Anda di halaman 1dari 31

URGENSI AUDIT TEKNOLOGI UNTUK KEMANDIRIAN BANGSA

J a k a r t a , 0 9 M e i 2 0 1 8

0
INDEKS DAYA SAING GLOBAL DAN INFRASTRUKTUR INDONESIA
TAHUN 2017 - 2018

Indeks Daya Saing “…inovasi menjadi salah satu ukuran


Global Indonesia (GCI)
penting untuk menentukan daya saing
YEAR RANK suatu negara…”
2010 – 2011 44
2011 – 2012 46 INDEKS DAYA SAING INFRASTRUKTUR
INDONESIA
2012 – 2013 50
2010-2011 2011-2012 2012-2013 2013-2014 2014-2015 2015-2016 2016-2017 2017-2018
2013 – 2014 38
52
2014 – 2015 34 56
2015 – 2016 37 61 60
62
2016 – 2017 41
2017 – 2018 36
76
78
82
(sumber: Global Competitiveness Index, WEF, 2017)
1
“…pembangunan infrastruktur sangat fundamental atau mendasar bagi
Indonesia agar bisa bersaing dengan negara-negara lain. Ketersediaan
infrastruktur di Indonesia masih kecil dibandingkan yang dimiliki negara-
negara tetangga baik jalan, pelabuhan, airport dan pembangkit listrik
sehingga menjadi fokus pembangunan nasional…”

2
SASARAN OUTPUT INFRASTRUKTUR PUPR
2015 – 2019

KONEKTIVITAS
PERUMAHAN
1.000 km
Pembangunan jalan tol PROGRAM SATU JUTA RUMAH
(pemerintah & swasta)
• Fasilitasi PSU untuk Rumah Tapak Layak Huni
• Rumah Khusus
Rumah Susun untuk MBR
2.650 km 30 Km

• Rumah Swadaya
Pembangunan Pembangunan
jalan baru jembatan baru

INFRASTRUKTUR
KETAHANAN AIR & PERMUKIMAN
PANGAN
Akses Air Minum Layak 100 %
1 juta
65 hektar
Kawasan permukiman
kumuh perkotaan
0 ha
Pembangunan
Pembangunan
waduk jaringan irigasi baru
Akses Sanitasi Layak 100 %

3
PROYEK STRATEGIS N A S I O N A L ( P S N )
PERPRES NO. 58 TAHUN 2017
27
61 24 13

Rp155 T
Rp638 T Rp564 T
Rp444 T

93
1
2 Program
Proyek
12
10 Proyek

Rp1.320 T
Rp1.065 T 15
245 PROYEK
(151 PROYEK BIDANG PUPR)
DAN 2 PROGRAM
Rp11 T
MENCAKUP 15 SEKTOR PROYEK
SERTA 2 SEKTOR PROGRAM
PROYEK

IRIGASI
PENGELOLAAN IRIGASI TANGGUL LAUT
AIR

74 23 10 8 30 3 3 9 54 7 4 6 12 1 1
PROGRAM
LISTRIK
1 PROGRAM
INDUSTRI
PESAWAT 1 PROGRAM

Sumber: KPPIP 27 Agustus 2017, diolah


4
TEROBOSAN UNTUK MEMPERCEPAT
PEMBANGUNAN INFRASTRUKTUR

REGULASI
DAN HUKUM

PENERAPAN
SUMBER
HASIL RISET
DAYA
DAN

5
MANUSIA
TEKNOLOGI

KEPEMIMPI PENDANAAN
N-AN INOVATIF

5
AUDIT TEKNOLOGI

ANALISA

TECHNOWARE HUMANWARE
Peralatan Fisik Sumber Daya Manusia

INFOWARE ORGAWARE
Proses/metode/cara kerja Manajemen organisasi

“…menggeser kecenderungan ekonomi berbasis efisiensi yang terlalu bergantung


pada sumber daya asing, menjadi ekonomi berbasis inovasi yang mengandalkan
karya inovasi anak negeri sehingga dapat mewujudkan kemandirian bangsa.…”

6
PETA POTENSI INOVASI TEKNOLOGI NASIONAL

• SOP Peralatan terstandarisasi

TECHNOWARE • Peralatan pembangunan yang mengikuti


perkembangan internasional
Peralatan Fisik • Perkembangan IoT (Internet on Things)
• Isu Industry 4.0

HUMANWARE
Sumber Daya Manusia
insinyur ilmuwan pemerintah praktisi pengusaha

• Metode & inovasi kerja yang lebih efisien dari segi


INFOWARE waktu dan biaya
• Pengembangan tekonologi dan aturan-aturan
Proses/metode/cara kerja pembangunan berbasis ramah lingkungan
• Perbaikan kepedulian terhadap keselamatan kerja

