Anda di halaman 1dari 31

Labioskisis

Dr. Kamal Faruq

Pembimbing :
Dr. I Gusti Ngurah Pustaka, Sp.B, FINACS, FICS
BAB I
PENDAHULUAN
• Labioschisis cacat bawaan yang menjadi
masalah tersendiri di kalangan
masyarakat, terutama penduduk dengan
status sosial ekonomi yang lemah.
• Akibatnya operasi dilakukan terlambat dan
malah dibiarkan sampai dewasa.1
• Fogh Andersen melaporkan kasus bibir
sumbing dan celah langit-langit 1,47/1000
kelahiran hidup.
- Bayi yang terlahir dengan labioschisis harus ditangani
oleh klinisi dari multidisiplin dengan pendekatan team-
based, agar memungkinkan koordinasi efektif dari
berbagai aspek multidisiplin tersebut

- Penatalaksanaan labioschisis adalah operasi. Bibir


sumbing dapat ditutup pada semua usia, namun waktu
yang paling baik adalah bila bayi berumur 10 minggu,
berat badan mencapai 10 pon, Hb > 10g%. Dengan
demikian umur yang paling baik untuk operasi sekitar 3
bulan
BAB II
LAPORAN KASUS

• Identitas Pasien
• Nama : An. A.A
• Umur : 3 tahun 2 bulan
• Jenis kelamin : Laki-laki
• Alamat : RT 3 Desa Kasai Kecamatan
Batu Mandi
• Masuk Rumah Sakit : 1 November 2017
• Tanggal pemeriksaan : 1 November 2017
• Pembiayaan : Jamkesda Kabupaten
Balangan
Anamnesis (Allow
anamnesis)
• Keluhan utama : Bibir sumbing sejak lahir
• Riwayat Penyakit Sekarang Ibu pasien
mengatakan bahwa kelainan pada bibir
pasien tidak mengganggu asupan ASI
yang diberikan. Makan minum lancar
• Minuman beralkohol (-), merokok (-), narkotika
(-), konsumsi obat dalam jangka waktu lama (-),
jamu-jamuan (-), rontgen(-).
• Tidak ada anggota keluarga menderita
bibir sumbing.
• ibu pasien tidak pernah mengkonsumsi
vitamin-vitamin, dengan alasan tidak
berani minum obat.
Riwayat Pengobatan
• orang tua pasien dianjurkan oleh dokter
untuk mengoperasi bibir sumbing pasien
setelah pasien berumur lebih dari 3 bulan
• karena masalah biaya orangtua pasien
baru bisa melaksanakannya sekarang
Pemeriksaan Fisik
• Keadaan umum : Baik
• Kesadaran : CM
• Tanda vital :
• Nadi : 132 x/menit
• Pernafasan : 28 x/menit
• Suhu axilla : 37,6 °C
• Berat badan(BB) : 12 kg
• Tinggi badan(TB): 90 cm
• Status gizi Normal (rentang normal >-2 SD
sampai +2 SD)
Pemeriksaan fisik umum
• Kepala – Leher : dalam batas normal
• THT :
– Telinga: bentuk telinga kanan/kiri normal,
infeksi telinga -/-
– Hidung: deviasi (+) sedikit kearah kanan,
deformitas os nasal (-), sadle nose (-).
– Mulut: labium superior sinistra tampak celah
sepanjang 2 cm kearah nares nasi sinistra,
celah palatum durum (-)
• Thoraks – Kardiovaskuler
– Dalam batas normal
• Abdomen
– Dalam batas normal
• Urogenital
– Dalam batas normal
• Anal – perianal
– Dalam batas normal
• Ekstrimitas atas – Axilla
– Dalam batas normal
• Ekstrimitas bawah
– Dalam batas normal
Status lokalis

Celah palatum
Deviasi sedikit
durum (-)
kearah dextra

Celah di labium
labium superior
sinistra ± 2 cm
Diagnosis kerja:
• Labioskisis inkomplit sinistra
Rencana Terapi
• Labioplasty
Prognosis
• Dubia ad bonam
Pemeriksaan Penunjang
• Pre op
– DL : Hb 12,0, Eritrosit 4,84, leukosit 15.500, Ht 36,1%, trom 319.000
– Golongan darah : AB
– BT 1 menit, CT 5 menit ,
– HBs-Ag : non reaktif
– Rontgen Thorax PA (alat sedang rusak)
Follow up pasien
• Tanggal 2 November 2017 pukul 10.40 wita dilakukan
operasi

Laporan Operasi
• Pasien dibius dengan bius umum dan terpasang ETT
• Dilakukan tindakan aseptik dan antiseptik
• Membuat marker
• Insisi marker, pisahkan otot labial
• Jahit otot labial
• Jahit marker
• Rekontruksi nasal
Diagnosa pasca operasi
• Labioskisis inkomplit sinistra
• Nasal deviasi
Terapi pasca operasi
• Infus Ringer Laktat 12 tetes/menit
• Amoksisilin sirup 125 mg/5 ml 3 x 5 ml
• Parasetamol sirup 120 mg/5 ml 3 x 5 ml
• Rawat luka terbuka
• Gentamisin 0,1% krim 2 x sehari s.u.e
• Rawat ruangan anak
• Follow up pasien Tanggal 3 November
2017 pukul 08.00 wita
S: Nyeri luka operasi pasien berkurang
Sudah bisa makan
O : T :37,4oC RR : 22x/menit HR :120x/menit BB : 12 kg
Status lokalis :
• Hidung: deviasi (+) minimal, deformitas os nasal (-),
sadle nose (-).
• Mulut: labium superior telah dilakukan labioplasty, nyeri
luka operasi (+), kemerahan (-) pus (-) luka bersih,
daerah sekitar dalam batas normal
A : Post Operasi Labioplasty +
Rekontruksi Nasal

