Anda di halaman 1dari 27

Ivan Hardtas Simanjuntak (041723143002)

Eko Budi Setiawan (041723143008)


Muhammad Faried Maulana (041723143012)
Kelompok Pemegang Saham (Investor)

Perusahaa
n Keluarga
Manajemen BUMN
yg Go
Public

Cont. Int.
NCI
(pemilik
(Publik)
Negara Publik
keluarga)

UPAYA PERLINDUNGAN TERHADAP NCI DAN ASING


Kesamaan Hak untuk Saham dengan Kelas yang
Sama

Beberapa contoh jenis saham:


 Saham Preferen
 Saham Dwiwarna - (di BUMN)
 Saham biasa

Kemungkinan yang dilakukan oleh Manajemen/Cont. Int.:


1. Perlakuan atau hak yang berbeda untuk kelompok pemegang saham
yang sama
2. Menyembunyikan informasi profil saham tertentu dari calon investor
3. Adanya penerbitan saham baru (seri baru) yang dapat merugikan
pemegang saham lama (seri lama).
Kesamaan Hak untuk Saham dengan Kelas yang
Sama (cont.)

Prinsip OECD ke -3, sub-prinsip A.1 atau yg tertuang dlm UU RI No 40 th


2007 tentang PT (Perseroan Terbatas), BAPEPAM -LK, dan KNKG bab V
sub-prinsip A.1. :
a. setiap saham dalam klasifikasi yang sama memberikan kepada
pemegangnya hak yang sama juga.
b. perusahaan harus mengungkapkan jenis saham dalam CALK agar calon
investor mengetahui jenis dan karakteristik saham perusahaan sebelum
melakukan pembelian saham.
c. prinsip one-share-one-vote, yg bermaksud perlakuan yang sama
kepada seluruh kelompok shareholder yang memiliki voting right.
d. shareholder berhak mengeluarkan suara dan diperlakukan setara
sesuai dgn jenis, klasifikasi dan jumlah saham yang dimiliki
Transaksi Dengan Pihak Berelasi yang Mengandung
Benturan Kepentingan

Definisi “transaksi pihak-pihak berelasi” adalah


Suatu pengalihan sumber daya, jasa atau kewajiban antara entitas pelapor
dengan pihak-pihak yang berelasi, terlepas apakah ada harga yang
dibebankan.
Contoh transaksi-transaksi yang dapat mengandung benturan kepentingan :
 Transaksi operasional dan rutin (penjualan pembelian barang atau jasa)
 Transaksi strategis (pendanaan, investasi, merger, dan lainnya)
 Transaksi dengan tujuan efisiensi (penghematan biaya
pemasaran/penjualan, swadaya bahan baku)

Ketika ada benturan kepentingan maka transaksi pihak


berelasi tersebut menjadi bersifat ABUSIVE
Transaksi Dengan Pihak Berelasi yang Mengandung
Benturan Kepentingan (cont.)

Controlling Interest PT. Amburadul

Jual barang
INVESTOR A

merugi ke PT.
Amburadul NCI PT. Acakadut

Significant Influence PT. Acakadut


Transaksi Dengan Pihak Berelasi yang Mengandung
Benturan Kepentingan (cont.)

OECD Prinsip ke -3, Sub-prinsip A.2.


1. Hak shareholder, khususnya NCI melakukan tuntutan hukum atas
tindakan manajemen dan/atau CI yang merugikan.
2. Hak shareholder untuk meminta Perseroan membeli saham yang
dimilikinya
3. Hak shareholder untuk mengajukan RUPS
4. Super-majority voting rule (kuota suara yang amat tinggi untuk
mengambil sebuah keputusan dalam RUPS, sehingga menurunkan
kemungkinan manajemen dan atau/CI mendominasi)
5. Hak shareholder untuk mengajukan pemeriksaan terhadap Perseroan
6. Pre-emptive rights (hak bagi shareholder lama utk membeli saham seri
baru)
7. Ketentuan disclosure dan persetujuan transaksi dengan pihak berelasi
yang mengandung benturan kepentingan
 Perdagangan yang melibatkan orang dalam dan transaksi abusive yang
memanfaatkan koneksi dari dalam perusahaan dilarang sesuai Prinsip OECD ke-3(B).

