungan Cost To Cost Basis
Pt Buana Karya merupakan kontraktor yang berspesialis dalam pembangunan
jalan, saat ini mempunyai kontrak untuk membangun jalan senilai Rp
18.000.000.000. Estimasi biaya kontrak adalah Rp 16.000.000.000. Periode
pekerjaan akan memakan waktu selama 3 tahun. Pada akhir tahun kedua,
estimasi biaya kontrak meningkat dari Rp 16.000.000.000 menjadi total Rp
16.200.000.000.
Data-data lainnya adalah sebagai berikut (dalam ribuan rupiah).
Tabel 17.2 Data-Data PT Buana Karya
Tahun I Tahun 2 Tahun 3
Biaya kontrak yang terjadi 4.000.000 11.664.000 16.200.000
Biaya kontrak untuk menyelesaikan 12.000.000 4.536.000
-
Tagihan termin 3.600.000 9.600.000 4.800.000
Penerimaan kas 3.000.000 7.000.000 8.000.000
Perhitungan tahap penyelesaian pekerjaan konstruksi
menggunakan proposi biaya terhadap total estimasi biaya paling
mutakhir adalah sebagai berikut (dalam ribuan rupiah)
Tabel 17.3 Perhitungan Penyelesaian Pekerjaan konstruksi
Tahun I Tahun 2 Tahun 3
Harga Kontrak 18.000.000 18.000.000 18.000.000
Dikurangi estimasi biaya:
Biaya kontrak yang terjadi 4.000.000 11.664.000 16.200.000
Biaya kontrak untuk menyelesaikan 12.000.000 4.536.000 -
Estimasi total biaya kontrak 16.000.000 16.200.000
16.200.000
Estimasi laba kotor 2.000.000 1.800.000 1.800.000
Presentasi penyelesaian 25% 72%
100%
4.000.000 11.664.000
16.200.000
16.000.000 16.200.000
16.200.000
Dapat dilihat pada tabel bahwa persentase penyelesaian dihitung berdasarkan
proposi biaya yang terjadi dibandingkan total estimasi biayakontrakyang
paling muktahir. Pada tahun pertama, 25% persentase penyelesaian diperoleh
dari perhitungan biaya yang terjadi Rp 4.000.000.000 dibagi dengan estimasi
total biaya kontak sebesar Rp 16.000.000.000. Namun pada tahun kedua ketika
terdapat revisi estimasi total biaya menjadi sebesar Rp 16.200.000.000, maka
persentase penyelesaian pada akhir ahun kedua sebesar 72% diperoleh dari
proporsi antara akumulasi biaya yang terjadi Rp 11.664.000.000. Dibagi
dengan estimasi total biaya terbar sebesar Rp 16.200.000.000. Berdasarkan
perhitungan pada tabel diatas, maka perusahaan dapat mencatat transaksi
sepanjang periode berjalan dengan ringkasan jurnal sebagai berikut (dalam
ribuan rupiah).
Contoh 17.11 Perlakuan akuntansi untuk kontrak konstruksi
yang mengalami kerugian
PT Ambrawa membangun jembatan untuk pelanggannya. Di tahun kedua,
estimasi biaya penyelesaian kontrak adalah sebesar Rp 3.250.000.000
(revisi) dan biaya yang terjadi tahun kedua adalah Rp 2.000.000.000. Nilai
kontrak adalah Rp 5.500.000.000. Data tahun pertama adalah sebagai
berikut :
Harga kontrak Rp 5.500.000.000
Beban periode berjalan Rp 1.000.000.000
Estimasi biaya penyelesaian Rp 4.000.000.000
Persentase penyelesaian 25%
Pendapatan yang diakui Rp 1.375.000.000
Laba kotor tahun pertama Rp 375.000.000
Persentase penyelesaian tahun kedua adalah 57,14% (2.000.000.000 +
1.000.000.000 / Rp 5.250.000.000.. Pendapatan yang dapat diakui sampai tahun
kedua adalah 57,14% dari Rp 5.500.000.000 atau sebesar Rp 3.142.587.000.
Pendapatan diakui pada tahun kedua adalah sebesar Rp 1.767.587.000 (diperoleh
dari Rp 3. 142.587.000 dikurangi pendapatan yang sudah diakui tahun pertama Rp
1.375.000.000. Dengan demikian, pada tahun kedua PT Ambrawa mengalami rugi
besar :
Pendapatan Kontrak Rp 1.767.587.000
Beban Kontrak Rp 2.000.000.000
Rugi Rp 232.413.000
Ayat jurnal yang dibuat ketika mengakui pendapatan dan beban kontrak adalah
sebagai berikut :

