Anda di halaman 1dari 94

ILMU HUKUM TATA NEGARA

 Istilah Staatsrecht mempunyai dua


pengertian yakni :
 Hukum Tata Negara dalam arti luas
(staatsrecht in ruimere zin)
 Hukum tata Negara dalam arti sempit
(Staatsrecht in engere zin
 (Staatsrecht in ruimere zin ) meliputi
bidang-bidang hukum tata negara dan
hukum adminsitrasi negara (Staats en
administratief recht)

1
Istilah HTN dalam Bahasa Asing

 Inggris disebut Constitutional.


 Prancis disebut droit Constitutionnel
 Penyebutan untuk hukum tata
negara dalam bahasa Jerman
verfassungrecht sedang hukum
administrasi negara disebut dengan
istilah Verwaltungsrecht

2
Objek

 Hukum Tata Negara merupakan suatu cabang


ilmu yang objeknya adalah negara
 Cabang ilmu yang objeknya negara bukan hanya
hukum tata negara saja tetapi masih ada cabang
ilmu lainnya yaitu Ilmu Negara, Hukum
Administrasi Negara
 Hukum tata negara dan HAN meninjau negara
dalam pengertian yang kongkrit, artinya sudah
terikat oleh tempat waktu dan keadaan sehingga
telah mempunyai ajektif tertentu, misal Republik
Indonesia, Negara Jepang
3
Pengertian Hukum Tata Negara

 Wolhoff, hukum tata negara adalah norma-norma hukum yang mengatur


bentuk negara dan organisasi pemerintahannya, susunan dan hak- kewajiban
organ-organ pemerintahan.
 R. Bonard dalam bukunya Precis de Droit Publik menerangkan bahwa Hukum
Tata Negara itu meliputi ketentuan-ketentuan alat perlengkapan yang tertinggi
dari Negara, sedangkan Hukum Tata Usaha Negara meliputi ketentuan-
ketentuan mengenai tata usaha (administrasi) Negara dan alat alat-alat
perlengkapan administrasi dari Negara
 Logemann , Hukum Tata Negara adalah seragkaian kaidah hukum
mengenai pribadi hukum dari jabatan atau kumpulan jabatan di dalam
negara dan mengenai lingkungan berlakunya (gebied) hukum dari
suatu negara, sedangkan pribadi hukum jabatan meliputi serangkaian
persoalan

4
Pengertian HTN

 W.F. Prins memberikan pengertian bahwa Hukum Tata Negara


adalah mengenai hal-hal yang fundamental, asas-asas
(grondbeginselen) dari keseluruhan bangunan negara yang
langsung berkenaan dengan kesadaran hukum rakyat umum.
Sedangkan Hukum Tata Usaha Negara adalah mengenai aturan-
aturan teknis, yang langsung menyangkut pada pelaksanaan
khusus
 Van der Pot, Hukum Tata Negara adalah peraturan-peraturan yang
menentukan badan-badan yang diperlukan serta wewenangnya
masing-masing, hubungannya satu dengan yang lainnya serta
hubungannya dengan individu warga negara dalam kegiatannya.
 Moh. Kusnardi Dan Harmeily Ibrahim, Hukum tata negara dapat
dirumuskan sebagai sekumpulan peraturan hukum, yang mengatur
organisasi negara,hubungan antar alat perlengkapan negara dalam
garis vertikal dan horizontal serta kedudukan warga negara dan
hak-hak asasi manusia.

5
Pengertian HTN

 Usep Rana Widjaja, Hukum tata negara adalah hukum mengenai


organisasi negara pada umumnya (hubungan penduduk dengan
negara, pemilihan umum,kepartaian, cara menyalurkan pendapat dari
rakyat, wilayah negara, dasar negara, hak asasi manusia, lagu,
bahasa,lambang,pembagian negara atas kesatuan-kesatuan
kenegaraan dan sebagainya)mengenai sistem pemerintahan negara
(structure gouvernementale,mengenai politik kehidupan rakyat dalam
hubungan susunan organisasi negara, mengenai susunan, tugas dan
wewenang, perhubungan kekuasaan satu sama lain, serta
perhubungannya dengan rakyat, dari alat-alat perlengkapan
ketatanegaraan sebagai jabatn-jabatan tertinggi yang menetapkan
prinsip umum bagi pelaksanaan berbagai usaha negara.

6
Sistematika Hukum Tata Negara
 Untuk sampai pada ilmu harus melalui tahap pengetahuan yang
teratur termasuk materi-matri dalam lingkup objek pengetahuan
tersebut. Sifat keteraturan akan diperoleh apabila dilakukan
penyusunan dari unsur-unsur yang terkait dalam bidang atau
objek tertentu. Tanpa keteraturan akan sulit untuk merumuskan
pengertian pengertian yang mendekati keadaan yang
sebenarnya. Susunan yang teratur dan saling berhubungan
dari unsur-unsur pengetahuan dalam objek tertentu disebut
sistematika
 Di Belanda dalam mempelajari Hukum tata negara dikaji dari
urutan pasal-pasal UUD (grondwet). Fakta ini dikemukakan
berdasarkan pengalaman dari para pakar Hukum Tata negara
Belanda yaitu Van der Pot, Struycken dan Bosch Kemper.
 Krannenburg membuat sistematika hukum tata negara yang
penekanannya dari aspek fungsi, ditulis dalam buku yang
berjudul Het Nederland Staatrecht Sebagai berikut:
 lanjutan
7
Sistematika
1. Fungsi yang bersifat mengatur perikehidupan
kelompok, dan tentang cara berkelompok tertentu.
2. Fungsi yang bersifat pelaksanaan/perwujudan dari
hal-hal yang telah diatur tersebut.
3. Fungsi sebagai reaksi terhadap tingkah laku yang
bertentangan dengan peraturan-peraturan dan yang
akan mengganggu pelaksanaan dari maksud yang
dikandung dalam peraturan-peraturan tadi serta alat-
alat perlengkapan/organ yang bersangkutan dengan
fungsi-fungsi tadi.

8
Sistem Pengkajian Hukum Tata Negara

1. Sistem Formal ( Formale Stelselmatigheid), sistem ini


mengkaji, menyelidiki, menguraikan tentang berbagai
organisasi negara, menetapkan alat perlengkapan,
mengatur tugas kewajiban dan wewenang alat
perlengkapan negara.
2. Sistem Material ( Materiele Stelselmatigheid), sistem
ini menguraikan, menyelidiki tipe negara tertentu,
mempelajari faktor-faktor yang menyebabkan
kekhasan suatu negara tertentu dan masyarakat yang
bagaimana yang akan dibentuk. Pada bagian ini akan
diketahui tentang tipe negara dasar pemerintahan,
serta susunan masyarakat yang bagaimana yang
hendak diciptakan

9
3. Hukum Tata Negara Umum dan Hukum Tata Negara Positif
 Hukum tata negara dapat juga dibedakan menjadi hukum
tatanegara umum dan tata negara positif. Hukum tatanegara
umum membahas asas-asas, prinsip-prinsip yang berlaku umum,
sedangkan hukum tata negara positif hanya membahas yang
berlaku disuatu tempatdan waktu tertentu,sesuai dengan
pengertian hukum positif.
4. Hukum Tata Negara Statis dan Hukum Tata Negara Dinamis.
 Hukum tata negara dikatakan ilmu statis apabila negara yang
dijadikan objek besifat statis atau keadaan diam (staat in rust).
Hukum tata negara statis ini sering disebut hukum tata negara
dalam arti sempit, sedangkan hukum tata negara dalam arti luas
mencakup hukum tata negara dalam arti dinamis (staats in
bewenging), kajian ini masuk dalam bidang hukum Administrasi
Negara/hukum tata usaha negara/hukum tata Pemerintahan
dalam istilah Jerman disebut Verwaltungsrecht.

