Anda di halaman 1dari 57

Laporan Kasus

SINDROM NEFROTIK

Oleh:
Mherryna Tri Mayora, S.Ked
Pembimbing:
dr. Devi Gusmaiyanto, Sp.A, M.Biomed
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ABDURRAB
ILMU KESEHATAN ANAK
RSUD TENGKU RAFI’AN SIAK
2018
BAB I
PENDAHULUAN
Sindrom Nefrotik
Kumpulan manifestasi klinis:
Hilangnya protein urine secara masif
hipoproteinemia
hipoalbumin  edema.
hiperlipidemia, hiperkolesterolemia dan
lipiduria.
• Semua usia, lebih banyak pada usia 1−2 tahun
dan 8 tahun.
• Pada anak dibawah usia 8 tahun, ratio laki-laki
dan perempuan  2:1 hingga 3:2.
• Pada anak lebih tua, remaja dan dewasa,
prevalensi laki-laki dan perempuan sama
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
Definisi SN
Protein uria masif (terutama albumin) (>40
mg/m2/jam)
Hipoprotenemia (albumin serum <3,0 g/dL)
Hiperkolestremia (>250 mg/dL)
edema.
Epidemiologi
• Insiden SN primer  2 kasus /tahun tiap
100.000 anak berumur <16 tahun.
• Insiden di Indonesia diperkirakan 6 kasus
/tahun tiap 100.000 <14 tahun.
Etiologi
Usia
Ras
Letak geografis
Tipe Human Leucocyte Antigen (HLA) tertentu
(HLA-DR7, HLA-B8, dan HLA-B12) berhubungan
dengan insiden SN yang meningkat.
Manifestasi Klinis
 Edema pitting atau asites
 Anoreksia
 Malaise
 Nyeri perut terutama pada jika asites (+)
 Tekanan darah meningkat
(25% anak)
 Diare (edema intestinal)
 Distres pernapasan
(edema pulmonal /efusi pleura)
P
a
t
o
f
i
s
i
o
l
g
i
Diagnosis
1. Proteinuria masif (> 40 mg/m2 LPB/jam atau 50
mg/kg/hari atau rasio protein/kreatinin pada
urin sewaktu > 2 mg/mg atau dipstik ≥ 2+)
2. Hipoalbuminemia < 2,5 g/dL
3. Edema
4. Hiperkolesterolemia > 200 mg/dL
Pemeriksaan Penunjang
 Urinalisis. Biakan urin hanya dilakukan bila didapatkan
gejala klinis yang mengarah kepada infeksi saluran
kemih.
 Protein urin kuantitatif, (24 jam) atau rasio
protein/kreatinin (urin pertama pagi hari )
 Pemeriksaan darah
a. Darah tepi lengkap
b. Albumin dan kolesterol serum
c. Ureum, kreatinin serta klirens kreatinin
d. Kadar komplemen C3
Diagnosis Banding
• Proteinuria transient
• Proteinuria postural (ortostatik)
• Proteinuria tubular
• Proteinuria glomerular
Tatalaksana
Sebelum pengobatan steroid dimulai lakukan pemeriksaan:
1. Pengukuran berat badan dan tinggi badan
2. Pengukuran tekanan darah
3. Pemeriksaan fisis untuk mencari tanda atau gejala penyakit sistemik
4. Mencari fokus infeksi di gigi-geligi, telinga, ataupun kecacingan. 
setiap infeksi perlu dieradikasi lebih dahulu
5. Melakukan uji Mantoux. (+)  diberikan profilaksis INH selama 6
bulan bersama steroid, dan bila ditemukan tuberkulosis diberikan obat
antituberkulosis (OAT).
1. Diitetik
Diit protein normal sesuai RDA
(Recommended Daily Allowances)
 1,5-2 g/kgbb/hari
Diit rendah garam (1-2 g/hari)  selama anak
menderita edema
2. Diuretik
 Sebelum pemberian
diuretik, singkirkan dulu
kemungkinan hipovolemia
 Pemakaian diuretik lebih
dari 1-2 minggu perlu
dilakukan pemantauan
elektrolit kalium dan natrium
darah.
3. Imunisasi
Pengobatan kortikosteroid >2 mg/ kgbb/ hari
atau >20 mg/hari, selama >14 hari  pasien
imunokompromais
Dalam 6 minggu setelah obat dihentikan
hanya boleh diberikan vaksin virus mati
Sangat dianjurkan mendapat imunisasi infeksi
pneumokokus dan varisela.
4. Pengobatan dengan Kortikosteroid
A. Terapi Inisial
Dosis prednison dihitung sesuai dengan berat
badan ideal (berat badan terhadap tinggi
badan).
Bila setelah 4 minggu pengobatan steroid
dosis penuh, tidak terjadi remisi, pasien
dinyatakan sebagai resisten steroid
B. Pengobatan SN Relaps
 Proteinuria kembali ≥ ++ tetapi tanpa edema
 Bila terdapat infeksi antibiotik 5-7 hari 
proteinuria (-) tidak perlu diberikan pengobatan
relaps.
 Bila sejak awal ditemukan proteinuria ≥ ++ disertai
edema,
maka diagnosis relaps dapat ditegakkan, dan prednison
mulai
diberikan
Keterangan: ƒPengobatan SN relaps: prednison dosis
penuh (FD) setiap hari sampai remisi (maksimal 4
minggu) kemudian dilanjutkan dengan prednison
intermittent atau alternating (AD) 40 mg/m2 LPB/hari
selama 4 minggu.
C. Pengobatan SN Relaps Sering / Dependend Steroid
Terdapat 4 opsi pengobatan SN relaps sering atau dependen
steroid:
1. Pemberian steroid jangka panjang
2. Pemberian levamisol
3. Pengobatan dengan sitostatik
4. Pengobatan dengan siklosporin, atau mikofenolat mofetil
(opsi terakhir).

