Anda di halaman 1dari 53

REFERAT PSIKIATRI

“ Gangguan Kepribadian“

PEMBIMBING KLINIK
dr. Merry Tjandra, M.Kes, Sp.KJ
 Kepribadian adalah totalitas sifat emosional dan perilaku yang menandai
kehidupan seseorang dari hari ke hari dalam kondisi yang biasanya kepribadian
bersifat relatif stabil dan dapat diramalkan
 Gangguan kepribadian adalah suatu varian kepribadian yang tidak fleksibel dan
maladaptif serta menyebabkan gangguan fungsional yang bermakna atau
penderitaan subjektif
 Faktor Genetik
Gangguan kepribadian klaster A
(paranoid, skizoid, dan skizotipal)
Gangguan kepribadian klaster B
(antisosial, ambang, histrionik, dan narsistik) tampaknya memiliki dasar genetik.
Gangguan kepribadian klaster C
(menghindar, bergantung, obsesif-kompulsif, dan yang tidak tergolongkan)
 Faktor Biologi
Hormon. Orang yang menunjukkan ciri impulsif sering menunjukkan kadar
testosteron, 17-estradiol, dan estron yang meningkat.
Monoamin Oksidase Trombosit. Rendahnya kadar monoamin oksidase (MAO)
trombosit dikaitkan dengan aktivitas dan sosiabilitas pada monyet. Mahasiswa
dengan kadar MAO rendah melaporkan adanya waktu lebih yang dihabiskan untuk
aktivitas sosial daripada mahasiswa dengan kadar MAO trobosit yang tinggi.
Gerakan Mata Melirik halus (Smooth Pursuit Eye Movement). Gerakan mata melirik
halus bersifat cepat (yaitu melompat) pada orang yang introvert, memiliki rasa
rendah diri dan cenderung menarik dari, serta memiliki penerapan klinis, tetapi
menunjukkan peranan keturunan
Neurotransmitter. Endorfin memiliki efek yang serupa dengan efek morfin eksogen,
seperti analgesia dan supresi perangsangan.
 Faktor Psikoanalitik
Sigmund freud mengajukan bahwa ciri kepribadian terkait dengan fiksasi terhadap
satu tahap perkembangan psikoseksual. Contohnya, seseorang yang dengan
karakter oral menjadi pasif dan bergantung karena mereka terfiksasi pada fase oral,
yaitu saat ketergantungan pada orang lain untuk mendapatkan makanan sedang
menonjol.
 Orang dengan gangguan kepribadian paranoid ditandai adanya kecurigaan dan
ketidakpercayaan yang berlangsung lama terhadap orang-orang pada umunya.
Mereka menolak bertanggung jawab terhadap perasaan mereka sendiri dan
menyerahkan tanggung jawab pada orang lain.