10
Letak Hukum Tata Negara dalam Sistem Hukum Indonesia
 Hukum Tata Negara termasuk salah satu dari hukum publik. Hukum
tata negara mengatur tentang kelembagaan negara, mengatur
hubungan hukum antara lembaga negara dengan negara, mengatur
hubungan hukum antara negara dengan warga negaranya. Setelah
melihat kedudukan hukum Tata negara tersebut maka jelas bagi kita
bahwa hukum tata negara merupakan cabang hukum yang tidak
dapat dipisahkan dari keseluruhan hukum yang ada dan berlaku di
Indonesia. Kalau kita mengatakan secara jujur bahwa hukum tata
negara adalah hukum yang menentukan tujuan dan arah kehidupan
suatu negara.
 R.M. Mac. Iver menggolongkan hukum dalam negara menjadi dua
golongan yaitu hukum konstitusi dan hukum biasa. Hukum konstitusi
adalah hukum yang memerintah Negara ( Constitutional Law),
sedangkan hukum biasa (Ordinary Law) adalah alat bagi negara
untuk memerintah. Dari pendapat tersebut akan lebih jelas bagi kita
bahwa kedudukan hukum tata negara lebih istimewa dari hukum-
hukum lainnya, sebab Hukum Tata Negara mempunyai landasan
dasar untuk berlakunya hukum-hukum yang lainnya dan juga
merupakan landasan kehidupan berbangsa dan bernegara .

11
Pendekatan Ilmu Hukum Tata Negara

 Orang pertama yang mencoba untuk menggunakan metoda


tersendiri dalam menulis Hukum Tata Negara adalah Paul
Laband dalam bukunya yang berjudul Das Staatsrecht des
Deutzenrecht. Seperti cabang ilmu hukum lainnya hukum tata
negara juga menggunakan pendekatan yuridis dalam arti
mencari persamaan dan perbedaan serta hubungan terhadap
objek yang diteliti didasarkan pada fakta-fakta dari lapangan
hukum itu sendiri
1. Peraturan –peraturan hukum yang beraneka ragam di bidang
hukum tata negara yang masing-masing berdiri sendiri, lalu
disusun untuk diambil suatu pengertian yang bersifat umum.
Metode pengambilan kesimpulan tersebut melalui deduksi.
Berdasarkan cara yang dilakukan oleh Laband untuk mengambil
pengertian umum dengan deduksi berdasarkan dogma, maka
metode yang terkenal metode yuridis dogmatis.
2. Metode Filosofis

12
2. Hukum tata negara berbicara tentang latar belakang yang
mendasar dari tiap-tiap hukum tersebut, hal ini tidak dapat
dilakukan tanpa menggunakan pendekatan filosofis (falsafah).
3. Untuk mengetahui keinginan masyarakat terhadap kemauan
politik dalam menyusun kelembagaan negera, maka perlu
dilakukan dengan pendekatan sosiologis untuk mengetahui fakta-
fakta yang senyatanya terdapat dalam kehidupan masyarakat.
4. Selain hal yang telah disebutkan tadi masih ada pendekatan yang
dapat dipergunakan dalam mengkaji hukum tata negara yakni
pendekatan sejarah (historis). Dalam hukum tata negara fakta
sejarah pada masa lalu mempunyai hubungan dengan fakta yang
ada sekarang dan masa yang akan datang. Sebagai contoh kalau
ingin mengetahui dan mengkaji UUD 1945, tidak dapat
memahaminya hanya dengan pendekatan yuridis formal saja
dalam arti hanya membaca teknya saja, tetapi juga harus tahu
situasi dan keadaan(suasana kebatinan) pada saat UUD 1945 itu
disusun

13
Hubungan Hukum Tata Negara dengan Ilmu Lainnya

1. Hukum Tata Negara dan Ilmu Negara


Objek penyelidikan ilmu negara adalah asas-
asas pokok dan pengertian pokok tentang
negara dan hukum tata negara pada
umumnya.
ilmu negara yang penting adalah nilai-nilai teorinya
merupakan seinswissenchaft, sedangkan hukum tata
negara dan hukum administrasi negara merupakan
suatu normativen wissenchaft.[1] Oleh karena itu
ilmu negara merupakan ilmu pengetahuan pengantar
untuk mempelajari hukum tata negara dan hukum
administrasi negara
[1] Syaiful Anwar. Op. Cit. hlm 13.

14
2. Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara

 di negeri Belanda ilmu ini disebut Staats en Administratief Recht


sebagai mata kuliah tersendiri.
 Buku-buku berbahasa inggris banyak juga ditemui judul
Constitutional and Administrative Law.
 Tetapi di jerman ilmu tersebut dibedakan sebagai dua cabang ilmu
yaitu Verfassungsrecht und Verwaltungsrecht. Pada dasarnya ilmu
tersebut dapat dibedakan.
 Hukum tata Negara mencakup pengertian hokum tata Negara
dalam arti sempit dan hukum administrasi negara. Menurut
Oppenheimer perbedaan keduanya dikaji dari objek negara dalam
keadaan dian (staat in rust) atau negara dalam keadaan bergerak
(staat in bewiging).[1] Selain itu dengan istilah yang berbeda Fritz
Werner menyatakan’’ Verwaltungsrecht als konretisiertes
Vervasungsrecht’’yaitu bahwa hukum administrasi negara itu adalah
huklum tata negara yang diletakkan dalam keadaan yang konkrit.[2]

[1] Jimly Ashiddiqie. Op.Cit. hlm 51.
 [2] Fritz Werner dalam Jimly Ashiddiqie. Ibid, hlm 51.

15
II. SUMBER HUKUM TATA NEGARA

 Pengertian Sumber Hukum


 apa itu sumber dan apa itu hukum
 kata sumber sering diartikan dasar atau asal
 sedangkan kata hukum diartikan serangkaian peraturan
yang bersifat mengikat dan memaksa dan pelanggaran
mana yang dilakukan akan mendapatkan sanksi hukum
 sumber hukum tersebut bertitik tolak dari peninjauannya
yang berbeda-beda, tergantung dari sudut pandang apa
yang menjadi titik beratnya untuk memeberikan pengertian
sumber hukum
 bagi seorang ahli ekonomi dalam meberikan pengertian
sumber hukum akan berbeda dengan seorang sosiolog,
kenapa demikian karena titik berat sudut pandang dalam
memberikan pengertian sumber hukum dari dua aspek
yang berbeda, oleh sebab itu akan menghasilkan suatu
pengertian yang berbeda pula

16
Sumber..

 sumber hukum yaitu faktor-faktor


berpengaruh terhadap timbulnya hukum,
yaitu asal hukum dan tempat hukum.
 oleh Paton : hukum mempunyai banyak arti
yang sering menimbulkan kesalahan-
kesalahan, kecuali kalau diteliti dengan
seksama mengenai arti tertentu yang
diberikan kepadanya dalam pokok
pembicaraan tertentu pula

17
Sumber hukum dilihat dari Pengertian

 Welbron, sumber hukum yang menyebabkan timbulnya hukum.


Keyakinan hukum orang-orang yang mempunyai peranan
menentukan sesuatu yang harus menjadi hukum dalam negara.
Oleh sebab itu, maka harus menyelidiki asal sumber nilai yang
menyebabkan timbulnya aturan hukum, termasuk hal-hal yang
mempengaruhi timbulnya hukum (keyakinan, rasa keadilan dan
perasaan hukum yang hidup dalam masyarakat).

