Anda di halaman 1dari 34

Dengue Syok Sindrom

FLORINDO CARDOSO GOMES


11.2014.001
Dokter Pembimbing : dr. Sonny Kusuma Yuliarso, SpA
KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT ANAK
RS. BHAKTI YUDHA DEPOK 5 Januari 2015 – 14 Maret 2015
DEFINISI

• Dengue shock syndrome (DSS) adalah keadaan klinis


yang memenuhi kriteria DBD disertai dengan gejala
dan tanda kegagalan sirkulasi atau syok.

• DSS adalah kelanjutan dari DBD dan merupakan


stadium akhir perjalanan penyakit infeksi virus
dengue, derajat paling berat, yang berakibat fatal.
ETIOLOGI

• Virus Dengue (Genus Flavivirus) terdapat 4 serotipe


virus : DEN-1, DEN-2, DEN-3, DEN-4 (Indonesia,
terbanyak DEN-3).

• Nyamuk Aedes Aegypti dan Aedes Albopictus.


EPIDEMIOLOGI

• Penyakit DBD pertama kali di Indonesia ditemukan di


Surabaya pada tahun 1968, akan tetapi konfirmasi
virologis baru didapat pada tahun 1972.

• Sejak itu penyakit tersebut menyebar ke berbagai


daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi
di Indonesia kecuali Timor-Timur (sekarang Timor
Leste) telah terjangkit
EPIDEMIOLOGI

• Tahun 1998, Incident Rate (IR) = 35,19 per 100.000


penduduk.

• Tahun 1999, Incident Rate (IR) = 10,17

• Tahun 2000, Incident Rate (IR) = 15,99

• Tahun 2001, Incident Rate (IR) = 21,66

• Tahun 2002, Incident Rate (IR) = 19,24

• Tahun 2003, Incident Rate (IR) = 23,87


EPIDEMIOLOGI

• Total jumlah kasus DBD secara nasional tahun 2007


sebanyak 157.839 pasien dan 1597 orang diantaranya
meninggal.

• Tahun 2008 total DBD mencapai 133.402 penderita


dan 1.141 diantaranya meninggal.

• Tahun 2009 terdapat 4.920 penderita.

• Tahun 2013 total DBD mencapai 112.511 dan 871


diantaranya meninggal.
Kriteria KLINIK DBD

• Demam atau riwayat demam akut, antara 2-7 hari,


dengan sebab yang tidak jelas, hampir tidak dapat
dipengaruhi oleh obat penurun panas maupun
pengompresan.

.
Kriteria KLINIK DBD

• Terdapat minimal 1 manifestasi perdarahan dengan


manipulasi maupun spontan: uji bendung positif;
petekie, ekimosis, atau purpura; perdarahan mukosa;
hematemesis dan/atau melena.

• Pembesaran hepar.

• Syok/renjatan.
KRITERIA LABoratorik

• Trombositopenia (jumlah trombosit <100.000/ mm3).

• Hemokonsentrasi: peningkatan hematokrit atau


hemoglobin >20% dibandingkan dengan nilai pada
masa konvalesen, atau dibandingkan standar rata-rata
sesuai umur dan jenis kelamin di daerah tersebut.
Kriteria syok dengue
(DSS)
Kegagalan Sirkulasi :
• Kulit pucat, dingin dan lembab, terutama pada ujung
jari kaki, tangan dan hidung.
• Anak semula rewel, cengeng dan gelisah lambat laun
kesadarannya menurun menjadi apatis, sopor, koma.
• Perubahan nadi, baik frekuensi maupun amplitudonya.
• Tekanan nadi menurun menjadi 20 mmHg atau
kurang.
• Tekanan sistolik menurun menjadi 80 mmHg atau
kurang. Oligouria sampai anuria.
DERAJAT DBD

• Derajat I : Demam disertai gejala tidak khas dan satu-


satunya manifestasi perdarahan adalah uji torniquet.

• Derajat II : Seperti derajat I, disertai perdarahan


spontan di kulit dan/atau perdarahan lain.

• Derajat III : Derajat II ditambah kegagalan sirkulasi.


(DSS menurut WHO)

• Derajat IV : Derajat III ditambah syok berat dengan


nadi tak teraba dan tekanan darah yang tak terukur,
dapat disertai dengan penurunan kesadaran, sianosis,
dan asidosis.
PATOFISIOLOGI DSS

• Terjadinya peninggian permeabilitas dinding


pembuluh darah mendadak, akibat perembesan plasma
dan elektrolit masuk ke ruang interstitial,
menyebabkan hipotensi, hemokonsentrasi,
hipoproteinemia, dan efusi cairan ke rongga serosa.

