Anda di halaman 1dari 31

OLEH:

Ayu Anas Silvya


112016209

PEMBIMBING:
dr. Benyamin Sp.P
Tuberkulosis (TB):
- Penyakit menular langsung yang
disebabkan oleh kuman TB
(Mycobacterium tuberculosis)

- Sebagian besar kuman TB menyerang


paru, tetapi dapat juga mengenai organ
tubuh lainnya
Penyebab TB Paru adalah bakteri
Mycobacterium tuberculosis

Mempunyai ciri dan sifat :


• Bentuk batang
• Tahan terhadap asam pewarnaan
• Cepat mati dengan sinar matahari
langsung
• Dapat bertahan hidup ditempat
gelap dan lembab.

4
Sumber penularan  pasien TB BTA positif.

Saat batuk atau bersin  menyebarkan kuman ke udara dalam


bentuk droplet nuclei. Sekali batuk  3000 percikan dahak.

Percikan dapat bertahan selama beberapa jam dalam


keadaan yang gelap dan lembab.

Daya penularan seorang pasien ditentukan oleh


banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya.

Faktor yang memungkinkan seseorang terpajan kuman TB  konsentrasi


percikan dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut.
Indonesia urutan ketiga terbanyak di dunia
setelah India dan Cina.
Setiap tahun terdapat 528.000 kasus TB baru
dengan kematian sekitar 91.000 orang.
Prevalensi TB di Indonesia pada tahun 2009
adalah 100 per 100.000 penduduk dan TB
terjadi pada lebih dari 70% usia produktif
(15-50 tahun).
(WHO, 2010)
 Diagnosis ditegakkan dengan melakukan:

- Anamnesis
- Pemeriksaan fisik
- Pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan BTA
Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan Biakan
1. Gejala respiratorik
 batuk > 3 minggu
 batuk darah
 sesak napas
 nyeri dada
2. Gejala sistemik
 Demam
 gejala sistemik lain adalah anemi, malaise, keringat
malam, anoreksia dan berat badan menurun
3. Gejala tuberkulosis ekstraparu
 pembesaran yang lambat dan tidak nyeri dari kelenjar
getah bening
 Terdapat retraksi otot-otot interkostal.
 Paru yang sakit akan terlihat tertinggal dalam
pernapasan
 perkusi memberikan suara pekak
 auskultasi memberikan suara yang lemah sampai
tidak terdengar sama sekali, terkadang terdapat
ronki.
 pembesaran kelenjar getah bening, umumnya
dileher terkadang didapatkan di ketiak. Pembesaran
kelenjar tersebut dapat menjadi “cold abscess”.
 Pada awal penyakit saat lesi masih menyerupai
sarang-sarang pneumonia, gambaran radiologinya
berupa bercak-bercak seperti awan dan dengan
batas-batas yang tidak tegas. Bila lesi sudah diliputi
jaringan ikat maka bayangan terlihat berupa
bulatan dengan batas yang tegas dan disebut
tuberkuloma
Bahan pemeriksaan
Bahan untuk pemeriksaan bakteriologi dapat berasal
dari dahak, cairan pleura, liquor cerebrospinal, bilasan
bronkus, bilasan lambung, kurasan bronko-alveolar,
urin, feses dan jaringan biposi.
Cara pengambilan dahak 3 kali (SPS)
Sewaktu / spot (dahak sewaktu kunjungan)
Pagi (keesokan harinya)
Sewaktu / spot (pada saat mengantarkan dahak pagi)
Atau setiap pagi 3 hari berturut-turut.
Berdasarkan hal tersebut, hasil tes Mantoux
dibagi dalam:
 Indurasi 0 – 5 mm : Mantoux negatif
 Indurasi 6 – 9 mm : hasil meragukan
 Indurasi 10 – 15 mm : Mantoux positif
 Indurasi lebih dari 15 mm : Mantoux positif kuat
Untuk pasien dengan HIV positif, test
Mantoux ± 5 mm, dinilai positif.
1. Tuberkulosis Paru
2. Tuberkulosis Ekstra Paru
 Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak ( BTA )
 TB Paru BTA (+); Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen
dahak BTA (+), hasil pemeriksaan 1 spesimen dahak
BTA (+) dan kelainan radiologi tuberkulosis aktif, hasil
pemeriksaan 1 spesimen dahak BTA (+) dan biakan (+).
 TB Paru BTA (-); Hasil pemeriksaan dahak 3 kali BTA (-),
gambaran klinis dan kelainan radiologi menunjukan
tuberkulosis aktif, hasil pemeriksaan dahak 3 kali BTA (-
) dan biakan (+)
KATEGORI PASIEN
Kasus baru TB paru dahak positif; kasus
baru TB paru dahak negatif dengan
I
kelainan luas di paru; kasus baru TB
ekstra-pulmonal berat

