Anda di halaman 1dari 35

OLEH:

SULISTYANDARI
Materi Perkuliahan:
1. Gadai
2. Fidusia
3. Jaminan Perorangan

Kepustakaan:
1. J. Satrio, 1987, Hukum Jaminan, Hak-hak Jaminan Kebendaan, PT.
Citra Aditya Bakti, Bandung.
2. Sri Soedewi MS, 1977, Hukum Jaminan di Indonesia, Fakultas
Hukum UGM, Yogyakarta.
3. Mariam Darus Badrulzaman, 1991, Bab-Bab Tentang
Creditverband, Gadai & Fiducia, Citra Aditya Bakti, Bandung.
4. Munir Fuaddy,2000, Jaminan Fidusia, Citra Aditya Bakti, Bandung
5. Daeng Naja H. R., 2005, Hukum Kredit dan Bank Garansi,
Bandung: Citra Aditya
6. Sri Soe Masjchoen Sofwan, 2003, Hukum Jaminan di
Indonesia Pokok-pokok Hukum Jaminan dan Jaminan
Perorangan, Liberty Offset, yogyakarta.
7. Peraturan PerUUan

Tatap muka direncanakan 5 pertemuan


Evaluasi : Ujian (UAS) dan Tugas
Pengertian gadai (Ps. 1150 KUHPerdata):
Gadai adalah suatu hak yang diperoleh seorang berpiutang atas
suatu barang bergerak, yang diserahkan kepadanya oleh seorang
berutang atau orang lain atas namanya, dan memberikan
kekuasaan kepada si berpiutang untuk mengambil pelunasan dari
barang tersebut secara didahulukan daripada orang berpiutang
lainnya, dengan pengecualian biaya untuk lelang tersebut dan
biaya yang telah dikeluarkan untuk menyelamatkannya, setelah
barang tersebut digadaikan, biaya-biaya mana harus didahulukan

Para Pihak Dalam Gadai:


1. Pihak yang memberikan jaminan gadai (Pemberi gadai)/Deb.
2. Pihak yang menerima gadai (Penerima/Pemegang gadai)/Kred
3. Pihak ketiga (lihat Ps.1150 d 1152 ayat 1 KUHPdt)
Sifat Umum Gadai:
1. Gadai adalah untuk benda bergerak (bertubuh d tdk bertubuh) (Ps.1150,
1152, 1152 bis, 1153, 1158 KUHPdt)

2. Sifat kebendaan (Ps.1150 jo Ps.528 KUHPdt)

3. Benda gadai dikuasai Pemegang gadai (Inbezitstelling) (Ps.1150 jo Ps.1152


ay 3 KUHPdt.)

4. Hak gadai tak dapat dibagi-bagi (Ps.1160 KUHPdt)

4. Hak menjual sendiri benda gadai (Ps.1155 ay 1 KUHPdt)

5. Hak yang didahulukan (Ps.1150 jo Ps 1133 KUHPdt)

6. Hak gadai diperjanjikan dan perj gadai sbg perj accessoir (Ps.1151
KUHPdt)

7. Jika Debitur wanprestasi, Kreditur dilarang memiliki benda gadai, segala


janji yg bertentangan dg itu batal (Ps.1154 KUHPdt).
Terjadinya Gadai:

1. Perjanjian gadai:
- lisan
- tertulis; akta notaris atau akta
bawah tangan

2. Inbezitsteling
Yaitu penyerahan barang yang digadaikan dari pemberi gadai
kepada penerima gadai. Jadi barang yang digadaikan itu
harus dilepaskan dari kekuasaan pemberi gadai atau pihak
ketiga yang disetujui oleh kreditur dan debitur.
Hak-Hak Pemegang Gadai:

1. Hak untuk menahan barang gadai (hak retentie) (Ps.1159


KUHPdt)

2. Hak untuk mendapat pelunasan dari pendapatan


penjualan barang yang digadaikan (Ps. 1155 KUHPdt)

3. Hak untuk memperhitungkan biaya-biaya yang perlu


guna mempertahankan barang gadai.

