Anda di halaman 1dari 40

Oleh:

Ahmad Syifaudin, SE., M.Si

1
Definisi
Biaya Taksiran adalah biaya yang ditentukan di muka
sebelum dilakukan suatu produksi.

Sistem biaya taksiran adalah sistem akuntansi biaya


produksi yang menggunakan suatu bentuk biaya-biaya yang
ditentukan di muka dalam menghitung harga pokok produk
yang diproduksi.

2
Tujuan Penggunaan Sistem Biaya Taksiran

 Untuk jembatan menuju sistem biaya standar.

 Menghindari biaya yg relatif lebih besar dalam pemakaian


sistem biaya standar.

 Untuk pengendalian biaya dan analisis kegiatan.

 Untuk mengurangi biaya akuntansi.

3
Penentuan Biaya Taksiran
 Ditentukan atas dasar data biaya historis, dari perhitungan, atau
secara sederhana dengan taksiran.
 Penentuan taksiran biaya bahan baku, perlu dilakukan penaksiran
tiap bahan baku yang dibutuhkan dan berapa harganya.
 Penentuan taksiran biaya tenaga kerja, harus diketahui dulu
semua jenis kegiatan untuk mengolah produk karena jam tenaga
kerja dipengaruhi kemampuan tiap karyawan dan jenis
pekerjaannya.
 Penentuan taksiran biaya overhead pabrik, perlu diadakan
pemisahan biaya overhead pabrik dalam unsur biaya tetap dan
biaya variabel.
4
Prosedur Akuntansi dalam Sistem
Biaya Taksiran

5
Prosedur Pencatatan Biaya Bahan Baku
Metode Mutasi Persediaan Metode Persediaan Fisik

Pembelian Persediaan bahan baku xxx Pembelian xxx


bahan baku Utang dagang xxx Utang dagang xxx

Pemakaian BDP-Biaya bahan baku xxx Diadakan perhitungan fisik


bahan baku Persediaan bahan baku xxx persediaan di akhir periode

Prosedur Pencatatan Biaya Tenaga Kerja


BDP – Biaya tenaga kerja xxx
Biaya administrasi dan umum xxx
Biaya pemasaran xxx
Gaji dan Upah xxx

6
Prosedur Pencatatan Biaya Overhead Pabrik

Metode 1 Metode 2
BOP – Sesungguhnya BOP – Sesungguhnya
Pencatatan
Persediaan suku cadang Persediaan suku cadang
BOP
Akm. Dep. Akt. Tetap Akm. Dep. Akt. Tetap
Sesungguhnya
Kas Kas
Pembebanan BDP – Biaya overhead pabrik
BDP – Biaya overhead pabrik
BOP BOP yang dibebankan
BOP – sesungguhnya
Sesungguhnya

Jurnal BOP yang dibebankan


Penutup BOP – Sesungguhnya

7
Prosedur Pencatatan Harga Pokok Produk Jadi dan
Produk yang Masih dalam Proses pada Akhir Periode
Persediaan produk jadi xxx
Persediaan produk dalam proses xxx
BDP – Biaya bahan baku xxx
BDP – Biaya tenaga kerja xxx
BDP – Biaya overhead pabrik xxx

Prosedur Pencatatan HPP yang Dijual


Harga pokok penjualan xxx
Persediaan produk jadi xxx

8
Prosedur Pencatatan Selisih Biaya Taksiran dengan
Biaya Sesungguhnya
Tergantung pada metode pencatatan BOP

Metode 1 Metode 2
Selisih Selisih
BDP – Biaya bahan baku BDP – Biaya bahan baku
BDP – Biaya tenaga kerja BDP- Biaya tenaga kerja
BDP – BOP BDP – BOP

Selisih
BOP – Sesungguhnya

9
Contoh 1
 PT Eliona memproduksi 1 macam produk melalui 1
tahap pengolahan. Perusahaan menggunakan sistem
biaya taksiran dan taksiran per kg produk adalah sbb:
Unit Biaya per satuan Jumlah biaya
BBB 2kg Rp 9 Rp 18
BTK 1 jam Rp 27 Rp 27
BOP 1 jam Rp 37 Rp 37 +
Biaya taksiran per kg Rp 82
produk