 Kenbron, sumber hukum dari segi bentuk perumusan dari kaidah-


kaidah HTN yang terdapat dalam masyarakat, dan dari mana kita
dapat mengetahui apa yang menjadi sumber hukum itu. Dengan
kata lain menyelidiki asal dan tempat ditemukannya hukum. Yang
dimaksud asal hukum dalam hal ini siapa yang mengeluarkan
menetapkan aturan hukum ini, sedangkan tempat ditemukannya
hukum dilihat dari bentuk wujud peraturan hukum itu sendiri
misalnya UU, PP, Kepres atau bentuk lainnya

18
Pendapat para sarjana tentang sumber hukum

 Algra membagi sumber hukum menjadi dua yaitu;


– Sumber hukum materil adalah tempat dimana materi hukum itu diambil.
– Sumber hukum formail adalah merupakan atau sumber darima suatu peraturan
memperoleh kekuatan hukum.

 Van Apeldorn membedakan empat macam sumber hukum yaitu :


– Sumber hukum dalam arti historis yaitu tempat menemukan hukumnya dalam
sejarah atau dari segi historis.

– Sumber hukum dalam arti sosiologis (teleologis) faktor yang menentukan isi
hukum positif misal, misalnya keadaan agama dan sebagainya.

– Sumber hukum dalam arti filisofis dibagi menjadi dua


 1). Sumber isi hukum yakni darimana asal isi hukum.
 2). Sumber kekuatan mengikat dari hukum.

– Sumber hukum dalam arti formil yakni sumber hukum dilihat dari cara terjadinya
hukum positif yang merupakan fakta yang menimbulkan hukum yang berlaku dan
mengikat hakim maupun penduduk, isinya timbul dari kesadaran rakyat

19
sumber hukum pada dasarnya dapat dibedakan menjadi

1. Sumber hukum dalam arti materil:


 Yaitu keyakinan dan perasaan hukum dari individu dan pendapat
umum (public opinion) yang menentukan isi dari hukum. Seperti di
Indonesia hal tersebut dipengaruhi faktor sosiologis, historis dan
filosofis kesemuanya itu bersumber kepada Pancasila yang
merupakan Staatsfundamental norm inilah yang merupakan sumber
hukum materil.
2. Sumber Hukum dalam arti Fomal
 Yaitu sumber hukum yang dilihat dari segi bentuk dan
pembentukannya. Karena bentuknya itu menyebabkan hukum
berlaku umum, ditaati dan mengikat. Dalam bentuk inilah suatu
kaidah memperolah kualifikasi sebagai kaidah hukum dan oleh yang
berwenang merupakan petunjuk hidup yang harus diberi
perlindungan. Dari pengertian ini maka sumber hukum formal
mempunyai dua ciri yaitu : dirumuskan dalam suatu bentuk oleh
lembaga yang berwenang dan berlaku umum, mengikat dan ditaati.

20
Sumber Hukum Tata Negara

 UUD 1945 dan peraturan perundang-undangan


yang tertulis
 Yurisprudensi peradilan;
 Traktat;
 Konvensi ketatanegaraan
 Doktrin ilmu hukum tata negara tertentu

21
Yurisprudesi

 Sumber hukum Yuris prudensi pada negara yang


menganut sistem hukum common Law , justru
putusan pengadilan yang menjadi tolok ukur
utama sesuai dengan asas precedent.
 Bagi negara yang menganut sistem hukum civil
law putusan pengadilan bukan yang utama untuk
dijadilkan sumber hukum, tidak semua putusan
pengadilan dapat dijadikan referensi yang
mengikat. Untuk dapat mengikat sebagai sumber
hukum putusan pengadilan harus terlebih dahulu
memenuhi syarat sehingga diakui senagai
yurisprudensi.

22
Jurisprudence

 Di Inggris, Amerika, Kanada dan Australia istilah


jurisprudence berarti ilmu hukum.
 Dinegara yang menganut tradisi Anglo Saxon
hukum itu tumbuh dari putusan pengadilan.
 Ilmu hukum dikembangkan melalui cara
mempelajari kasus-kasus dan putusan
pengadilan. Oleh karena itu lama kelamaan istilah
jurisprudece di Inggris dan negara –negara yang
berbahasa Inggris, dipengaruhi oleh sistem hukum
anglo Saxon, berkembang dalam pengertian ilmu
hukum

23
Traktat
 Traktat sering disebut juga perjanjian dalam bidang ketatanegaraan

 Pasal 11 UUD NRI Tahun 1945

 Tahap pertama mengadakan perundingan tentang masalah yang


menjadi objek perjanjian, dari hasil konverensi dari masing-masing
delegasi berupa konsep isi perjanjian.
 Konsep tersebut ditandatangani oleh delegasi sebagai persetujuan
sementara, sebab perjanjian tersebut harus mendapat persetujuan
DPR masing-masing negara. Dalam pembahasan oleh DPR ada
kemungkinan beberapa hal dari deraft tersebut dapat diubah oleh
DPR.
 Setelah konsep tersebut mendapat persetujuan dari masing-masing
negara, lalu dikuatkan oleh kepala negara. Setelah ada persetujuan
maka tidak dimungkinkan adanya perubahan dari isi perjanjian
tersebut. Selanjutnya perjanjian tersebut ratificatie (disahkan) oleh
masing-masing negara yang mengadakan perjanjian. Setelah itu
perjanjian tersebut diumumkan

24
Kapan Traktat mengikat Warga ?

 Suatu traktat mengikat setiap negara yang


mengadakan perjanjian, masing-masing mentaati
isi perjanjian seperti yang dikemukanan dalam
bahasa Romawi Pacta Sunt Servanda
 Menurut P. Laband, Traktat itu tidak dapat dengan
langsung mengikat penduduk…,maka keadaan
hukum, juga kedudukan hukum para penduduk
tidak dipengaruhi oleh traktat itu…agar traktat
mengikat juga penduduk daerah nasional maka
terlebih dahulu isi traktat itu harus dijadikan hukum
nasional berdasarkan undang-undang negara

25
Kedudukan dan kekuatan ber26laku mengikat sama dengan
UU

 Dalam hal membuat traktat dengan negara lain


harus mendapat persetujuan DPR (pasal 11),
sama halnya dengan dalam pembuatan undang-
undang lihat pasal 20 UUD 1945.
 Apabila traktat bertentangan dengan UUD 1945,
maka traktat menjadi batal, karena UUD 1945
merupakan sumber hukum formal yang tertinggi.
 Apabila traktat yang baru diratifikasi
bertentangan dengan undang-undang yang telah
berlaku, maka ketentuan traktat yang berlaku.

26
Konvensi/Kebiasaan Ketatanegaraan

 kebiasaan ketatanegaraan (convention).


Kebiasaan ketatanegaraan mempunyai kekuatan
mengikat sama dengan peraturan perundangan
tertulis.
 Edward M sait, konvensi merupakan rule of
political behavior (aturan-aturan tingkah laku
politik),
 sedangkan menurut J.S.Mill, rule of morality
(aturan-aturan keahlakan
 convensi tentang penunjukan seorang Perdana
Menteri dari ketua Partai yang menang dalam
pemilihan umum serta pengunduran diri dari
menteri apabila mendapat mosi tidak percaya

27
Di Indonesia

 Dimungkinkannya berlaku konvensi di samping UUD


tertulis merupakan sebagai pelengkap yang dapat
memberikan nuansa dinamika masyarakat ke arah yang
lebih maju. Tetapi walau demikian secara hukum konvensi
tersebut tidak boleh bertentangan dengan UUD 1945
karena sebagai pendamping harus dapat memperkokoh
kehidupan ketatanegaraan Indonesia dalam kerangka
sistem pemerintahan yang berdasarkan UUD 1945 dan
Pancasila.

