Anda di halaman 1dari 82

Sulistyo Andarmoyo

Tujuan Pembelajaran
 Setelah menyelesaikan perkuliahan pada pokok
bahasan ini, mahasiswa diharapkan akan dapat
menjelaskan konsep dasar keluarga, meliputi :
 Pengertian/definisi keluarga,
 Keluarga sebagai suatu sistem dan
 Tipe keluarga.
Pengertian / Definisi Keluarga

• WHO (1969), keluarga adalah kumpulan anggota


rumah tangga yang saling berhubungan melalui
pertalian darah, Adopsi atau perkawinan.
• Duvall (1976), Keluarga adalah sekumpulan orang
yang dihubungkan oleh ikatan perkawinan, adopsi,
kelahiran yang bertujuan menciptakan dan
mempertahankan budaya yang umum, meningkatkan
perkembangan fisik, mental, emosional dan sosial dari
tiap anggota.
 Bailon Dan Maglaya, Keluarga adalah dua orang atau
lebih dari individu yang tergabung karena hubungan
darah, perkawinan atau adopsi dan mereka hidup dalam
suatu rumah tangga, berinteraksi satu sama lain dan
didalam peranannya masing-masing, serta menciptakan
dan mempertahankan kebudayaan.
 Leininger, keluarga adalah suatu sistem sosial yang terdiri
dari individu-individu yang bergabung dan berinteraksi
secara teratur antara satu dengan yang lain yang
diwujudkan dengan adanya saling ketergantungan dan
berhubungan untuk mencapai tujuan bersama
• Depkes RI (1988), keluarga adalah unit terkecil dari
masyarakat yang terdiri darn kepala keluarga dan beberapa
orang yang terkumpul dan tinggal di suatu. tempat di
bawah satu atap dan dalam keadaan saling
ketergantungan.
• Bergess (1962), keluarga dicirikan sebagai :
– Terdiri dari kelompok orang yang mempunyai ikatan
perkawinan keturunan darah/adopsi.
– Anggota tinggal bersama dalam satu rumah.
– Anggota berinteraksl dan berkomunikasi dalam peran sosial.
– Mempunyai kebiasaan kebudayaan yang berasal dan
masyarakat tetapi mempunyai keunikan tersendiri
Keluarga Sebagai Sistem

 Keluarga merupakan unit atau sistem terkecil dalam


masyarakat. Sistem merupakan unit kesatuan yang
diarahkan pada tujuan, dibentuk dari bagian-bagian
yang berinteraksi, saling ketergantungan serta dapat
bertahan dalam waktu tertentu.
Macam sistem terdiri dari:
• Sistem sosial, adalah suatu sistem yang terdiri dari
peran - peran social yang diikat oleh interaksi dan
saling bergantung.
• Sistem terbuka, adalah adanya interaksi antara
keluarga dengan sistem lingkungan atau masyarakat
sekitarnya.
• Sistem tertutup, adalah tidak adanya hubungan /
interaksi antara sistem yang ada pada lingkungan /
masyarakat dengan keluarga.
 Keluarga merupakan sistem sosial yang terbuka /
hidup artinya di dalam keluarga terdiri dari anggota
keluarga, terjadi interaksi antar anggota dan
lingkungannya, teroganisir dan mempunyai tujuan /
fungsi, sehingga setiap keluarga mempunyai ciri atau
sifat yang berbeda dengan keluarga lain.
Adapun karakteristik sistem keluarga, meliputi :
• Memiliki komponen subsistem pasangan, orang tua-anak,
sibling dan subsistem lain yang berinteraksi dan saling
tergantung serta mempunyai fungsi sendiri-sendiri.
• Memiliki batas-batas keluarga, artinya dalam keluarga
mempunyai filter terhadap asupan sosial budaya dari
masyarakat serta mempengaruhi masyarakat secara selektif.
• Keluarga berada dalam sistem yang lebih besar yaitu
masyarakat di sekitarnya seperti desa, kota atau wilayah yang
lain.
• Keluarga merupakan suatu system terbuka, yaitu terdapat
interaksi dengan lingkungan atau saling mempengaruhi antar
sistem.
• Mempunyai pola organisasi yang mempengaruhi fungsi dari
keluarga tersebut.
Secara ringkas sistem yang mempengaruhi keluarga dapat digambarkan sebagai berikut:

Sistem Hukum

Sistem kesejahteraan Sistem komunikasi

keluarga

Sistem pendidikan Sistem perwt. kes

Sistem politik Sistem religius


Tipe Keluarga
Keluarga Tradisional
• Tradisional Nuclear / Keluarga Inti.
• Merupakan satu bentuk keluarga tradisional yang dianggap paling ideal.
Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan anak, tinggal
dalam satu rumah, dimana ayah adalah pencari nafkah dan ibu sebagai ibu
ruinah tangga. Varian keluarga inti adalah:
– Keluarga dimana pasangan suami isteri keduanya bekerja diluar rumah.
Keluarga ini merupakan pengembangan / varian nontradisional dimana
pengambilan keputusan dan pembagian fungsi keluarga ditetapkan secara
bersama - sama oleh kedua orang tua. Meskipun demikian beberapa keluarga
masih tetap menganut bahwa fungsi kerumahtanggaan tetap dipegang oleh
isteri.
– Dyadic Nuclear. Adalah keluarga dimana suami - isteri sudah berumur tetapi
tidak mempunyai anak. Keluarga tanpa anak dapat diakibatkan oleh
ketidakmampuan pasangan suami isteri untuk menghasilkan keturunan
ataupun ketidaksanggupan untuk mempunyai anak akibat kesibukan dari
kariernya.. Seringkali pada keluarga ini akan mengadopsi anak.
– Commuter family, yaitu keluarga dengan pasangan
suami isteri terpisah tempat tinggal secara sukarela
karena tugas dan pada kesempatan, tertentu keduanya
bertemu dalam satu rumah.
– Reconstituted Nuclear. Pembentukan keluarga baru
dari keluarga inti melalui perkawinan kembali
suami/istri, tinggal dalam satu rumah dengan anaknya,
baik anak bawaan dari perkawinan larna maupun hasil
perkawinan baru. Pada umumnya bentuk keluarga ini
terdiri dari ibu dengan anaknya dan tinggal bersama
ayah tiri.
• Extended Family / Keluarga besar.
Keluarga besar tradisional adalah satu bentuk keluarga dimana.
pasangan suami Isteri sama-sama melakukan pengaturan dan belanja
rumah tangga dengan orang tua, sanak saudara, atau kerabat dekat
lainnya. Dengan demiklan, anak dibesarkan oleh beberapa generasi
dan memiliki pillhan terhadap model - model yang akan menjadi pola
perilaku bagi anak-anak. Tipe keluarga besar biasanya bersifat
sementara dan terbentuk atas dasar persamaan dan terdiri dari
beberapa keluarga inti yang secara adil menghargai ikatan-ikatan
keluarga, besar. Keluarga luas seringkali terbentuk akibat
meningkatnya hamil diluar nikah, perceraian maupun usia harapan
hidup yang meningkat. Sehingga keluarga besarlah menjadi pilihan
bagi mereka untuk sementara. Varian dari keluarga besar adalah
keluarga Group Marriage, yaitu satu perumahan terdiri dari orang tua
dan keturunannya di dalam satu kesatuan keluarga dan keturunannya
sudah menikah serta semua telah mempunyai anak.
• Keluarga dengan orang tua tunggal / Single
Parent
Keluarga dengan orang tua tunggal adalah bentuk
keluarga yang didalamnya hanya terdapat satu orang
kepala, rumah tangga yaitu ayah atau ibu. Varian
tradisional keluarga ini adalah bentuk keluarga
dimana kepala keluarga adalah janda karena cerai atau
ditinggal mati suaminya. Sedangkan varian non
tradisional dari keiuarga ini adalah Single Adult yaitu
kepala keluarga seorang perempuan atau laki yang
belum menikah dan tinggal sendiri.
Keluarga Non Tradisional
• Communal / commune family
Satu rumah terdiri dari dua / lebih pasangan yang monogami tanpa pertalian
keluarga dengan anakanaknya dan bersama-sama, dalam penyediaan. fasilitas.
Tipe keluarga ini biasanya terjadi pada daerah perkotaan dimana
penduduknya, padat.
• Unmaried Parent and Child.
Keluarga yang terdiri dari ibu - anak, tidak perkawinan dan anaknya dari hasil
adopsi.
• Cohibing Caiple.
Keluarga yang terdiri dari dua orang/satu pasangan yang tinggat bersama
tanpa kawin.
• Institusional.
Keluarga yang terdiri dari anak-anak / orang-orang dewasa yang tinggal
bersama-sama dalam panti. Sebenarnya keluarga ini tidak cocok untuk disebut
sebagai sebuah keluarga, tetapi mereka seringkali mempunyai sanak saudara
yang mereka anggap sebagai keluarga. Sehingga sebenarnya terjadi jaringan
yang berupa kerabat.
Struktur Keluarga
• Struktur keluarga adalah pengetahuan tentang cara
keluarga mengorganisasikan sub sistem. yang ada pada
keluarga serta bagaimana komponen. komponen
ketuarga tersebut berhubungan. Dimensi dasar
stuktur keluarga terdiri dari : Struktur peran, struktur
kekuatan / kekuasaan, pola dan proses komunikasi
serta struktur nilai keluarga. Keempat elemen ini
memiliki interrelast dan saling bergantung Struktur
ini akan dievaluasi untuk mengetahui bagaimana
keluarga mampu melaksanakan fungsinya.
• Pola dan Proses Komunikasi
Komunikasi keluarga adalah suatu proses simbolik,
transaksional untuk menciptakan dan
mengungkapkan pengertian dalam keluarga.
Komunikasi yang fungsional merupakan sarana yang
penting untuk melaksanakan fungsi keluarga dengan
baik. Komunikasi fungsional adalah komunikasi
dimana maksud pengirim dipahami oleh penerima
dengan sesuai.
Karakteristik komunikasi fungsional antara lain:
1. Ada toleransi antara penerima dan pengirim
2. Memaham ketidak sempurnaan dan individualitas.
3. Terbuka, & jujur untuk mengakui kebutuhan dan emosi.

