Anda di halaman 1dari 17

Mata Kuliah

Agama
Akper Intan
Martapura
Semester I
‫و يشف صدور قوم مؤمنين‬
Artinya:Allah menyembuhkan jiwa orang- orang
yang beriman” (Al-Taubat ayat 14)
‫الذين امنو وتطمئن قلو بهم بذكر هللا اال بذكر هللا تطمئن القلوب‬
Artinya:
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka
menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah,
hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi
tentram”. (QS. Al-Ra’d ayat 28)

‫يا ايها الناس فد جاء تكم مو عظة من ربكم وشفاء لما في الصدور وهد ي ورحمةللمؤ‬
‫منين‬
Artinya:
Wahai manusia, sesungguhnya sudah datang dari Tuhanmu al-
Qur’an yang mengandung pelajaran, penawar bagi penyakitbatin
(jiwa), tuntunan(petunjuk) serta rahmat bagi orang-orang yang
beriman”. (QS.yunus:57)
Jurnal ilmiah penting di dunia kedokteran
melaporkan bahwa
para pakar psikolog sekuler Meyakini bahwa
sebagai . keyakinan
sesorang terhadap agama yang dia anut dapat
meningkatkan semangat dalam hidup, dan hal
ini berpengaruh baik pada kesehatan.

Penjelasan ini mungkin sungguh beralasan,


namun sebuah kesimpulan yang lebih
mengejutkan muncul ketika orang-orang
tersebut diperiksa.
yang mencakup banyak segi tentang
hubungan antara keyakinan agama dan kesehatan
jasmani yang dilakukan oleh
yang
menghasilkan kesimpulan bahwa ibadah dan
keimanan kepada Allah SWT memiliki lebih banyak
pengaruh baik pada kesehatan manusia dari pada
keimanan kepada apa pun yang lain. Benson
menyatakan, dia telah menyimpulkan bahwa tidak
ada keimanan yang dapat memberikan banyak
kedamaian jiwa sebagai-mana keimanan kepada
Allah SWT
Agar kualitas jiwa manusia selalu searah
dengan iman kepada Allah, maka perlu
banyak usaha yang dilakukan. Usaha ini tidak
hanya lahir saja, namun juga pasa aspek
batin yang abstrak.

Disebutkan dalam buku “Madrasah


Pendidikan Jiwa” para tabi’in mengadakan
enam usaha peningkatan jiwa sebagai
berikut:
Hawa nafsu yang ganas cenderung menutupi
fungsi akal dan mengendalikannya, dibutuhkan
kekuatan yang besar untuk menghancurkannya.

terbukanya segala kesalahan di hari kiamat,


dan takut kesengsaraan di akhirat.

, “Dan adapun orang-


orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya
dan menahan diri dari keinginan hawa
nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat
tinggal(nya)”
menuturkan perkataan
Mujahid untuk mengomentari firman Allah
pada ayat ini, “Yaitu takutnya di dunia
kepada Allah azza wajalla ketika berada di
lembah-lembah dosa dan ia terperosok di
dalamnya. ‘Dan menahan diri dari keinginan
hawa nafsu’, yaitu menahan dari perbuatan
maksiat dan hal-hal yang diharamkan.”
Jiwa asalnya cenderung menyuruh kepada
kejahatan, enggan menetap, terikat, dan
senang berpindah-pindah, serta lepas dari
kendali. Jiwa juga tidak suka diperintah
seseorang terhadap yang dibencinya, atau
membatasi gerakannya. Oleh karenanya, ia
memberi kecintaan pada pemiliknya untuk
santai dan berleha-leha.

“Dan bersabarlah kamu


bersama-sama dengan orang-orang yang
menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari
dengan mengharap keridhaan-Nya.”
(al-Kahfi: 28)
Surga seolah menjadi tertutup dengan hijab,
dan hijab ini bukan dari kulit sutera atau jenis-
jenis kain penutup lainnya, tetapi terhijab dari
hal-hal yang dibenci. Oleh karena itu,
penutupnya tidak hanya satu tetapi banyak.
Dan hijab yang beragam dengan corak-corak
yang beragam, serta warna-warni yang
berbeda, karena pada setiap musibah ada
warna tersendiri, pada setiap ujian ada corak
tersendiri. Maka, tidak mungkin seorang
mukmin sampai ke surga, kecuali dengan
menyingkap hijab-hijab ini seluruhnya.
Penyingkapan hijab-hijab itu terkadang
membutuhkan waktu yang lama. Sulitnya
menyingkap hijab dari hal-hal yang dibenci
ini, acap kali mendorong pemiliknya untuk
bermalas-malasan dan santai. Ridha terhadap
aib yang ada pada jiwa mereka dan apa yang
dikerjakan, tanpa adanya tambahan amal.
Hal ini sesuai dengan
“Surga ditutupi (dihijab) dengan hal-hal yang
dibenci, dan neraka ditutupi dengan
syahwat-syahwat.” (HR Bukhari)
Para ulama berbeda pendapat mengenai
makna tawakkal. Namun, pendapat mereka
semua bermakna
dan dengan
keyakinan atas kekuasaan-Nya dapat
memenuhi segala Kebutuhannya.
, “Aku
mendengar Hatim yang tidak dapat mendengar
ditanya seseorang, ‘
Ia berkata, ‘Pada hal-hal berikut:

Demikianlah Empat hal dasar budi pekerti yang dibangun ulama


dalam hal tawakal.
Introspeksi ini tidak mungkin dimulai tanpa
perhatian dan siaga terhadap gerak-gerik
jiwa ini. Menghinakan sebelum dihinakan
orang lain dan tidak mencari aib-aib mereka.
Jika pengoreksian diri tidak kita lakukan,
niscaya kita hanya melihat kesalahan-
kesalahan orang lain dan buta dengan
kesalahan diri.
Termasuk dari instropeksi adalah melihat
kejahatan diri sendiri ketika melihat
‘keabadian’ dunia dengan segala
gemerlapnya. Kita sering terbujuk dengan
hiasan dan permak dunia. Inilah peperangan
seorang mukmin dengan jiwanya yang
menyuruh berlaku jahat dan melupakan
nikmat-nikmat surga. Padahal kita semua
yakin bahwa dunia hanyalah sesaat dan tiada
manusia itu hidup di duia kecuali hanya
“mampir ”.
Introspeksi tidak hanya terbatas pada
introspeksi terhadap maksiat dan peremehan
terhadap bahaya maksiat. Namun, meliputi
berbagai hal, sampai pada ketaatan,
menjauhi bangga diri, meremehkan orang
lain dari kebenaran, dan lain sebagainya.
Inilah jenis introspeksi yang diungkapkan
kepada kita dari Ibrahim bin al-Asy‘ats dari
‘Abidil Haramain (Imam Malik) dalam khalwat
(menyendiri) bersama jiwa.