4. Hak untuk menagih utang.

5. Hak untuk didahulukan menerima pembayaran


utangnya dari para berpiutang lainnya.
Kewajiban Pemegang Gadai:

1. Merawat benda gadai yang ada dalam tangannya.

2. Bertanggungjawab atas kehilangan atau


kemerosotan nilai benda gadai akibat kesalahannya

3. Mengembalikan barang yang dijadikan jaminan


dalam hal hutang pokoknya lunas
1. Dengan hapusnya perjanjian pokok yang dijamin dengan gadai

2. Dengan terlepasnya benda gadai dari kekuasaan penerima gadai


(Ps.1152 ay 2 KUHPdt)

3. Dengan musnahnya benda gadai

4. Dengan dilepaskannya benda gadai secara sukarela

5. Dengan percampuran (penerima gadai menjadi pemilik benda


gadai)
Pasal 1155 KUHPdt menentukan :
Apabila oleh para pihak tidak telah diperjanjikan lain maka
siberpiutang adalah berhak jika siberhutang atau sipemberi gadai
bercidera janji setelah tenggang waktu yang ditentukan lampau atau
jika tidak telah ditentukan suatu tenggang waktu setelah
dilakukannya suatu peringatan untuk membayar, menyuruh menjual
barang gadainya dimuka umum menurut kebiasan-kebiasaan
setempat serta atau syarat-syarat yang lazim berlaku dengan maksud
mengambil pelunasan jumlah piutangnya beserta bunga dan biaya
dari pendapatan penjualan tersebut.
Jika barang gadainya terdiri atas barang-barang dagangan atau
efek-efek yang dapat diperdagangkan dipasar atau dibursa, maka
penjualannya dapat dilakukan ditempat-tempat tersebut asal
dengan perantaraan dua orang makelar yang ahli dalam
perdagangan barang-barang itu.

Jadi eksekusi terhadap barang jaminan gadai adalah sangat


mudah karena kreditor pemegang gadai oleh UU (Ps. 1155
KUHPdt) diberi kekuasaan untuk melakukan parate eksekusi
yaitu eksekusi secara serta-merta yang dapat dilakukan tanpa
Perantaraan/ bantuan Pengadilan.

Hanya dalam hal para pihak yaitu kreditor dan debitor telah
membuat perjanjian bahwa kreditor tidak boleh melakukan hak
parate eksekusinya, maka kreditor dalam hal debitor cidera janji
tidak dapat melaksanakan parate eksekusi.
Pasal 1156 KUHPdt menentukan :
Bagaimanapun, apabila siberhutang atau sipemberi gadai cidera
janji, siberpiutang dapat menuntut/minta dimuka Hakim supaya
barang gadainya dijual menurut cara yang ditentukan oleh
Hakim untuk melunasi hutang beserta bunga dan biaya atau
Hakim atas tuntutan siberpiutang untuk suatu jumlah yang akan
ditetapkan dalam putusan hingga sebesar utangnya beserta
bunga dan biaya, dst.

Jadi ada 2 cara eksekusi gadai:


1) Parate eksekusi yi menjual benda gadai dimuka umum, tanpa
perantaraan Pengadilan (Ps.1155 KUHPdt)
2) Eksekusi benda gadai dg perantaraan Pengadilan menurut
cara yg dientukan Hakim (Ps.1156 KUHPdt)
Pengaturan dalam KUHPdt:

- Buku II
Sebagai bagian dari Hukum Benda merupakan cara untuk
peralihan hak milik

- Buku III
Sebagai lembaga perikatan merupakan lembaga
penggantian kualitas kreditur
PARA PIHAK DALAM CESSIE

Terdapat tiga pihak dalam tiga hubungan hukum:

1. Hubungan antara kreditur semula (cedent) dan debitur


(cessus)

2. Hubungan antara kreditur semula (cedent) dan kreditur baru


(cessionaris)

3. Hubungan antara kreditur baru (cessionaris) dan debitur


(cessus)
Syarat umum dalam cessie:

1. Adanya suatu rechstitel atau peristiwa perdata yang


menimbulkan kewajiban penyerahan

2. Dilakukan oleh orang yang mempunyai kewenangan


beschikking (mengambil tindakan pemilikan)