10
Contoh 1
 Data kegiatan Perusahaan bulan Nov 19x7:
1. Persediaan awal Nov 19x7:
• Harpok Persediaan BB sebesar Rp 20.000
• Jumlah PDP 3.000kg dengan tingkat penyelesaian:
BBB 100%, dan BK 2/3.
• Harga pokok taksiran PDP:
Perhitungan Jumlah
BBB 100%*3.000* Rp 18 Rp 54.000
BTK 2/3*3.000* Rp 27 Rp 54.000
BOP 2/3*3.000* Rp 37 Rp 74.000

• Persediaan produk jadi Rp 500


11
Contoh 1
 Kegiatan selama nov 19x7:
a) Pembelian bahan baku sebesar Rp 660.000
b) Jumlah JTK sesungguhnya 34.500 jam dengan biaya
tenaga kerja sebesar Rp 925.000
c) BOP dibebankan kepada produk atas dasar tarif per
jam kerja langsung sebesar Rp 37.
d) BOP sesungguhnya bln nov Rp 1.261.000
e) Produk jadi yang ditransfer ke gudang selama bulan
nov 35.500 kg
f) Produk jadi dijual dengan harga jual Rp 110/kg

12
Contoh 1
Persediaan akhir Nov 19x7:
 Harpok persediaan BB (FIFO) sebesar Rp 40.000
 Jumlah PDP sebanyak 2.500kg dengan tingkat
penyelesaian BBB 100%, BK 20%
 Persediaan produk jadi berjumlah 1.000kg

13
Penyelesaian
 Jurnal pembelian BB:
Pembelian Rp 660.000
Utang dagang Rp 660.000
 Jurnal pencatatan pemakaian BB:
BDP-BBB Rp 640.000*
Persediaan BB (akhir) Rp 40.000
Persediaan BB (awal) Rp 20.000
Pembelian Rp 660.000

640.000* = 20.000+660.000-40.000

14
Penyelesaian
Perhitungan BB sesungguhnya:
Keterangan Nominal
Harpok persediaan BB pada awal bulan Rp 20.000
Pembelian Rp 660.000 +
Rp 680.000
Harpok Persediaan BB pada akhir bulan Rp 40.000 -
BBB selama November Rp 640.000

• Jurnal pencatatan BTK sesungguhnya:


BDP-BTK Rp 925.000
Gaji dan Upah Rp 925.000
• Jurnal Pencatatan BOP dibebankan pada produk:
BDP-BOP Rp 1.276.500*
BOP dibebankan Rp 1.276.500
1.276.500*=(34.500 (JTK sesungguhnya) x Rp 37 (taksiran BOP per satuan)) 15
Penyelesaian
 Jurnal Pencatatan BOP sesungguhnya:
BOP Sesungguhnya Rp 1.261.000
Berbagai macam rekening yg dikredit Rp 1.261.000
 Penutupan BOP dibebankan pada BOP
sesungguhnya:
BOP dibebankan Rp 1.276.500
BOP sesungguhnya Rp 1.276.500
 Pencatatan harpok produk jadi ditransfer ke gudang:
Persediaan produk jadi Rp 2.911.000
BDP-BBB Rp 639.000
BDP-BTK Rp 958.500
BDP-BOP Rp 1.313.500
16
Penyelesaian
 Jurnal pencatatan harpok PDP akhir:
Persediaan PDP akhir Rp 77.000
BDP-BBB Rp 45.000 (100%*2.500 kg*Rp 18)
BDP-BTK Rp 13.500 (20%*2.500 kg*Rp 27)
BDP-BOP Rp 18.500 (20%*2.500 kg* Rp 37)
 Jurnal pencatatan harpok persediaan terjual:
Harga Pokok Penjualan Rp 2.870.000
Persediaan Produk Jadi Rp 2.870.000
(2.870.000*= (((500+35.500)-1.000)*82)
 Jurnal pencatatan penjualan:
Piutang dagang Rp 3.850.000 (35.000kg x Rp 110)
Penjualan Rp 3.850.000 17
Penyelesaian
 Jurnal pencatatan selisih biaya taksiran:
Selisih Rp 35.500
BDP-BBB Rp 10.000 (640.000*-(35.000* x 18)
BDP-BTK Rp 7.000 ((34.500* x 27)-(34.000* x 27))
BDP-BOP Rp 18.500 ((34.500* x 37)-(34.000* x 37))
35.000* = (((100%-100%)*3.000kg*1jam)+(32.500*1jam)+(100%*2.500kg*1jam))
34.000* = (((1-2/3)*3000kg*1jam)+(32.500*1jam)+(20%*2500*1jam))
32.500* = 35.500kg (total pers produk jadi)-3.000kg (PDP awal)
34.500* = Jam Tenaga Kerja Sesungguhnya
640.000* = Biaya Bahan Baku Sesungguhnya

