Anda di halaman 1dari 26

PENGARUH PERUBAHAN SISTEM

GUNA LAHAN DI WILAYAH


URBAN
(STUDI KASUS : KELURAHAN PATTUNUANG, KOTA MAKASS AR)

Baginda Yusran Fathurrahman


Sirait (60800113045)
Bab I
Pendahuluan
Latar Belakang
Untuk mengoptimalkan lahan-lahan yang
tersedia maka dibuat kebijakan-kebijakan yang
mengatur dan mengontrol perkembangan fisik kota.
Dengan adanya kebijakan-kebijakan seperti Rencana
Tata Ruang Wilayah (RTRW) yang dilandasi dengan
kajian-kajian dari kondisi eksisting spasial dan proyeksi
kedepannya untuk pembangunan berkelanjutan,
terkadang fungsi-fungsi perkotaan bergeser dari suatu
wilayah ke wilayah lainnya sehingga menghasilkan
wilayah kota tua yang memiliki nilai historis dari
perkembangan kesuluruhan wilayah kota tersebut.
Dengan adanya wilayah kota tua ini yang masih berada
dalam kategori urban (perkotaan) maka fungsi-fungsi
lahan dirasa kurang optimal dengan kondisi eksisting
akibat perluasan wilayah kota itu sendiri.
‫ب ليذخبربج لنلبابتبه ذبإذذذذن لرببذه لواللذذي لخبب ل‬
‫ث لل‬ ‫لواذللبللبد اللطبي ب‬
‫ب‬ ‫ذ‬
‫ت لذلق ذومم ليشكبرولن‬ ‫ذ‬
‫ف الليا ذ‬‫صبر ب‬ ‫كن ل‬‫ب‬ ‫ل‬ ‫ذ‬
‫ليذخبربج إذلل لنذكددا لكذلذ ل‬
Artinya : Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya
tumbuh subur dengan seizin Allah; dan tanah yang
tidak subur, tanaman-tanamannya hanya tumbuh
merana. Demikianlah Kami mengulangi tanda-tanda
kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur
(Q.S. Al-A’raf. 7:58).
Rumusan Masalah
1. Faktor
apa yang menyebabkan terjadinya
perubahan sistem guna lahan di Kelurahan
Pattunnuang, Kota Makassar?
2. Bagaimanaupaya pengendalian terhadap
perubahan sistem guna lahan di Kelurahan
Pattunnuang, Kota Makassar?
Tujuan Penelitian
1. Untuk mengidentifikasi penyebab
terjadinya perubahan sistem guna lahan di
Kelurahan Pattunnuang, Kota Makassar.
2. Untuk mengidentifikasi upaya
pengendalian terhadap perubahan sistem
guna lahan di Kelurahan Pattunnuang, Kota
Makassar.
Manfaat Penelitian
1. Untuk mengetahui penyebab terjadinya perubahan
sistem guna lahan di Kelurahan Pattunuang, Kota
Makassar.
2. Untuk mengetahui berbagai upaya pengendalian
terhadap perubahan sistem guna lahan di Kelurahan
Pattunuang, Kota Makassar.
3. Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Kota
Makassar dalam penetapan kebijakan zonasi di
wilayah urban, Kelurahan Pattunuang, Kota Makassar.
4. Sebagai referensi penelitian tentang perubahan
sistem guna lahan di wilayah urban bagi peneliti
selanjutnya.
Bab II
Tinjauan
Pustaka
Lahan
Lahan merupakan tanah yang sudah ada
peruntukannya dan umumnya dimiliki dan
dimanfaatkan oleh perorangan atau lembaga untuk
dapat diusahakan (Jayadinata, 1999:10).
Perubahan Sistem Guna Lahan
Menurut Zulkaidi (1999) bahwa perubahan pemanfaatan lahan
dapat mengacu pada 2 hal yang berbeda, yaitu pemanfaatan
lahan sebelumnya, atau rencana tata ruang. Perubahan yang
mengacu pada pemanfaatan sebelumnya adalah suatu
pemanfaatan baru atas lahan yang berbeda dengan
pemanfaatan lahan sebelumnya, sedangkan perubahan yang
mengacu pada rencana tata ruang adalah pemanfaatan baru
atas tanah yang tidak sesuai dengan yang ditentukan dalam
Rencana Tata Ruang Wilayah.
Faktor Penyebab Perubahan Sistem
Guna Lahan
Pada penelitian yang dilakukan oleh Yusran (2006) diketahui
bahwa perubahan guna lahan terjadi karena dua faktor yaitu
faktor eksternal dan faktor internal. Faktor eksternal berupa
pengaruh aktivitas diluar wilayah studi, sedangkan faktor
internal berupa perkembangan penduduk, transformasi
sosial, ketersediaan lahan, kelengkapan sarana prasarana
dan utilitas kota, aksesibilitas, ketersediaan fasilitas
perkotaan, sistem transportasi dan aktivitas perekonomian
kota.
Kota
Kota adalah kawasan yang mempunyai kegiatan utama
