Anda di halaman 1dari 25

AKHLAK PRIBADI / KARAKTER MUSLIM

FAKULTAS TEKNIK KIMIA UMJ – KELAS C - 2017

Ana Sholihah : 2017430027


Latif Nopiyantoro : 2017430053
Naharuddin : 2017430041
Nurul Fuadi Pratiwi : 2017430042
Rizki Herawati : 2017430045
Ziyad Hanif Prasetyo : 2017430049
Adapun Akhlak Pribadi Seorang Muslim :

▪ Shidiq
▪ Amanah
▪ Istiqamah
▪ Iffah
▪ Mujahadah
▪ Syaja’ah
▪ Tawadhu’
▪ Malu
▪ Sabar
▪ Pemaaf
SHIDIQ
Dari segi bahasa, siddiq berasal dari kata ‘shadaqa’ yang memiliki
beberapa arti yang satu sama lain saling melengkapi. Bertentangan dengan siddiq
adalah kadzib (dusta). Di antara arti siddiq adalah benar, jujur / dapat dipercaya,
ikhlas, tulus, keutamaan, kebaikan, dan kesungguhan. Namun siddiq di sini lebih
menjurus kepada sebuah sikap membenarkan sesuatu yang datang dari Allah SWT
dan Rasulullah SAW yang timbul dari rasa dan naluri keimanan yang mendalam.
Rasulullah SAW bersabda,

‫ِلى ا ْل َجنَّ ِة‬


َ ‫ا‬ ‫ى‬‫د‬ِ ‫ه‬
ْ َ ‫ي‬ ‫ر‬
َّ ‫ب‬
ِ ْ
‫ل‬ ‫ا‬ َّ
‫ِن‬ ‫ا‬ ‫و‬
َ ‫ر‬
ِ ‫ب‬
ِ ْ
‫ل‬ ‫ا‬ ‫ى‬َ ‫ل‬ ِ ‫ا‬ ‫ى‬‫د‬ِ ‫ه‬
ْ َ ‫ي‬ ‫ْق‬
َ ‫د‬ ‫الص‬
ِ َّ
‫ِن‬ ‫ا‬َ ‫ْق ف‬ ِ ‫علَ ْي ُك ْم ِب‬
ِ ‫الصد‬ َ
“Hendaklah kamu semua bersikap jujur, karena kejujuran membawa kepada
kebaikan dan kebaikan membawa ke surga.” (HR. Bukhari)
Bentuk-Bentuk Shidiq
1. Benar Perkataan (shidq al-hadits)
Dalam keadaan apapun seorang Muslim akan selalu
4. Benar Kemauan (shidq al-‘azam)
berkata yang benar; baik dalam menyampaikan informasi, Sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu,
menjawab pertanyaan, melarang dan memerintah ataupun seorang Muslim harus mempertimbangkan dan menilai terlebih
lainnya. Orang yang selalu berkata benar akan dikasihi Allah dan dahulu apakah yang dilakukannya itu benar dan bermanfaat.
dipercaya oleh masyarakat. Sebaliknya orang yang berdusta Apabila yakin benar dan bermanfaat, dia akan melakukannya
apalagi suka berdusta, masyarakat tidak akan mempercayainya. tanpa ragu-ragu, tidak akan terpengaruh dengan suara kiri
2. Benar Pergaulan (shidq al-mu’amalah) kanan yang mendukung atau mencelanya. Kalau menghiraukan
Seorang Muslim akan selalu bermu’amalah dengan benar; semua komentar orang, dia tidak akan jadi melaksanakannya.
tidak menipu, tidak khianat dan tidak memalsu, sekalipun kepada Tetapi bukan berarti dia mengabaikan kritik, asal kritik itu
non muslim. Orang yang shidiq dalam mu’amalah jauh dari sifat argumentatif dan konstruktif.
sombong dan ria. Kalau melakukan sesuatu dia lakukan karena 5. Benar Kenyataan (shidq al-bal)
Allah, kalau meninggalkan sesuatu juga dia tinggalkan karena Seorang Muslim akan menampilkan diri seperti keadaan
Allah. Dia akan selalu bersikap benar dengan siapapun, tanpa yang sebenarnya. Dia tidak akan menipu kenyataan, tidak
memandang kekayaan, kekuasaan atau status lainnya. memakai baju kepalsuan, tidak mencari nama, dan tidak pula
3. Benar Kemauan (shidq al-‘azam) mengada-ada. Rasulullah saw bersabda:
Sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu, seorang “Orang yang merasa kenyang dengan apa yang tidak
Muslim harus mempertimbangkan dan menilai terlebih dahulu diterimanya sama seperti orang memakai dua pakaian
apakah yang dilakukannya itu benar dan bermanfaat. Apabila palsu.”(HR. Muslim)
yakin benar dan bermanfaat, dia akan melakukannya tanpa ragu- Artinya orang yang berhias dengan bukan miliknya supaya
ragu, tidak akan terpengaruh dengan suara kiri kanan yang kelihatan kaya sama seperti orang yang memakai dua
mendukung atau mencelanya. Kalau menghiraukan semua kepribadian.
komentar orang, dia tidak akan jadi melaksanakannya. Tetapi
bukan berarti dia mengabaikan kritik, asal kritik itu argumentatif
dan konstruktif.
Ciri-Ciri Orang yang Bersifat Shidiq