perlu dicari fokus infeksi seperti tuberkulosis, infeksi di


gigi, radang telinga tengah, atau kecacingan.
a. Steroid jangka panjang
 Setelah remisi dengan prednison dosis penuh
 Steroid dosis 1,5 mg/kgbb secara alternating
 Turunkan bertahap 0,2 mg/kgbb setiap 2 minggu
 Penurunan dosis dilakukan sampai dosis terkecil
yang tidak menimbulkan relaps  antara 0,1 –
0,5 mg/kgbb alternating (dosis threshold) dan
pertahankan selama 6-12 bulan
 Coba dihentikan.
 Bila relaps terjadi pada dosis prednison antara 0,1
– 0,5 mg/ kgbb alternating
 Terapi dengan prednison 1 mg/ kgbb dalam dosis
terbagi, berikan setiap hari  remisi (+)
 Remisi (+)  prednison diturunkan menjadi 0,8
mg/kgbb diberikan secara alternating
 Turunkan 0,2 mg/kgbb setiap 2 minggu, sampai
satu tahap (0,2 mg/kgbb) di atas dosis prednison
pada saat terjadi relaps yang sebelumnya atau
relaps yang terakhir
• Bila relaps terjadi pada dosis prednison rumat
> 0,5 mg/kgbb alternating, tetapi < 1,0
mg/kgbb alternating tanpa efek samping yang
berat  dikombinasikan dengan levamisol
selang sehari 2,5 mg/kgbb selama 4-12 bulan,
atau langsung diberikan siklofosfamid (CPA)
b. Levamisol
Efektif sebagai steroid sparing agent
Dosis 2,5 mg/kgbb dosis tunggal, selang
sehari, selama 4-12 bulan
Efek samping: mual, muntah, hepatotoksik,
vasculitic rash, dan neutropenia yang
reversibel
c. Sitostatika
 Siklofosfamid (CPA) atau klorambusil
 dosis 2-3 mg/kgbb/ hari dalam dosis tunggal (oral/ IV),
atau dosis 500 – 750 mg/ m2 LPB, yang dilarutkan
dalam 250 ml larutan NaCL 0,9%, diberikan selama 2
jam (CPA puls)
 CPA puls diberikan sebanyak 7 dosis, dengan interval 1
bulan (total durasi pemberian CPA puls adalah 6 bulan).
 Efek samping: mual, muntah, depresi sumsum tulang,
alopesia, sistitis hemoragik, azospermia
Keterangan:
Relaps sering: prednison dosis penuh (FD) setiap hari sampai
remisi (maksimal 4 minggu) kemudian dilanjutkan dengan
prednison intermittent atau alternating (AD) 40 mg/m2 LPB/hari
dan siklofosfamid 2-3 mg/kgbb/hari, per oral, dosis tunggal
selama 8 minggu
Keterangan:
Prednison dosis penuh setiap hari sampai remisi (maksimal 4 minggulanjutkan
siklofosfamid puls dengan dosis 500-750 mg/m2 LPB (infus) 1x/bilan selama 6 bulan
dan prednison intermittent atau alternating (AD) 40 mg/m2 LPB/hari selama 12
minggu  prednison ditapering-off dengan dosis 1 mg/kgbb/hari selama 1 bulan,
dilanjutkan dengan 0,5 mg/kgbb/hari selama 1 bulan (lama tapering off 2 bulan).
atau
Prednison dosis penuh setiap hari sampai remisi (maksimal 4 minggu),  lanjutkan
siklofosfamid oral 2-3 mg/kgbb/hari dosis tunggal selama 12 minggu dan prednison
alternating (AD) 40 mg/m2 LPB/hari selama 12 minggu.  prednison ditapering-off
dengan dosis 1 mg/kgbb/hari selama 1 bulan, dilanjutkan dengan 0,5 mg/ kgbb/hari
selama 1 bulan (lama tapering off 2 bulan).
d. Siklosporin (CyA)
 SN idiopatik yang tidak responsif dengan pengobatan steroid atau
sitostatik
 Dosis 4-5 mg/kgbb/hari (100-150 mg/m2 LPB).