 Prevalensi gangguan kepribadian paranoid yaitu 0,5-2,5%. Saudara pasien


skizofrenik menunjukkan insidensi gangguan kepribadian paranoid yang lebih
tinggi dibandingkan kelompok kontrol. Gangguan kepribadian paranoid lebih
sering pada laki-laki dibandingkan perempuan.
 Gangguan kepribadian paranoid adalah kecenderungan untuk
menginterpretasikan tindakan seseorang sebagai mengancam atau secara sengaja
merendahkan yang tidak berdasar dan pervasif,
 Dimulai pada masa dewasa awal dan muncul dalam berbagai konteks.
 Mereka yang mengalami gangguan ini hampir selalu berharap untuk dieksploitasi
atau disakiti oleh orang lain dengan suatu cara.
 Mereka sering meributkan, tanpa adanya pembenaran, kesetiaan atau tingkat
dapat dipercaya teman atau teman kerja.
 Orang tersebut sering cemburu patologis dan tanpa alasan mempertanyakan
kesetiaan pasangan atau parner seksual mereka.
 Didalam situasi sosial, orang dengan gangguan kepribadian paranoid dapat
tampak efesien dan cekatan, tetapi mereka serig mencetuskan rasa takut atau
konflik pada orang lain.
Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian paranoid berdasarkan PPDGJ III,
yaitu:
 Kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan
 Kecenderungan untuk tetap menyimpan dendam, misalnya menolak untuk memaafkan suatu
penghinaan dan luka hati atau masalah kecil
 Kecurigaan dan kecenderungan yang mendalam untuk mendistorsikan pengalaman dengan
menyalahartikan tindakan orang lain yang netral atau bersahabat sebagai suatu sikap
permusuhan atau penghinaan
 Perasaan bermusuhan dan ngotot tentang hak pribadi tanpa memperhatikan situasi yang ada
 Kecurigaan yang berulang, tanpa dasar, tentang kesetiaan seksual dari pasangannya
 Kecenderungan untuk merasa dirinya penting secara berlebihan, yang bermanifestasi dalam
sikap yang selalu merujuk ke diri sendiri
 Preokupasi dengan penjelasan-penjelasan yang bersekongkol dan tidak substantif dari suatu
peristiwa, baik yang menyangkut diri pasien sendiri maupun dunia pada umumnya.
 Untuk diagnosis pasti adanya gangguan kepribadian paranoid setidaknya
individu yang bersangkutan memiliki 3 kriteria diatas.
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian paranoid berdasarkan DSM-IV
yaitu:
Ketidakpercayaan dan kecurigaan yang pervasif kepada orang lain sehingga motif mereka
dianggap sebagai balas dendam, dimulai pada masa dewasa awal dan tampak dalam berbagai
konteks, seperti yang ditunjukkan oleh 4 atau lebih berikut:
 Menduga, tanpa dasar yang cukup, bahwa orang lain memanfaatkan, membahayakan atau mengkhianati
dirinya
 Preokupasi dengan keraguan yang tidak pada tempatnya tentang loyalitas atau kejujuran teman atau
rekan kerja
 Enggan untuk menceritakan rahasia orang lain karena rasa takut yang tidak perlu bahwa informasi akan
digunakan secara jahat melawan dirinya
 Membaca arti merendahkan atau mengancam yang tersembunyi dari ucapan atau kejadian yang biasa
 Secara persisten menanggung dendam, yaitu tidak memaafkan kerugian, cedera atau kelalaian
 Merasakan serangan terhadap karakter atau reputasinya yang tidak tampak bagi orang lain dan dengan
cepat bereaksi secara marah atau balas menyerang
 Memiliki kecurigaan yang berulang, tanpa pertimbangan, tentang kesetiaan pasangan atau mitra
seksual
Psikoterapi Farmakoterapi
 Psikoterapi adalah pilihan.  Farmakoterapi berguna didalam
menghadapi agitasi dan ansietas.
 Pasien paranoid biasanya tidak baik
didalam psikoterapi kelompok  agen antiansietas seperti diazepam
meskipun dapat berguna untuk (valium) sudah cukup
meningkatkan keterampilan sosial dan
menghilangkan kecurigaan melalui  suatu antipsikotik seperti Thioridazine
permainan peran. Kebanyakan tidak (mellaril) atau haloperidol (Haldol)
dapat menoleransi iterupsi pada terapi dalam dosis kecil dan untuk periode
perilaku, demikian juga pada pelatihan waktu yang singkat untuk mengatasi
keterampilan sosial. agitasi berat atau pikiran hampir
waham
 Obat antipsikotik pimozide (orap) telah
berhasil digunakan untuk menurunkan
gagasan paranoid pada beberapa
pasien.
 Studi gangguan kepribadian paranoid secara adekuat, sistemik dan berjangka
panjang belum dilakukan.
 Pada sebagiaan orang, gangguan kepribadian paranoid berlangsung sepanjang
hidup, pada sebagian lagi, gangguan ini merupakan pertanda Skizofrenia
 pada umumnya, penderita gangguan kepribadian paranoid, memiliki masalah
seumur hidup dalam bekerja dan tinggal dengan orang lain, masalah pekerjaan
dan perkawinan lazim terjadi.
 Prevalensi gangguan kepribadian skizoid belum ditegakkan, tapi gangguan ini
mungkin mengenai 7,5 % populasi umum.
 Rasio jenis kelamin gangguan ini tidak diketahui: sejumlah studi laporkan rasio
laki-laki dibanding perempuan adalah 2:1 oarang dengan gangguan ini condong
bekerja sendiri dan tidak melibatkan atau hanya melibatkan sedikit kontak dengan
orang lain..
 Tampak dingin dan mengasingkan diri: mereka menunjukkan sifat menjauh dan
tidak terlibat dalam peristiwa sehari-hari, serta tidak peduli kepada orang lain.
 Pasien tampak diam, menjauh, menyendiri, dan tidak bersosialisasi.
 Mereka mungkin mencari kehidupan mereka sendiri yang hanya memiliki
kebutuhan ikatan emosi yang sangat sedikit dan merupakan orang-orang yang
terakhir menyadari perubahan gaya yang sedang populer.
 Riwayat hidup orang ini mencerminkan adanya minat menyendiri dan
keberhasilan didalam pekerjaan yang dilakukan sendirian, tanpa kompetisi, yang
bagi orang lain sebenarnya dirasa sulit ditoleransi.
 Pada pemeriksaan psikoatrik awal, pasien dengan gangguan kepribadian skizoid
dapat tampak tidak nyaman.
 Mereka jarang menoleransi kontak mata, dan pewawancara dapat menyangka
bahwa pasien tersebut ingin wawancara berakhir mungkin terbatas.
 Terasing atau serius berlebihan, tetapi dibalik pengasingan diri mereka, klinisi
yang sensitif dapat mengenali adanya rasa takut.
 Pasien ini merasa sulit untuk menjadi periang: upaya mereka untuk bercanda
tampak tidak matang dan gagal.
 Pembicaraan mereka bertujuan, tetapi mereka cenderung memberikan jawaban
singkat terhadap pertanyaan dan menghindari pembicaraan spontan.
Psikoterapi Farmakoterapi
 Terapi pasien dengan gangguan  Dosis kecil antipsikotik,
kepribadian skizoid menyerupai antidepresan, dan psikostimulan
pasien dengan gangguan efektif bagi beberapa pasien.
kepribadian paranoid.
 Agen serotonergik dapat
 Meskipun demikian, kecenderungan mengurangi sensitivitas pasien
pasien skizoid untuk berintrospeksi terhadap penolakan.
sesuai harapan psikoterapis, dan
 Benzodiazepinmungkin berguna
pasien skizoid, jika jauh, dapat
menjadi pasien yang setia ketika rasa untuk menghilangkan ansietas
percaya timbul, pasien skizoid interpersonal.
dengan keraguan hebat,
mengungkapkan banyak hayalan,
PROGNOSIS
 Onset gangguan kepribadian skizoid biasanya terjadi pada masa kanak-kanak
awal. Seperti semua gangguan kepribadian, gangguan kepribadian skizoid
berlangsung lama, tetapi tidak selalu seumur hidup. Proporsi pasien yang
mengalami skizofrenia tidak diketahui
 Gangguan ini terdapat pada kira-kira 3 persen populasi.
 Rasio jenis kelamin tidak diketahui.
 Terdapat hubungan erat pada kasus-kasus antar-karabat biologis pasien dengan
skizofrenia daripada antar-kontrol, dan insiden yang tinggi antar-kembar
monozigot daripada kembar dizigot (3 : 4 % dalam satu studi)
 Studi jangka panjang oleh Thomas McGlashan melaporkan bahwa 10% persen
pasien gangguan kepribadian skizotipal akhirnya melakukan bunuh diri.
 Studi retrospektif menunjukkan bahwa banyak pasien yang dianggap skizofrenia,
sebenarnya memiliki gangguan kepribadian skizotipal dan menurut pemikiran
klinis terkini, skizotipe adalah kepribadian pramorbid pasien dengan skizofrenia
 Meskipun demikian, beberapa orang tetap mempertahankan kepribadian
skizotipal yang stabil di sepanjang hidup mereka, menikah dan bekerja diluar dari
keanehan mereka.
Psikososial
 Prinsip terapi gangguan kepribadian skizotipal tidak berbeda dengan terapi
gangguan kepribadian skizoid, tetapi klinisi harus secara sensitif menghadapi
pasien dengan gangguan kepribadian skizotipal.
 Pasien ini memiliki pola berpikir yang aneh, dan beberapa dari mereka terlibat
didalam pemujaan, praktik religius yang aneh, dan ilmu gaib.