 Padmo Wahyono, kebijaksanaan praktek ketatanegaraan


seperti adanya Menteri Negara yang tidak memimpin
departemen, bukan berarti telah terjadi perubahan UUD.
Kebijakan seperti ini boleh saja karena melengkapi dan
tidak bertentangan dengan UUD. Apabila mengamati
pendapat tersebut, pembentukan Menteri non departemen
sudah dilakukan berkali-kali sehingga telah merupakan
kebiasaan ketatanegaraan (konvensi) 28
Doktrin Ilmu hukum Tata Negara tertentu

 Doktrin ilmu pengetahuan hukum dapat dijadikan sebagai


sumber hukum (the source of law) , karena pendapat
seorang ilmuwan yang mempunyai otoritas
 Pendapat hukum (legal opinion) dapat dijadikan rujukan
dalam mengambil keputusan sepanjang memenuhi
persyaratan yaitu (i) Ilmuwan tersebut dikenal dan diakui
sebagai ilmuwan yang memiliki integritas yang dapat
dipercaya; (ii) terhadap persoalan tersebut memang tidak
ditemukan dalam peraturan tertulis yang berlaku; (iii)
pendapat hukum tersebut diakui keunggulannya dan
diterima oleh umum, khususnya dikalangan sesama
ilmuwan.

29
Tata Urutan Peraturan Perundang-Undangan

 Pasal 7 ayat (1) UU. No. 10/2004 mencantumkan jenis


hierarki peraturan perundang-undangan sebagai berikut :
– UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945
– Undang-Undang/Peraturan Pemerintah
Pengganti Undang-Undang (Perpu);
– Peraturan Pemerintah (PP);
– Peraturan Presiden (Perpres);
– Peraturan daerah.

30
Pengujian Peraturan Perundang-undangan

 Ph.Kleintjes ada dua macam hak uji yaitu :


– hak menguji formal(formele toetsingrecht)
– hak menguji materil (materiele toetsingrecht

 Pengujian peraturan perundang-undangan


berdasarkan beberapa literatur dapat dilakukan
oleh:
– Oleh Badan Peradilan(judicial review)
– Oleh Badan yang bersifat politik (political review)
– Oleh Pejabat atau badan administrasi
negara(Administrative review ddd

31
Lanjutan.

 Dalam kaitan dengan review tersebut, pada umumnya


negara-negara di dunia menggunakan berbagai macam
cara. Amerika Serikat misalnya memberikan wewenang
pengujian kepada semua peradilan umum (Ordinary Law
Courts) untuk menguji peraturan perundang-undangan dan
tindakan pemerintah
 Pada mulanya di Amerika Serikat hak menguji material
tidak dicantumkan dalam UUD. Hak menguji tersebut
berkembang dalam doktrin dan kemudian dalam praktek
ketatanegaraan. Peristiwa tersebut diawali pada saat John
Marshall menjadi ketua MA Amerika Serikat. Pada tahun
1803 terjadi kasus Marbury melawan Madison, dalam
putusannya Mahkamah Agung menyatakan bahwa
Undang-undang federal bertentangan dengan UUD.

32
Uji Materil UU di Indonesia

 Di Indonesia hak uji material terhadap


undang-undang diatur dalam UUD
1945(amandemen) Pasal 24C ayat 1)
Mahkamah Konstitusi berwenang mengadili
pada tingkat pertama dan terakhir yang
putusannya bersifat final untuk menguji
undang-undang terhadap UUD.

33
BAB III KONSTITUSI
 Sejarah Timbulnya Konstitusi
 Pembicaraan tentang konstitusi bukan hal yang baru,
sebab sejak zaman Yunani dan Romawi pembicaraan
ini sudah menjadi topik yang sangat menarik untuk
dibahas. Kenyataan ini terbukti salah seorang Filosof
Yunani Kuno Aristoteles telah menulis konstitusi
dengan istilah Politiea dan Nomoi(undang-undang)
 perjanjian pemindahan kekuasaan dari rakyat kepada
Caesar (raja) yang berkuasa mutlak disebut dengan Lex
Regia
 rakyat tidak dapat meminta pertanggungjawaban raja.
 melahirkan prinsip raja yang berhak menentukan
organisasi negara, karena Raja pembuat undang-
undang (Princep Legibus Solutus est, Salus Publica
Supremalex).

34
Anti Raja

 muncul suatu kelompok yang menamakan


dirinya aliran monarchomachen , yang pada
umumnya terdiri dari golongan kaum
Calvinis.
 Golongan ini menuntut adanya perjanjian
dengan raja, agar kekuasaan raja tidak
sewenang-wenang, juga menuntut
pertanggungjawaban raja sehingga raja
dapat dibunuh atau dipecat karena
kesalahannya dalam memimpin.
35
Perjanjian rakyat dan raja

 disebut Leges Fundamentalis, dalam leges


fundamentalis tersebut diatur hak dan
kewajiban rakyat dan raja.
 kedudukan raja dan rakyat seimbang,
masing-masing mempunyai kewajiban dan
hak. Dalam perkembangannya ketentuan-
ketentuan seperti ini mulai dinaskahkan
agar mempermudah untuk menuntut
hakdan kewajiban masing-masing.

36
Pengertian konstitusi

 constituer (bahasa Prancis) yang artinya


membentuk
 konstitusi mengandung pengertian pembentukan
suatu negara, menata dan menyusun suatu
negara.
 bahasa Inggris konstitusi asalkatanya dari
constitute yang mempunyai arti mengangkat,
mendirikan atau menyusun, apabila dihubungkan
dengan suatu negara maka akan mempunyai arti
mendirikan, menyusun suatu negara.

37
 Wirjono Prodjodikoro : konstitusi mengandung
permulaan dari segala peraturan mengenai suatu
negara;…Dengan demikian suatu konstitusi
memuat suatu peraturan pokok(fundamental)
mengenai soko guru-soko guru atau sendi-sendi
pertama untuk menegakkan bangunan besar yang
bernama negara[1].
[1] Wirjono Projodikoro, Asas-Asas Hukum Tata
Negara Indonesia, Dian Rakyat, Jakarta, 1977.
hlm. 10.

38
Pengelompokan Konstitusi

 Carl Schmitt mengelompokkan konstitusi ke


dalam empat kelompok besar sebagai berikut:
 1. Konstitusi dalam arti absulut (Absuluter
Verfassungsbegriff)
 2. Konstitusi dalam arti relatif (Relativer
Verfassungsbegririff)
 3. Konstitusi dalam arti positif (Der positive
Verfassungsbegririff).
 4. Konstitusi dalam arti ideal ( Ideal Begriff der
Verfassung

39
Konstitusi Dalam Arti Absulut (Absuluter
Verfassungbegriff
1. Konstitusi dianggap sebagai kesatuan organisasi yang
nyata yang mencakup semua bangunan hukum dan
semua organisasi yang ada dalam suatu negara.
2. Konstitusi sebagai bentuk negara dalam arti
keseluruhannya (Sein Ganzheit), Bentuk negara bisa
demokrasi dapat monarki
3. . Konstitusi Sebagai Faktor Integrasi, faktor integrasi
mempunyai sifat abstrak dan fungsional. lagu
kebangsaannya, bahasa persatuannya, bendera
sebagai lambang pemersatunya.
4. Konstitusi sebagai sistem tertutup dari norma hukum
yang tertinggi di dalam negara.

40
2. Konstitusi dalam Arti Relatif
 Konstitusi yang dihubungkan dengan
kepentingan golongan tertentu di dalam
masyarakat
 Golongan tertentu itu adalah golongan borjois
liberal yang menghendaki adanya jaminan agar
hak-haknya tidak dilanggar.
 konstitusi dalam arti relatif ini dapat dibedakan
menjadi dua:
1. Konstitusi sebagai tuntutan dari golongan borjois
liberal agar hak-haknya tidak dilanggar oleh
penguasa.
2. Konstitusi dalam arti formal atau konstitusi
tertulis.