Syarat khusus dalam cessie:

Dilakukan dengan membuat suatu akta yang disebut akta cessie


HUBUNGAN ANTARA CESSIONARIS DAN CESSUS

1. Pemberitahuan
Akta cessie baru berlaku terhadap cessus, kalau terhadapnya
sudah diberitahukan adanya cessie atau secara tertulis telah
disetujui atau diakui olehnya (pasal 613 ayat 2 KUH
Perdata)

2. Cessie dan pembayaran dengan itikad baik


Pada prinsipnya pembayaran harus diterima oleh kreditur atau
kuasanya (atau orang yang oleh undang-undang atau hakim
ditunjuk sebagai orang yang dikuasakan untuk
menerimanya). Dengan perkataan lain kepada kreditur
yang sebenarnya. Dalam Pasal 1386 KUH Perdata dikatakan,
bahwa pembayaran yang dilakukan dengan itikad baik kepada
orang yang memegang surat tagihannya adalah sah.
3. Cessie sebagai Jaminan
Dalam praktek perbankan, bank menuntut adanya cessie atas
tagihan atas nama yang dipunyai oleh debitur sebagai jaminan
(tambahan) kreditnya, jadi cessie di sini bukan dimaksudkan agar
kreditur menjadi pemilik dari tagihan tersebut tetapi hanya untuk
jaminan saja.

Beda gadai piutang atas nama dg Cessie sbg jaminan:


1. Pada gadai piutang atas nama, bentuknya bebas, hak gadai lahir pd saat
pemberitahuan kepd Debitur ttg penggadaian piutang atas nama (Ps.1153
KUHPdt)
2. Pada cessie sbg jaminan, bentuknya hrs tertulis (otentik atau dibawah
tangan), hak jaminan lahir pada saat dibuatnya akta cessie.

Arti pentingnya pembedaan pada saat terjadi kepailitan.


Mis. Jk terjadi kepailitan pd Cedent setelah dibuatnya akta cessie, Cessionaris
aman, meskipun terjadi penyitaan pd Cedent, krn hak atas piutang tsb sdh
beralih pd Cessionaris. Beda pd gadai, jika terjadi kepailitan pd kreditur lama
setelah dibuatnya akta sebelum ada pemberitahuan pd Debitur akan
mengganggu kreditur baru krn hak gadai belum beralih kpd kreditur baru.
CESSIE
SEBAGAI JAMINAN HUTANG BANK
Piutang Dagang A
A B
CEDENT CESSUS
(Debitur Bank) Dialihkan sebagai (Debitur)
Jaminan hutang
Akad Kredit

(Kreditur)
Persyaratan : Bank Cessionaris
1. Pengalihan harus dengan Akta Otentik atau dibawah tangan
2. Cessus diberitahu, atau diakui oleh yang bersangkutan dan disetujui secara
tertulis (agar berlaku bagi Cessus Ps.612 ayat 2 KUHPdt)
3. Cessie dapat dilakukan antara 2 (dua) pihak CEDENT dan CESSIONARIS
dengan memperhatikan butir persyaratan ke 2 di atas atau idealnya
4. Cessie dibuat antara tiga pihak CEDENT, CESSUS, dan CESSIONARIS
dalam satu Akta
POJK No. 31 /POJK.05/2016 ttg USAHA PERGADAIAN
 Usaha Pergadaian adalah segala usaha menyangkut pemberian pinjaman
dengan jaminan barang bergerak, jasa titipan, jasa taksiran, dan/atau jasa
lainnya, termasuk yang diselenggarakan berdasarkan prinsip syariah

 Perusahaan Pergadaian adalah perusahaan pergadaian swasta dan


perusahaan pergadaian pemerintah yang diatur dan diawasi oleh Otoritas
Jasa Keuangan.

 Perusahaan Pergadaian Pemerintah adalah PT Pegadaian (Persero)


sebgmn dimaksud dlm Staatsblad Tahun 1928 No. 81 ttg Pandhuis
Regleement dan PP No. 51/2011 ttg Perubahan Bentuk Badan Hukum
Perusahaan Umum (Perum) Pegadaian menjadi Perusahaan Perseroan
(Persero).

