Anda di halaman 1dari 25

MAHASISWA PKPA RUMAH SAKIT

UNIVERSITAS MUSLIM
INDONESIA

Presentasi Kasus
“Other Specified Postsurgical States
& Hipertensi”

Oleh :
Anissa Zoraya Fahril
Tumor
Tumor adalah istilah umum yang digunakan untuk menjelaskan adanya
pertumbuhan massa (solid/ padat) atau jaringan abnormal dalam tubuh. Massa ini
timbul sebagai akibat dari ketidak-seimbangan pertumbuhan dan regenerasi sel.
Selain itu juga biasanya tidak berguna dan tidak diperlukan oleh tubuh

Tumor jinak (benigna tumor)

Tumor
Tumor ganas (malignant tumor)
(kanker)
Manifestasi Tumor Otak

Gejala yang timbul pada pasien dengan kanker otak ter-gantung dari
lokasi dan tingkat pertumbuhan tumor. Kombinasi gejala yang sering
ditemukan adalah :
 pen-ingkatan tekanan intrakranial (sakit kepala hebat dis-ertai
muntah proyektil)
 defisit neurologis yang pro-gresif
 Kejang
 penurunan fungsi kognitif
Insiasi
proses yang terjadi ketika DNA berinteraksi dengan senyawa karsinogen
dan tidak dapat balik (irreversibel). Contoh karsinegen bisa berupa
bahan kimia, virus atau radiasi
Promosi
Pada tahap promosi, sel yang memiliki DNA yang sudah cacat (mutasi
DNA) mengalami pembelahan dan berkembang menjadi maligna
(ganas)
 Progresi
Tahap progresi merupakan tahap akhir dari karsinogenesasi yang
bersifat irreversibel dan dicirikan dengan kerusakan genetik yang
kompleks, instabilitas genomik, pertumbuhan sel yang tidak terkendali
Terapi Pengobatan Kanker

 Pembedahan, terutama untuk


tumor padat yang terlpkalisasi
 Rasiadi, pengobatan penunjang
sesudah pembedahan
 Kemoterapi, pengobatan tumor
yang tidak terlokalisasi
 Endokrinoterapi, penggunaan
hormon tertentu untuk
pengobatan tumor pada organ
yang poliferasinya tergantung
hormon
 Imunoterapi, berperan penting
dalam pencegahan
mikrometastasis
Nyeri
Menurut International Association for the Study of pain (IASP)
Task Force, Nyeri dapat digambarkan sebagai suatu pengalaman
sensorik dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan
dengan kerusakan jaringan yang sudah atau berpotensi terjadi.
Anestesia umum sering dilakukan pada berbagai macam prosedur
pembedahan dan terbagi atas anestesia inhalasi dan anestesia
intravena.
Kuantifikasi :
mengunakan skor penilaian Visual
Analog Scale (VAS), penilaian
fungsional, dan pengukuran biologis.
Penilaian derajat nyeri dapat
dilakukan dengan penilaian
kuantifikasi dan kulifikasi Kualitatif :
dengan melihat penampilan pasien,
meminta pasien untuk menjelaskan rasa
sakitnya, dan nilai nyeri untuk
memastikan analgesia yang tepat
Serotonin

Histamin

Plasmakinin
Mediator Nyeri (bradikinin)

Prostaglandin

Ionion Kalium

Zat-zat tersebut dapat mengakibatkan reaksi-reaksi radang


dan kejang-kejang dari jaringan otot yang selanjutnya
mengaktifkan reseptor nyeri
Visual Analog Scale (VAS)

Pada tumor otak, nyeri yang muncul biasanya adalah nyeri kepala.
Berdasarkan patofisiologinya, tatalaksana nyeri ini berbeda dengan
nyeri kanker pada umumnya. Nyeri kepala akibat kanker otak bisa
disebabkan akibat traksi langsung tumor terhadap reseptor nyeri di
seki-tarnya. Gejala klinis nyeri biasanya bersifat lokal atau radikular
ke sekitarnya, yang disebut nyeri neuropatik

pilihan obat nyeri adalah analgesik yang


tidak menimbulkan efek sedasi atau muntah
karena dapat mirip dengan gejala kanker otak
pada umumnya
Nonsteroidal anti-
inflammatory
drugs (NSAID)
Obat-obat
Analgetik
Analgetik Opioid
Hipertensi