41
Konstitusi materil & Formal
 Konstitusi dalam arti materil : konstitusi
yang dilihat dari segi isinya, yang
menyangkut hal-hal yang bersifat
mendasar atau pokok dan penting bagi
kepentingan rakyat dan negara.
 arti formal dilihat dari prosedur dan
pembentukannya yang istimewa.
1. seorang diktator Mengatasnamakan rakyat
2. konstitusi dibuat atas persetujuan antara
rakyat dengan raja
42
Konsitusi Dalam arti Positif.
 Carl Schmitt dihubingkannya dengan ajaran
”Dezisionismus” yaitu ajaran tentang keputusan
 Konstitusi dalam arti positif mengandung pengertian
sebagai keputusan politik yang tertinggi berhubung dengan
pembuatan UUD Weimar pada tahun 1919 yang
menentukan nasib seluruh rakyat Jerman, dengan
mengubah stelsel monarki manjadi sistem pemerintahan
parlementer.
 Proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 adalah
merupakan konstitusi dalam arti positif karena ia
merupakan satu-satunya keputusan politik yang tertinggi
yang dilakukan bangsa Indonesia merubah bangsanya dari
bangsa yang terjajah menjadi bangsa yang merdeka.

43
Konstitusi Dalam Arti Ideal
 Cita-cita ini timbul setelah revolusi Prancis
yang menjadi tuntutan dari golongan borjois
liberal tersebut agar pihak penguasa tidak
berbuat sewenang-wenang terhadap rakyat
 perkembangannya konstitusi bukan saja
hanya menjadi cita-cita kaum borjois liberal
tetapi semua bangsa secara umum untuk
mengatur dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara.

44
Sifat Konstitusi
1. Flexible dan Rigid.
- Cara mengubahnya
- Materi/subtasnsinya
2. Tertulis tidak tertulis

45
Nilai Konstitusi
1. Nilai Normatif, artinya apabila suatu konstitusi telah
resmi diterima oleh suatu bangsa dan bagi mereka
konstitusi tersebut bukan saja berlaku dalam arti hukum,
tetapi merupakan suatu kenyataan.

2. Nilai Nominal, artinya konstitusi menurut hukum memang


berlaku, tetapi kenyataannya tidak sempurna. Karena
ada pasal-pasal tertentu yang dalam kenyataannya tidak
berlaku.

3. Nilai Simantik, artinya konstusi itu secara hukum tetap


berlaku, tetapi secara kenyataanya hanya sekedar
memberi bentuk dari tempat yang telah ada untuk
melaksanakan kekuasaan politik. Konstitusi hanya
sebagai istilah saja namaun kebijakan sangat
tergantiung pada penguasa. Contoh kedudukan Pasal
24,25 UUD 1945, terhadap Undang-undang Nomor 19
46
Tahun 1965, penguasa ikut campur dalam proses
Perubahan Konstitusi
 Sri Soemantri mengubah UUD/Konstitusi
1. Mengubah sesuatu yang sudah diatur dalam
UUD/konstitusi.
2. menambahkan sesuatu yang belum diatur dalam
UUD/konstitusi
Sri Soemantri yang berpedoman kepada pendapat CF.
Strong, maka cara perubahan konstitusi sebagai berikut:
1. Oleh kekuasaan legislatif, tetapi dengan pembatasan-
pembatasan tertentu;
2. Oleh rakyat dengan mengadakan referendum;
3. Oleh sejumlah negara bagian, khusus untuk negara
serikat.
4. Dengan kebiasaan ketatanegaraan, atau oleh suatu
lembaga negara yang khusus dibentuk hanya untuk
keperluan perubahan

47
BAB V
ASAS-ASAS YANG TERKANDUNG DALAM UUD 1945

 Asas Pancasila
 tidak satu bangsapun di dunia ini yang tidak
mempunyai pandangan hidup, yg pada umumnya
mencerminkan karakteristik masing-masing bangsa.
 kristalisasi dari nilai-nilai luhur yang hidup pada suatu
bangsa.
 Bangasa Indonesia mendirikan negara Indonesia
berdasarkan pandangan hidup yang tercermin dalam
Pancasila .
 Amerika Serikat mendirikan bangsa atas dasar pandangan
hidup yang teraktualisasi dalam Declaration of
Indefendence (individualisme dan liberalisme

48
Lanjutan asas
 Pancasila merupakan sebagai sumber hukum
materil, yang artinya setiap isi peraturan
perundang-undangan tidak boleh bertentangan
dengan Pancasila sebagai sumber dari segala
sumber hukum di Indonesia.
 Pancasila apabila diuraikan maka akan terdapat
lima asas yaitu :
 - Asas Ketuhanan Yang maha Esa
– Asas Prikemnusiaan
– Asas Kebangsaan
– Asas Kedaulatan Rakyat
– Asas Keadilan Sosial

49
B. Asas Kekeluargaan

 Manusia sebagai mahluk Tuhan dan mahluk sosial


sudah menjadi kodranya hidup dalam
kebersamaan yang satu ditengah-tengah yang lain
.
 Manusia sudah menjadi kodratnya tidak dapat
memenuhi kebutuhan sindiri, dalam arti hidup
saling ketergantungan dengan manusia lainnya.
 Aristoteles zoon politicon (manusia hidup dalam
suatu pergaulan hidup bersama

50
Negara
 Negara apabila ditinjau dari aspek sosiologi
adalah merupakan persekutuan kehidupan
bersama, yang telah melalui proses pembentukan
dari pembentukan keluarga lalu membesar
menjadi negara.
 1. Darah terdiri dari keturunan keluarga.
 2. Wilayah terdiri dari desa, daerah, negara.
 3. Ikatan sejarah, senasip seperjuangan,
pengalaman hidup.
 4. Ikatan darah terdiri dari kepentingan, cita-cita
tujuan bersama

51
 ikatan kekeluargaan dan ikatan darah juga
terdapat nilai-nilai positif yang dapat
dikembagngkan dalam bernegara.
 Nilai-nilaiposif itu adalah ikatan
persaudaraan, cinta kasih yang mendalam
yang bersifat kodrati, saling bekerjasama,
tolong menolong, saling memberi
perlindungan dan tumbuhnya rasa
tanggungjawab bersama untuk kebaikan
dan kebahagiaan bersama.

52
Asas kekeluargaan

 asas kekeluargaan tidak dijumpai dalam


pembukaan, akan tetapi terdapat dalam
Batang Tubuh yaitu Pasal 33 ayat (1)
Perekonomian disusun sebagai usaha
bersama berdasarkan asas kekeluargaan.
 Ide tentang asas kekeluargaan dimasukkan
dalam UUD 1945 atas Soepomo pada
tanggal 31 Mei 1945 dihadapan BPUPKI.

53
Staat Idee

 Staat Idee yang integralistik dari bangsa Indonesia terlihat


pada sifat tata negara Indonesia asli, yang sekarang
masih terdapat dalam suasana desa.
 Kepala Desa memerintah menyatu dengan rakyat, pejabat
wajib senantiasa memegang teguh persatuan dan
kesatuan serta keseimbangan dalam masyarakat.
 Suasana persatuan rakyat dan pemimpinnya diliputi
semangat gotong rayong dan kekeluargaan.
 Konsekuensi dari asas kekeluargaan, tentunya akan
menolak dasar perseorangan /individualistis, menolak
parlementaris, menolak sistem demokrasi Barat, dan
menolak penyamaarataan manusia dengan manusia lain,
seperti angka-angka belaka yang semuanya sama
harganya.

54
Asas kekeluargaan
 Asas kekeluargaan melandasi semua aspek
kehidupan kenegaraan, pernyataan tersebut dapat
ditemukan dalam penjelasan umum UUD 1945
yang mencantumkan ”Yang sangat perting dalam
pemerintahan dan dalam hidupnya negara ialah
semangat, semangat para penyelenggara negara,
semangat para pemimpin pemerintahan.
 Meskipun dibuat UUD yang menurut kata-katanya
bersifat kekeluargaan, apabila semangat
penyelenggara negara, para pemimpin
pemerintahan itu perseorangan, UUD tadi tidak
ada artinya dalam praktek.