1. Teguh pendiriannya terhadap apa yang dicita-citakan


(diyakininya). (QS Al-Ahzab: 23)
2. Tidak ragu untuk berjihad dengan harta dan jiwa
mereka. (QS Al-Hujurat: 15)
3. Memiliki keimanan kepada Allah SWT, Rasulullah
SAW, bersedekah, mendirikan shalat, menunaikan
zakat, menepati janji dan sabar. (QS Al-Baqarah: 177)
4. Memiliki komitmen yang tinggi terhadap Islam. (QS Ali
Imran: 101).
AMANAH

Amanah artinya terpercaya (dapat dipercaya). Amanah juga


berarti pesan yang dititipkan dapat disampaikan kepada orang yang
berhak. Amanah yang wajib ditunaikan oleh setiap orang adalah hak-hak
Allah SWT., seperti salat, zakat, puasa, berbuat baik kepada sesama, dan
yang lainnya.

Amanah berkaitan erat dengan tanggung jawab. Orang yang


menjaga amanah biasanya disebut orang yang bertanggung jawab.
Sebaliknya, orang yang tidak menjaga amanah disebut orang yang tidak
bertanggung jawab.

Rasulullah SAW. bersabda: “Dari Ibnu Umar R.A., Rasulullah SAW.


bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung
jawaban atas kepemimpinannnya. Seorang kepala negara adalah
pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban perihal rakyat yang
dipimpinnya...” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Bentuk-Bentuk Amanah
 Amanah terhadap Allah SWT.

Amanah ini berupa ketaatan akan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya.
Allah SWT. berfirman: ”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengkhianati Allah
dan Rasul (Muhammad), dan (juga) janganlah kalian mengkhianati amanat-amanat yang
dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.”.(Q.S. Al-Anfal/8:27).

Contoh amanah kepada Allah SWT., yaitu menjalankan semua yang diperintahkan dan
meninggalkan semua yang dilarangnya.

 Amanah terhadap sesama manusia.

Amanah ini meliputi hak-hak antar sesama manusia. Misalnya, ketika dititipi pesan atau
barang, maka kita harus menyampaikannya kepada yang berhak. Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya Allah Swt. menyuruh kamu untuk menyampaikan amanah kepada yang
berhak menerimanya...”.(Q.S. an-Nis±’/4:58)

3. Amanah terhadap diri sendiri.

Amanah ini dijalani dengan memelihara dan menggunakan segenap kemampuannya


demi menjaga kelangsungan hidup, kesejahteraan, dan kebahagiaan diri. Allah SWT.
berfirman: “Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanat-amanat dan
janjinya”(Q.S. al-Mu’minun/23:8)
Hikmah Perilaku Amanah

