Anda di halaman 1dari 55
Kelompok 2 Modul Hematologi dan Onkologi dr. Indria Augustina, M.Si Nama Anggota : - Agnes Daniella
Kelompok 2
Modul Hematologi dan Onkologi
dr. Indria Augustina, M.Si
Nama Anggota :
-
Agnes Daniella
-
Desy Pustika Sari
-
Dian Triyeni Asi
-
Lini Maliqisnayanti
-
Pini Septiani
Pemicu 1 saya sakit apa yah?
Pemicu 1 saya sakit apa yah?

Seorang laki-laki berusia 33 tahun bekerja diperkebunan karet desa Balai Banjang, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah, datang ke rumah sakit dengan keluhan demam tinggi. Demam

sejak 12 hari sebelum masuk rumah sakit demam dirasakan tinggi

dan naik turun. Sebelum demam pasien menggigil kemudian demam diakhir berkeringat. Pasien juga mengeluh nyeri kepala, mual, muntah berisi makanan yang dimakan dan buang air kecil berwarna coklat kehitaman, pasien belum pernah sakit seperti ini dan di keluarga juga tidak ada yang menderita seperti pasien.

Kata Kunci  Laki-laki 33 tahun  Kerja diperkebunan karet desa Balai Banjang Kab.Kapuas
Kata Kunci
 Laki-laki 33 tahun
 Kerja diperkebunan karet desa Balai Banjang
Kab.Kapuas

Keluhan :

  • - Demam tinggi sejak 12 hari sebelum masuk RS

  • - Menggigil

  • - Nyeri kepala

  • - Mual

  • - Muntah

  • - BAK berwarna coklat kehitaman

  • - Riwayat keluarga tidak ditemukan.

Identifikasi Masalah  Laki-laki 33 tahun dengan keluhan demam naik turun disertai nyeri kepala, mual,muntah berisi
Identifikasi Masalah
 Laki-laki 33 tahun dengan keluhan demam naik turun disertai
nyeri kepala, mual,muntah berisi makanan, BAK berwarna

coklat kehitaman.

Analisis Masalah  Laki-laki 33 tahun Keluhan: Riwayat Sosial: - Demam naik Riwayat Penyakit Keluarga (-)
Analisis Masalah
 Laki-laki 33 tahun
Keluhan:
Riwayat Sosial:
- Demam naik
Riwayat Penyakit
Keluarga (-)

- Bekerja di perkebunan karet

turun sejak 12

hari

  • - Menggigil

  • - Nyeri kepala

  • - Mual

  • - Muntah

  • - BAK berwarna coklat kehitaman

Analisis Masalah  Laki-laki 33 tahun Keluhan: Riwayat Sosial: - Demam naik Riwayat Penyakit Keluarga (-)

Malaria Falciparum

Hipotesis Laki-laki 33 tahun berdasarkan keluhan riwayat sosial, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang mengalami Malaria Falciparum
Hipotesis
Laki-laki 33 tahun berdasarkan keluhan riwayat sosial, pemeriksaan
fisik dan pemeriksaan penunjang mengalami Malaria Falciparum
Pertanyaan Terjaring
Pertanyaan Terjaring

1. Diagnosis banding pada pemicu 2. Interpretasi data 3. Jelaskan mengenai malaria palcifarum 4. Jelaskan karakteristik plasmodium palcifarum 5. Hubungan riwayat tempat kerja dengan penyakit pada pemicu 6. Mekanisme demam 7. Bagaimana mekanisme urin berwarna coklat kehitaman 8. Komplikasi pada pemicu 9. Tatalaksana pada pemicu farmako dan non Farmako 10. Pencegahan pada pemicu 11. Prognosis pada pemicu

PEMBAHASAN KASUS
PEMBAHASAN KASUS
Diagnosis Definisi Etiologi Vektor Masa Tempat ber- Tanda dan Banding Inkubasi kembang Gejala vektor Demam Penyakit
Diagnosis
Definisi
Etiologi
Vektor
Masa
Tempat ber-
Tanda dan
Banding
Inkubasi
kembang
Gejala
vektor
Demam
Penyakit
Ke tubuh
Berdarah
yang
Dengue
disebabkan
oleh virus
dengue.
Virus dengue yang
termasuk dalam
genus Flavivirus,
keluarga
Flaviviridae dan
terdiri dari 4
serotipe, yakni
DEN 1, DEN 2,
DEN 3 dan DEN 4.
Gigitan vektor
nyamuk Aedes
aegypti dan
Aedes albopictus
manusia
4-10 hari.
ke tubuh
manusia .
Air, terutama
pada
penampung -
an seperti
ember, ban
bekas, bak
mandi, dan alas
pot bunga dan
sebagainya.
DEN 3 merupakan
serotipe terbanyak
di Indonesia.
Biasanya
nyamuk Aedes
menggigit pada
Demam bifasik yg
muncul tiba-tiba,
Mual muntah,
Ruam kulit,
Nyeri kepala serta
nyeri otot dan
tulang,
Fotofobia,
Leukopenia
dengan atau tanpa
trombositopenia.
siang hari.
  • - Panduan Praktik Klinis Dokter Pelayanan Kesehatan Primer. Edisi 1. IDI. 2013

  • - Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Edisi V. Internal Publishing. Jakarta Pusat : 2009.