Proses komunikasi besifat dinamis, artinya mampu


saling menukar posisi antara komunikator dan
komunikan.
 Pola komunikasi dalam sistem keluarga mempunyai
pengaruh besar terhadap anggota keluarga. Dari
komunikasi ini individu belajar tentang orang lain,
perkembangan dan mempertahankan harga diri serta
mampu membuat pilihan. Karakteristik komunikasi
fungsional harus didukung oleh komunikator dan
komunikan yang fungsional.
Karakteristik komunikator fungsional. menurut Satir
(1967) adalah komunikator dapat:
1. Menyatakan pesan dengan tegas, artinya ada
kesesuaian antara pesan verbal dan non verbal yang
ditampilkan.
2. Pada saat yang sama ia menjelaskan apa. yang dia
katakan.
3. Meminta, dan menerima umpan balik. Hal ini
dimungkinkan agar informasi yang disampalkan
benar - benar dapat diterima oleh komunikan.
Sedangkan karakteristik komunikan yang
fungsional adalah:
1. Mendengar secara. Efektif
2. Memberikan umpan balik / klarifikasi
3. Melakukan validasi atau menunjukkan
penerimaan manfaat pesan.
 Pola komunikasi disfungsional adalah komunikasi
yang bersifat individualis, selalu setuju dengan
pendapat orang lain dan kurang menunjukkan rasa
empati. Komunikasi disfungsional. terjadi akibat
komunikator dan komunikan yang disfungsional.
Karakteristik komunikator disfungsional.
adalah:
1. Berdasar asumsi sendiri/makna kabur
2. Ekspresi menghakimi/ pernyataan
meremehkan/menyalahkan dan otoriter.
3. Tak mampu mengungkapkan kebutuhan/
merasa tak berguna/ takut
Komunikasi tak sesuai
Karakteristik penerima disfungsional
1. Gagal mendengar/ distorsi dan
interpretasi salah.
2. Diskualifikasi/ setuju tersamar, penolakan.
3. Penyerangan. dan negativitas/ ofensif
4. Kurang eksplorasi, memotong
pembicaraan, berdasar asumsi sendiri.
5. Kurang validasi
Struktur Peran
Peran adalah serangkaian perilaku yang dihampkan sesuai
dengan posisi sosial yang diberikan atau target dari apa.
yang diharapkan yang harus. dilakukan individu pada
situasi tertentu untuk mencapai tujuan.

Menurut Anderson Carter ciri-ciri peran adalah:


1. Terorganisasi, yaitu adanya interaksi dan interdepeden.
2. Terdapat keterbatasan dalam menjalankan tugas dan
fungsi.
3. Terdapat perbedaan dan kekhususan.
• Peran dalam keluarga dibedakan menjadi dua yaitu peran formal dan
informal. Peran formal keluarga adalah :
• Peran parental dan perkawinan yaitu suami / ayah,lbu / Istri.
• Menurut Nye dan Gecas (1976), peran parental adalah meliputi
– Provider / penyedia.
– Pengatur rumah tangga
– Perawatan anak
– Sosialisasi anak
– Rekreasi
– Persaudaraan / kindship / pemelihara hubungan keluarga paternal dan
maternal.
– Terapeutik / mernenuhi kebutuhan afektif dari pasangan.
– Seksual
• Peran anak. Peran anak adalah melaksanakan tugas perkembangan dan
pertumbuhan fisik, psikis, sosial.
• Peran kakek / nenek. Menurut Bengtson (1985), peran kakek /
nenek dalam keluarga adalah:
– Semata-mata hadir dalam keluarga.
– Pengawal (menjaga dan melindungi bila diperlukan)
– Menjadi hakim (arbritrator), negosiasi antara anak dan orang tua
– Menjadi partisipan aktif, menciptakan keterkaitan antara, asa lalu
dengan sekarang.

Adapun peran informal dalam keluarga adalah peran yang


digunakan untuk memenuhi kebutuhan emosional darl setiap
anggota keluarga- Peran informal keluarga meliputi, motivator,
pengharmonis, inisiator, pendamai, penghalang, dominator,
koordinator dan sebagainya.
• Struktur Kekuasaan
• Kekuasaan mempunyai banyak arti termasuk
pengaruh, kontrol, dominasi dan pengambilan
keputusan. Secara umum kekuasaan / kekuatan
keluarga adalah kemampuan individu untuk
mengontrol, mempengaruhi dan mengubah tingkah
laku anggota. keluarga. Komponen utama dari
struktur kekuatan adalah pengaruh dan pengambilan
keputusan.
• Kekuasaan dalam keluarga. didasarkan pada beberapa hat
atau dikenal dengan tipe kekuasaan. Dasar -dasar / tipe
kekuasaan yang berlaku dalam, keluarga, adalah :
• Kekuasaan yang sah / wewenang primer / legitimate power,
adalah wewenang yang didasarkan oleh kepercayaan dan
persepsi bersama dari anggota keluarga bahwa satu orang
mempunyai hak untuk mengontrol tingkah laku dari
anggota keluarga yang lain. Kekuasaan ini berkaitan
dengan peran yang diemban oleh anggota keluarga dan
didasarkan pada tradisi / budaya setempat yang berlaku.
Berdasar tradisi secara umum, kekuasaan ini dimiliki oleh
seorang ayah / suami yang didukung oleh seluruh anggota,
keluarga.
• Kekuasaan yang tak berdaya atau putus asa. Adalah
bentuk lain dari kekuasaan yang sah yang didasarkan
pada hak untuk menerima sesuatu dari orang yang
mampu memberikan bantulan. Secara umum orang
yang menerima adalah orang yang membutuhkan /
tidak berdaya. Sedangkan yang memberi adalah orang
yang mampu memberikan bantuan. Orang yang tak
berdaya tersebut mempunyai kekuasaan palsu dan'
orang lain karena ketidakberdayaannya. Kekuasaan ini
terjadi pada keluarga. dimana salah satu anggota
mengalami kecatatan atau ketidakmampuan yang
lain.
• Kekuasaan referen / referen power, adalah kekuasaan yang
didasarkan pada proses identifikasi positif terhadap, orang
lain. Kekuasaan ini dimiliki oteh seorang anak untuk
meniru peran yang dimainkan oleh orang tuanya.
• Kekuasaan ahli dan sumber / ekspert power. Tipe
kekuasaan ini didasarkan dari orang yang mempunyai
sumber / keahlian yang berharga dalam jumlah yang besar.
Orang yang berkuasa memiliki sumber yang besar,
kemampuan, keahlian, ketrampilan atau pengalaman yang
lebih dari orang lain. Kekuasaan ini dapat dimiliki oleh
ayah karena memiliki penghasilan yang, atau dimiliki oleh
ibu karena kepandaiannya mengatur keuangan rumah
tangga atau hat lain yang dapat ditonjolkan.
• Kekuasaan penghargaan / reward power. Kekuasaan yang
terjadi karena adanya harapan bahwa orang yang
berpengaruh dan dominan akan melakukan sesuatu yang
bersikap positif terhadap ketaatan seseorang. Kekuasaan
ini dimiliki oleh anak karena kepatuhannya. Tingkah laku
anak yang baik merupakan sumber kebanggaan orang tua,
sehingga sering digunakan oleh anak untuk mendapatkan
sesuatu yang diinginkan.
• Kekuasaan dominansi / paksaan / coersive power.
Kekuasaan yang berdasar persepsi dan kepercayaan bahwa
orang yang memiliki kekuasaan mungkin akan
menghukum dengan ancaman, paksaan atau kekerasan
dari individu lain jika tidak taat. Kekuasaan ini dimiliki
oleh orang tua terhadap anak.
• Kekuasaan informasional / informational power. Kekuasaan yang
didasarkan pada isi pesan persuasif Seseorang dapat dipengaruhi
oleh penjelasan tentang kebenaran yang diberikan secara
hati-hati. Kekuasaan ini hampir sama dengan kekuasaan ahli
dengan ruang lingkup yang lebih sempit.
• Kekuasaan afektif / affective power. Kekuasaan yang didasarkan
pada pernberian afeksi / perasaan dan kehangatan serta seks.
Kekuasaan ini secara unium dimiliki oleh seorang isteri atau ibu.
• Kekuasaan manegemen ketegangan. Kekuasaan yang didasarkan
dari kontrol untuk mengatasi ketegangan dan konfliks dari
keluarga. Kekuasaan ini bisanya menggunakan perdebatan, air
mata ataupun ketidaksepakatan ketika menghadapi konflik
sehingga anggota keluarga yang lain akan mengalah.
• Pada akhirnya kekuasaan harus diwujudkan dalam pengambilan
keputusan. Pengambilan keputusan biasanya dilaksanakan oleh
pernegang kekuasaan dalam keluarga. Pemegang kekuasaan dalam
keluarga tergantung pada hirarki kekuasaan keluarga, tipe bentuk
keluarga, pembentukan koalist / persatuan, jaringan komunikasi
keluargakelas sosial, tahap perkembangan keluarga, latar belakang
budaya dan religius, kelompok situasional, variabel individu Oenis
kelainin, usia harp diri dan ketrampilan interpersonal serta rasa
ketergantungan emosi pasangan dan tanggung jawab untuk menikah.
Berdasar pengaruh tersebut secara umum pernegang kekuasaan terdiri
dari tiga macam, yaitu:
– Patriakal, artinya pernegang kekuasaan didasarkan pada garis
keturunaa laki-laki.
– Matriakal, kekuasaan didasarkan pada garis keturunan perempuan.
– Equalitarian/egalitarian, kekuasaan didasarkan keputusan bersama
dan' laki dan perempuan
• Struktur Nilai
• Nilai merupakan suatu sistem, sikap dan kepercayaan yang secara
sadar / tidak mempersatukan anggota keluarga dalam satu budaya.
Nilai merupakan pedoman peritaku dan perkernbangan norma serta
peraturan dalam ketuarga. Norma adalah pola perilaku yang baik
menurut masyarakat dan berdasar sistem nilai dalam keluarga. Budaya
merupakan kumpulan dari pola perilaku yang dapat dipelajari, dibagi
dan ditularkan dengan tujuan untuk menyelesaikan masalah.
• Struktur nilai dalam keluarga. biasanya tidak berbeda dengan struktur
nilai yang berlaku di masyarakat. Seperti telah dijelaskan diatas bahwa
keluarga, merupakan sistem yang teibuka yang siap untuk menerima,
pengaruh dari luar dengan filter yang berbeda untuk setiap keluarga.
Namun demikian sistem nilai yang dianut keluarga tidak boleh
berbeda terlalu jauh dengan masyarakat setempat. Jika hal ini terjadi
maka keluarga tersebut akan dikucilkan atau tidak diterima oleh
masyarakat.
Fungsi Keluarga