Orang yang berbuat baik kepada orang lain, sesungguhnya ia


telah berbuat baik kepada diri sendiri. Begitu juga sikap
amanah memiliki dampak positif bagi diri sendiri. Di antara
hikmah amanah adalah sebagai berikut:
a. Dipercaya orang lain, ini merupakan modal yang sangat
berharga dalam menjalin hubungan atau berinteraksi antara
sesama manusia.
b. Mendapatkan simpati dari semua pihak, baik kawan
maupun lawan.
c. Hidupnya akan sukses dan dimudahkan oleh Allah SWT.
ISTIQOMAH

Istiqomah berarti sikap kukuh pada pendirian dan konsekuen dalam


tindakan. Dalam makna yang luas, istiqomah adalah sikap teguh dalam
melakukan suatu kebaikan, membela dan mempertahankan keimanan dan
keislaman, walaupun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.
Oleh karena itu, kita sebagai pelajar harus memberikan contoh yang
baik kepada siapa saja dalam kehidupan kita sehari-hari, baik di lingkungan
keluarga, sekolah, maupun masyarakat sekitar. Allah SWT. berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang berkata Tuhan kami adalah Allah, kemudian mereka
tetap istiqmah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih
hati”. (Q.S. al- Ahqaf/46:13)
Hikmah Perilaku Istiqamah

Di antara hikmah perilaku istiqomah adalah sebagai berikut:


 Orang yang istiqomah akan dijauhkan oleh Allah SWT dari rasa
takut dan sedih sehingga dapat mengatasi rasa sedih yang
menimpanya, tidak hanyut dibawa kesedihan dan tidak gentar
dalam menghadapi kehidupan masa yang akan datang.
 Orang yang istiqomah akan mendapatkan kesuksesan dalam
kehidupan di dunia karena ia tekun dan ulet.
 Orang yang istiqomah dan selalu sabar serta mendirikan salat akan
selalu dilindungi oleh Allah SWT.
IFFAH
▪ Secara bahasa, ‘iffah adalah menahan. Adapun secara istilah; menahan diri
sepenuhnya dari perkara-perkara yang Allah haramkan. Dengan demikian, seorang
yang ‘afif adalah orang yang bersabar dari perkara-perkara yang diharamkan
walaupun jiwanya cenderung kepada perkara tersebut dan menginginkannya.

Firman Allah SWT:


ْ َ‫ف الَّ ِذ ْي َن لَ يَ ِجد ُْو َن ِنكَاحا َحتَّى يُ ْغ ِنيَ ُه ُم للاُ ِم ْن ف‬
‫ض ِل ِه‬ ْ َ‫و ََ ْلي‬
ِ ‫ست َ ْع ِف‬
“Dan orang-orang yang belum mampu untuk menikah hendaklah menjaga kesucian
dirinya sampai Allah menjadikan mereka mampu dengan karunia-Nya.” (An-Nur: 33).

ِ ‫سبُ ُه ُم ا ْل َجا ِه ُل أ َ ْغنِيَا َء ِم َن التَّعَف‬


‫ف‬ َ ‫يَ ْح‬
“Orang yang tidak tahu menyangka mereka (orang-orang fakir) itu adalah orang-
orang yang berkecukupan karena mereka ta’affuf (menahan diri dari meminta-minta
kepada manusia).” (Al-Baqarah: 273).
Keutamaan Iffah
Agar seorang mukmin memiliki sikap iffah, maka harus melakukan usaha-
usaha untuk membimbing jiwanya dengan melakukan dua hal berikut:

1. Memalingkan jiwanya dari ketergantungan kepada makhluk dengan


menjaga kehormatan diri sehingga tidak berharap mendapatkan apa
yang ada di tangan mereka, hingga ia tidak meminta kepada makhluk,
baik secara lisan (lisan al-maqal) maupun keadaan (lisan al-ḥal).