  • - Kapita Selekta Kedokteran, Edisi IV. Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius, 2014.

Diagnosis Definisi Etiologi Vektor Masa Tanda dan Banding Inkubasi Tempat ber- kembang vektor Gejala Demam Infeksi
Diagnosis
Definisi
Etiologi
Vektor
Masa
Tanda dan
Banding
Inkubasi
Tempat ber-
kembang vektor
Gejala
Demam
Infeksi
Salmonella typi
10-14 hari
Minggu 1 :
Tifoid
sistemik akut
dan Salmonella
S. Typi masuk ke
dalam tubuh
manusia melalui
makanan dan air
yang tercemar.
Usus halus pada
jaringan limfoid
Demam, nyeri
yang
paratyphi.
plak Peyeri di
kepala, pusing,
disebabkan
oleh
bioserotipe A,
B, atau C.
ileum terminalis.
Salmonella
enterik
serotipe typi
atau
nyeri otot,
anoreksia, mual,
muntah, diare,
rasa tidak
nyaman pada
perut.
paratyphi.
Minggu ke-2 :
Gejala lebih jelas
dengan demam,
bradikardia
relatif, lidah
tifoid ( kotor
ditengah, tepi
dan ujung lidah
warna merah,
disertai tremor).
Hepatomegali,
splenomegali.
  • - Panduan Praktik Klinis Dokter Pelayanan Kesehatan Primer. Edisi 1. IDI. 2013

  • - Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid III, Edisi V. Internal Publishing. Jakarta Pusat : 2009.

  • - Kapita Selekta Kedokteran, Edisi IV. Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius, 2014.

Pemeriksaan Status Generalis Data Pemicu Keterangan K.U Tampak sakit berat Tidak normal Kesadaran Compos mentis (sadar
Pemeriksaan Status Generalis
Data
Pemicu
Keterangan
K.U
Tampak sakit berat
Tidak normal
Kesadaran
Compos mentis (sadar sepenuhnya)
Normal
Nilai GCS (15-14) : Composmentis
Tanda –tanda Vital :
TD
110 / 70 mmHg
(<120 / <80 mmHg)
Nadi
RR
Suhu
100x / menit
20x / menit
40,2 C
(70-80x/menit)
(16-20x/menit)
(36,5-37,5C)
Normal
Takikardi (meningkat)
Normal
hiperpireksia
(>40 – 41,5 °C)
Pemeriksaan Fisik Data Pemicu Keterangan Kepala Mata : Dalam batas normal, tidak ada deformitas. Normal -
Pemeriksaan Fisik
Data
Pemicu
Keterangan
Kepala
Mata :
Dalam batas normal, tidak ada deformitas.
Normal
-
Konjuctiva,
Anemis.
-
Sclera,
Tampak ikterus.
Leher
:
Dalam batas normal, tidak ada deformitas.
Normal
Paru (Thorax)
:
-
Inspeksi :
a.
Penampilan umum
Pernapasan tenang, biasa.
Normal
b.
Frekuensi
20x / menit
Normal
c.
Pola Pernapasan
Rasio Inspirasi / ekspirasi = 1 : 2
Normal
d.
Konfigurasi toraks
Tampak simetris
Normal
-Palpasi :
a.
Kulit dan dinding
dada
Kulit dan dinding dada tak nyeri tekan.
Normal
b.
Vocal Fremitus
Getaran suara pasien pada dinding toraks
Normal
(vocal fremitus) akan dirasakan sama kuatnya
pada tempat-tempat yang simetris.
-
Perkusi :
-Auskultasi :
Sonor
Suara nafas vesikuler (inspirasi lebih
keras, nada lebih tinggi dan 3x lebih
Normal
Normal
panjang dari ekspirasi)
Pemeriksaan Fisik Data Pemicu Keterangan Rhonki (-/-) Normal Wheezing (-/-) Normal Jantung : - Inspeksi :
Pemeriksaan Fisik
Data
Pemicu
Keterangan
Rhonki
(-/-)
Normal
Wheezing
(-/-)
Normal
Jantung :
-
Inspeksi :
a.
Ictus cordis tampak
atau tidak
Ictus cordis tidak terlihat
Normal
-
Palpasi :
a.
Letak ictus cordis
ICS kiri 5, agak ke medial (2 cm) dari linea
midklavikularis kiri.
Normal
b.
Ictus cordis teraba
atau tidak
Ictus cordis tidak teraba
Normal
c.
Getaran
Tidak ada
Normal
-
Perkusi :
a.
Batas jantung
Batas Atas: perlekatan iga IV kiri pd
sternum
Batas Kiri: sela iga V/iga ke VI kiri di
garis parasternal kiri
Batas Kanan: vertikal, sedikit di kanan
Normal
Normal
Normal
linea midsternalis.