• Pada Syok berat volume plasma dapat berkurang lebih


dari 30% berlangsung 24-48 jam.

• Terjadi perdarahan hebat saluran pencernaan.


Perjalanan penyakit

• Setelah massa Inkubasi,


infeksi dengue dibagi
menjadi 3 fase.

• Fase Demam

• Fase Kritis/Syok

• Fase Penyembuhan
Perjalanan penyakit

• Fase Demam : Demam tinggi tiba-tiba, terjadi 2-7 hari


disertai dengan muka kemerahan, eritema kulit, nyeri
seluruh badan, myalgia, arthalgia dan nyeri kepala.
Dapat terjadi nyeri tenggorokan, nafsu makan turun,
mual dan muntah.

• Tes tourniquet (+), ptekie, perdarahan mukosa,


perdarahan gastrointestinal, pembesaran Hepar.
Perjalanan penyakit

• Fase Kritis : Hari 3 – 7, ketika suhu menurun pada


37,5 – 38 C. dimulainya fase kritis. Kebocoran plasma
secara klinik 24 – 48 jam. Leukopeni dan
Trombositopeni mendahului terjadinya kebocoran
plasma.

• Derajat kebocoran plasma bervariasi : minimal, efusi


pleura, asites.

• Peningkatan Hematokrit nilai awal untuk tentukan


derajat keparahan kebocoran.

• Jika kebocoran hebat, terjadi syok hipovolemik


Perjalanan penyakit

• Fase Penyembuhan : Jika pasien bertahan pada fase


kritis akan terjadi reabsorbsi cairan ekstravaskular
bertahap 48-72 jam, KU akan membaik, nasfsu makan
membaik, gejala gastrointestinal mereda,
hemodinamik stabil.
Pemeriksaan
penunjang
• Laboratorium :

• Screening infeksi dengue : Hemoglobin, hematokrit,


Trombosit.

• Tes serologis : IgM dideteksi mulai pada hari ke 3-5,


meningkat pada minggu ke 3 dan hilang setelah 60-90
hari. IgG pada infeksi primer mulai dideteksi pada hari
ke 14 sedangkan pada infeksi sekunder mulai dideteksi
pada hari ke 2.

• Elektrolit : parameter pemberian cairan.

• Golongan darah : bila dibutuhkan tranfusi darah.


PENATALAKSANAAN

• FLUID :

• Perhitungan secara kasar sebagai berikut :

(ml/jam) = ( tetesan / menit ) x 3


JENIS FLUID
• Jenis Cairan

• (1) Kristaloid

• Ringer Laktat

• 5% Dekstrose di dalam larutan Ringer Laktat

• 5% Dekstrose di dalam larutan Ringer Ashering

• 5% Dekstrose di dalam larutan setengah normal garam fisiologi (faali), dan

• 5% Dekstrose di dalam larutan normal garam fisiologi (faali)

• (2) Koloidal

• Plasma expander dengan berat molekul rendah (Dekstran 40)

• Plasma
Penatalaksanaan
• Kebutuhan Cairan untuk dehidrasi sedang

• Kebutuhan Cairan Rumatan


PENATALAKSANAAN
• Kasus DBD derajat II dan IV
• “Dengue Shock Syndrome” (sindrome renjatan
dengue) termasuk kasus kegawatan yang
membutuhkan penanganan secara cepat dan perlu
memperoleh cairan pengganti secara cepat.
• Penggantian secara cepat plasma yang hilang
digunakan larutan gaam isotonik (Ringer Laktat, 5%
Dekstrose dalam larutan Ringer Laktat atau 5%
Dekstrose dalam larutan Ringer Asetat dan larutan
normal garam faali) dengan jumlah 10-20 ml/kg/1 jam
atau pada kasus yang sangat berat (derajat IV) dapat
diberikan bolus 10 ml/kg (1 atau 2x).
PENATALAKSANAAN
• Jika syok berlangsung terus dengan hematokrit yang
tinggi, larutan koloidal (dekstran dengan berat molekul
40.000 di dalam larutan normal garam faal atau
plasma) dapat diberikan dengan jumlah 10-20
ml/kg/jam.
• Selanjutnya pemberian cairan infus dilanjutkan dengan
tetesan yang diatur sesuai dengan plasma yang hilang
dan sebagai petunjuk digunakan harga hematokrit dan
tanda-tanda vital yang ditemukan selama kurun waktu
24-48 jam.
• Cairan koloidal diindikasikan pada kasus dengan
kebocoran plasma yang banyak sekali yang telah
memperoleh cairan kristaloid yang cukup banyak.
PENATALAKSANAAN
• Tatalaksana Demam Berdarah Dengue tanpa syok

• Anak dirawat di rumah sakit

• Berikan anak banyak minum larutan oralit atau jus buah, air tajin, air sirup, susu, untuk mengganti cairan yang hilang
akibat kebocoran plasma, demam, muntah/diare.
Berikan parasetamol bila demam. Jangan berikan asetosal atau ibuprofen karena obat-obatan ini dapat merangsang
terjadinya perdarahan.

