Anda di halaman 1dari 54

PRESENTASI TUGAS

Tumor mamme

Pembimbing :
dr. Lopo Triyanto, Sp.B(K)Onk

Disusun Oleh :
Wulan Zumaroh Azmi
G4A016026

SMF ILMU BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
RSUD PROF. DR. MARGONO SOEKARJO
PURWOKERTO

2018
Identifikasi

• Nama : Ny. S
• Umur : 55 tahun
• Jenis Kelamin : Perempuan
• Status : Menikah
• Bangsa : Indonesia
• Pekerjaan : ibu rumah tangga
• Tanggal masuk RS: : 14 Maret 2018
• Tanggal periksa : 15 Maret 2018
ANAMNESIS
• Keluhan Utama:
• Benjolan pada payudara kanan
• Riwayat Perjalanan Penyakit:
• Pasien datang ke poli bedah onkologi RSMS dengan keluhan
benjolan di payudara kanan, keluhan dirasakan sejak 1 tahun yang
lalu, penderita mengeluh timbul benjolan pada payudara kanan
bagian atas kira-kira sebesar kelereng. Benjolan yang teraba oleh
penderita hanya satu buah, kenyal, dapat digerakkan dan tidak
terasa nyeri. Penderita menyangkal keluar cairan dari puting susu,
dan kulit payudara di daerah benjolan sama dengan kulit di
sekitarnya. Penderita tidak mengeluh teraba benjolan ditempat lain,
tetapi pasien membiarkan benjolan tersebut.
• Selama 8 bulan terakhir penderita mengeluh benjolan
tersebut terasa makin membesar hingga sebesar bola
pimpong, dapat digerakkan, tidak terasa nyeri, terdapat
luka, tidak ada cairan yang keluar dari puting susu serta
tidak nyeri ketika haid. Saat ini, benjolan tersebut kira-
kira berukuran sebesar setengah buah jambu biji.
Benjolan tidak terasa nyeri saat ditekan. Kulit di sekitar
benjolan menjadi merah. Penderita juga mengeluh
teraba benjolan di daerah ketiak kanan dan kirinya. Pada
ketiak kanan, benjolan berukuran sebesar telur puyuh,
jumlahnya satu buah, teraba keras, tidak dapat
digerakkan dan tidak nyeri saat ditekan.
• Sedangkan, pada ketiak kiri, teraba
benjolan berjumlah satu buah, benjolan
berukuran sebesar kacang tanah, teraba
keras, dapat digerakkan dan tidak nyeri
saat ditekan. Lalu pasien memeriksaakan
diri ke puskesmas terdekat, puskesmas
merujuk pasien ke poli bedan onkologi
terkait penyakitnya.
Riwayat penyakit dahulu

• Keluhan serupa : disangkal


• Riwayat hipertensi : disangkal
• Riwayat kencing manis : disangkal
• Riwayat penyakit ginjal : disangkal
• Riwayat asma : disangkal
• Riwayat alergi : disangkal
• Riwayat stroke : disangkal
• Riwayat gangguan kehamilan : disangkal
• Riwayat kecelakaan dan trauma lainnya :
disangkal
Riwayat penyakit keluarga
• Riwayat penyakit serupa : disangkal
• Riwayat hipertensi : disangkal
• Riwayat penyakit jantung : disangkal
• Riwayat kencing manis : disangkal
• Riwayat penyakit ginjal : disangkal
• Riwayat asma : disangkal
• Riwayat alergi : disangkal
• Riwayat stroke : disangkal
• Riwayat karsinoma : diakui
Riwayat social dan exposure

