Anda di halaman 1dari 241

HUKUM PIDANA

PENJATUHAN PIDANA (SENTENCING)


 Upaya yang sah
 Yang dilandasi oleh hukum
 Untuk mengenakan nestapa/penderitaan
 Pada seseorang yang melalui proses peradilan
pidana
 Terbukti secara sah dan meyakinkan
 Bersalah melakukan suatu tindak pidana
PIDANA (PUNISHMENT)

 Nestapa/derita
 Yang dengan sengaja

 Dikenakan pada seseoarng

 Oleh negara

 Melalui proses peradilan pidana


PROSES PERADILAN PIDANA
(THE CRIMINAL JUSTICE PROCESS)
 Struktur, fungsi dan proses pengambilan
keputusan
 Oleh sejumlah lembaga (kepolisian, kejaksaan,
pengadilan dan lembaga pemasyarakatan
 Yang berkenaan dengan penanganan dan
pengendalian
 Kejahatan dan pelaku kejahatan
PIDANA SEBAGAI PRANATA SOSIAL
 Sebagai bagian dari reaksi sosial manakala terjadi
pelanggaran terhadap norma-norma yang berlaku
 Mencerminkan nilai & struktur masyarakat
 Merupakan reafirmasi simbolis atas pelanggaran terhadap
‘hati nurani bersama’
 Sebagai bentuk ketidaksetujuan terhadap perilaku tertentu
 Selalu berupa konsekuensi yang menderitakan, atau
setidaknya, tidak menyenangkan
PENGERTIAN HUKUM PIDANA
PROF. MOELJATNO

 Hukum Pidana adalah bagian dari keseluruhan hukum yg berlaku di


suatu negara, yg mengadakan dasar-dasar dan aturan untuk :
1) menentukan perbuatan-perbuatan mana yg tidak boleh dilakukan, yg
dilarang, dg disertai ancaman atau sanksi berupa pidana tertentu bagi
barangsiapa melanggar larangan tsb;  Criminal Act
2) menentukan kapan dan dalam hal-hal apa kepada mereka yg telah
melanggar larangan-larangan itu dapat dikenakan atau dijatuhi pidana
sebagaimana yg telah diancamkan ;  Criminal Liability/ Criminal
Responsibility .

1) dan 2) = Substantive Criminal Law / Hukum Pidana Materiil

3) menentukan dengan cara bagaimana pengenaan pidana itu dapat


dilaksanakan apabila ada orang yang disangka telah melanggar
larangan tsb.  Criminal Procedure/ Hukum Acara Pidana
PENGERTIAN HUKUM PIDANA
PROF. POMPE

 Hukum Pidana adalah semua aturan-aturan


hukum yang menentukan terhadap perbuatan-
perbuatan apa yang seharusnya dijatuhi
pidana, dan apakah macamnya pidana itu
PENGERTIAN HUKUM PIDANA
PROF. SIMONS

 Hukum Pidana adalah kesemuanya perintah-


perintah dan larangan-larangan yang diadakan
oleh negara dan yang diancam dengan suatu
nestapa (pidana) barangsiapa yang tidak
mentaatinya, kesemuanya aturan-aturan yg
menentukan syarat-syarat bagi akibat hukum
itu dan kesemuanya aturan-aturan untuk
mengadakan (menjatuhi) dan menjalankan
pidana tersebut.
PENGERTIAN HUKUM PIDANA
PROF. VAN HAMEL

 Hukum Pidana adalah semua dasar-dasar dan


aturan-aturan yang dianut oleh suatu negara
dalam menyelenggarakan ketertiban hukum
(rechtsorde) yaitu dengan melarang apa yang
bertentangan dengan hukum dan mengenakan
suatu nestapa kepada yang melanggar
larangan-larangan tersebut
PEMBAGIAN HUKUM PIDANA

 Hukum Pidana Materiil  Hukum Pidana Formil


(Hukum Pidana) (Hukum Acara Pidana)
ILMU HUKUM PIDANA & ILMU-ILMU LAINNYA

 Kriminologi
 Ilmu Psikologi

 Kedokteran Kehakiman

 Sosiologi Hukum

 Hukum Pidana dan Teknologi

 Ekonomi, Politik dan Sosial Budaya


MENGAPA PIDANA PERLU
DIJATUHKAN?
 Kelompok konsekuensialis
Pidana dijatuhkan bila benar-benar ada
konsekuensi positif yang mengikutinya:
 Membawa kebaikan
 Mencegah kejadian yang lebih buruk
 Tidak ada alternatif lain yang setara efeknya
 Kelompok non-konsekuensialis
 Pidana merupakan respons yang patut
(appropriate response) terhadap tindak pidana
 Karena pelaku sudah melanggar norma yang
berlaku
 Karenanya pidana harus proporsional
DOKTRIN

 Retributive
Penjahat layak dihukum
Sesuai dengan cerminan perasaan kolektif
masyarakat
Menyatukan masyarakat melawan penjahat
Harus dilihat dalam konteks sosial budaya
 Deterrence
 Konsep aliran klasik
 Reaksi terhadap pemidanaan yang semena-
mena
 Utilitarian, forward looking
 Manusia itu rasional
 General deterrence
 Rehabilitasi
 Individualisasi pemidanaan
 Tekanan pada
treatment/pembinaan/memperbaiki pelaku
 Anti-punishment
 Model medis
 Integratif
Multi fungsi pemidanaan:
 Membuat pelaku menderita

 Mencegah terjadinya tindak pidana

 Memperbaiki pelaku
PERKEMBANGAN TEORI PEMIDANAAN
1. Retributif
 Pidana adalah akibat mutlak yang harus ada
sebagai suatu pembalasan pada pelaku
tindak pidana
 Sanksi pidana adalah pemberian derita dan
petugas dinyatakan gagal bila penderitaan
tidak dirasakan oleh terpidana
 dapat dibedakan menjadi:
 retributif yang negatif
 retributif yang positif
…..LANJUTAN
2. Deterrence
 Pidana dijatuhkan dengan tujuan untuk
pencegahan
 dapat dibedakan menjadi:

 general deterrence

 special deterrence

3. Rehabilitasi
Pidana dijatuhkan untuk mereformasi atau
memperbaiki pelaku
sering dimasukkan ke dalam sub kelompok
deterrence, padahal dalam kajian kriminologi
latar belakang ke dua teori pemidanaan ini
berbeda; sehingga dalam pandangan
deterrence pelaku adalah orang bersalah yang
harus dijerakan supaya tidak mengulangi tindak
pidana, sedangkan rehabilitasi memandang
seorang pelaku tindak pidana sebagai orang
yang perlu ditolong
4. Incapacitation
 membatasi orang dari masyarakat selama waktu
tertentu dengan tujuan perlindungan terhadap
masyarakat pada umumnya
 Ditujukan untuk pelaku TP yang sangat
berbahaya bagi masyarakat
 Andrew Ashworth, pendekatan incapacitation :
 hanya dijatuhkan terhadap pelaku yang
membahayakan masyarakat
 bentuk sanksinya adalah mengisolasi atau
memisahkan pelaku dari masyarakat untuk
jangka waktu tertentu (biasanya untuk waktu
yang lama)
…..LANJUTAN
5. Resosialisasi
 Melihat bahwa pemidanaan dengan cara
desosialisasi (memisahkan pelaku dari
kehidupan sosial masyarakat dan
membatasinya untuk dapat berkomunikasi
dengan masyarakat) dapat menghancurkan
pelaku
 Resosialisasi adalah proses yang
mengakomodasi dan memenuhi kebutuhan
pelaku tindak pidana akan kebutuhan sosialnya,
yaitu kebutuhan untuk bersosialisasi dan
berinteraksi dengan lingkungan masyarakat
6. Reparasi, Restitusi dan Kompensasi
 Fokus perhatian bukan hanya pada pelaku atau
masyarakat; tetapi mulai perhatikan korban sebagai
bagian yang penting untuk dipertimbangkan dalam
penjatuhan pidana
 reparasi:
- the act of making amends for a wrong
- compensation for benefits derived from a wrong done to
another
- compensation or reparation for the loss caused to
another
 restitusi: return or restoration of some specific thing to its
rightful owner or status
 kompensasi: payment of damages, or another act that a
• Hybrid Theory (Teori Integratif)
 Berangkat dari kenyataan bahwa masing-masing
teori sangat sulit untuk dipilah-pilah secara
tersendiri dalam prakteknya. Dengan penerapan
satu pidana terdapat lebih dari satu teori yang
tercakup di dalammya
 Packer: pidana merupakan suatu kebutuhan yang
juga merupakan bentuk kontrol sosial yang
disesalkan, karena ia mengenakan derita atas
nama tujuan-tujuan yang pencapaiannya
merupakan kemungkinan
 Oleh karena itu, dalam praktek bisa jadi
perumusan tujuan pemidanaan merupakan
kombinasi antara satu teori dengan teori lainnya
• Prof. Muladi:
“saat ini masalah pemidanaan menjadi sangat
kompleks sebagai akibat dari usaha untuk
memperhatikan faktor-faktor yang menyangkut
HAM, serta menjadikan pidana bersifat
operasional dan fungsional. Untuk itu diperlukan
pendekatan multidimensional yang bersifat
mendasar terhadap dampak pemidanaan, baik
yang menyangkut dampak yang bersifat individual
maupun keharusan untuk memilih teori integratif
tentang tujuan pemidanaan yang dapat
mempengaruhi fungsinya dalam rangka mengatasi
kerusakan-kerusakan yang diakibatkan oleh tindak
pidana”
PRINSIP-PRINSIP UMUM HUKUM PIDANA [1] :

• Asas Legalitas (The principle of legality; Nullum crimen/nulla poena


sine lege)

– Asas ini tidak pernah secara formal dirumuskan dalam perundang-


undangan, namun asas ini menjiwai putusan-putusan pengadilan.

– Karena bersumber pada case law, pada mulanya pengadilan di Inggris


merasa berhak menciptakan delik, tetapi pada tahun 1972, House of
Lords menolak adanya kekuasaan pengadilan untuk menciptakan
delik baru atau memperluas delik yang ada  ada pergeseran dari
asas legalitas dalam artian materiil ke asas legalitas dalam
pengertian formal, artinya suatu perbuatan yang pada mulanya
ditetapkan sebagai suatu delik oleh hakim berdasarkan common law
(hukum kebiasaan yang dikembangkan lewat putusan pengadilan),
dalam perkembangannya hanya dapat ditetapkan berdasarkan
undang-undang (statute law).
[1] Barda Nawawi Arief, Perbandingan Hukum Pidana, Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2006.
ASAS LEGALITAS

 Asas Legalitas dalam KUHP Indonesia diatur dalam:


 Pasal 1 ayat (1): “Tiada suatu perbuatan boleh dihukum, melainkan atas
ketentuan-ketentuan pidana dalam undang-undang, yang ada terdahulu
daripada perbuatan itu”.
 Ada tiga prinsip:
1. tidak ada perbuatan yang dilarang dan diancam dengan
pidana kalau hal itu terlebih dahulu belum dinyatakan dalam
suatu aturan undang-undang,
2. aturan hukum pidana tidak berlaku surut,
3. untuk menentukan adanya perbuatan pidana tidak boleh
menggunakan penafsiran analogi.
• Asas Kesalahan (actus non facit reum nisi mens sit rea)
– Inggris menganut asas kesalahan walaupun tidak pernah dirumuskan
dalam undang-undang hukum pidana Inggris.
– Dua syarat yang harus dipenuhi untuk seseorang dapat dipidana:
• Ada perbuatan yang dilarang (actus reus)  tidak hanya menunjuk
pada suatu perbuatan (act) dalam arti yang biasa, tetapi
mengandung arti yang lebih luas, yaitu meliputi:
– Perbuatan dari si terdakwa;
– Hasil atau akibat dari perbuatannya itu;
– Keadaan-keadaan yang tercantum/terkandung dalam
perumusan tindak pidana.
• Ada sikap batin jahat/tercela (mens rea):
– Intention (kesengajaan)
– Recklessness (kesembronoan)  apabila seseorang
mengambil dengan sengaja suatu risiko yang tidak dapat
dibenarkan.
– Negligence (kealpaan).
ASAS KESALAHAN

 Dalam sistem hukum Eropa Kontinental, syarat yang harus dipenuhi untuk
seseorang dapat dipidana:
1. ada kesalahan,
2. terhadap perbuatan tersebut dpt dipertanggungjawabkan.
 Dalam hukum pidana Indonesia, asas kesalahan merupakan asas yang
tidak tertulis. Dalam rancangan KUHP telah dirumuskan secara eksplisit,
karena asas legalitas dan asas kesalahan merupakan dua asas yang
fundamental.
 Asas kesalahan ini dasarnya adalah liability based on fault.
PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA
DAN PERKEMBANGANNYA
ASAS:
• Geen Staf zonder schuld
• Actus non facit reum nisi mens sit rea
• An act does not make a person guilty, unless
the mind is legally blameworthy

Pada intinya:
 Seseorang baru dapat dipidana, bila ia
melakukan perbuatan yang terlarang dan
ada sikap batin yang tercela/jahat
CRIMINAL ACT:

 Perbuatan (actus reus)  Kesalahan (mens rea)


 Perbuatan  intention
(aktif/pasif) /hasil  recklessness
atau akibat
 negligence
 keadaan
MENS REA:

 The mental element necessary for a


particular crime
 Tidak pidana yang mensyaratkan mens rea
dianggap lebih serius dibandingkan yang
dilakukan dengan negligence atau yang
pertanggungjawabannya strict
INTENTIONALLY (COMMON LAW) VS
KESENGAJAAN (INDONESIA)
 Intentionally:  Kesengajaan/opzet:
 Purpose to cause  sebagai tujuan
 Not purpose to cause  insyaf kepastian
it, but know  insyaf kemungkinan
something will occur
in the ordinary course
of events if he were
to succeed in his
purpose of causing
some other result
 Recklessness serupa dengan bewuste schuld:
- dengan sadar mengambil suatu risiko yang
tidak dapat dibenarkan (taking an
unjustifiable risk)
- biasanya harus dibuktikan bahwa pelaku
sebenarnya menyadari suatu keadaan dan
mengetahui atau dapat memperkirakan
kemungkinan terjadinya akibat itu, tetapi ia
sembrono atau tidak memperdulikannya.
 Pada negligence tidak ada unsur awareness
dan foresight of probability
• Strict Liability

– Berlaku terhadap tiga macam delik:


• Public nuisance (gangguan terhadap ketertiban umum,
menghalangi jalan raya);
• Criminal libel (fitnah, pencemaran nama baik);
• Contempt of court (pelanggaran tata tertib pengadilan)

– Contoh kasus:
• R v. Prince (1875)
• Warner v. Metropolitan Police Commissioners (1969)
• Sweet v. Parsley (1970)3636
STRICT LIABILITY

 Strict liability di negeri Belanda dikenal dengan nama “leer van het materielle feit”
atau “fait materielle”. Dahulu, ajaran ini hanya diberlakukan terhadap tindak pidana
pelanggaran, tetapi sejak adanya arrest susu tahun 1916 dari Mahkamah Agung
Belanda, penerapannya ditiadakan. Dengan kata lain, ajaran itu tidak dibenarkan
untuk dianut lagi.
 Mengenai strict liability sudah diterapkan dalam hukum pidana Indonesia:
1. Pelanggaran lalu lintas,
2. UU Perlindungan Konsumen,
3. UU Lingkungan Hidup
 Menurut Rancangan KUHP, strict liability baru bisa diterapkan pada suatu perbuatan
pidana apabila hal tersebut telah diatur secara tegas dalam UU.
• Vicarious Liability  pertanggungjawaban menurut
hukum seseorang atas perbuatan salah yang dilakukan oleh
orang lain (pertanggungjawaban pengganti)