Pemeriksaan Fisik

Data Pemicu Keterangan - Auskultasi : a. Bunyi jantung 1 Bunyi jantung pertama: panjang dan dempak
Data
Pemicu
Keterangan
- Auskultasi :
a.
Bunyi jantung 1
Bunyi jantung pertama: panjang dan
dempak “lub” (reguler)
Disebabkan menutupnya
katup atrioventrikular dan
kontraksi ventrikel (normal) .
b.
Bunyi janting 2
Bunyi jantung kedua: pendek dan
Disebabkan penutupan katup
tajam “dub”
aorta dan katup pulmonal
(reguler)
c.
Murmur
(-)
d.
Gallop
(-)
sesudah kontraksi ventrikel
(normal).
Normal
Normal
Abdomen :
- Inspeksi :
Normal
simetris
a.
Simetris/tidak
Normal
Benjolan (-)
b.
Ada benjola/tidak
- Auskultasi :
Bising usus ada (normal)
a.
Bising usus
Normal
-
Palpasi :
a.
Shifting dulness
(-)
Normal
b.
Acites
Normal
(-)
c.
Massa tumor
Normal
(-)
Pemeriksaan Fisik Data Pemicu Keterangan d. Nyeri tekan epigastrium (+) Normal e. Limfa teraba Normal (+)
Pemeriksaan Fisik
Data
Pemicu
Keterangan
d.
Nyeri tekan epigastrium
(+)
Normal
e.
Limfa teraba
Normal
(+)
f.
Hepar teraba
Normal
(+)
Ekstremitas atas :
-
Inspeksi :
(-)
a.
Petechiae
Normal
(-)
b.
Benjolan
Normal
-
palpasi :
a.
Oedem
(-)
Normal
b.
Akral
Normal
Hangat
Ekstremitas bawah :
-
Inspeksi :
(-)
a.
Petechiae
Normal
(-)
b.
Benjolan
Normal
-
palpasi :
a.
Oedem
(-)
Normal
b.
Akral
Hangat
Normal
HEMATOLOGI Data Normal Pemicu Keterangan Hemoglobin (Hb) Hematokrit (Ht) Eritrosit 13,3-16,2 g/dL 9,8 g/dL Menurun 38,8-46,4%
HEMATOLOGI
Data
Normal
Pemicu
Keterangan
Hemoglobin (Hb)
Hematokrit (Ht)
Eritrosit
13,3-16,2 g/dL
9,8 g/dL
Menurun
38,8-46,4%
30%
Menurun
4,3-5,6 juta/uL
3,6 juta/uL
Menurun
MCV
79-93,3 m³
79 m³
Normal
MCH
26 pg/sel
Menurun
MCHC
26,7-31,9 pg/sel
32,3-35,9 g/dL
33 g/dL
Normal
Leukosit
5000-10000/uL
9200/uL
Normal
Trombosit
150000-400000/uL
145000/uL
Menurun
Hapusan darah tipis
Tidak ditemukan
kelainan
Plasmodium bentuk
cincin dengan inti
Infeksi
plasmodium
ganda per eritrosit dan
falciparum

gametosit bentuk pisang

Tes Faal Hati Dan Ginjal Normal Pemicu Keterangan < 46 U/L 86 U/L Meningkat < 33
Tes Faal Hati Dan Ginjal
Normal
Pemicu
Keterangan
< 46 U/L
86 U/L
Meningkat
< 33 U/L
60 U/L
Meningkat
0,3-1,3 mg/dL
6 mg/dL
Meningkat
0,1-0,4 mg/dL
2 mg/dL
Meningkat
0,2-0,9mg/dL
4 mg/dL
Meningkat
0,6-1,2 mg/dL
6,4 mg/dL
Meningkat

