Anda di halaman 1dari 36

LAPORAN KASUS

Hernia Inguinalis Lateralis Dextra

Peserta Internsip : dr. Krisma Putri Pratiwi


Pendamping : dr. Galih Satriyo Hutomo
Narasumber : dr. Ari Sardito, Sp.B

PROGRAM INTERNSIP DOKTERINDONESIA


WAHANA RUMAH SAKITUNIPDU MEDIKA JOMBANG
KEMENTERIAN KESEHATANREPUBLIK INDONESIA
JOMBANG 2018
STATUSPASIEN
IDENTITAS
• No. RM : 027318 • Pendidikan : SD
• Nama : Tn. S • Suku : Jawa
• Jenis Kelamin : Laki-laki • Agama : Islam
• Usia : 52 tahun • Status : Kawin, 3 anak
• Alamat : Mayangan • Jaminan : KIS/ kelasIII
• Pekerjaan : Swasta • Tgl MRS : 20 Januari 2018
ANAMNESIS
Keluhan Utama:

Nyeri pada benjolan di lipatan paha kanan sejak ± 3 jam


sebelum MRS
Riwayat Penyakit Sekarang:

nyeri pada benjolan di lipatan paha kanan. Sejak 3 jam yang


lalu benjolan tidak dapat masuk lagi dan terasa sangat nyeri.
Pasien menggigil sejak dari rumah sampai tiba di IGD. Pasien
tidak merasa mual, tidak muntah, tidak mengalami
gangguan BAB (BAB seperti biasanya) dan masih bisa kentut.
BAK dalam batas normal.
Riwayat Penyakit Dahulu:
•±10 tahun yang lalu muncul benjolan dari lipatan paha
kanannya, awalnya benjolan tersebut kecil.
•Jika pasien berdiri dan mengejan benjolan tersebut keluar,
namun saat berbaring dapat masuk lagi.
•Benjolan tidak pernah nyeri dan merah.
•Nafsu makan pasien baik, berat badan tidak pernah menurun.
•Pasien menyangkal mempunyai riwayat batuk lama, DM,
tumor/kanker,hipertensi.
Riwayat Penyakit Keluarga:
Tidak ada keluarga yang menderita penyakit yang sama seperti
pasien.
Riwayat Sosial ekonomi & Kebiasaan:
•Pasien bekerja sebagai seorang kuli bangunan dan sering
mengangkat beban berat.
•Pasien sering mengejan saat BAB, karena konsistensi yang
keras. BAB biasanya 2 hari sekali.
PEMERIKSAANFISIK
Status Generalis:
• Keadaan umum: lemah dan tampak kesakitan
• Kesadaran : compos mentis
• Tanda vital : TD: 90/70 mmHg, N: 100x/m, P: 24x/m, T: 36,5 C
• Kepala-leher : anemis (-/-), ikterik (-/-), sianosis (-/-), dispne (+/+)
• Jantung : S1-S2 regular, murmur (-), gallop (-)
• Paru : SNves/ves, ronchi (-/-), wheeze (-/-), sonor (+/+)
• Abdomen : supel, BU (+) normal, nyeri tekan (-), hepar & lien
tidak teraba, timpani (+)
• Ekstremitas : akral hangat, CRT<2det, sianosis (-/-), edem (-/-)
Status Lokalis
Regio inguinalis D :
Inspeksi: terdapat benjolan di
bawah lig.inguinale, diameter
11cm x 6 cm, permukaan rata,
warna sesuai warna kulit, tidak
kemerahan.
Palpasi: tidak teraba hangat,
kenyal, batas atas tidak jelas,
tidak dapat dimasukkan,
transluminasi (-), nyeri.
Auskultasi : bising usus (+)
PEMERIKSAANPENUNJANG
Tanggal20 Januari 2018 • Trigliserida: 94 (N < 200)
•Hb: 12,0 (N: 13,5 - 18,6) • GDA: 217 (N < 125)
• Leukosit: 16.800 (N: 4-11 x103) • SGOT:45 (N < 37 U/l)
• Trombosit: 227.000 (N: 150-450 x103) • SGPT: 38 (N < 40 U/l)
•Hematokrit: 38,7 (N: 40 - 54) • Ureum: 25 (N: 4,7–23,4)
•Uric acid: 5,9 (N: 3,1 – 7,0) • Kreatinin: 0,9 (N: 0,8–1,5)
• BT: 3 menit 35 detik (N:1-5 mnt) • CT: 8 menit 45 detik (N: 5-11 mnt)
Diagnosis
Hernia inguinalis lateralis dextra
Planning
 O2 nasal canul 2 lpm
 Infus RL loading 500 cc
 Inj. Ketorolac 1 amp extra
 Diazepam suppositoria 5mg extra
 Posisi Trendelenburg
 Pasien pulang paksa karena benjolan sudah dapat masuk kembali
 pro kontrol poli bedah
Lembar Observasi