• Keberadaan keluarga pada umumnya adalah untuk


memenuhi fungsi - fungsi keluarga. Fungsi keluarga,
berbeda sesuai dengan sudut pandang terhadap
keluarga. Akan tetapi dari sudut kesehatan keluarga
yang sering digunakan adalah fungsi keluarga, yang
disusun oleh Friedman. Berikut ini dijelaskan
beberapa, fungsi keluarga, dari WHO, Friedman dan
Depkes RI.
• Fungsi keluarga menurut WHO (1978) adalah sebagai
berikut
– Fungsi Biologis, artinya adalah fungsi untuk reproduksi,
pemelihara dan membesarkan anak, memberi makan,
mempertahankan kesehatan dan rekreasi. Prasyarat yang harus
dipenuhi untuk fungsi ini adalah pengetahuan dan pemahaman
tentang manajemen fertilitas, kesehatan genetik perawatan
selama hamil, perilaku konsumsi yang sehat, serta melakukan
perawatan anak.
– Fungsi Ekonomi adalah fungsi untuk memenuhi sumber
penghasilan, menjamin keamanan finansial anggota keluarga, dan
menentukan alokasi sumber yang diperlukan.Prasyarat untuk
memenuhi fungsi ini adalah keluarga mempunyai pengetahuan
dan ketrampilan yang sesuai serta tanggung Jawab.
– Fungsi Psikologis, adalah fungsi untuk menyediakan lingkungan
yang dapat meningkatlan perkembangan kepribadian secara.
alami, guna memberikan perlindungan psikologis yang optimum.
Prasyarat yang harus dipenuhi untuk melaksanakan fungsi ini
adalah emosi stabil, perasaan antar anggota keluarga baik,
kemampuan untuk mengatasi stress dan krisis.
– Fungsi Edukasi adalah fungsi untuk mengajarkan ketrampilan,
sikap dan pengetahuan. Prasyarat yang harus dipenuhi dalam
melaksanakan fungsi ini adalah anggota keluarga harus
mempunyai tingkat intelegensi yang meliputi pengetahuan,
ketrampilan serta pengalaman yang sesuai.
– Fungsi sosiokultural, adalah fungsi untuk melaksanakan transfer
nilai-nilai yang berhubungan dengan perilaku, tradisi / adat dan
bahasa. Prasyarat yang dipenuhi adalah keluarga harus
mengetahui standar nilai yang dibutuhkan, memeberi contoh
norma-norma perilaku serta mempertahankannya.