e. Mikofenolat mofetil (MMF)


 SNSS yang tidak memberikan respons dengan levamisol atau
sitostatik
 Dosis 800 – 1200 mg/m2 LPB atau 25-30 mg/kgbb bersamaan
dengan penurunan dosis steroid selama 12 - 24 bulan.
Keterangan:
1. Pengobatan steroid jangka
panjang
2. Langsung diberi CPA
3. Sesudah prednison jangka
panjang, dilanjutkan dengan CPA
4. Sesudah jangka panjang dan
levamisol, dilanjutkan dengan
CPA
D. Pengobatan SN dengan kontraindikasi steroid
 Jika tekanan darah tinggi, peningkatan ureum dan atau
kreatinin, infeksi berat
 Berikan sitostatik CPA oral maupun CPA puls
 CPA oral (2-3 mg/kg bb/hari dosis tunggal) diberikan
selama 8 minggu
 CPA puls (500 – 750 mg/m2 LPB) dilarutkan dalam 250
ml larutan NaCL 0,9%, diberikan selama 2 jam. CPA puls
diberikan sebanyak 7 dosis, dengan interval 1 bulan
(total durasi pemberian CPA puls adalah 6 bulan)
E. Pengobatan SN resisten steroid

1. Siklofosfamid (CPA)
• Pada SN resisten steroid yang mengalami remisi dengan pemberian
CPA
• Bila terjadi relaps dapat dicoba pemberian prednison lagi karena SN
yang resisten steroid dapat menjadi sensitif kembali
• Namun bila pada pemberian steroid dosis penuh tidak terjadi
remisi (terjadi resisten steroid) atau menjadi dependen steroid
kembali, dapat diberikan siklosporin

2.Siklosporin (CyA)
Dapat menimbulkan remisi total sebanyak 20% pada 60 pasien dan
remisi parsial pada 13%
Keterangan:
• Sitostatik oral: siklofosfamid 2-3 mg/kgbb/hari
dosis tunggal selama 3-6 bulan
• Prednison alternating dosis 40 mg/m2 LPB/hari
selama pemberian siklofosfamid oral. 
prednison ditapering-off dengan dosis 1
mg/kgbb/hari selama 1 bulan, dilanjutkan
dengan 0,5 mg/kgbb/hari selama 1 bulan (lama
tapering off 2 bulan).
atau
• Siklofosfamid puls dengan dosis 500-750
mg/m2 LPB diberikan melalui infus satu kali
sebulan selama 6 bulan yang dapat dilanjutkan
tergantung keadaan pasien.
• Prednison alternating dosis 40 mg/m2 LPB/hari
selama pemberian siklofosfamid puls (6 bulan).
 prednison ditapering-off dengan dosis 1
mg/kgbb/hari selama 1 bulan, dilanjutkan
dengan 0,5 mg/kgbb/hari selama 1 bulan (lama
tapering off 2 bulan).
3. Metilprednisolon puls Keterangan:
Dosis maksimum
metilprednisolon 1000 mg;
dosis maksimum prednison
oral 60 mg. Siklofosfamid (2-
2,5 mg/kgbb/hari) atau
klorambusil (0,18-0,22
mg/kgbb/hari) selama 8-12
minggu dapat diberikan bila
proteinuria masif masih
didapatkan setelah pemberian
metilprednisolon selama 10
minggu.
4. Obat imunosupresif lain
Obat imunosupresif lain
yang dilaporkan telah
digunakan pada SNRS
adalah vinkristin,
takrolimus, dan mikofenolat
mofetil. Karena laporan
dalam literatur yang masih
sporadik dan tidak
dilakukan dengan studi
kontrol, maka obat ini
belum direkomendasi di
Indonesia.
5. Pemberian Obat Non-Imunosupresif untuk
Mengurangi Proteinuria
 SNSS relaps sering, dependen steroid dan SNRS dianjurkan
untuk diberikan ACEI saja atau dikombinasikan dengan ARB,
bersamaan dengan steroid atau imunosupresan lain