2. Merasa cukup dengan Allah SWT, percaya dengan pencukupan-Nya.


Siapa yang bertawakal kepada Allah SWT, pasti Allah SWT akan
mencukupinya. Allah SWT itu mengikuti persangkaan baik hamba-Nya.
Bila hamba menyangka baik, ia akan beroleh kebaikan. Sebaliknya, bila
ia bersangka selain kebaikan, ia pun akan memperoleh apa yang
disangkanya.
Pengembangan Sifat Iffah
Untuk mengembangkan sikap ‘iffah ini, maka ada beberapa hal yang harus
diperhatikan dan dilakukan oleh seorang muslim untuk menjaga kehormatan diri, di
antaranya:
1. Selalu mengendalikan dan membawa diri agar tetap menegakkan sunnah
Rasulullah,
2. Senantiasa mempertimbangkan teman bergaul dengan teman yang jelas
akhlaknya,
3. Selalu mengontrol diri dalam urusan makan, minum dan berpakaian secara Islami,
4. Selalu menjaga kehalalan makanan, minuman dan rizki yang diperolehnya,
5. Menundukkan pandangan mata (gaḍḍ al-baṣhar) dan menjaga kemaluannya,
6. Tidak khalwat (berduaan) dengan lelaki atau perempuan yang bukan mahramnya,
7. Senantiasa menjauh diri dari hal-hal yang dapat mengundang fitnah.
'Iffah merupakan akhlak paling tinggi dan dicintai Allah SWT.
Oleh sebab itulah sifat ini perlu dilatih sejak anak-anak masih kecil,
sehingga memiliki kemampuan dan daya tahan terhadap
keinginan- keinginan yang tidak semua harus dituruti karena akan
membahayakan saat telah dewasa.
Dari sifat 'iffah akan lahir sifat-sifat mulia seperti: sabar,
qana’ah, jujur, santun, dan akhlak terpuji lainnya. Ketika sifat 'iffah ini
sudah hilang dari dalam diri seseorang, akan membawa pengaruh
buruk dalam diri seseorang, akal sehat akan tertutup oleh nafsu
syahwatnya, ia sudah tidak mampu lagi membedakan mana yang
benar dan salah, mana baik dan buruk, yang halal dan haram.
MUJAHADAH

Pengertian Manfaat

Mujahadah merupakan sebuah Dari mujahadah itu sendiri akan kita dapati
istilah yang terbentuk dari asal beberapa manfaat untuk kita, diantaranya
kata jihad, artinya berjuang dengan adalah sebagai berikut :
sungguh-sungguh menurut syari'at
Islam. 1. Menjernikan hati dan marifat Billah
(sadar kepada Allah )
Istilah lain yang juga berasal
dari kata Jihad, yakni 2. Memperoleh hidayah Taufiq Allah
Mujahidin. Mujahidin adalah istilah bagi SWT, Syafaat Tarbiyah Rasulullah
pejuang (Muslim) yang turut dalam SAW.
suatu peperangan atau terlibat dalam
suatu pergolakan. Dasar dari arti 3. Mendidik menjadi orang yang sholeh
kata jihad adalah "berjuang" atau / Sholihah, yang senantisa mendoakan
"berusaha dengan keras" atau "perang", kedua orang tuanya leluhurnya.
namun "perang" yang dimaksud
sebenarnya bukanlah harus berarti 4. Keamanan, ketentraman, kedamaian &
"perang" dalam makna "fisik". kesejahteraan.
SYAJA’AH (KEBERANIAN)