 Jurnal pencatatan selisih BOP sesungguhnya dan


BOP dibebankan:
BOP Sesungguhnya Rp 15.500
Selisih Rp 15.500 (Rp 1.276.500-Rp 1.261.000)
18
Prosedur Akuntansi dalam Sistem Biaya Taksiran
Jika Produk diolah Melalui Lebih dari Satu
Departemen Produksi
 Menentukan biaya taksiran per satuan produk pada tiap
departemen produksi
 Membentuk rekening Barang Dalam Proses pada tiap
departemen produksi, kemudian dipecah sesuai dengan unsur
harga pokok produk
 Rekening Barang Dalam Proses tiap departemen, didebit
dengan Biaya Produksi Sesungguhnya, dikredit dengan harga
pokok taksiran produk jadi & harga pokok taksiran produk
 Saldo barang dalam proses tiap departemen merupakan selisih
biaya sesungguhnya dengan biaya taksiran.

19
Contoh 2
 PT Eliona Sari memproduksi satu macam produk
melalui departemen produksi: dept A dan B. Biaya
taksiran tiap kilogram produk tersebut disajikan sbb:
Unsur Harga Pokok Dept A Dept B Jumlah Tiap
Unsur Biaya
Produksi
BBB 5 kg @ Rp 60 Rp 300 - Rp 300
BTK
3,5 jam @ Rp 27 94,5 - -
3 jam @ Rp 50 - Rp 150 244,5
BOP
3,5 jam @ Rp 80 280 - -
50% dari biaya tenaga kerja - 75 Rp 355
Jml biaya taksiran per kg produk Rp 674,5 Rp 225 Rp 899,5
20
Contoh 2
Data biaya selama kuartal pertama tahun 19x7 adalah sbb:
 BTK sesungguhnya dept A sebesar Rp 287.330 dengan JTK
sesungguhnya sebanyak 31.415 jam sedangkan BTK
sesungguhnya dept B sebesar Rp 455.000
 BOP dibebankan kepada produk atas dasar tarif yang ditentukan
sbb:
Dept A: Rp 27 per JTK
Dept B: 50% biaya tenaga kerja
BOP yang sesungguhnya terjadi dalam kuartal pertama sebesar
Rp 845.000 (dept A) dan Rp 225.000 (dept B)
 Pencatatan biaya bahan baku memakai metode mutasi
persediaan. Biaya Bahan Baku Sesungguhnya sebesar Rp925.000
 Jumlah produk yang terjual sebanyak 2.700 kg dengan harga Rp
1.000 per kg
21
Contoh 2
Data Produksi Dept A Dept B

Persediaan PDP awal periode, tingkat 100 kg 200kg


penyelesaian: BBB 100%, BK 60%, untuk dept A
dan B

Jumlah produk yang dimasukkan ke dalam proses 3.100 kg -

Produk selesai yang diterima dari dept A - 3.000kg

Produk selesai yang ditransfer ke Dept B 3.000kg -

Produk selesai yang ditransfer ke gudang - 3.100kg

Persediaan PDP akhir periode, tingkat 200kg 100kg


penyelesaian: BBB 100%, BK 40%, untuk dept A
dan B
22
Penyelesaian
 Jurnal pencatatan BBB yang dipakai:
BDP-BBB dept A Rp 925.000
Pers. Bahan Baku Rp 925.000
 Jurnal pencatatan BTK di dept A:
BDP-BTK dept A Rp 287.330
Gaji dan Upah Rp 287.330
 Jurnal pencatatan BOP dibebankan di dept A:
BDP-BOP dept A Rp 848.205
BOP dibebankan Rp 848.205
(31.415 jam (JTK sesungguhnya) x Rp 27 (tarif BOP per satuan))