 Bentuk Bd Hk Perush Pegadaian: PT atau Koperasi

 Perush Pegadaian hrs melakukan pendaftaran atau ijin OJK


 Kegiatan usaha Perusahaan Pergadaian meliputi: a. penyaluran Uang
Pinjaman dengan jaminan berdasarkan hukum Gadai; b. penyaluran Uang
Pinjaman dengan jaminan berdasarkan fidusia; c. pelayanan jasa titipan
barang berharga; dan/atau d. pelayanan jasa taksiran; e. Keg us lain
berdsrkan komisi.

 Pengawasan dan pemeriksaan dilakukan oleh OJK kpd Perusahaan


Pegadaian
 Fidusia berasal dr kata “fides” artinya percaya

SEJARAH TIMBULNYA FIDUSIA

Sebelum UU.No.42/1999 (UU JF) → yurisprudensi:


1. Bierbrouwerij arrest
2. Bataafsche Petroleum Matchappij (BPM)

Ad.1 Bierbrouwerij arrest → Bierbrouwerij meminjamkan ₤6000 pada


bos (pengusaha cafe), jaminan tanah dan bangunan tempat usaha,
untuk lebih menjamin pelunasan hutang → bos menjual iventaris
café dengan hak membeli kembali → dengan syarat bos tetap
menguasai iventaris tersebut dengan hak pinjam pakai
Pinjam pakai berakhir jika:
1. Bos cidera janji
2. Bos pailit
Ternyata bos pailit → kekayaan diurus oleh curator pailit
Bierbrouwerij → menuntut revindikasi beslag
Curator menolak → alasan jual beli dengan hak membeli kembali tidak
sah karena perjanjian pura-pura
Putusan Pengadilan
Tingkat I → menolak gugatan dengan membatalkan
perjanjian jual beli dengan hak membeli kembali
dengan alasan → perjanjian pura-pura karena
sebenarnya gadai dengan syarat inbezitstelling tidak
dipenuhi bertentangan dengan pasal 1152 ayat 2
KUHPerdata
Tingkat II → menyatakan perjanjian jual beli dengan hak
membeli kembali sah, Bos harus menyerahkan
iventaris pada BIERBROUWERIJ
Tingkat III → Kasasi HOGERAAD → perjanjian nya adalah perjanjian
pinjam meminjam dengan jaminan kebendaan
Tidak bertentangan dengan UU dan kesusilaan 1338 ayat 1
KUHPdt
HOGERAAD berpendapat perjanjian penyerahan hak milik
sebagai jaminan curator harus menyerahkan iventaris pada
Bierbrouwerij.
Ad. 2 BPM vs CLIGNETT
Clignett pinjam uang pada BPM sebagai jaminan diserahkan hak atas
mobil secara kepercayaan
Clignett tetap menguasai mobil tersebut atas dasar perjanjian pinjam
pakai dengan BPM
Perjanjian berakhir jika Clignett membayar hutang
Ternyata Clignett lalai membayar hutang, BPM menuntut penyerahan
mobil, Clignett menolak, alasan perjanjian tidak sah karena sebenarnya
gadai tapi tanpa inbezitstelling
Keputusan HOGERECHTSHOOOF menolak alasan Clignett karena
perjanjian yang dibuat bukan gadai tetapi FEO dengan demikian maka
Clignett harus menyerahkan mobil pada BPM
Obyek Fidusia
Semula hanya benda bergerak dg Kep. PT Surabaya 22 Maret 1951.
Keputusan MA 372/K/SIP/1970 benda tetap dapat dijaminkan dengan fidusia.
Dlm perkembangan ditetapkan dalam UU No. 16/1985 ttg Rumah Susun
Hak pakai atas tanah negara dpt di fidusiakan. Dg berlakunya UU No 4 /1996
ttg Hak Tanggungan, hak pakai atas tanah negara menjadi obyek hak
tanggungan
Konstruksi Yuridis Terhadap Fidusia, pd prinsipnya dilakukan melalui 3
fase sbb.
Fase I: Fase Perjanjian Obligatoir (Obligatoir Overeenkomst)
Proses jaminan fidusia diawali oleh adanya perjanjian berupa Perjanjian
pinjam uang dg jaminan fidusia di antara pihak pemberi fidusia (Debitur) dg
pihak penerima fidusia (Kreditur).