– Ketentuan umum yang berlaku menurut Common Law


adalah bahwa seseorang tidak dapat
dipertanggungjawabkan secara vicarious untuk tindak
pidana yang dilakukan oleh pelayan (contoh kasus R. v.
Huggins 1730), kecuali dalam tindak pidana terhadap
public nuisance (perbuatan yang menyebabkan gangguan
substansial terhadap penduduk atau menimbulkan
bahaya terhadap kehidupan, kesehatan, dan harta
benda) dan criminal libel.
 Menurut undang-undang (statute law), vicarious liability
dapat terjadi dalam hal-hal berikut:
 Seseorang dapat dipertanggungjawabkan atas
perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh orang lain,
apabila telah mendelegasikan kewenangannya menurut
undang-undang kepada orang lain  harus ada prinsip
pendelegasian.
 Seorang majikan dapat dipertanggungjawabkan atas
perbuatan yang secara fisik/jasmaniah dilakukan oleh
pekerjanya apabila menurut hukum perbuatan
pekerjanya itu dipandang sebagai perbuatan majikan 
apabila si pekerja sebagai pembuat materil/fisik (auctor
fisicus) dan majikan sebagai pembuat intelektual (auctor
intellectualis).
• Pertanggungjawaban korporasi
– Pada tahun 1944  korporasi dimungkinkan untuk
bertanggung jawab dalam hukum pidana baik sebagai
pembuat atau peserta, untuk setiap delik, meskipun
diisyaratkan adanya mens rea dengan menggunakan asas
identifikasi.
– Pengecualian:
• Dalam perkara-perkara yang menurut kodratnya tidak
dapat dilakukan oleh korporasi, misalnya bigami,
perkosaan, sumpah palsu.
• Dalam perkara yang satu-satunya pidana yang dapat
dikenakan, tidak mungkin dikenakan kepada korporasi,
misalnya pidana penjara atau pidana mati.
PERTANGGUNGJAWABAN (SCHULD):

 Toerekeningsvatbaarheid dari pelaku


 Sifat psikis pelaku dengan perbuatannya,
berupa sengaja atau alpa
 Tidak ada alasan penghapus kesalahan (d.a.
pertanggungjawaban)
KUHP
KUHP DAN SEJARAHNYA

 Andi Hamzah  Utrecht


- Jaman VOC -Jaman VOC
- Jaman Hindia Belanda -Jaman Daendels
- Jaman Jepang -Jaman Raffles
- Jaman Kemerdekaan -Jaman Komisaris
Jenderal
-Tahun 1848-1918
-KUHP tahun 1915 -
sekarang
JAMAN VOC
 Statuten van Batavia
 Hk. Belanda kuno
 Asas2 Hk. Romawi

 Di daerah lainnya berlaku


Hukum Adat
 mis. Pepakem Cirebon
JAMAN HINDIA BELANDA
 Dualisme dalam H. Pidana
1. Putusan Raja Belanda 10/2/1866 (S.1866 no.55) --
> Orang Eropa
2. Ordonnantie 6 Mei 1872 (S.1872) --> Orang Indonesia &
Timur Asing
 Unifikasi :

Wetboek van Strafrecht voor Nederlandsch - Indie


- Putusan Raja Belanda 15/10/1915 Berlaku 1/1/1918
disertai
- Putusan Raja Belanda 4/5/1917 (S.1917 no. 497) :
mengatur peralihan dari H. Pidana lama --> H. Pidana
baru.
JAMAN JEPANG

 WvSI masih berlaku


 Osamu Serei (UU) No. 1
Tahun 1942, berlaku
7/3/1942
 H. Pidana formil yang
mengalami banyak
perubahan
JAMAN KEMERDEKAAN

 UUD 1945 Ps. II Aturan


Peralihan
Segala Badan Negara
dan Peraturan yang ada
masih berlaku selama
belum diadakan yang
baru menurut UUD ini
JAMAN KEMERDEKAAN

 UU No. 1 Tahun 1946 : Penegasan tentang Hukum


Pidana yang berlaku di Indonesia
 Berlaku di Jawa-Madura (26/2/1946)
 PP No. 8 Tahun 1946 : Berlaku di Sumatera
 UU No. 73 Tahun 1958 : “ Undang-undang tentang
menyatakan berlakunya UU No. 1 Tahun 1946 tentang
Peraturan Hukum Pidana untuk seluruh wilayah RI dan
mengubah Kitab Undang-undang Hukum Pidana”
SUMBER-SUMBER HUKUM PIDANA DI
INDONESIA
 KUHP (beserta UU
yang merubah &
menambahnya)
 UU Pidana di luar
KUHP
 Ketentuan Pidana
dalam Peraturan
perundang-undangan
non-pidana
KUHP

 Buku I : Ketentuan Umum (ps 1 – ps 103)

Pasal 103  Ketentuan-ketentuan dalam


Bab I sampai Bab VIII buku I juga berlaku bagi
perbuatan-perbuatan yang oleh ketentuan
perundang-undangan lainnya diancam dengan
pidana, kecuali jika oleh undang-undang
ditentukan lain

 Buku II : Kejahatan (ps 104 – 488)

 Buku III : Pelanggaran (ps 489 – 569)


BEBERAPA UU YANG MERUBAH & MENAMBAH
KUHP
• UU No.1/1946 : berlakunya KUHP, perubahan beberapa
istilah, penghapusan beberapa pasal, penambahan pasal-
pasal baru : Bab IX - XVI
• UU No. 20/1946 : tambahan jenis pidana Ps 10 a KUHP --
> pidana Tutupan
• UU drt No. 8/1955 : menghapus Ps 527
• UU No. 73/1958 : menyatakan UU No. 1/1946 berlaku di
seluruh Indonesia, tambahan Ps 52a, 142a, 154a
• UU drt No. 1/1960 : menambah ancaman pidana dari Ps
188, 359, 360 menjadi 5 Tahun penjara atau 1 tahun
kurungan
BEBERAPA UU YANG MERUBAH & MENAMBAH
KUHP
 Perpu No. 16/1960 : penambahan nilai terhadap beberapa
kejahatan ringan : Ps 364, 373, 379, 384, 407 (1)
 Perpu No. 18/1960 : pidana denda dilipatgandakan 15 X
 UU No. 1/PNPS/1965 : tambahan Ps 156 a
 UU No. 7/1974 : tambahan sanksi untuk judi Ps 303 menjadi
10 juta & denda 25 juta, Ps 542 (1) menjadi Kejahatan, Ps
303 bis pidana menjadi 4 tahun, denda 10 juta.
 UU No. 4/1976 perubahan dan penambahan tentang
Kejahatan penerbangan : Ps 3, Ps 4 angka 4, Ps 95a, 95b,95c,
Bab XXIX A.
 UU No. 20/2001 : menghapus pasal-pasal tentang korupsi dari
KUHP
PEMBAHARUAN HUKUM PIDANA
RUU KUHP NASIONAL

 Sejarah Penyusunan
 Metode & Sumber penyusunan
 Beberapa asas yg berubah
 Tindak pidana2 baru
 Pasal-pasal kontroversial
UU PIDANA DI LUAR KUHP
 UU Anti Subversi, UU No. 11/PNPS/1963
(Sudah dihapus)
 UU Pemberantasan T.P. Korupsi, UU No.
20/2001 jo UU No. 31/1999
 UU Tindak Pidana Ekonomi, UU No. 7/drt/1955
 Perpu 1/2002  UU 15/2003 Anti Terorisme
 UU Money Laundering
CONTOH UU NON PIDANA YANG MEMUAT SANKSI
PIDANA
• UU Lingkungan
• UU Pers
• UU Pendidikan Nasional
• UU Perbankan
• UU Pajak
• UU Partai Politik
• UU pemilu
• UU Merek
• UU Kepabeanan
• UU Pasar Modal
HUKUM PIDANA UMUM & KHUSUS

 H. Pidana Umum  H. Pidana Khusus


1. H.Pidana non militer 1. H. Pidana militer

2. KUHP & UU yg merubah 2. TPE,TPK,TPS, H.Pid.


& menambahnya militer, H.Pid. Fiskal

3. H. Pidana yg. Berlaku


umum (KUHP, TPE,TPK, 3. UU non pidana yg.
TPS, dll) Bersanksi pidana
PASAL 1 KUHP

(1) Tiada suatu perbuatan dapat dipidana,


kecuali berdasarkan kekuatan ketentuan
perundang-undangan pidana yang telah ada
sebelumnya.
(2) Jika ada perubahan dalam perundang-
undangan sesudah perbuatan dilakukan,
maka terhadap terdakwa diterapkan
ketentuan yang paling menguntungkan .
ASAS YG TERCAKUP DLM PASAL 1 (1)
KUHP
 Nullum delictum, nulla poena sine praevia lege
poenali :
 Tiada delik, tiada hukuman tanpa suatu
peraturan yg terlebih dahulu menyebut
perbuatan yang bersangkutan sebagai suatu
delik dan yang memuat suatu hukuman yg
dapat dijatuhkan atas delik itu
ASAS-ASAS DALAM
PASAL 1 AYAT (1 ) KUHP

1. Asas Legalitas
2. Asas Larangan berlaku surut
3. Asas Larangan
penggunaan Analogi
ASAS LARANGAN BERLAKU SURUT
 Undang-undang pidana berjalan ke depan dan
tidak ke belakang :

X --------- UU Pidana -------------


LARANGAN BERLAKU SURUT (DAN PENGECUALIANNYA)
DALAM BERBAGAI KETENTUAN

Nasional
 Ps 28i UUD 1945

 Ps 18 (2) dan Ps 18 (3) UU No. 39 Tahun 1999

 Ps 43 UU No. 26 Tahun 2000

 Perpu 1/2002 & 2/2002  UU 15/2003 ; UU 16/2003

Internasional
 Ps 15 (1) dan (2) ICCPR

 Ps 22, 23, dan 24 ICC


PS 28I UUD 1945

 “… hak untuk tidak dituntut atas dasar hukum


yang berlaku surut adalah hak asasi manusia
yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan
apapun.”
UU NO. 39/ 1999 TTG HAM

 Ps 18 (2)  Ps 18 (3)
Setiap orang tidak Setiap ada perubahan
boleh dituntut untuk dalam peraturan
dihukum atau dijatuhi perundang-undangan
pidana, kecuali maka berlaku ketentuan
berdasarkan suatu yang paling
peraturan perundang- menguntungkan bagi
undangan yang sudah tersangka
ada sebelum tindak
pidana itu dilakukan
UU NO. 26/ 2000 TTG PENGADILAN HAM (BISA
BERLAKU SURUT ?)
(1) Pelanggaran hak asasi  Penjelasan Ps 43 (2)
manusia yg. Berat yg. “ Dalam hal DPR Indonesia
Terjadi sebelum mengusulkan dibentuknya
diundangkannya UU ini, Pengadilan HAM ad hoc,
diperiksa dan diputus oleh DPR Indonesia
pengadilan HAM ad hoc. mendasarkan pada
(2) Pengadilan HAM ad hoc dugaan telah terjadinya
sebagaimana dimaksud pelanggaran HAM yang
dalam ayat (1) dibentuk berat yg dibatasi pada
atas usul DPR Indonesia locus dan tempus delicti
berdasarkan peristiwa tertentu yg terjadi sebelum
tertentu dg. Keputusan diundangkannya undang-
presiden. undang ini.
UU ANTI TERORISME DAN PUTUSAN
MK

 MK membatalkan ketentuan berlaku surut


dalam UU Anti Terorisme krn bertentangan
dengan UUD 1945
PENAFSIRAN & ANALOGI

 Penafsiran : Penafsiran Ekstensif Vs


Otentik Analogi ?
Sistematis
 Putusan HR 23 Mei 1921 (kasus
Gramatikal pencurian listrik di Gravenhage)
Historis  Putusan Rechtbank Leeuwarden,
10 Des 1919 (pencurian sapi)
Sosiologis
Teleologis  Taverne Vs para sarjana pidana
lainnya (Van Hattum, Simons,
Ekstensif Zevenbergen, Van Hamel)
PENDAPAT SCHOLTEN
(DAN JUGA UTRECHT) (1)
 Pada hakekatnya tidak ada perbedaan antara penafsiran
ekstensif dan analogi. Dalam kedua hal itu hakim membuat
konstruksi , yaitu membuat (mencari) suatu pengertian hukum
yang lebih tinggi. Hakim membuat suatu kaidah yang lebih
tinggi dan yang dapat dijadikan dasar beberapa ketentuan
yang mempunyai kesamaan.

Mis.
 Mengambil = mengadakan suatu perbuatan yang bermaksud
memindahkan sesuatu benda dari tangan yang satu ke tangan yang lain
PENDAPAT SCHOLTEN
(DAN JUGA UTRECHT) (2)
 PENAFSIRAN  ANALOGI
EKSTENSIF
 Hakim meluaskan  Hakim membawa
lingkungan kaidah yang perkara yang harus
lebih tinggi sehingga diselesaikan ke dalam
perkara yang lingkungan kaidah yang
bersangkutan termasuk lebih tinggi
juga di dalamnya
PASAL 1 AYAT (2) KUHP

-+-----------+---------------+---->
UU Perbuatan Perubahan UU

• Perubahan UU ? …………….
Teori : (1) Teori formil (2) Teori materiil terbatas (3) Teori materiil
tidak terbatas

• Paling menguntungkan ? …………..


• Terserah pada praktek & hanya dapat ditentukan untuk masing2
perkara sendiri (in concreto). Hal ini tidak dapat ditentukan sec.
Umum (in abstracto)
• Periksa : Utrecht h.228
PERUBAHAN UU YG DIMAKSUD PASAL 1
(2) KUHP
 Teori Formil :Ada perubahan undang-undang kalau redaksi undang-undang
pidana berubah (simons)
 ditolak oleh Putusan HR 3 Des 1906 , kasus ps 295 sub 2 KUHP, batas
dewasa 23  21 tahun dlm BW

 Teori Materiil Terbatas : Tiap perubahan sesuai dg suatu perubahan


perasaan (keyakinan) hukum pada pembuat undang-undang (jadi tidak
boleh diperhatikan perubahan keadaan karena waktu)

 Teori Materiil tidak Terbatas : tiap perubahan – baik dalam perasaan hukum
dari pembuat undang-undang maupun dalam keadaan karena waktu –
boleh diterima sebagai suatu perubahan dalam undang-undang
 Sesuai HR 5 Des 1921
TEMPUS DELICTI PENTING DIKETAHUI DALAM
HAL2 :

 Kaitannya dg Ps 1 KUHP
 Kaitannya dg aturan tentang Daluwarsa

 Kaitannya dg ketentuan mengenai pelaku


tindak pidana anak : Ps 45,46,47 KUHP
atau UU Pengadilan Anak
TEORI2 TEMPUS DELICTI

 1. Teori Perbuatan fisik (de leer van de


lichamelijke daad)
 2. Teori bekerjanya alat yg digunakan
(de leer van het instrumen)
 3. Teori Akibat (de leer van het
gevolg)
 4. Teori waktu yg jamak (de leer van de
meervoudige tijd)
TEORI2 LOCUS DELICTI

 1. Teori Perbuatan fisik (de leer van de


lichamelijke daad)
 2. Teori bekerjanya alat yg digunakan (de
leer van het instrumen)
 3. Teori Akibat (de leer van het gevolg)

 4. Teori Tempat yg jamak (de leer van de


meervoudige tijd)
LOCUS DELICTI PENTING DIKETAHUI DALAM
HAL2 :

 Hukum pidana mana yang akan


diberlakukan
- H. Indonesia atau H. negara lain
 Kompetensi relatif suatu pengadilan

- contoh : PN Jakarta Selatan atau PN Bogor


TEORI MANA YG DIPILIH ?

