Anda di halaman 1dari 58

Oleh:

dr. Nurul Aini Yudita

Pembimbing:
dr. Elfahmi, Sp.THT-KL

PROGRAM INTERNSIP DOKTER INDONESIA


RSUD SOLOK
2018
Epistaksis banyak Perdarahan bisa
dijumpai sehari-hari ringan sampai serius Setiap dokter harus
baik pada anak-anak dan bila tidak segera siap menangani kasus
maupun pada usia ditolong dapat tersebut
lanjut berakibat fatal

3
 Memenuhi syarat dari Program Internsip
Dokter Indonesia di RSUD Solok.
 Dapat menjadi salah satu panduan untuk para
pembaca mengenai epistaksis.

4
Gambar 1. Bagian luar hidung
Sumber : Buku Ajar Penyakit THT Boies Edisi keenam

6
Gambar 2. Potongan koronal melalui sinus dan orbita
Sumber : Buku Ajar Penyakit THT Boies Edisi keenam

7
Gambar 3. Vaskularisasi dinding lateral hidung
Sumber : Buku Ajar Penyakit THT Boies Edisi keenam

8
Gambar 4. Vaskularisasi septum nasi
Sumber : Buku Ajar Penyakit THT Boies Edisi keenam

9
Gambar 5. Inervasi hidung
Sumber : Buku Ajar Penyakit THT Boies Edisi keenam

10
 Fungsi respirasi
 Fungsi penghidu
 Fungsi fonetik
 Fungsi statik dan mekanik
 Refleks nasal

11
Epistaksis adalah perdarahan hidung,
bukanlah merupakan suatu penyakit,
melainkan sebagai gejala dari suatu kelainan.

12
Kelainan lokal Kelainan sistemik

Trauma Penyakit kardiovaskuler

Infeksi lokal Gangguan hormonal

Tumor Kelainan darah

Pengaruh efek perubahan tekanan


Infeksi sistemik
udara atau tekanan atmosfer

Kelainan kongenital

13
Epistaksis anterior. Perdarahan
biasanya ringan dan dapat berhenti
sendiri.

Epistaksis posterior. Perdarahan


lebih hebat, jarang berhenti
spontan. 14
- Anamnesis : sumber perdarahan dan riwayat
penyakit pasien yang menjadi penyebab
epistaksis
- Evaluasi sumber dan penyebab epistaksis
• Rinoskopi anterior
• Rinoskopi posterior
• Pengukuran tekanan darah
• Rontgen sinus
• Skrining terhadap koagulopati
• Skrining riwayat penyakit

15
3 prinsip utama :
 Menghentikan perdarahan
 Mencegah komplikasi
 Mencegah berulangnya epistaksis

16
Perhatikan keadaan Bila ada kelainan, atasi Pasang tampon sementara
umumnya, nadi, pernapasan terlebih dahulu kelainan selama 10-15 menit untuk
serta tekanan darahnya. tersebut. menghentikan perdarahan.

Setelah terjadi vasokonstriksi


biasanya dapat dilihat apakah Hentikan perdarahan sesuai
perdarahan berasal dari tatalaksana perdarahan
bagian anterior atau anterior atau posterior.
posterior hidung.

17
Kaustik pleksus Kisselbach Tampon anterior

18
 Blok ganglion sfenopalatinum
 Tampon posterior (tampon Bellocq)

 Ligasi arteri sfenopalatina

19
 Aspirasi darah ke dalam saluran nafas bagian
bawah
 Syok
 Anemia
 Gagal ginjal
 Infeksi -> akibat pembuluh darah yang
terbuka
 Rino-sinusitis, otitis media, septikemia atau
toxic shock syndrome
 Hemotimpanum
 Laserasi palatum mole atau sudut bibir