Data

SGPT

SGOT

Bilirubin total

Bilirubin direk

Bilirubin indirek

Kreatinin

Urinalisis dan Sedimen Data Normal Pemicu Keterangan Warna urin Bening agak kuning Coklat Mengandung sel darah
Urinalisis dan Sedimen
Data
Normal
Pemicu
Keterangan
Warna urin
Bening agak kuning
Coklat
Mengandung sel darah
muda
kehitaman
merah yang rusak
(hematuria) dan hanya
mengandung hemoglobin
(hemoglobinuria)
Berat jenis
1,005-1,030
1,020
Normal
pH
4,5-8
6,5
Normal
Protein
-
1+
Proteinuria
Keton
-
1+
Ketonuria
Darah
Urobilinogen
Sedimen Eritrosit
-
+++
Perdarahan
0,05-25mg / 24 jam
32
Meningkat
0-2/LPB
0-2/LPB
Normal
Sedimen Leukosit
1-5/LPB
3-5/LPB
Normal
Plasmodium falciparum Plasmodium falciparum adalah protozoa, salah satu spesies Plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria pada manusia.
Plasmodium falciparum
Plasmodium falciparum adalah protozoa, salah satu
spesies Plasmodium yang menyebabkan penyakit malaria
pada manusia. Protozoa ini masuk pada tubuh manusia
melalui nyamuk anopheles betina. Plasmodium
falciparum menyebabkan infeksi paling berbahaya dan
memiliki tingkat komplikasi dan mortalitas malaria
tertinggi.
Morfologi • Trofozoit muda: berbentuk cincin, terdapat dua butir kromatin, bentuk marginal, sel darah merah tidak
Morfologi
• Trofozoit
muda:
berbentuk
cincin,
terdapat
dua
butir
kromatin, bentuk marginal, sel darah merah tidak membesar.
• Skizon: pigmen menggumpal di tengah. Skizon muda berinti
< 8 dan skizon tua berinti 8-24

Makrogametosit: berbentuk pisang agak langsing, inti padat di tengah, pigmen mengelilingi inti, sitoplasma biru kelabu.

Mikrogametosit: berbentuk pisang gemuk, inti tidak padat,

pigmen

mengelilingi

merahan

inti,

sitoplasma

biru

pucat

kemerah-

Daur Hidup
Daur Hidup
Epidemiologi Distribusi geografik
Epidemiologi
Distribusi geografik

Parasit ini ditemukan di daerah tropik, terutama di Afrika dan Asia Tenggara. Di Indonesia, parasit ini tersebar di seluruh kepulauan

• Malaria ditemukan 60 0 lintang utara sampai 32 0 lintang selatan, dari daerah ketinggian 2.666
• Malaria ditemukan 60 0 lintang utara sampai 32 0 lintang selatan,
dari daerah ketinggian 2.666 m (Bolivia 2.591 m) sampai daerah
433 m di bawah permukaan laut (Dead Sea).

Daerah yang sejak semula bebas malaria adalah Pasifik Tengah dan Selatan (Hawaii, Selandia Baru). Di daerah tersebut siklus hidup parasit tidak dapat berlangsung karena tidak ada

vektornya.

Derajat endemi diukur dengan angka limpa, dipakai patokan angka limpa anak-anak umur 2-9 tahun.

Perbedaan
Perbedaan
Karakteristik plasmodium falciparum  Ciri-ciri khas atau morphology Plasmodium Falciparum adalah sebagai berikut :
Karakteristik plasmodium falciparum
 Ciri-ciri khas atau morphology Plasmodium Falciparum adalah
sebagai berikut :

Bentuk Trophozoite :

Trophozoite muda berbentuk cincin kecil 0,1-0,3 kali eritrosit, inti terletak di tepi eritrosit, ukuran kira kira 2μ, warna merah lebih tipis

 Bentuk Schizonts : Schizonts muda mengisi kira kira separuh dari eritrosit, bentuk agak bulat, inti
 Bentuk Schizonts : Schizonts muda mengisi kira kira separuh
dari eritrosit, bentuk agak bulat, inti sudah membelah dan
pigmen malaria mulai tampak diantara inti. pigmen malaria
sudah menggumpal di bagian tengah sebelum Schizonts masak.

Bentuk Gametocyter. Mikrogametosit berbentuk pisang atau ginjal, tampak lebih gemuk, Plasma berwarna merah muda, inti lebih besar dan tidak padat, pigmen malaria tersebar diantara inti, plasma warna biru, inti kecil padat (kompak), letak di tengah, dan pigmen tersebar di sekitar inti.