23
Penyelesaian
 Jurnal pencatatan harga pokok taksiran produk
selesai yang ditransfer dari dept A ke dept B:
Transfer dept A Rp 2.023.500
BDP-BBB Rp 900.000*
BDP-BTK 283.500**
BDP-BOP 840.000***
900.000* = 3.000kg (produk jadi dept A) x Rp 300 (BBB dept A)
283.500** = 3.000kg x Rp 94,5 (BTK dept A)
840.000*** = 3.000kg x Rp 280 (BOP dept A)
 Jurnal pencatatan BTK sesungguhnya di dept B:
BDP-BTK dept B Rp 455.000
Gaji dan Upah Rp 455.000
24
Penyelesaian
 Jurnal pencatatan BOP dibebankan dari dept B:
BDP-BOP dept B Rp 227.500 (50% x Rp 455.000)
BOP dibebankan Rp227.500
 Jurnal pencatatan harga pokok produk selesai
ditransfer dept B ke gudang:
Pers. Produk jadi Rp 2.788.450
Transfer dept A Rp 2.090.950*
BDP-BTK dept B 465.000**
BDP-BOP dept B 232.500***
2.090.950* = 3.100kg (produk selesai ditransfer ke gudang) x Rp 674,5 (total biaya
per satuan dept A)
465.000** = 3.100kg x Rp 150 (tarif BTK per kg dept B)
232.500*** = 3.100kg x Rp 75 (tarif BOP per kg dept B) 25
Penyelesaian
 Jurnal pencatatan harga pokok taksiran produk
yang terjual:
HPP Rp 2.428.650*
Pers. Produk jadi Rp 2.428.650
(2.428.650* = 2.700kg (jumlah produk terjual) x Rp 899,5 (jumlah biaya produksi
dept A & B))
 Jurnal pencatatan harga pokok taksiran PDP
akhir periode di dept A dan B:
PDP-dept A Rp 89.960
BDP-BBB dept A Rp 60.000*
BDP-BTK dept A Rp 7.560**
BDP-BOP dept A Rp 22.400***
26
Penyelesaian
PDP-dept B Rp 76.450
Transfer Dept A Rp 67.450*
BDP-BTK dept B Rp 6.000**
BDP-BOP dept B Rp 3.000***
60.000* = 100% x 200 Rp 300
7.560**= 40% x 200 x Rp 94,5
22.400***= 40% x 200 x Rp 280

67.450*= (100% x 100 x Rp 300)+(100% x 100x Rp 94,5)+(100%x 100x Rp 280)


6.000**= 40% x 100 x Rp 150
3.000***= 40% x 100 x Rp 75

27
Penyelesaian
 Jurnal Pencatatan BOP Sesungguhnya terjadi di
dept A dan B:
BOP Sesungguhnya Rp 1.070.000*
Berbagai macam rek di kredit Rp 1.070.000
1.070.000*= 845.000 (BOP sesungguhnya Dept A)+225.000 (BOP sesungguhnya
Dept B)
 Jurnal penutupan BOP dibebankan ke rekening
BOP Sesungguhnya:
BOP Dibebankan Rp 1.075.705*
BOP Sesungguhnya Rp 1.075.705
1.075.705*= 848.205 (BOP dibebankan dept A)+227.500 (BOP dibebankan dept B)

28
Penyelesaian
 Jurnal pencatatan selisih antara biaya
sesungguhnya dengan biaya taksiran yang ada
pada rekening BDP:
BDP-BBB dept A Rp 5.000*
Selisih BDP 2.545
BDP-BTK dept A Rp 1.940**
BDP-BOP dept A 2.605***
BDP-BTK dept B 2.000****
BDP-BOP dept B 1.000*****
NB: lihat gambar 12.10

29
Penyelesaian
 Jurnal pencatatan selisih antara BOP
sesungguhnya dan BOP dibebankan:
BOP sesungguhnya Rp 5.705
Selisih Rp 5.705
5.705* = 1.075.705 (BOP dibebankan)-1.070.000 (BOP Sesungguhnya)

30
Perlakuan Terhadap Selisih
 Ditutup ke rekening Harga Pokok Penjualan / Rugi Laba.

 Dibagikan secara adil kepada produk selesai dalam periode yang


bersangkutan, yaitu dibagikan ke rekening Produk Jadi & HPP.

 Dibagikan secara adil ke rekening: Persediaan BDP, Persediaan


Produk Jadi & HPP.