55
Asas kekeluargaan terkikis

 Setelah amandemen UUD 1945, kedudukan asas


kekeluargaan ini semakin kurang mendapatkan
porsinya, karena prinsip kebersamaan telah mulai
ditinggalkan oleh individualisme hal ini dapat kita
lihat dalam UUD bahwa pengambilan keputusan di
MPR didasarkan pada suara terbanyak, dan
hubungan kerja DPR dan Presiden bukan lagi
dapat dikategorikan sebagai penggunaan asas
kekeluargaan, tetapi adalam menenpatkan asas
ceck and balance.

56
C. Asas Kedaulatan Rakyat

 Perkataan tersebut terjemahan dari bahasa Inggris


(sovereignty), Itali (sovranus), Prancis (souvereinnete),
Belanda (souvereiniteit).
 negara-negara yang berhak menentukan baik masalah
dalam negeri maupun masalah luar negeri tanpa adanya
campur tangan negara lain
1. Kedaulatan ke dalam ; kedaulatan mengatur wewenang
untuk membentuk organisasi negara menurut
kegunaannya sendiri yang meliputi tugas eksekutif,
legislatif, yudikatif.
2. Kedaulatan ke luar kedaulatan untuk menyatakan
hubungan diplomatik dengan negara-negara lain atau
untuk menyatakan [perang atau damai dengan negara
lain.

57
Jean Bodin
 orang yang pertama memberikan pengertian tentang kedaulatan
yang berkenaan dengan negara, yaitu sebagai atribut (ciri negara)
yang membedakan dengan persekutuan-persekutuan lain, Bodin
melihat hakikat negara pada Kedaulatan. Oleh sebab itu kekuasaan
tertinggi mempunyai ciri-ciri:
1. Kedaulatan itu abadi, artinya kedaulatan itu tetap ada selama negara
itu masih ada.
2. Tidak dipsah-pisahkan, artinya kedaulatan itu bulat tidak dapat
dibagi-bagi sehingga dalam suatu negara hanya ada satu
kekuasaan tertinggi.
3. Sebagai kekuasaan tertinggi, tidak terbatas, tidak mengizinkan
adanya saingan dan tidak ada kekuasaan yang dapat membatasi
kedaulatan.
4. Asli artinya, Kekuasaan tertinggi itu tidak berasal dari kekuasaan lain
yang lebih tinggi.

58
Di Indonesia ?

 Asas kedaulatan rakyat dinyatak secara tegas di dalam


Pembukaan UUD 1945
 Alinea ke-4 Pembukaan UUD 1945 mencantumkan ”…
yang terbentuk dalam suatu susunan negara Republik
Indonesia yang berkedaulatan rakyat..”.
 di dalam Batang Tubuh Pasal 1 ayat (2).
 Pasal 1 ayat (2) Kedaulatan ada di tangan rakyat
 landasan konstitusional tersebut asas kedaulatan rakyat
tersebut dijabarkan dalam peraturan perundang-undangan.
Penjabaran tersebut memberikan makna, fungsi, tugas dari
yang berdaulat

59
D. Asas Pembagian Kekuasaan
 John locke yang pertama sekali membicarakan
teori ini dalam bukunya yang berjudul Two
Treatises on civil government beliau menisahkan
kekuasaan dalam tiga bagian yaitu kekuasaan
dalam bidang Eksekutif, leguslatif dan kekuasaan
federatif.
 Montesquieu mengemukakan teori yang
disebutnya separation de pouvoir atau separation
of power teori ini dalam perkembangannya dikenal
dengan trias politika .

60
Ivor Jennings
 membedakan pengertian pemisahan
kekuasaan ke dalam :
1. Pemisahaan kekuasaan dalam arti materil
2. Pemisahan dalam arti formal.
 materil adalah pemisahan kekuasaan
dipertahankan dengan tegas dalam tugas
dan fungsi secara karakteristik yang
secara jelas memperlihatkan ketiga
lembaga (eksekutif,legislatif, yudikatif)
tersebut terpisah

61
TOKOH LAIN

 Tujuh belas tahun sesudah Montesquieu menulis hal yang


demikian, seorang sarjana hukum Inggris, Blackstone, juga
mengemukakan pandangan yang serupa.
 doktrin pemisahan kekuasaan seperti yang dibayangkan
oleh Montesquieu itu, dianggap oleh para ahli sebagai
pandangan yang tidak realistis dan jauh dan kenyataan.
Pandangannya itu dianggap oleh para ahli sebagai
kekeliruan Montesquieu dalam memahami sistim
ketatanegaraan Inggris
 Sebagai sandingan atas konsep pemisahan kekuasa an
(separation of power), para ahli biasa menggunakan pula
istilah pembagian kekuasaan sebagai terjemahan
perkataan division of power atau distribution of power

62
LANJUTAN
 Ada pula sarjana yang justru menggunakan istilah
division of power itu sebagai genus, sedangkan
separation of power merupakan bentuk species-
nya.
 Arthur Mass membedakan pengertian pembagian
kekuasaan (division of power) tersebut ke dalam 2
(dua) pengertian, yaitu:
 (i) capital division of power, dan
 (ii) territorial division of power. Pengertian yang
pertama bersifat fungsional, sedangkan yang
kedua bersifat kewilayahan atau kedaerahan.

63
DISTRIBUSI DAN PEMISAHAN SAMA HANYA
BEDA KONTEKNYA SAJA DI AS.
 dalam konstitusi Amerika Serikat, kedua istilah
separation of power dan division of power juga
sama sama digunakan. Hanya saja, istilah division
of power itu digunakan dalam konteks pembagian
kekuasaan antara federal dan negara bagian,
 atau yang menurut pengertian Arthus Mass yang
terkait dengan pengertian territorial division of
powers.
 Sedangkan, istilah separation of powers dipakai
dalam konteks pembagian kekuasaan di tingkat
pemerintahan federal, yaitu antara legislature, the
executive, dan judiciary.
64
E. Asas Negara Hukum
 negara hukum ialah negara yang berdiri di atas
hukum yang menjamin keadilan kepada warga
negaranya.
 Keadilan merupakan syarat bagi tercapainya
kebahagiaan hidup untuk warga negaranya, dan
sebagai dasar dari keadilan perlu diajarkan rasa
susila kepada setiap manusia agar ia menjadi
warga negara yang baik.
 Demikian pula peraturan hukum yang sebenarnya
hanya ada jika peraturan hukum itu mencerminkan
keadilan dalam pergaulan kehidupan
warganegaranya.

65
Pendapat ttg Neg.Hukum

 Immanuel Kant menggambarkan negara hukum


itu adalah negara hukum sebagai penjaga malam,
yang artinya negara hanya menjaga agar hak-hak
warga negara tidak diganggu atau dilanggar,
berkenaan dengan kemakmuran rakyatnya negara
tidak dapat turut campur.
 konsep negara hukum yang dikemukakan oleh
J.F. Stahl sebagai berikut:
– adanya jaminan atas hak-hak asasi manusia
– adanya pembagian kekuasaan
– pemerintahan haruslah berdasarkan peraturan hukum.
– Adanya peradilan administratif.

66
Konsep NH.Formal
 JF. Stahl sering disebut negara hukum formal yakni
perkembangan dari negara hukum liberal, yang pada
intinya menitik beratkan pada perlindungan hak asasi
manusia dan pemisahan kekuasaan.

