Anda di halaman 1dari 17

Hikmatur Ramadlani 15330110

Rosanti Marlinda 15330114


Dea Safitri Febriyani 15330115
Novita Ananda Putri 15330116
Novia Ananda Putri 15330117
Protein adalah senyawa organik
kompleks berbobot molekul tinggi
yang merupakan polimer dari
monomer - monomer asam amino
yang dihubungkan satu sama lain
dengan ikatan peptida yang
mengandung unsur - unsur C, H, O,
N dan ada pula yang mengandung
unsur S dan P. Protein terletak
didalam sel makhluk hidup,
terutama dalam membran sel baik
itu pada sel hewan maupun pada sel
tumbuhan
Mempunyai titik lebur besar dibanding senyawa karboksilat dan amina.

Mempunyai momen dipol besar.

Bersifat elektrolit yaitu kurang basa dibanding amina dan kurang asam dibanding karboksilat.

Bersifat amfoter.

Dalam larutan dapat membentuk ion zwitter.

Mempunyai kurva titrasi yanh\g khas.

Mempunyai pH isoelektrik yaitu pH pada saat asam amino tidak bermuatan


Isolasi protein adalah suatu cara
untuk memisahkan protein dari
makro molekul yang lain atau Pemurnian protein adalah
memisahkan protein dari protein serangkaian proses yang
lain yang tidak diinginkan. Secara dimaksudkan untuk
sederhana, proses dari isolasi mengisolasi satu
protein konsepnya sama dengan jenis protein dari campuran
isolasi DNA, hanya saja isolasi kompleks. Pemurnian protein
protein menggunakan buffer lysis sangat penting untuk
unruk melisiskan sel. karakterisasi struktur, fungsi
dan interaksi dari suatu protein
Bahan dan Metode Penelitian

Metode Ekstraksi dan Purifikasi dari Protein Antioksidan

Kelompok Hewan Dibawah Investigasi

Hasil dan Diskusi


 Bahan dan Reagen Biologik
1. Biji tanam kering Peganum harmala L. Berasal dari Mersa Mattrouh, Mesir
2. Tikus jantan albino (Rattus norvegicus) berat 120-130 g
Tikus di tempatkan dalam kandang (7 ekor per kandang) dalam rumah
hewan di Universitas Cairo Fakultas Sains pada 23-25C. Hewan itu diberi
diet standar dan air ad libitum. Mereka aklimatasi di bawah kondisi
laboratorium selama 7 hari sebelum pemulaan eksperimen.
3. CM-Sepharose (Cl-6B) and Superdex 75 dibeli dari Perusahaan Cornerll Lab.
4. 1,1-diphenyl-2-picrylhydrazyl (DPPH), DEAE-cellulose, dan
phenylmethylsulfonyl fluoride (PMSF) yang digunakan dalam penelitian
dibeli dari Sigma Aldrich.
5. CCl4 and bovine serum albumin (BSA) dibeli dari International Company
for Scientific and Medical Supplies, Mesir.
6. Kit dari parameter serum biokemikal dan enzim penanda antioksidan
dibeli dari Biodiagnostic Company, Mesir.
• Persiapan Ekstrak Mentah