Penerapan Syaja’ah dalam


Pengertian
Kehidupan
Secara etimologi kata al- Sumber keberanian yang dimiliki
seseorang diantaranya yaitu:
syaja’ah berarti berani. Antonimnya
adalah al-jubn yang berarti pengecut. 1. Rasa takut kepada Allah SWT.
Kata ini digunakan untuk 2. Lebih mencintai akhirat daripada
menggambarkan kesabaran di medan dunia.
perang. Sisi positif dari sikap berani yaitu
mendorong seorang muslim untuk 3. Tidak ragu-ragu, berani dengan
pertimbangan yang matang.
melakukan pekerjaan berat dan
mengandung resiko dalam rangka 4. Tidak menomorsatukan kekuatan
membela kehormatannya. Tetapi sikap materi.
ini bila tidak digunakan sebagaimana 5. Tawakal dan yakin akan adanya
mestinya menjerumuskan seorang pertolongan Allah SWT.
muslim kepada kehinaan.
TAWADHU’
Tawadhu’ artinya rendah hati, lawan dari sombong atau takabur. Orang yang
rendah hati tidak memandang dirinya lebih dari orang lain, sementara orang yang
sombong menghargai dirinya secara berlebihan.
Bentuk-Bentuk Tawadhu’
Sikap tawadhu’ dalam pergaulan bermasyarakat dapat terlihat dalam bentuk-bentuk berikut ini:

1. Tidak menonjolkan diri dari orang-orang yang level dan statusnya sama, kecuali apabila
sikap tersebut menimbulkan kerugian bagi agama dan umat Islam.

2. Berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut kedatangan orang yang lebih mulia dan
lebih berilmu daripada dirinya, dan mengantarkannya ke pintu keluar jika yang
bersangkutan meninggalkan majelis.

3. Bergaul dengan orang awam dengan ramah, dan tidak memandang dirinya lebih dari
mereka.

4. Mau mengunjungi orang lain sekalipun lebih rendah status sosialnya.

5. Mau duduk-duduk bersama dengan fakir miskin, orang-orang cacat tubuh, dan kaum
dhu’afa lainnya, serta bersedia mengabulkan undangan mereka.

6. Tidak makan dan minum dengan berlebihan dan tidak memakai pakaian yang
menunjukkan kemegahan dan kesombongan.
MALU

Malu (al-haya) adalah sifat atau perasaan yang menimbulkan


keengganan melakukan sesuatu yang rendah atau tidak baik.
Sifat malu dibagi menjadi tiga jenis.
1. Malu kepada Allah SWT.
2. Malu kepada diri sendiri.
3. Malu kepada orang lain.
Malu dan Iman
Malu adalah salah satu refleksi iman. Bahkan, malu dan iman
akan selalu hadir bersama-sama. Apabila salah satu hilang yang
lain juga akan hilang.
Semakin kuat iman seseorang, semakin tebal lah rasa malunya,
demikian pula sebaliknya.
Akibat Hilangnya Malu

Rasa malu berfungsi mengontrol dan mengendalikan seseorang dari segala sikap dan
perbuatan yang dilarang oleh agama. Tanpa kontrol rasa malu seseorang akan bebas
melakukan apa saja yang diinginkan oleh hawa nafsunya. Dalam hal ini Rasulullah
bersabda :

ْ ‫ستَحِ فَا‬
▪ ‫صنَ ْع َما‬ ُ َّ‫ِإ َّن ِم َّما أَد َْر َك الن‬
ْ َ ‫ ِإذَا لَ ْم ت‬،‫اس ِم ْن َكالَ ِم النبُ َّو ِة ال ُ ْولَى‬
َ‫شئْت‬
ِ
‘Jika kamu sudah tidak memiliki rasa malu maka kamu akan berbuat semaumu’.” (HR. Al-
Bukhari)

Penegasan Rasulullah di atas mengingatkan bahwa apabila seseorang tidak lagi memiliki
sifat malu maka dia akan kehilangan kontrol terhadap tingkah lakunya.
SABAR

