Anda di halaman 1dari 24

Morbus Hansen

Qurrota A’yun F - 17710148


A. Definisi

• Morbus Hansen (kusta,lepra) adalah penyakit infeksi kronis yang


disebabkan oleh kuman Mycobacterium leprae yang menyerang syaraf
tepi (primer), kulit, dan jaringan tubuh lainnya, kecuali susunan syaraf
pusat (1) .
B. Patofisiologi

• Kuman masuk ke dalam melalui saluran pernafasan dan kulit yang tidak
utuh. Sumber penularan adalah penderita kusta yang banyak mengandung
kuman (tipe multibasiler) yang belum diobati. Setelah kuman masuk ke
dalam tubuh, kuman menuju tempat predileksinya yaitu syaraf tepi. 95%
populasi manusia memiliki kekebalan alamiah terhadap M.Leprae (1).
C. Gejala Klinis

1. Kelainan syaraf tepi

Kerusakan bisa bersifat sensorik, motorik dan autonomik.

• sensorik  hipostesi, anastesi pada lesi


• motorik  kelemahan otot (ekstremitas, muka, otot mata)
• Autonomik  persarafan kelenjar keringat sehingga lesi terserang tampak lebih kering
• Gejala lain : pembesaran saraf tepi yang dekat permukaan kulitn.ulnaris, n.aurikularis magnus,
n.peroneus komunis, n.tibialis posterior
2. Kelainan kulit dan organ lain
Kelainan kulit bisa hipopigmentasi ataupun eritematus dengan adanya gangguan estesi yang jelas.
Bila gejala lanjut dapat timbul gejala gejala akibat banyaknya kuman yaitu :
• Facies leonina (gejala infiltrasi yang difus di muka)
• Penebalan cuping telinga
• Madarosis (penipisan alis mata bagian lateral)
• Anestasi simetris pada kedua tangan-kaki (gloves and stocking anaestesia)
D. Pemeriksaan Fisik
1. Kulit
- Perhatikan setiap bercak,bintil (nodul), bercak berbentuk plakat dengan kulit
mengkilat atau kering bersisik. Kulit tidak berkeringat dan berambut (2). .
- Dicari adanya gangguan sensibilitas suhu dilakukan dengan cara tes panas dingin
- Tes terhadap rasa nyeri digunakan jarum
- Tes terhadap rasa raba digunakan kapas.
2. Syaraf tepi

Gambar 1.1 Saraf tepi yang perlu diperiksa pada Morbus Hansen
E. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Bakteriologis
Pemeriksaan dilakukan dengan menggunakan pewarnaan Zielhn
Nielsen, dengan sediaan diambil dari kedua cuping telinga dan
lesi yang ada di kulit(3).
Kepadatan kuman dinyatakan dalam :
a. Indeks bakteri :ukuran semi kwantitatif dengan nilai 1+
sampai 6+
b. Indeks morfologi : merupakan persentasi bentuk
utuh/solid terhadap seluruh Basil Tahan Asam didapatkan gambaran BTA positif
dengan gambaran globi
2. Pemeriksaan Serologis (1)
a. Lepromin test :untuk mengetahui imunitas seluler dan membantu
menentukan tipe kusta.
b. MLPA (Mycobacterium Leprae Particle Agglutination) : untuk
mengetahui imunitas humoral terhadap antigen yang berasal dari
M.leprae
c. PCR (Polimerase Chain Reaction)
3. Pemeriksaan Histopatologis

Sebagai pemeriksaan penunjang untuk diagnosis dan menentukan tipe kusta.