Fase II: Fase Perjanjian Kebendaan (Zakelijk Overeenkomst)


Selanjutnya diikuti oleh suatu Perjanjian Kebendaan. Perjanjian kebendaan
tsb berupa penyerahan hak milik dari Debitur kepada Kreditur, dlm hal ini
dilakukan scr constitutum posesorium, yakni penyerahan hak milik tanpa
menyerahkan fisik benda.

Fase III: Fase Perjanjian Pinjam Pakai


Dlm fase III ini dilakukan perjanjian pinjam pakai, dlm ini benda obyek
fidusia yg hak miliknya sdh berpindah kpd Pihak Kreditur dipinjam pakaikan
kpd Pihak Debitur, shg praktis benda tsb setelah diikat dg jaminan fidusia
tetap dikuasai scr fisik oleh Pihak Debitur.
Ciri-ciri Fidusia:
a. Perjanjian accesoire
b. Sebagai jaminan pelunasan hutang
c. Penyerahannya benda fidusia Constitutum Possesorium
d. Penerima Fidusia berkedudukan Droit de preferences
e. Jika Debitur wanprestasi Penerima Fidusia dpt melakukan Parate
eksekusi

Kelemahan fidusia sebelum UU No.42/1999 (Fidusia Menurut


Yurisprudensi)
a. Tidak terdaftar
b. Kemungkinan penyalahgunaan benda jaminan
c. Penyusutan nilai benda jaminan
d. Pelaksanaan eksekusi sulit
FIDUSIA MENURUT UU NO.42/1999 (UU JF)
Ciri-Ciri Fidusia Menurut UUJF
a. Sifatnya accesoir, perj pembebanan dg akta Notaris (Ps.4, 5 UUJF)
b. Objek benda Bergerak Benda berwujud (Ps.1 angka 4 )
Tak berwujud
Tdk Bergerak khususnya bangunan yg tdk dpt
dibebani HT
c. Kreditur penerima Fidusia mempunyai kedudukan yang diutamakan
terhadap kreditur lainnnya (Droit de preferences) (Ps. 27 UU JF)
d. Jaminan Fidusia menjamin utang, baik yang telah ada maupun yang
masih akan ada (Ps.7 UUJF)
e. Jaminan Fidusia wajib didaftarkan ke KPF (Ps.12 UUJF),
f. Hak Fidusia lahir saat tanggal dicatat pada buku daftar fidusia di KPF
(Ps.14 UUJF)
g. Sertipikat Jaminan Fidusia berkekuatan eksekutorial. (Ps.29 UUJF)
h. Pemberi Fidusia tidak dapat melakukan pembebanan ulang thd obyek
jaminan fidusia yg sdh didaftarkan (Ps.17 UUJF)
i, Jaminan Fidusia mengikuti obyeknya dalam tangan siapapun berada (Droit
de suite) (Ps. 20 UUJF)
PEMBEBANAN FIDUSIA
Jaminan Fidusia mrpk perj acessosoir dari suatu perj pokok yg menimbulkan kwjb bg
pr phk utk memenuhi suatu prestasi (Ps. 4).

Pembebanan Benda dg Jam Fid dibuat dg akta notaris dlm bhs Ind dan mrpk Akta
Jaminan Fidusia (Ps. 5 ayat 1).

Akta Jam Fid sekurang2nya memuat :


- identitas pemberi dan penerima fid
- data perjanjian pokok
- uraian benda
- nilai penjaminan
- nilai benda yg menjadi obyek fidusia (Ps. 6).

Utang yg pelunasannya dijamin dg fid dpt berupa : a. utang yg telah ada; b. utang yg
akan timbul dikemudian hr yg telah diperjanjikan dlm jml tertentu; c. utang yg pd saat
eksekusi dpt ditentukan jumlahnya (Ps. 7).