Menurut American society of


hypertension (ASH) hipertensi adalah
suatu sindrom atau kumpulan gejala
kardiovaskuler yang progresif sebagai
akibat dari kondisi lain yang kompleks
dan saling berhubungan
Menurut JNC VII hipertensi adalah
peningkatan tekanan darah diatas 140/90
mmHg.
Patofisiologi
Tekanan darah dipengaruhi
oleh curah jantung dan tahanan
perifer. Mekanisme terjadinya
hipertensi adalah melalui
terbentuknya angiotensin II dari
angiotensin I oleh angiotensin I
converting enzyme (ACE).
ACE memegang peran
fisiologis penting dalam mengatur
tekanan darah. Darah mengandung
angiotensinogen yang diproduksi di
hati. Selanjutnya oleh hormon,
renin (diproduksi oleh ginjal) akan
diubah menjadi angiotensin I. Oleh
ACE yang terdapat di paru-paru,
angiotensin I diubah menjadi
angiotensin II.
Angiotensin II inilah yang
memiliki peranan kunci dalam
menaikkan tekanan darah melalui
dua aksi utama
Etiologi
• Genetik
• Obesitas
• Jenis kelamin
• Stres
• Kurang olahraga
• Pola asupan garam dalam diet
• Kebiasaan Merokok

Klasifikasi Tekanan darah menurut JNC 7

Klasifikasi TD Sistolik Diastolik


Normal <120 mmHg <80 mmHg
Pre Hipertensi 120-139 mmHg 80-89 mmHg
Hipertensi stage 1 140-159 mmHg 80-99 mmHg
Hipertensi stage 2 > 160 mmHg > 100 mmHg
Terapi Farmakologi

Diuretik ACEI Β-bloker

ARB CCB α-bloker

Agonis β2
Data Pasien

Nama Pasien Tuan P


Umur 59 tahun
Jenis Kelamin Laki-laki
Alamat Makassar
Cara Bayar BPJS
Ruang Inap Baji Ada II Kamar 311
MRS 02 April 2018
KRS 08 April 2018

Keluhan Utama Nyeri kepala sejak operasi


pengangkatan Tumor Otak
Diagnosa Awal other specified postsurgical states
Riwayat Penyerta Hipertensi
Diagnose Nyeri kepala sejak operasi
pengangkatan Tumor Otak
Hasil Pemeriksaan Fisik

HASIL PENGAMATAN
Nilai
No Data Klinik 7/4/1
Rujukan 2/4/18 3/4/18 4/4/18 5/4/18 6/4/18 8/4/18
8
Tekanan
120/80 170/10
1 darah 140/90 110/80 120/80 130/80 130/80 130/80
mmHg 0
(mmHg)
Pernapasan
2 16-24x/mnt 20 20 24 24 20 20 20
(kali/menit)

Denyut Nadi
3 70-80x/mnt 86 80 92 92 86 80 80
(kali/menit)
Suhu Badan
4 36,0-37,5oC 36 36,4 36,5 36 36 36 37,3
(°C)
5 Demam - - - - - - -
6 Nyeri 6 5 4 4 4
-
7 Sulit BAB - - - - + -

Keterangan:
+ = Dialami pasien
- = Tidak dialami pasien
Hasil Pemeriksaan LAB

No Pemeriksaan Nilai Normal Tgl 04/04/18

1 WBC 4,0-10,0 12,1


2 RBC 4,5-5,5 4,85
3 HGB 14-18 14,8
4 HCT 40-50 41,0
5 MCV 80-96 84,5
6 MCH 27-31 30,5
7 MCHC 32-37 36,1
8 PLT 150-400 176
9 RDW-SD 37,0-54,0 43,8
10 RDW-CV 11,5-14,5 13,6
11 PDW 10,0-18,0 9,7
No Pemeriksaan Nilai Normal Tgl 04/04/18
12 MPV 6,1-8,9 8,6
13 P-LCR 13-43% 16,1
14 PCT 0,15-0,5% 0,15
15 LYM % 5,6
16 LYM # 0,7
Keterangan:
Biru : Nilai di bawah normal
Merah : Nilai di atas normal
Penggunaan Obat
No Nama obat Dosis dan aturan Tanggal Pemberian Obat
pakai 2/4 3/4 4/4 5/4 6/4 7/4 8/4
1 RL 500 ml/20 tpm  
2 Nacl 0,9% 500 ml/ 20 tpm     
3 As. Tranexamat inj 500 mg/5 ml/8  
jam Iv
4 Ketorolac inj 30 mg/1 ml/8 jam    
Iv
5 Ceftriaxone inj 2 gr /12 jam Iv     
6 Ranitidin inj 25 mg/ml/12 jam    
Iv
7 Phenytoin inj 50 mg/ml/8 jam  
Iv
8 Dulcolax suppo 
9 Amlodipin tab 10 mg 1x1 oral 
10 Alprazolam tab 0,5 mg 1x1 oral 
11 Phenytoin caps 3x1   
12 Ranitidin 150 mg 2x1 oral 
13 As. Mefenamat 500 mg 3x1 
tab
14 Cefixime 200 mg 2x1 oral 
Pemantauan SOAP

Tgl Kondisi klinis (S/O) Masalah terkait obat Rekomendasi (Plan)


(Assesment)

2/4/18 Subjek : Ada indikasi tanpa terapi Karena adanya peningkatan


Pasien mengatakan cemas tekanan darah pasien sebesar
tentang penyakit dan rencana 170/100 maka perlu diberikan obat
tindakan operasi antihipertensi yaitu Amlodipin.

