Anda di halaman 1dari 17

Kelompok VI

Ines Tresya Br Ginting (4153230014)


Theresia Monica Lubis (4152230014)
Theresia Resha P Ningrum (4153141060)
.Pengertian kebudayaan

Berikut ini beberapa pengertian kebudayaan yang disampaikan oleh beberapa ahli:
1) E.B. Taylor dalam bukunya, “Primitive Culture” mengemukakan bahwa
kebudayaan merupakan keseluruhan yang kompleks yang didalamnya
terkandung pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat-istiadat
dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat seseorang sebagai anggota
masyarakat.
2) Ralph Linton dalam bukunya, “The Cultural Background Of Personality”
mengungkapkan bahwa kebudayaan merupakan konfigurasi dari tingkah
laku yang dipelajari dan hasil tingkah laku yang unsur-unsur penentuannya
dimiliki bersama dan dilanjutkan oleh masyarakat tertentu.
3) M. Jacobs dan B.J. Stem dalam bukunya, “General Antropology”
mengemukakan bahwa kebudayaan mencakup keseluruhan yang meliputi
bentuk teknologi, sosial, ideology, religi, dan kesenian serta benda yang
semuanya warisan sosial.
4) Prof Takdir Alisyahbana mengemukakan bahwa kebudayaan adalah
manifestasi cara berpikir manusia dan kebudayaan mengcakup keseluruhan
tingkah laku manusia dan seluruh perasaan manusia.
Sikap Terhadap budaya

Menurut Richard Niebuhr ada lima sikap terhadap
budaya yakni :
1. Sikap radikal
2. Sikap akomodatif
3. Sikap sintetik
4. Sikap dualistik
5. Sikap transformatif
Hubungan Iman dan Kebudayaan


Iman seseorang akan bertumbuh dan berkembang dalam
suatu budaya. Menurut para antropolog, kebudayaan adalah
keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia
dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan sebagai milik
melalui proses belajar.
Kebudayaan itu terwujud dalam tiga hal, yaitu
kebudayaan sebagai kompleks ide, gagasan, nilai, norma, dan
peraturan. Kedua kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas
kelakuan berpola manusia dalam masyarakat, dan ketiga,
kebudayaan dalam wujud benda-benda hasil karya manusia.
Sedangkan iman merupakan tanggapan personal seseorang pada
pewahyuan Allah
Paus Yohanes Paulus II dalam Catechesi tradendae
menegaskan bahwa katekese dan evangelisasi pada
umumnya diarahkan untuk membawa inti warta Injil ke
dalam hati setiap budaya dan kepada semua kebudayaan-


kebudayaan (no.53). Tetapi bukan berarti menyingkirkan
nilai-nilai budaya yang ada dalam tradisi setempat
melainkan menyampaikan ajaran kristiani melalui nilai-nilai
budaya itu. Dalam pesan Sinode 1977 mengatakan,
“inkarnasi iman yang sesungguhnya melalui katekese bukan
hanya proses memberi, tetapi juga menerima” (no. 5)
Relasi antara iman dan kebudayaan senantiasa
menjadi relasi yang dinamis, tidak pernah berhenti. Gereja
katolik bertumbuh dan berkembang dalam budaya sehingga
relasi antara iman dan kebudayaan terintegrasi dalam
sejarah perkembangan gereja katolik. Namun semua yang
ada dalam suatu budaya tidak diterima begitu saja, selalu
melalui proses dialog untuk menemukan “benang merah”
antara keduanya sehingga dasar ajaran kristiani dapat
diterima dengan baik.
Iman Bertumbuh dalam
Kebudayaan Setempat

Yesus dibesarkan dan mati dalam tradisi Yahudi. Para Rasul dalam
mewartakan Injil juga tidak terlepas dari Budaya Yahudi.
 Ia disunat seperti anak-anak orang Yahudi lainnya (Luk 1:23).
 Ia juga hadir di pesta perkawinan (Yoh 2:1-11).
 Ia membasuh kaki murid-murid seperti adat orang Yahudi (Yoh
13:1-5).
 Ketika Yesus mati dan dikubur, mereka memapani dan merempahi
mayat Yesus menurut adat orang Yahudi (Yoh 19:40).
Yesus tidak selalu menentang kebudayaan. Tetapi ketika kebudayaan
bertentangan dengan kehendak Tuhan dan tidak berfungsi melayani
manusia maka Yesus bersikap kritis terhadap kebudayaan(Mat 15:1-
14; Mrk 7:1-13).
 Yesus Mengeritik kebiasaan orang Yahudi mengenai Hari Sabat.
Yesus Mengatakan “Hari Sabat diadakan untuk manusia dan
bukan manusia untuk Hari Sabat” (Mrk 2:27).
Paulus menjadi tokoh yang mempelopori wajah
gereja yang tidak terikat pada keyahudian sehingga dapat
diterima oleh golongan non yahudi. Kristus menghendaki
gereja-Nya hadir di seluruh dunia. Kristus menghendaki

warta keselamatan itu diterima dan dialami oleh seluruh
dunia.
Gereja kemudian keluar dari batasan bangsa Yahudi
dan tersebar di wilayah kekaisaran Roma melalui pewartaan
Petrus dan terutama Paulus. Gereja mulai lepas dari
kungkungan tradisi dan budaya keagamaanYahudi,
misalnya soal sunat.
Usaha-usaha inkulturasi awal gereja tampak
misalnya dalam kotbah Paulus di Atena (Kis. 17: 22-31).
Paulus memperkenalkan iman Kristen melalui kekurangan
yang dialami dalam sistem kerpercayaan mereka. “Apa yang
kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan
kepada kamu (Kis. 17: 23).
Pandangan Gereja Katolik
terhadap Kebudayaan