Kambuh, dahak positif; pengobatan


II
gagal; pengobatan setelah terputus
Kasus baru TB paru dahak negatif (selain
III dari kategori I); kasus baru TB ekstra-
pulmonal yang tidak berat
Kasus kronis (dahak masih positif setelah
IV
menjalankan pengobatan ulang)
 Tuberkulosis ekstraparu adalah tuberkulosis
yang menyerang organ tubuh lain selain
paru, misalnya kelenjar getah bening, selaput
otak, tulang, ginjal, saluran kencing dan lain-
lain. Diagnosis sebaiknya didasarkan atas
kultur positif atau patologi anatomi dari
tempat lesi.
 Sasaran pengobatan TB paru
 meringankan tanda dan gejala TB paru serta
membersihkan M. tuberculosis.

Tujuannya:
 mengidentifikasi kasus baru TB paru,
 mengisolasi pasien TB positif
 mengatasi secara cepat tanda dan gejala yang
muncul,
 meningkatkan kepatuhan pasien selama
pengobatan,
 menyembuhkan pasien secepat mungkin
1. Jenis obat utama (lini 1) yang digunakan adalah
 INH
 Rifampisin
 Pirazinamid
 Streptomisin
 Etambutol
2. Jenis obat tambahan lainnya (lini 2)
 Kanamisin
 Amikasin
 Kuinolon
Obat Dosis Dosis yg dianjurkan Dosis Dosis (mg) / berat
(Mg/Kg Maks badan (kg)
BB/Hari) Harian Intermitten (mg) < 40 40-60 >60
(mg/kgBB/hari) (mg/Kg/BB/kali)

R 8-12 10 10 600 300 450 600


H 4-6 5 10 300 150 300 450
Z 20-30 25 35 750 1000 1500

E 15-20 15 30 750 1000 1500

Sesuai
S 15-18 15 15 1000 750 1000
BB
Paduan pengobatan TB alternatif
Kategori
Pasien TB Fase awal
pengobatan TB Fase lanjutan
(setiap hari / 3 x seminggu)

Kasus baru TB paru dahak positif; kasus baru TB paru 6 HE

dahak negatif dengan kelainan luas di paru; kasus baru


2 RHZE /2SHRZ
I TB ekstra-pulmonal berat 4 RH

4 H3 R3

Kambuh, dahak positif; pengobatan gagal; pengobatan


2 SRHZE + 1 HRZE
II setelah terputus 5 RHE

4 RH

Kasus baru TB paru dahak negatif (selain dari kategori I); 2 RHZE
III 6RHE
kasus baru TB ekstra-pulmonal yang tidak berat

4R3H3

TIDAK DIPERGUNAKAN
Kasus kronis (dahak masih positif setelah menjalankan
IV (merujuk ke penuntun WHO guna pemakaian obat lini kedua
pengobatan ulang)
yang diawasi pada pusat-pusat spesialis)
Berat badan Tahap Intensif tiap hari selama 56 Tahap Lanjutan 3x seminggu selama

hari 16 minggu

RHZE (150/75/400/275) RH (150/150)

30 – 37 kg 2 tablet 4KDT 2 tablet 4KDT

38 – 54 kg 3 tablet 4KDT 3 tablet 4KDT

55 – 70 kg 4 tablet 4KDT 4 tablet 4KDT

> 71 kg 5 tablet 4KDT 5 tablet 4KDT


Tahap Intensif tiap hari RHZE Tahap Lanjutan3x seminggu
Berat
(150/75/400/275) + S RH (150/150) + E (400)
badan