Community
• Pasien tinggal di pedesaan. Rumah satu dengan yang lain berdekatan.
Hubungan antara pasien dengan tetangga dan keluarga dekat harmonis.
Home
• Pasien tinggal bersama suami dan 2 orang anaknya serta 1 orang menantu,
Hubungan antara pasien dengan keluarga baik.
Occupational
• Pasien bekerja tidak bekerja.
Diet
• Pasien makan dengan nasi, sayur, lauk seadanya. Pasien sering memakan
makanan yang mengandung penyedap rasa dan pengawet makanan.
Pasien sering minum teh dan air putih. Pasien jarang buah-buahan.
Riwayat minum jamu disangkal, riwayat makan kaleng disangkal.
Pemeriksaan fisik
• Keadaan Umum : Baik
• Kesadaran : compos mentis
• Pernafasan : 18x/menit
• Nadi : 80x/menit
• Tekanan Darah : 120/90 mmHg
• Suhu : 36.5 ºC
• Berat Badan : 50 kg
• Tinggi Badan : 160 cm
• Keadaan Gizi : baik
• Kepala : Konjungtiva pucat -/-, sklera ikterik -/-
• Pupil : isokor, refleks cahaya +/+
• Leher : tidak teraba pembesaran
• Kelenjar getah bening: lihat status lokalis
Thorax
• Inspeksi : hemithorax dextra=sinistra, ketinggalan gerak
(-), retraksi intercostae -/-
• Palpasi : vocal fremitus simetris pada apex dan basal,
massa (+)
• Perkusi : sonor pada seluruh lapang paru batas paru hepar SIC
V LMCD
• Auskultasi : Suara Dasar Vesikuler pada seluruh lapang paru,
ronkhi basah kasar (+/+), wheezing (-)
Cor
• Inspeksi : terlihat ictus cordis di SIC V LMCS pulsasi
parasternal
• (-) pulsasi epigastrik (-)
• Palpasi : teraba ictus cordis di SIC V LMCS, kuat
angkat
• Perkusi : batas jantung kanan atas SIC II LPSD
• Kiri atas SIC II LPSS
• Kanan bawah SIC IV 1 jari LPSD
• Kiri bawah SIC V 3 jari LMCS
• Auskultasi : ireguler-ireguler, murmur (-) gallop (-)
Abdomen
• Inspeksi : datar
• Auskultasi : bising usus (+) normal
• Perkusi : timpani pada seluruh lapang perut pekak sisi
(-), pekak q alih (-)
• Palpasi : supel, undulasi (-), nyeri tekan (-)
• Hepar : tidak teraba besar
• Lien : tidak teraba besar
Ekstremitas Superior : tidak ada kelainan
Ekstremitas Inferior : tidak ada kelainan
Status lokalis
Regio Thoraks
Inspeksi :tampak payudara kiri dan kanan tidak simetris
Palpasi :stemfremitus paru kanan sama dengan kiri
Perkusi :sonor pada kedua hemithoraks
Auskultasi :suara napas vesikuler pada kedua hemithoraks
Regio Mamma dextra
Inspeksi : tampak benjolan sebesar buah jambu biji dengan warna kulit
kemerahan disekitar benjolan, batas tidak tegas, tidak tampak ulkus, retraksi puting (-).
Palpasi : teraba massa dengan konsistensi keras, permukaan
berdungkul-dungkul, batas tidak tegas, terfiksir pada jaringan dibawahnya, tidak ada
nyeri tekan, ukuran ± 8 cm x 6 cm x 3 cm.
Regio Mamma Sinistra
Inspeksi : tidak tampak benjolan
Palpasi : tidak teraba massa
KGB Axilla Dextra
Inspeksi : tampak benjolan sebesar telur puyuh, warna benjolan sama dengan kulit
sekitarnya.
Palpasi : teraba massa satu buah, konsistensi keras , permukaan rata, batas tegas,
terfiksir pada jaringan dibawahnya, nyeri tekan (-), ukuran ± 3 cm x 2 cm x 2 cm.
KGB Axilla Sinistra
Inspeksi : tidak tampak benjolan
Palpasi : teraba massa dua buah, konsistensi keras, permukaan rata, batas tegas,
dapat digerakkan, nyeri tekan (-), ukuran masing-masing ± 0,5 cm x 0,5 cm x 0,5 cm.
KGB Supraklavikula Dextra
Inspeksi : tidak tampak benjolan
Palpasi : teraba massa satu buah, konsistensi keras, permukaan rata, batas
tegas, dapat digerakkan, nyeri tekan (-), ukuran ± 0,5 cm x 0,5 cm x 0,5 cm.
KGB Supraklavikula Sinistra