 Van Hamel, Simons :


Bergantung sifat dan corak perkara
konkret yang hendak diselesaikan
 Hazewinkel-Suringa, Zevenbergen, Noyon-
Langemejer :
Mempergunakan 3 teori sec
teleologis
 Periksa buku Utrecht hal 239
SURABAYA SEMARANG CIREBON
---- RACUN --> ----DIMINUM ---> ----- MATI
A --> B B B

Meervoudige locus delicti

•Hakim diberi kemerdekaan memilih diantara 3 locus delicti


ini
•Lihat --> Keputusan Hoge Raad 2/1/1923 w.Nr.1108
ASAS2 BERLAKUNYA HUKUM PIDANA (1)

 Asas Teritorialitas/ wilayah :


Ps 2 --> Ps 3 KUHP --> Ps 95 KUHP , UU No 4/1976
 Asas Nasionalitas Pasif/ perlindungan : Ps 4 :1,2 dan 4 -
-> Ps 8 KUHP , UU No. 4/1976 , Ps 3 UU No. 7/ drt/
1955 Lihat Ps 16 UU 31/1999
 Asas Personalitas/ Nasionalitas Aktif :
Ps 5 KUHP --> Ps 7 KUHP --> Ps 92 KUHP
 Asas Universalitas :
Ps 4 :2 , Ps 4 sub 4 , Ps 1 UU 4/ 1976
“melakukan kejahatan ttg mata uang, uang kertas
negara atau uang kertas Bank”
ASAS2 BERLAKUNYA H. PIDANA : BEBERAPA
MASALAH !
• Wilayah Indonesia ?
• Kapal :
a) kapal Indonesia
b) kapal perang
c) kapal dagang
• Prinsip ius passagii innoxii
(ketentuan yang mengatur suatu
kapal yang lewat secara damai di
wilayah laut negara lain)
• Asas Universalitas :
- Kejahatan Terorisme ?
- Kejahatan HAM berat ?
ASAS2 BERLAKUNYA H. PIDANA : PENGECUALIAN (2)
• Ps 9 KUHP : Hukum publik internasional
membatasi berlakunya Ps 2,3,4,5, 7, dan 8
KUHP
• Termasuk yg memiliki imunitas h.pidana :
Sesuai perjanjian Wina 18/4/1961
• Yg memiliki imunitas :
1) Kepala-kepala negara & keluarganya
(sec. resmi, bukan incognito/singgah)
2) Duta negara asing & keluarganya -->
konsul : tergantung traktat antar negara.
3) Anak buah kapal perang asing :
termasuk awak kapal terbang militer
4) Pasukan negara sahabat yg berada di
wilayah negara atas persetujuan negara
TINDAK PIDANA (1)

 Istilah, Definisi, & jenis2


Tindak Pidana

 Subyek Tindak Pidana

 Cara merumuskan &


Unsur-unsur Tindak
Pidana
TINDAK PIDANA (2)
ISTILAH
 Strafbaar feit
 Perbuatan pidana

 Peristiwa pidana

 Tindak pidana

 Delict / Delik

 Criminal act

 Jinayah
TINDAK PIDANA (3)
DEFINISI
• Simons : “kelakuan yg diancam dg pidana, yg bersifat
melawan hukum yg berhubungan dg kesalahan & dilakukan
oleh orang yg mampu bertanggung jawab”

• Van Hamel : “kelakuan manusia yg dirumuskan dalam


UU, melawan hukum, yg patut dipidana & dilakukan dg
kesalahan”

• Vos : “suatu kelakuan manusia yg oleh per UU an diberi


pidana; jadi suatu kelakuan manusia yg pada umumnya
dilarang & diancam dengan pidana”

• Aliran Monistis ………...


• Aliran Dualistis …………..
TINDAK PIDANA (4)
PEMBAGIAN TINDAK PIDANA (JENIS DELIK)

• Delik Kejahatan & Delik pelanggaran


• Delik Materiil & Delik Formil
• Delik Komisi & Delik Omisi
• Delik Dolus & Delik Culpa
• Delik Biasa & Delik Aduan
• Delik yg Berdiri sendiri & Delik Berlanjut
• Delik Selesai & Delik yg diteruskan
• Delik Tunggal & Delik Berangkai
• Delik Sederhana & Delik Berkualifikasi; Delik Berprivilege
• Delik Politik & Delik Komun (umum)
• Delik Propia & Delik Komun (umum)

• Pembagian delik menurut kepentingan yg dilindungi :


Lihat judul-judul bab pada Buku II dan Buku III KUHP
JENIS DELIK (1)

Kejahatan Pelanggaran
(misdrijf) (overtreding)
• dlm. MvT : sebelum ada UU • dlm MvT : baru dianggap tidak
sudah dianggap tidak baik (recht- baik setelah ada UU (wet
delicten) delicten)
• Hazewinkel-Suringa : tidak ada
perbedaan kualitatif, hanya
perbedaan kuantitatif • Perbedaan dg kejahatan:
a) Percobaan : tidak dipidana
a) Percobaan : dipidana
b) Membantu : tidak dipidana
b) Membantu : dipidana
c) Daluwarsa : lebih pendek
c) Daluwarsa : lebih panjang
d) Delik aduan : tidak ada
d) Delik aduan : ada
e) Aturan ttg Gabungan berbeda
e) Aturan ttg Gabungan berbeda

• KUHP : Buku II • KUHP : Buku III


JENIS DELIK (2)

 D. Materiil : Yang dirumuskan  D. Formil : yang dirumuskan


akibatnya --> Ps 338, Ps 187, bentuk perbuatannya --> Ps
dll 362, Ps 263, dll
 D. Komisi : melanggar  D. Omisi : melakukan delik dg
larangan dg perbuatan aktif perbuatan pasif
a) D. Omisi murni : melanggar
perintah dg tidak berbuat,
mis. Ps 164, Ps 224 KUHP
b) D. Omisi tak murni :
melanggar larangan dg tidak
berbuat, mis Ps 194 KUHP

 D. Dolus : delik dilakukan dg  D. Culpa : Delik dilakukan dg


sengaja, mis. Ps 338, Ps 351 kealpaan, mis. Ps 359, Ps
360
JENIS DELIK (3)

 D. Biasa : penuntutannya  D. Aduan :


tidak memerlukan
pengaduan, mis. Ps 340, Ps penuntutannya
285 memerlukan
pengaduan, mis. Ps
310, Ps 284
TINDAK PIDANA (5)
SUBYEK
 Manusia (natuurlijk  Korporasi
personen)  UU TPE
a) syarat merumuskan :  UU Pemberantasan T.P.
“Barangsiapa ….” Korupsi
b) hukuman : mati, penjara,  Draft RUU KUHP
kurungan, dll (Ps 10  adanya kebutuhan untuk
KUHP) memidana korporasi
c) Hukum Pidana  Korporasi ?
disandarkan pada
kesalahan orang  Badan hukum ?
TINDAK PIDANA (6)
CARA MERUMUSKAN TINDAK PIDANA

• Disebutkan unsur-unsurnya &


disebut kualifikasinya --> mis,
Ps 362 KUHP

• disebutkan kualifikasinya tanpa


disebut unsur-unsurnya --> mis.
Ps 184, Ps 297, Ps 351

• disebutkan unsur-unsurnya,
tidak disebut kualifikasinya -->
mis. Ps 106, Ps 167, Ps 209
TINDAK PIDANA (6)
UNSUR-UNSUR (VAN BEMMELEN)
Di dalam perumusan (bagian)

 Di luar
 dimuat dalam surat dakwaan

 semua syarat yg dimuat dalam rumusan delik


perumusan
merup-akan bagian-bagian, sebanyak itu pula, (unsur) : syarat
yg apabila dipenuhi membuat tingkah laku dapat dipidana
menjadi tindakan yg melawan hukum 1. Secara melawan
1. Tingkah laku yg dilarang hukum
2. Bagian subyektif : kesalahan, maksud, tujuan, 2. Dapat
niat, rencana, ketakutan dipersalahkan
3. Bagian obyektif : secara melawan hukum,
kausalitas, bagian2 lain yg menentukan dapat
3. Dapat
dikenakan pidana (syarat tambahan; keadaan)
dipertanggungjaw
abkan
4. Bagian yg mempertinggi dapatnya dikenakan
pidana
TINDAK PIDANA (7)
UNSUR-UNSUR (PROF. MOELJATNO)
 a. kelakuan dan akibat ( = perbuatan)
 b. hal ikhwal atau keadaan yg menyertai
perbuatan
 c. keadaan tambahan yg memberatkan

 d. unsur melawan hukum yg obyektif

 e. unsur melawan hukum yg subyektif


TINDAK PIDANA (8)
UNSUR-UNSUR
 Unsur2 dalam perumusan
A. Unsur Obyektif
 Unsur2 di luar
- perbuatan (aktif/pasif) perumusan
- akibat - secara melawan hukum
- melawan hukum - dapat dipersalahkan
- syarat tambahan - dapat dipertanggungjawab kan
- keadaan

B. Unsur Subyektif
- kesalahan :
(a) sengaja
(b) kealpaan
- keadaan
CONTOH UNSUR2 DALAM RUMUSAN
TINDAK PIDANA (1)
Pasal 362 KUHP Pasal 338 KUHP
 barangsiapa  barangsiapa
 mengambil
 barang  dengan sengaja
- yg sebagian/ seluruhnya  menghilangkan nyawa
kepunyaan orang lain
orang lain
 dengan maksud memiliki
 secara melawan hukum
CONTOH UNSUR2 DALAM RUMUSAN TINDAK
PIDANA (2)
Pasal 285 Pasal 259
 barangsiapa  barangsiapa
 dengan kekerasan atau  karena kealpaannya
 ancaman kekerasan  menyebabkan orang lain
 memaksa mati
 seorang wanita
 bersetubuh dengan dia
 di luar perkawinan
KESALAHAN
PENGERTIAN

 1. Dapat dipersalahkan
 2. Arti luas : Dolus & culpa

 3. Arti sempit : culpa


DOLUS/ OPZET/ SENGAJA (1)
 Apakah sengaja itu ?
Sengaja = willens (dikehendaki) en wetens (diketahui) (MvT- 1886)

 Teori2 “sengaja” :
(a) teori kehendak (wils theorie)
“ opzet ada apabila perbuatan & akibat suatu delik dikehendaki si
pelaku”

(b) teori bayangan (voorstellings-theorie)


“opzet ada apabila si pelaku pada waktu mulai melakukan perbuatan,
ada bayangan yg terang bahwa akibat yg bersangkutan akan
tercapai, maka dari itu ia menyesuaikan perbuatannya dengan
akibat itu”
DOLUS/ OPZET/ SENGAJA (2)
ISTILAH2 DALAM RUMUSAN TINDAK PIDANA
 Dengan sengaja : Ps 338 KUHP
 Mengetahui bahwa : Ps 220 KUHP
 tahu tentang : Ps 164 KUHP
 dengan maksud : Ps 362, 378, 263 KUHP
 niat : Ps 53 KUHP
 dengan rencana lebih dahulu : Ps 340, 355 KUHP
- dengan rencana : (a) saat pemikiran dg tenang ; (b) berpikir
dg tenang; ( c ) direnungkan lebih dahulu.
- ada tenggang waktu antara timbulnya niat dengan
pelaksanaan delik
DOLUS/ OPZET/ SENGAJA (3)
MACAM2 OPZET
 Sengaja sebagai maksud/ tujuan
(opzet als oogmerk)

 Sengaja sebagai kesadaran


(keinsyafan) kepastian (opzet bij
zekerheidsbewustzijn)

 Sengaja sebagai kesadaran


(keinsyafan) kemungkinan (opzet bij
mogelijkheids-bewutzijn)
DOLUS/OPZET/SENGAJA (4)
MACAM 2 OPZET
 Sengaja sebagai maksud/ tujuan :
- apabila pembuat menghendaki akibat perbuatannya;
- tidak dilakukan perbuatan itu jika pembuat tahu akibat perbuatannya tidak
terjadi (Vos)
 Sengaja sebagai keinsyafan kepastian :

- pembuat yakin bahwa akibat yg dimaksudkannya tidak akan tercapai tanpa


terjadinya akibat yg tidak dimaksud
 Sengaja sebagai keinsyafan kemungkinan:

- pembuat sadar bahwa mungkin akibat yg tidak dikehendaki akan terjadi


untuk mencapai akibat yg dimaksudnya
 2 macam sengaja sbg keinsyafan kemungkinan ( Hazewinkel-Suringa) :

(a) sengaja dg kemungkinan sekali terjadi


(b) sengaja dg kemungkinan terjadi / sengaja bersyarat/ dolus eventualis
DOLUS/ OPZET/ SENGAJA (5)
DOLUS EVENTUALIS
 Teori “inkauf nehmen” : untuk mencapai apa yang
dimaksud , resiko akan timbulnya akibat atau
keadaan disamping maksudnya itu pun diterima
 Prof. Moeljatno : “teori apa boleh buat” : kalau
resiko yg diketahui kemungkinan akan adanya itu
sungguh-sungguh timbul (disamping hal yg dimaksud),
apa boleh buat, dia juga berani pikul resiko
CULPA (1)
ISTILAH2
 Culpa (dalam arti luas) : berarti kesalahan pada umumnya
 Culpa (dalam arti sempit) : bentuk kesalahan yg berupa kealpaan

 Istilah2 :
- culpa - schuld - nalatigheid - sembrono
- teledor
 istilah 2 yg digunakan dalam rumusan :

- kelalaian
- kealpaan
- kesalahan
- seharusnya diketahuinya
- sepatutnya diketahuinya
CULPA (2)
PENGERTIAN, JENIS, SYARAT

• KUHP : tidak ada definisi


• MvT : kealpaan di satu pihak berlawanan benar2 dg kesengajaan
dan di fihak lain dengan hal yg kebetulan
• Macam2 Culpa :
(a) culpa levis ; culpa lata
(b) culpa yg disadari (bewuste) : culpa yg tidak disadari (on bewuste)
• Syarat adanya kealpaan :
(a) Hazewinkel-Suringa : 1) kekurangan menduga-duga; 2) kekurangan
berhati-hati
(b) van Hamel : 1) tidak menduga-duga sebagaimana diharuskan
hukum; 2) tidak berhati-hati sebagaimana diharuskan hukum
( c) Simons : pada umumnya “schuld” (kealpaan) mempunyai 2 unsur :
1) tidak berhati-hati; 2) dapat diduganya akibat.
KAUSALITAS
 1. Pengertian ?
 2. Kapankah diperlukan ajaran kausalitas ?
 3. Ajaran Kausalitas ?