Selama 58 hari Selama 28 hari Selama 2 Minggu

2 tab 4KDT + 500mg 2 tab 2KDT + 2 tab


30 – 37 kg 2 tab 4KDT
Streptomisin inj Etambutol

3 tab 4KDT + 750mg 3 tab 2KDT + 3 tab


38 – 54 kg 3 tab 4KDT
Streptomisin inj Etambutol

4 tab 4KDT + 1000mg 4 tab 2KDT + 4 tab


55 – 70 kg 4 tab 4KDT
Streptomisin inj Etambutol

5 tab 4KDT + 1000mg 5 tab 2KDT + 5 tab


> 71 kg 5 tab 4KDT
Streptomisin inj Etambutol
Jenis OAT Sifat Keterangan
Isoniazid (H) Bakterisid Obat ini sangat efektif terhadap kuman dalam keadaan metabolik aktif, yaitu

terkuat kuman yang sedang berkembang. Mekanisme kerjanya adalah menghambat

cell-wall biosynthesis pathway

Rifampisin (R) bakterisid Rifampisin dapat membunuh kuman semi-dormant (persistent) yang tidak

dapat dibunuh oleh Isoniazid. Mekanisme kerjanya adalah menghambat

polimerase DNA-dependent ribonucleic acid (RNA) M. Tuberculosis

Pirazinamid (Z) bakterisid Pirazinamid dapat membunuh kuman yang berada dalam sel dengan suasana

asam. Obat ini hanya diberikan dalam 2 bulan pertama pengobatan.

Streptomisin (S) bakterisid obat ini adalah suatu antibiotik golongan aminoglikosida dan bekerja

mencegah pertumbuhan organisme ekstraselular.

Etambutol (E) bakteriostatik -


Jenis Obat Ringan Berat
tanda-tanda keracunan pada syaraf tepi, kesemutan, Hepatitis, ikhterus
nyeri otot dan gangguan kesadaran. Kelainan yang
lain menyerupai defisiensi piridoksin (pellagra) dan
kelainan kulit yang bervariasi antara lain gatal-gatal.
Isoniazid (H) Efek dapat dikurangi dengan pemberian piridoksin
100mg/hr atau Vit.B kompleks

gatal-gatal kemerahan kulit, sindrom flu, sindrom Hepatitis atau ikterik, sindrom respirasi yang ditandai
perut, myalgia. Warna merah pada air seni, keringat, dengan sesak nafas, kadang disertai dengan kolaps
Rifampisin (R) air mata, dan saliva. atau renjatan (syok), purpura, anemia hemolitik yang
akut, gagal ginjal. Pada kondisi tersebut pengobatan
harus dihentikan.

Reaksi hipersensitifitas : demam, mual dan Hepatitis, nyeri sendi, serangan arthritis gout. Dapat
Pirazinamid (Z)
kemerahan berikan (aspirin)

Gangguan penglihatan berupa berkurangnya Buta warna untuk warna merah dan hijau. Kembali
Etambutol (E) ketajaman penglihatan normal jika beberapa minggu dihentikan. Jangan
berikan pada anak untuk menghindari resiko kebutaan.

Reaksi hipersensitifitas : demam, sakit kepala, Kerusakan saraf VIII yang berkaitan dengan
muntah dan eritema pada kulit keseimbangan dan pendengaran. Dapat dipulihkan
Streptomisin (S) dengan pengentian pengobatan atau dosis dikurangi
0,25gr untuk menghindari resiko kehilangan
keseimbangan dan tuli.
 OAT harus tetap diberikan pada ibu hamil
kecuali streptomisin karena dapat menembus
plasenta yang menyebabkan gangguan
pendengaran janin, sedangkan pada ibu
menyusui OAT dan ASI dapat tetap diberikan
meskipun beberapa OAT dapat masuk
kedalam ASI namun dengan konsentrasi
rendah dan tidak menyebabkan toksik pada
bayi.
 Sebaiknya menghindari penggunaan
etambutol, karena waktu paruhnya
memanjang dan terjadi akumulasi etambutol.
Dalam keadaan sangat diperlukan, etambutol
dapat diberikan dengan pengawasan
kreatinin. Hindari juga pemberian
Streptomisin, kinamisin, dan kapreomisin.
Sedapat mungkin dosis disesuaikan dengan
faal ginjal atau rujuk ke ahli paru
 Bila bilirubin lebih dari nilai normal  OAT stop
 Bila gejala hati (+) SGOT SGPT >5x  OAT stop
TERIMA KASIH