Inspeksi : tidak tampak benjolan
Palpasi : teraba massa satu buah, konsistensi keras , permukaan rata, batas
tegas, dapat digerakkan, nyeri tekan (-), ukuran ± 0,3 cm x 0,3 cm x 0,3 cm
Pemeriksaan penunjang
• Hemoglobin : 11,3 g/dl
• Hematokrit : 33 vol%
• LED : 79 mm/jam
• Leukosit : 9800/mm3
• Trombosit : 326.000/mm3
• Hitung jenis : 0/1/0/72/19/8 (0-1/1-
3/50-70/20-40/2-8 % )
• Kimia Klinik:
• Ureum : 28 mg/dl
• Creatinin : 1 mg/dl
• Assesment
Diagnosa : Tumor Mamme Dextra curiga keganasan
Diagnosa Banding: - Fibroadenoma Mamma
- Kelainan Fibrokistik
- Kistokarsinoma filoides
• Planning
Perbaikan Keadaan umum
• Prognosis
Quo ad vitam : dubia ad malam
Quo ad functionam : malam
Karsinoma Mammae
A. Definisi
• Kanker payudara  keganasan yang
berasal dari jaringan payudara, bisa dari
sel kelenjar, saluran kelenjar dan jaringan
ikat payudara, namun tidak termasuk kulit
payudara
B. Faktor Resiko
Sebagian besar kanker payudara berhubungan dengan faktor
hormonal dan genetik, yang berkaitan dengan:
1.Faktor yang berhubungan dengan diet yang berdampak negatif
seperti:
– Peningkatan BB yang berlebihan terutama setelah menopause
– Peningkatan TB yang cepat pada masa pubertas
– Makanan cepat saji  mengandung byk lemak jenuh
– makanan terlalu manis
– Minuman beralkohol
•Beberapa diet yang dapat mengurangi risiko terjadinya kanker
payudara seperti:
– Memperbanyak konsumsi makanan mengandung serat seperti sayur, buah
– Peningkatan konsumsi makanan yang mengandung vitamin seperti C dan A
B. Faktor Resiko
2. Hormon dan faktor reproduksi
– Menarche atau haid pertama pada usia muda (kurang dari 12
tahun)
– Melahirkan anak pertama pada usia lebih tua (di atas 50 tahun)
– Pemakaian kontrasepsi oral dalam waktu lama (> 7 tahun)
– Infertilitas atau mandul, tidak menikah
– Tidak menyusui anak
3. Terpapar radiasi pengion pada saat pertumbuhan
payudara
4. Adanya faktor genetik atau keturunan
5. Pernah menderita penyakit tumor jinak payudara atau
pernah menderita kanker payudara (Depkes RI, 2009).
C. Embriologi
• Payudara kelompok kelenjar besar yang berasal dari epidermis
• terbungkus dalam fascia yang berasal dari dermis, dan fascia superficial
dari permukaan ventral dada.
• Puting susu proliferasi lokal dari stratum spinosum epidermis.
• Selama bulan kedua kehamilan, dua berkas lapisan tebal ectoderm
muncul pada dinding depan tubuh terbentang dari aksila ke lipat paha.
• Dua berkas ini adalah milk line dan merupakan jaringan kelenjar mamma
yang potensial.
• Pada manusia, hanya bagian pectoral dari berkas ini yang akan menetap
dan akhirnya berkembang menjadi kelenjar mamma dewasa.
• Terkadang, jaringan payudara yang tersisa atau bahkan fungsional dapat
muncul dari bagian lain dari milk line.
Gambar 2.1. A. Milk line dari embrio mamalia secara umum, kelanjar mamma terbentuk
sepanjang garis ini. B. Tempat umum terbentuknya kelenjar mamma atau supernumerary
nipples pada manusia (De Jong, 2005)
Gambar 1.2. Pembentukkan payudara. A-D : stadium pembentukkan kelenjar dan sistem
duktus berasal dari epidermis. Septa jaringan ikat berasal dari mesenkim dermis. E : eversi
putting menjelang kelahiran (De Jong, 2005).
D. Anatomi
• Payudara pada pria dan wanita adalah sama sampai
masa pubertas (11-13 tahun)
• karena hormon estrogen dan hormon lainnya
mempengaruhi perkembangan payudara pada wanita.
• Pada wanita perkembangan payudara aktif, sedangkan
pada pria kelenjar dan duktus mamae kurang