Jam Fid dpt diberikan kpd lebih dr satu Penerima Fid (pembiayaan kredit konsorsium)
(Ps. 8).
Jaminan Fidusia dpt diberikan thd satu atau lebih satuan atau jenis benda,
termasuk piutang, baik yg telah ada pd saat jam diberikan maupun yg
diperoleh kemudian (Ps. 9 ayat 1).

Kecuali diperjanjikan lain :


a. Jam Fid meliputi hasil dr Benda yg menjadi objek Jaminan Fidusia.
b. Jam Fid meliputi klaim asuransi, dlm hal Benda yg menjadi obyek Jam Fid
diasuransikan (Ps. 10).
PENDAFTARAN JAMINAN FIDUSIA/JF
Benda yg dibebani dg JF wajib didaftarkan (Ps. 11 ayat 1).

Pendaf taran JF dilakukan pd KPF (Ps. 12 ayat 1).


Permohonan pendaftaran JF dilakukan oleh Penerima Fidusia, kuasa atau wakilnya dg
melampirkan pernyataan JF (Ps. 13 ayat 1).

KPF mencatat pendaftaran JF dlm Buku Daftar Fidusia/BDF pd tgl yg sama dg tgl
penerimaan permohonan pendaftaran.

KPF menerbitkan & menyerahkan kpd Pen Fid Sertifikat Jaminan Fidusia/SJF pd tgl
yg sama dg tgl penerimaan permohonan pendaftaran (Ps. 14 ayat 1)

Sertifikat JF (SJF) mrp salinan Buku Daftar Fidusia (Ps. 14 ayat 2)


JF lahir pd tgl yg sama dg tgl dicatat nya JF dlm Buku Daftar Fidusia (Ps. 14 ayat 3).

Dlm SJF dicantumkan kata2 “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yang Maha
Esa” (Ps. 15 ayat 1).
SJF mempunyai kekuatan eksekutorial yg sama dg putusan pengadilan yg telah
memperoleh kekuatan hukum tetap (Ps. 15 ayat 2).

Pemberi Fidusia dilarang melakukan fidusia ulang thd benda yg menjadi obyek JF yg
sudah terdaftar (Ps. 17).

Segala keterangan mengenai Benda yg menjadi obyek JF . . . terbuka untuk umum


(Ps. 18).

Akibat pendaftaran:
a. Melahirkan jaminan fidusia bagi penerima fidusia
b. Kepastian terhadap kreditur mengenai benda yg dijaminkan dg fidusia
c. Memberikan hak yang didahulukan terhadap kreditur
d. Memenuhi asas publisitas.
PENGALIHAN JAMINAN FIDUSIA
Pengalihan hak atas piutang yg dijamin dg fidusia mengakibatkan beralihnya demi
hukum segala hak dan kewajiban Penerima Fidusia kpd kreditor baru. Beralihnya JF
didaftarkan oleh kreditor baru kpd KPF (Ps.19)

JF tetap mengikuti Benda yang menjadi objek jaminan Fidusia dlm tangan siapapun,
kecuali pengalihan atas benda persediaan yang menjadi objek JF (Ps.20)

Pemberi Fidusia dpt mengalihkan benda persediaan yg menjadi objek JF dg cara dan
prosedur yg lazim dilakukan dm usaha perdagangan. Ktt ini tdk berlaku, apabila telah
terjadi cidera janji oleh debitor dan atau Pemberi Fidusia pihak ketiga. Benda yg
menjadi objek JF yg telah dialihkan wajib diganti oleh Pemberi Fidusia dengan objek
yang setara. Dalam hal Pemberi Fidusia cidera janji, maka hasil pengalihan dan atau
tagihan yg timbul krn pengalihan demi hukum menjadi objek JF pengganti dan objek
JF yang dialihkan (Ps.21)

Pemberi Fidusia dilarang mengalihkan, menggadaikan, atau menyewakan kepada


pihak lain Benda yg menjadi objek JF yg tidak merupakan benda persediaan, kecuali
dg persetujuan tertulis terlebih dahulu dari Penerima Fidusia.(Ps.23)
HAPUSNYA FIDUSIA
a. Hutang lunas
b. Pelepasan hak atas jaminan fidusia oleh kreditur (penerima fidusia)
c. Musnahnya benda yang dijadikan jaminan

EKSEKUSI JAMINAN FIDUSIA

Pelaksanaan titel eksekutorial dalam SJF (Ps. 15 ayat 2).