 Hasil konverensi tersebut menyangkut syarat-syarat


negara hukum demokrasi dibawah Rule of Law sebagai
berikut:
1. adanya proteksi konstitusional
2. pengadilan yang bebas dan tidak memihak
3. Pemilihan umum yang bebas
4. Kebebasan untuk menyatakan pendapat
5. Kebenasan untuk berserikat dan berkumpul/berorganisasi
dan oposisi.
6. Pendidikan kewarganegaraan[1].
 67
[1] Sri Soemantri. M, Demokrasi Pancasila, Hlm. 14-15,
Apakah UUD 1945 menganut asas negara hukum
 Pertama dalam Pembukaan UUD 1945 alinea
pertama terdapat kata-kata “peri keadilan” dalam
alinea kedua terdapat kata “adil” dan kemanusiaan
yang adil, semua perkataan yang terkandung
dalam pembukaan tersebut tadi berindikasi
kepada negara hukum. Yang artinya keadilan
tidak akan didapat apabila tidak dilindungi oleh
negara yang berdasarkan hukum.
 Kedua Dalam Batang tubuh di dalam Pasal 1 yaat
(3) Negara Indonesia adalah Negara hukum,
secara jelas dalam konstitusi/UUD menjamin
bahwa negara kita adalah negara hukum. Lalu
dalam Pelaksanaan Pemerintahan Presiden
dalam melaksanakan pemerintahan berdasarkan 68
17. BENTUK NEGARA, BENTUK DAN SISTEM
PEMERINTAHAN
 A . Bentuk Negara
 1. Negara Kesatuan (Unitarisme)
- susunan tunggal yang artinya bukan terdiri dari
beberapa negara bagian
- Negara kesatuan adalah negara yang merdeka dan
berdaulat di seluruh wilayah tersebut pemerintah yang
berkuasa adalah pemerintah pusat
- a. Negara Kesatuan dengan sistem sentralisasi
- b. Negara Kesatuan dengan sistem desentralisasi
 2. Negara Serikat (Federal).
 - dilihat dari susunannya, maka sebelum adanya
negara federasi sudah ada negara-negara yang
merdeka dan berdaulat yang berdiiri sendiri-sendiri

69
17. Elemen dan ciri negara federal

 Negara tersebut melakukan hubungan kerja


sama untuk kepentingan yang sama, hal itu
akan dapat dilaksanakan secara efektif dan
efisien apabila dilakukan secara terornanisir
yang tersusun dalam bentuk organisasi
kekuasaan (negara)
 Negara-negara tersebut secara rela
memberikan sebagian kekuasaannya
kepada negara Federal(pemerintah pusat)
dan kedudukan negara-negara pendiri
tersebut adalah negara bagian 70
• Kekuasaan asli ada pada negara bagian, hal
ini dikarenakan yang langsung bersentuhan
dengan rakyat
• Kekuasaan negara federal (pemerintah pusat)
biasanya hal-hal yang berhubungan dengan
hubungan luar negeri, keuangan dan pos,
pertahanan negara.
• Ada kalanya sebalinya yaitu urusan yang
limitatif tersebut menjadi urusan negara bagian
dan selebihnya menjadi urusan negara federal .
71
17. Bagaimana dengan Negara Republik Indonesia ?

 Perhatikan ketentuan yang diatur dalam Undang-Undang


Dasar Negara Republik Indinesia tahun 1945 (pasal 1 )
 B. Bentuk Pemerintahan
 a. pemerintah dalam arti sempit (hanya terbatas pada
kekuasaan eksekutif saja )
 b. dalam arti luas. (kekuasaan eksekutif, legislatif dan
yudikatif).
 bentuk pemerintahan digolongkan menjadi dua:
 - monarki (kerajaan) dan
 - Republik.

72
17. Bentuk Pemerintahan
 Monarki (kerajaan)
 - Suatu pemerintahan yang kekuasaan di negara
tersebut dipegang oleh seorang raja yang sifatnya turun
temurun.
- Jabatan raja tersebut adalah seumur hidup,
- jabatan tersebut dapat berupa Kaisar atau syah,
- misal kaisaar Jepang, syah Iran. Contoh monarki ,
Inggris, Belanda, Swedia, Malaysia.
 Republik
 Georg Jellinek dalam bukunya yang berjudul Allgemene
Staatlehre, menjelaskan bentuk negara menjadi dua
yaitu Republik dan Monarki.
 - Kata monarki merupakan lawan dari suatu organisasi
negara yang disebut republik.
 - Menurut Jellinek untuk menentukan apakah monarki
atau republik, maka harus dilihat dari bagaimana cara
terbentuknya kemauan negara. 73
17. Kemauan Negara

 Kemauan negara menurut Jellinek sifatnya abstrak,


sedangkan dalam bentuk yang konkrit kemauan negara itu
menjelma sebagai hukum atau undang-undang.

 kemauan negara tersebut apabila ditetapkan oleh


kekuasaan seseorang yang tunggal maka bentuk
pemerintahannya Monarki.

 kemauan negara yang dituangkan dalam bentuk


Hukum/undang-undang yang diciptakan oleh oleh Dewan
dan Dewan itu merupakan konstruksi hukum. Kehendak
negara yang terbentuk secara demikian disebut kehendak
atau kemauan yuridis, negara yang memiliki kemauan
yuridis disebut Republik.
74
18. Lanjutan bentuk Bentuk Negara
 Bentuk Pemerintahan mengalami modifikasi oleh negara
yang menganutnya: Bentuk Republik dapat berkembang
menjadi :
 1. Republik dengan sistem pemerintahan rakyat secara
langsung (referendum).
 2. Republik dengan sistem pemerintahan perwakilan
rakyat(dengan sistem Parlementer)
 3. Republik dengan sistem pemisahan kekuasaan (
dengan sistem Presidensil)

 Sedangkan perkembangan dari bentuk Monarki adalah :


 1. Monarki dengan sistem pemerintahan absolut.
 2. Monarki terbatas
 3. Monarki konstitusional.

75
18. Sistem Pemerintahan

 Sistem pemerintahan yang ada di dunia


saat ini dapat digolongkan 3 :
 1. Sistem pemerintahan Presidensil
 2. Sistem pemerintahan Parlementer
 3. Sistem pemerintahan Referendum
(pengawasan langsung rakyat).

76
18. Sistem Pemerintahan Parlementer
 Pada sistem ini hubungan antara badan
perwakilan dengan badan Eksekutif saling
dapat pengaruh-mempengaruhi.
 Kedudukan eksekutif sedikit lebih lemah
terhadap parlemen, karena eksekutif
bertanggung jawab kepada dewan
perwakilan rakyat(parlemen).
 Kebijakan-kebijakan eksekutif harus sejalan
atau setidaknya disetujui oleh Parlemen.
 parlemen dapat memberikan mosi tidak
percaya kepada eksekutif.
 Eksekutif juga dapat menyatakan tidak
representatif 77
18. Sistem Pemerintahan Presidensiil.
 Sistem pemerintahan presidensiil berakar dari tetori Montesqiu
yang dikenal dengan teori Pemisahan Kekuasaa, oleh karena itu
penamaan system ini juga dikenal dengan nama system
pemisahan kekuasaan. Nama lain dari system ini adalah fixed
Presidensial system.

 Karena salah satu cirri datri system ini adala masa jabatan
Presiden yang dibatasi dalam jumlah tahun priode tertentu

 Pengaruh ajaran Trias Politika terlihat dari mekanisme dan


hubungan kerja antar lembaga maka asalnya bermula dari teori
trias politika,

 Ketiga kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif satu sama


lainnya terpisah dan tidak saling berhubungan tugas dan
fungsinya.

 Presiden tidak bertanggung jawab kepada Dewan atau parlemen.


78
 Tidak ada pembedaan kepala negara atau kepala pemerintahan
dan juga tidak dikenal adanya lembaga tinggi dan lembaga
tertinggi.

 Semua kekuasaan dalam system ini dibagi dalam tiga kekuasaan


yaitu eksekutif oleh Presiden, Legislatif oleh Parlemen/kongres
dan judikatif oleh Mahkamah Agung.

 Masing-masing lembagi mempunyai tugasnya masing-masing


pula sehingga tidak dijumpai adanya seorang pejabat mempunyai
jabatan rangkap di antara tiga lembaga tersebut.