• Ammonium Sulfat Fraksinasion

• Determinasi dari akititas radikal DPPH cavenging dari fraksi protein

• Kromatografi Pertukaran Ion

• Kromatografi gel filtrasi


 Tikus jantan albino dibagi menjadi 5 kelompok (7 tikus per
kelompok) yang diikuti:
1. Tikus diinjeksi setiap hari dengan 1 mL/kg bb distilasi air
intraperitoneal untuk 7 hari, diikuti dengan pemberian oral
1 mL/kg bb olive oil melalu gastrik untuk 2 hari; kelompok
kontrol normal.
2. Tikus diinjeksikan setiap hari dengan 1 mL/jg bb distilasi air
intraperitoneal untuk 7 hari diikuti pemberian oral CCl4 (1
mL/kg bb in olive oil, 1:1, v/v); kelompok toksisitas.
3. Tikus diinjeksi setiap hari dengan protein purifikasi pada
dosis 4 mg/kg bb BSA intraperitoneal selama 7 hari.
4. Tikus diinjekskan setiap hari dengan 8 mg/bb BSA
inraperitoneal selama 7 hari; kelompok kontrol negatif.
5. Tikus diberikan oral vitamin c 250 mg/kg bb selama 7 hari;
kelompok kontrol positif. Tikus dari 4 kelompok terakhir
diberikan CCl5 secara oral (1 mL/kg bb in olive oil, 1:1, v/v)
selama 2 hari setelah akhir dari 7 hari pengobatan. Pada
akhir pengobatan, tikus. Sampel darah langsung disimpan
kedalam tabung EDTA-treated, jaga temperatur ruangan
selama 1 jam dan sentrifugasi pada 3000 rpm untuk 20
menit untuk menjaga serum dari uji biokimia. Serum
disimpan pada -20C sampai digunakan. Sampel dari
jaringan hari di homogenisasi (10% w/v) menggunakan
PotterElvehjem homogenizer dalam ice-cold 0.2 M buffer
fosfat (pH 7.4) pada 9000 rpm selama 15 menit pada 4 C,
dan supernatan resultan digunakan sebagai penanda
perdedaan antioksidan.
Ekstraksi dan purifikasi dari protein
antioksidan diisolasi dari biji P.
harmala. Total protein yang
dibutuhkan ekstrak mentah adalah 141
mg dengan 42.3 % aktifitas radikal
DPPH scavenging menggunakan 50
L/mL protein. Dalam konteks ini,
diketahui bahwa 51 % aktifitas radikal
DPPH scavenging yang terekam
menggunakan 1 mg ekstrak mentah
dari protein yang diisolasi dari daun
kari, dan 95,94 % diketahui
menggunakan 0.25 mg dari ekstrak
mentah protein rumput laut.
Zat dengan kadar tertinggi adalah
tirosin, dimana yang tingkat terendah
adalah arginin, alanin, dan histidin.
Total asam amino esensial dari
purifikasi protein adalah 51.94 g/mg
protein. Aktivitas antioksidan dari
purifikasi protein dapat disebabkan
oleh hidrofobik dan atau antioksidan
asam aminonya, sebagai penambahan
dalam hidrofobisitas yang akan
meningkatkan solubilitas lipidnya dan
olek karena itu meningkatkan
aktivitas antioksidan.
Dalam literatur, aktivitas radikal
DPPH scavenging dari isolasi proterin
dari biji Sundakai adalah 76% dengan
0.8 M protein, 85.82% untuk
purifikasi protein dari buncis
menggunakan 1.0 mg/mL protein,
42% dan 80% menggunakan 1.8 m
dan 3 m protein purifikasi dari daun
kari. Tambahan, 3 fraksi protein
purifikasi dari Chrysaora quinqecirrha
menunjukan 59.7%, 82.0%, dan
53.8% aktivitas radikal DPPH
scavenging pada konsentrasi antara
dari 20 sampai 120 g/mL protein.
Penelitian menunjukan Protein dari
biji P. harmala terdapat aktivitas
antioksidan, dan aktivitas ini
disebabkan adanya asam amino
hidrofobik, dimana mengandung Gly,
Ala, Val, Pro, Met, Phe, Leu, Ile, Tyr,
and Trp dan antioksidan asam
aminonya mengandung Cys, His, Trp,
Lys, Arg, Leu, Val, Gly, Tyr, and Met.
Berdasarkan laporan tersebut, asam
amino hidrofobik dari P. harmala
sebesar 60.59% dan antioksidan
asam amino sebesar 58.11% dari total
asam amino
Untuk mengetahui kemungkinan efek perlindungan
protein terisolasi dari biji P karmala terhadap toksisitas
pada tikus albino jantan, tes ketergantungan dosis
protein yang dimurnikan dilakukan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian CCl (i


mg / kg b.wt) selama 2 hari menyebabkan peningkatan
aktivitas serum ALT dan AST yang signifikan
dibandingkan dengan kelompok kontrol
Dalam penelitian ini, pretreatment
tikus dengan protein yang dimurnikan
dari P mala mengakibatkan penurunan
aktivitas ALT dan AST dalam serum
yang signifikan dibandingkan dengan
kelompok CCI

Penurunan aktivitas enzim kedua ini


dianggap sebagai indikator perbaikan
status fungsional sel hati yang mungkin
disebabkan oleh aktivitas pemulungan
radikal bebas dan sifat antioksidan dari
protein murni yang mengandung asam
amino hidrofobik dan antioksidan