Anda di halaman 1dari 34

Interpretasi data tambahan

Riwayat pengobatan sebelumnya :


Saat ini pasien mengkonsumsi obat Valproic acid (2x1/2) dan Apialys (1x1) dari
dokter, yang sudah diminum selama 1 tahun selama mengkonsumsi itu pasien sudah
tidak pernah mengalami kejang meskipun pasien demam tinggi
Valproic Acid merupakan Antikonvulsi (anti kejang) Apialys merupakan vitamin untuk
digunakan untuk mencegah dan mengobati bangkitan Penambah nafsu makan.
epilepsi ( epileticseizure) dan bangkitan non-epilepsi. Membantu pertumbuhan tulang
Kebanyakan obat anti konvulsi bersifat sedatif dan gigi. Meningkatkan daya
(meredakan). Semua obat antikonvulsi memiliki tahan tubuh. Membantu
waktu paruh panjang, dieliminasi dengan lambat, dan pertumbuhan anak
berkumulasi dalam tubuh pada penggunaan kronis.

Riwayat Keluarga :
Tidak ada keluarga pasien yang memiliki riwayat serta keluhan yang sama engan
pasien

Riwayat Kehamilan dan Persalinan :


Pasien lahir dipuskesmas ditolong oleh bidan dilahirkan secara spontan, segera
menangis, air ketuban berwarna jernih, BBL dan PBL ibu pasien lupa. Riwayat ibu
keguguran tidak ada.
Pemeriksaan Fisik :
Keadaan Umum : Baik/Compos Mentis/ Gizi Kurang
Status Gizi : Gizi Kurang
Berat Badan : 20kg

Tanda Vital :
Nadi : 84 x/mnt
Pernafasan : 24 x/mnt
Suhu : 37,4⁰C

Pemeriksaan Fisik :
Kepala : dbn
Leher : Vena Jugularis : Pulsasi : tidak terlihat
Tekanan : tidak meningkat
Pembesaran Kelenjar Leher : tidak ada
Kaku Kuduk : tidak ada
Thorax :
1. Paru
Inspeksi : Bentuk : Simetris
Retraksi : tidak ada
Dispnea : tidak ada
Pernafasan : thorakal
Palpasi : Fremitus fokal : Simetris
Nyeri tekan -/-
Perkusi : sonor/sonor
Auskultasi : Vesikuler,
Bunyi Tambahan : Rhonki -/-
Wheezing -/-

2. Jantung
Inspeksi : Iktus : tidak terlihat
Palpasi : Apeks : tidak teraba
Thrill : tidak ada
Perkusi : Batas Kanan : ICS IV Linea parasternal dextra
Batas Kiri : ICS V Linea Midclavicula sinistra
Batas Atas : ICS II Linea Parasternal dextra
Auskultasi : BJ I-II murni reguler, bising : tdk ada
Abdomen
Inspeksi : Bentuk : datar
Auskultasi : Peristaltik (+) normal
Perkusi : Timpani
Palpasi : Hati : tidak teraba
Lien tidak teraba
Ginjal : nyeri ketok (-)
Massa : tidak ada

Ekstremitas : Akral Hangat


Sianosis (-)
CTR <2
Edema (-)
Susunan saraf : Nervus Cranialis I-XII Normal
Review :
Diagnosa : Epilepsi Pro EEG