Fungsi Keluarga (Friedman)
• Fungsi Affective yaitu perlindungan psikologis, rasa aman,
interaksi, mendewasakan dan mengenal identitas diri individu.
• Fungsi Sosialisasi Peran, adalah fungsi dan peran di masyarakat,
serta sasaran untuk kontak sosial di dalam / di luar rumah.
• Fungsi Reproduksi, adalah menjamin kelangsungan generasi dan
kelangsungan hidup masyarakat.
• Fungsi memenuhi kebutuhan fisik dan perawatan, merupakan
pemenuhan sandang, pangan dan papan serta perawatan
kesehatan.
• Fungsi Ekonomi, adalah fungsi untuk pengadaan sumber dana,
pengalokasian dana serta pengaturan keseimbangan.
• Fungsi pengontrol/pengatur, adalah memberikan pendidikan
dan norma-norma.
Fungsi Keluarga (PP No. 21 Th. 1994 Dan UU No. 10 Tahun 1992)
• Fungsi Kegamaan. Keluarga adalah wahana utama dan pertama menciptakan
seluruh anggota keluarga menjadi insane yang taqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa.
• Tugas dari fungsi keagamaan adalah :
1. Membina norma / ajaran agama sebagai dasar dan tujuan hidup seluruh
anggota keluarga.
2. Menerjemahkan ajran / norma agama ke dalam tingkah laku hidup sehari-
hari seluruh anggota keluarga.
3. Memberikan contoh knkrit pengalaman ajaran agama dalam hidup sehari-
hari.
4. Melengkapi dan menambah proses kegiatan belajar anak tentang
keagamaan yang tidak atau kurang diperolehnya di sekolah atau masyarakat.
5. Membina rasa, sikap dan praktek kehidupan keluarga beragama sebagai
fondasi menuju keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
– Fungsi Sosial Budaya. Keluarga berfungsi untuk
menggali, mengembangkan dan melestarikan sosial
budaya Indonesia, dengan cara :
» Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk
meneruskan norma dan budaya masyarakat dan bangsa
yang ingin dipertahankan.
» Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga untuk
menyaring norma budaya asing yang tidak sesuai.
» Membina tugas-tugas keluarga sebagai lembaga dimana
anggotanya mengadakan kompromi / adaptasi dari praktek
dari globalisasi dunia.
» Membina budaya keluarga yang sesuai, selaras dan
seimbang dengan budaya masyarakat/bangsa untuk
terwujudnya keluarga kecil bahagia dan sejahtera.
– Fungsi Kasih Sayang. Keluarga berfungsi pengembangan rasa
cinta dan kasih sayang setiap anggota keluarga, antar kerabat,
antar generasi. Termasuk dalam fungsi ini adalah :
» Menumbuhkembangkan potensi kasih saying yang telah ada
diantara anggota keluarga ke dalam symbol-simbol
nyata/ucapan dan perilaku secara optimal dan terus menerus
» Membina tingkah laku saling menyayangi baik antar keluarga
yang satu dengan yang lainnya secara kuantitatif dan kualitatif
» Membina praktek kecintaan terhadap kehidupan duniawi dan
ikhrowi dalam keluarga secara serasi, selaras dan seimbang.
» Membina rasa, sikap dan praktek hidup keluarga yang mampu
memberikan dan menerima kasih saying sebagai pola hidup
ideal menuju KKBS.
 Fungsi Perlindungan, adalah fungsi untuk memberikan
rasa aman secara lahir dan batin kepada setiap anggota
keluarga. Fungsi ini menyangkut :
 Memenuhi kebutuhan rasa aman anggota keluarga baik dari
rasa tidak aman yang timbul dari dalam maupun dari luar
keluarga.
 Membina keamanan keluarga baik fisik maupun psikis
maupun dari berabagai bentuk ancaman dan tantangan
yang datang dari luar.
 Membina dan menjadikan stabilitas dan keamanan keluarga
sebagai modal menuju KKBS.
– Fungsi Reproduksi. Memberikan keturunan yang berkualitas
melalui : pengaturan dan perencanaan yang sehat dan
menjadi insan pembangunan yang handal, dengan cara :
» Membina kehidupan keluarga sebagai wahana pendidikan
reproduksi sehat bagi anggota keluarga maupun bagi keluarga
sekitarnya.
» Memberikan contoh pengamalan kaidah-kaidah pembentukan
keluarga dalam hal usia, pendewasaan fisik maupun mental.
» Mengamalkan kaidah reproduksi sehat, baik yang berkaitan
dengan waktu melahirkan, jarak dan jumlah ideal anak yang
diinginkan dalam keluarga.
» Mengembangkan kehidupan reproduksi sehat sebagai modal
yang kondusif menuju KKBS.
– Fungsi Pendidikan dan Sosialisasi. Keluarga merupakan tempat
pendidikan utama dan pertama dari anggota keluarga yang
berfungsi untuk meningkatkan fisik, mental, sosial dan spiritual
secara serasi selaras dan seimbang. Fungsi ini adalah:
» Menyadari, merencanakan dan menciptakan lingkungan keluarga
sebagai wahana pendidikan dan sosialisasi anak yang pertama dan
utama.
» Menyadari, merencanakan dan menciptakan kehidupan keluarga
sebagai pusat dimana anak dapat mencari pemecahan masalah dari
konflik yang dijumpainya, baik di lingkungan sekolah maupun
masyarakat.
» Membina proses pendidikan dan sosialisasi anak tentang hal-hal yang
diperlukannya untuk meningkatkan kematangan dan kedewasaan fisik
dan mental, yang tidaqk / kurang diberikan oleh lingkungan sekolah
maupun masyarakat.
» Membina proses pendidikan dan sosialisasi yang terjadi dalam
keluarga sehingga tidak saja dapat bermanfaat positif bagi anak, tetapi
juga bagi orang tua dalam rangka perkembangan dan kematangan
hidup bersama menuju KKBS.
– Fungsi Ekonomi. Keluarga meningkatkan ketrampilan dalam
usaha ekonomis produktif agar pendapatan keluarga
meningkat dan tercapai kesejahteraan.
» Melakukan kegiatan ekonomi baik di luar maupun di dalam
lingkungan keluarga dalam rangka menopang kelangsungan
dan perkembangan kehidupan keluarga.
» Mengelola ekonomi keluarga sehingga terjadi keserasian,
keselarasan dan keseimbangan antara pemasukan dan
pengeluaran keluarga.
» Mengatur waktu sehingga kegiatan orang tua di luar rumah
dan perhatiannya terhadap anggota keluarga berjalan serasi
selaras dan seimbang.
» Membina kegiatan dan hasil ekonomi keluarga sebagai modal
mewujudkan KKBS.
– Fungsi Pembinaan Lingkungan. Meningkatkan diri
dalam lingkungan sosial budaya dan lingkungan alam 
serasi, selaras dan seimbang.
» Membina kesadaran, sikap dan praktek pelestarian
lingkungan hidup intern keluarga.
» Membina kesadaran, sikap dan praktek pelestarian
lingkungan hidup ekstern keluarga.
» Membina kesadaran, sikap dan praktek pelestarian
lingkungan hidup yang serasi, selaras dan seimbang antara
lingkungan keluarga dengan lingkungan hidup masyarakat
sekitarnya.
» Membina kesadaran, sikap dan praktek pelestarian
lingkungan hidup sebagai pola hidup keluarga menuju
KKBS.
• Meskipun banyak fungsi-fungsi keluarga seperti
disebutkan diatas, pelaksanaan fungsi keluarga di
Indonesia secara singkat dapat disebutkan sebagai
berikut :
 Asih : Memberi kasih sayang, perhatian, rasa aman, hangat
kepada seluruh anggota keluarga sehingga dapat berkembang
sesuai usaia dan kebutuhan.
 Asah : Memenuhi pendidikan anak sehingga siap menjadi
manusia dewasa, mandiri dan dapat memenuhi kebutuhan
masa depan.
 Asuh : Memelihara dan merawat anggota keluarga agar tercapai
kondisi yang sehat, fisik, mental, sosial dan spiritual
Perkembangan Keluarga
• Duvall (1950), mengungkapkan keluarga adalah unit dasar
perkembangan. Perkembangan keluarga adalah proses
perubahan yang terjadi pada sistem keluarga meliputi
perubahan pola interaksi dan hubungan antar anggotanya
disepanjang waktu.
• Rodgers (1973) mengungkapkan bahwa setiap keluarga akan
melalui tahapan perkembangan yang unik, namun secara umum
mengikuti pola yang sama. Hal ini berarti bahwa setiap keluarga
mempunyai variasi dalam perkembangannya akan tetapi secara
normative tiap keluarga mempunyai perkembangan yang sama.
Perbedaan/variasi dari perkembangan ini biasanya akibat
perbedaan dari bentuk atau tipe keluarga, penundaan
pernikahan atau kehamilan, serta kematian dan perceraian.
• Perkembangan keluarga merupakan hal penting dalam perawatan
kesehatan keluarga ketika kita memandang keluarga sebagai sebuah
sistem. Minuchin (1974), siklus perkembangan keluarga merupakan
komponen kunci dalam setiap kerangka kerja yang memandang
keluarga sebagai suatu sistem. Sistem keluarga tumbuh dan berubah
serta mempunyai tugas yang berbeda sesuai dengan perubahan
keluarga sendiri.
• Teori perkembangan keluarga yang sering digunakan dalam
keparawatan keluarga adalah Teori Perkembangan Keluarga Duvall –
Miller dan Carter – McGoldrick. Duvall menggunakan umur dan
tingkat sekolah dari anak yang sudah tua sebagai interval siklus
kehidupan, dengan pengecualian untuk dua tahap terakhir kehidupan
keluarga ketiak anak-anak keluar dari keluarga, sehingga mengganggu
keseimbangan keluarga. Penekanan teori ini terletak pada hubungan
antar anggota yang berubah sehingga keluarga bisa bergerak dari satu
tahap siklus kehidupan ke tahap berikutnya.
Perbedaan Siklus Kehidupan Keluarga :

Carter dan Mc. Goldrick Duvall dan Miller


(Perspektif Terapi Keluarga) (Perspektif Sosiologis)
1. keluarga antara dewasa muda yang belum Tidak ana tahap yang di identifikasi, meskipun Duvall menganggap
kawin dewasa muda sedang dalam proses di lepas.
1. Keluarga pemula (pasangan baru menikah atau tahap
2. penyatuan keluarga melalui perkawinan
pernikahan)
(pasangan yang baru menikah).
2. Keluarga sedang mengasuh anak (anak tertua adalah bayi
3. keluarga dengan anak kecil (masa bayi
sampai umur 30 bulan).
sampai usia sekolah) 3. Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berumur 30
4. Keluarga dengan anak remaja. bulan hingga 6 tahun).
5. keluarga melepaskan anak dan pindah. 4. Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua berumur 6

6. keluarga dalam kehidupan terakhir. sampai 13 tahun


5. Keluarga dengan anak usia remaja (anak tertua berumur 13
sampai 20 tahun).
6. Keluarga yang melepas anak usia dewasa muda (mencakup
anak pertama sampai anak terakhir yang meninggalkan rumah).
7. Orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan, pensiun)
8. Keluarga dalam masa pendiun dan lansia (juga termasuk
anggota keluarga yang berusia lanjut atau pensiun hingga
pasangan meninggal dunia)
• Persamaan kedua teori ini adalah menggunakan dasar
keluarga inti dengan dua orang tua sebagai klasifikasi
siklus perkembangan. Kedua teori ini juga
mengungkapkan bahwa setiap tahap perkembangan,
keluarga mempunyai tugas perkembangan yang berbeda.
Tugas perkembangan merupakan tanggung jawab yang
harus dilaksanakan keluarga selama tahap perkembangan
sehingga dapat memenuhi kebutuhan biologis, aspirasi
serta nilai-nilai keluarga. Tahap siklus perkembangan
keluarga inti dengan dua orang tua adalah sebagai berikut :