berkembang dan sinus berkembang tidak sempurna
• Payudara yang sensitif terhadap pengaruh hormonal
mengakibatkan payudara cenderung mengalami
pertumbuhan neoplastik baik yang bersifat jinak maupun
ganas
D. Anatomi
• merupakan bagian dari organ reproduksi yang fungsi utamanya
menyekresi susu untuk nutrisi bayi.
• terdiri dari jaringan:
– duktural,
– fibrosa yang mengikat lobus-lobus,
– dan jaringan lemak di dalam dan diantara lobus-lobus. 85% jaringan
payudara terdiri dari lemak.
• Sedikit di bawah pusat payudara dewasa terdapat puting
(papila mamae), tonjolan yang berpigmen dikelilingi oleh
areola.
• Puting dan areola biasanya mempunyai warna dan tekstur
yang berbeda dari kulit disekitarnya.
D. Anatomi
• Kanker payudara dapat terjadi dibagian mana saja
dalam payudara,
• tetapi mayoritas terjadi pada kuadran atas terluar
dimana sebagian besar jaringan payudara terdapat.
• Dalam menentukan lokasi kanker payudara, payudara
dibagi menjadi empat kuadran, yaitu:
• kuadran atas luar (supero lateral), atas dalam (supero
medial), bawah luar (infero lateral), dan bawah dalam
(infero medial).
• Ekor payudara merupakan perluasan kuadran atas
luar (supero lateral)
Gambar 2.3. Anatomi payudara dan kuadran letak kanker payudara (Abdulmuthalib, 2006)
E. Stadium
– Stadium I : Tumor terbatas dalam payudara, bebas dari jaringan sekitarnya,
tidak ada fiksasi/infiltrasi ke kulit dan jaringan yang di bawahnya (otot). Besar
tumor 1 - 2 cm dan tidak dapat terdeteksi dari luar. KGB regional belum
teraba. Perawatan yang sangat sistematis diberikan tujuannya adalah agar
sel kanker tidak dapat menyebar dan tidak berlanjut pada stadium
selanjutnya.
– Stadium II : Tumor terbebas dalam payudara, besar tumor 2,5 - 5 cm, sudah
ada satu atau beberapa kelenjar getah bening aksila yang masih bebas
dengan diameter kurang dari 2 cm. Untuk mengangkat sel-sel kanker
biasanya dilakukan operasi dan setelah operasi dilakukan penyinaran untuk
memastikan tidak ada lagi sel-sel kanker yang tertinggal.
– Stadium III A : Tumor sudah meluas dalam payudara, besar
tumor 5 - 10 cm, tapi masih bebas di jaringan sekitarnya,
kelenjar getah bening aksila masih bebas satu sama lain.
Menurut data dari Depkes, 87% kanker payudara ditemukan
pada stadium ini.
– Stadium III B : Tumor melekat pada kulit atau dinding dada,
kulit merah dan ada edema (lebih dari sepertiga permukaan
kulit payudara), ulserasi, kelenjar getah bening aksila melekat
satu sama lain atau ke jaringan sekitarnya dengan diameter 2 -
5 cm. Kanker sudah menyebar ke seluruh bagian payudara,
bahkan mencapai kulit, dinding dada, tulang rusuk dan otot
dada.
• Stadium IV : Tumor seperti pada yang lain
(stadium I, II, dan III). Tapi sudah disertai
dengan kelenjar getah bening aksila supra-
klavikula dan Metastasis jauh. Sel-sel kanker
sudah merembet menyerang bagian tubuh
lainnya, biasanya tulang, paru-paru, hati, otak,
kulit, kelenjar limfa yang ada di dalam batang
leher. Tindakan yang harus dilakukan adalah
pengangkatan payudara.
• Tujuan pengobatan pada stadium ini adalah
palliatif bukan lagi kuratif (menyembuhkan)
F. Diagnosis
1. Anamnesis
a. Gejala yang timbul
– Massa pada payudara
– Nyeri pada payudara
– Discharge pada puting payudara
– Retraksi kulit pada puting payudara
– Massa atau nyeti padaketiak
– Bengkak pada lengan tangan
– Gejala yang mungkin timbul pada metastasis
– Kecurigaan yang ditemukan pada saat pemeriksaan rutin mamografi