20
 Mencari penyebab epistaksis agar perdarahan
tidak berulang

21
Nama Tn. Y

No. RM 161562

Jenis Kelamin Laki-laki

Umur 42 tahun

Alamat Sijunjung

Pekerjaan Petani

Suku Minang

23
 Keluhan utama: Keluar darah dari kedua
lubang hidung sejak ± 12 jam sebelum masuk
RS.

 Keluar darah dari kedua lubang hidung sejak


± 12 jam sebelum masuk RS. Perdarahan
hilang-timbul. Perdarahan berhenti dengan
memencet hidung dan menyumpalnya
dengan tissue, tetapi selang beberapa jam
darah kembali keluar dari lubang hidung.
Keluhan seperti itu berulang terus sampai
saat pasien masuk IGD RSUD Solok. Total
volume perdarahan kira-kira membasahi 1
lembar tissue.
24
 Pasien rujukan dari RSUD Sijunjung dengan
diagnosis epistaksis posterior, terpasang tampon
di kedua hidung. Telah diberikan terapi IVFD
Ringer Lactate 20 tetes/menit, Ketorolac 2 x 1
ampul (IV), Ranitidin 1 ampul (IV), Cefotaxime 1
gram (IV), Asam traneksamat 500 mg (IV), dan
Vitamin K 1 ampul (IV).
 Hidung berair sejak ± 1 minggu yang lalu, cairan
putih encer.
 Hidung sering tersumbat sejak ± 1 bulan yang
lalu.

25
 Nyeri di pipi kiri sejak ± 1 bulan yang lalu.
 Riwayat membuang ingus dengan keras ada.
 Riwayat menggosok-gosok hidung ada.
 Demam tidak ada.
 Batuk tidak ada.
 Riwayat gusi berdarah tidak ada.

26
 Riwayat keluar darah dari hidung sebelumnya
tidak ada.
 Riwayat luka/ terbentur pada wajah atau
hidung tidak ada.
 Riwayat hipertensi disangkal.
 Riwayat diabetes mellitus tidak ada.
 Riwayat penyakit jantung tidak ada.
 Riwayat penyakit ginjal tidak ada.
 Riwayat penyakit kelainan darah tidak ada.

27
 Tidak sedang mengkonsumsi obat-obatan
antikoagulan seperti aspirin.

28
Riwayat Operasi : Tidak ada
Riwayat Keluarga :
Di keluarga tidak ada yang mengalami keluhan
serupa seperti pasien.

Riwayat Pekerjaan : Pasien seorang petani


Riwayat Kebiasaan : Pasien memiliki kebiasaan
menggosok-gosok hidung.

29
VITAL SIGN
 Keadaan umum : Tampak sakit sedang
 Kesadaran : CMC
 Tekanan Darah : 150/90 mmHg
 Nadi : 90 x/menit,
reguler
 Pernafasan : 20 x/menit
 Suhu : 36,8oC

30
Pemeriksaan Hasil
Kulit dan Selaput Dalam batas normal
Lendir
Kelenjar Getah Tidak teraba pembesaran KGB
Bening
Kepala Normocephal, rambut hitam
Mata Konjungtiva anemis -/-, sklera ikterik -/-
Leher KGB tidak teraba membesar
Toraks Normochest
Jantung S1S2 reguler, murmur -, gallop -
Paru Suara nafas vesikuler ki = ka, ronkhi -/-,
wheezing -/-
Abdomen Supel, NT (-), NL (-), bising usus (+) normal,
hepar dan lien tidak teraba
Ekstremitas Akral hangat, CRT < 2 detik

31
32
33
34
35
36
37
 Rinoskopi posterior : tidak dilakukan
pemeriksaan

38
39
40
 Laringoskopi indirek : tidak dilakukan
pemeriksaan

41
42
 Epistaksis anterior + Hipertensi stage I

43
 Pemasangan tampon sementara yang diikuti
dengan pemasangan tampon anterior
 IVFD Ringer Laktat 12 jam/ kolf
 Asam traneksamat 3 x 250 mg (IV)
 Vitamin K 3 x 1 ampul (IV)
 Vitamin C 3 x 1 tab (PO)
 Ceftriaxone 2 x 1 gram (IV)  skin test