bukan pertanian dengan susunan fungsi kawasan
sebagai tempat pelayanan jasa pemerintahan,
pelayanan sosial dan kegiatan ekonomi. (UU No. 22
tahun 1999 tentang Otonomi Daerah).
Urban (Perkotaan)
Perkotaan atau kawasan perkotaan adalah
permukiman yang meliputi kota induk dan daerah
pengaruh di luar batas administratifnya yang
berupa daerah pinggiran sekitarnya / kawasan
suburban. (Pontoh & Kustiwan, 2008:5).
Growth Pole Theory
Dalam Pontoh (2008:128) teori ini dapat menjelaskan
perkembangan ekonomi kota dalam suatu wilayah
yang luas dengan adanya sumberdaya yang
menyebar dan penyerapan sumberdaya yang
timpang. Teori ini juga dapat ditopang oleh alat ukur
ekonomi sehingga dapat menjelaskan implikasinya
pada perencanaan dan bersifat dinamis.
Bab III
Metode
Penelitian
LOKASI DAN WAKTU PENELITIAN
 Penelitian dilaksanakan di Kelurahan Pattunuang, Kota
Makassar
 Penelitian ditargetkan berlangsung selama 6 bulan, terhitung
bulan April-September 2018 Bulan
No. Nama Kegiatan Keterangan
April Mei Juni Juli Agustus September
1. Survey Awal             1 hari
2.            
Konsultasi Pembimbing 5 kali
3.            
Seminar Proposal 15 Mei 2018
4.            
Pembimbingan Ditargetkan
5.            
Survey (pengambilan
Ditargetkan
data)
6.            
Ujian Konfren Ditargetkan
7.            
Seminar Hasil Ditargetkan
8.            
Pembimbingan Ditargetkan
9.            
Seminar Akhir Ditargetkan
10.            
Perbaikan Skripsi Ditargetkan
11.            
Pengumpulan Skripsi Ditargetkan
JENIS DATA
 Data Kuantitatif, yaitu data yang berbentuk angka atau data
numerik. Data yang dikumpulkan misalnya : data jumlah
penduduk dan luas wilayah.
 Data kualitatif, yaitu data non parametris yang berbentuk
bukan angka atau menjelaskan secara deskripsi tentang
kondisi lokasi penelitian secara umum dan kondisi sosial
budaya.
SUMBER DATA
 Data Primer
Data lapangan berupa data yang di dapatkan melalui
tinjauan langsung ke lapangan/ lokasi penelitian, berupa data
perkembangan aktivitas masyarakat pada wilayah penelitian
tersebut.
 Data Sekunder
Data instansi berupa data dari sumber instansi-instansi
terkait seperti, data RTRW, RDTR, RPJMD, data penggunaan
lahan, serta lainnya yang menyangkut dengan rumusan
masalah.
POPULASI DAN SAMPEL
 Populasi dalam penelitian ini adalah jumlah penduduk. Jumlah penduduk yang
berada di Kelurahan Pattnuang berjumlah 3.197 jiwa atau 738 KK (BPS 2017).
 Penelitian ini menggunakan Multistage sampling yang mana adalah cara
pengambilan sampel dimana kita memilih sebuah sampel dengan
menggunakan kombinasi dari metode pengambilan sampel yang berbeda,
dalam hal ini menggunakan teknik proportional sampling dan simple random
sampling.
 Proportional sampling, teknik ini menghendaki cara pengambilan sampel dari
tiap-tiap sub populasi dengan memperhitungkan besar kecilnya sub-sub
populasi tersebut. Dalam hal ini lokasi penelitian memiliki 6 RW dan 19 RT
dengan jumlah populasi sebanyak 3.197 jiwa atau 738 KK, dimana ditarik
sampel tiap tiap RT dari keseluruhan 19 RT memiliki proporsi yang
memperhitungkan besar kecilnya sub-sub populasi tersebut.
 Simple random sampling, Teknik random sampling adalah teknik pengambilan
sampel dimana semua individu dalam populasi, baik secara sendiri-sendiri
atau bersama-sama diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi
anggota sampel. Dalam hal ini lokasi penelitian memiliki 6 RW dan 19 RT
dengan jumlah populasi sebanyak 3.197 jiwa atau 738 KK, dimana ditarik
sampel secara acak dari keseluruhan populasi tersebut.
TEKNIK PENGUMPULAN DATA
 Observasi Lapangan
 Survei Lapangan
 Studi Dokumentasi
VARIABEL PENELITIAN
Variabel Indikator
 Diatas 50%
Y Perubahan Sistem Guna Lahan
 Dibawah 50%
 Diatas 2% / tahun
X1 Perkembangan Penduduk
 2% / tahun
 