Konsili Vatikan
II

Para Bapak
Konsili Vatikan
II

Kita sebagai
Umat Katolik
Indonesia
Konsili Vatikan II

Macam-macam kebudayaan bermanfaat untuk menyebarkan
dan menjelaskan berita Kristus (Gereja dan Dunia Modern,
artikel 58).
 Dalam artikel 59 : berdasarkan alasan tsb diatas, Gereja
memperingatkan semua orang, bahwa kebudayaan harus
diarahkan untuk penyempurnaan utuh pribadi manusia,
untuk kepentingan masyarakat dan seluruh umat
manusia.
 Dalam artikel 60 : Di samping tiu, harus diupayakan
dengan mendesak agar manusia menjadi radar baik akan
haknya atas kebudayaan, maupun akan tugas yang
mengikat dia untuk mengembangkan dirinya dan
membantu orang lain.
Para Bapak Konsili Vatikan
II

Dalam Konstitusi Pastoral tentang “Gereja dan Dunia
Modern” artikel 75 : “Semua orang Kristen hendaknya
merasakan panggilan yang khusus dan khas di dalam
masyarakat politik. Di dalamnya mereka harus menonjol
dengan teladannya, sejauh mereka terikat kepada tugas oleh
hati nuraninya dan melayani pengembangan kepentingan
umum sedemikian rupa, sehingga juga dengan fakta,
mereka membuktikan bagaimana wewenang diserasikan
dengan kebebasan, usaha pribadi, dengan kesetiakawanan
dan kebutuhan-kebutuhan seluruh tubuh masyarakat,
kesatuan yang baik dengan kebhinnekaan yang
bermanfaat”.
Kita sebagai Umat Katolik
Indonesia

Dalam “Pedoman Kerja Umat Katolik Indonesia” tahun 1971
no 6b, “Maka jelaslah bahwa kita orang Indonesia yang
beragama katolik, tak boleh menjauhkan diri dari orang
Indonesia yang beragama atau berkeyakinan lain; bahkan
sebaliknya kita harus bverusaha sekuat tenaga umtuk
melenyapkan segala macam pertentangan, Kita harus
bekerja sama di segala bidang kemasyarakatan dengan
golongan yang berlainan agama atau keyakinannya,
sehingga kita sungguh-sungguh merupakan satu bangsa
yang menuju ke kebahagiaan serta kesejahteraan
bersama”(Ndona, 2013).
Tinjauan Inkulturasi
dalam Teologi Agama
Katolik
Indigenisasi 

Kontekstualisasi

Inkarnasi
Rumusan inkulturasi

• Inkulturasi berarti mengintegrasikan nilai-nilai otentik
suatu kebudayaan ke dalam adat kebudayaan iman
Kristen. Arah ini bertitik tolak dari nilai otentik
kebudayaan kelompok etnis atau bangsa tertentu dengan
menggali unsur-unsur manakah yang bernilai positif,
yang dapat diintegrasikan dalam adat kebudayaan iman
Kristen.
• Inkulturasi berarti mengakarkan iman Kristen ke dalam
tiap-tiap adat kebudayaan bangsa manusia. Arah ini
bertitik tolak dari iman Kristen dan memikirkan
bagaimana iman Kristen dapat diwujudkan, dilaksanakan
secara konkret dalam tiap-tiap ada kebudayaan. (Daeng,
H.J, 1995)
Ragam Arsitektur Gereja
Katolik di Indonesia dalam
Proses Inkulturasi

Ragam Arsitektur Gereja
Katolik di Indonesia dalam
Proses Inkulturasi

Pengaruh Budaya dalam
Gereja Katolik

 Mayoritas umat Katolik di Cigugur dan sekitarnya
 Beberapa upacara adat yang khas adalah, upacara
maras, yakni memotong rambut bayi yang berusia 40
hari. Upacara ini dimaksudkan untuk menyatakan
bahwa bayi tersebut dibebaskan dari kotoran
(simbolnya rambut).
 Upacara lainnya adalah doa persiapan menjelang
perkawinan (di daerah Jawa Tengah dikenal dengan
istilah “midodhareni”, seperti pernah saya saksikan
dan ikuti dari dekat ketika masih tinggal di
Yogyakarta) (Sukmana,2014).

TERIMA KASIH