44
 Ad vitam : dubia ad bonam
 Ad functionam : dubia ad bonam
 Ad sanationam : dubia ad bonam

45
Vital Sign & PF Diagnosis Penatalaksanaan
S: Keluar darah dari lubang Epistaksis anterior + - Pasang kembali tampon
Hipertensi stage I + septum
hidung kiri anterior
deviasi
O: Kes : CMC - Awasi tanda-tanda syok

TD : 110/60 mmHg - IVFD Ringer Laktat 12

HR : 88 x/ menit, reguler jam/ kolf

RR : 19 x/menit - Asam traneksamat 3 x

Suhu : 36,8oC 250 mg (IV)

Status lokalis : Hidung : - Vitamin K 3 x 1 ampul

KND : darah mengalir (-), (IV)

lapang, KI/ KM : eutrofi/ - Vitamin C 3 x 1 tab (PO)

eutrofi, septum deviasi (+) - Ceftriaxone 2 x 1 gram

KNS : darah mengalir (+) (IV)

47
Vital Sign & PF Diagnosis Penatalaksanaan
S: Keluar darah dari lubang Epistaksis anterior dalam - IVFD Ringer Laktat 12
perbaikan + Hipertensi stage I
hidung (-), demam (-). jam/ kolf
+ septum deviasi
O: Kes : CMC - Asam traneksamat 3 x

TD : 110/70 mmHg 250 mg (IV)

HR : 84 x/ menit, reguler - Vitamin K 3 x 1 ampul

RR : 18 x/menit (IV)

Suhu : 36,5oC - Vitamin C 3 x 1 tab (PO)

Status lokalis : Hidung : - Ceftriaxone 2 x 1 gram

KND : lapang, KI/ KM : (IV)

eutrofi/ eutrofi, septum - Rontgen sinus paranasal

deviasi (+) hari ini


KNS : terpasang tampon
anterior, darah mengalir (-)
48
Vital Sign & PF Diagnosis Penatalaksanaan
S: Keluar darah dari lubang Epistaksis anterior dalam - Aff tampon
perbaikan + Hipertensi stage I
hidung dan tenggorok (-), - Ciprofloxacin 2 x 500 mg
+ septum deviasi + sinusitis.
demam (-). (PO)
Hasil rontgen sinus paranasal
O: Kes : CMC
: Kesan : sinusitis maksila kiri - Paracetamol 3 x 500 mg

TD : 120/80 mmHg dan septum deviasi. (PO)

HR : 86 x/ menit, reguler
RR : 20 x/menit
Suhu : 36,8oC
Status lokalis : Hidung :
KND : lapang, KI/ KM :
eutrofi/ eutrofi, septum
deviasi (+)
KNS : terpasang tampon
anterior, darah mengalir (-)
49
Vital Sign & PF Diagnosis Penatalaksanaan
S: Keluar darah dari lubang Epistaksis anterior dalam - Boleh pulang
perbaikan + Hipertensi stage I
hidung dan tenggorok (-), - Pasang kembali tampon
+ septum deviasi + sinusitis
nyeri pada hidung (+), demam anterior di lubang hidung
(-). kiri sebelum pulang
O: Kes : CMC - Kontrol ke Poli THT

TD : 110/80 mmHg tanggal 20 Januari 2018

HR : 83 x/ menit, reguler - Ciprofloxacin 2 x 500 mg

RR : 20 x/menit (PO)

Suhu : 36,8oC - Paracetamol 3 x 500 mg

Status lokalis : Hidung : (PO)

KND : lapang, KI/ KM :


eutrofi/ eutrofi, septum
deviasi (+)
KNS : darah mengalir (-),
lapang, KI/ KM : eutrofi/
50
eutrofi, septum deviasi (+)
 Rontgen sinus paranasal

51
52
TEORI KASUS

Epistaksis merupakan Pasien ini kemungkinan mengalami


perdarahan hidung, epistaksis anterior karena darah
bukanlah merupakan suatu berhenti mengalir ketika dipasang
penyakit, melainkan sebagai tampon sementara yang dibasahi
gejala dari suatu kelainan. dengan kombinasi lidokain 2% topical
Sumber perdarahan dengan epinefrin 1/5000. Selain itu,
biasanya berasal dari bagian juga ditemukan sumber perdarahan di
anterior atau bagian bagian anterior hidung setelah
posterior hidung. Epistaksis dilakukan evaluasi sumber
anterior biasanya dapat perdarahan.
berhenti sendiri, sedangkan
epistaksis posterior
biasanya hebat dan jarang
berhenti dengan sendirinya.