 Dibawah 2% / tahun
X2 Transformasi Sosial  Penduduk asli
   Pendatang
 Tersedia
X3 Ketersediaan Lahan
 Kurang tersedia
 
 Tidak tersedia
X4 Sarana dan Prasarana  Sesuai standar
   Tidak sesuai standar (kurang)

X5 Aksesibilitas  Mudah dijangkau kendaraan umum


   Sulit dijangkau kendaraan umum
X6 Aktivitas Perekonomian  Diatas 50%
   Dibawah 50%
 Komersial
X7 Aktivitas di Luar Wilayah Studi
 Non Komersial
Strengths (Kekuatan)  Variabel X1-X7
Weaknesses (Kelemahan)  Variabel X1-X7
 Segala bentuk peraturan dan kebijakan
Opportunities (Peluang)
pemerintah.
Threats (Ancaman)  Segala variabel selain X1-X7
TEKNIK ANALISIS DATA
Analisis Chi-Square atau uji Chi-Square berguna untuk menguji
hubungan atau pengaruh dua buah variabel nominal dan
mengukur kuatnya hubungan antara variabel yang satu dengan
variabel nominal lainnya (C = Coefisien of contingency).

Dimana
  :
 X2 : Nilai Chi-kuadrat
 Fh : Frekuensi yang diharapkan
 f0 : Frekuensi yang diperoleh/diamati
TEKNIK ANALISIS DATA
Skala Likert, sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dari
penelitian ini, maka metode pengukuran perubahan sistem guna
lahan dengan menggunakan pendekatan skala likert untuk
mengetahui hubungan antara variabel x dan y digunakan
patokan interprentase nilai presentase yang digunakan. Dalam
penelitian ini hasil analisis / uji chi-square akan dicocokkan
dengan sistem skoring dalam skala likert yang kemudian untuk
menentukan korelasi variabel dengan tingkat pengaruhnya
terhadap perubahan sistem guna lahan di wilayah penelitian.
Nilai Sebutan
0,80-1,00 Hubungan sangat kuat
0,60-0,79 Hubungan kuat
0,40-0,59 Hubungan sedang
0,20-0,39 Hubungan lemah
0,00-0,19 Hubungan sangat lemah
TEKNIK ANALISIS DATA
Analisis SWOT
N N
Faktor Bobot Rating BxR Faktor Bobot Rating BxR
o o
1 Kekuatan 1 Peluang
  Faktor 1         Faktor 1      
  Faktor 2         Faktor 2      
  Faktor 3         Faktor 3      
Jumlah     Jumlah    
2 Kelemahan 2 Ancaman
  Faktor 1         Faktor 1      
  Faktor 2         Faktor 2      
Jumlah     Jumlah    
Total     Total    

Kekuatan (S)

Kuadran II Kuadran I
Prioritas untuk Prioritas untuk
startegi ST startegi SO

Ancaman (T) Peluang (O)

Kuadran III Kuadran IV


Prioritas untuk Prioritas untuk
startegi WT startegi WO

Kelemahan (W)
KERANGKA PIKIR PENELITIAN
Sekian
dan
Terima Kasih