1. Golongan ACEI: kaptopril 0.3 mg/kgbb diberikan 3 x sehari,


enalapril 0.5 mg/kgbb/hari dibagi 2 dosis,26 lisinopril 0,1 mg/
kgbb dosis tunggal.
2. Golongan ARB: losartan 0,75 mg/kgbb dosis tunggal.
6. Tatalaksana Komplikasi SN
A. Infeksi
 Peritonitis primer  penisilin parenteral dikombinasi dengan
sefalosporin generasi ketiga (sefotaksim/seftriakson) selama 10-14
hari
 Kontak dgn varicella profilaksis (imunoglobulin varicella-zoster),
dalam waktu kurang dari 96 jam. Bila tidak memungkinkan dapat
diberikan suntikan dosis tunggal imunoglobulin intravena
(400mg/kgbb)
 Infeksi varicella  asiklovir intravena (1500 mg/m2 /hari dibagi 3
dosis) atau asiklovir oral dengan dosis 80 mg/kgbb/hari dibagi 4
dosis selama 7 – 10 hari, + pengobatan steroid dihentikan
sementara.
B. Trombosis
Heparin secara subkutan, dilanjutkan dengan warfarin selama 6 bulan
atau lebih. Pencegahan tromboemboli dengan pemberian aspirin dosis
rendah, saat ini tidak dianjurkan

C. Hiperlipidemia
 SN sensitif steroid pengurangan diit lemak
 SN resisten steroid pertahankan berat badan normal untuk tinggi
badannya, dan diit rendah lemak jenuh
 Pertimbangan pemberian obat penurun lipid seperti inhibitor
HMgCoA reduktase (statin)

D. Hipokalsemia
Suplementasi kalsium 250-500 mg/hari dan vitamin D (125-250 IU)
E. Hipovolemia
 Infus NaCl fisiologis dengan cepat sebanyak 15-20 mL/kgbb dalam
20-30 menit, dan disusul dengan albumin 1 g/kgbb atau plasma 20
mL/kgbb (tetesan lambat 10 tetes per menit)
 Bila hipovolemia telah teratasi dan pasien tetap oliguria, diberikan
furosemid 1-2 mg/kgbb intravena

D. Hipertensi
Diawali dengan inhibitor ACE (angiotensin converting enzyme), ARB
(angiotensin receptor blocker) calcium channel blockers, atau
antagonis β adrenergik, sampai tekanan darah di bawah persentil 90.

E. Efek samping steroid


Pemantauan terhadap gejala-gejala cushingoid, pengukuran tekanan
darah, pengukuran berat badan dan tinggi badan setiap 6 bulan sekali
Komplikasi
Infeksi
Hipovolemia
Tromboemboli (TE)
Prognosis
 Kebanyakan anak dengan SN mengalami remisi.
 Hampir 80% anak dengan SNKM mengalami relaps
 Pasien yang sensitif steroid berisiko rendah mengalami
ginjal kronik.
 Pasien dengan GSFS dapat berkembang menjadi gagal
ginjal terminal.
 Pada anak yang menjalani transplantasi ginjal,
rekurensi GSFS berkisar 30%.
BAB III
ILUSTRASI KASUS
Identitas Pasien
• No. MR : 19.34.06
• Tanggal masuk : 12/02/2018
• Nama : An. WA
• Umur : 16 tahun
• Jenis kelamin : Perempuan
• Anak ke- : 1 dari 4 bersaudara
• Agama : Islam
Anamnesis
Keluhan Utama:
Bengkak pada wajah dan tubuh 1 hari SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang:


