Anda di halaman 1dari 10

HUKUM PEMBAGIAN

Anissah Insyirah Idris (051711133168)


Angghia Calvina Izumi (0517111172)
Nur Fadhilah (051711133176)

Tujuan Praktikum :
Menentukan koefisien partisi Asam Benzoat dalam sistem diklorometana-air
• Manfaat :
Menisahkan suatu senyawa dari campuran/matriknya dengan cara
ekstraksi,
yaitu dengan melarutkannya ke dalam dua pelarut tertentu yang tidak
saling campur kemudian dikocok. Dengan mengetahui harga Kp atau P
senyawa dalam sistem pelarut tersebut, maka
dengan beberapa kali ekstraksi senyawa tersebut akan dapat dipisahkan
dari campurannya.
Selain itu khususnya dalam bidang farmasi dengan melihat harga Kp
atau P suatu
senyawa obat pada sistem oktanol-air, maka dapat diperkirakan absorpsi
senyawa obat
menembus membran biologis secara difusi pasif.
TEORI
Metode
Bagian 1 : Menentuan kadar awal larutan asam benzoat (S)
1. Menambahkan 25ml air suling kedalam 75ml larutan stok Asam Benzoat
2. Memipet 10 mL sampel larutan asam benzoat ke dalam labu Erlenmeyer, kemudian menambahkan 3
tetes indikator PP. Menitrasi dengan larutan NaOH 0,02 M hingga tercapai end point dan mencatat
volume NaOH.
3. Melakukan titrasi duplo dan menghitung rata-rata kadar larutan S, yaitu kadar awal asam benzoat
dalam air (CM).
Bagian 2 : Menentukan kadar asam benzoate setelah distribusi
1. Mengambil 25 ml sampel larutan asam benzoat (S), kemudian memasukkan ke dalam gelas piala di
atas hot plate-magnetic stirrer. Menambahkan 50ml diklorometana (DCM), aduk dengan kecepatan
sedang selama 5 menit.
2. Memindahkan campuran tersebut ke dalam corong pisah, dan mendiamkan beberapa menit hingga zat
cair memisah menjadi dua lapisan yang jernih.
3. Mengamati dan mencatat suhu ruangan dengan menggunakan termometer.
4. Membuka tutup corong pisah dan membuang lapisan DCM dan memindahkan lapisan air ke gelas
piala yang bersih dan kering.
5. Memipet 10 mL lapisan air ke dalam labu Erlenmeyer dan menambahkan 3 tetes indikator PP.
Menitrasi dengan larutan NaOH 0,02 M hingga tercapai end point, kemudian mencatat volume NaOH.
Melakukan titrasi duplo dan hitung kadar larutan asam benzoat dalam air setelah terdistribusi (CB).
6. Mengambil 30 ml sampel larutan S, kemudian memasukkan ke dalam Beaker glass diatas hot plate-
magnetic stirrer. Menambahkan 60ml diklorometana (DCM) dan aduk dengan kecepatan sedang 5 menit.
Melakukan langkah-langkah 2–5 untuk percobaan dengan menggunakan
HASIL PENGAMATAN
REPLIKASI VOLUME (mL) KADAR AWAL
ASAM BENZOAT
Larutan Sampel NaOH 0,02 M (M)
1 10,0 0,00 – 14,50 0,0290
2 10,0 0,00 – 13,70 0,0274
RATA - RATA 0,0282

PERCOBAAN VOLUME (mL) Kadar asam


benzoat dlm lap.
air
Larutan Air NaOH 0,02 M
I 10,0 0,00 – 4,80 0,0096
ii 10,0 0,00 – 6,00 0,120
PENGOLAHAN DATA
Kadar awal sampel larutan asam benzoat Kadar asam benzoat dalam lapisan air (Ca)
• Msampel x Vsampel = MNaOH x VNaOH • M1 x V1 = M2 x V2 V1 = vol. Asam benzoat
1. Msampel x 10 = 0,02 x 14,50 • M1 x 10 = 0,02 × 4,80 dlm lap. air
Msampel = 0,0290 M M1 = 0,0096 M M1 = kadar asam benzoat