Patogenesis • Malaria falsiparum berat :
Patogenesis
• Malaria falsiparum berat :

Malaria otak dengan koma Anemia berat Gagal ginjal Edema paru Hipoglikemia Syok Perdarahan spontan/DIC Malaria hemoglobinuria (blackwater fever)

Simptopatologi • Masa tunas instrinsik malaria falsiparum berlangsung antara 9-14 hari. Penyakitnya mulai dengan sakit kepala,
Simptopatologi
• Masa tunas instrinsik malaria falsiparum berlangsung antara 9-14 hari.
Penyakitnya mulai dengan sakit kepala, punggung dan ekstremitas,
perasaan dingin, mual, muntah atau diare ringan. Demam mungkun
tidak ada atau ringan dan penderita tidak tampak sakit; diagnosis pada

stadium ini tergantung dari anamnesis tentang kepergian penderita ke daerah endemi malaria sebelumnya.

Penyakit berlangsung terus, sakit kepala, punggung dan ekstremitas lebih hebat dan keadaan umum memburuk. Pada stadium ini penderita tampak gelisah. Demam tidak teratur dan tidak menunjukkan perioditas yang jelas. Keringat keluar banyak meskipun demam tidak tinggi.

Lanjutan ... • Nadi dan napas menjadi cepat. Mual, muntah dan diare menjadi lebih hebat, kadang-kadang
Lanjutan ...
Nadi
dan
napas menjadi cepat. Mual, muntah dan diare
menjadi lebih hebat, kadang-kadang batuk karena kelainan
paru-paru. Limpa membesar dan lembek pada perabaan.

Hati membesar dan tampak ikterus ringan. Kadang-kadang dalam urin ditemukan albumin dan torak hialin atau torak granular. Ada anemia ringan dan leukopenia dengan monositosis. Bila pada stadium dini penyakit dapat didiagnosis dan diobati dengan baik, maka infeksi akan dapat segera diatasi.

Pengobatan Skizontisida jaringan primer (std. Skizogoni hepatik) : Pyrimethamine, Proguanil  profilaksis kausal Skizontisida jaringan sekunder
Pengobatan
Skizontisida
jaringan
primer
(std.
Skizogoni
hepatik)
:
Pyrimethamine, Proguanil  profilaksis kausal
Skizontisida
jaringan
sekunder
(std.
Skizogoni
hepatik)
:
Primaquine  mencegah relapse dan gejala klinis
Skizontisida
darah
(std.
Eritrositik
aseksual)
:
Amodiaquine,

Chloroquine terapi supresif menghilangkan gejala klinis

Gametositosidal (std. Gametosit) : Primaquine, Pyrimethamine prevensi terhadap penularan

Terapi antimalaria Malaria tanpa komplikasi Malaria Lini pertama DH3+ P3 + PQ1 Lini kedua Malaria falciparum
Terapi antimalaria
Malaria tanpa komplikasi
Malaria
Lini pertama
DH3+ P3 + PQ1
Lini kedua
Malaria
falciparum
Dihydroartemisinin
+Piperaquin +
Q7 + D/T7+ PQ1
Quinine
+
Doxycycline
+
Primaquine
Primaquine
Doxy atau Tetracycline
Malaria
Dihydroartemisinin
(DH) + Piperaquin
DH3+P3+PQ14
Q7 + PQ14
vivax
(P)^ DHP

Malaria falciparum berat / dengan komplikasi

Lama

Kinin dihidroklorida drip

Baru

Artesunate iv

Artemether im

Pengobatan Malaria Falciparum dan Malaria Vivax ACT + Primakuin Lini pertama DHP + Primakuin Pengobatan Lini
Pengobatan Malaria Falciparum dan Malaria Vivax
ACT + Primakuin
Lini pertama
DHP + Primakuin
Pengobatan Lini Pertama Malaria falciparum menurut berat badan
dengan Dihydroaitemisinin + Pipeiakuin (DHP) dan Primakuin
Jimlah tablet |>erhari memin.it lierat 1} adan
<6 kg
0-10 hg
17 htj
18-30 kg
31-40 kg
41-59 kg
Mi0 kg
Hari
Jenis ol>at
□ -1 Bulan
2-11
■i -e tahun
5 - 9 tahun
10-14
> 15
> 15 Tahun
Bulan
Tahun
Tahun
1-3
1/4
1/2
1
2
-
-
3/4
2
1
 

4

DHP

1

Y*

3

Primakuin

1

Y*

2

3

Pengobatan Lini Pertama Malaria vivax menurut berat badan dengan Dihydroartemisinin + Pipeiakuin (DHP) dan Primakuin

     

Jimlah tablet |>erhari menurut l>erat badan

 

Hari

Jenis obat

<5 hg

4-10 hg

11-17 hg

18-30 h g

31-40 hg

41 -Mt h g

>_60 h g

0 -1

TT\

1 -4

5 - 9

 

10-14

> 15

> 15

Bulan

Bulan

tahun

tahun

Tahun

Tahun

Tahun

1-3

DHP

1/4

1/2

1

1

1 /=

 