Ilustrasi :
B pinjam uang ke rumah A, karena kedatangan B, maka A
terlambat ; karena terlambat A mengendarai mobil dengan
kecepatan tinggi; A menubruk C sehingga luka-luka; C dibawa
ke RS dan dioperasi oleh dokter D; D meminta E merawat
dengan suntikan tertentu; E salah memberikan obat pada C; C
mati.
PENGERTIAN KAUSALITAS
 Hal sebab-akibat
 Hubungan logis antara sebab dan akibat
 Persoalan filsafat yang penting
 Setiap peristiwa selalu memiliki penyebab sekaligus menjadi
sebab peristiwa lain
 Sebab dan akibat membentuk rantai yang bermula di suatu
masa lalu
 Yang menjadi fokus perhatian ahli hukum pidana (bukan
makna di atas), tetapi makna yang dapat dilekatkan pada
pengertian kausalitas agar mereka dapat menjawab persoalan
siapa yang dapat dimintai pertanggungjawaban atas suatu
akibat tertentu
KAPANKAH DIPERLUKAN AJARAN
KAUSALITAS ?
 Delik Materiil : perbuatan yang menyebabkan konsekuensi-
konsekuensi tertentu, dimana perbuatan tersebut kadang tercakup
dan kadang tidak tercakup sebagai unsur dalam perumusan delik,
mis. Ps. 338, Ps 359, Ps 360
 Delik Omisi tak murni/semu (delicta commissiva per omissionem/
Oneigenlijke Omissiedelicten) : Pelaku tidak melakukan kewajiban
yang dibebankan padanya dan dengan itu menciptakan suatu
akibat yang sebenarnya tidak boleh ia ciptakan. Ia sekaligus
melanggar suatu larangan dan perintah; ia sesungguhnya harus
menjamin bahwa suatu akibat tertentu tidak timbul.
 Delik yang terkualifikasi/dikwalifisir : tindak pidana yang karena
situasi dan kondisi khusus yang berkaitan dengan pelaksanaan
tindakan yang bersangkutan atau karena akibat-akibat khusus yang
dimunculkannya, diancam dengan sanksi pidana yang lebih berat
ketimbang sanksi yang diancamkan pada delik pokok tersebut.
(pengkualifikasian delik juga dapat dilakukan atas dasar akibat
yang muncul setelah delik tertentu dilakukan, mis. Ps 351 (1)  Ps
351 (2)/  Ps 351 (3)
AJARAN KAUSALITAS

 Conditio Sine Qua Non/ Ekuivalensi (Von Buri)


 Teori-teori Individualisasi / Causa Proxima :
Birkmeyer , Mulder
 Teori-teori menggeneralisasi : teori Adekuat
(Von Kries, Simons, Pompe, Rumelink)
 Teori Relevansi : Langemeyer
AJARAN CONDITIO SINE QUA NON

 Semua faktor yaitu semua syarat, yang turut


serta menyebabkan suatu akibat dan yang
tidak dapat dihilangkan dari rangkaian faktor-
faktor ybs. Harus dianggap causa (sebab)
akibat itu.
 Semua syarat nilainya sama (ekuivalensi)

 Ada beberapa sebab

 Syarat = sebab
PEMBATASAN AJARAN VON BURI
 Pembatasan ajaran Von Buri oleh Van Hamel [dibatasi
dg ajaran kesalahan (dolus/culpa)]
 Pengkesampingan semua sebab yang terletak di luar
dolus atau culpa; dalam banyak kejahatan dolus atau
culpa merupakan unsur-unsur perumusan delik.
 Jika hal itu bukan merupakan unsur delik, maka
solusinya harus dicari dengan bantuan alasan atau
dasar-dasar yang meniadakan pidana.
TEORI-TEORI INDIVIDUALISASI / CAUSA
PROXIMA
 Birkmeyer :
Teori ini berpangkal dari teori Conditio Sine Qua Non .
Di dalam rangkaian syarat-syarat yang tidak dapat
dihilangkan untuk timbulnya akibat, lalu dicari syarat
manakah yang dalam keadaan tertentu itu, yang
paling banyak membantu untuk terjadinya akibat.
 G.E Mulder :
 Sebab adalah syarat yang paling dekat dan tidak
dapat dilepaskan dari akibat.
TEORI-TEORI MENGGENERALISASI (1)

 Von Bar : teori ini tidak menyoal tindakan mana


atau kejadian mana yang in concreto
memberikan pengaruh (fisik/psikis) paling
menentukan. Yang dipersoalkan adalah
apakah satu syarat yang secara umum dapat
dipandang mengakibatkan terjadinya peristiwa
seperti yang bersangkutan mungkin ditemukan
dalam rangkaian kausalitas yang ada
TEORI-TEORI MENGGENERALISASI (2)
 Von Kries (Teori Adequat Subjectif) : Sebab adalah keseluruhan faktor
positif & negatif yang tidak dapat dikesampingkan tanpa sekaligus
meniadakan akibat. Namun pembatasan demi kepentingan penetapan
pertanggungjawaban pidana tidak dicari dalam nilai kualitatif/kuantitatif
atau berat/ringannya faktor dalam situasi konkret, tetapi dinilai dari makna
semua itu secara umum, kemungkinan dari faktor-faktor tersebut untuk
memunculkan akibat tertentu. Sebab = syarat-syarat yang dalam situasi
dan kondisi tertentu memiliki kecenderungan untuk memunculkan akibat
tertentu, biasanya memunculkan akibat itu, atau secara objectif
memperbesar kemungkinan munculnya akibat tersebut.
 Apakah suatu tindakan memiliki kecenderungan memunculkan akibat
tertentu hanya dapat diselesaikan apabila kita memiliki 2 bentuk
pengetahuan :
(a) hukum umum probabilitas dalam peristiwa yg terjadi / pengetahuan
Nomologis yg memadai
(b) situasi faktual yg melingkupi peristiwa yg terjadi/ pengetahuan
Ontologis/ pemahaman fakta (empirik)
TEORI-TEORI MENGGENERALISASI (3)
 Rumelink (Teori Adequat Objectif) :
Faktor yang ditinjau dari sudut objektif , harus (perlu) ada untuk terjadinya
akibat. Ihwal probabilitas tidak berdasarkan pada apa yang diketahui atau
mungkin diketahui pada waktu melakukan tindakannya, melainkan pada
fakta yang objektif pada waktu itu ada, entah diketahuinya atau tidak – jadi
pada apa yang kemudian terbukti merupakan situasi dan kondisi yang
melingkupi peristiwa tersebut.
 Simons :
Sebab adalah tiap-tiap kelakuan yang menurut garis-garis umum
pengalaman manusia dapat menimbulkan akibat
 Pompe :
Sebab adalah hal yang mengandung kekuatan untuk dapat menimbulkan
akibat
TEORI RELEVANSI

 Langemeijer
Teori ini ingin menerapkan ajaran von Buri
dengan memilih satu atau lebih sebab dari
sekian yang mungkin ada, yang dipilih sebab-
sebab yang relevan saja , yakni yang kiranya
dimaksudkan sebagai sebab oleh pembuat
undang-undang.
SIFAT MELAWAN HUKUM
 Arti :
- tanpa hak sendiri (zonder eigen recht)
- bertentangan dg hak orang lain (tegen eens anders recht)
- tanpa alasan yg wajar
- Bertentangan dengan hukum positif

 Melawan hukum : formil & materiil


- aliran formil : melawan hukum = melawan UU, sebab hukum
adalah UU.
-aliran materiil : melawan hukum adalah perbuatan yg oleh
masyarakat tidak dibolehkan.
PERBEDAAN AJARAN MATERIIL DAN
FORMIL
 Materiil :  Materiil :
mengakui adanya pengecualian / sifat melawan hukum adalah unsur
penghapusan dari sifat melawan mutlak dari tiap-tiap tindak pidana,
hukumnya perbuatan menurut juga bagi yang dalam rumusannya
hukum yang tertulis dan yang tidak menyebut unsur-unsur
tidak tertulis tersebut
 Formil :  Formil :
hanya mengakui pengecualian sifat tersebut tidak selalu menjadi
yang tersebut dalam undang- unsur delik, hanya jika dalam
undang saja/ mis, Ps. 49. rumusan delik disebutkan dengan
nyata-nyata barulah menjadi unsur
delik
PEMBUKTIAN MELAWAN HUKUM
 Dengan mengakui bahwa sifat melawan hukum selalu
menjadi unsur delik, ini tidak berarti bahwa karena itu
harus selalu dibuktikan adanya unsur tersebut oleh
penuntut umum
 Soal apakah harus dibuktikan atau tidak, adalah
tergantung dari rumusan delik yaitu apakah dalam
rumusan unsur tersebut disebutkan nyata-nyata, jika
tidak dinyatakan maka tidak perlu dibuktikan.
ALASAN PENCANTUMAN UNSUR MELAWAN
HUKUM

 Pada umumnya dalam perundang-undangan ,


lebih banyak delik yang tidak memuat unsur
melawan hukum dalam rumusannya
 Alasan pencantuman sifat melawan hukum dalam
perumusan tindak pidana :
- untuk melindungi orang2 yg memiliki hak dari tuntutan
pidana.
KONSEKUENSI ALIRAN MATERIIL

 Apakah konsekuensi ajaran bahwa sifat


melawan hukum selalu menjadi unsur tiap-tiap
delik ?
Jika unsur melawan hukum tidak tersebut
dalam rumusan delik, maka unsur itu dianggap
diam-diam telah ada, kecuali jika dibuktikan
sebaliknya oleh pihak terdakwa.
ARTI “DAN” DIANTARA UNSUR DENGAN SENGAJA &
UNSUR MELAWAN HUKUM

 Van Hamel, simons, pompe : perbedaan itu mempunyai arti. Mis. Ps


406 KUHP : dengan sengaja dan melawan hukum ; Ps 333 KUHP :
dengan sengaja melawan hukum

 Vos, zevenbergen, langemeijer :


tiadanya kata “dan” tidak berarti apa2, semuanya mesti dibaca
“dengan sengaja dan melawan hukum”

 Remelink, van Bemmelen :


kata penghubung “dan” tidak mempunyai arti, jadi istilah “dengan
sengaja” meliputi pula “melawan hukum.”
ALASAN PENGHAPUS PIDANA
ALASAN PENGHAPUS PIDANA
( STRAFUITSLUITINGSGROUND )
 Keadaan khusus ( yang harus dikemukakan,
tetapi tidak perlu dibuktikan oleh terdakwa )
yang jika dipenuhi menyebabkan – meskipun
terhadap semua unsur tertulis dari rumusan
delik telah dipenuhi – tidak dapat dijatuhkan
pidana
DALAM ILMU HUKUM PIDANA ALASAN
PENGHAPUS PIDANA DIBEDAKAN :
1. alasan penghapus pidana umum
adalah alasan penghapus pidana yang
berlaku umum untuk setiap tindak pidana dan
disebut dalam pasal 44, 48 – 51 KUHP
2. alasan penghapus pidana khusus
adalah alasan penghapus pidana yang
berlaku hanya untuk tindak pidana tertentu.
Misalnya pasal 122, 221 ayat (2), 261, 310,
dan 367 ayat (1) KUHP
ALASAN PENGHAPUS PIDANA JUGA
DIATUR DI LUAR KUHP
1.hak mendidik dari orang tua
2.izin dari orang yang dirugikan
3.hak jabatan dari dokter ( gigi)
4.mewakili urusan orang lain
5.tidak adanya melawan hukum materiil
6.tidak adanya kesalahan sama sekali
7.alasan penghapus pidana putative
AJARAN DAAD-DADER STRAFRECHT ALASAN
PENGHAPUS PIDANA DAPAT DIBEDAKAN
MENJADI :
a) alasan pembenar
(rechtvaardigingsgrond ) yaitu alasan
yang menghapuskan sifat melawan
hukumnya perbuatan, berkaitan dengan
tindak pidana ( strafbaarfeit ) yang
dikenal dengan istilah actus reus di
Negara Anglo saxon.
b) Alasan pemaaf
( schuldduitsluitingsgrond ) yaitu alasan
yang menghapuskan kesalahan terdakwa,
berkaitan dengan pertanggungjawaban
(toerekeningsvatbaarheid ) yang dikenal
dengan istilah mens rea di Negara Anglo
saxon.
ALASAN PENGHAPUS PIDANA YANG TERMASUK
ALASAN PEMBENAR YANG TERDAPAT DALAM
KUHP:
a) Noodtoestand ( keadaan darurat )
Keadaan darurat merupakan bagian dari daya paksa relatif
(vis compulsiva ), diatur dalam pasal 48 KUHP :

” barangsiapa melakukan perbuatan karena pengaruh daya


paksa, tidak dipidana “

Ada beberapa ahli yang menggolongkan ” keadaan darurat


” sebagai alasan pembenar namun adapula yang
menggolongkannya sebagai alasan pembenar. Dalam
keadaan darurat pelaku suatu tindak pidana terdorong oleh
suatu paksaan dari luar
 paksaan tersebut yang menyebabkan pelaku
dihadapkan pada tiga keadaan darurat,
yaitu :
1. Perbenturan antara dua kepentingan hukum,
Dalam hal ini pelaku harus melakukan suatu perbuatan untuk
melindungi kepentingan hukum tertentu, namun pada saat yang
sama melanggar kepentingan hukum yang lain, dan begitu pula
sebaliknya.

2. Perbenturan antara kepentingan hukum dan kewajiban hukum,


Dalam hal ini pelaku dihadapkan pada keadaan apakah harus
melindungi kepentingan hukum atau melaksanakan kewajiban
hukum.

3. Perbenturan antara kewajiban hukum dan kewajiban hukum,


Dalam hal ini pelaku harus melakukan kewajiban hukum tertentu,
namun pada saat yang sama dia tidak melakukan kewajiban
B) NOODWEER ( PEMBELAAN TERPAKSA )
 Diatur dalam pasal 49 ayat (1) KUHP :
” barangsiapa terpaksa melakukan perbuatan untuk
pembelaan, karena ada serangan atau ancaman serangan
ketika itu yang melawan hukum, terhadap diri sendiri
maupun orang lain; terhadap kehormatan kesusilaan (
eerbaarheid ) atau harta benda sendiri maupun orang lain,
tidak dipidana “
Dalam pembelaan terpaksa perbuatan pelaku memenuhi
rumusan suatu tindak pidana, namun karena syarat –
syarat yang ditentukan dalam pasal tersebut maka
perbuatan tersebut dianggap tidak melawan hukum.
C) MELAKSANAKAN KETENTUAN UNDANG –
UNDANG
Diatur dalam pasal 50 KUHP :
” barangsiapa melakukan perbuatan untuk
melaksanakan ketentuan undang – undang,
tidak dipidana “
Walaupun memenuhi rumusan tindak pidana,
seseorang yang melakukan perbuatan untuk
melaksanakan ketentuan undang – undang
dianggap tidak melawan hukum dan oleh
karena itu tidak dipidana.
D) MENJALANKAN PERINTAH JABATAN YANG
DIBERIKAN
OLEH PENGUASA YANG BERWENANG
Diatur dalam pasal 51 KUHP :
” barangsiapa melakukan perbuatan yang diberikan
oleh penguasa yang berwenang, tidak dipidana “
Seseorang dapat melaksanakan undang – undang
oleh dirinya sendiri, akan tetapi juga dapat menyuruh
orang lain untuk melaksanakannya. Jika ia
melaksanakan perintah tersebut maka ia tidak
melakukan perbuatan melawan hukum
ALASAN PENGHAPUS PIDANA YANG TERMASUK
ALASAN PEMAAF YANG TERDAPAT DALAM
KUHP:
a) Tidak mampu bertanggungjawab
Diatur dalam pasal 44 KUHP :
” barangsiapa melakukan perbuatan yang
tidak dapat dipertanggungjawabkan padanya,
disebabkan karena jiwanya cacat dalam
tumbuhnya ( gebrekkige ontwikkeling ) atau
terganggu karena penyakit ( ziekelijke storing
), tidak dipidana “
 Dalam memorie van Toelicting yang dimaksud
tidak mampu bertanggungjawab adalah :

“Dalam hal ia tidak ada kebebasan untuk memilih


antara berbuat dan tidak berbuat mengenai apa
yang dilarang atau diperintahkan undang – undang
Dalam hal ia ada dalam suatu keadaan yang
sedemikian rupa, sehinga tidak dapat menginsyafi
bahwa perbuatannya bertentangan dengan hukum
dan tidak dapat menetunkan akibat perbuatannya”
(Sudarto, 1987 : 951 )
B) OVERMACHT ( DAYA PAKSA )
 Overmacht merupakan daya paksa relatif ( vis compulsiva ).
Seperti keadaan darurat, daya paksa juga diatur dalam
pasal 48 KUHP. Dalam KUHP tidak terdapat pengertian
daya paksa, namun dalam memorie van toelichting ( MvT )
daya paksa dilukiskan sebagai setiap kekuatan, setiap
paksaan atau tekanan yang tak dapat ditahan.
 Dalam daya paksa orang berada dalam dwangpositie (
posisi terjepit ). Sifat dari daya paksa datang dari luar si
pembuat dan lebih kuat ( Sudarto, 1987 : 142 ). Dalam
daya paksa perbuatannya tetap merupakan tindak pidana
namun ada alasan yang menghapuskan kesalahan
pelakunya.
C)NOODWEER EXCES ( PEMBELAAN TERPAKSA
YANG MELAMPAUI BATAS )
 Hal ini termasuk pembelaan terpaksa juga, namun
karena serangan tersebut menimbulkan goncangan
jiwa yang hebat maka pembelaan tersebut menjadi
berlebihan. Hal ini diatur dalam pasal 49 ayat (2)
KUHP :
 ” pembelaan terpaksa yang melampaui batas, yang
langsung dapat disebabkan oleh kegoncangan jiwa
yang hebat karena serangan atau ancaman serangan
itu, tidak dipidana “
D) MENJALANKAN PERINTAH JABATAN YANG
TIDAK SAH
Diatur dalam pasal 51 ayat (2) KUHP :
” perintah jabatan yang tanpa wenang, tidak
menyebabkan hapusnya pidana kecuali jika yang
diperintah, dengan itikad baik mengira bahwa
perintah diberikan dengan wenang, dan
pelaksanaannya termasuk dalam lingkungan
pekerjaanya “
Melaksanakan perintah jabatan yang tidak wenang
dapat merupakan alasan pemaaf jika orang yang
melaksanakan perintah mempunyai itikad baik dan
berada dalam lingkungan pekerjaannya.
PERCOBAAN (POGING)
 PASAL 53
(1) Mencoba melakukan kejahatan dipidana, jika niat untuk itu telah
ternyata dari adanya permulaan pelaksanaan, dan tidak selesainya
pelaksanaan itu, bukan semata-mata disebabkan karena kehendaknya
sendiri.
(2) Maksimum pidana pokok terhadap kejahatan, dalam hal percobaan
dikurangi sepertiga.
(3) Jika kejahatan diancam dengan pidana mati atau pidana penjara
seumur hidup, dijatuhkan pidana penjara paling lama 15 tahun.
(4) Pidana tambahan bagi percobaan sama dengan kejahatan selesai.

