Anda di halaman 1dari 29

Stres yang diperberat Akibat

Kerja
Kelompok C6

Everdina Ester Pelupessy 102009126


Randy Arnold 102011074
Lili Susanti 102011091
Roykedona Lisa Trixie 102011207
Mathyas Thanama 102011222
Dewi Ayunanda 102011278
Dilianty Anugerah Ma’na 102011366
Faruq Fathullah 102011401
SKENARIO

• Seorang perempuan berusia 40 tahun datang ke klinik


dengan keluhan mual dan pusing.
MIND MAPPING

7 Langkah Stres yang


Diagnosis diperberat akibat
Okupasi kerja

Seorang
perempuan, usia 40
thn, keluhan mual
dan pusing.
Pekerjaan seorang
guru dan tidak ingin
jd wali kelas

Penatalaksanaan Faktor Penyebab


dan Terjadinya Stres
Pencegahan Kerja
KESEHATAN KERJA

PEKERJAAN KESEHATAN

ILO dan WHO:


Kesehatan kerja adalah aspek/unsur kesehatan
yang erat berkaitan dengan lingkungan kerja
dan pekerjaan yang secara langsung/tak
langsung dapat mempengaruhi kesehatan
tenaga kerja.
7 LANGKAH DIAGNOSIS OKUPASI

1. Diagnosis klinis

2. Menentukan pajanan

3. Hubungan pajanan-penyakit

4. Jumlah pajanan

5. Faktor individu

6. Faktor lain di luar pekerjaan

7. Diagnosis okupasi (buat keputusan apakah penyakit


tersebut disebabkan oleh pekerjaannya)
1. DIAGNOSIS KLINIS
Anamnesis
• Identitas : perempuan berusia 40 tahun, pekerjaan sebagai seorang guru
• KU: mual dan pusing. (perhatikan keluhan fisik atau mental, kaitan antara fisik dan mental)
• RPS
- Fisik: hipertensi? Penyakit jantung? Hiperkolesterol? Gastritis?
- Gejala Psikologis: Insomnia? kecemasan? Gangguan konsentrasi?
- Identifikasi stressor (biopsikososial): sudah berapa lama bekerja, pekerjaan sebelumnya, berapa jam
sehari, kenyamanan, masalah pekerjaan?
• RPD: penyakit fisik dan mental
• RPK
• Riw. Sosial/ kebiasaan: olahraga, gaya hidup sehat,
konsumsi obat-obatan
1. DIAGNOSIS KLINIS
Hasil anamnesis berdasarkan skenario:

• Identitas: Seorang guru SMA, usia 40 tahun.

• Keluhan utama: mual dan pusing. Keluhan sudah berlangsung


sejak 3 bulan yang lalu. Keluhan timbul pagi hari saat mau mengajar
dan keluhan berkurang ketika pulang mengajar.

• Terdapat masalah pekerjaan:

• Diangkat menjadi wali kelas III SMA di sekolah favorit

• Guru tersebut tidak mau menjadi wali kelas, namun karena


keterbatasan SDM, ia akhirnya menjadi wali kelas.
1. DIAGNOSIS KLINIS
Pemeriksaan fisik
• Keadaan umum: Compos mentis

• Tanda-tanda vital: dalam batas normal

• Status lokalis (thoraks dan abdomen)

• Pemeriksaan neurologi: tingkat kesadaran, atensi pasien, pemahaman,


ekspresi wajah, cara bicara, postur, dan cara berjalan

Pemeriksaan Status Mental


1. DIAGNOSIS KLINIS
Pemeriksaan penunjang
• Laboratorium
– Darah lengkap , profil lipid, glukosa darah, faal hati, tiroid, tes fungsi ginjal,
tes urin untuk obat terlarang.