Pada pasien dengan sistem imunologik seluler yang tinggi akan tampak gambaran
tuberkel. Tuberkel terdiri atas sel epiteloid,sel datia Langhans dan limfosit. Pasien
dengan sistem imunologik seluler yang rendah, tampak sel Virchow atau sel lepra
atau sel busa yang merupakan bentuk histiosit yang tidak mampu memfagositosis
M.leprae dan bahkan dijadikan sebagai tempat untuk berkembang biak (4).
F. Penegakan Diagnosa
• Berdasarkan WHO pada tahun 1997,
diagnosis berdasarkan adanya tanda utama
atau Cardinal Sign berupa :
1. Kelainan kulit yang hipopigmentasi atau
eritematosa dengan anastesi yang jelas.
2. Kelainan syaraf tepi berupa penebalan
syaraf dengan anastesi.
3. Hapusan kulit positif untuk kuman tahan
asam
Diagnosis ditegakkan bila dijumpai satu tanda
utama diatas (3).
G. Penentuan Tipe
• WHO membagi berdasarkan pengobatan yang diberikan hanya dengan tipe
Multibasiler (MB) dan Pausibasiler (PB).
• Tipe TT dan BT termasuk dalam tipe Pausibasiler
• Tipe BB; BL; LL termasuk tipe Multibasiler.
Perbedaan tipe PB dan MB
Tipe
PB MB
Klinis makula - Asimetris (jumlah 1-5) - Simetris
- Batas tegas,kering, dan kasar - Tidak tegas,halus berkilat
- Anastesi jelas - Anastesi tidak jelas
- Hipopigmentasi - Eritematus
Penebalan syaraf tepi Terjadi dini dan asimetris Terjadi lanjut dan cenderung
simetris
BTA - -
Tanda lain klasifikasi leprae
PB MB
Distribusi Unilateral atau bilateral asimetris Bilateral simetris

Permukaan bercak Kering,kasar Halus, mengkilap


Batas bercak Tegas Kurang tegas
Mati rasa pada bercak Jelas Kurang jelas
Deformias Proses terjadi lebih cepat Terjadi pada tahap lanjut
Ciri khas - Maradosis, hidung pelanam wajah
singa (facies leonina),
ginekomastia pada pria.
H. Reaksi Kusta

• Reaksi kusta adalah suatu episode akut dalam perjalanan kronis penyakit
kusta yang merupakan suatu reaksi imunologis dengan akibat merugikan
penderita
I. Patofisiologi Reaksi Kusta
• Reaksi menggambarkan adanya suatu hipersensitivitas terhadap antigen M.leprae, karena
adanya ketidakseimbangan imunologis.
Ada 2 tipe reaksi :
1. Reaksi tipe 1
Disebabkan karena hipersensitivitas tipe IV. Antigen dari M.leprae bereaksi dengan T limfosit karena
adanya perubahan yang cepat dari imunitas seluler

2. Reaksi tipe 2
Terjadi karena kompleks imun. Istilah Eritema Nodusum Leprosum (ENL) digunakan bila terdapat
adanya lesi kulit berupa nodul-nodul eritematus.
Faktor pencetus reaksi tipe 1 dan 2

Reaksi tipe 1 Reaksi tipe 2


Pasien dengan bercak multiple dan Obat MDT, kecuali Lampren
diseminata,mengenai area tubuh yang luas serta
keterlibatan saraf multiple
Bercak luas pada wajah dan lesi dekat mata, beresiko BI> 4+
terjadinya lagoftalmus karena reaksi
Saat puerpium (karena peningkatan CMI). Paling tinggi Kehamilan awal (karena stress mental), trisimester ke-
6 bulan pertama setelah melahirkan / masa menyusui 3, dan puerpineum (karena stress fisik), setiap masa
kehamilan karena infeksi penyerta

Infeksi penyerta : Hepatitis B dan C Infeksi penyerta : streptococcus, virus, cacing, filaria,
malaria
Neuritis atau riwayat nyeri syaraf Stress fisik dan mental
Lain lain seperti trauma, operasi, imunisasi, protektif,
tes Maountex positif kuat, minum kalium hidroksida
Perbedaan reaksi tipe 1 dan 2 kusta
No Gejala Tanda Reaksi tipe 1 Reaksi tipe 2