 Pasal 54
Mencoba melakukan pelanggaran tidak dipidana
POGING (PERCOBAAN)
 “Permulaan kejahatan yang belum selesai”
 Poging bukan suatu delik, tetapi poging dilarang dan diancam hukuman
oleh undang-undang
 Poging adalah perluasan pengertian delik
 Suatu perbuatan dilarang dan diancam dengan hukuman oleh undang-
undang sebab perbuatan itu melanggar kepentingan hukum atau
membahayakan kepentingan hukum
 KUHP tidak memberi perumusan/ definisi
 Harus diketahui kapan suatu delik dianggap selesai
 Delik selesai berbeda antara delik formil dan delik materiil
 Pada delik formil : delik selesai apabila perbuatan yang dilarang telah
dilakukan
 Pada delik materiil : delik selesai apabila akibat yang dilarang dan diancam
dengan hukuman oleh undang-undang telah timbul atau terjadi
PERCOBAAN MENURUT KUHP:

• Percobaan sebagai Suatu Delik yang Telah


Selesai (voltooid delict)
• Percobaan Melakukan Tindak Pidana yang
Tidak Dilarang
• Percobaan Melakukan Pelanggaran
• Percobaan terhadap Delik Kealpaan
PERCOBAAN SEBAGAI SUATU DELIK YANG
TELAH SELESAI
(VOLTOOID DELICT)

 Pasal 104-107, 139a dan 139b KUHP


 Pasal 110, 116, 125, 139c KUHP

 Pasal 250, 261, 275 KUHP


PERCOBAAN MELAKUKAN TINDAK PIDANA
YANG TIDAK DILARANG

1. Pasal 184 KUHP)


2. Pasal 351 ayat 5 dan 352 ayat 2 KUHP
3. Pasal 302 ayat 4 KUHP)
PERCOBAAN MENURUT DOKTRIN
 Percobaan yang Tidak Sempurna (Ondeugdelijk
Poging)
 Percobaan yang Dikualifisir (Gequalificeerde
Poging)
 Percobaan yang Ditangguhkan (Geschorste
Poging)
 Percobaan yang Selesai / Sempurna
(Voleindigde Poging)
SYARAT PERCOBAAN YG DAPAT DIPIDANA

 Niat
 Permulaan Pelaksanaan

 Tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan


semata-mata disebabkan karena kehendaknya
sendiri
NIAT
“VOORNEMEN”
 Menurut doktrin dan yurisprudensi
:”voornemen” harus ditafsirkan sebagai
kehendak, “willen” atau “opzet”
 Seseorang harus mempunyai kehendak, yaitu
kehendak melakukan kejahatan
 Karena ada 3 macam opzet, apakah opzet di
sini harus dtafsirkan dalam arti luas atau
hanya opzet dalam arti pertama (sebagai
“ogmerk” atau tujuan) ?
PERMULAAN PELAKSANAAN
 “Niat sudah terwujud dengan adanya permulaan
pelaksanaan”  een begin van uitvoering
 Harus ada suatu perbuatan(handeling)
 apa yang dimaksud “perbuatan sebagai permulaan
pelaksanaan” ?
 Undang-undang tidak merumuskan pelaksanaan
atau”uitvoering” dan bagaimana bentuknya
 Perlu digunakan penafsiran
PELAKSANAAN KEHENDAK ATAU
PELAKSANAAN KEJAHATAN ?
 Secara gramatika, harus dihubungkan dengan kata yang
mendahuluinya yaitu “voornemen”/ niat/kehendak  Niat
sudah terwujud dengan adanya permulaan
pelaksanaan. Jadi : pelaksanaan itu ditafsirkan sebagai
“pelaksanaan kehendak”  TEORI POGING SUBYEKTIF
 Tetapi, jika dihubungkan dengan anak kalimat berikutnya “…
tidak selesainya pelaksanaan itu, bukan semata-mata
disebabkan karena kehendaknya sendiri” maka secara
sistematis maka ditafsirkan sebagai “pelaksanaan kejahatan”
 TEORI POGING OBYEKTIF
CONTOH KASUS
 A menghendaki untuk membunuh B , untuk melaksanakan maksudnya, A
harus melakukan beberapa perbuatan, yaitu :
 a. A pergi ke tempat penjualan senjata api
 b. A membeli senjata api
 c. A membawa senjata api ke rumahnya
 d. A berlatih menembak
 e. A menyiapkan sebjata apinya dengan membungkusnya rapat-rapat
 f. A menuju rumah B
 g. Sesampai di rumah B, A mengisi senjata itu dengan peluru
 h. A mengarahkan senjata kepada B
 i. A melepaskan tembakan ke arah B
MANA YANG MERUPAKAN PELAKSANAAN ?
APAKAH TIAP2 PERBUATAN DALAM KASUS TSB
DAPAT DIHUKUM ?

 1. Menurut Teori Poging Subyektif :


perbuatan a sudah merupakan “permulaan
pelaksanaan” karena telah menunjukkan
“kehendak yang jahat”
 2. Menurut Teori Poging Obyektif : perbuatan
a  f belum merupakan “permulaan
pelaksanaan” karena semua perbuatan itu
“belum membahayakan kepentingan hukum
si B
CONTOH
PERCOBAAN PEMBUNUHAN BERENCANA
KASUS
 A bermaksud menghabisi nyawa B dengan meletakkan bom di
mobil B. Bom meledak sebelum B masuk mobil dan
mengakibatkan B luka-luka parah.

PASAL YG DIDAKWAKAN
 Pasal 340 jo Pasal 53 KUHP ( Percobaan pembunuhan
berencana)

ANCAMAN PIDANA
 15 tahun penjara (lihat Ps. 53 ayat 3)
PEMBATASAN TERHADAP TEORI SUBYEKTIF

 Perbuatan dibedakan :
 1. tindakan atau perbuatan persiapan (belum
dapat dihukum)
 2. tindakan atau perbuatan pelaksanaan
(sudah dapat dihukum)
 Tetapi, pertanyaannya : mana yang merupakan
“perbuatan persiapan” dan mana yang
merupakan “perbuatan pelaksanaan” ?
PENDAPAT PARA AHLI

1.Van Hamel : “apabila dari perbuatan itu telah terbukti kehendak yang
kuat dari si pelaku untuk melaksanakan perbuatannya”
2.Simons melihat dari jenis deliknya : delik materiil atau delik formil.
 Pada delik formil apabila perbuatan itu merupakan perbuatan yang
dilarang dan diancam dengan hukuman oleh UU, apabila perbuatan
itu merupakan sebagian dari perbuatan yang dilarang; jika ada
beberapa unsur maka jika sudah melakukan salah satu unsur
 Pada delik materril apabila perbuatan itu dianggap sebagai
perbuatan yang menurut sifatnya adalah sedemikian rupa ,
sehingga secara langsung dapat menimbulkan akibat yang dilarang
dan diancam dengan hukuman oleh UU
3.Vos : ada “permulaan pelaksanaan” apabila perbuatan itu
mempunyai sifat terlarang terjadap suatu kepentingan hukum.
4.Pompe : ada “permulaan pelaksanaan” apabila suatu perbuatan
yang bagi orang normal memungkinkan terjadinya suatu delik.
PENDAPAT HOGE RAAD
Ada “permulaan pelaksanaan” apabila antara perbuatan
yang dilakukan dan kejahatan yang dkehendaki oleh
seseorang itu terdapat hubungan erat langsung; yaitu
apabila seorang melakukan sesuatu perbuatan untuk
melaksanakan kejahatan , perbuatan itu baru
dianggap sebagai permulaan pelaksanaan apabila
disamping perbuatan itu tidak dibutuhkan lagi
perbuatan-perbuatan yang lain untuk menyelesaikan
kejahatan.
MACAM2 PERCOBAAN (DOKTRIN)

 Percobaan yg Sempurna : Voleindigde Poging --> apabila seseorang


berkehendak melakukan kejahatan, ia telah melakukan semua
perbuatan yg diperlukan bagi selesainya kejahatan, tetapi kejahatan
tidak selesai karena suatu hal

 Percobaan yg Tertangguh : Geschorte Poging --> apabila seseorang


berkehendak melakukan kejahatan, ia telah melakukan beberapa
perbuatan yg diperlukan bagi tercapainya kejahatan, tetapi kurang
satu perbuatan ia terhalang oleh suatu hal

 Percobaan yg Tidak Sempurna : Ondeugdelijke Poging --> apabila


seseorang berkehendak melakukan suatu kejahatan, dimana ia telah
melakukan semua perbuatan yg diperlukan bagi selesainya
kejahatan, namun tidak berhasil disebabkan alat (sarana) tidak
sempurna atau obyek (sasaran) tidak sempurna.
Tidak sempurna : mutlak atau relatif
PENYERTAAN
(DEELNEMING)
PENGERTIAN

 Terlibatnya lebih dari 1 orang dalam 1 tindak


pidana (sebelum dan atau pada saat tindak
pidana terjadi)
 Pasal yang mengatur : Pasal 55, 56, 57 KUHP
PERMASALAHAN

 Bagaimana pertanggungjawaban pidana dari


orang-orang yang terlibat itu?
KETERLIBATAN SSO DALAM SUATU TINDAK
PIDANA DAPAT DIKATAGORIKAN SEBAGAI

1. Yang melakukan
2. Yang menyuruh melakukan
3. Yang turut melakukan
4. Yang menggerakkan/menganjurkan untuk
melakukan
5. Yang membantu melakukan
 No. 1 s.d. 4 dikatagorikan sebagai “pelaku”
(pembuat) (Pasal 55 KUHP):
- Pelaku: memenuhi semua unsur delik
- dianggap sebagai sebagai pelaku:
 memenuhi sebagian unsur delik

 sama sekali tidak memenuhi unsur delik

 Pidananya sama dengan pelaku

• No. 5 : pembantu (Pasal 56, 57 KUHP)


BENTUK-BENTUK PENYERTAAN

1. Menyuruh melakukan (doen plegen)


2. Turut melakukan (medeplegen)
3. Menggerakkan (uitlokken, uitlokking)
4. Membantu melakukan
(medeplichtigheid)
MENYURUH MELAKUKAN
 SSO punya kehendak untuk melakukan TP, tetapi
dia tidak melaksanakannya sendiri melainkan
menyuruh orang lain untuk melakukannya

- Yang menyuruh diancam pidana sebagaimana


seorang pelaku
- Yang disuruh (sebagai pelaku langsung, pelaku
materil): tidak (diancam) pidana
ORANG YANG DISURUH MELAKUKAN
TIDAK DAPAT DIHUKUM KARENA DUA
SEBAB:
 1. Orang tsb. sama sekali tidak melakukan tindak
pidana atau perbuatan yang dilakukan tidak dapat
dikualifikasi sebagai tindak pidana

 2. Orang tsb. memang melakukan tindak pidana


tetapi ia tidak dapat dihukum karena ada satu atau
beberapa alasan penghapus kesalahan
CONTOH KEADAAN DIMANA ORANG TSB. SAMA
SEKALI TIDAK MELAKUKAN TINDAK PIDANA ATAU
PERBUATAN YANG DILAKUKAN TIDAK DAPAT
DIKUALIFIKASI SEBAGAI TINDAK PIDANA

 Seorang juru rawat yang sama sekali tidak


mengetahui bahwa obat yang diberikan pada
pasien atas perintah seorang dokter adalah obat
yang mengandung racun
 A meminta B untuk menukarkan uang palsu;
sedangkan B tidak tahu bahwa uang itu palsu
CONTOH KEADAAN-KEADAAN YANG MEMBUAT
ORANG YANG DISURUH MELAKUKAN TIDAK
DAPAT DIJATUHI PIDANA KARENA ADA
ALASAN PENGHAPUS KESALAHAN
 Orang yang disuruh adalah orang tidak dapat
dipertanggungjawabkan karena Pasal 44 KUHP
 Orang yang disuruh berada dalam keadaan daya
paksa (overmacht)
 Orang yang disuruh melakukan perintah jabatan
yang tidak sah tapi dengan itikad baik ia mengira
bahwa perintah itu sah
 Orang yang disuruh melakukan tidak bersalah
sama sekali
DOENPLEGEN DALAM HAL DELIK
JABATAN
 Apabila seorang pegawai negeri menyuruh orang
yang bukan pegawai negeri untuk melakukan TP
yang diatur dalam bab XXVIII:
 Apakah yang menyuruh dapat dipidana?

- dapat
 Apakah yang disuruh dapat dipidana?