Tahap transisi : Keluarga antara (Dewasa muda yang
belum menikah)
• Tahap ini menunjukkan tahap dimana individu berumur
20 tahunan yang telah mandiri secara finansial dan secara
fisik telah terpisah dari orang tuanya tetapi belum
berkeluarga. Tahap ini merupakan dasar bagi tahap
berikutnya, karena tahap ini menentukan kapan dia harus
menikah dan dengan siapa harus menikah. Agar tahap ini
sukses maka biasanya harus terpisah dari orang tuanya
untuk mendapatkan pergantian emosional. Akan tetapi
tahap ini seringkali diabaikan karena seringkali masih
berkumpul dengan orang tuanya.
• Tugas perkembangan pada saat ini bersifat individual dan
tidak berorientasi pada keluarga. Menurut Carter dan Mc.
Goldrick, tugas perkembangan dewasa muda yang belum
menikah adalah :
 Pemisahan diri dalam hubungannya dengan
keluarga asalnya.
 ]menjalin hubungan dengan teman sebaya
secara akrab.
 Pembentukan diri yang berhubungan dengan
kemandirian pekerjaan dan finansial.
Tahap I : Keluarga Baru / Pemula (Beginning Family)
• Perkembangan keluarga tahap I adalah mulainya
pembentukan keluarga yang berakhir ketika lahirnya
anak pertama. Pembentukan keluarga pada umumnya
dimulai dari perkawinan seorang laki-laki dengan
perempuan serta perpindahan dari status lajang ke
hubungan baru yang intim serta mulai meninggalkan
keluarganya masing-masing. Pada tahap ini pasangan
yang belum mempunyai anak.
Tugas perkembangan keluarga yang harus dijalankan pada tahap ini adalah :
Membangun perkawinan yang saling memuaskan.
• Tugas ini merupakan perwujudan dari fungsi afektif keluarga yaitu pemenuhan kebutuahan
psikologis suami dan istri. Seorang yang telah memutuskan untuk menikah harus belajar memahami
kebutuhan pasangannya. Keluarga yang harmonis dapat terbentuk dari adanya pengendalian atau
beradaptasi terhadap perbedaan antara pasangannya. Dengan demikian suami maupun istri perlu
saling memperhatikan, menciptakan komunikasi terbuka dan menyenangkan, serta saling
menghargai dan menghormati keberadaannya.
Membangun jaringan keluarga yang harmonis.
• Membentuk jaringan keluarga yang harmonis diperlukan karena keluarga yang baru dibentuk
tersebut, berasal dari dua keluarga yang berbeda dan mungkin memiliki karakteristik serta sifat yang
berbeda. Suami maupun istri harus saling menjalin hubungan dengan keluarga pasangannya
sehingga terbentuk interaksi sosial yang harmonis. Keduanya harus menyesuaikan diri dengan
keluarga pasangannya, disamping keluarga yang baru dibentuknya. Tugas ini merupakan perwujudan
dari fungsi sosialisasi keluarga.
Merencanakan keluarga.
• Pasangan suami istri harus mulai merencanakan, kapan dimulainya kehamilan sampai berapa anak
yang diinginkan dengan mempertimbangkan kemampuan yang dimiliki. Kemampuan tersebut
meliputi kemampuan dalam memberikan perawatan anak secara fisik, psikologis maupun sosial.
Pemeliharaan kesehatan.
• Pada masa ini masalah kesehatan yang utama adalah penyesuaian terhadap kehidupan seksual serta
masalah yang berkaitan dengan fungsi reproduksi, yaitu kehamilan. Keluarga perlu mendapatkan
pengetahuan yang cukup untuk melakukan perawatan terhadap kehamilannya. Tugas keluarga
adalah mencari bantuan untuk mendapatkan pengetahuan yang jelas tentang masalah kehamilan.
Kurangnya informasi, sering menimbulkan masalah seksual, emosional (rasa takut dan bersalah),
kehamilan yang tidak direncanakan serta timbulnya penyakit kelamin. Kejadian ini akan
menghambat pasangan untuk merencanakan kehidupan yang baik sebagai dasar hubungan yang
semakin mantap. Tugas ini perlu ditunjang dengan fungsi ekonomi keluarga yaitu dengan menggali
dan mempertahankan sumber pendapatan serta imenggunakannya secara efektif untuk memenuhi
kebutuhan setiap anggota keluarga. Fungsi ekonomi ditekankan sebagai persiapan menerima
kehadiran anggota keluarga baru (anak).
Tahap II : Tahap Mengasuh Anak (Child Bearing)
• Tahap kedua dimulai dari lahirnya anak pertama
sampai dengan anak tersebut berumur 30 bulan atau
2,5 tahun. Kehadiran bayi pertama ini akan
menimbulkan suatu perubahan yang besar dalam
kehidupan berumah tangga. Oleh karena itu keluarga
dituntut untuk mampu beradaptasi terhadap peran
baru yang dimilikinya dan harus mampu
melaksanakan tugas dari peran baru tersebut.
Tugas keluarga menurut Duvall pada tahap kedua adalah :
Membentuk keluarga muda sebagai sebuah unit yang mantap.
• Keluarga perlu kemantapan dalam menciptakan suasana untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan setiap
anggota keluarganya. Keluarga mulai mengintegrasikan bayi ke dalam kehidupan keluarga sehingga keluarga mulai
memainkan peran sebagai orang tua. Bayi membutuhkan perhatian besar untuk pertumbuhan dan perkembangannya.
Peningkatan pertumbuhan dan perkembangan ini akan memberikan kepuasan bagi keluarga, sekaligus akan
mengurangi konflik keluarga. Dengan demikian pengetahuan tentang perawatan bayi dan stimulasi perkembangan
sangat diperlukan dalam tahap ini.
Rekonsiliasi tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota keluarga.
• Keluarga perlu mengidentifikasi tugas perkembangan pribadi sebagai dewasa muda dan perannya sebagai orang tua.
Hal ini dibutuhkan, agar tidak terjadi penyimpangan dalam menjalankan tugasnya, serta membantu menyelesaikan
tugas yang dibebankan.
Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan pasangan.
• Hubungan yang kokoh dan bergairah sangat penting bagi stabilitas dan moral keluarga. Keluarga bayi akan
menyebabkan berkurangnya hubungan suami dan istri. Hal ini disebabkan perhatian yang semakin besar terhadap
bayinya. Akan tetapi dengan komunikasi yang baik dan memanfaatkan bayi sebagai sarana untuk berkomunikasi maka
kepuasan dalam keluarga dapat tercapai. Oleh karena itu kemampuan beradaptasi dengan meningkatkan saling
pengertian sangat diperlukan untuk mencapai kepuasan pribadi. Perasaan puas tidak saja untuk pasangan suami atau
istri, tetapi diperlukan pula bagi bayi. Rasa kasih saying yang merupakan komponen utama dalam menciptakan rasa
aman bayi perlu dikembangkan agar bayi mencapai perkembangan yang optimal. Gangguan pemberian kasih saying
pada bayi dapat menyebabkan ganggunan pada perkembangan selanjutnya. Sedangkan gangguan pemuasan pada
pasangan akan berakibat retaknya hubungan perkawinan karena masa ini mungkin masih merupakan masa adaptasi
dari pasangan.
Memperluas persahabatan keluarga besar dengan menambah peran kakek nenek.
• Tugas ini berkaitan dengan fungsi sosialisasi keluarga. Hadirnya bayi dalam keluarga, menyebabkan bertambahnya
interaksi keluarga dan seringpula disertai hadirnya orang lain seperti kakek/nenek/orang lain yang diperlukan untuk
mendukung perawatan bayi. Hal ini menyebabkan bertambahnya interaksi dalam keluarga dan berubahnya peran,
sehingga pertentangan biasanya muncul akibat perbedaan pendapat antara individu. Komunikasi yang baik dan
terbuka, serta saling pengertian perlu dikembangkan untuk menjamin sosialisasi yang efektif serta membantu
menyelesaikan perbedaan tersebut. Hal yang perlu diperhatikan adalah meskipun sistem pendukung / orang lain
penting untuk tahap ini, keluarga harus tahu kapan membutuhkan bantuan dan siapa yang bisa dimintai bantuan.
Sehingga jangan sampai bantuan yang ada justru menimbulkan konflik keluarga.