Tanggal /Jam GCS TD Nadi RR Suhu Keterangan


20-01-18 / 21.40 456 90/70 100 24 35,9˚C O2 canul 2lpm
Inf. RL 500cc
Diazepam suppositoria 5mg extra
Inj. Ketorolac 1 amp extra
Posisi Trendelenburg

20-01-18 / 22.10 456 110/70 88 20 36,5˚C

20-01-18 / 22.30 456 110/70 84 20 36,5˚C Benjolan dapat masuk kembali Pasien
menolak rawat inap
Surat penolakan rawat inap
TINJAUANPUSTAKA
•Hernia inguinalis merupakan kasus bedah digestif terbanyak
setelah appendicitis.
•Tantangan dalam peningkatan status kesehatan masyarakat :
1. besarnya biaya yang diperlukan dalam penanganannya
2. hilangnya tenaga kerja akibat lambatnya pemulihan dan
peningkatan angka rekurensi.
• Dari keseluruhan jumlah operasi di Perancis tindakan bedah
hernia sebanyak 17,2 % dan 24,1 % di Amerika Serikat.
75% Hernia Abdomen

Hernia Inguinalis

HIL HIL HIM

Pria (7) : Wanita (1)


Hernia Rupture

suatu penonjolan abnormal organ atau jaringan melalui daerah


yang lemah (defek) yang diliputi oleh dinding.
Anatomi

(1)Kulit,
(2) Jaringan subkutan,
(3) Fasia scarpa, otot dinding perut,
(4) m.oblikus eksternus,
(5) m.oblikus internus,
(6) m.oblikus transverses,
(7) fasia transversalis,
(8) jaringan praperitoneal,
(9) peritoneum parietale,
(10) m.rektus abdominis,
(11) linea alba.
(1) Spina iliaka anterior superior,
(2) ligamentum inguinalis,
(3) annulus internus, tempat keluarnya hernia
indirek,
(4) tuberkulum pubikum,
(5) ligamentum lakunare Gimbernati,
(6) v.femoralis,
(7) a.femoralis,
(8) a.v. epigastrika inferior,
(9) m.rektus abdominis,
(10) linea semisirkularis (Douglas),
(11) Segitiga Hasselbach, tempat keluarnya
hernia direk,
(12) m.iliopsoas,
(13) foramen obturatoria,
(14) funikulus spermatikus,
(15) Hernia femoralis.
Etiologi
 Lemahnya dinding rongga perut. Dapat ada sejak lahir atau didapat
kemudian dalam hidup.
 Akibat dari pembedahan sebelumnya.
 Kongenital
 Akuisita
Klasifikasi
Hernia Kongenital
Berdasarkan Terjadinya

Hernia Akuisita

Hernia reponibilis: isi hernia dapat keluar masuk, keluar jika berdiri atau
Berdasarkan Klinis mengejan dan masuk lagi jika berbaring atau didorong masuk, nyeri (-) atau
gejala obstruksi usus. Dapat direposisi tanpa operasi.

Hernia irreponibilis: isi hernia tidak dapat masuk kembali kecuali dengan
bantuan operasi. rasa nyeri (-) atau gejala obstruksi usus. Jika telah
mengalami perlekatan organ disebut hernia akreta

Hernia inkarserata: isi kantong terperangkap, terjepit oleh cincin hernia,


tidak dapat kembali ke dalam rongga perut, dan sudah disertai tanda-tanda
ileus mekanis (usus terjepit sehingga aliran makanan tidak bisa lewat).

Hernia strangulata: gangguan vaskularisasi viscera yang terperangkap dalam


kantung hernia (isi hernia). gangguan vaskularisasi telah terjadi pada saat
jepitan dimulai, dengan berbagai tingkat gangguan mulai dari bendungan
sampai nekrosis.
Berdasarkan arah hernia
Hernia Eksterna Hernia Interna
 Hernia inguinalis medialis (15%) dan Pada cavum abdominalis:
lateralis (60%)  Hernia epiploica Winslowi
 Hernia femoralis
 Hernia bursa omentalis
 Hernia umbilicalis
 Hernia mesenterika
 Hernia epigastrika
 Hernia retro peritonealis
 Hernia lumbalis
 Hernia obturatoria Pada cavum thorax:
 Hernia semilunaris  Hernia diafragmatika traumatika
 Hernia parietalis  Hernia diafragmatika non-traumatika
 Hernia ischiadica
Bagian – bagian hernia :