• Radiologi
– Brain imaging  CT – Scan, MRI , Positron emission tomography (PET) ,
Cerebral Blood Flow (CBF)

– X-Ray thoraks dan abdomen


2. PAJANAN YANG DIALAMI
• Fisik: ventilasi, pencahayaan,
• Semua hal yang dilakukan, yang
dll.
berkaitan dengan pekerjaannya secara
• Kimia: -
kronologis
• Biologi: -
• Durasi pekerjaan
• Ergonomi: kenyamanan dalam
• Hubungan kerja antar sesama , sistem
bekerja, penataan trmpat kerja,
tugas, volume pekerjaan
cara bekerja (aspek anatomi,
• pola waktu timbulnya gejala
fisiologi, psikologi).
• informasi mengenai tenaga kerja lain
• Psikis: suasana kerja,
motivasi kerja, kepuasan
kerja, komunikasi dua arah.
2. PAJANAN YANG DIALAMI
• Adanya masalah yang dialami di sekolah tempat ia
mengajar

• Tidak ingin menjadi wali kelas di sekolah tersebut, yang


merupakan sekolah favorit.
3. HUBUNGAN PAJANAN DENGAN
PENYAKIT
• Stresor seringkali berhubungan langsung dengan:
– sistem tugas

– volume pekerjaan

– Kondisi fisik/lingkungan tempat kerja

– Sebagai akibat ketidak-harmonisan hubungan dengan individu lain di


tempat kerja

– faktor-faktor budaya organisasi tempat kerja

• Pajanan psikososial Stres Gejala fisik, emosional,


intelektual, dan perilaku
4. JUMLAH PAJANAN

• Kuantitatif: tidak dapat diukur jumlah pajanan


psikologisnya.

• Kualitatif: Berhubungan, berdasarkan:


– Status kesehatan fisik

– Status kesehatan mental


4. JUMLAH PAJANAN
• Bukti Epidemiologis

• Kualitas Kerja: Proses kerja, lama kerja, lingkungan kerja

• Patofisiologi penyakit

Tiga tahap reaksi tubuh terhadap stressor:


1. Reaksi alarm
• mempengaruhi kejiwaan (sistem limbik), pengaturan sistem
kardiovaskular, pernapasan, ketegangan otot, dan aktivitas motorik
yang halus.
4. JUMLAH PAJANAN
2. Tahap kebal
• Pajanan yang berkepanjangan terhadap stresor akan menyebabkan individu
menjadi kebal.
3. Tahap Kelelahan:
• Gejala-gejala fisik dari tahap awal kelelahan: lelah yang berlebihan, lemah dan
kelesuan mental.

• Tanda-tanda nonspesifik: penglihatan yang kabur, rasa pusing, vertigo,


tangan tremor, nyeri otot, palpitasi, napas terasa berat, nyeri dada, sesak
napas, atau gangguan pernapasan yang lain, gejala gangguan saluran
cerna seperti rasa kering di mulut, rasa tercekik di leher, mual-mual atau
muntah, konstipasi yang menahun, diare atau sakit perut yang melilit.
5. FAKTOR INDIVIDU
• Pajanan yang sama di tempat kerja sebelumnya

• Riw. Kesehatan Fisik

• Tipe Kepribadian

• Hubungan Interpersonal

• Status Kesehatan Mental

• Pengalaman Pribadi
6. FAKTOR LAIN DI LUAR
PEKERJAAN
• Masalah di dalam keluarga

• Masalah di lingkungan sosial

• Konflik antara tuntutan keluarga dan tuntutan


perusahaan
7. DIAGNOSIS OKUPASI
4. Jumlah pajanan
cukup besar
(kualitatif)
5. Faktor individu:
tipe kepribadian,
1. Diagnosis Klinis: hub interpersonal
6. Pajanan Lain di
2. Pajanan yang
luar pekerjaan:
dialami: psikososial
keluarga,
3. Pajanan dapat iingkungan sosial
menyebabkan stres

7. Diagnosis
Okupasi:
Stres yang • Langkah 2, 3, 4:
Diperberat Positif
Akibat Kerja • Langkah 5: Positif
• Langkah 6: +/-
Sumber: Oxford Handbook of Occupational Health - Psychosocial Hazards
STRES KERJA
• Stres dapat ditoleransi hanya dalam waktu yang terbatas.