Tahap III: Keluarga dengan Anak Pra Sekolah (Families With
Presschool)
• Tahap ketiga siklus kehidupan keluarga dimulai ketika anak
pertama berusia 30 bulan atau 2,5 tahun dan berakhir ketika
berusia 5 atau 6 tahun. Pada saat ini mungkin anggota keluarga
bertambah lagi, sehingga terdiri dari tiga orang yaitu bapak, ibu
dan 2 orang anak.
• Pada tahap ini kesibukan akan emakin bertambah sehingga
menuntut perhatian yang lebih banyak dari orang tua. Orang tua
adalah “arsitek keluarga” sehingga orang tua harus merancang
dan mengarahkan perkembangan keluarga agar dapat semakin
memperkokoh kemitraan dan perkawinan mereka. Kesibukan
keluarga akan semakin meningkat jika ibu dan bapak sama-sama
bekerja di luar rumah.
Tugas perkembangan keluarga pada tahap ini adalah:
Memenuhi kebutuhan anggota keluarga seperti ruang bermain, privacy, keamanan.
• Pada saat ini dimulainya fungsi edukatif keluarga terhadap anak. Pendidikan terhadap anak pertama dilakukan dengan
memberikan kesempatan anak untuk belajar di taman kanak-kanak ataupun dalam kelompok bermain. Peran ini
dapat juga dilakukan dengan memberikan stimulasi pendidikan seperti pengenalan terhadap buku dan alat tulis serta
belajar meningkatkan kemampuan verbal dan kognisinya.
• Perawatan kesehatan juga menjadi kebutuhan bagi keluarga. Perawatan kesehatan diutamakan pada pencegahan
masalah pada anak usia pra sekolah dan mungkin pada ibu yang hamil, melahirkan atau perawatan bayi baru lahir.
• Anak usia pra sekolah perlu untuk mengeksporasi dunia sekitarnya, sedangkan orang tua memiliki kebutuhan dan
privacy sendiri. Hal ini menyebabkan perlunya desain rumah dan ruang yang adekuat sehingga kebutuhan anak dan
orang tua dapat terpenuhi. Peralatan dan fasilitas yang ada perlu dipilih untuk melindungi anak-anak, karena pada
tahap ini kecelakaan menjadi penyebab utama kematian dan cacat. Keluarga juga perlu memperhatikan kebutuhan
gizi anak, karena masa ini rentan terhadap penyakit infeksi. Adapun perawatan kehamilan, persalinan dan nifas bukan
menjadi masalah yang sangat penting karena telah memiliki pengalaman pada tahap sebelumnya. Namun bukan
berarti masalah ini diabaikan. Keluarga harus tetap meningkatkan pengetahuan tentang perawatan ibu hamil,
menyusui dan perawatan bayi baru lahir.
Mensosialisasikan anak
• Fungsi sosialisasi dilakukan terutama pada anak pertama, dimana anak ini perlu belajar peran tentang kemandirian
sebagai persiapan menghadapi kehidupan yang lebih rumit. Sosialisasi dilakukan dengan mengenalkan peran yang
harus dilakukan oleh anak, seperti belajar memelihara kebersihan serta memenuhi kebutuhan sehari-harinya secara
mandiri. Kebutuhan eksplorasi yang meningkat dan kemampuan komunikasi yang semakin baik pada anak,
menyebabkan keluarga perlu menyediakan kesempatan bagi anak untuk bersosialisasi dengan orang lain yang lebih
luas dan dengan teman sebaya. Anak usia prasekolah mengembangkan sikap diri dan secara cepat belajar
mengekspresikan diri mereka. Pergaulan ini merupakan sarana pembelajaran bagi anak sehingga semakin siap untuk
menghadapi dunia yang semakin luas.
Mengintegrasikan anak yang baru sementara tetap memenuhi kebutuhan anak lain.
• Pergesesaran perhatian anak oleh seorang bayi baru lahir secara psikologis merupakan kejadian
traumatic bagi anak pertama. Mempersiapkan anak menjelang kelahiran bayi dengan mengenalkan
anak kepada bayi secara dini serta mengikutsertakan anak dalam perawatan bayi membantu
memperbaiki situasi, khususnya jika orang tua sensitive terhadap perasaan dan tingkah laku anak
yang lebih tua. Persaingan dikalangan kakak beradik (sibling rivalty) biasanya diungkapkan dengan
memukul atau berhubungan secara negatif dengan bayi, tingkah laku regresif serta melakukan
kegiatan buruk yang menarik perhatian. Cara terbaik menangani persaingan di kalangan kakak
beradik adalah dengan meluangkan waktu berhubungan lebih erat dengan anak yang lebih tua untuk
meyakinkannya bahwa ia masih dicintai dan dikehendaki.
• Keluarga perlu meningkatkan komunikasi antara anggota keluarga secara adil untuk memastikan
pemenuhan kebutuhan kasih sayang, terutama pada anak pertama karena saat ini anak sering
cemburu terhadap kehadiran adiknya.
• Mempertahankan hubungan yang sehat dalam keluarga (hubungan perkawinan dan hubungan orang
tua dan anak) dan diluar keluarga (keluarga besar dan komunitas). Meningkatkan jumlah keluarga
menyebakan semakin sedikitnya jumlah waktu komunikasi dengan masing-masing anggota keluarga.
Komunikasi dapat dipertahankan dengan meningkatkan kualitas komunikasi. Selain dalam keluarga,
maka perlu pula mempertahankan komunikasi dengan lingkungan, sehingga dicapai kehidupan
bermasyarakat yang seimbang.
• Orang tua juga perlua kontak di luar rumah untuk memberikan perasaan segar sehingga dapat
melaksanakan tugas dan tanggung jawab di rumah dengan baik. orang tua dari ekonomi rendah dan
orang tua tanggal sering tidak punya kesempatan untuk melakukan hal ini. Keluarga ini mempunyai
tingkat kepuasan yang sedikit terhadap pergaulan dengan masyarakat sekitar, karena posisi mereka
yang terasing serta kekurangan sumber ekonomi.
Tahap IV: Keluarga dengan Anak Usia Sekolah (Families
With School Children)
• Tahap ini dimulai ketika anak pertama telah berusia 6
tahun dan mulai masuk sekolah dasar dan berakhir pada
usia 13 tahun, awal dari masa remaja. Keluarga biasanya
mencapai jumlah anggota maksimum.
• Tugas perkembangan keluarga umumnya lebih ditekankan
pada pemenuhan tugas perkembangan anak. Untuk
mencapai tugas perkembangan yang optimal, keluarga
akan memoutuhkan bantuan dari pihak sekolah dan
kelompok sebaya anak. Keluarga perlu membantu
meletakkan dasar penyesuaian diri anak dengan teman
sebaya.
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini adalah:
Mensosialisasikan anak termasuk meningkatkan prestasi sekolah dan
mengembangkan hubungan dengan teman sebaya yang sehat.
• Kegiatan mendorong anak untuk mencapai pengembangan daya intelektual,
menyediakan aktifitas untuk anak dan membantu sosialisasi anak ke luar
rumah merupakan kegiatan yang harus dilakukan oleh orang tua.
Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
• Pada saat ini hubungan perkawman sering menurun. Orang tua seringkali
lebih memfokuskan pada kegiatan peningkatan karier dan pendidikan anak.
Memenuhi kebutuhan kesehatan fisik anggota keluarga.
• Anak usia sekolah membutuhkan energi dan mineral yang tinggi untuk
pertumbuhan otot, tulang dan giginya. Keluarga perlu menyediakan
kebutuhan gizi bagi anggota keluarganya. Penyakit gigi dan kulit merupakan
masalah utama pada masa ini. Peletakkan dasar kebersihan diri anak perlu
ditekankan keluarga untuk mencapal kesehatan yang optimal. Keluarga perlu
pula menyediakan kebutuhan anak akan kesehatan terutarna kesehatan kulit
dan gigi.
Tahap V: Keluarga Dengan Anak Remaja (Families
With Teenagers).
• Perkembangan keluarga tahap V adalah
perkembangan keluarga yang dimulai ketika anak
pertama melewati umur 13 tahun. Tahap ini
berlangsung selama 6 hingga 7 tahun, meskipun tahap
ini dapat lebih singkat jika anak meninggalkan
keluarga lebih awal atau lebih lama jika anak masih
tinggal dirumah hingga umur 19 atau 20 tahun. Anak
kedua atau berikutnya biasanya dalam usia sekolah.
Tugas perkembangan keluarga pada saat ini pada dasarnya untuk memfasilitasi tugas perkembangan pada usia
remaja Tugas perkembangan keluarga dalani tahap ini menurut Duvall adalah sebagal berikut:
Menyeimbangkan kebebasan dengan tanggung jawab remaja untuk mencapai dewasa dan semakin mandiri.
• Orang tua harus; mengubah hubungan mereka dengan remaja secara progresif dari hubungan ketergantungan yang
dibentuk sebelumnya. kearah suatu hubungan yang semakin mandiri. Tugas ini merupakan tugas yang pertama dan
utama harus dilakukan. Agar keluarga, dapat beradaptasl dengan sukses selama tahap int, semua anggota, keluarga,
khususnya orang tua, harus membuat "perubahan sistem" utama - yaitu, membentuk peran-peran dan norma-norma
baru dengan "membiarkan" remaja. Orang tua harus mempercayai anak agar mandiri secara premature, dengan
mengabaikan kebutuhan ketergantungannya.
Memfokuskan kembali hubungan perkawinan.
• Pada tahap ini, hubungan perkawinan juga merupakan pusat perhatian. Pasangan suami istri yang telah begitu terikat
dengan berbagai tanggung jawab sebagai orang tua seringkah tidak memainkan suatu peran utama dalam kehidupan
perkawinan mereka. Suami biasanya menghabiskan banyak waktu diluar rumah karena bekerja dan melanjutkan
kariernya, sedangkan istri bekerja meneruskan pekerjaan rumah tangga dan tanggung jawab sebagai orang tua. Dalam
situasi seperti ini, hanya tersisa sedikit waktu dan energi untuk hubungan perkawinan.
• Pada masa ini, anak telah lebih bertanggung jawab terhadap diri mereka sendiri, sehingga pasangan suami istri akan
lebih banyak waktu. untuk dapat meniti karier atau menciptakan kesenangan perkawinan. Mereka dapat mulai
membangun pondasi perkawinan untuk tahap siklus kehidupan keluarga, berikutnya.
Berkomunikasi secara terbuka antara orang tua dan anak-anak.
• Tugas perkembangan keluarga yang ketiga yang mendesak adalah berkomunikasl secara terbuka. Karena adanya
kesenjangan antar generasi, komunikasi terbuka sering kali hanya merupakan suatu cita-cita, bukan suatu realita.
Seringkali terdapat saling menolak antara orangtua dan remaja menyangkut nilai dan gaya hidup. Orang sering kali
menolak dan memisahkan diri dari anak mereka yang tertua, sehingga mengurangi saluran komunikasi yang terbuka
yang mungkin telah ada sebelumnya.
Mempertahankan etika dan standar moral keluarga.
• Meskipun aturan dalam keluarga perlu diubah, etika dan standar moral keluarga perlu dipertahankan oleh orang tua,
sementara remaja mencari nilai dan keyakinan mereka sendiri. Orang tua perlu mempertahankan dan mengetatkan
prinsip-prinsip dan standar-standar mereka kepada remaja. Hal yang perlu diperhatikan, remaja sangat sensitive
terhadap ketidakcocokan antara apa dikatakan dengan apa yang dipraktikan. Orang tua dan anak dapat belajar dari
satu sama lain dan dalam masyarakat yang majemuk yang berubah dengan cepat pada saat in]. Transformasi nilai dari
kaum muda akan menyebabkan transformasi kepada keluarga. Adopsi gaya hidup yang lebih bebas dan sederhana
melambangkan adanya transformasi nilai.