b. Riwayat penyakit pada payudara


c. Riwayat penyakit keluarga dengan kanker payudara atau
ginekologi lain
F. Diagnosis
d. Riwayat reproduksi:
– Usia menstruasi pertama
– Usia saat melahirkan pertama kali
– Jumlah riwayat mengandung, jumlah anak, dan riwayat keguguran
– Riwayat hormonal termasuk pil kontrasepsi (tipe dan durasi) dan terapi pengganti
hormonal (tipe dan durasi)

e. Riwayat penyakit dahulu


2. Pemeriksaan fisik
Pada pemeriksaan fisik didapatkan:
– Performa pasien
– Berat badan, tinggi badan, dan area permukaan
– Pemeriksaan umum dari sistem yang lain
F. Diagnosis
– Pemeriksaan status lokalis:
• Massa pada payudara
• Ukuran
• Lokasi (spesifik arah jarum jam dan jarak dari tepi areola)
• Bentuk
• Konsistensi
• Fiksasi terhadap kulit, otot pectoral, dan dinding dada
• Jumlah
– Perubahan pada kulit
• Eritema (lokasi dan ekstensi)
• Edem (lokasi dan ekstensi)
• Cekungan
• Infiltrasi
• Ulserasi
• Nodul satelit
F. Diagnosis
– Perubahan pada puting payudara
• Retraksi
• Eritema
• Erosi dan ulserasi
• Discharge
– Status pada nodul
• Bejolan pada ketiak (jumlah, ukuran, lokasi)
• Benjolan pada supraklavikula
– Pemeriksaan lokal pada daerah metastasis
3. Pemeriksaan penunjang
– Pemeriksaan darah lengkap, fungsi ginjal, dan fungsi hati
– Mamografi bilateral (Radiologis sinar-x)
– USG
– Scintimamografi (Pemeriksaan radionuklir dengan radioisotop)
F. Diagnosis
• Diagnosis pasti hanya ditegakan dengan pemeriksaan
histopatologis.
• Bahan pemeriksaan dapat diambil dengan berbagai
cara, yaitu:
– Biopsi aspirasi (fine needle biopsy)
– Needle core biopsy dengan jarum Silverman
Penatalaksanaan Ca Mammae
1. Kanker Payudara Non-Invasif
a. Ductal Carcinoma In-situ
adalah suatu keadaan dimana sel -kanker belum menembus membrana
basalis, atau jika telah menembus mikroskopis tidak mencapai 1 mm.
Beberapa terapi untuk DCIS yaitu (Manuaba, 2010):
• Mastectomy simple (tidak dilakukan eksisi aksila) : adapun rasional untuk melakukan
mastektomi adalah adanya pertimbangan multifokalitas dan multisentrisitas ataupun
kalsifikasi yang difus pada mamografi.
• Breast Corserving Therapy/ Surgery (BCT/BCS): termasuk BCT adalah segmental
mastectomy, lumpectomy, tylectomy, wide local excision dengan atau tanpa diseksi
aksila. Pasien dengan BCT akan menjalani radioterapi adjuvant baik pada seluruh
payudara yang terkena dengan booster pada lapang pembedahan.
• Terapi adjuvant hanya diberikan pada pasien dengan resiko tinggi terjadi rekurensi.
• Terapi hormonal diberikan pada pasien dengan ER dan atau PR positif, tanpa
riwayat gangguan tromboembolism.
b. Lobular Carcinoma Insitu (LCIS)
Diagnosis seringkali insidental, biasanya nonpalpable, lebih sering
pada wanita premenopause. Adanya LCIS ini dianggap sebagai
faktor resiko untuk terjadinya invasif karsinoma.
• terapi yang dianjurkan adalah eksisi dari tumor dan follow up yang
baik
• Terapi adjuvant pada LCIS adalah pemberian tamoxiven yang
menurunkan resiko terjadinya invasif sampai 56%. Pemberian
radioterapi masih belum jelas (Manuaba, 2010).
• Surveillance marupakan hal penting pada LCIS antara lain