Beban Kontrak 2.000.000.000


Pendapatan Kontrak 1.767.587.000
Pekerjaan dalam proses (Rugi) 232.413.000
PT Ambarbawa akan melaporkan rugi sebesar Rp 232.413.000 pada
periode berjalan (tahun kedua).Total nilai kontrak masih memberikan laba
sebesar Rp 250.000.000 (Rp 5.500.000.000) harga kontrak dikurangi
estimasi biaya terakhir total sebesar Rp 5.250.000.000).
CONTOH 17.12 Perlakuan Akuntansi Untuk
Konstruksi yang Mengalami Kerugian secara
Keseluruhan

 Pt. Anggara membangun gedung untuk pelanggannya. Saat ini


merupakan tahun kedua dari total durasi proyek selama 3
tahun. Manajemen Pt.Anggara telah menilai bahwa kontrak
ini menguntungkan dan telah mengakui laba di tahun pertama
sebesar Rp20.000.000 berdasarkan metode presentase
penyelesaian. Pada tahun kedua ini, manajemen Pt.Anggara
memperkirakan kontrak ini akan merugi secara total sebesar
Rp30.000.000. Data tentang nilai kontrak adalah sebagai
berikut
Tahun Pertama Tahun kedua
Harga kontrak Rp 500.000.000 Rp 500.000.000
Estimasi total biaya kontrak Rp 400.000.000 Rp 530.000.000
Estimasi laba kotor Rp.100.000.000
Laba diakui tahun pertama
(20% presentase penyelesaian) Rp 20.000.000
Estimasi rugi (Rp 30.000.000)
Contoh 17.3 Pengakuan Pendapatan dan Beban dengan Metode
Biaya Terpullihkan
Dengan menggunakan ilustrasi yang sama pada PT Buana Karya dengan
asumsi perusahaan menggunakan metode biaya terpulihkan karena hasil
pekerjaan kontrak tidak dapat diukur dengan andal, maka PT Buana karya
mengakui pendapatan hanya sebesar biaya yang terjadi yang diharpakan
dapat terpulihkan. Setelah semua biaya kontrak diakui, maka perusahaan
baru dapat mengakui laba. Jika demikian, maka PT Buana karya akan
melaporkan pendapatan dan beban selama tahun pertama sampai tahun
ketiga seperti pada tabel berikut (dalam ribuan rupiah).
Tabel 17.8 pendapatan dan beban PT Buana karya berdasarkan
metode biaya terpulihkan

Akumulasi Diakui di Diakui di periode


periode lalu berjalan
Tahun pertama
Pendapatan 4.000.000 4.000.000
Laba kotor 4.000.000 4.000.000

Tahun kedua
Pendapatan 11.664.000 4.000.000 7.664.000
Beban 11.664.000 4.000.000 7.664.000
Akumulasi Diakui di Diakui di
periode lalu periode berjalan
Laba kotor - - -
Tahun ketiga
Pendapatan (Rp. 18.000.000 11.664.000 6.336.000
18.000.000.000x100%)
Beban 16.200.000 11.664.000 4.536.000
Laba kotor 1.800.000 - 1.800.000
jurnal untuk mengakui pendapatan dan beban kontrak selama periode
adalah sbb (dalam ribuan rupiah).

Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3


Untuk mengakui pendapatan dan
beban terkait.
Pekerjaan dalam proses (Laba - - 1.800.000
Kotor)
Beban Kontrak 4.000.000 7.664.000 4.536.000
Pendapatan kontrak 4.000.000 7.664.000 6.336.000
Untuk mengakui Penyelasaian
Kontak
Termin 18.000.000
Pekerjaan dalam proses 18.000.000