 Membiarkan selisih tersebut tetap dalam rekening selisih, sehingga


rekening ini berfungsi sebagai deferred account. Hal ini dilakukan
karena ada kemungkinan selisih yang terjadi diantara periode
akuntansi akan saling menutup.

31
Kelebihan Sistem Biaya Taksiran
1. Dapat mengurangi atau menekan biaya administrasi

(administrative expense).

2. Dapat menyediakan informasi untuk proses pengambilan


keputusan (decision making process).

3. Mengantar ke pemakaian sistem harga pokok standar

(standard costing).

32
Kelemahan Sistem Biaya Taksiran
1. Harga pokok taksiran yang ditentukan kurang teliti baru
dapat dikoreksi pada akhir periode setelah selisih biaya
dihitung dan dialokasikan.

2. Timbulnya selisih biaya yang besar dapat mengakibatkan


pengambilan keputusan yang keliru, karena pengambilan
keputusan dilakukan setelah produk atau jasa tersebut
diolah.

33
Pembagian Selisih atas Dasar
Perbandingan Kuantitas
Contoh 3
Selisih pada contoh 1 sebesar Rp 20.000 (Rp 35.500-15.500) dan
terdiri atas BBB Rp 10.000, BTK Rp 7.000 dan BOP Rp 3.000.

Keterangan BBB BTK BOP


PDP akhir 2.500kg * 500kg** 500kg**
Produk selesai 32.500kg 32.500kg 32.500kg
Jumlah 35.000kg 33.000kg 33.000kg

2.500* = 100% x 2.500kg (PDP akhir pada contoh 1)


500** = 20% x 2.500kg (PDP akhir pada contoh 1)
34
Penyelesaian
Jurnal untuk membagikan selisih pada PDP akhir dan
Pers. Produk Jadi untuk BBB:
PDP akhir Rp 714*
Pers. Produk Jadi 9.286**
Selisih Rp 10.000
714* = (2.500/35.000)*Rp 10.000
9.286** = (32.500/35.000)*Rp 10.000
Jurnal untuk membagikan selisih pada PDP akhir dan
Pers. Produk Jadi untuk BTK:
PDP akhir Rp 106*
Pers. Produk Jadi 6.894**
Selisih Rp 7.000
106* = (500/33.000)*Rp 7.000
6.894** = (32.500/33.000)*Rp 7.000
35
Penyelesaian
Jurnal untuk membagikan selisih pada PDP akhir dan
Pers. Produk Jadi untuk BOP:
PDP akhir Rp 45*
Pers. Produk Jadi 2.955**
Selisih Rp 3.000
45* = (500/33.000)*Rp 3.000
2.955** = (32.500/33.000)*Rp 3.000
Jurnal untuk membagikan selisih BBB, BTK dan BOP pada
persediaan produk jadi yang terjual:
HPP Rp 18.865*
Pers. Produk jadi Rp 18.665
18.865* = (35.000/35.500)*Rp 19.134 (9.286+6.894+2.955)

36
Pembagian Selisih atas Dasar
Harga Pokok Persediaan
Contoh 4
Selisih pada contoh 2 sebesar Rp 8.250 (Rp
1.940+2.605+2.000+1.000+5.705-5.000)
Jurnal untuk mencatat selisih pada BBB dept A:
Selisih Rp 5.000
PDP-dept A Rp 167
PDP-dept B 83
Pers. Produk Jadi 2.500
HPP 2.250
Jurnal untuk mencatat selisih pada BTK dept A:
PDP-dept A Rp 26
PDP-dept B 33
Pers. Produk Jadi 990
HPP 891
Selisih Rp 1.940 37
Penyelesaian
Jurnal untuk mencatat selisih pada BOP dept A:
Selisih Rp 600
PDP-dept A Rp 8
PDP-dept B 10
Pers. Produk Jadi 306
HPP 276
Jurnal untuk mencatat selisih pada BTK dept B:
PDP-dept B Rp 14
Pers. Produk Jadi 1.045
HPP 941
Selisih Rp 2.000

38
Penyelesaian
Jurnal untuk mencatat selisih pada BOP dept B:
Selisih Rp 1.500
PDP-dept B 10
Pers. Produk Jadi 784
HPP 706
NB: lihat gambar 12.12

39
TERIMA
KASIH

40