- tergantung apakah ybs. mengetahui atau tidak


bahwa yang menyuruhnya adalah pegawai negeri
…..LANJUTAN
 Apabila seorang yang bukan pegawai negeri
menyuruh seorang pegawai negeri untuk melakuka
delik jabatan:
- Pendapat van Hamel, Simons (para sarjana yang
klasik): tidak mungkin terjadi konstruksi seperti itu
karena yang menyuruh harus memenuhi kualitas
pelaku
- Pendapat Jonkers, Vos (para sarjana yang lebih
modern) dan HR: mungkin saja seorang bukan
pegawai negeri menyuruh seorang pegawai negeri
TURUT MELAKUKAN
 Beberapa orang bersama-sama melakukan TP
 Kemungkinannya:

 Semua dari mereka yang terlibat, masing-


masing memenuhi semua unsur TP
 Ada yang memenuhi semua unsur; ada yang
memenuhi sebagian saja, bahkan ada yang
sama tidak memenuhi unsur delik
 Semua hanya memenuhi sebagian-sebagian
saja unsur delik
SYARAT TURUT MELAKUKAN

1. Ada kerja sama secara sadar


tidak perlu ada kesepakatan, tapi harus ada
kesengajaan:
- untuk bekerja sama, dan
- untuk mencapai hasil yang berupa TP
2. Ada pelaksanaan bersama-sama secara fisik
TURUT MELAKUKAN PADA DELIK
JABATAN
 Terjadi perbedaan pendapat di antara para
sarjana:
• Pendapat yang klasik mengatakan: orang
yang turut melakukan harus memenuhi
kualitas yang disyaratkan

• Pendapat yang lebih modern berpendapat


sebaliknya
MENGGERAKKAN/MENGANJURKAN/MEMBU
JUK
 SSO punya kehendak untuk melakukan TP, tetapi tidak
melakukannya sendiri, melainkan menggerakkan
orang lain utk melaksanakan niatnya itu

 Syarat-syarat Penggerakkan yang dapat dipidana:


 Ada kesengajaan menggerakkan orang lain untuk
melakukan TP
 Menggerakkan dengan upaya-upaya yang ada dalam
Pasal 55 ayat (1) butir ke-2: pemberian, janji,
penyalahgunaan kekuasaan atau pengaruh,
kekerasan, ancaman kekerasan, tipu daya, memberi
kesempatan, alat , keterangan
…..LANJUTAN
 Ada yang tergerak untuk melakukan TP akibat
dengan sengaja digerakkan dengan upaya-
upaya dalam Pasal 55 ayat (1) butir ke-2 KUHP
 Yang digerakkan melakukan delik yang
dianjurkan atau percobaannya (catatan: Pasal
163 bis)
 Yang digerakkan dapat dipertanggungjawabkan
menurut hukum pidana
PEMIDANAAN TERHADAP PENGGERAK
(UITLOKKER)
 Diancam pidana yang sama dengan pelaku
langsung (yang digerakkan/uitgelokte), pada:
 penggerakan yang berhasil (geslaagde
uitlokking)
 penggerakan yang sampai pada taraf
percobaan yang dapat dipidana (uitlokking bij
poging)
PASAL 163 BIS:
 Penggerakan yang gagal (mislukte uitlokking/ poging
tot uitlokking = mencoba menggerakkan)
 Penggerakan tanpa akibat (zonder gevolg gebleven
uitlokking)
- Pemidanaan terhadap penggerak:
maksimal 6 tahun penjara atau denda Rp. 4500,-
tetapi tidak boleh lebih berat daripada:
 pidana untuk percobaan TP- kl percobaannya
dapat dipidana
 pidana karena melakukan TP- dalam hal
percobaan melakukan TP (yaitu kejahatan) tidak
dapat dipidana
PASAL 163 BIS

 Menurut Pompe, Jonkers, Hazewinkel-Suringa:


Pasal 163 bis berlaku juga pada doeplegen,
karena istilah yang digunakan dalam rumusan
pasalnya bukan uitlokken tetapi trachten te
bewegen (yang maknanya lebih luas dari
uitlokken)
 Pasal 163 bis berlaku pada doenplegen, asalkan
daya upaya yang digunakan terbatas pada daya
upaya yang disebut Pasal 55 ayat (1) ke-2 KUHP
BATAS PERTANGGUNGJAWABAN SEORANG
PENGGERAK (PASAL 55 AYAT (2))
 Hanya sebatas perbuatan yang dengan sengaja
digerakkan oleh penggerak, beserta dengan
akibatnya
 Yang dimaksud dengan akibat adalah akibat
obyektif yang dapat menyebabkan diperberatnya
pidana yang akan dijatuhkan (Mis. Ayat (3) Pasal
351 KUHP)
 Tidak dipersyaratkan bahwa penggerak telah
mengetahui terlebih dahulu akibat-akibat yang
akan terjadi. Ia juga bertanggungjawab atas
akibat yang tidak dapat diketahui atau
diramalkannya terlebih dahulu
PERTANGGUNGJAWABAN
SEORANG PENGGERAK
 A mengajak B untuk memukul C dengan sebatang
kayu. Akan tetapi B tidak memukul C dengan
kayu, malahan menusuk C dengan sebilah pisau
 Bagaimana pertanggungjawaban A?
PENGGERAKAN DALAM HAL DELIK
JABATAN
 Baik pegawai negeri maupun bukan pegawai negeri
dapat membujuk seorang pegawai negeri untuk
melakukan delik jabatan (sehingga keduanya mungkin
untuk dipidana)

 Bagaimana bila yang dibujuk bukan pegawai negeri?


- Van Hattum: tidak mungkin seorang bukan pegawai
negeri dibujuk untuk melakukan delik jabatan
- Kalau yang membujuk pegawai negeri, seharusnya
sama dengan perlakuan pada menyuruh:
# kalau mengetahui bahwa yang membujuk pegawai
negeri seharusnya dapat dihukum
MEMBANTU MELAKUKAN
(PASAL 56, 57 KUHP)

 Harus dilakukan dengan sengaja


 Menurut Pasal 56, ada 2 jenis:
1. Membantu sebelum TP dilakukan
sarananya: kesempatan, daya upaya (alat),
keterangan
2. Membantu pada saat TP dilakukan
sarananya: boleh apa saja
 Yang dipidana hanya membantu melakukan kejahatan
(lihat Pasal 56 dan Pasal 60 KUHP)
 Ancaman pidana maksimal bagi seorang pembantu:
pidana bagi pelaku kejahatan dikurangi 1/3-nya
Note: Pada beberapa UU Khusus, ancaman pidana
bagi seorang yang membantu melakukan
sama dengan pelaku
BATAS PERTANGGUNGJAWABAN SEORANG YANG
MEMBANTU MELAKUKAN TP
(PASAL 57 AYAT (4)
 Hanya terbatas pada perbuatan yang dengan
sengaja dimudahkan oleh pembantu; beserta
dengan akibatnya
PERBEDAAN ANTARA MENYURUH
MELAKUKAN DENGAN MENGGERAKKAN
 Menyuruh Melakukan  Menggerakkan

 Sarana menggerakkan  Sarana menggerakkan


tidak ditentukan ditentukan secara limitatif
 Pelaku langsung dapat
 Pelaku langsung tidak dipertanggungjawabkan
dapat
dipertanggungjawabkan
PERBEDAAN TURUT SERTA DENGAN
PEMBANTUAN (PADA SAAT TP DILAKUKAN)
 Turut Melakukan  Membantu Melakukan
# Mnrt ajaran obyektif: # Mnrt ajaran obyektif:
Perbuatannya Perbuatannya merupakan
merupakan perbuatan perbuatan yang
pelaksanaan membantu/menunjang
(uitvoeringshandeling)

# Menurut ajaran # Menurut ajaran subyektif:


subyektif: - Kesengajaannya hanya
- kesengajaan ditujukan untuk memberi bantuan
untuk terwujudnya delik saja pada orang lain
….LANJUTAN

 Turut melakukan  Membantu melakukan

- Harus ada kerja sama - Tidak harus ada kerja


yang disadari sama yang disadari

- Mempunyai - Tidak mempunyai


kepentingan/tujuan kepentingan/tujuan
sendiri sendiri
PERBEDAAN MENGGERAKKAN DENGAN
MEMBANTU SEBELUM TP TERJADI
 Menggerakkan  Membantu
Keterangan, sarana, Keterangan, sarana,
kesempatan digunakan kesempatan digunakan
oleh penggerak untuk oleh pembantu untuk
menimbulkan kehendak memberikan bantuan
melakukan TP pada pada pelaku langsung
pelaku langsung
MEDEPLEGEN DAN DOENPLEGEN
DALAM DELIK JABATAN
 Pendapat terbaru di Belanda
Hasil penelitian E. Sikkema dalam disertasi
tentang TP Korupsi:

Medepleger dan doenpleger tidak dapat


dipidana apabila ybs. tidak mempunyai
kualitas yang dipersyaratkan (sebagai
pejabat)
PENYERTAAN MUTLAK PERLU
(NOODZAKELIJKE DEELNEMING)
 Baru merupakan delik apabila pelakunya lebih dari 1
orang
contoh: TP Perzinahan, TP Penyuapan, TP Pasal 287
KUHP, TP Pasal 292 KUHP

• Bagaimana pemidanaan terhadap para pelakunya?


 KUHP menyebutkan secara tegas
pertanggungjawaban pidana setiap peserta yang
terlibat (contoh Pasal 284, Pasal 209 dan Pasal 418,
Pasal 419 KUHP)
 Dilihat dari sejarah pembentukannya dan tujuan
dibuatnya ketentuan (Pasal 287, Pasal 292 KUHP)
GABUNGAN TINDAK PIDANA
 Pokok persoalan dalam gabungan
melakukan tindak pidana adalah mengenai
bagaimana sistem pemberian hukuman bagi
seseorang yang telah melakukan delik
gabungan
TEORI YANG DIPERGUNAKAN UNTUK
MEMBERIKAN HUKUMAN BAGI PELAKU TINDAK
PIDANA GABUNGAN
1. Absorbsi Stelsel
Dalam sistem ini pidana yang dijatuhkan ialah pidana yang
terberat di antara beberapa pidana yang diancamkan. Dalam
hal ini seakan-akan pidana yang ringan terserap oleh pidana
yang lebih berat. Kelemahan dari sistem ini ialah terdapat
kecenderungan pada pelaku jarimah untuk melakukan
perbuatan pidana yang lebih ringan sehubungan dengan
adanya ancaman hukuman yang lebih berat. Dasar daripada
sistem hisapan ini ialah pasal 63 dan 64, yaitu untuk
gabungan tindak pidana tunggal dan perbuatan yang
dilanjutkan.
2. Absorbsi Stelsel yang Dipertajam.

Dalam sistem ini ancaman hukumannya


adalah hukuman yang terberat, namun
masih harus ditambah 1/3 kali maksimum
hukuman terberat yang disebutkan. Sistem
ini dipergunakan untuk gabungan tindak
pidana berganda dimana ancaman
hukuman pokoknya ialah sejenis. Adapun
dasar yang digunakan adalah pasal 65.
3. Cumulatie Stelsel

 Adalah sistem cumulasi yang semua


ancaman hukuman dari gabungan tindak
pidana tersebut dijumlahkan, tanpa ada
pengurangan apa-apa dari penjatuhan
hukuman tersebut. Sistem ini berlaku untuk
gabungan tindak pidana berganda terhadap
pelanggaran dengan pelanggaran dan
kejahatan dengan pelanggaran. Dasar
hukumnya adalah pasal 70 KUHP.
4. Cumulatie yang Diperlunak

Yaitu tiap-tiap ancaman hukuman dari


masing-masing kejahatan yang telah
dilakukan, dijumlahkan seluruhnya. Namun
tidak boleh melebihi maksimum terberat
ditambah sepertiganya. Sistem ini berlaku
untuk gabungan tindak pidana berganda,
dimana ancaman hukuman pokoknya tidak
sejenis. Adapun dasar hukum sistem ini
adalah pasal 66 KUHP.
 Dari keempat stelsel di atas yang sering
dipergunakan hanyalah tiga, yaitu sistem
absorbsi, absorbsi yang dipertajam, dan
cumulasi yang diperlunak. Sementara itu
cumulatie murni tidak pernah dipergunakan
dalam praktek, karena bertentangan dengan
ajaran samenloop yang pada prinsipnya
meringankan terdakwa.
JENIS-JENIS/BENTUK-BENTUK GABUNGAN TINDAK
PIDANA

 concursus ldealis atau Eendadse Samenloop


Satu tindakan yang dilakukan oleh seseorang yang
dengan tindakan tersebut terjadi dua/lebih tindak
pidana, perbarengan ketentuan pidana atau disebut
sebagai eendadse samenloop atau concursus realis
dan sering juga disebut sebagai perbarengan
tindakan tunggal yang dapat diperbedakan lagi antara
cocursus idealis homogenius dan concursus idealis
heterogenius sebagaimana dirumuskan dalam
perundangan.
Mengenai concursus Realis atau perbarengan
tunggal ini di dalam KUHP ditentukan dalam Pasal
63 KUHP yang berbunyi :
1. Jika suatu suatu tindakan masuk dalam lebih dari
satu ketentuan pidana, maka yang dikenakan
hanya salah satu dari ketentuan itu; jika berbeda
maka yang diterapkan adalah yang memuat
ancaman pidana. pokok yang paling berat.
2. Jika suatu tindakan masuk dalam suatu
ketentuan pidana umum, tetapi termasuk juga
dalam ketentuan pidana khusus, maka hanya
yang khusus itu diterapkan.
 Dikatakan perbarengan tindakan tunggal, apabila satu
tindakan terjadi dua/lebih tindak pidana. Dengan
perkataan lain, dengan tindakan yang sama telah terjadi
jadi tindak pidana lain. Contoh seseorang yang yang telah
melakukan suatu pemerkosaan di muka umum, selain
melanggar Pasal 285 KUHP, sekaligus merupakan
kejahatan melanggar kesusilaan Pasal 281 KUHP.
 Contoh lain, Seseorang dengan ancaman kekerasan
kepada pejabat, memberi pertolongan kepada tahanan
untuk melarikan diri sekaligus melanggar Pasal 223 dan
221 KUHP. Seseorang yang menembak A dengan kehendak
untuk membunuhnya, telah sekaligus melukai B karma
peluru yang mengenai A tembus kepada B, padahal ia tiada
kehendak untuk itu, maka pelaku tersebut telah melanggar
Pasal 338 KUHP dan Pasal 351 KUHP.
B. CONCURSUS REALIS ATAU MERDAADSE
SAMELOOP

 Dua atau lebih tindakan yang dilakukan oleh seseorang, yang


dengan itu telah terjadi dua kali atau lebih tindak pidana.
Tindak pidana ini disebut juga meerdadse samenloop atau
concursus realis sebagaimana dirumuskan dalam
perundangan.
 Mengenai Concursus Realis atau disebut juga sebagai
perbarengan jamak yang diatur di KHUP dapat disimpulkan
dari ketentuan Pasal-pasal 65, 66, 70 dan 70 bis. Dikatakan
perbarengan tindakan jamak atau perbarengan dua/lebih
tindakan, apabila tindakan-tindakan itu berdiri sendiri dan
termasuk dua/lebih ketentuan pidana yang dilakukan oleh
setiap orang.
 Tindakan-tindakan sejenis, tetapi bukan sebagai
perwujudan dari satu kehendak, dan dapat juga berupa
tindakan-tindakan beragam seperti:

1. Melakukan pencurian di rumah A pada hari Senin,


kemudian pada hari Rabu melakukan pencurian di rumah
B dan pada hari Sabtu melakukan pencurian di suatu
gudang. Pencurian-pencurian tersebut dilakukan bukan
dengan satu kehendak;
2. Melakukan pencurian pada hari pertama, penggelapan
pada hari ketiga dan penipuan pada hari ketujuh
3. Melakukan penghinaan pada hari pertama, penipuan
pada hari ketiga dan penadahan pada hari keenam
4. Melakukan kejahatan pada hari pertama, kemudian hari
melakukan pelanggaran-pelanggaran pada hari-hari yang
berurutan.
 Dalam KUHP perbedaan tindakan jamak ini disatu pihak
dikaitkan. dengan jenis pidana yang diancamkan dari
kepada kejahatan-kejahatan yang terjadi Pasal 65 dan 66
KUHP dan lain pihak dikaitkan dengan jenis tindak pidana
Pasal 70 dan 70 bis. Di Pasal 65 KUHP bertitik berat
kepada ancaman pidana yang sejenis (misalnya ; sama-
sama pidana penjara atau sama-sama pidana kurungan),
sedangkan di Pasal 66 KUHP bertitik berat kepada
ancaman pidana yang tidak sejenis. Di Pasal 70 KUHP
ditentukan bahwa perbarengan itu antara kejahatan dan
pelanggaran ataupun antara sesama pelanggaran, yang
kemudian dikaitkan dengan stelsel pemidanaannya. Dalam
hal ini kejahatan-kejahatan ringan sebagaimana ditentukan
di Pasal 70 bis, dipandang sebagai pelanggaran.
DELIK TERTINGGAL
 Suatu delik yang seharusnya merupakan bagian atau salah
satu delik dari delik berbarengan akan tetapi karena
sesuatu delik ini ditinggalkan atau tertinggal tidak ikut
sekaligus diperiksa. dalam persidangan pengadilan.
 Tertinggalnya delik ini mungkin karena belum diketahui
pada penyidikan delik lainnya ataupun mungkin juga
karena belum lengkapnya alat-alat pembuktiannya.
 Masalah delik tertinggal ini sangat penting, karena
ketentuan stel-stel pemidanaannya sama dengan delik
berbarengan yang disidangkan sekaligus
SISTEM PERADILAN PIDANA