 Larangan tersebut ditujukan agar tidak terjadi kerugian bagi investor maupaun
perusahaan karena perubahan harga saham yang abnormal akibat insider trading
tersebut. Dampak yang lebih luas akibat insider trading tersebut yaitu dapat
menurunkan kredibilitas pasar modal serta tidak mencerminkan pasar yang effisien.

 Prinsip OECD ke-3(B) juga mewajibkan regulator untuk mengakkan hukuman atas
pelanggaran aturan tersebut.
UU PM Pasal 95
• Pembelian atau penjualan atas efek emitten atau perusahaan publik
• Pembelian dan penjualan atas efek perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan
emiten atau perusahaan publik; oleh orang dalam dari emiten atau perusahaan publik
yang bersangkutan dan memiliki informasi orang dalam
• Perdagangan oleh orang dalam juga mencakup upaya orang dalam yang
mempengaruhi pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas efek yang
dimaksud
• Memberi informasi orang dalam kepada pihak mana pun yang patut diduganya
dapat menggunakan informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau penjualan
atas efek
UU PM Pasal 97

• Transaksi yang dilakukan oleh pihak lain yang memperoleh informasi orang dalam dari
orang dalam dengan cara melawan hukum
 Dalam penjelasan atas pasal 95, orang dalam yang dimaksud UU PM adalah:

Komisaris, direktur, atau pegawai Emiten atau Perusahaan Publik

Pemegang saham utama Emiten atau Perusahaan Publik

Orang atau perseorangan karena kedudukan atau profesinya


memiliki hubungan usaha dengan emiten atau perusahaaan publik

Pihak yang dalam kurun waktu 6 bulan terakhir tidak lagi menjadi
pihak sebagaimana dimaksud poin 1, 2, dan 3 diatas
Saksi – Pasal 104 UU PM Mengenai pihak-pihak yang terlibat dalam perdagangan
orang dalam
• Atas keterlibatan dalam perdagangan oleh orang dalam terancam sanksi pidana
10 tahun penjara dan denda maksimum Rp 15 Milyar

Tuntutan Pemegang saham – Pasal 61 UU PT dan/atau Pasal 111 UU PM

• Pasal 61 UU PT memberikan hak pemegang saham untuk mengajukan gugatan


terhadap perseroan ke pengadilan negeri bila dirugikan akibat ketidakadilan
pasca keputusan RUPS, Direksi, dan/atau Dewan Komisaris
• Pasal 111 UU PM menyatakan bahwa pihak yang mengalami kerugian sebagai
akibat pelanggaran atas ketentuan di pasar modal dapat menuntut ganti rugi
kepada pihak yang bertanggung jawab atas pelanggaran tersebut

Pencegahan – Pedoman GCG Bab V - Tentang Pemegang Saham (2.4)

• Disebutkan bahwa Perusahaan tidak boleh memihak pada pemegang saham


tertentu dengan memberikan informasi yang tidak diungkapkan kepada pemegang
saham lainnya. Informasi harus diberikan kepada semua pemegang saham
Sub
Pencapaian Keterbatasan
Prinsip
Ketentuan Hukum : • Tidak ada batasan periode
• Melarang perdagangan oleh orang dimana Direksi dan Dewan
dalam Komisaris tidak diperbolehkan
• Definisi orang dalam melakukan perdagangan saham
• Melarang tindakan manipulasi pasasr perusahaan
• Mewajibkan pengungkapan • Jarang ditemukan penuntutan oleh
perdagangan oleh orang dalam pemegang saham atas pelanggaran
3.B
• Adanya regulator yang hak-hak yang terjadi
berkewenangan mengawasi dan • Dalam praktik, tidak semua
menegakkan hukum atas perdagangan, perdagangan oleh orang dalam
transaksi, manipulasi yang merugikan diungkapkan perusahaan
• Dalam praktik, terdapat bukti • Terdapat keyakinan bahwa
regulator untuk penegakan hukum atas perdagangan oleh orang dalam
pelanggaran tersebut dilakukan namun tidak terdeteksi
 Dalam membatasi upaya perdagangan oleh orang dalam berdasarkan Peraturan
Bapepam-LK X.K.1 mewajibkan emiten dan perusahan publik menyampaikan kepada
OJK dan mengumumkan kepada masyarakat selambat-lambatnya hari kerja ke-2
setelah diperoleh keputusan atau informasi atau fakta yang dapat mempengaruhi nilai
efek atau pemodal mencakup:
a) Penggabungan, peleburan, ataupun pembentukan usaha
b) Pemecahan saham atau pembagian dividen saham
c) Perolehan atau kehilangan kontrak penting
d) Produk atau penemuan baru yang berarti
e) Perubahan dalam pengendalian atau perubahan penting dalam manajemen
f) Pembelian atau kerugian penjualan aktiva yang material
g) Perselisihan tenaga kerja yang relatif penting
h) Tuntutan hukum baik kepada perusahaan dan atau direktur maupun komisaris
perusahaan
i) Perubahan tahun fiskal perusahaan
j) Penggantian Wali Amanat
k) Hal lain-lain yang bersifat penting dan berdampak luas terhadap pemangku
kepentingan perusahaan
 Terdapat dua permasalahan utama yang disinggung dalam bahasan ini yaitu:

1. Potensi penyalahgunaan hak suara oleh kustodian sebagai perantara investor


 Dalam kaitannya dengan kepemilikan saham, kustodian memiliki peran penting
dalam menyalurkan hak suara atas nama investor. Namun timbul potensi
penggunaan suara oleh kustodian tidak sejalan dengan kepentingan investor. Oleh
sebab itu perlu prinsip yang mengatur norma penggunaan hak suara oleh kustodian.
(Prinsip OECD ke-3(A.3))
2. Hambatan investor asing dalam penggunaan hak suaranya
 Investasi oleh investor asing melalui intermediaries lintas negara (cross-border)
memunculkan masalah berupa hambatan komunikasi dan waktu dalam
mempergunakan hak suaranya. Oleh sebab itu diperlukan norma untuk menekan
hambatan penggunaan hak suara oleh pemegang saham asing.
(Prinsip OECD ke-3(A.4))
Sub-Prinsip Pencapaian Keterbatasan
• Ketentuan hukum mewajibkan kustodian
menginformasikan RUPS yang akan
datang dan menyampaikan informasi
relevan terkait RUPS kepada pemegang
Kerangka CG belum mewajibkan
saham.
kustodian mengungkapkan
• Pemegang saham dapat mengarahkan
informasi tentang hak suara dan
pihak kustodian melakukan tindakan
3.A.3 kebijakan penggunaan hak suara
sesuai dengan kepentingannya.
tersebut kepada pemegang
• Menjamin pemegang saham dapat
saham jika tidak ada instruksi
mengeluarkan perintah yang mengikat
khusus dari pemegang saham.
tentang penggunaan hak suaranya oleh
pihak yang mewakili.
• Dalam praktik ketentuan di atas
dilaksanakan oleh kustodian.
Sub-Prinsip Pencapaian Keterbatasan
Ketentuan hukum atas:
• Larangan adanya perbedaan
partisipasi investor asing dalam pasar
modal.
• Kesamaan hak yang dimiliki baik
pemegang saham asing dan pemegang Belum ditemukan praktik
saham domestik. penggunaan sistem informasi untuk
3.A.4
• Pihak yang berhak menggunakan hak mendukung pemberian hak suara
suara. pada saat RUPS.
• Waktu yang memadai untuk
pengumuman pelaksanaan RUPS dan
pemanggilan pemegang saham.
Dalam praktik tidak ditemukan
pelanggaran atas ketentuan di atas.
Penerapan OECD ke-3.A.3

• Dalam UU PM mewajibkan kustodian menyampaikan informasi keseluruhan terkait


RUPS secara relevan kepada pemegang saham.
• Peraturan Bapepam-LK IV.A.3 mengatur hak dan kewajiban pemegang saham
terhadap kustodian termasuk kewajiban kustodian meneruskan informasi yang
relevan kepada pemegang saham.
• Ketentuan terkait sub prinsip A.3 belum diatur secara eksplisit dalam UU PT dan
pedoman umum GCG Indonesia.

Penerapan OECD ke-3.A.4

• Pasal 83 UU PT dan Peraturan Bapepam-LK IX.J.1 mengatur waktu pengumuman


RUPS paling lambat 14 hari sebelum pemanggilan, sedangkan aturan international
best practices yaitu 21 hari.
• Pasal 85 UU PT memungkinkan pemegang saham dapat mewakilkan kehadirannya
di RUPS.
• Pasal 77 UU PT memungkinkan penggunaan media elektronik berupa video
konferensi, dan yang lain dalam pelaksanaan RUPS.
 Dalam RUPS berbagai bahasan penting/strategis tentang perusahaan diputuskan.
Peran partisipasi pemegang saham dalam RUPS sangat penting dalam menentukan
arah kebijakan perusahaan, sehingga hal tersebut merupakan hak dasar pemegang
saham.