Sumber : Jurnal Medica Hospitalia 2012; vol 1 (1) : 64-70 tentang Pemeriksaan EEG
untuk Diagnosis dan Monitoring pada Kelainan Neurologi
TABEL DD DAN DX
EPILEPSI
DEFINISI: Epilepsi adalah kejang tanpa provokasi yang terjadi dua kali/lebih dengan
interval waktu lebih dr 24 jam. Dapat di sebabkan oleh berbagai penyakit dan
gangguan yg berat misal:malformasi kongenital,pasca infeksi, tumor, pykt
vaskula, penykt degeneratif, dan pasca trauma otak
ETIOLOGI: - Epilepsi idiopatik=penyebab sebagian besar pasien epilepsi tdk diketahui
biasanya pasien tdk menunjukan manifestasi cacat otak.Sebagian dari jenis
idiopatik disebabkan interaksi beberapa faktor genetik
- Epilepsi Simptomati= terjadi bila fungsi otak terganggu oleh berbagai
kelainan intrakranial dan ekstrakranial.
GEJALA: • Kejang parsial= Lesi yg terdapat pd kejang parsial sebagian kecil dr otak/satu
hemisfer serebrum. Terjadi pd satu sisi/satu bag tubuh, kesadaran baik
-kejang parsial sederhana: berupa kejang motorik fokal,femnomena
halusinatorik,psikoilusi/emosional kompleks, kesadaran baik
-kejang parsial kompleks=gej.bervariasi dan hampir sama dgn kejang parsial
sdrhana, yg plg kash terjadi penurunan ksdran dan otomatisme
• Kejang umum=berasal dr sebagian besar dari otak/kedua hemisfer
serebrum. Kejang pada seluruh tubuh dan kesadaran menurun
-kejang absans= hilang kesadaran sesaat (bbrpa dtk) dan mendadak disertai
amnesia, sering tdk terdeteksi
-kejang atonik= hilang tonus mendadak dan biasanya total pd otot anggota
badan,leher.durasi kejang sangt singkat/lebih lama
-kejang mioklonik= ditandai kontraksi otot bilateral simetris cepat&singkat
LANJUTAN -Kejang tonik-klonik= kesadaran hilang dg cepat&total disertai kontraksi
GEJALA menetap dan masif diseluruh otot,mata deviasi ke atas,penderita menjadi
biru(sianosis) kejang ini biasanya 2-3 menit
-kejang klonik=hampri sama seperti mioklonik,tetapi berlangsung lebih
lama
Kejang tonik= kaku dan tengang pd otot.sering mengalami jatuh
kehilangan keseimbangan
PEM.FISIK Adanya trauma kepala, gangguan kongenital, gangguan neurologik
fokal/difus, infeksi telinga atau sinus, pada anak” biasanya keterlambatan
perkembangan,organomegali,perbedaan ukuran antar anggota tubuh
menunjukan awal gang.pertumbuhan otak unilateral.

PP -Pemeriksaan Lab
-Elektroesefalografi (EEG)
-Rekaman video EEG
-pemeriksaan radiologis (Ctscan kepala & MRI kepala)
-Pemeriksaan neurologi