 .Ciri yang menonjol dari system ini adalah Kekuasaan eksekutif


dan legislative sama-sama mendapatkan legitimasi langsung dari
rakayat. Artinya kedua lembaga ini sama-sama dipilih oleh rakyat
secara langsung. Konsekuensi dari itu kedua lembaga ini tidak
dapat saling menjatuhkan, Legiislatif tidak bida menjattuh
Presiden/eksekutif dan sebalikny presiden tidak dapat
membubarkan Parelen/legislative

79
Sistem Referendum
 suatu model yang mana masyarakat/rakyat dapat
melakukan pengawasan atau kontrol langsung
terhadap kebijakannegara.
 Sistem referendum ini dipergunaka di negara Swis,
Perancis, Denmark dan Chili
 Pada sistem referendum ini Parlemen/DPR sangat
lemah, sebab kekuasaan DPR selalu dikontrol oleh
rakyat.
 Dengan kedudukan ini Dewan/badan perwakilan tidak
lebih dari sebagai badan pekerja, dari apa yang
dikehendaki oleh Rakyat.
 Jika suatu undang-undang disetujui DPR belum tentu
dapat berlaku secara langsung, akan tetapi harus
mendapat persetujuan rakyat melalui referendum.

80
Jenis Referendum

 sistem referendum kontrol terhadap dewan


perwakilan, maka di swis diadakan lembaga
yang disebut referendum. Lembaga ini
sengaja bibuat yang tujuannya agar rakyat
dapat mengontrol terhadap tindakan-tindakan
badan perwakilan rakyat secara langsung oleh
rakyat sendiri untuk menentukan pendapat
rakyat.

 Referendum terdiri :
 referendum wajib (referendum obligatoir;
Compulsary referendum)
 Referendum yang tak wajib (referendum
Fakultatif; optical referendum).
81
BAB VII
ORGAN DAN FUNGSI KEKUASAAN NEGARA
 kepustakaan Inggris, untuk menyebut Organ
Negara digunakan istilah political institution
 Belanda terdapat istilah staat organen.
 Indonesia digunakan lembaga negara, badan
negara atau organ negara.
 Secara definitive alat-alat perlengkapan suatu
negara yang lazim disebut sebagai lembaga
negara adalah institusi yang dibentuk guna
melaksanakan fungsi-fungsi negara seperti fungsi
legislative, eksekutif dan yudikatif.

82
Tujuan adanya lembaga negara

 Secara konseptual tujuan diadakannya lembaga


negara adalah selain untuk menjalankan fungsi
negara, juga untuk menjalankan fungsi
pemerintahan secara actual.
 Dengan kata lain lembaga itu harus membentuk
suatu kesatuan proses yang satu sama lainnya
saling berhubungan dalam rangka
penyelenggaraan fungsi negara (actual
governmental process)

83
Fungsi-Fungsi Kekuasaan
 Salah satu ciri negara hukum, yang dalam
baha Inggris disebut the rule of law
 dalam bahasa Belanda dan Jerman disebut
rechtsstaat, adalah adanya pembatasan
kekuasaan dalam penyelenggaraan kekuas
an negara.
 konsep negara hukum juga disebut sebagai
negara konstitusional at constitutional state,
yaitu negara yang dibatasi oleh konstitusi

84
John Locke kekuasaan negara dalam 3 (tiga) fungsi,

 1) Fungsi Legislatif;
 2) Fungsi Eksekutif;
 3) Fungsi Federatif
 Montesquieu, dalam bukunya “L’Esprit des Lois”
(1748), yang mengikuti jalan pikiran John Locke,
membagi kekuasaan negara da tiga cabang, yaitu
(i) kekuasaan kgislatif sebagai pembuat undang
undang, (ii) kekuasan eksekutif yang
melaksanakan, dan (iii) kekuasaan untuk
menghakimi atau yudikatif

85
van Vollenhoven
 sarjana Belanda, 4 (empat) fungsi, / “catur praja”,
yaitu:
 1) Regeling (pengaturan) yang kurang ebih
identik de ngan fungsi legislatif menurut
Montesquieu;
 2) Bestuur yang identik dengan fungsi
pemerintahan eksekutif;
 3) Rechtspraak (peradilan); dan
 4) Politie yang menurutnya merupakan fungsi
untuk menjaga ketertiban dalam masyarakat
(social order).

86
studi ilmu administrasi publik(public administration )

 kekuasaan ke dalam dua fungsi


 (i) fungsi pembuatan kebijakan (policy making
function),
 (ii) fungsi pelaksanaan kebijakan (policy executing
function).
 Semua usaha membagi dan membedakan serta
bahkan memisah-misahkan fungsi-fungsi
kekuasaan itu ke dalam beberapa cabang, pada
pokoknya untuk membatasi kekuasaan itu sendiri
sehingga tidak menjadi sumber kesewenang-
wenangan.

87
Organ/Lembaga Negara Sebelum Amandemen UUD 1945

 Sebelum amndemen UUD 1945 dikenal beberapa


istilah yang digunakan untuk menidentifikasi
lembaga atau organ negara .
 1. Konstitusi RIS menyebutnya dengan Alat
perlengkapan federal. Yang terdiri dari Presiden,
menteri-menteri Senat, Dewan Perwakilan Rakyat
, Mahkamah Agung Iondonesia dan Dewan
Pengawas Keuangan.
 2. UUDS dalam Pasal 44 menyebutnya Alat
Perlengkapan negara yang terdiri dari Presiden
dan Wakil Presiden, menteri-menteri, DPR,
Mahkamah Agung dan Dewan Pengawas
Keuangan.

88
Dalam UUD 1945
 Badan sebagai istilah yang sering digunakan
dalam UUD 1945 oleh MPR kemudian diubah atau
ditafsirkan menjadi Lembaga
 Istilah ini banyak muncul dalam berbagai TAP
MPR dan yang pertam dalam TAP
XX/MPRS/1966 tentang Memorandum DPRGR
mengenai Sumber tertib Hukum Republik
Indonesia
 TAP No. III/MPR/1978 istilah lembaga negara
memalui ketetapan tersebut dibagi lembaga
negara atas lembaga tinggi dan lembaga negara ,
Lembaga negara tertinggi ditentukan adalah
Majelis Permusyawaratan Rakyat

89
Lembaga tingi disesuaikan dengan urutan dalam
UUD 1945 sebl amandemen
 (a) Presiden,
 (b) Dewan Pertimbangan Agung
 (c) Dewan Perwakilan Rakyat
 (d) Badan Pemeriksa Keuangan dan
 (e) Mahkamah Agung
 (f) Majelis Permusyawaratan Rakyat

90
Organ/Lembaga Negara setelah Amandemen UUD
1945

 Majelis untuk MPR,


 Dewan untuk DPR dan DPD,
 Komisi untuk KPU, Yudisial
 Mahkamah untuk MA dan MK
 Presiden

91
BAB VIII
PEMILIHAN UMUM
 Pengertian, Tujuan dan Pengaturan Pemilihan Umum

 Di dalam praktik, yang menjalankan


kedaulatan rakyat tersebut adalah wakil-
wakil rakyat yang duduk di dalam lembaga
perwakilan rakyat yang disebut parlemen.
 langsung (direct democracy) maupun
demokrasi tidak langsung (indirect
democracy),
 pemilihan umum tidak lain adalah cara
yang diselenggarakan untuk memilih wakil-
wakil rakyat secara demokratis 92
4 (empat) tujuan diselenggarakannya pemilihan
umum

1. Untuk memungkinkan terjadinya peralihan


kepemimpinan pemerintahan secara tertib dan
damai;
2. Untuk memungkinkan terjadinya pergantian
pejabat yang akan mewakili kepentingan
rakyat di lembaga perwakilan;
3. Untuk melaksanakan prinsip kedaulatan
rakyat; dan
4. Untuk melaksanakan prinsip hak-hak asasi
warganegara
93
94