 Namun, manajemen dan/atau pemegang saham pengendali memiliki motivasi dan


peluang untuk membatasi pengaruh pemegang saham non-pengendali atau asing
terhadap berbagai keputusan strategis perusahaan termasuk membatasi partisipasi
dalam RUPS.

 Oleh sebab itu, diperlukan penerapan prinsip yang menjamin perlakuan setara
terhadap pemegang saham dalam proses dan prosedur RUPS sesuai Prinsip OECD ke-
3 (A.5)
Sub-Prinsip Pencapaian Keterbatasan
• Ketentuan hukum mengarahkan
pelaksanaan RUPS yang terencana
dengan baik (jadwal, tempat, agenda,
prosedur, dll).
• Ketentuan hukum mewajibkan Ketentuan hukum belum mengatur
diseminasi hasil RUPS secara tepat mekanisme tertentu dalam
3.A.5
waktu. penggunaan hak suara, terutama
• Dalam praktik, pemegang saham non- terkait isu-isu sensitif.
pengendali berpartisipasi aktif dalam
RUPS.
• Dalam praktik, tidak ditemukan
pelanggaran atas ketentuan di atas.
 Pedoman umum GCG tidak secara spesifik mengatur tentang perlakuan yang setara
kepada pemegang saham dalam RUPS
 Pada Bab V tentang Pemegang Saham, Pedoman Pelaksanaan 2.5 mewajibkan
perusahaan memberikan penjelasan lengkap dan informasi yang akurat mengenai
penyelenggaraan RUPS.
 Berikut ini secara lengkap Pedoman Pokok Pelaksanaan terkait penyelenggaraan
RUPS:
a) Pemegang saham diberikan kesempatan mengajukan usul mata acara RUPS sesuai
Undang2
b) Panggilan RUPS mencakup informasi mengenai mata acara, tanggal, waktu dan
tempat RUPS
c) Bahan mengenai pembahasan RUPS beserta risalah RUPS harus tersedia di kantor
perusahaan sebelum RUPS diselenggarakan
d) Penjelasan mengenai hal lain-lain yang berkaitan dengan RUPS dapat diberikan
sebelum dan/atau pada saat RUPS berlangsung
 Direksi dan Dewan Komisaris memiliki pengaruh yang besar terhadap
keputusan/tindakan yang dilaksanakan perusahaan. Namun muncul peluang baik
Direksi dan/atau Dewajn Komisaris mengutamakan kepentingan pribadinya dalam
keputusan/tindakan yang akan dilaksanakan oleh perusahaan.