ORGAWARE
Manajemen organisasi

7
LAMPIRAN

8
PENERAPAN HASIL RISET & TEKNOLOGI

“…percepatan pembangunan infrastruktur hanya dapat dilakukan dengan


dukungan hasil riset & teknologi inovatif…”

PANJANG

700
m

FLY OVER ANTAPANI, BANDUNG, JAWA BARAT


( T E K N O L O G I C O R R U G AT E D M O RTA R B U S A )

9
FLY OVER KLONENGAN, TEGAL, JAWA TENGAH
( T E K N O L O G I C O R R U G AT E D M O RTA R B U S A )
PANJANG

760
m

10
PENDEKATAN REDUCE
TEKNOLOGI WARM MIX ASPHALT ZEOLIT

Warm Mix (campuran hangat) adalah


metode pencampuran aspal dengan
panas lebih rendah ± 30˚C dari
metode pencampuran konvensional
(hot mix) menggunakan material
zeolit alam.
MANFAAT
• Proses lebih murah sebab konsumsi
BBM lebih sedikit;
• Kualitas setara Hot Mix Asphalt;
• Polusi udara lebih sedikit dari AMP
(Asphalt Mixing Plant).

Zeolit alam di
Indonesia

11
CONTOH TEKNOLOGI BETON SEDIKIT SEMEN (PEMANFAATAN FLY ASH)
JEMBATAN PULAU BALANG, KAB. BULUKUMBA, SULSEL

12
PENDEKATAN REUSE
TEKNOLOGI SLAG BAJA
Sisa material besi dan baja (slag) digunakan sebagai
alternatif material perkerasan jalan.

MANFAAT
• Mengurangi limbah padat;
• Mengurangi biaya yang dikeluarkan untuk perkerasan jalan.

Pedoman Penggunaan Agregat Slag Besi dan Baja untuk Campuran Beraspal
Panas oleh Pusjatan (Pd. T-04-2005-B)

TEKNOLOGI TAILING
Teknologi tailing merupakan metode pemanfaatan bahan
limbah B3 sebagai material perkerasan jalan.

MANFAAT
• Mengurangi limbah padat;
• Lebih murah sebagai material alternatif perkerasan jalan.

Pedoman Penggunaan Tailing oleh Pusjatan (Pd. T-14-2004-B)

13
PENDEKATAN REPLACE
TEKNOLOGI RUMPUT VETIVER
Teknologi sederhana untuk perlindungan
lereng yang memanfaatkan rumput vetiver
hidup untuk konservasi tanah dan air serta
perlindungan lingkungan. Vetiver yang
ditanam tidak diperbolehkan dipanen
akarnya karena jika terjadi, hal ini dapat
menimbulkan efek yang kontradiktif, yaitu
terjadinya kerusakan tanah.

MANFAAT
• Memberikan solusi penanganan erosi
permukaan sehingga mereduksi potensi
longsoran;
• Praktis, tidak mahal dan mudah dipelihara;
• Membantu dalam konservasi air dan
rehabilitasi lahan;
• Memberikan ketahanan yang lebih baik,
tahan korosif dan tidak mudah retak.

14
PENDEKATAN REPLACE
TEKNOLOGI MATERIAL LOKAL (BATU KAPUR)

Lapis pondasi batu


kapur adalah suatu
lapisan pada
perkerasan jalan
yang terletak di
antara lapis
permukaan dan lapis
tanah dasar.

Digunakan untuk ruas jalan dengan LHR


(400 kendaraan/hari/2 arah)

MANFAAT
• Harga produksi campuran beraspal dapat
dihemat;
• Dapat digunakan untuk lalu lintas rendah
sampai dengan lalu lintas sedang;
• Pemanfaatan bahan lokal untuk lokasi
setempat;
• Mengurangi ketergantungan pada agregat
standar yang sulit didapatkan;
• Cocok untuk daerah dengan kapur melimpah.
Pelapisan fondasi jalan dengan batu kapur

15
PERPUSTAKAAN APUNG, TAMBAK LOROK SEMARANG
(TEKNOLOGI SISTEM MODULAR WAHANA APUNG)

DIRESMIKAN 4 APRIL 2017

16
PEMBANGUNAN JALAN TOL TRANS SUMATERA
PEKANBARU – DUMAI
(TEKNOLOGI MINI PILES DAN LTP)

Embankment

Sirtu

Pile Caps Geogrid

Soft Soil Mini Piles

Prinsip kerja mirip dengan pile slab, timbunan tanah didukung oleh mini
pile yang dipancang sampai kedalaman dan daya dukung tertentu dan
dilengkapi dengan Load Transfer Platform (LTP) yang umumnya terdiri
atas geogrid dan sirtu dengan ketebalan tertentu.
Konstruksi ini juga disebut ‘Combined Micro Pile Displacement Raft
Floating Foundation’

17
PEMBANGUNAN JALAN TOL WIYOTO WIYONO
& ELEVATED TOL CIKAMPEK II
(TEKNOLOGI SOSROBAHU)
Teknik konstruksi yang digunakan untuk memutar bahu lengan beton jalan layang. Dengan teknik ini, lengan jalan
layang diletakkan sejajar dengan jalan di bawahnya, dan kemudian diputar 90° sehingga pembangunannya tidak
mengganggu arus lalu lintas di jalanan di bawahnya.