2. Msampel x 10 = 0,02 x 13,70 2. M1 x 10 = 0,02 × 6,00 dlm lap. air


M1 = 0,0120 M M2 = kadar NaOH
Msampel = 0,0274 M V2 = vol. NaOH
(0,0290 + 0,0274)
Msampel =
2
= 0,0282 M Kadar lapisan air dalam lapisan DCM setelah
distribusi (Co)
Koefisien Partisi (P) Asam Benzoat Pada suhu ruang
tanpa koreksi Co = Cm – Ca Cm = kadar mula mula
𝐶𝑜
P = 𝐶𝑎 1. Co = 0,0282 M – 0,0096 M C𝛼 = 𝑘𝑎𝑑𝑎𝑟 𝑎𝑠𝑎𝑚
0,0186 = 0,0186 M benzoat dlm air
1. P =0,0096 = 1,9375 2. Co = 0,0282 M – 0,0120 M
0,0162 = 0,0162 M
2. P = = 1,35
0,0120
pH air suling = 7, menentukan derajat ionisasi (𝜶) Dan menentukan koefisien partisi dengan
koreksi

𝛼 𝐶𝑜
• pH = pKa + log pKa as. Benzoat = 4,19 • P = 𝐶𝛼(1−𝛼)
(1−𝛼)
𝛼
• 7 = 4,19 + log 0,0186 𝑀
(1−𝛼) 1. P = 0,0096 (1−0,99)
𝛼
• 2,81 = log
(1−𝛼) • = 193,75
𝛼
• Log 646 = log 2.
0,0162 𝑀
P = 0,0120 (1−0,99)
(1−𝛼)
𝛼
• 646 = = 135
(1−𝛼)

• 646 - 646 𝛼 = 𝛼
• 646 = 647 𝛼
646
• 𝛼=
647
• 𝛼 = 0,99
PEMBAHASAN
Pada percobaan ini dilakukan penentuan koefisien distribusi dari asam benzoat dengan cara
perbandingan kadar asam benzoat dalam lapisan diklorometana dengan kadar asam benzoat dalam
lapisan air. Pelarut yang digunakan adalah diklorometana dan air, dimana kedua pelarut ini tidak
dapat larut satu sama lain, namun sampel dapat larut dalam kedua pelarut tersebut. Hal ini
disebabkan karena air merupakan pelarut polar dan diklorometana merupakan pelarut non polar.
Dalam percobaan ini terjadi suatu keadaan dimana sampel yang digunakan yaitu asam
benzoat mempunyai kecenderungan untuk menuju ke salah satu fase yaitu fase air. Dari percobaan
yang dilakukan, diperoleh hasil perhitungan koefisien distribusi asam benzoat dalam 50 ml
diklorometana-air tanpa koreksi adalah 1,9375 dan koefisien distribusi asam benzoat dalam 60 ml
diklorometana-air tanpa koreksi adalah 1,35, koefisien distribusi asam benzoat dalam 50 ml
diklorometana-air dengan koreksi adalah 193,75 dan koefisien distribusi asam benzoat dalam 60 ml
diklorometana-air dengan koreksi adalah 135.
Pada percobaan ini terdapat beberapa kesalahan yang mungkin terjadi sehingga hasil yang
diperoleh tidak valid/masih salah. Hal ini mungkin disebabkan karena sampel tidak terdopersi dengan
baik dalam kedua pelarut, larutan belum terpisah sempurna, kesalahan dalam titrasi, kesalahan dalam
titrasi, dan mungkin diklrometana belum terbuang semua. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi
harga koefisien partisi antara lain yaitu suhu dan tekanan, sifat solut dan solven, perubahan fase air,
dan cara penulisan.
KESIMPULAN
Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan :
• Koefisien distribusi Asam benzoat dalam 50 ml diklorometana-air tanpa koreksi adalah 1,9375
• Koefisien distribusi Asam benzoat dalam 60 ml diklorometana-air tanpa koreksi adalah 1,35
• Koefisien distribusi Asam benzoat dalam 50 ml diklorometana-air dengan koreksi adalah 193,75
• Koefisien distribusi Asam benzoat dalam 60 ml diklorometana-air dengan koreksi adalah 135

SARAN
Hal yang perlu diperhatikan untuk praktikan selanjutnya yaitu agar lebih berhati-hati dalam
praktikum agar tidak melakukan kesalahan.