Anda di halaman 1dari 23

DASAR HUKUM

1. Peraturan Pemerintah Nomor 79 Tahun 2012 tentang


Pelaksanaan Undang-undang No 13 Tahun 2008 tentang
Penyelenggaraan Ibadah Haji.
Paragraf 6

Pembentukan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji


Pasal 16
(1) Menteri membentuk panitia penyelenggara ibadah Haji
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 Huruf E di tingkat
Pusat, di daerah yang memiliki embarkasi, dan di Arab
Saudi.
PRINSIP PENGGUNAAN KOUTA HAJI

 Penggunann kuota dasar antara petugas dan


Jemaah Haji dengan prinsip: Selain Jemaah Haji
tidak diperbolehkan menggunakan kuota Jemaah
Haji sehingga selain Jemaah Haji seluruhnya
menggunakan kuota petugas.
 Pemisahan penggunaan kuota petugas harus diatur
dengan regulasi.
PERBANDINGAN JEMAAH DAN PETUGAS HAJI
TAHUN 1438H/2017M

Haji Reguler
204.000 Jemaah 204.000 1 Petugas
Berbanding Melayani
3.500 58 Orang
Petugas Haji
3.500 Petugas

4
PENGGUNAAN KUOTA PETUGAS HAJI
TAHUN 1438H/2017M
Keputusan Direktur Jenderal Penyelenggaraan Haji dan Umrah Nomor 158
Tahun 2017 tentang Alokasi Petugas Haji Indonesia Tahun 2017

ALOKASI PETUGAS SESUAI KETERSEDIAAN BARKODE = 3.500

A. Petugas yang menyertai Jemaah Haji:


1. Utusan Kementerian Agama = 1.022 orang
2. Utusan Kementerian Kesehatan = 1.533 orang

B. Petugas yang tidak menyertai Jemaah Haji (PPIH Arab Saudi):


1. Utusan Kementerian Agama = 489 orang
2. Utusan Kementerian Kesehatan = 368 orang

C. Pengawas: = 103 orang

D. Pendukung PPIH Arab Saudi dari unsur mahasiswa

wilayah Timur Tengah: = 85 orang

JUMLAH = 3.500 orang


STRATEGI OPTIMALISASI PERAN PETUGAS HAJI
TAHUN 1438H/2017M
Alasan hal itu dilakukan mengingat jumlah penambahan kuota Jemaah Haji Tahun
1438H/2017M sebanyak 31% dan penambahan kuouta petugas haji hanya 11%
sehingga langkah strategis yang akan diambil adalah:
1. Rektrutmen petugas yang lebih ketat dan professional untuk mendapatkan
petugas yang punya komitmen tinggi, tanggung jawab dan berahlak mulia.
2. Menyempurnakan pola pelatihan dan pembekalan petugas haji.
3. Menyempurnakan pola pengawasan dan penilaian kinerja petugas.
4. Penyatuan fungsi petugas kloter pada saat berada di sektor.
SISTEM PENGENDALIAN DAN MONITORING

1. Sistem Pengawasan oleh KPHI.


2. Sistem Pengawasan oleh
Pengawas Internal dan Eksternal.
3. Sistem Penilaian Kinerja Petugas.
POLA PELATIHAN DAN ORIENTASI

1. Pelatihan dan
Pembekalan di
Embakasi untuk
Petugas Haji Yang
Menyertai Jemaah
Haji.
2. Pelatihan di Tingkat
Pusat Untuk PPIH Arab
Saudi.
3. Pelatihan di Arab
Saudi untuk Pendukung
PPIH Arab Saudi.
URAIAN TUGAS PETUGAS KLOTER
1. TIM PEMANDU HAJI INDONESIA (TPHI) :
A. MENGKOORDINIR TUGAS PELAYANAN KLOTER SELAMA DI EMBARKASI, PESAWAT,BANDARA, MADINAH, MAKKAH, ARMINA
DAN DEBARKASI
B. MELAPORKAN SEMUA TUGAS YANG DILAKSANAKAN
2. TIM PEMBIMBING IBADAH HAJI INDONESIA (TPIHI)
A. MENGKOORDINIR PELAYANAN IBADAH KE JEMAAH HAJI SELAMA DI EMBARKASI, PESAWAT, BANDARA, MADINAH, MAKKAH,
ARMINA DAN DEBARKASI
B. MELAPORKAN SEMUA TUGAS YANG DILAKSANAKAN
3. TIM KESEHATAN HAJI INDONESIA (TKHI)
A. MENGKOORDINIR PELAYANAN KESEHATAN SELAMA DI EMBARKASI,PESAWAT, BANADARA, MADINAH, MAKKAH, ARMINA DAN
DEBARKASI.
B. MELAPORKAN SEMUA TUGAS YANG DILAKSANAKAN
FAKTA JAMAAH HAJI

BARU
 BEPERGIAN
 NAIK PESAWAT
 PISAH KELUARGA
 URUS DIRI SENDIRI
 DI KOTA METROPOLITAN
 LIAT ORANG BANYAK
KONDISI REAL JAMAAH

STRATA SOSIAL
 USIA
 PENGETAHUAN
 KEINGINAN/SELERA
 KONDISI KESEHATAN
 SUKU/BUDAYA
 BAHASA
 POLA/ GAYA HIDUP
 KARAKTER
 PERSPEKTIF
 MOTIVASI
 DLL
 Petugas Kloter wajib memegang komitmen,
konsisten dan konsekuen. Memahami itu
dengan jelas maka akan menghasilkan
tujuan yaitu peningkatan pelayanan.

 Fasilitas pelayanan sudah meningkat,


KOMITMEN, KONSISTENSI DAN
KONSEKUEN PETUGAS ADA RESIKO namun dalam prekteknya perlu komitmen
agar berjalan sesuai dengan target yang
direncanakan.

 Jika tidak maka akan ada resiko, resiko bagi


petugas dan resiko bagi pemerintah. Apa
resikonya, pemerintah akan dinilai kurang
bertanggungjawab dalam penyelenggaraan
haji dan kepercayaan publik menurun
Untuk menjamin petugas bekerja sesuai dengan
capaian yang ditargetkan dalam peningkatan
layanan haji maka dibutuhkan bukan hanya
sekedar norma, namun dibuatlah norma hukum.

 Norma hukum pelayanan petugas


Dibaca
Dipahami
NORMA HUKUM BAGI PETUGAS Dimengerti
Diterima
Ditandangani

Norma hukum petugas tegas ada larangan serta


memaksa untuk dapat bekerja sesuai dengan
keinginan bersama dalam melayani. Pelanggaran
terhadap norma hukum adalah sanksi
• PETUGAS HAJI HARUS MAMPU MENGELOLA KLOTER DENGAN BAIK,
BERKOORDINASI, MENGANTISIPASI PERMASALAHAN YANG MUNGKIN
TIMBUL DAN MEMBERIKAN SOLUSI YANG TEPAT DAN CEPAT BAGI
KEPENTINGAN JEMAAH.
SELAMAT BERTUGAS, JAGA NAMA BAIK BANGSA DAN NEGARA. BINA, LAYANI
DAN LINDUNGI JEMAAH DENGAN KOMITMEN YANG SUNGUH-SUNGGUH.
KARENA MEMBINA, MELAYANI DAN MEMBERIKAN PERLINDUNGAN PADA JEMAAH
ADALAH PERINTAH UNDANG-UNDANG.