Hak Penerima Fidusia untuk menjual atas kekuasaan sendiri atau parate
eksekusi (Ps. 15 ayat 3).

Penjualan di bawah tangan, dsr kesepakatan dan harga lebih tinggi (Ps. 29 ay
1).
GADAI FIDUSIA CESSIE
1. Obyek Bergerak Bergerak, Tidak bergerak Tagihan
(tertentu)

2. Pihak-pihak Pemberi/ Pemegang Pemberi Fidusia, Penerima Cedent/Cessus/


Fidusia Cessionaris

3. Dasar Sebagai Hak Sebagai Hak a. Pasal 613 Buku II Bab III
Jaminan/Kebendaan Pasal Jaminan/Kebendaan UU No. tentang Hak Milik/tentang
Hukum 1150-1160 BW Buku Ke-II 42/1999 Cara memperoleh Hak
Bab XX Tentang Gadai Milik Bgn II
b. Pasal 1386 Buku III Bab IV
tentang Hapusnya
Perikatan Bag. I tentang
Pembayaran

4. Terjadinya - Penyerahan Obyek oleh - Penyerahan Hak Milik Pemberitahuan ke/disetujui


Pemberi ke Pemegang secara Kepercayaan cessus Tertulis (Akta)
- Lisan/Tertulis (akta) - Harus Akta Otentik

5. Sifatnya Accesoir/Droit de Suite Accesoir/Droit de Accesoir sebagai jaminan/


Ondeelbaar/ suite/preferent tidak preferent
Preferent

6. Hapusnya - Lunas/Obyek lepas dari -Lunas Lunas/dikembalikan ke


kekuasaan pemegang -Barang musnah Cedent/
gadai -Dibebaskan pembayaran oleh cessus
- Musnah
1. Masih ada penerima Fidusia yg belum mendaftarkan Akta Jaminan Fidusia
Ke KPF sbgmn yg diatur dalam UU No 42 Tahun 1999 tentang Jaminan
Fidusia. Bahkan mungkin masih ada yg membuat akta jaminan fidusia tdk
di depan Notaris.
Akibat hk bg penerima Fidusia yg tdk membuat akta jaminan fidusia dlm
bentuk akta notaris ataupun tdk mendaftarkan ke KPF, maka ia tdk dapat
langsung mengajukan eksekusi, ttp harus terlebih dahulu mengajukan
gugatan ke PN, shg prosesnya panjang.

2. Masih ada penerima fidusia yg melakukan eksekusi penarikan benda


jaminan tanpa memenuhi pesyaratan. Pesyaratan penarikan benda jaminan
fidusia al. memiliki Sertifikat Jaminan Fidusia, fidusia itu telah didaftarkan,
dan sudah dilakukan teguran sebelumnya (somasi), kemudian mekanisme
penarikannya dengan meminta bantuan aparat kepolisian.
3. Ketentuan Ps 36 UU Fidusia mengatur ttg pidana bagi pemberi Fidusia yg
menggadaikan atau mengalihkan objek jaminan fidusia, yaitu ancaman
pidanan penjara paling lama dua tahun dan dengan paling banyak Rp50
juta (mrpk lex spesialis), namun sanksinya lebih ringan dari Pasal 327
KUHP. Hal ini menjadi salah satu alasan Penerima Fidusia enggan
mendaftarkan ke KPF.

4. Adanya titik singgung antara cara penyelesaian melalui BPSK dengan


pengajuan gugatan ke Pengadilan Negeri. Hal ini terjadi karena perjanjian
fidusia dg perjanjian pokoknya merpk perjanjian baku/standar.

5. Masyarakat masih belum mengetahui cara mengakses ke web ttg suatu


benda yg didaftarkan sbg jaminan fidusia. Akses masyarakat umum untuk
mengetahui apakah suatu barang telah terdaftar sangat penting, krn masih
adanya praktik di masyarakat yg menggadaikan barang jaminan fidusia.