 Sistem Peradilan Pidana adalah alat kontrol sosial di mana seluruh


komponen yang terlibat di dalam proses peradilan pidana berfungsi untuk
mengontrol berbagai macam bentuk kejahatan melalui peradilan pidana
sebagai suatu institusi sosial yang secara formal dirancang untuk merespon
akan kebutuhan tersebut.
 Komponen sistem peradilan pidana adalah Polisi, Jaksa, Hakim, Pegawai
Lembaga Pemasyarakatan dan Advokat.
 Integrated criminal justice system:
 Penyidikan oleh kepolisian
 Penuntutan oleh Kejaksaan
 Pemeriksaan sidang dan putusan oleh Kehakiman/pengadilan
 Pemasyarakatan oleh Lembaga Pemasyarakatan.
 Proses bekerjanya sistem peradilan pidana: sederhana, cepat, dan mudah.
 Sengketa Pidana merupakan sengketa antara
individu dengan masyarakat (Publik).
 Sistem hukum Indonesia mengikuti Civil law
system yang tidak mengenal adanya juri.
DASAR HUKUM PERADILAN PIDANA
 UUD 1945, khususnya yang menyangkut kekuasaan
kehakiman.
 UU No. 4 Tahun 2004 tentang Kekuasaan Kehakiman
 UU No. 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana
yang lebih dikenal dengan KUHAP
 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP)
 Peraturan perundang-undangan lain yang terkait serta
peraturan pelaksananya.
UNDANG-UNDANG YANG MENGATUR
DALAM SISTEM PERADILAN PIDANA

 UU No. 2 Tahun 2002 Tentang Kepolisian


Negara Republik Indonesia
 UU No. 16 Tahun 2004 Tentang Kejaksaan
Republik Indonesia
 UU No. 4 Tahun 2004 Tentang Kekuasaan
Kehakiman
 UU No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat
 UU No. 12 Tahun 1997 Tentang Lembaga
Pemasyarakatan.
AZAS SISTEM PERADILAN PIDANA
1. Azas Equality before the law
2. Azas Legalitas dalam upaya paksa
3. Azas Presumption of innocence
4. Azas Remedy and rehabilitation
5. Azas Fair, impartial, impersonal and objective
6. Azas Legal assistance
7. Azas Miranda Rule
8. Azas Presentasi
9. Azas Keterbukaan
10. Azas Pengawasan
TUJUAN SISTEM PERADILAN PIDANA
(MARDJONO REKSODIPURO)

1. Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan


2. Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi
sehingga masyarakat puas bahwa keadilan telah
ditegakkan dan yang bersalah dipidana
3. Mengusahakan agar mereka yang pernah
melakukan kejahatan tidak mengulangi lagi
kejahatannya.
KOMPONEN INTEGRATED CRIMINAL JUSTICE

1. Komponen yang bersifat struktural yaitu


kepolisian, kejaksaan, pengadilan, lembaga
pemasyarakatan.
2. Komponen substansial yaitu hukum pidana harus
dilihat dalam konteks sosial untuk keadilan
3. Komponen kultural yaitu ideologi, pandangan,
sikap dan bahkan falsafah yang mendasari
sistem peradilan pidana yang pada akhirnya
disebut dengan model.
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI JALANNYA
PENYELESAIAN PERKARA DI PENGADILAN
1. Faktor substansi – perkara
2. Faktor pencari keadilan
3. Faktor kuasa hukum
4. Faktor substansi hukum
5. Faktor kesiapan alat-alat bukti
6. Faktor sarana prasarana
7. Faktor budaya hukum
8. Faktor komunikasi dalam persidangan
9. Faktor pengaruh dari luar
10. Faktor aparat pengadilan
11. Faktor hakim
12. Faktor manajemen.
PRINSIP PELAKSANAAN PERADILAN
PIDANA

 Sederhana, maknanya bahwa proses yang tidak bertele-


tele, tidak berbelit, tidak berliku-liku, tidak rumit, jelas,
lugas, tidak interpretable, mudah dipahami, mudah
dilakukan, mudah dilaksanakan, mudah diterapkan,
sistematis, konkrit.
 Cepat, harus dipahami sebagai upaya strategis untuk
menjadikan sistem peradilan sebagai institusi yang dapat
menjamin terwujudnya/tercapainya keadilan dalam
penegakan hukum secara cepat.
 Murah, artinya harus ada jaminan bahwa keadilan tidak
mahal, keadilan tidak dapat dimaterialisasikan.
TUJUAN HUKUM PIDANA
 Teori Absolut (Vergeldingstheorie)
Hukuman dijatuhkan sebagai pembalasan
terhadap para pelaku karena telah melakukan
kejahatan yang mengakibatkan kesengsaraan
terhadap orang lain atau anggota masyarakat.
 Teori Relatif
 Menjerakan, diharapkan si pelaku tindak pidana
menjadi jera dan tidak mengulangi perbuatannya.
 Memperbaiki pribadi terpidana, diharapkan terpidana
merasa menyesal sehingga tidak mengulangi
perbuatannya dan kembali kepada masyarakat
sebagai orang yang baik dan berguna
AZAS HUKUM ACARA PIDANA

 Azas Umum
 Perlakuan yang sama di muka hukum tanpa diskriminasi apapun
 Praduga tak bersalah
 Hak untuk memperoleh kompensasi (ganti rugi) dan rehabilitasi
 Hak untuk mendapatkan bantuan hukum
 Hak untuk kehadiran terdakwa di muka pengadilan
 Peradilan yang bebas dan dilakukan dengan cepat dan sederhana
 Peradilan yang terbuka untuk umum
 Azas Khusus
 Pelanggaran atas hak-hak individu (penangkapan, penahanan, penggeledahan,
dan penyitaan) harus didasarkan pada undang-undang dan dilakukan dengan
surat perintah (tertulis)
 Hak seorang tersangka untuk diberitahu tentang persangkaan dan pendakwaan
terhadapnya, dan
 Kewajiban pengadilan untuk mengendalian pelaksanaan putusan-putusannya.
SEPULUH USULAN PEMBARUAN PERADILAN PIDANA

1. Perlunya Lay / Judges dalam Pengadilan


2. Technology Court
3. Stelsel Pasif
4. Disclosure system
5. Exclusionary rule
6. Praperadilan adalah habeas corpus
7. Special prossecutor
8. Procureur stelling
9. Impeachment
10. Mahkamah Agung sebagai puncak kedaulatan hukum.
PROSES PEMERIKSAAN PERKARA
PIDANA
1. Pemeriksaan perkara pidana berawal dari terjadinya tindak
pidana (delict) atau perbuatan pidana atau peristiwa pidana
yang berupa kejahatan atau pelanggaran.
2. Peristiwa atau perbuatan tersebut diterima oleh aparat
penyelidik (Polri) melalui:
1. Laporan dari masyarakat
2. Pengaduan dari pihak yang berkepentingan
3. Diketahui oleh aparat sendiri dalam hal tertangkap tangan
(heterdaad)
3. Penyelidik menentukan apakah suatu peristiwa atau
perbuatan (feit) merupakan peristiwa atau perbuatan pidana
atau bukan.
4. Jika dalam penyelidikan diketahui atau terdapat dugaan
bahwa peristiwa atau perbuatan tersebut merupakan tindak
pidana maka dapat dilanjutkan pada proses selanjutnya yaitu
Penyidikan.
5. Penyidikan dilakukan untuk mengusut, mencari, dan
mengumpulkan bukti-bukti agar terang tindak pidananya
dan untuk menemukan tersangkanya.
6. Polri pada dasarnya merupakan penyidik tunggal, namun
dalam kasus-kasus tertentu (tindak pidana bidang perbankan,
bea cukai, keimigrasian, dll) dapat dilibatkan penyidik
Pegawai Negeri Sipil, selain itu kewenangan penyidikan ada
pada jaksa apabila menyangkut kasus tindak pidana
ekonomi, korupsi atau subversi.
7. Penyidikan merupakan pemeriksaan pendahuluan
(vooronderzoek) yang dititikberatkan pada upaya pencarian
atau pengumpulan “bukti faktual” atau bukti konkret.
8. Proses penyidikan sering diikuti dengan tindakan
penangkapan dan penggeledahan, bahkan jika perlu dapat
diikuti dengan tindakan penahanan terhadap tersangka dan
penyitaan terhadap barang atau bahan yang diduga erat
kaitannya dengan tindak pidana yang terjadi.
9. Pemeriksaan terhadap saksi pada tingkat penyidikan tidak perlu
disumpah, kecuali jika saksi dengan tegas menyatakan tidak
dapat hadir dalam pemeriksaan di sidang pengadilan maka
saksi harus disumpah agar keterangannya mempunyai kekuatan
yang sama jika diajukan di pengadilan.
10. Hasil pemeriksaan terhadap tersangka dan saksi dituangkan
dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan dijadikan satu
berkas dengan surat-surat lainnya.
11. Apabila dalam pemeriksaan awal tidak terdapat cukup bukti
adanya tindak pidana, maka penyidik dapat menghentikan
penyidikan dengan mengeluarkan SP3 (Surat Perintah
Penghentian Penyidikan. Namun apabila bukti telah cukup
maka penyidik dapat segera melimpahkan berkas perkara ke
kejaksaan untuk proses penuntutan.
12. Jika BAP telah diterima Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan
dinyatakan telah sempurna, maka JPU segera melakukan
proses Penuntutan, namun apabila BAP dinyatakan oleh JPU
kurang sempurna akan dikembalikan kepada penyidik dengan
disertai catatan atau petunjuk tentang hal yang harus dilakukan
penyidik.
13. Hasil konkret dari proses penuntutan adalah surat dakwaan
yang didalamnya memuat:
1. Unsur-unsur perbuatan terdakwa
2. Waktu terjadinya tindak pidana (Locus)
3. Tempat terjadinya tindak pidana (Tempus delicti)
4. Cara-cara terdakwa melakukan tindak pidana
14. Proses penuntutan merupakan transformasi oleh JPU dari
peristiwa dan faktual yang disampaikan penyidik menjadi
peristiwa dan bukti yuridis.
15. Dalam proses penuntutan, penuntut umum menetapkan bahan-
bahan bukti dari penyidik untuk meyakinkan hakim dan
membuktikan dakwaannya dalam persidangan.
16. Terhadap tindak pidana penyertaan (deelneming) atau
concursus (samenloop) penuntut umum dapat menentukan
apakah perkara tersebut pemeriksaannya digabung menjadi
satu atau akan dipecah menjadi beberapa perkara.
17. Penuntut umum juga menentukan apakah perkara tersebut akan
diajukan ke pengadilan dengan acara singkat (sumir) atau
dengan acara biasa, hal ini biasanya tergantung dari kualitas
perkaranya.
18. Pengadilan dengan acara singkat yaitu pada hari yang
ditentukan oleh pengadilan akan langsung menghadapkan
terdakwa beserta bukti-bukti ke sidang pengadilan.
19. Pengadilan dengan acara biasa, yaitu penuntut umum
melimpahkan perkara ke pengadilan disertai dengan surat
dakwaan dan surat pelimpahan perkara yang isinya
permintaan agar perkara tersebut segera diadili.
20. Sebelum ke pengadilan, ada proses praperadilan yaitu
wewenang pengadilan untuk negeri untuk memeriksa dan
memutus tentang:
1. Sah atau tidaknya suatu penangkapan dan/atau penahanan
atas permintaan tersangka atau keluarganya atau pihak lain
atas kuasa tersangka.
2. Sah atau tidaknya penghentian penyidikan atau
penghentian penuntutan atas permintaan demi tegaknya
hukum dan keadilan
3. Permintaan ganti kerugian atau rehabilitasi oleh tersangka
atau keluarganya atau pihak lain atas kuasanya yang
perkaranya tidak diajukan ke pengadilan.
21. Apabila berkas perkara, terdakwa, dan bukti-bukti telah
diajukan ke pengadilan berarti proses pemeriksaan perkara
telah sampai pada tahap Peradilan. Tahap ini merupakan
tahap yang menentukan nasib terdakwa karena dalam tahap
ini semua argumentasi para pihak (penuntut umum dan
terdakwa/penasihat hukum) diadu secara terbuka dan
dikuatkan dengan bukti-bukti yang ada.
22. Asas yang berlaku adalah Pemeriksaan di sidang pengadilan
dilakukan oleh Majelis Hakim yang jumlahnya gasal, namun
dalam keadaan tertentu dapat dilakukan oleh Hakim Tunggal
atas izin dari Ketua Mahkamah Agung.
23. Yang diajukan oleh Jaksa Penuntut Umum:
1. Dakwaan
2. Tuntutan
3. Replik, dll
24. Yang diajukan oleh Terdakwa/Penasihat Hukum:
1. Eksepsi
2. Pembelaan
3. Duplik, dll
25. Terhadap putusan yang telah diambil oleh Majelis Hakim
semua pihak (Jaksa Penuntut Umum dan
Terdakwa/Penasihat Hukum) diberi kesempatan untuk
menyatakan sikap:
1. Menerima
2. Pikir-pikir
3. Mengajukan upaya hukum
4. Mengajukan grasi
26. Jika putusan telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap
(inkracht van gewijsde), maka putusan tersebut dapat segera
dilaksanakan (dieksekusi). Pelaksana eksekusi putusan
pengadilan dalam perkara pidana adalah jaksa.
27. Jika dalam amar putusan dinyatakan terdakwa bebas, maka
terdakwa harus dilepaskan dari tahanan dan dipulihkan hak-
haknya kembali seperti sebelum diadili.
28. Jika dalam amar putusan dinyatakan terdakwa dipidana
badan (penjara/kurungan), maka jaksa segera menyerahkan
terdakwa ke Lembaga Pemasyarakatan (LAPAS) untuk
menjalani hukuman dan pembinaan.
Tindak Pidana
(delict)

Pengaduan Tertangkap Tangan Laporan Ps. 1 Butir 24


Ps. 1 Butir 25 KUHAP
(klacht) (ambtshalve) (aangifte)
KUHAP

Vooronderzoek
Ps. 1 Butir 4 – 5 jo
Ps. 4 – 5 jo Penyelidikan
Ps. 102 – 105 KUHAP

Ps. 1 Butir 1 – 3 jo
Ps. 6 – 12 jo
Penyidikan Ps. 106 – 136 KUHAP
Ps. 14 b jo Ps. 110 Ay
(3) – (4) jo. Ps. 138 Prapenuntutan Ps. 1 Butir 6 – 7 jo
KUHAP Ps. 13 – 15 jo
Penuntutan Ps. 137 – 144 KUHAP

Ps. 1 Butir 8 – 9 jo
Ps. 1 Butir 10 jo
Ps. 145 – 232 KUHAP
Ps. 77 – 83 KUHAP

Eindonderzoek
Praperadilan
Peradilan
(Sidang Pengadilan)