pemeriksaan fisik setiap 6 bulan sampai 1 tahun dan mamografi.
2. Kanker Payudara Invasif
adalah karsinoma dari epitel mamma yang telah infiltratif keluar dan menembus
membrana basalis duktal. Hal ini menunjukkan bahwa karsinoma invasif
mempunyai kemampuan untuk terus melakukan infiltrasi jaringan sekitar dan
bermetastasis pada KGB regional maupun bermetastasis ke organ jauh
Terapi bedah stadium dini (T1,T2,N0,N1).:
– BCS/BCT: biasanya dilakukan dengan tumor yang relatif kecil <3 cm dengan
tanpa pembesaran KGB. BCS/BCT dapat dilakukan dengan atau tanpa diseksi
KGB aksila, tergantung pada klinis,
– Mastektomi radikal modifikasi (Patey/Maaden dan Uchincloss): dipertimbangkan
jika tumor besar, adanya faktor resiko yang tinggi untuk rekurensi seperti usia
muda, high nuclear grade, comedo type necrosis, margin positif, DNA
aneuploidy.
– Rekonstruksi bedah: dapat dipertimbangkan pada ahli bedah yang mempunyai
kemampuan rekonstruksi pembedahan payudara tanpa mengorbankan prinsip
bedah onkologi.
Karsinoma Payudara Lanjut Lokal/Locally Advanced Breast
Cancer(LABC)
Yang termasuk pada LABC adalah T3 dengan N2 dan atau N3
• Terapi:
– Pembedahan yang dianjurkan adalah mastektomi radikal modifikasi
ataupun dengan mastektomi radikal standar
– Terapi neoadjuvant (sistemik): adalah pemberian modalitas terapi lain
selain bedah dengan tujuan untuk mengeradikasi mikrometastasis yang
diasumsikan telah ada pada saat diagnosis karsinoma payudara
ditegakkan
Karsinoma Payudara Inflamatoir/Inflammatory Breast Cancer
(IBC)
• IBC merupakan karsinoma mamma yang agresif dan
mempunyai prognosis lebih buruk.
• Terapi pada umumnya neoadjuvant chemotherapy, surgery
atau radiation therapy, dan adjuvant chemotherapy.
Karsinoma Payudara Bermetastasis
• Pada stadium ini terapi bedah bukan merupakan pilihan lagi.
• Pemberian terapi sistemik baik kemoterapi maupun terapi hormonal menjadi
pilihan utama
• Kemoterapi terapeutik merupakan pilihan utama pada viseral metastasis (life
threatening metastasis), agressive breast cancer (high grade, HER2
overexspression ER/PR- P53 overekspression), umur muda.
• Sebaliknya terapi hormonal diberikan pada karsinoma payudara yang lebih
indolen, ER/PR+, bone metastasis, low gradees.
• Peran bedah hanya sebagai tindakan adjuvant atau paliatif, untuk
mengambil sisa tumor, menghentikan perdarahan, dengan sarat bahwa
pembedahan tetap harus memenuhi sarat pembedahan yang onkologis
TERIMA KASIH
Untuk mencegah residif pasca pembedahan , maka prinsip – prinsip
onkologi dalam tindakan operatif pembedahan maupun biopsi harus
diterapkan meliputi :
1. Jangan menggunakan anestesi infiltrasi
Akan menyebabkan sel-sel tumor menyebar oleh jarum anestesi, juga
akibat tekanan dari zat berupa cairan saat dikeluarkan dari jarum suntik. Hal ini
dapat mengakibatkan terangkutnya sel-sel tumor ke jaringan sekitarnya.
2. Jangan menekan-nekan tumor
Penekanan pada masa tumor akan dapat menyebabkan pecahnya kapsel
pembungkus tumor sehingga sel-sel tumor mudah terlepas menyebar ke
sekitarnya atau masuk ke aliran darah ataupun saluran limfe. Oleh karena itu