Sabar secara bahasa berarti menahan/ mencegah diri. Sedangkan


secara istilah syar’i sabar berarti menahan diri untuk tetap dalam ketaatan
kepada Allah, menahan diri dari maksiat, menahan diri dari marah kepada
takdir Allah, baik itu dengan lisan, hati maupun anggota badan.
Secara berurutan, sabar yang paling utama adalah sabar dalam
melakukan ketaatan kepada Allah ta’ala, kemudian kesabaran dalam menjauhi
maksiat, dan tingkatan ketiga adalah sabar dalam menghadapi musibah.
Dalam melakukan maksiat dan ketaatan, seseorang bisa memilih, apakah dia
mau melanjutkan untuk taat dan meninggalkan maksiat, ataukah menyimpang
dari jalur ketaatan. Berbeda dengan sabar terhadap takdir Allah, seseorang
tidak dapat memilih, sehingga baik dia sabar maupun tidak sabar, dia tetap
mendapatkan musibah itu, karena sudah merupakan ketetapan Allah.
Ciri-Ciri Sabar
1. “Maa Wahanu”

(Tidak pengecut atau tidak lemah mental) Apabila berhadapan dengan kesulitan hidup, dia memiliki
‘kontrol diri’. Dia segera menstabilkan emosi dan mentalnya, sebelum orang lain mengingatkannya.
Nasihat orang lain agar dia bersabar hanya berperanan sebagai ‘faktor tambahan’ bagi stabiliti dirinya.

2. “Ma Dha’ufuu”

(Tidak lesu dari segi penampilan) Seseorang yang sabar tidak pernah merasa perlu menampilkan
kesedihan atau kesulitan masalahnya kepada orang lain. Dia pantang menampilkan kelesuan di raut
wajahnya, betapa sulit pun masalah yang dihadapi. Dia sedar betul bahwa tiada manusia di dunia yang
luput dari masalah.

3. “Mas takaanuu”

(Tidak menyerah atau tunduk dari segi aktivitas) Seorang yang sabar sentiasa memelihara ketekunan
dan ketahanan dirinya. Dia sentiasa gigih dalam usaha mencapai sasarannya. Dia seorang yang tak
kenal perkataan putus asa. Tidak ada dalam kamus hidupnya putus harapan. Dia tak mudah patah
semangat apabila berhadapan dengan kegagalan. Dia bukanlah seorang pesimis, malah selalu
memelihara dan mengembangkan sikap optimis dalam hidupnya. Jika dia menemui kegagalan hari ini,
dia akan coba sekali lagi keesokan harinya. Jika esoknya dia masih gagal, dia cuba kembali pada hari
lusanya. Bila setelah sekian kali menemui kegagalan, maka dia akan membuat keputusan untuk
mengubah usahanya ke bidang yang lain. Yang pasti dia tak akan pernah memilih untuk duduk diam,
tanpa usaha.
PEMAAF

Pengertian Manfaat
Pemaaf adalah sifat luhur yang perlu ada pada  Dicintai oleh Allah, disenangi
diri setiap muslim. Ada beberapa ayat Al-Quran
dan hadis yang menekankan keutamaan bersifat oleh teman, mempunyai
itu yang juga disebut sebagai sifat orang yang banyak teman, menjadikan
hampir di sisi Allah SWT.
kita tidak sombong,
mendatangkan kebaikan.
َّ ‫اء َوال‬
‫ض َّرا ِء‬ ِ ‫س َّر‬
َّ ‫ون ِفي ال‬ َ ‫الَّ ِذ‬
َ ُ‫ين يُ ْن ِفق‬
‫اس‬ِ َّ‫ين ع َِن الن‬ َ ِ‫ين ا ْلغَ ْي َظ َوا ْلعَاف‬
َ ‫َاظ ِم‬ِ ‫َوا ْلك‬  Kita mendapat berkah ,
hikmah, pahala dari Allah
ََ ِ ‫ّللاُ يُ ِحب ا ْل ُم ْح‬
‫س ِنين‬ َّ ‫َو‬ dari perilaku kita, kita akan
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan
(hartanya), baik di waktu lapang maupun mempunyai banyak kawan.
sempit, dan orang-orang yang menahan
amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang.
Allah menyukai orang-orang yang berbuat
kebajikan.” (QS. Ali-Imran:134)
‫ش ْكرا َك ِث ْيرا‬
‫ُ‬