• Berikan infus sesuai dengan dehidrasi sedang:


Berikan hanya larutan isotonik seperti Ringer laktat/asetat

• Kebutuhan cairan parenteral Berat badan < 15 kg


Berat badan 15-40 kg
Berat badan > 40 kg

• : 7 ml/kgBB/jam : 5 ml/kgBB/jam : 3 ml/kgBB/jam

• Pantau tanda vital dan diuresis setiap jam, serta periksa laboratorium (hematokrit, trombosit, leukosit dan hemoglobin) tiap
6 jam

• Apabila terjadi penurunan hematokrit dan klinis membaik, turunkan jum- lah cairan secara bertahap sampai keadaan stabil.
Cairan intravena bi- asanya hanya memerlukan waktu 24–48 jam sejak kebocoran pembuluh kapiler spontan setelah
pemberian cairan.

• Apabila terjadi perburukan klinis berikan tatalaksana sesuai dengan tata laksana syok terkompensasi (compensated shock).
PENATALAKSANAAN
• Tatalaksana Demam Berdarah Dengue dengan Syok
• Perlakukan hal ini sebagai gawat darurat. Berikan oksigen 2-4 L/menit secarra
nasal.
Berikan 20 ml/kg larutan kristaloid seperti Ringer laktat/asetat secepat- nya.
• Jika tidak menunjukkan perbaikan klinis, ulangi pemberian kristaloid 20
ml/kgBB secepatnya (maksimal 30 menit) atau pertimbangkan pembe- rian
koloid 10-20ml/kgBB/jam maksimal 30 ml/kgBB/24 jam.
Jika tidak ada perbaikan klinis tetapi hematokrit dan hemoglobin menu- run
pertimbangkan terjadinya perdarahan tersembunyi; berikan transfusi
darah/komponen.
• Jika terdapat perbaikan klinis (pengisian kapiler dan perfusi perifer mulai
membaik, tekanan nadi melebar), jumlah cairan dikurangi hingga 10
ml/kgBB/jam dalam 2-4 jam dan secara bertahap diturunkan tiap 4-6 jam sesuai
kondisi klinis dan laboratorium.
• Dalam banyak kasus, cairan intravena dapat dihentikan setelah 36-48 jam.
Ingatlah banyak kematian terjadi karena pemberian cairan yang terlalu banyak
daripada pemberian yang terlalu sedikit.
penatalaksanaan

1. Pengobatan awal aminoglikosid ditambah salah satu sefalosporin generasi ke-3


(sefitriaxsone, sefoperazon atau seftazidim), Tikarsilin-Asam Klavunalat, imipenem-
Cilastatin
Antibiotik 2. Bila dicurigai MRSA (Methicillin Resistance Staphylococcus Aureus) : ditambah
vankomisin, rifampisin

3. Infeksi intra abdominal : ditambah metronidazole atau klindamisin untuk kuman


anaerob

4. Netropenia : monoterapi dengan seftazidin atau imipenem / meropenem


PROGNOSIS
• Kriteria Memulangkan Pasien

• Pasien dapat dipulangkan, apabila:

• Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik

• Nafsu makan membaik

• Tampak perbaikan secara klinis

• Hematokrit stabil

• Tiga hari setelah syok teratasi

• Jumlah trombosit > 50.000/μl

• Tidak dijumpai distress pernafasan (disebabkan oleh efusi pleura atau


asidosis)
Prognosis

• Ad vitam : bonam

• Ad functionam : bonam

• Ad sanationam : bonam
KESIMPULAN
• Pengobatan DSS bersifat suportif. Resusitasi cairan
merupakan terapi terpenting.
• Tatalaksana berdasarkan atas adanya perubahan fisiologi
berupa perembesan plasma dan perdarahan.
• Deteksi dini terhadap adanya perembesan plasma dan
penggantian cairan yang adekuat akan mencegah terjadinya
syok.
• Pemilihan jenis cairan dan jumlah yang akan diberikan
merupakan kunci keberhasilan pengobatan.
• Penegakkan diagnosis DBD secara dini dan pengobatan
yang tepat dan cepat akan menurunkan angka kematian
DBD
THANK YOU