TERAPI
KEJANG DEMAM

DEFINISI Kejang demam adalah bangkitan kejang yang terjadi karena peningkatan suhu
tubuh dengan cepat hingga >38oC,dan kenaikan suhu tubuh trsbt diakibatkan
proses ekstrakranial.Perlu di perhatikan bahwa demam haus terjadi
mendahului kejang .umumnya trjdi pd usia 6bulan-5 tahun.puncak=14-18bln
ETIOLOGI Penyebabnya ada 2: yaitu karna lepasnya sitokin inflamasi (IL-1-
beta)/hiperventilasi yg mnybabkan alkalosis&meningkatkan pH otak shga trjdi
kejang,kejang demam jg diturunkan scra genetik shga eksitasi neuron terjadi
lebih mudah
GAMBARAN -kejang selalu di dahului naiknya suhu tubuh dgn cepat
KLINIS -pada kejang demam simpleks: tipe kejang berupa kejang umum klonik/tonik-
klonik
-pada kejang demam kompleks:ada tanda kejang demam fokal/parsial selama
maupun sesudah kejang (misal pergerakan 1tungkai saja/satu tungkai terlihat
lebih lemah dibanding yg lain)
-kejang demam simpleks <15 menit , kejang demam kompleks >15 mnt
Kejang demam simpleks tdk berulang 24 jam, kejang demam kompleks
berulang 24 jam
-Kejang demam simpleks tanpa kelainan neurologis sebelum dan sesudah
kejang, kejang demam kompleks ada kelainan neurologis sebelum/sesudh
kejang
PP • Pemeriksaan lab=untuk mengevaluasi sumber infeksi penyebab demam atau
keadaan lain misal gastroenteritis dehidrasi disertai demam
• Elektroenefalografi(EEG)=tdk dapat memprediksi berulangnya kejangatau
memperkirakan kemungkinan kejadian epilepsi pd pasien kejang
demam.pemriksaan ini masih dilakukan pada keadaan kejang demam yg tdk
khas
• Pencitraan=foto x-ray kepala dan pencitraan seperti ct-scan /MRI jarang
dikrjakan,tdk rutin dan hanya indikasi:kelainan neurologik fokal yg
menetap,paresis nervus Vl,papiledema
TUMOR SEREBRI
DEFINISI Tumor otak adalah sebuah lesi terletak pada intrakranial yang menempati ruang
di dalam tengkorak, biasanya dapat menyebakan bangkitan kejang karena
terganggu impuls listrik tiap sel
ETIOLOGI Etiologi pasti terjadinya tumor otak belum diketahui, namun menurut beberapa ahli
dapat terjadi akibat proses primer dan sekunder.
Primer
1. Gangguan pada otak
2. Gangguan imunologi tubuh
3. Gangguan fungsi hipofisis
4. Virus
5. Toksin
Sekunder: Metastase tumor lain, biasanya tumor paru dan payudara
GEJALA -Sakit kepala=biasanya sering pada tumor otak, bersifat dalam dan terus
menerus,tumpul dan kadang hebat sekali
-Nausea dan muntah=terjadi sebagai akibat rangsangan pusat muntah pd medulla
oblongata.muntah sering trjadi pd anak’ berhub dengan peningkatan TIK disertai
pergeseran batang otak
-Papiledema=Disebabkan oleh statis vena yang menimbulkan pembengkakan
papilla nervioptist.Dalam hubungannya dengan papiledema mungkin terjadi
beberapa gangguan penglihatan. Ini termasuk pembesaran bintik buta dan
amaurusis fugun (perasaan berkurangnya penglihatan).
PEM.FISIK -Gejala fokal=lebih cenderung mempunyai nilai melokalisasi :
a. Tumor korteks motorik, dengan menyebabkan gerakan seperti kejang
yang terletak pada satu sisi tubuh yang disebut Kejang Jacksonian.
b. Tumor serebelum, menyebabkan pusing, ataksia (kehilangan
keseimbangan) /gaya berjalan yang sempoyongan dengan kecenderungan
jatuh ke sisi yang lesi , otot td terkoordinasi dan nistagmus
c. Tumor lobus frontal sering menyebabkan gangguan kepribadian
perubahan status emosional dan tingkah laku, dan disintegrasi perilaku
mental.
d.Tumor intrakranial dapat menghasilkan gangguan kepribadian, konfusi,
gangguan fungsi bicara dan gangguan gaya berjalan.
PP 1. CT Scan, memberikan informasi spesifik yang menyangkut jumlah ukuran
dan kepadatan jejas tumor dan meluasnya tumor serebral sekunder,
2. MRI, digunakan untuk menghasilkan deteksi jejas yang kecil, membantu
dalam mendeteksi tumor didalam batang otak dan daerah hipofisis.
3. EEG, dapat mendekati gelombang otak abnormal pada daerah yang
ditempati tumor
TERAPI -pembedahan
-terapi radiasi (radioterapi dan kemoterapi)
-imunoterapi
Definisi
Epilepsi berasal dari bahasa Yunani “epilepsia” yang artinya adalah
gangguan neurologis umum kronis yang ditandai dengan kejang berulang
tanpa alasan, kejang sementara dan/atau gejala dari aktivitas neuronal
yang abnormal, berlebihan atau sinkron di otakEpilepsi adalah Cetusan
listrik lokal pada substansia grisea otak yang terjadi sewaktu-waktu,
mendadak, dan sangat cepat yang dapat mengakibatkan serangan
penurunan kesadaran, perubahan fungsi motorik atau sensorik, perilaku
atau emosional yang intermiten dan stereotipik.12 Pelepasan aktifitas
listrik abnormal dari sel-sel neuron di otak terjadi karena fungsi sel neuron
terganggu. Gangguan fungsi ini dapat berupa gangguan fisiologik,
biokimia, anatomi dengan manifestasi baik lokal maupun general.6
Epilepsi adalah suatu kelainan di otak yang ditandai adanya bangkitan
epileptik yang berulang (lebih dari satu episode). International League
Against Epilepsy (ILAE) dan International Bureau for Epilepsy (IBE) pada
tahun 2005 merumuskan kembali definisi epilepsi yaitu suatu kelainan
otak yang ditandai oleh adanya faktor predisposisi yang dapat
mencetuskan bangkitan epileptik, perubahan neurobiologis, kognitif,
psikologis, dan adanya konsekuensi sosial yang diakibatkannya.
Epidemiologi
• Kejang merupakan kelainan neurologi yang
paling sering terjadi pada anak, di mana
ditemukan 4 – 10 % anak-anak mengalami
setidaknya satu kali kejang pada 16 tahun
pertama kehidupan.
• Studi yang ada menunjukkan bahwa 150.000
anak mengalami kejang tiap tahun, di mana
terdapat 30.000 anak yang berkembang
menjadi penderita epilepsi.
• Epilepsi paling sering terjadi pada anak dan orang lebih tua (di atas
65 tahun). Pada 65 % pasien, epilepsi dimulai pada masa kanak-
kanak.
• Puncak insidensi epilepsi terdapat pada kelompok usia 0-1 tahun,
kemudian menurun pada masa kanak-kanak, dan relatif stabil
sampai usia65 tahun.
• Menurut data yang ada, insidensi per tahun epilepsi per 100.000
populasi adalah 86 pada tahun pertama, 62 pada usia 1 – 5 tahun,
50 pada 5 – 9 tahun, dan 39 pada 10 – 14 tahun.