2

 

3

4

1-14

Primakuin

-

-

 

1/4

 

1/2

 

3/4

1

1

Pengobatan Malaria Falciparum^ Kina + Doksisiklin / Tetrasiklin + Lini kedua Primakuin Hari Jenis obat <5kg
Pengobatan Malaria Falciparum^
Kina + Doksisiklin / Tetrasiklin +
Lini kedua
Primakuin
Hari
Jenis
obat
<5kg
Jumlah tablet perliari menurut kelompok berat badan
G-10kg 11-17ky 10-30kg 31-33kg 34-40kg 41-45 kg 46-60
>60
kg
kg
0-1
1 -4 tahun
5-9 tahun
> 15 tahun
W\4
>15
115
bulan
tahun
tahun
bulan
tahun
tahun
Hari
Kina
sesu
3x14
3x1
3x114
3 X
3x2
3 X 214
3 X
3x3
1-7
ai
114
214
BB
Hari
Primakui
3/4
11/2
2
2
2 3
3
1
n
Dosis Doksisiklin

Hari

Jenis obat

 

Jumlah tablet perliai i menurut kelompok berat badan

<5kg

G-10kg

20-20 kg

30-44 kg

45-50 kg

> G0 kg

0-1

1-8

> 8

10-14

> 15

> 15 ta h

bula

tahun

tahun

tahun

tahun

u n

n

Hari 1-

Doksisikl

-

-

2 x 2 5

2 x 5 0

2 x 7 5

2 x 1 0 0

7

in

m g

m g

m g

m g

Pengobatan malaria falcifarum pada ibu hamil Umur Kehamilan Pengobatan Trimest Kina tablet + Clindamycin er 1
Pengobatan malaria falcifarum pada ibu hamil
Umur Kehamilan
Pengobatan
Trimest
Kina tablet + Clindamycin
er 1
(0-3 bulan)
selama 7 hari
Trimest
er 1
(4-6 bulan)
ACT tablet selama 3 hari
Trimest
er 1
II (7-9 bulan)
ACT tablet selama 3 hari

Pengobatan malaria vivaks pada ibu hamil

Umur Kehamilan

Pengobatan

Trimester 1 (0-3 bulan)

Kina tablet selama 7 hari

Trimest

   

er 1

(4-6 bulan)

ACT tablet selama 3 hari

Trimest

   

er 1

II (7-9 bulan)

ACT tablet selama 3 hari

Malaria berat pada Ibu Hamil

Trimester II dan III: Artesunate iv atau Arthemeter im Trimester I: Kina dihidroklorida drip

Hubungan riwayat tempat kerja dengan penyakit pasien pada pemicu? Malaria tersebar di daerah-daerah subtropis dan tropis,
Hubungan riwayat tempat kerja dengan penyakit
pasien pada pemicu?
Malaria tersebar di daerah-daerah subtropis dan tropis, karena
di daerah tersebut sangat cocok untuk hidup dan berkembang
biak nyamuk Anopheles serta plasmodium dalam melengkapi
siklus hidupnya di dalam tubuh nyamuk.
Tumbuhan di areal hutan, sangat berpengaruh bagi kehidupan
nyamuk antara lain sebagai tempat meletakan telur pada
lubang pohon, tempat berlindung, tempat mencari makan dan
berlindung.
 Dan nyamuk Anopheles betina menggigit manusia atau hewan untuk perkembangan telurnya dan aktif mencari makan
 Dan nyamuk Anopheles betina menggigit manusia atau hewan
untuk perkembangan telurnya dan aktif mencari makan pada
malam hari mulai jam 18.00 hingga pagi jam 06.00, dengan
puncak gigitan untuk setiap spesies berbeda.
 Lalu tempat perkembangbiakan nyamuk dengan adanya

keberadaan sungai dan parit khususnya pada musim kemarau dijadikan tempat perindukan nyamuk (breeding places ) yang

dapat mempengaruhi populasi nyamuk yang pada akhirnya

berkontribusi terhadap penularan malaria.

Karakteristik wilayah yang merupakan daerah persawahan dan perkebunan kopi, karet, sawit serta adanya beberapa aliran sunga

kecil, terletak di sekitar bukit-bukit. Dengan gambaran geografis seperti ini merupakan daerah yang potensi sebagai breeding place dan resting place bagi vektor malaria.