Tahap VI: Keluarga Dengan AnakDewasa (Launching Center
Families).
• Permulaan tahap kehidupan keluarga ini ditandai oleh anak
pertama meninggalkan rumah dan berakhir dengan "rumah
kosong" atau ketika anak terakhir meninggalkan rumah. Tahap
ini dapat singkat atau agak panjang, tergantung pada berapa
banyak anak yang belum menikah dan masih tinggal dirumah.
Akan tetapi trend dewasa ini anak pada usia dewasa muda lebih
suka segera meninggalkan rumah untuk hidup secara mandiri.
• Tugas keluarga membantu anak tertua dalarn melepaskan diri,
dan membantu anak yang lebih kecil untuk mandiri. Dan ketika
anak yang "dilepaskan" telah menikah, tugas keluarga. adalah
memperluas siklus keluarga dengan memasukkan anggota
keluarga baru lewat perkawinan dan menerima nilai-nilai dan
gaya hidup dari pasangan itu sendiri.
Tugas perkembangan keluarga pada masa ini adalah:
Memperluas keluarga dengan memasukkan anggota baru yang didapatkan melalui
perkawinan anak.
• Adanya perkawinan anak menyebabkan bertambahnya anggota keluarga meskipun
mungkin tidak serumah. Orang tua harus mengatur kembali hubungan dengan anak
yang telah menikah agar mampu hidup berkeluarga secara mandiri dan tetap menjaga
ikatan dengan orang tua.
Melanjutkan dan memperbarui serta menyesuaikan kembali hubungan
perkawinan.
• Berkurangnya peran parenting menyebabkan orang tua. memiliki lebih banyak waktu
untuk mencurahkan perhatian pada kegiatan dan hubungan lain, terutama peran suami
istri yang pernah mereka lakukan. Friedman (1957) mengungkapkan pentingnya
hubungan perkawinan sebagai pembentuk suatu kehidupan baru bersama-sama.
Membantu orang tua. lanjut usia dan sakit-sakitan dari suami mauptui istri.
• Perawatan orang tua. yang lanjut usia dan / atau tidak mandiri bukanlah fungsi yang
diharapkan dari keluarga. Aktivitas tersebut dapat dilakukan dalam berbagai bentuk
mulai dari menelepon secara rutin hingga bantuan financial, transportasi, dan
mengunjungi serta merawat orang tua. mereka di rumah.
Tahap VII: Keluarga Usia Pertengahan (Middle Age
Families).
• Tahap ketujuh dari siklus kehidupan keluarga adalah
tahap usia pertengahan yang dimulai ketika anak
terakhir meninggalkan rumah dan berakhir pada saat
pensiun atau kematian salah satu pasangan. Tahap, ini
biasanya, dimulai ketika orangtua memasuki usia
45-55 tahun dan berakhir saat seorang pasangan
pensiun, biasanya 16-18 tahun kemudian.
Tugas perkernbangan keluarga, pada masa MI adalah penentuan lingkungan yang sehat,
meliputi :
Menyediakan lingkungan yang meningkatkan kesehatan.
• Dalam masa ini upaya untuk melaksanakan gaya hidup sehat menjadi lebih menonjol bagi pasangan,
meskipun kenyataannya mungkin mereka telah melakukan kebiasaan yang sifatnya merusak
kesehatan. Motivasi utama orang usia pertengahan untuk memperbaiki gaya hidup mereka adalah
adanya perasaan rentan terhadap penyakit akibat adanya teman atau anggota keluarga, mengalami
serangan jantung, stroke atau kanker. Keyakinan bahwa pemeriksaan yang teratur dan kebiasaan
hidup yang sehat merupakan cara-cara efektif untuk mengurangi kerentanan terhadap berbagai
penyakit juga merupakan kekuatan pendorong yang ampuh. Penyakit hati, kardiovaskuler dan
kanker merupakan dua pertiga dari semua penyebab kernatian antara usia 46 hingga 64 tahun, dan
sebagai penyebab kematian urutan ke empat (Pusat Statistik Kesehatan Nasional, 1989).
Mempertahankan hubungan yang memuaskan dengan orangtua (lansia) dan anak-anak.
• Menerima cucu ke Dalam keluarga, dan meningkatkan hubungan antar generasi, merupakan tugas
perkembangan yang dapat mendatangkan penghargaan yang tinggi. Tugas perkembangan ini
memungkinkan pasangan usia pertengahan merasa seperti sebuah keluarga dan mendatangkan
kebahagian akibat perannya Sebagai kakek - nenek. Kakek-nenek berperan memberikan dukungan
anak dan cucu terutama pada saat kristis. Peran lain yang sering terjadi adalah membantu orangtua
(lansia) yang kadang menjadi anggota keluarga mereka. Tanggung jawab perawatan bagi orangtua
lansia yang lemah dan sakit-sakitan merupakan hal yang harus dilakukan pada keluarga ini.
Memperkokoh hubungan perkawinan.
• Pada saat ini pasangan benar-benar sendirian setelah bertahun-tahun di kelilingi oleh anggota
keluarga yang lain. Pada kebanyakan pasangan masa ini disambut dengan kelegaan meskipun
beberapa pasangan menganggap sebagai masa yang menyulitkan untuk berhubungan satu sama lain.
Peningkatan pola komunikasi terbuka antar pasangan merupakan kunci keberhasilan dalam
memperkokoh perkawinan.
Tahap VIII: Keluarga Lanjut usia
• Tahap VIII merupakan tahap akhir dan perkembangan
keluarga yang dimulai ketika salah satu atau kedua
pasangan memasuki masa pensiun, sampai salah satu
pasangan meninggal dan berakhir ketika, kedua
pasangan meninggal. Dengan meningkatnya usia
harapan hidup, maka jumlah lansia setiap tahun akan
semakin meningikat pula sehingga j jumlah keluarga
pada tahap VIII pun juga meningkat.
Tugas perkembangan yang harus dikembangkan oleh keluarga lansia adalah:
Mempertahankan pengaturan hidup yang memuaskan.
• Orang tua yang tinggal di rumah sendiri biasanya mempunyai penyesuaian diri yang baik daripada tinggal bersama
anaknya. Orang tua yang pindah ke rumah anaknya biasanya lansia dengan penurunan kesehatan atau ekonomi
sehingga tidak punya pilihan lain. Hal ini merupakan bukti pengaturan diri yang kurang memuaskan lansia.
Pengaturan hidup secara mandiri merupakan prediktor kesejahteraan yang ampuh bagi lansia. Perpindahan tempat,
merupakan pengalaman traumatik karena beraiti meninggalkan pertalian tetangga dan persahabatan yang memberi
kenyamanan dan keamanan. Akan tetapi jika hal ini harus terjadi, maka menciptakan lingkungan seperti lingkungan
lama merupakan hal yang penting bagi lansia.
Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan penurunan pendapatan
• Lansia lebih banyak menghabiskan uang untuk perawatan kesehatan, sehingga perlu menyesuaikan pengeluaran
dengan pendapatannya. Program asuransi atau bantuan orang lain terutama dari generasinya mungkin sangat
dibutuhkan pada saat ini
Mempertahankan hubungan perkawinan.
• Perkawinan mempunyai kontribusi yang besar bagi moral dan aktivitas yang berlangsung bagi kedua pasangan.
Kegiatan seksual mungkin pada masa ini sudah dialihkan ke hal lain yang bisa saling memuaskan.
Menyesuaikan diri terhadap kehilangan pasangan.
• Lansia umumnya menyadari bahwa kematian merupakan proses kehidupan yang normal. Akan tetapi kematian
pasangan merupakan hal yang sulit untuk diadaptasi. Kehilangan pasangan merupakan hal yang paling traumatis bagi
lansia dan mampu melunturkan semua dukungan, meskipun anak telah mengisi kekosongannya. Wanita biasanya
lebih menderita daripada pria. Hal ini akibat hilangnya rasa saling ketergantungan dan membagi kegiatan secara
bersama. Namun demikian biasanya wanita akan lebih mampu bertahan hidup daripada pria. Bagi pria kehilangan
pasangan berarti kehilangan teman, hubungan sanak famili keluarga dan dunia sosial secara umum. Duda lansia
umumnya tidak punya minat untuk melaksanakan peran ibu sehingga sering membutuhkan bantuan dalam
memenuhi kebutuhan sehari - hari dan perawatannya
Mempertahankan ikatan keluarga antar generasi
• Secara umum lansia akan mengalami penurunan hubungan sosial. Hal ini bukan berarti lansia akan menarik diri dart
dunia sosial sekitarnya. Interaksi dari pasangan, generasinya dan saudaranya merupakan dukungan sosial terpenting
bagi lansia.
Meneruskan untuk memahami eksistensi mereka ( penelaahan dan integrasi hidup).
• Penelaahan hidup / "life review" merupakan aktivitas kognitif yang vital dan umum dilakukan oleh lansia. Aktivitas ini
menggambarkan suatu penelaahan sentral terhadap arti kehidupan dan memberikan fungsi untuk memudahkan
penyesuaian diri terhadap situasi yang sulit dan memberikan pandangan terhadap kejadian pada masa lalu. Lansia
sangat peduli dengan kualitas hidup mereka dan berharap dapat hidup terhormat dan penuh arti. Pendekatan diri
kepada Tuhan secara serius merupakan tindakan yang dapat meningkatkan kehormatan bagi lansia dengan ditunjang
"life review" yang baik.

