Anda di halaman 1dari 11

MASYARAKAT MADANI

Kelompok :
1. Deni Hadiya Akmala
2. Yopi Al-Maarij
3. Lutfi Pratama Yogaswara
4. Mohamad Aldo Firdaus
Masyarakat Madani

■ Pengertian
■ Latar Belakang
■ Karakteristik
– Islam yang Humanis (al-insaniyyah)
– Islam yang Moderat (al-wasathiyyah)
– Islam yang Toleran (al-samahah)
Pengertian Masyarakat Madani

Istilah masyarakat madani pertama kali dicetuskan oleh Anwar Ibrahim, beliau
mendefinisikan masyarakat madani sebagai system sosial yang subur berdasarkan
prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan individu dengan
kestabilan masyarakat.
Masyarakat madani memiliki ciri – ciri yang khas, yaitu kemajemukan budaya
(multicultural), hubungan timbal balik (reprocity), dan sikap yang saling memahami dan
menghargai.
Pengertian Masyarakat Madani

Dawam Rahardjo mendefinisikan masyarakat madani sebagai proses


penciptaan peradaban yang mengacu kepada nilai – nilai kebijakan bersama.
Menurut Azyumardi Azra, masyarakat madani lebih dari sekedar gerakan pro-
demokrasi, karena ia juga mengacu pada pembentukan masyarakat berkualitas dan
bertamadun (civility).
Menurut Nurcholish Madjid, makna masyarakat madani berasal dari kata
civility, yang mengandung makna toleransi, kesediaan pribadi – pribadi untuk
menerima berbagai macam pandangan politik dan tingkah laku sosial.
Pengertian Masyarakat Madani

A.S. Hikam mendefinisikan pengertian masyarakat madani berdasarkan istilah


civil society. Menurutnya, civil society didefinisikan sebagai wilayah – wilayah
kehidupan sosial yang terorganisir dan bercirikan :
■ Kesukarelaan (voluntary)
■ Keswasembadaan (self generating)
■ Keswadayaan (self supporting)
■ Kemandirian
■ Keterkaitan
Latar Belakang

Masyarakat Madani timbul karena faktor – fackor :


■ Adanya penguasa politik yang cenderung mendominasi (menguasai) masyarakat
dalam segala bidang agar patuh dan taat pada penguasa. Tidak adanya
keseimbangan dan pembagian yang proposional terhadap hak dan kewajiban setiap
warga negara yang mencakup seluruh aspek kehidupan.
■ Masyarakat diasumsikan sebagai orang yang tdak memiliki kemampuan yang baik
dibandingkan dengan penguasa. Warga negara tidak memiliki kebebasan penuh
untuk menjalankan aktivitas kesehariannya.
■ Adanya usaha membatasi ruang gerak dari masyarakat dalam kehidupan politik.
Karakteristik Masyarakat Madani

Konsep masyarakat madani yang dibahas menurut Umar Abdul Aziz Quraysy
merupakan agama yang sangat toleran, baik di dalam masalah akidah, ibadah,
muamalah, maupun akhlaknya. Dengan demikian, bias disimpulkan bahwa Rasulullah
mengajarkan tiga karakteristik keislaman yang menjadi fondasi pembangunan
masyarakat madani, yaitu :
■ Islam yang Humanis (al-insaniyyah)
■ Islam yang Moderat (al-wasathiyyah)
■ Islam yang Toleran (al-samahah)
Islam yang Humanis (al-insaniyyah)

Yang dimaksud dengan Islam yang humanis adalah bahwa substansi ajaran Islam yang
diajarkan Rasulullah, sepenuhnya kompatibel dengan fitrah manusia.
Terjemahan Q.S. Ar-rum ayat 30
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah di atas fitrah
Allah yang telah menciptakan manusia sesuai dengan fitrah tersebut. Tidak ada
perubahan terhadap fitrah Allah, akan tetapi kebanyakan manusia tidak
mengetahuinya”.
Karena itu, dalam aktualisasinya, ajaran Islam yang disampaikan oleh Rasulullah
dengan mudah diterima oleh nurani dan nalar manusia. Dengan kata lain, ajaran Islam
sejatinya adalah ajaran yang memanusiakan manusia dengan sebenar – benarnya.
Islam yang Moderat (al-wasathiyyah)

Islam yang moderat adalah keseimbangan ajaran Islam dalam berbagai dimensi
kehidupan manusia, baik pada dimensi vertikal (al-wasathiyyah al-diniyah) maupun
horizontal (al-tawazun al-ijtima’iy) Kemoderatan inilah yang membedakan substansi
ajaran Islam yang diajarkan Rasulullah dengan ajaran – ajaran lainnya, baik sebelum
Rasulullah diutus maupun sesudahnya Rasulullah diutus.
Secara etimologis, kata ‘moderat’ merupakan terjemahan dari al-wasathiyyah yang
memiliki sinonim al-tawazun (keseimbangan) dan al-I’tidal (proporsional).
Islam yang Toleran (al-samahah)

Kata toleran merupakan terjemahan dari al-samahah atau al-tasamuh yang merupakan
sinonim dari kata al-tasahul atau al-luyunah yang berarti kelonggaran, kemudahan,
fleksibilitas, dan toleransi itu sendiri. Kata ‘toleran’ di dalam ajaran Islam memiliki dua
pengertian, yaitu yang berkaitan dengan penganut agama Islam sendiri (Muslin), dan
berkaitan dengan penganut agama lain (Nonmuslim).
Jika dikaitkan denga kaum Muslimin, maka toleran yang dimaksud adalah kelonggaran,
kemudahan, dan fleksibilitas ajaran Islam bagi pemeluk – pemeluknya.
Sebab pada hakikatnya, ajaran Islam telah dijadikan mudah dan fleksibel untuk
dipahami maupun diaktualkan. Sehingga Islam sebagai rahmatan lil al;alamin benar –
benar dimanifestasikan di dalam konteks masyarakat Madinah pada masa Rasulullah.
Kesimpulan

Masyarakat madani secara umum adalah sekumpulan orang dalam suatu bangsa atau
negara dimana mereka hidup secara ideal dan taat pada aturan – aturan hukum islam,
serta tatanan kemasyarakatan yang telah ditetapkan. Masyarakat seperti ini sering
disebut dengan istilah civil society atau yang pengertiannya selalu mengacu pada ‘pola
hidup masyarakat yang ideal, terbaik, dan berberadaban’.
Dalam istilah Al-Quran , proses kehidupan masyarakat islam yang diterapkan oleh
Rasulullah SAW, yaitu Islam yang Humanis, Islam yang Moderat, Islam yang Toleran.
Konsep masyarakat madani memiliki akar kesejarahan dalam tradisi Islam dan telah
dipraktikkan sejak Nabi Muhammad SAW membanungn masyarakat Madinah.