Objektif :
Ekspresi cemas
TD : 170/100 mmHg
P : 20
N : 86
S : 36
3/4/18 Subjek :  Pemberian Alprazolam tab  Alprazolam selain untuk
Pasien merasa cemas dengan untuk mengurasi rasa cemas mengurasi rasa cemas pasien
kondisi penyakitnya dan yang dirasakan oleh pasien sehingga membantu kontrol
proses operasi yang akan  Penggunaan amlodipin untuk Tekanan darah pasien.
dilaksanakan mengatasi peningkatan  melanjutkan pemberian
tekanan darah pasien Amlodipin untuk menurunkan
Objectif :  Pemberian ceftriaxone untuk tekanan darah pasien
TD : 140/90 mencegah terjadinya infeksi  Menyarankan penggantian
P : 20  Pemberian larutan Nacl infus Nacl dengan RL, bila tetap
N : 80 untuk mengembalikan ingin menggunakan cairan
S : 36,4 keseimbangan elektrolit infus Nacl maka rejimen
dosisnya bisa diturunkan
menjadi 10 tpm
4/4/18 Subjek :  Penggunaan ketorolac  Pemberian ketorolac injeksi
untuk penanganan nyeri harus dibarengi dengan
Pasien mengatakan nyeri luka yang dirasakan pasien pemberian ranitidin karena
post operasi  Pemberian obat ranitidin ketorolac dapat
Objektif : dianjurkan untuk meningkatkan sekresi asam
menghindari terjadinya efek lambung
Lemah, ekspresi meringis, nyeri samping obat ketorolac .
skala 6  Pemberian ceftriaxone  Harus ada uji sensitifitas dan
TD : 110/80 untuk mencegah terjadinya sebaiknya setiap pemberian
P : 24 infeksi antibiotik dalam bentuk
N : 92  Pemberian As. Tranexamat parenteral harus ada uji
S : 36,5 untuk menghindari kultur terlebuh dahulu
terjadinya pendarahan pada
saat operasi
5/4/18 Subjek :  Melanjutkan penggunaan  Nyeri belum teratasi
obat ketorolac namun terjadi penurunan
Pasien mengatakan nyeri luka
 Pemberian ceftriaxone skala nyeri yang dirasakan
post operasi
untuk mencegah pasien, lanjutkan
Objektif : terjadinya infeksi pemberian ketorolac.
 Pemberian phenytoin
Nyeri skala 5  Untuk menghindari
untuk menghindari
TD : 120/80 tejadinya syok pasca
terjadinya kejang pasca
operasi diberikan
P : 24 operasi
phenytoin yang merupakan
N : 92
obat dengan fungsi untuk
S : 36 mencegah dan mengontrol
kejang (juga disebut
antikonvulsan atau obat
antiepilepsi). Ia bekerja
dengan mengurangi
penyebaran aktivitas kejang
di otak. (pio binfar)
6/4/18 Subjek :  Penggunaan dulcolax untuk  Pasien mengeluhkan
konstipasi/ sulit BAB susah buang air besar,
Pasien mengeluhkan susah
yang merupakan efek
buang bair besar
samping obat ranitidin
Objektif : dan ketorolac yg
menyebabkan
Luka baik (luka besar), Nyeri
konstipasi sehingga
skala 4
perlu penggunaan obat
dulcolax suppo

 Terjadi penurunan
skala nyeri yang
dirasakan pasien,
lanjutkan pemberian
ketorolac.
7/4/18 Subjek : Nyeri luka  Terapi sama seperti hari  Melanjutkan terapi
sebelumnya seperti hari
Objektif : Nyeri skala 4
sebelumnya.
TD : 120/80

P : 24

N : 92

S : 36
8/4/18 Subjek : Phenytoin caps 3x1
Pasien masih masih Ranitidin 150 mg 2x1
mengeluhkan nyeri pada luka As. Mefenamat 500 mg
operasi 3x1
Cefixime 200 mg 2x1
Objektif :
TD : 130/80

P : 20

N : 80

S : 37,3
Sekian
Dan
Terima Kasih