Teknologi ini telah diterapkan pada Jalan Tol Wiyoto – Wiyono (Ruas Cawang
– Tanjung Priuk) tahun 1987, dan akan kembali diterapkan pada pembangunan
Jalan Tol Jakarta – Elevated Cikampek II.
Filipina juga menerapkan teknologi ini pada Jalan Tol Metro Manila Skyway Stage
Penemu Teknologi Sosrobahu 3, Seksi 3
Ir. Tjokorda Raka Sukawati

18
RUSUN MODULAR

Keunggulan: Penerapan:
• Efisiensi biaya 19% lebih murah Teknologi ini akan mulai diterapkan untuk
• Bahan mudah didapat dan dikerjakan rusun mahasiswa pada tahun 2018
• Dapat dibangun di semua wilayah di Indonesia
• Teknologi sederhana memudahkan pengendalian kualitas

19
INSTALASI PENGOLAHAN AIR GAMBUT
DAN AIR LIMBAH
INSTALASI PENGOLAHAN AIR GAMBUT Keunggulan:
• IPA Gambut dan Air Payau Sistem Mobile Kap
1 L/det, menggunakan teknologi tangki
flokulasi (bio ball) dan filter serat pegas
• Koagulan tanah liat dan media penyaring pasir
setempat

Penerapan:
PDAM Tirta Pengabuan Kuala Tungkal Kab
Tanjung Jabung Barat dan Pematang Rahim
Tanjung Jabung Timur Propinsi Riau (Air
Gambut)

INSTALASI PENGOLAHAN AIR LIMBAH

Keunggulan:
• Dapat dipasang pada kondisi air tanah tinggi
• Air olahan dapat dibuang ke badan air
• Efisiensi Bio3 90%

20
LAMPIRAN
10 PENGATURAN DALAM UU KEINSINYURAN
INDONESIA LEBIH KEMANDIRIAN
KESELAMATAN
KEBERLANJUTAN MAJU DARI PADA PENGUASAAN
KEAMANAN
MASYARAKAT
LINGKUNGAN BANGSA LAIN TEKNOLOGI

PENGEMBANGAN PEMIHAKAN PADA:


KEPROFESIAN • SDM KEINSINYURAN NASIONAL
7 BERKELANJUTAN • LEMBAGA KERJA KEINSINYURAN NASIONAL
• PRODUK HASIL KEINSINYURAN NASIONAL
INSINYUR REGISTRASI 5
6 ASING INSYINYUR

HAK DAN KEWAJIBAN INOVASI DAN NILAI TAMBAH


INSINYUR SECARA BERKESINAMBUNGAN
4
2 STANDAR PROGRAM PROFESI
INSINYUR
KEINSINYURAN
3
1 CAKUPAN
KEINSINYURAN

INSINYUR KEINSYINYURAN
ORGANISASI
INSYINYUR: PII 9 10 PEMBINAAN
8 DEWAN INSINYUR
INDONESIA

22
MEKANISME IZIN KERJA BAGI INSINYUR ASING

KEMENTERIAN
TEKNIS MELAKUKAN
ALIH
TEKNOLOGI

PEMBANGUNAN
WN ASING NASIONAL
PENYANDANG YANG
PROFESSIONAL MEMBUTUHKAN IZIN KERJA
ENG TENAGA
INSINYUR

SURAT
TANDA
Insinyur Asing hanya REGISTRASI
INSINYUR
dapat melakukan (STRI)
kegiatan Keinsinyuran di
SISTEM Indonesia di bidang yang
KOMPETENSI
INSINYUR kekurangan insinyur,
DIAKUI
APEC/ASEAN sesuai dengan kebutuhan
pembangunan nasional. MUTUAL
RECOGNITION

23
PERBANDINGAN KUANTITAS SDM INSINYUR
ASEAN DAN ASIA
JUMLAH INSINYUR INDONESIA
TERENDAH DI ASEAN
3.038 insinyur
per 1 juta penduduk

Jumlah Insinyur
Profesional 3,490 11,170 23,000 14,250 9,000 n/a 50

28,235
KORSEL
25,310
Jumlah Insinyur 8,917
Per Satu Juta
Penduduk
5,170 CINA
3,375 4,121 3,844 5,730
3,038
Singapore Malaysia Thailand Philippines Indonesia Vietnam Myanmar
Perbandingan
Jumlah Total dengan
Insinyur 150,000 100,000 276,000 500,000 750,000 800,000 205,000 Negara Maju

Kurangnya tenaga Insinyur di Indonesia pasti akan diisi oleh insinyur asing. Apabila Indonesia
tidak segera bertindak, maka Indonesia akan menjadi warga negara kelas dua dalam masyarakat insinyur ASEAN.