1 Tipe kusta Dapat terjadi pada kusta tipe MB maupun PB Hanya terjadi pada kusta tipe PB

2 Waktu timbulnya Biasanya segera setelah pengobatan Biasanya setelah pengobatan yang
lama, umumnya minimal 6 bulan

3 Keadaaan umum Umumnya baik, demam ringan (sub-febris) atau tanpa Ringan sampai berat disertai
demam kelemahan umum dan demam yang
tinggi
4 Peradangan di kulit Bercak kulit lama menjadi lebih meradang,bengkak, Timbul nodus kemerahan lunak nyeri
berkilat,hangat. Kadang-kadang hanya pada sebagian tekan. Biasanya pada lengan dan
lesi. Dapat timbul bercak baru tungkai. Nodus dapat pecah
5 Saraf Sering terjadi, umumnya berupa nyeri saraf dan Dapat terjadi
gangguan fungsi saraf, silent neuritis (+)
6 Udem pada (+) (-)
ekstremitas
7 Peradangan pada Hampir tidak ada Terjadi pada testis, sendi,ginjal,kelenjar
organ lain gerah bening
Diagnosa Banding
• Pada lesi makula : Ptiriasis versikolor, Tinea korporis.
Pada lesi plak : Tinea korporis, Ptiriasis rosea, psoriasis vulgaris.
Pada lesi nodul : Acnevulgaris, neurofibromatosis.
Pada lesi saraf : Neuropati diabetikum, trachoma.
J. Penataksanaan
• Diberikan berdasarkan regimen MDT (Multi Drug Therapy)
1. Pausibasiler
• Rifampisin 600 mg/bulan,diminum di depan petugas (dosis supervisi)
• DDS 100 mg/hari. Pengobatan diberikan secara teratuur selama 6 bulan dan diselesaikan dalam waktu maksimal 9
bulan.
2. Multibasiler
• Rifampisin 600 mg/bulan,dosis superfisi
• Lamprene 300 mg/hari, dosis superfisi
Ditambahkan
• Lamprene 50 mg/hari
• DDS 100 mg/hari
Pengobatan dilakukan secara teratur sebanyak 12 dosis (bulan) dan diselesaikan dalam waktu maksimal 18 bulan.
Setelah selesai 12 dosis dinyatakan RFT,meskipun secara klinis lesinya masih aktif dan BTA (+)
Morbus Hansen Tipe Pausibasiler (BT)

• Regio ekstremitas inferior


• Makula hipopigmentasi batas
jelas,berbentuk bulat lonjong, anastesi
positif.
Morbus Hansen Tipe Multibasiler (BB)
• Regio thorakalis posterior
• Makula eritematus batas
jelas,berbentuk bulat lonjong, lesi
berbentuk punch out , anestesi,
diameter 2-12 cm
Morbus Hansen Tipe Multibasiler (BL)
• Regio thorakalis,ekstremitas
superior,makula eritematus dengan
diameter bervariasi 2-5 cm, jumlah
>5 , anestesi positif.
Morbus Hansen Tipe Multibasiler + Reaksi
Tipe 1
• Regio facialis
• Makula eritematus batas jelas
dengan diameter bervariasi 4-7 cm,
anastesi positif, hangat pada
perabaan.
Daftar Pustaka
• 1. Listiawan,. Agusni & Martodihardjo,. 2005. Pedoman Diagnosis dan terapi Bag/SMF
Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Rumah Sakit Umum Dokter Soetomo, Surabaya. Hal
41-48
• 2. Ekayanti dkk,. 2017. Panduan Praktis Klinis. Pengurus Besar Ikatan Dokter
Indonesia, Jakarta. Hal 31-37
• 3. Murtiastutik dkk,. 2016. Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi 2. AUP. Surabaya. Hal 41-
54
• 4. Oentari Widyaningsih dan Menaldi,. 2016. Kapita Selekta Kedokteran. Media
Aesculapius, Jakarta. Hal 313-315.