P : Pasien boleh pulang


Kontrol poli bedah 3 hari kemudian

Parasetamol sirup 3 x 5 ml
Amoxicillin sirup 3 x 5 ml

Rawat luka terbuka


BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
• Labioschisis atau cleft lip adalah suatu
kondisi dimana terdapatnya celah pada
bibir atas diantara mulut dan hidung.
ETIOLOGI
• Penyebab labioschisis belum diketahui dengan pasti
• (ibu, ayah, saudara kandung) mempunyai riwayat
labioschisis.
• alkohol dan narkotika
• kekurangan vitamin (terutama asam folat) selama
trimester pertama kehamilan.
• diabetes
• Penggunaan obat teratologik, termasuk jamu
• Infeksi, terutama pada infeksi toxoplasma dan klamidia
Perkembangan Embrio Wajah 5
Perkembangan Embrio Wajah
A. Embrio 5 minggu (6 mm)
B. Embrio 6 minggu (12 mm)
C. Wajah waktu lahir

(1) Prosesus nasofrontalis


(2) Prosesus nasalis medialis
(3) Prosesus nasalis lateralis
(4) Mata
(5) Prosesus maxilaris
(6) Prosesus mandibularis
(7) Prosesus brankiogenik III
(8) Stomodeum
karena tidak terbentuknya mesoderm
pada daerah tersebut sehingga bagian
yang telah menyatu (prosesus nasalis
dan maksilaris) pecah kembali
• Labioschisis diklasifikasikan berdasarkan
lengkap/ tidaknya celah yangterbentuk :6,7
– Komplit
– Inkomplit
Dan berdasarkan lokasi/ jumlah kelainan :6
– Unilateral
– Bilateral
Klasifikasi Labioschisis.6
MANIFESTASI KLINIS
• Masalah asupan makanan
• Masalah Dental
• Infeksi telinga
• Gangguan berbicara
PENATALAKSANAAN
• “team labiopalatoschisis”
– spesialistik bedah, maksilofasial,
– terapis bicara dan bahasa,
– dokter gigi, ortodonsi,
– psikoloog,
– dan perawat spesialis
Ada tiga tahap penatalaksanaan
labioschisis
• Tahap sebelum operasi
• Tahap sewaktu operasi
• Tahap setelah operasi.
Teknik Operasi
• Teknik Rose-Thompson,
• teknik flap quadrangularis,
• teknik flap triangularis,
• teknik Millard  (rotation and
advancement).
• teknik modifikasi Mohler
Perawatan Pasca bedah
• Pemberian makanan per-oral
• Aktivitas
• Perawatan bibir

• Setelah operasi labioplasti evaluasi secara


periodik
– status kebersihan mulut dan gigi
– pendengaran dan kemampuan berbicara,
– keadaan psikososial.
PROGNOSIS
• Kelainan labioschisis dapat dimodifikasi/
disembuhkan
• 80% mempunyai perkembangan
kemampuan bicara yang baik
• Terapi bicara yang berkesinambungan 
peningkatan yang baik pada masalah
berbicara
DAFTAR PUSTAKA
– Bustami N, Joni R, Zahari A. Bibir Sumbing di Kabupaten 50 Kota dan Solok, Sumatra Barat.
Padang : Ilmu Bedah FK Universitas Andalas/ RSUP Dr M Jamil.1997.
– Converse JM, hogan VM, McCarthy JG. Cleft Lip And Palate, Introduction. Dalam:
Reconstructive Plastic Surgery, ed. 11, vol. 4. Philadelphia: WB Saunders.
– Hidayat dkk. Defisiensi Seng (Zn) Maternal Dan Tingginya Prevalensi Sumbing Bibir/Langit-
Langit Di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur (Laporan Pendahuluan).
Disitasi dari : http://www.kalbe.co.id /files/cdk/files/18.html. Pada tanggal 27 November 2017.
– Webmaster. Bibir sumbing. Disitasi dari : http://www.klikdokter.com/ illness/detail/104.htm.
Pada tanggal 27 November 2017.
– Sjamsuhidajat R, De Jong W. Buku Ajar Ilmu Bedah. Edisi 3. Jakarta : EGC.2010. Hal. 424-
426.
– Webmaster. Cleft Lip and Palate. Disitasi dari : http://www.healthofchild ren.com/C/Cleft-Lip-
and-Palate.html?Comments[do]=mod&Comments[id] =4.htm. Pada tanggal : 28 November
2017.
– Mansjoer A, Triyanti K, Savitri R, et al. Sumbing Bibir dan Langitan. Dalam : Kapita Selekta.
Jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius – FK UI. 2005.
– Seattle Children’s Hospital, Research and Foundation. Cleft Lip and Palate. Disitasi dari
http://www.seattlechildrens.org/. pada tanggal 29 November 2017.
– Irawan Hendry. Teknik Operasi Labiopalatoskizis. CDK-215/vol. 41 no.4, thn 2014. Pada
tanggal 3 desember 2017