Pasien rujukan dari Puskesmas PKM Mempura datang ke poli anak RSUD
Tengku Rafian Siak dengan keluhan bengkak pada wajah dan tubuh sejak 1
hari SMRS. Ibu pasien mengatakan bahwa awal mula timbulnya bengkak tiba-
tiba pada saat anaknya bangun tidur. Bengkak dimulai dari mata dan wajah,
lalu bengkak ke seluruh tubuh. Sebelum bengkak ini terjadi, berat anak 48 kg,
setelah bengkak ini terjadi berat anak menjadi 41 kg. Pasien mengatakan
bahwa buang air kecil anaknya keruh dan berbusa tetapi tidak terdapat nyeri
pada saat buang air kecil. Keluhan batuk, pilek, sesak, nyeri kepala, nyeri
sendi, nyeri tenggorokkan, disangkal oleh pasien.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien pernah mengalami keluhan seperti ini sebelumnya tepatnya sekitar 2
bulan yang lalu, dan berobat di dokter penyakit dalam. Keluhan sempat
berkurang, tapi muncul kembali.

Riwayat Penyakit Keluarga


Tidak ada keluarga yang menderita keluhan yang sama

Riwayat Lingkungan Perumahan :


- Ventilasi baik
- Sumber air minum : air keran yang dimasak
- Buang air besar menggunakan WC
- Perkarangan cukup luas
- Sampah dibuang ke TPA
Kesan: Hygine dan sanitasi baik
Riwayat Kehamilan :
 Riwayat kehamilan ibu selama hamil : tidak ada keluhan
 Penyakit : riwayat menderita penyakit selama kehamilan disangkal
 Pemerksaan kehamilan: ANC rutin di bidan
 Tindakan selama kehamilan : riwayat konsumsi vitamin saat hamil
 Lama hamil : 9 bulan

Riwayat Kelahiran :
Ditolong oleh Bidan Panjang badan Lupa

cara lahir Normal Lingkar kepala lupa

Berat lahir 4000 gram Lingkar dada lupa

Langsung menangis Ya Indikasi Cukup bulan

saat lahir
Kelainan bawaan : Riwayat Pemberian ASI :
Tidak ada kelainan bawaan Pasien sejak lahir konsumsi susu
formula dikarenakan ASI ibu tidak
Riwayat imunisasi :
ada.
Lengkap

Riwayat tumbuh kembang:


Umur Riwayat tumbuh kembang Umur

Tertawa Lupa Lari Lupa

Miring Lupa Gigi pertama tumbuh Lupa

Tengkurap 4 bulan Bersuara Lupa

Duduk Lupa Membaca Lupa

Merangkak Lupa Sekolah TK 6 thn

Berdiri 14 bulan
Pemeriksaan Fisik
• Keadaan umum : Tampak sakit sedang
• Kesadaran : Composmentis
• Tekanan darah : 100/70 mmHg
• Frekuensi Nadi : 90/menit
• Frekuensi Pernafasan : 26x/menit
• Suhu tubuh : 36OC
• Data Antropoemetri
• Berat Badan : 41 kg
• Tinggi Badan : 146 cm
• Status gizi : gizi kurang
Kulit :Sawo matang, tidak ikterik, tidak sianosis, turgor kulit baik.

Kepala :Normocephal, rambut warna hitam, distribusi merata, tidak mudah rontok.

Mata :Konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik, kedudukan bola mata simetris,
pupil bulat isokor, diameter 2 mm, reflek cahaya positif, edema palpebra (+)

Telinga :Bentuk normal, tidak ada sekret

Hidung :Bentuk normal, tidak terdapat deviasi septum, sekret tidak ada.
Mulut :Mukosa mulut basah, lidah tidak kotor, bibir tidak kering, tidak tampak
sianosis

Tenggorokan:Faring tidak hiperemis, tonsil TI – TI

Leher :Simetris, trakea lurus ditengah, kelenjar tiroid tidak teraba membesar,
kelenjar getah bening tidak teraba membesar, JVP tidak meningkat
Thorak
• Paru
Inspeksi : Dinding dada simetris, retraksi tidak ada
Palpasi : Vokal fremitus kanan dan kiri simetris
Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru
Auskultasi : vesikular +/+, rhonki -/-, whezing -/-
• Jantung
Inspeksi : Ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung kanan dan kiri normal
Auskultasi : Bunyi jantung 1 dan 2 reguler, gallop/murmur (-)