 Kantong hernia
Pada hernia abdominalis berupa peritoneum parietalis. Tidak semua hernia
memiliki kantong, misalnya hernia incisional, hernia adiposa, hernia
intertitialis.
 Isi hernia
Berupa organ atau jaringan yang keluar melalui kantong hernia, misalnya
usus, ovarium, dan jaringan penyangga usus (omentum).
 Pintu hernia
Merupakan bagian locus minoris resistance yang dilalui kantong hernia.
 Leher hernia
Bagian tersempit kantong hernia yang sesuai dengan kantong hernia.
 Locus minoris resistence (LMR)
Perbedaan HIL & HIM
Hubungan dengan
Dibungkus oleh fascia Onset biasanya pada
Tipe Deskripsi vasa epigastrica
spermatica interna waktu
inferior

Penojolan melewati cincin inguinal dan


merupakan kegagalan penutupan cincin
ingunalis interna pada waktu embrio setelah
Congenital
Hernia ingunalis penurunan testis
Lateral Ya Dan bisa pada waktu
lateralis
dewasa.

Keluar langsung menembus fascia dinding


Hernia ingunalis abdomen
Medial Tidak Dewasa
medialis
Gejala
 Pasien mengeluh ada tonjolan di lipat paha (dapat keluar masuk)
 nyeri dan membengkak pada saat mengangkat beban dan teregang.
 Beberapa pasien mengeluh adanya sensasi nyeri yang menyebar biasanya
pada hernia ingunalis lateralis, perasaan nyeri yang menyebar hingga ke
scrotum.
 Dengan bertambah besarnya hernia maka diikuti rasa yang tidak nyaman
dan rasa nyeri, sehingga pasien berbaring untuk menguranginya
Tekhnik pemeriksaan
Pemeriksaan Finger Test :
 Menggunakan jari ke 2 atau jari ke
5.
 Dimasukkan lewat skrortum
melalui anulus eksternus ke kanal
inguinal.
 Penderita disuruh batuk:
 Bila impuls diujung jari berarti
Hernia Inguinalis Lateralis.
 Bila impuls disamping jari Hernia
Inguinnalis Medialis.
Pemeriksaan Ziemen Test :

 Posisi berbaring, bila ada benjolan


masukkan dulu (biasanya oleh
penderita).
 Hernia kanan diperiksa dengan
tangan kanan.
 Penderita disuruh batuk bila
rangsangan pada :
 jari ke 2 : Hernia Inguinalis Lateralis.
 jari ke 3 : hernia Ingunalis Medialis.
 jari ke 4 : Hernia Femoralis.
Pemeriksaan Thumb Test :

 Anulus internus ditekan dengan


ibu jari dan penderita disuruh
mengejan
 Bila keluar benjolan berarti Hernia
Inguinalis medialis.
 Bila tidak keluar benjolan berarti
Hernia Inguinalis Lateralis
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium Pemeriksaan Radiologi
 Untuk mendukung ke arah adanya  Ultrasonografi dapat digunakan
strangulasi, sebagai berikut: untuk membedakan adanya massa
 Leukocytosis dengan shift to the left
pada lipat paha atau dinding
yang menandakan strangulasi. abdomen dan juga membedakan
 Elektrolit, BUN, kadar kreatinine
penyebab pembengkakan testis
yang tinggi akibat muntah-muntah
dan menjadi dehidrasi.
 Tes Urinalisis untuk
menyingkirkan adanya masalah
dari traktus genitourinarius yang
menyebabkan nyeri lipat paha.
Diagnosa banding
Penatalaksanaan di IGD
 Teknik reduksi spontan
memerlukan sedasi dan analgetik
yang adekuat dan posisikan
Trendelenburg, serta kompres
dingin selama 20-30 menit.
Konsul Bedah jika:
 Reduksi hernia yang tidak berhasil  Pada pasien BPH (mendahulukan
 Adanya tanda strangulasi dan operasi BPH Mengingat tingginya
keadaan umum pasien yang resiko infeksi traktus urinarius dan
memburuk retensi urin pada saat operasi
 Pada pasien geriatri sebaiknya
hernia).
dilakukan operasi elektif agar kondisi  Pada saat operasi harus dilakukan
kesehatan saat dilakukan operasi eksplorasi abdomen untuk
dalam keadaan optimal dan anestesi memastikan usus masih hidup, ada
dapat dilakukan. Operasi yang cito tanda-tanda leukositosis.
mempunyai resiko yang besar pada  Gejala klinik peritonitis, kantung
pasien geriatri. hernia berisi cairan darah yang
berwarna gelap.
Daftar Pustaka
•Townsend, Courtney M. 2004. Hernias. Sabiston Textbook of
Surgery. 17th Edition. Philadelphia. Elsevier Saunders. 1199-1217.

•Brunicardi, F Charles. 2005. Inguinal Hernias. Schwartz’s


Principles of Surgery. Eighth edition. New York. Mc Graw-Hill.
1353-1394.

•Rasjad C. Hernia. Dalam : Sjamsuhidajat R, Jong WD, editor.


Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi ke-2. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran ECG; 2004; hal. 523-38