Eksekusi
PERSONIL YANG TERLIBAT DALAM PERSIDANGAN PIDANA

1. Hakim / Majelis Hakim


2. Jaksa Penuntut Umum
3. Penasihat Hukum
4. Panitera / Paniter Pengganti (PP)
5. Terdakwa
6. Saksi / Saksi Ahli
7. Para Petugas yang Mendukung Kelancaran Jalannya
Persidangan:
1. Juru Sumpah
2. Juru Panggil
3. Petugas Pengawalan
4. Petugas Keamanan
TAHAP-TAHAP PERSIDANGAN PIDANA
1. Sidang Pertama
1. Hakim/Majelis Hakim Memasuki Ruang Sidang
2. Pemanggilan Terdakwa supaya Masuk ke Ruang Sidang
3. Pembacaan Surat Dakwaan
4. Pengajuan Eksepsi (keberatan)
5. Pembacaan/Pengucapan Putusan Sela
2. Sidang Pembuktian
1. Pembuktian oleh Jaksa Penuntut Umum
2. Pembuktian oleh Terdakwa/Penasihat Hukum
3. Pemeriksaan pada Terdakwa
3. Sidang Pembacaan Tuntutan Pidana, Pembelaan, dan
Tanggapan-tanggapan
1. Pembacaan Tuntutan Pidang (Requisitoir)
2. Pengajuan/Pembacaan Nota Pembelaan (Pleidooi)
3. Pengajuan/Pembacaan Tanggapan-tanggapan (Replik dan
Duplik)
4. Sidang Pembacaan Putusan
TATA CARA PERSIDANGAN
Perkara Biasa Perkara Singkat

1. Surat dakwaan dibuat secara 1. Dakwaan disampaikan secara lisan


tertulis dan diajukan ke berdasarkan catatan yang dibuat oleh
persidangan dengan cara Penuntut Umum
dibacakan oleh Penuntut Umum 2. Pada umumnya Eksepsi dan
2. Pada umumnya eksepsi dan Pembelaan disampaikan secara
pembelaan dibuat secara sederhana/lisan oleh terdakwa dan
sistematis tertulis dan diajukan ke atau penasihat hukum
persidangan dengan cara 3. Putusan tidak dibuat secara khusus,
dibacakan oleh terdakwa dan atau tetapi dicatat dalam Berita Acara
penasihat hukum Persidangan
3. Putusan dibuat secara khusus 4. Diupayakan seluruh tahap persidangan
dalam surat putusan dapat diselesaikan dalam satu hari
4. Keseluruhan tahap persidangan sidang
biasanya harus diselesaikan dalam
beberapa hari sidang
TATA CARA PERSIDANGAN PERKARA CEPAT SECARA
SINGKAT
1. Hakim membuka sidang dan memerintahkan pada panitera untuk membuka buku
register yang memuat catatan semua perkara yang diterimanya.
2. Hakim memerintahkan penyidik/petugas untuk memanggil para terdakwa yang
akan diperiksa agar masuk ke ruang sidang sesuai dengan urutan yang terdapat
dalam buku register.
3. Terdakwa pertama diperintahkan untuk duduk di kursi pemeriksaan, selanjutnya
hakim memerintahkan agar panitera membacakan identitas terdakwa dan apa
yang didakwakan padanya.
4. Acara dilanjutkan dengan pemeriksaan saksi-saksi dan barang bukti atau alat
bukti lainnya. Tata cara pemeriksaan saksi dan alat bukti lainnya sama dengan
tata cara pemeriksaan dalam perkara biasa/singkat, keculai dalam hal
penyumpahan, biasanya saksi dalam pemeriksaan perkara cepat tidak perlu
disumpah.
5. Hakim memberi kesempatan pada terdakwa untuk menggapi hasil pemeriksaan
atau mengajukan pembelaan.
6. Hakim menjatuhkan putusan dengan memperhatikan hasil pemeriksaan dan
selanjutnya hakim memberitahukan hak-hak terdakwa untuk menentukan sikap.
7. Terdakwa selanjutnya dipanggil dan diperiksa, diadili, dan dijatuhi putusan
sebagaimana terdakwa sebelumnya, demikian seterusnya sampai semua
terdakwa yang diajukan pada pemeriksaan cepat pada hari sidang tersebut habis.
8. Putusan-putusan tersebut dicatat oleh hakim dalam daftar catatan perkara dan
selanjutnya dicatat oleh panitera dalam buku register serta ditandantangani oleh
hakim dan panitera yang bersangkutan.
9. Sidang ditutup
Jaksa Hakim/ Terdakwa /
Penuntut Umum Majelis Hakim Penasihat Hukum

Sidang Dibuka
Dakwaan Eksepsi

Pertama
Tahap I

Sidang
Tanggapan (Replik) Tanggapan (Duplik)

Putusan Sela
Pemeriksaan Bukti Pemeriksaan Bukti

Pembuktian
Tahap II

• Saksi A Charge • Saksi A Decharge

Sidang
• Ahli • Ahli
• Surat • Surat
• Barang Bukti Pemeriksaan Terdakwa • Barang Bukti

Requisitor Pleidooi

Sidang Tuntutan
& Pembelaan
(Tuntutan Pidana) (Pembelaan)
Tahap III

Replik Duplik

(Musyawarah hakim, penilaian fakta,


penerapan hukum, dan penerapan sanksi)
Tahap IV

Putusan
Sidang
Pernyataan Sikap: Pernyataan Sikap:
- Menerima Putusan - Menerima
- Pikir-pikir - Pikir-pikir
- Upaya Hukum - Upaya Hukum

Sidang Ditutup
PENGADILAN YANG MENANGANI PERKARA PIDANA

1. Pengadilan Negeri
2. Pengadilan Anak
3. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
4. Pengadilan Hak Asasi Manusia
5. Pengadilan Perikanan
6. Pengadilan Militer
Komponen inti dari penegakan HUKUM
PIDANA adalah:
1. Peraturan Perundang-undangan yang baik,
2. Aparat penegak hukum yang bermoral, dan
3. Anggota masyarakat yang berkesadaran
hukum.
PLURALISME DALAM HUKUM PIDANA DI
INDONESIA
 1. Pluralisme Hukum
 2. Pluralisme Hukum Pidana

 3. Hukum Pidana Adat dan Pluralisme Hukum


Pidana (Contoh Pidana Adat Bali)
 4. Hukum Pidana Islam dan Pluralisme Hukum
Pidana (Pidana Islam di NAD)
 5. Penutup
PLURALISME HUKUM
 Adanya lebih dari satu sistem hukum yang secara bersama-
sama berada dalam lapangan sosial yang sama
 “Legal pluralism is generally defined as a situation in which two
or more legal systems coexist in the same social field” (Sally
Engle Merry)
 “… The presence in a social field of more than one legal order.”
(Grifiths)
 Dalam area pluralisme hukum terdapat hukum negara di satu
sisi dan di sisi lain adalah hukum rakyat (hukum adat, hukum
agama, kebiasaan-kebiasaan atau konvensi sosial lain yang
dipandang hukum)
Melalui pandangan pluralisme hukum :
 dapat menjelaskan bagaimanakah hukum yang beraneka
ragam secara bersama-sama mengatur suatu perkara. dalam
kenyataan terdapat sistem-sistem hukum lain di luar hukum
negara (state law).
 dapat diamati bagaimanakah semua sistem hukum tersebut
“beroperasi” bersama-sama dalam kehidupan sehari-hari.
 dapat diamati dalam konteks apa orang memilih (kombinasi)
aturan hukum tertentu, dan dalam konteks apa ia memilih
aturan dan sistem peradilan yang lain.
PLURALISME HUKUM LEMAH DAN
KUAT
 Pluralisme hukum lemah : bentuk lain sentralisme
hukum, meski pluralisme hukum diakui tetapi hukum
negara tetap dipandang sebagai superior, sementara
hukum yang lain disatukan dalam hirarki di bawah
hukum negara.
 Pluralisme hukum kuat : fakta adanya kemajemukan
tatanan hukum yang terdapat di semua kelompok
masyarakat. Semua sistem hukum yang ada
dipandang sama kedudukan dalam masyarakat, tidak
terdapat hirarki lebih tinggi dan rendah.
PERKEMBANGAN KONSEP LEGAL
PLURALISM
 Tidak menonjolkan dikotomi antar sistem hukum negara di
satu sisi dan sistem hukum rakyat di sisi lain
 Pluralisme hukum lebih menekankan pada : “a variety of
interacting, competing normative orders – each mutually
influencing the emergence and operation of each other’s rules,
process and institutions” (Kleinshans dan MacDonald).
 Pemikiran pluralisme hukum terakhir menunjukkan adanya
perkembangan baru, yaitu memberi perhatian kepada
terjadinya saling ketergantungan atau saling pengaruh
(interdependensi, interfaces) antara berbagai sistem hukum,
terutama antara hukum internasional, nasional, dan lokal.
PLURALISME DALAM HUKUM PIDANA
 Bagi kebanyakan sarjana hukum, kenyataan adanya sistem
hukum lain disamping hukum negara masih sulit diterima.
 Hal ini terutama dalam bidang hukum pidana; dan tidaklah
terlalu mengejutkan dalam bidang hukum perdata (mis.
Perikatan, perkawinan, kewarisan)
 Keberadaan asas Legalitas sebagaimana dikandung dalam
Pasal 1 (1) KUHP misalnya merupakan “benteng yang sangat
kuat” untuk menafikan keberadaan hukum pidana lain selain
hukum pidana negara.
 Meski demikian, dalam sejarah perkembangan hukum pidana
Indonesia, ada lebih dari satu sistem hukum pidana yang
digunakan yaitu hukum pidana barat (Belanda) sesuai WvS
dan Hukum Pidana Adat.
HUKUM PIDANA ADAT DAN PLURALISME HUKUM
PIDANA (CONTOH PIDANA ADAT BALI)
 Hukum pidana adat : tindakan yang melanggar perasaan keadilan dan
kepatutan yang hidup dalam masyarakat, sehingga menyebabkan
terganggunya ketentraman serta keseimbangan masyarakat. Untuk
memulihkan kentraman dan keseimbangan, maka terjadi reaksi adat.
 Jembatan yuridis untuk mengaktualisasi hukum pidana adat dalam
kerangka hukum pidana nasional adalah dalam pasal 5 (3) sub b UU No. 1
Drt 1951.
 Di Bali terdapat beberapa sumber hukum pidana adat yang tertulis.
 Berdasarkan tempat terjadinya tindak pidana adat dibagi menjadi dua :
tindak pidana adat yang dilakukan di tempat sudi (pura) dan tindak pidana
adat di luar tempat suci.
 Proses penyelesaian tindak pidana adat di Bali ada yang diselesaikan
melalui saluran formal yaitu melalui pengadilan (khususnya PN) dan
saluran informal (diselesaikan melalui lembaga adat).
 Di Bali, tindak pidana adat yang terjadi sebagian
besar diselesaikan di luar pengadilan.
 Dasar hukum yang digunakan dalam penyelesaian di
PN adalah KUHP atau Kitab Adi Agama jo Pasal 5 (3)
UU No. 1 Drt 1951.
 Sanksi adat yang dikenal : upacara pembersihan,
denda, minta naaf, dibuang, tidak diajak bicara, diusir,
dsb.
HUKUM PIDANA ADAT DALAM RUU KUHP
(DRAFT 2004)
 Pasal 1 (1) Tiada seorangpun dapat dipidana atau
dikenakan tindakan, kecuali perbuatan yang
dilakukan telah ditetapkan sebagai tindak pidana
dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku
pada saat perbuatan itu dilakukan.
 (3) Ketentuan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
tidak mengurangi berlakunya hukum yang hidup
dalam masyarakat yang menentukan bahwa
seseorang patut dipidana walaupun perbuatan
tersebut tidak diatur dalam peraturan perundang-
undangan.
PENJELASAN
PASAL 1 (3) RUU KUHP (DRAFT 2004)
 Adalah suatu kenyataan bahwa dalam beberapa daerah
tertentu di Indonesia masih terdapat ketentuan hukum yang
tidak tertulis yang hidup dalam masyarakat dan berlaku
sebagai hukum di daerah tersebut. Hal yang demikian terdapat
juga dalam lapangan hukum pidana yaitu yang biasanya
disebut dengan tindak pidana adat. Untuk memberikan dasar
hukum yang mantap mengenai berlakunya hukum pidana adat,
maka hal tersebut mendapat pengaturan secara tegas dalam
KUHP ini. Ketentuan dalam ayat ini merupakan pengecualian
dari asas bahwa ketentuan pidana diatur dalam perundang-
undangan. Diakuinya tindak pidana adat tersebut untuk lebih
memenuhi rasa keadilan yang hidup di dalam masyarakat
tertentu.
HUKUM PIDANA ISLAM DAN PLURALISME HUKUM PIDANA
(PIDANA ISLAM DI NAD)

 Otonomi Khusus Aceh


 UU No. 44 Tahun 1999 ttg Penyelenggaraan
Keistimewaan Provinsi Di Aceh
 UU No. 18 Tahun 2001 ttg Otonomi Khusus bagi
Provinsi NAD
 UU No. 11 Tahun 2006 ttg Pemerintahan Aceh
 Qanun
 Pergub
HUKUMAN CAMBUK
 Qanun No. 12/2003 ttg Khamr/ minuman
keras
 Qanun No. 13/2003 ttg Maisir / perjudian
 Qanun No. 14/2003 ttg Khalwat
 Pergub No. 10 tahun 2005 ttg Petunjuk
Pelaksanaan Teknis Hukuman Cambuk
 Hukuman cambuk antara lain telah diterapkan
di Bireun, Kuala Simpang, Banda Aceh, dan
Langsa.
 Implikasi dari penerapan syariat Islam sebagaimana
diatur dalam UU adalah dapat mengenyampingkan
peraturan sejenis yang mengatur hal yang sama.
 Sesuai UU No. 32/2004 dan UU No. 10/2004 Di
daerah lain Perda hanya dapat memuat tindak pidana
dengan jenis Pelanggaran dengan pidana kurungan
paling lama 6 bulan atau denda paling banyak Rp 50
juta. Tidak dikenal jenis sanksi pidana yang lain.
SYARIAT ISLAM DI ACEH
 syariat Islam yg diterapkan termasuk Jinayah (hukum pidana)
 Pasal 125 UU No. 11/2006
 Peradilan Syariat Islam diAceh adalah bagian dari sistem
peradilan nasional dalam lingkungan peradilan agama
 Salah satu kompetensi mahkamah Syariah adalah jinayah
(hukum pidana)  Pasal 128 UU No. 11/2006
 Ketentuan lebih lanjut mengenai Syariat Islam dan bidang yang
menjadi kompetensi Mahkamah Syariah serta hukum acaranya
diatur dalam Qanun
 Sebelum hukum acara sesuai Qanun ada maka hukum acara
pidana berlaku hukum acara pada peradilan umum
MASALAH PILIHAN HUKUM PIDANA?
PASAL 129 UU 11/2006
 (1) Dalam hal terjadi perbuatan jinayah yang
dilakukan oleh dua orang atau lebih secara bersama-
sama yang diantaranya beragama bukan Islam,
pelaku yang beragama bukan Islam dapat memilih
dan menundukkan diri secara sukarela pada hukum
jinayah.
 (2) Setiap orang yang beragama bukan Islam
melakukan jinayah yang tidak diatur dalam KUHP atau
ketentuan pidana di luar KUHP berlaku hukum
jinayah.
 (3)Penduduk Aceh yang melakukan perbuatan jinayah
di luar Aceh berlaku KUHP
HUKUM PIDANA DALAM QANUN
PASAL 241 UU NO.11/2006
 (2) Qanun dapat memuat ancaman pidana kurungan
paling lama 6 bulan dan/atau denda paling banyak
Rp 50 juta.
 (3) Qanun dapat memuat ancaman pidana atau
denda selain sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
sesuai dengan yang diatur dalam peraturan
perundang-undangan lainnya.
 (4) Qanun mengenai jinayah (hukum pidana)
dikecualikan dari ketentuan ayat (1), (2), dan ayat (3).
 Baik dalam pengakuan hukum pidana adat melalui
UU No. Drt 1 Tahun 1951 dan RUU KUHP maupun
pengakuan jinayah melalui UU No. 11/2006 sesuai
dengan pernyataan Von Savigny  “hukum itu tidak
dibuat , melainkan berada dan berkembang denagn
bangsa” serta Eugen Ehrlich  The positive law can
be effective only when it corresponds to the living law :
that is, when legal codes are based on underlying
social norms, or real live. In other words, law is to be
understood as part of the social order.”