Abdomen
Inspeksi : Datar, scar (-)
Palpasi : Supel, tidak ada nyeri tekan epigastrium, hepar dan lien tidak teraba, tidak teraba massa,
ballottement (DBN)
Perkusi : Timpani pada seluruh lapang abdomen, Nyeri ketok ginjal (-/+)
Auskultasi : Bising usus (+) normal

• Ekstremitas :Akral hangat dan CRT < 2 detik, pitting edema (+)

• Genitalia : tidak diperiksa


Pemeriksaan penunjang
(12-02-2018)
Toff:
Darah rutin:
• Leukosit : 4,8 K/uL Basofil :-
• Eritrosit : 4,22 M/uL Eosinofil :2
• Hemoglobin : 11,8 g/dL N. Batang :-
• Hematokrit : 38,3 % N. Segmen : 69
• MCV : 90,7 fl Limfosit : 26
• MCH : 28,0 pg Monisit :3
• MCHC : 30,8 g/dL
• Trombosit : 463 K/uL
Kolesterol total : 359 g/dl
Morfologi darah tepi Protein total : 4,4 g/dl
• Eritrosit : DBN Albumin : 2,1 g/dl
• Leukosit : DBN Ureum : 8 g/dl
• Trombodit :Bulat Kreatinin : 0,44 mg/dl
Glukosa sewaktu : 95 mg/dL
Urin (12-02-2018) Urin (19-02-2018)
• Protein : positif 2 • Protein : positif 3
• Bilirubun : negatif • Bilirubun : negatif
• Urobilinogen : negatif • Urobilinogen : negatif
• Ceton : negatif • Ceton : negatif
• Ph : 6,5 • Ph : 6,0
• Nitrit : negatif • Nitrit : negatif
• Berat jenis : 1,010 • Berat jenis : 1,025
• Warna : kuning • Warna : kuning
• Kejernihan : keruh • Kejernihan : keruh
Sedimen : Sedimen
• Eritrosit 5-10 LPB • Eritrosit 0-1 LPB
• Leukosit 0-3 LPB • Leukosit 1-10 LPB
• Eph.cell : positif • Eph.cell : positif
• Cylinder : positif • Cylinder : positif
• Kristal : negatif • Kristal : negatif
Urin (22-02-2018) Urin (26-02-2018)
• Protein : positif • Protein : negatif
• Bilirubun : negatif • Bilirubun : negatif
• Urobilinogen : positif • Urobilinogen : negatif
• Ceton : negatif • Ceton : negatif
• Ph : 7,0 • Ph : 6,5
• Nitrit : positif • Nitrit : negatif
• Berat jenis : 1,025 • Berat jenis : 1,025
• Warna : kuning • Warna : kuning
• Kejernihan : jernih • Kejernihan : jernih
Sedimen : Sedimen :
• Eritrosit 0-2 LPB • Eritrosit 0-2 LPB
• Leukosit 0-3 LPB • Leukosit 1-2 LPB
• Eph.cell : positif • Eph.cell : positif
• Cylinder : negatif • Cylinder : negatif
• Kristal : negatif • Kristal : negatif
Urin (27-02-2018) Urin (13-03-2018)  Poli
• Protein : negatif • Protein : negatif
• Bilirubun : negatif • Bilirubun : negatif
• Urobilinogen : positif 1 • Urobilinogen : negatif
• Ceton : negatif • Ceton : negatif
• Ph : 6,5 • Ph : 6,5
• Nitrit : negatif • Nitrit : negatif
• Berat jenis : 1,020 • Berat jenis : 1,020
• Warna : kuning • Warna : kuning
• Kejernihan : jerinih • Kejernihan : jernih
Sedimen : Sedimen :
• Eritrosit 0-1 LPB • Eritrosit 0-1 LPB
• Leukosit 5-10 LPB • Leukosit 0-2 LPB
• Eph.cell : positif • Eph.cell : positif
• Cylinder : negatif • Cylinder : negatif
• Kristal : negatif • Kristal : negatif
DIAGNOSIS KERJA
Sindrom Nefrotik

DIAGNOSIS BANDING
Glomerulonefritis

PENATALAKSANAAN
• Furosemid tab 2x30mg
• Spironolacton 2x20 mg
• Captopril tab 3x12,5mg