MEKANISME DEMAM
MEKANISME DEMAM
MEKANISME URIN BERWARNA COKLAT KEHITAMAN Anemia terutama disebabkan oleh pecahnya eritrosit dan fagositosis oleh sistem retikuloendotetial.
MEKANISME URIN BERWARNA COKLAT
KEHITAMAN
Anemia terutama disebabkan oleh pecahnya eritrosit dan
fagositosis oleh sistem retikuloendotetial. Hebatnya hemolisis

tergantung pada jenis plasmodium dan status imunitas penjamu. Anemia juga disebabkan oleh hemolisis autoimun, sekuentrasi

oleh limpa pada eritrosit yang terinfeksi maupun yang normal

dan gangguan eritropoisis. Hiperglikemi dan hiperbilirubinemia

sering terjadi. Hemoglobinuria dan Hemoglobinemia dijumpai bila hemolisis berat.

Komplikasi Malaria  Komplikasi malaria umumnya disebabkan karena P.falciparum dan sering di sebut pernicious manifesiations. Sering
Komplikasi Malaria
 Komplikasi malaria umumnya disebabkan karena P.falciparum
dan sering di sebut pernicious manifesiations. Sering terjadi
mendadak tanpa gejalai gejala sebelumnya, dan sering terjadi

pada penderita yang tidak imun seperti pada orang pendatang dan kehamilan.

Komplikasi terjadi 5-10% pada seluruh penderita malaria yang dirawat di RS dan 2000 dari padanya merupakan kasus yang

fatal. Data di Minahasa insiden malaria berat ialah 6% dari kasus yang dirawat di RS dengan mortalitas lO-20%.

 Penderita malaria dengan komplikasi umumnya digolongkan sebagai malaria berat yang menurut WHO didefinisikan sebagai infeksi
 Penderita malaria dengan komplikasi umumnya digolongkan
sebagai malaria berat yang menurut WHO didefinisikan sebagai
infeksi P.falciparum dengan satu atau lebih komplikasi sebagai
berikut:
1)

Malaria Serebral (coma) yang tidak disebabkan oleh penyakit lain atau lebih dari 30 menit setelah serangan kejang; derajat penurunan kesadaran harus dilakukan penilaian berdasar GCS (Glasgow Coma Scale);

2) Acidemia/acidosis: pH darah< 7. 25 atau plasma biearbonate < 15 mmol/l, kadar laktat vena <>5 mmol/l, klinis pernafasan dalam / respiratory distress;

3) Anemia berat (Hb< 5 g dl atau hematokrit < 15%) pada keadaan parasit > 10. OOO/ul; bila anemianya hipokromik dan/atau miktositik harus dikesampingkan adanya anemia defisiensi besi, talasemia/ hemoglobinopati lainnya.

4). Gagal ginjal akut (urine kurang dari 400 ml/24-jam pada orang dewasa atau 12 ml/kg BB
4). Gagal ginjal akut (urine kurang dari 400 ml/24-jam pada orang
dewasa atau 12 ml/kg BB pada anak-anak) setelah dilakukan

rehidrasi, disertai kreatinin > 3 mg,/dl; 5). Edema paru non-kardiogcnik/ARDS (Adult Respitarory Distress Syndrome);

6). Hipoglikemi : gula darah < 40 mg/dl

7). Gagal sirkulasi atau Syok : tekanan sistolik <70 mmHg (anak 1- 5 tahun <50 mmHg); disertai keringat dingin atau perbedaan temperatur kulit-mukosa > 10 °C

8). Perdarahan Spontan dari hidung, gusi, saluran cerna, dan/ atau
8). Perdarahan Spontan dari hidung, gusi, saluran cerna, dan/ atau

disertai kelainan laboratorik adanya gangguan koagulasi intravaskuler; 9). Kejang berulang lebih dari 2 kali/ 24 jam;

10). Makroskopik hemoglobinuri oleh karena infeksi malaria akut

(bukan karena obat anti malaria/ kelainan eritrosit (kekurangan

G-6-PD);

11). Diagnosa past-mortem dengan ditemukannya parasit yang

padat pada pembuluh kapiler pada jaringan otak.

 Beberapa keadaan lain yang juga digolongkan sebagai malaria berat sesuai dengan gambaran klinis daerah setempat
 Beberapa keadaan lain yang juga digolongkan sebagai malaria
berat sesuai dengan gambaran klinis daerah setempat ialah:
1)
gangguan kesadaran ringan (GCS <15) di Indonesia sering

dalam keadaan delirium;

2)

3)

4)

5)

kelemahan otot (tak bisa duduk/ berjalan) tanpa kelainan neurologik;

hiperparasitemia >5% pada daerah hipoendemik atau daerah tak

stabil malaria; Ikterik ( bilirubin > 3 mg/dl) bila disertai gagal organ lain;

hiperpireksia (temperatur rektal > 40C) pada orang dewasa/anak.