jaringan sekitar tumor harus diambil setebal mungkin walaupun secara
makroskopik daerah tersebut bebas tumor.
3. Jangan menarik - narik preparat tumor
Sel tumor mudah robek dengan adanya tarikan ringan saja sehingga dapat
menimbulkan kontaminasi daerah operasi akibat terjadinya hubungan antar sel
tumor dengan luka operasi, yang dapat menyebarkan tumor melalui peredaran
darah.
4. Melakukan preparasi tumor harus seelalu dengan sayatan tajam dengan
mempergunakan pisau, tidak sekali-kali melakukan sayatan tumpul.
Apabila dilihat adanya pemisahan jaringan tumor yang mudah (cleavage plain)
harus dicurigai adanya masa tumor yang tertinggal . Mencari batas tumor yang
mudah dilepaskan seperti pada eksisi tumor jinak tidak dibenarkan bila
melakukan eksisi tumor ganas. Batas 2 cm diluar daerah yang diamggap tidak
ada tumor sudah cukup aman untuk dijadikan patokan, kecuali pada kasus
melanoma maligna, batas yang dijadikan patokan adalah 6-7 cm diluar massa
tumor.
5. Daerah kelenjar diangkat dalam suatu preparasi dengan tumor primernya
dan jika memungkinkan seluruh jalur metastase limfogen dari tumor primer
kelenjar regional sekitarnya juga harus diangkat seluruhnya, karena dianggap
sebagai satu preparat..
6. Bekas biopsi, bekas operasi yang tidak radikal atau bekas punksi jarum
jangan dibuka atau diincisi kembali, karena daerah ini dianggap sebagai
bagian dari tumor sehingga harus ikut terangkat dalam satu preparat bersama
masa tumor primernya pada saat operasi definitive. Jika terpaksa harus
membuat sayatan biopsi pada tempat - tempat itu, maka luka insisi tersebut
harus ditutup rapat dengan jahitan sub-kutikuler dan pada permukaan atasnya
disemprotkan cairan penutup luka kemudian dibungkus dengan pelastik khisus
secara off-site .
7. Permukaan tumor yang berulkus, tempat melekatnya tumor yang berulkus
atau tempat dimana tumor telah mencapai lapisan serosa, harus ditutup atau
dikoagulasi dengan tujuan agar tidak ada tumor yang mengkontaminasi daerah
operasi.
8. Daerah permukaan reseksi usus sebelumnya dilakukan anastomose
dibilas dengan cairan pembunuh sel melalui bagian distal lumen usus, dengan
menggunakan larutan HgCl2 atau larutan sublimat 1: 500 khususnys untuk
sarcoma tetapi jika jenis tumornya adenokarsinoma atau melanoma sbaiknya
digunakan larutan Cetrimide 1% sedangkan intraperitoneal dipakai larutan
Mustard 1% (Mechlorethamine 1 mg %) atau larutan Thiotepa (5FU)
9. Rongga-rongga besar seperti peritoneal atau pleura, tidak boleh dibilas
dengan cairan pembunuh sel karena dapat mengakibatkan keracunan. Sebagai
penggantinya diberikan kemoterapi secara perenteral dengan dosis yang
diperhitungkan dapat diterima penderita karena absorsinya dapat mencapai
100 % untuk menghindari keracunan.
10. Penyinaran preoperative dilakukan pada kasus-kasus yang sebelumnya
telah dilakukan tindakan yang melanggar prosedur terapi pembedahan
onkologi. Sedangkan penyinaran post operatif dilakukan pada kasus-kasus
dimana terdapat kontak antara jaringan tumor dengan daerah operasi atau
adanya keraguan pasca pengangkatan tumor bila ada sisa sel tumor yang
tertinggal.