53
Epistaksis dapat disebabkan oleh kelainan Pada pasien ini, epistaksis disebabkan oleh
lokal pada hidung atau kelainan sistemik. kelainan lokal pada hidung yaitu trauma,
Kelainan lokal dapat disebabkan oleh infeksi lokal, dan kelainan anatomi. Pasien
trauma, infeksi lokal, tumor, kelainan ini memiliki kebiasaan menggosok-gosok
kongenital, dan pengaruh efek perubahan hidung dan pernah membuang ingus
tekanan udara atau tekanan atmosfer. dengan keras yang menyebabkan trauma
Kelainan sistemik dapat disebabkan oleh pada hidung. Infeksi lokal dan kelainan
penyakit kardiovaskuler, gangguan anatomi pada pasien yaitu sinusitis dan
hormonal, kelainan darah, dan infeksi septum deviasi yang ditemukan dari gejala,
sistemik.1-4 pemeriksaan fisik, dan rontgen sinus
paranasal.

54
Selain itu, pada pemeriksaan fisik
didapatkan pasien menderita hipertensi.
Hal ini termasuk salah satu kelainan
sistemik penyebab epistaksis. Namun pada
pasien ini hipertensi bukan menjadi salah
satu penyebab karena perdarahan hidung
tidak hebat dan dapat berhenti setelah
dipasang tampon anterior. Riwayat
hipertensi sebelumnya juga disangkal oleh
pasien.
Diagnosis epistaksis ditegakkan Pada pasien ini ditegakkan diagnosis
berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik, epistaksis anterior.
dan pemeriksaan penunjang yang  Anamnesis :
dilakukan untuk mengevaluasi sumber dan - Keluar darah dari lubang hidung.
penyebab epistaksis. Pemeriksaan yang - Riwayat membuang ingus dengan
dapat dilakukan yaitu rinoskopi anterior, keras dan menggosok-gosok hidung.
rinoskopi posterior, pengukuran tekanan - Hidung berair dan sering tersumbat.
darah, rontgen sinus, skrining terhadap - Nyeri di pipi kiri.
koagulopati, dan skrining riwayat
55
penyakit.1,2,4
 Pemeriksaan fisik :
- Rinoskopi anterior : tampak sumber
perdarahan, septum deviasi (+).
 Pemeriksaan penunjang :
- Pemeriksaan darah rutin, ureum,
creatinin, dan gula darah sewaktu :
hasil dalam batas normal.
- Rontgen sinus paranasal : Kesan :
sinusitis maksila kiri dan septum
deviasi.

56
Prinsip penatalaksanaan epistaksis yaitu Pada pasien ini, keadaan umum baik.
perbaiki keadaan umum dengan Kemudian dipasang tampon sementara
memastikan keadaan hemodinamik dan yang dibasahi dengan kombinasi
patensi jalan nafas dalam kondisi baik, lidokain 2% topical dengan epinefrin
cari sumber perdarahan, dan hentikan 1/5000 selama 5-10 menit. Setelah itu
perdarahan.1,2,3,5 dicari sumber perdarahan dan
didapatkan perdarahan berasal dari
bagian anterior. Tatalaksana
selanjutnya adalah menghentikan
perdarahan dengan memasang tampon
anterior.
Selain itu, pasien juga ditatalaksana
medikamentosa berupa IVFD Ringer
Laktat 12 jam/ kolf, asam traneksamat 3
x 250 mg (IV), vitamin K 3 x 1 ampul
(IV), vitamin C 3 x 1 tab (PO), dan
57
ceftriaxone 2 x 1 gram (IV).

Anda mungkin juga menyukai