Anda di halaman 1dari 14

HIPEREMESIS GRAVIDARUM

Oleh :
Ramadhani nur fadila
1130015025
DEFINISI
• Mual dan muntah selama kehamilan yang terjadi antara
4 dan 8 minggu kehamilan dan terus berlanjut hingga
14-16 minggu kehamilan dan gejala biasanya akan
membaik. Mual dan muntah selama kehamilan dapat
berupa gejala yang ringan hingga berat. Mual dan
muntah adalah keluhan utama pada 70 %-80 %
kehamilan.
• Hiperemsis Gravidarum adalah mual dan
muntah yang berlebihan sehingga pekerjaan
sehari-hari terganggu dan keadaan umum ibu
menjadi buruk. (Sarwono Prawirohardjo, Ilmu
Kebidanan, 1999).
PATOFISIOLOGI
TANDA DAN GEJALA

1. Tingkatan I :
• Muntah terus menerus yang mempengaruhi keadaan umum
penderita, ibu merasa lemah, nafsu makan tidak ada, berat badan
menurun dan nyeri pada epigastrium. Nadi meningkat sekitar 100
kali per menit, tekanan darah sistol menurun turgor kulit berkurang,
lidah mengering dan mata cekung.
2. Tingkatan II :
• Penderita tampak lebih lemah dan apatis, turgor kulit lebih
berkurang, lidah mengering dan nampak kotor, nadi kecil dan
cepat, suhu kadang-kadang naik dan mata sedikit ikterus. Berat
badan menurun dan mata menjadi cekung, tensi rendah,
hemokonsentrasi, oliguri dan konstipasi.
LANJUTAN….
3. Tingkatan III:
• Keadaan umum lebih parah, muntah berhenti, kesadaran
menurun dan somnolen sampai koma, nadi kecil dan cepat,
suhu badan meningkat dan tensi menurun.
• Komplikasi fatal dapat terjadi pada susunan saraf yang dikenal
sebagai ensefalopati Wemicke, dengan gejala : nistagtnus dan
diplopia. Keadaan ini adalah akibat sangat kekurangan zat
makanan, termasuk vitamin B kompleks. Timbulnya ikterus
adalah tanda adanya payah hati
KOMPLIKASI
• Dehidrasi berat, ikterik, takikardia, suhu meningkat,
alkalosis, kelaparan gangguan emosional yang
berhubungan dengan kehamilan dan hubungan
keluarga, menarik diri dan depresi.
PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1. USG (dengan menggunakan waktu yang tepat) :
mengkaji usia gestasi janin dan adanya gestasi multipel,
mendeteksi abnormalitas janin, melokalisasi plasenta.
2. Urinalisis : kultur, mendeteksi bakteri, BUN.
3. Pemeriksaan fungsi hepar: AST, ALT dan kadar LDH.
PENATALAKSANAAN
1. DIET
• Diet hiperemesis I diberikan pada hiperemesis tingkat III.
• Diet hiperemesis II diberikan bila rasa mual dan muntah berkurang.
• Diet hiperemesis III diberikan kepada penderita dengan hiperemesis
ringan
2. OBAT-OBATAN
• Sedativa yang sering digunakan adalah Phenobarbital
• Vitamin B1 dan B6
• Antiemetik seperti Disiklomin hidrokhloride atau Khlorpromasin
• Anti histamin ini juga dianjurkan seperti Dramamin, Avomin.
LANJUTAN…
3. Terapi psikologik B
• Yakinkan pada penderita bahwa penyakit dapat disembuhkan,
hilangkan rasa takut oleh karena kehamilan, kurangi pekerjaan yang
serta menghilangkan masalah dan konflik, yang kiranya dapat menjadi
latar belakang penyakit ini.
4. Cairan parenteral
• Berikan cairan- parenteral yang cukup elektrolit, karbohidrat dan
protein dengan Glukosa 5% , dalam cairan garam fisiologik sebanyak
2-3 liter per hari
LANJUTAN…
5. Menghentikan kehamilan
Bila pegobatan tidak berhasil, bahkan gejala semakin berat hingga
timbul ikterus, delirium, koma, takikardia, anuria, dan perdarahan
retina, pertimbangan abortus terapeutik.
6. Isolasi
Penderita disendirikan dalam kamar yang tenang tetapi cerah dan
peredaran udara yang baik. Tidak diberikan makan/minuman
selama 24 -28 jam. Kadang-kadang dengan isolasi saja gejaia-
gejala akan berkurang atau hilang tanpa pengobatan
PEMERIKSAAN
• 1. Riwayat
a. Frekuensi muntah
b. Hubungan muntah dengan asupan makanan ( jenis dan jumlah )
c. Riwayat pola makan ( jenis makanan dan minuman , jumlah, waktu
pemberian, dan reaksinya)
d. Riwayat pengobatan ( termasuk reaksi obat)
e. Riwayat gangguan makan
f. Riwayat diabetes
g. Pembedahan abdomen sebelumnya.
h. Frekuensi istirahat
i. Kecemasan dalam kehamilan
LANJUTAN…
• 2. Pemeriksaan fisik
a. Berat badan ( dan hubungannya dengan berat badan sebelumnya)
b. Suhu badan , denyut nadi, dan pernafasan
c. Turgor kulit
d. Kelembapan membrane mukosa
e. Kondisi lidah ( bengkak, kering, pecah-pecah)
f. Palpasi abdomen untuk melihat pembesaran organ , dan nyeri tekan.
g. Pengkajian pertumbuhan janin.
• 3. Laboratorium
a. Pemeriksaan keton dalam urine
b. Urinalis