Pencegahan pada Pemicu  Menghindari gigitan nyamuk, Tidur memakai kelambu, menggunakan obat nyamuk, memakai obat oles
Pencegahan pada Pemicu
 Menghindari gigitan nyamuk, Tidur memakai kelambu,
menggunakan obat nyamuk, memakai obat oles anti nyamuk,
pasang kawat kasa pada ventilasi, menjauhkan kandang ternak dari
rumah, kurangi berada di luar rumah pada malam hari.

Membersihkan

lingkungan,

Menimbun

genangan air,

membersihkan lumut, gotong royong membersihkan lingkungan

sekitar, mencegahnya dengan kentongan.

Menggunakan kelambu (bed net) pada waktu tidur, lebih baik lagi dengan kelambu berinsektisida.

Menggunakan pembasmi nyamuk, baik bakar, semprot maupun lainnya.

Hindari keadaan rumah yang lembab, gelap, kotor dan pakaian yang bergantungan serta genangan air.

TERAPI DIET:  Bentuk makanan sesuai dengan kemampuan pasien Dalam keadaan akut berikan diet cair dengan
TERAPI DIET:
 Bentuk
makanan
sesuai
dengan kemampuan pasien
Dalam keadaan akut berikan diet cair dengan tujuan untuk

mencegah dehidrasi dan mengganti elektrolit yang hilang. Contoh makanan cair seperti jus buah tanpa ampas, air kaldu

dan

teh.

Jika pasien sudah stabil dan dapat makan berikan Diet beragam

bergizi serta berimbang.

Porsi makanan sebaiknya kecil tapi sering untuk mengurangi gejala gastrointestinal. Terapkan prinsip diet lambung Hindari

makanan digoreng, kopi ,teh kental, dan alcohol.

 Berilah makanan yang kaya sumber zat besi. Selama transmisi malaria, parasit plasmodium memasuki aliran darah
 Berilah makanan yang kaya sumber zat besi. Selama transmisi
malaria, parasit plasmodium memasuki aliran darah dan
menghancurkan sel darah merah, yang merupakan sel-sel darah

yang penting untuk mengangkut darah yang kaya oksigen dari paru ke seluruh tubuh. Contoh Makanan kaya zat besi seperti daging merah, hati sapi, kacang-kacangan dan sayuran berdaun

hijau seperti bayam.

Prognosis  Prognosis pada malaria berat tergantung pada :  Kecepatan/Ketepatan. Diagnosis dan Pengobatan. Makin cepat
Prognosis
 Prognosis pada malaria berat tergantung pada :
 Kecepatan/Ketepatan. Diagnosis dan Pengobatan. Makin cepat dan
tepat dalam menegakkan diagnosis dan pengobatannya akan
memperbaiki prognosisnya serta memperkecil angka kematiannya.

Kegagalan Fungsi Organ. Kegagalan fungsi organ dapat tejadi pada malaria berat terutama organ-organ vital. Semakin sedikit organ vital yang terganggu dan mengalami kegagalan dalam fungsinya, semakin baik prognosisnya.

Kepadatan Parasit. Pada pemeriksaan hitung parasit (parasite count) semakin padat/banyak jumlah parasitnya yang didapatkan, semakin buruk prognosisnya, terlebih lagi bila didapatkan bentuk skizon dalam pemeriksaan darah tepinya.

Daftar Pustaka 1. Hardjoeno. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Diaggnostik. Cet 5. Makassar: Hasanuddin University Press, 2007.
Daftar Pustaka
1.
Hardjoeno. Interpretasi Hasil Tes Laboratorium Diaggnostik. Cet 5.
Makassar: Hasanuddin University Press, 2007.
2.
Kementrian Kesahatan Republik Indonesia. Pedoman Interpretasi Data Klinik
Tahun 2011. Available from: http://binfar.depkes.go.id [Diakses 29 April
2018]
3.
Kapita Selekta Kedokteran, Edisi IV. Jilid II. Jakarta : Media Aesculapius,
2014.
  • 4. Depkes RI. Ekologi dan Aspek Perilaku Vektor, Direktorat Jenderal PPM dan PLP Departemen Kesehatan RI,2007.

  • 5. Prabowo A. Malaria, Mencegah dan Mengatasinya. Jakarta: Puspa Swara;
    2004.

  • 6. JURNAL KEDOKTERAN SYIAH KUALA Volume 11 Nomor 2 Agustus 2011

  • 7. Soemarwo S. Malaria dalam Buku Ajar Infeksi dan Penyakit Tropis. Jakarta FK UI. 2002:442461.

  • 8. Harijanto. 2000. Malaria Epidemiologi, Patgenesis, Manifestasi Klinis dan Penanggulangan. EGC. Jakarta

TERIMA KASIH
TERIMA KASIH