Sumber :
http://eprints.undip.ac.id/44421/3/ADRIAN_SETIAJI_22010110130154
_Bab2KTI.pdf
Etiologi
Epilepsi merupakan salah satu penyakit saraf kronik kejang berulang yang muncul tanpa
diprovokasi. Penyebabnya adalah kelainan bangkitan listrik jaringan saraf yang tidak terkontrol baik
sebagian maupun seluruh bagian otak. Keadaan ini bisa diindikasikan sebagai disfungsi otak. Gangguan
fungsi otak yang bisa menyebabkan lepasnya muatan listrik berlebihan di sel neuron saraf pusat, bisa
disebabkan oleh adanya faktor fisiologis, biokimiawi, anatomis atau gabungan faktor tersebut. Tiap-tiap
penyakit atau kelainan yang dapat menganggu fungsi otak atau fungsi sel neuron di otak, dapat
menyebabkan timbulnya bangkitan kejang atau serangan epilepsiUntuk menentukan faktor penyebab
dapat diketahui dengan melihat usia serangan pertama kali.
Misalnya : usia dibawah 18 tahun kemungkinan faktor penyebabnya ialah trauma perinatal, kejang
demam, radang susunan saraf pusat, struktural, penyakit metabolik, keadaan toksik, penyakit sistemik,
penyakit trauma kepala, dan lain-lain.
Bangkitan kejang juga dapat disebabkan oleh berbagai kelainan dan macam-macam penyakit
diantaranya ialah trauma lahir, trauma kapitis, radang otak, tumor otak, perdarahan otak, gangguan
peredaran darah, hipoksia, anomali kongenital otak, kelainan degeneratif susunan saraf pusat, gangguan
metabolisme, gangguan elektrolit, demam, reaksi toksis-alergis, keracunan obat atau zat kimia, dan
faktor hereditas.
patofisiologi
Tanda dan Gejala
Kejang berulang merupakan gejala utama dari
epilepsi. Berdasarkan gangguan pada otak, jenis
kejang dibagi menjadi dua, yaitu parsial dan
umum.
Kejang parsial dibagi lagi menjadi dua kategori,
yaitu kejang parsial simpel, dan kejang parsial
kompleks.
• Kejang parsial simple ditandai dengan tidak
hilangnya kesadaran. Gejalanya dapat berupa
anggota tubuh yang menyentak, atau timbul
sensai kesemutan, dan pusing.
• Kejang parsial kompleks mempengaruhi
kesadaran penderita sehingga dia terlihat
bingung atau setengah sadar untuk beberapa
menit.
Pada kejang umum, gejala terjadi pada seluruh tubuh dan disebabkan
oleh gangguan yang berdampak pada seluruh bagian otak. Tanda dan
gejalanya adalah :
• Mata yang terbuka saat kejang
• Tubuh yang menjadi kaku selama beberapa menit
• Penderita epilepsi kadang-kadang mengeluarkan suara-suara atau
berteriak
• Dalam sebagian kasus, kejang menyeluruh membuat penderita
benar-benar tidak sadarkan diri. Dan setelah sadar, penderita
terlihat bingung selama beberapa menit atau jam.