Sumber: Persatuan Insinyur Indonesia, AFEO (2016)

24
KEBUTUHAN TENAGA INSINYUR DI INDONESIA
Dari data Persatuan Insinyur Indonesia (PII), diperkirakan Indonesia
kekurangan 120.000 tenaga insinyur tahun 2015-2019.

2017 2018 2019


46.000 50.000 34.000
insinyur insinyur insinyur

Kekurangan Kekurangan Kekurangan


27.000 27.000 9.000
insinyur insinyur insinyur

TARGET

50.000
INSINYUR BERSERTIFIKAT /TAHUN

25
KESIAPAN TENAGA KONSTRUKSI AHLI DAN TERAMPIL MENGHADAPI MEA

ASEAN ASEAN Chartered


NEGARA ARCHITECT Professional Engineer
(AA) (ACPE)
Indonesia 151 973
Malaysia 39 351
Singapura 100 267
Thailand 26 199
Vietnam 17 204
Filipina 99 280
Myanmar 12 357
Laos 9 11
Brunei 12 16
Kamboja 4 60
TOTAL 469 2,718

Sertifikasi ACPE memberikan mobilitas yang lebih tinggi kepada para Insinyur di negara ASEAN untuk bisa bekerja di
negara ASEAN dengan mendapatkan pengakuan berupa kesamaan standar kompensasi dan benefit. Menurut ACPE –
Coordinating Committee, para pemegang sertifikasi ACPE sudah bisa memimpin tim proyek lintas negara
ASEAN, sebagai project manager hingga tingkat project director.
DATA : Sekretariat Indonesia Monitoring Committee, Mei 2017

26
PERANAN PERGURUAN TINGGI
DALAM MENGHADAPI MEA DAN PASAR GLOBAL 2020

REVITALISASI PERAN 1. Laboratorium Riset


2. Inkubator produk inovatif (center of
PERGURUAN TINGGI excellence)
(KONSEPSI TRIPLE HELIX) 3. Jaringan pengetahuan dan teknologi
4. Basis Produksi SDM Ahli
PERGURUA
N TINGGI

INOVASI
KONSTRUKSI
UNTUK DAYA Lembaga
SAING Riset Non
GLOBAL Perguruan
Tinggi
PEMERINTA PELAKU
H USAHA

1. Kebijakan dan regulasi 1. Profitability (daya saing)


2. Dukungan Pendanaan Litbang 2. Risiko (Kesehatan dan keselamatan kerja)
3. Insentif implementasi 3. Tanggung Jawab Sosial (Konstruksi Ramah
4. Standarisasi dan Pengawasan lingkungan)

27
PERANAN PERGURUAN TINGGI
PENGEMBANGAN JASA KONSTRUKSI

UNIV. DALAM PERANANNYA SDM TENAGA AHLI KONSTRUKSI :


HARUS DAPAT MENGHASILKAN • Ahli pengkajian dan penguasaan manajemen
Pengabdian konstruksi baik pada tataran mikro
Kepada (project/activity level), meso
Masyarakat (corporate), dan makro (industry/
national level)
• Produk studi konstruksi adalah position
paper, working paper dan policy paper.

2 4
Tugas
Pengembanga Pengembangan
n Jasa Jasa Konstruksi
Konstruksi 1. Penelitian,
2. Pelatihan,
1 3 Melaksanakan Tridharma melalui upaya
3. Registrasi,
sistematis membangun minat kepada
4. Mediasi,
industri konstruksi, mengembangkan SDM,
Pendidikan Penelitian Arbitrase
memperkuat kurikulum PT yang menunjang
konstruksi, akreditasi teknologi untuk
program studi, meningkatkan riset dalam
bidang konstruksi, pendekatan multi-disiplin
terpadu

Menjadi SPESIALIS PADA TATARAN


MIKRO (PROJECT/ ACTIVITY LEVEL),

BE A S PE C I AL I S T
MESO (CORPORATE), DAN MAKRO
(INDUSTRY/ NATIONAL LEVEL)

Sumber : Krisna S.Pribadi – Bahan Tayang (Modifikasi). (April 2015)

28
RANTAI PASOK KONSTRUKSI

TEKNOLOGI

BADAN
USAHA JASA PERALATAN
KONSTRUKSI

RANTAI
PASOK
KONSTRUKSI

SDM MATERIAL
KOMPETEN

29
TERIMAKASIH

30