Pokok - Pokok Tugas Keluarga
Setiap tahap perkembangan keluarga mempunyai tugas yang
berbeda - beda. Akan tetapi secara umum keluarga mempunyai
tugas-tugas yang sama. Pokok-pokok tugas keluarga menurut EM Duvall
adalah sebagai berikut:
• Pemeliharaan fisik keluarga dan para, anggotanya.
• Pemeliharaan sumber-sumber daya yang ada dalam keluarga.
• Pembagian tugas masing-masing anggota sesuai dengan
kedudukannya.
• Sosialisasi antar anggota keluarga.
• Pemeliharaan ketertiban anggota keluarga.
• Pengaturan jumlah anggota keluarga.
• Penempatan anggota keluarga dalam masyarakat
• Membangkitkan dorongan dan semangat para anggota keluarga.
Adapun tugas keluarga dalam bidang kesehatan
menurut Freeman adalah
• Mengenal gangguan perkembangan kesehatan setiap
anggota keluarga.
• Mengambil keputusan tindakan kesehatan secara tepat.
• Memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang
sakit.
• Mempertahankan suasana rumah yang menguntungkan
untuk perkembangan kepribadian setiap anggota keluarga.
• Mempertahankan hubungan yang baik dengan lembaga /
fasilitas kesehatan.
– Konsep Keluarga Sejahtera
• Paradigma baru Program Keluarga Berencana Nasional telah
mengubah visinya dari mewujudkan NKKBS menjadi vasi untuk
mewujudkan Keluarga Berkualitas Pada Tahun 2015. Hal ini ini
berarti diharapkan pada tahun 2015 seluruh keluarga di
Indonesia menjadi lebih berkualitas dan bukan hanya mencapai
norma keluarga kecil yang sejahtera. Keluarga yang berkualitas
adalah keluarga yang sejahtera, sehat, maju, mandiri, memiliki j
umlah anak yang ideal, berwawasan ke depan, bertanggung
jawab, harmonis dan bertakwa pada Tuhan Yang Maha Esa
Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk atas dasar
perkawinan yang sah, mampu memenuhi kebutuhan hidup
spiritual dan material yang layak, bertakwa kepada Tuhan Yang
Maha Esa memiliki hubungan serasi, selaras dan seimbang
antara anggota keluarga dengan masyarakat dan lingkunganya.
• Keluarga sejahtera dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu
keluarga pra sejahtera, sejahtera 1, sejahtera 11, sejahtera III dan
sejahtera III Plus, yang didasarkan pada pemenuhan kebutuhan dasar
keluarga. Karakteristik keluarga sejahtera adalah:

Indikator Keluarga Sejahtera


Tahap I
• Melaksanakan ibadah menurut agama masing-masing yang di anut
• Makan dua kali sehari atau lebih
• Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan
• Lantai rumah bukan dari tanah
• Kesehatan ( anak sakit atau pasangan usia subur ingin berKB di bawa
kesarana / petugas kesehatan )
Tahap II
• Melasanakan ibadah menurut agama masing-masing yang di anut
• Makan dua kali sehari atau lebih
• Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan
• Lantai rumah bukan dari tanah
• Kesehatan ( anak sakit atau pasangan usia subur ingin berKB bi bawa kesarana / petugas kesehatan )
• Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama masing- masing yang di anut
• Makan daging / ikan / telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam seminggu
• Memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir
• Luas lantai tiap penghuni rumah 8m2 per orang
• Anggota keluaraga sehat dalam 3 bulan terakhir sehingga dapat melakasanakan fungsi masing-
masing
• Keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap
• Bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang berumur 10 sampai dengan 60 tahun
• Anak usia sekolah ( 7-15 ) tahun bersekolah
• Anak hidup dua atau lebih, keluarga masih PUS, saat ini memakai kontrasepsi
Tahap III
• Melasanakan ibadah menurut agama masing-masing yang di anut
• Makan dua kali sehari atau lebih
• Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan
• Lantai rumah bukan dari tanah
• Kesehatan ( anak sakit atau pasangan usia subur ingin berKB bi bawa kesarana / petugas kesehatan )
• Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama masing- masing yang di anut
• Makan daging / ikan / telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam seminggu
• Memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir
• Luas lantai tiap penghuni rumah 8m2 per orang
• Anggota keluaraga sehat dalam 3 bulan terakhir sehingga dapat melakasanakan fungsi masing-
masing
• Keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap
• Bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang berumur 10 sampai dengan 60 tahun
• Anak usia sekolah ( 7-15 ) tahun bersekolah
• Anak hidup dua atau lebih, keluarga masih PUS, saat ini memakai kontrasepsi
• Upaya keluarga untuk meningkatkan / menambah
pengetahuan agama
• Keluarga mempunyai tabungan
• Makan bersama paling kurang sehari sekali
• Ikut serta dalam kegiatan masyarakat
• Rekreasi bersama / penyegaran paling kurang dalam 6
bulan
• Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi, dan
majalah
• Anggota keluarga mampu menggunakan sarana
transportasi
Tahap III Plus
• Melasanakan ibadah menurut agama masing-masing yang di anut
• Makan dua kali sehari atau lebih
• Pakaian yang berbeda untuk berbagai keperluan
• Lantai rumah bukan dari tanah
• Kesehatan ( anak sakit atau pasangan usia subur ingin berKB bi bawa kesarana / petugas kesehatan )
• Anggota keluarga melaksanakan ibadah secara teratur menurut agama masing- masing yang di anut
• Makan daging / ikan / telur sebagai lauk pauk paling kurang sekali dalam seminggu
• Memperoleh pakaian baru dalam satu tahun terakhir
• Luas lantai tiap penghuni rumah 8 m2 per orang
• Anggota keluaraga sehat dalam 3 bulan terakhir sehingga dapat melakasanakan fungsi masing-
masing
• Keluarga yang berumur 15 tahun keatas mempunyai penghasilan tetap
• Bisa baca tulis latin bagi seluruh anggota keluarga dewasa yang berumur 10 sampai dengan 60 tahun
• Anak usia sekolah ( 7-15 ) tahun bersekolah
• Anak hidup dua atau lebih, keluarga masih PUS, saat ini memakai kontrasepsi
• Upaya keluarga untuk meningkatkan / menambah pengetahuan
agama
• Keluarga mempunyai tabungan
• Makan bersama paling kurang sehari sekali
• Ikut serta dalam kegiatan masyarakat
• Rekreasi bersama / penyegaran paling kurang dalam 6 bulan
• Memperoleh berita dari surat kabar, radio, televisi, dan majalah
• Anggota keluarga mampu menggunakan sarana transportasi
• Memberikan sumbangan secara teratur ( waktu tertentu ) dan
sukarela dalam bentuk material kepada masyarakat
• Aktif sebagai pengurus yayasan / panti
Indikator Keluarga Miskin
– Tidak bisa makan dua kali sehari atau lebih
– Tidak bisa menyediakan daging / ikan / telur sebagai lauk pauk
kurang dari seminggu sekali
– Tidak bisa memiliki pakaian yang berbeda untuk setiap aktivitas
– Tidak bisa memperoleh pakaian baru minimal satu stel setahun
sekali
– Bagian terluas lantai rumah dari tanah
– Luas lantai rumah kurang dari delapan meter perdsegi untuk setiap
penghuni rumah
– Tidak ada anggota keluarga berusia 15 tahun mempunyai
penghasilan tetap
– Bila anak sakit / PUS ingin ber-KB Tidak bisa kefasilitas kesehatan
– Anak berumur 7-15 tahun tidak bersekolah