• Stres yang sama akan berpengaruh secara berbeda terhadap setiap


individu, berat ringannya bervariasi.

• Stres di lingkungan kerja berkaitan dengan:


– Lingkungan kerja: fisika/kimia/biologi/ergonomi/psikologi.

– Beban kerja: secara fisik dan mental

– Kapasitas kerja: status kesehatan fisik dan status mental


Kapasitas
Kerja Beban
Kerja
STRES KERJA
• Stres merupakan suatu kondisi ketegangan yang
mempengaruhi kondisi fisik, emosi, proses berpikir,
hubungan interpersonal

Fisik: sulit tidur, sakit


kepala, gangguan Emosional: marah-marah,
pencernaan, punggung gelisah dan cemas,
sakit, leher tegang, selera suasana hati mudah
makan berubah. berubah, sedih, depresi,
kelesuan mental.

Stres
Interpersonal: acuh dan
mendiamkan orang lain, Intelektual: mudah lupa,
kepercayaan terhadap orang pikiran kacau, daya ingat
lain menurun, mudah menurun, sulit berkonsentrasi,
mengingkari janji pada orang suka melamun berlebihan.
lain.
Dampak Stres Kerja
• Kepuasan kerja rendah

• Kinerja yang menurun

• Semangat dan energi menjadi hilang

• Komunikasi tidak lancar

• Sulit mengambil keputusan

• Kreativitas dan inovasi kurang

• Bergulat pada tugas-tugas yang tidak produktif


KERANGKA STRES
Peristiwa dalam
stressors kehidupan, pekerjaan,
lingkungan
Kepribadian, sikap,
Mediating
kemampuan, dukungan
faktors
sosial

Stress Subjektif, perilaku,


(responden) fisiologikal

Mediating Diet dan gaya hidup,


factors intervensi medis

Stress related Gangguan


disorders kondisi fisik
FAKTOR PENYEBAB STRES
KERJA
• Tidak adanya dukungan sosial

• Tidak adanya kesempatan berpartisipasi dalam


pembuatan keputusan di tempat kerja

• Kondisi lingkungan kerja

• Manajemen yang tidak sehat

• Tipe kepribadian

• Peristiwa/pengalaman pribadi
Penatalaksanaan
• Psikoterapi

• Psikofarmaka (hindari jika memang tidak diperlukan)

• Pemberian istirahat atau pemindahan tempat kerja kebagian lain yg


dapat membantu penyembuhan penyakitnya

• Rehabilitasi (terapi sosial)

• Upayakan untuk meningkatkankesejahteraan pasien: mengubah


aspek kehidupan sosialnya terutama dalam kaitannya dengan
pekerjaan , seperti: pengatiran shift work yg baik, cuti kerja, berlibur
dan agama

• Rujukan ke spesialis psikiatri bila di perlukan


PENCEGAHAN
• Meningkatkan kesehatan fisik dan mental pekerja,
Penempatan posisi kerja sesuai dengan kemampuan dan
kapasitas pekerja
Primer: • Pengawasan lingkungan kerja, periode istirahat yang
teratur

• Deteksi dini pengaruh kerja terhadap kesehatan


psikologis pekerja.
• Pemeriksaan medis berkala.
Sekunder: • Memberikan penanganan psikofarmaka dan konseling
terhadap gangguan psikologis pekerja.

• Upaya pemulihan kesehatan (Rehabilitation)


Tersier
KESIMPULAN
Berdasarkan diagnosis okupasi, wanita yang bekerja sebagai guru
tersebut mengalami stres yang diperberat akibat kerja. Stres
berkepanjangan menimbulkan respon tubuh dalam bentuk
gangguan faal tubuh, emosional, berpikir, dan perilaku. Dengan
membimbing pasien melalui solusi yang benar maka stres yang
dialami guru tersebut dapat diatasi dan akibat buruk terhadap
organisasi dp dikurangi.
THANK YOU