 Kondisi tersebut menimbulkan benturan kepentingan yang berpotensi merugikan


perusahaan secara jangka panjang. Oleh sebab itu diperlukan upaya menangani
kemungkinan benturan kepentingan direktur dan/atau komisaris dengan kepentingan
perusahaan sesuai Prinsip OECD ke-3(C).
Sub-Prinsip Pencapaian Keterbatasan
3.C • Terdapat ketentuan hukum • Tidak ada pengungkapan khusus dari
yang mewajibkan Dewan Dewan Komisaris dan Direksi jika terdapat
Komisaris dan Direksi untuk benturan kepentingan terhadap transaksi
mengungkapkan adanya tertentu.
kepentingan langsung terhadap • Perlu peningkatan tanggung jawab
transaksi yang akan dilakukan Dewan Komisaris dan Direksi atas
perusahaan. pengawasan benturan kepentingan.
• Dalam praktik Dewan • Upaya pencegahan benturan kepentingan
Komisaris dan Direksi masih terbatas.
mengundurkan diri dari • Dalam praktik Direksi dan Dewan
pengambilan keputusan yang Komisaris tidak secara reguler
mengandung benturan menginformasikan bisnis, keuangan, dan
kepentingan. kepentingan bisnisnya.
• Masih banyak perusahaan yang tidak
memiliki kebijakan untuk menangani
benturan kepentingan.
 UU PT Pasal 99 ayat (1): melarang Direksi mewakili perseroan jika terdapat benturan
kepentingan antara Direksi dan Perseroan.
 UU PT Pasal 101: mewajibkan anggota Direksi melaporkan kepada Perseroan
mengenai saham yang dimiliki anggota Direksi yang bersangkutan dan/atau
keluarganya dalam Perseroan dan Perseroan lain untuk dicatat dalam daftar khusus
 Pedoman Umum GCG Bab III Tentang Etika Bisnis dan Pedoman Perilaku Bag.3.2
berupa:
a) Dalam menjalankan tugas dan kewajiban komisaris, direktur serta karyawan
senantiasa mendahulukan kepentingan ekonomis perusahaan diatas kepentingan
ekonomis individu.
b) Dilarang menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi, keluarga, dan pihak
lain.
c) Dalam pengambilan keputusan yang mengandung unsur benturan kepentingan pihak
yang bersangkutan dilarang ikut serta
d) Setiap elemen perusahaan yang memiliki wewenang pengambilan keputusan
diharuskan setiap tahun membuat pernyataan tidak memiliki benturan kepentingan
terhadap setiap keputusan yajng dibuat dan melaksanakan pedoman perilaku yang
ditetapkan.
Akuntan profesional dapat berperan aktif dalam
mewujudkan prinsip perlakuan yang setara terhadap
pemegang saham, diantaranya:
• Melakukan audit secara profesional, khususnya dalam memastikan pengungkapan
transaksi pihak berelasi sesuai dengan PSAK dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
• Membantu komisaris independen dalam melakukan reviu atas kewajaran transaksi
pihak berelasi.
• Merancang dan mengimplementasikan sistem informasi dan pengendalian yang
mendorong terciptanya perlakuan setara terhadap pemegang saham, khususnya
terkait transaksi pihak berelasi dan p[erdagangan orang dalam.
• Mengendalikan diri dan unitt/area yang menjadi tanggung jawabnya dari
keterlibatan perdagangan oleh orang dalam.
• Mendorong keterbukaan dan kewajaran dalam pengungkapan transaksi pihak
berelasi dan transaksi yang mengandung unsur benturan kepentingan.
 Hasil dari penilaian oleh IICD-ASEAN CG Scorecard tahun 2012-2013 menunjukkan
bahwa rerata skor untuk penerapan prinsip OECD ke-3 di Indonesia masih rendah.
Beberapa keterbatasan yang ditemukan pada tahun 2012 adalah:

a. Panggilan RUPS jarang disajikan dalam bahasa inggris


b. Informasi pendukung untuk menjelaskan agenda RUPS tidak tersedia atau tidak
mudah diperoleh
c. Sebagian besar perusahaan tidak memiliki atau tidak mengungkapkan keberadaan
kebijakan yang mewajibkan Dewan Komisaris ataupun Direksi untuk melaporkan
transaksi saham perusahaan yang dilakukannya dalam kurun waktu 3 hari setelah
transaksi
d. Sebagian besar perusahaan tidak memiliki atau tidak mengungkapkan keberadaan
kebijakan yang mewajibkan komite independen mereviu bahwa transaksi pihak
berelasi yang material dilakukan dalam kepentingan perusahaan
No Pokok Penilaian Kriteria Penilaian
Perlakuan Setara terhadap Pemegang Saham
1 Saham dan Hak Suara
2 Pengumuman RUPS
3 Pelarangan Insider Trading dan Abusive Self- Ya: 1
Dealing Tidak: 0
4 Transaksi Pihak Berelasi oleh Komisaris dan
Direksi
Perlakuan Setara terhadap Pemegang Saham (Bonus)
1 Pengumuman RUPS
Ya: Penambahan Nilai
2 Pelarangan Insider Trading dan Abusive Self- Tidak: 0
Dealing
Perlakuan Setara terhadap Pemegang Saham (Penalti)
1 Pelarangan Insider Trading dan Abusive Self-
Dealing Ya: Pengurangan Nilai
2 Perlindungan terhadap Pemegang Saham Tidak: 0
Minoritas dari Tindakan Abusive
PEMBAHASAN KASUS

PT SUMALINDO LESTARI TBK


Pembahan
Bukti PK
Kasus
3017.K .Pdt
PT Sumalindo
2011
Lestari Jaya