Sumber :
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/142/jtptunimus-gdl-inaalfatah-
7080-3-babii.pdf
Klasifikasi epilepsi
• Berdasarkan tanda klinik
dan data EEG, kejang
dibagi menjadi :
– kejang umum (generalized
seizure)  jika aktivasi
terjadi pd kedua hemisfere
otak secara bersama-
sama
– kejang parsial/focal  jika
dimulai dari daerah
tertentu dari otak
Kejang umum terbagi atas:
• Tonic-clonic convulsion = grand mal
– merupakan bentuk paling banyak
terjadi
– pasien tiba-tiba jatuh, kejang, nafas
terengah-engah, keluar air liur
– bisa terjadi sianosis, ngompol, atau
menggigit lidah
– terjadi beberapa menit, kemudian
diikuti lemah, kebingungan, sakit
kepala atau tidur
• Abscense attacks = petit mal
– jenis yang jarang
– umumnya hanya terjadi pada masa anak-anak atau awal remaja
– penderita tiba-tiba melotot, atau matanya berkedip-kedip, dengan kepala
terkulai
– kejadiannya cuma beberapa detik, dan bahkan sering tidak disadari
• Myoclonic seizure
– biasanya tjd pada pagi hari, setelah bangun tidur
– pasien mengalami sentakan yang tiba-tiba
– jenis yang sama (tapi non-epileptik) bisa terjadi pada pasien normal
• Atonic seizure
– jarang terjadi
– pasien tiba-tiba kehilangan kekuatan otot  jatuh, tapi bisa segera recovered
Kejang parsial terbagi menjadi :
• Simple partial seizures
– pasien tidak kehilangan kesadaran
– terjadi sentakan-sentakan pada
bagian tertentu dari tubuh
• Complex partial seizures
– pasien melakukan gerakan-
gerakan tak terkendali: gerakan
mengunyah, meringis, dll tanpa
kesadaran
FAKTOR RISIKO
• Riwayat keluarga
• Faktor antenatal dan perinatal
• Trauma dan pembedahan
• Metabolik
• Toksik
• Infeksi dan inflamasi
• Vaskular
• Tumor intrakranialis
• Hipoksia
• Penyakit degeneratif
• Fotosensitivitas
• Gangguan tidur

Sumber : Buku Crash Course Neurologi, 1st Indonesian edition, by Diatri Nari Lestari
dan Fitri Octaviana . 2018. Singapore : ELSEVIER
KOMPLIKASI
• Kehilangan kontrol
- Tenggelam (lebih sering)
- Berpotensi jatuh dan mematahkan tulang atau menyebabkan
cedera kepala
• Kehamilan
- Kejang selama kehamilan berbahaya  mempengaruhi
perkembangan janin
- Obat-obatan epilepsi juga menyebabkan kelainan pada anak-anak
• Sudden Death
Kematian mendadak yang tidak dapat dijelaskan pada epilepsi
(SUDEP). SUDEP tidak memiliki tanda-tanda peringatan, dan
biasanya kematian mendadak dan tak terduga. Kontrol kejang
dengan pengobatan juga dapat membantu mencegah terjadinya
SUDEP
Pemeriksaan Penunjang
1. Elektroensefalografi (EEG)
2. MRI
3. CT Scan
PENCEGAHAN
• Makan makanan sehat
• Diet ketogenic
• Olahraga ringan dan rutin
• Tidur dengan cukup
• Menjaga diri agar tetap aman
• Mengatasi stress
• Menjaga gaya hidup sehat
• Lindungi diri dari cedera kepala
• Perawatan prenatal yang baik

Sumber : - Buku Crash Course Neurologi, 1st Indonesian edition, by Diatri


Nari Lestari dan Fitri
Octaviana . 2018. Singapore : ELSEVIER
-
erepo.unud.ac.id/9142/3/f8f57fbf25ed516c0b91ed72c93dd08d.pdf
tatalaksana
prognosis
• Dubia ad bonam