Farmakoterapi
 Obat antipsikotik mungkin berguna untuk menghadapi ide-ide referensi, ilusi, dan
gejala lain gangguan serta dapat digunakan bersama dengan psikoterapi.
 Antidepresan berguna jika ada komponen depresif pada kepribadian ini
 Puncak perilakunya biasanya terjadi pada masa remaja akhir.
 Prognosisnya bervariasi.
 Beberapa penelitian melaporkan gejalanya menurun seiring dengan
bertambahnya usia, namun banyak juga yang menjadi penderita penyalahgunaan
zat psikoaktif
 Prevalensi gangguan kepribadian dissosial yaitu 3% pada laki-laki dan 1% pada
perempuan
 Paling sering ditemukan pada daerah perkotaan yang miskin.
 Onset gangguan yaitu sebelum usia 15 tahun.
 Di dalam populasi penjara, prevalensi gangguan kepribadian dissosial mungkin
sebesar 75%
Pedoman diagnostik untuk gangguan kepribadian
dissosial berdasarkan PPDGJ III, yaitu:
 Bersikap tidak peduli dengan perasaan orang lain
 Sikap yang amat tidak bertanggung jawab dan
berlangsung terus-menerus, serta tidak peduli terhadap
norma, peraturan dan kewajiban sosial
 Tidak mampu memelihara suatu hubungan agar
berlangsung lama, meskipun tidak ada kesulitan untuk
mengembangkannya
 Toleransi terhadap frustasi sangat rendah dan ambang Pada gangguan kepribadian
yang rendah untuk melampiaskan agresi, termasuk dissosial terdapat istilah
tindakan kekerasan Hervey Cleckley yang
 Tidak mampu mengalami rasa salah dan menarik artinya topeng kejiwaan
manfaat dari pengalaman, khususnya dari hukuman dimana individu dengan
 Sangat cenderung menyalahkan orang lain atau gangguan kepribadian
menawarkan rasionalisasi yang masuk akal untuk dissosial mungkin tampak
perilaku yang membuat pasien konflik dengan tenang dan dapat dipercaya
masyarakat
namun didalam dirinya
terdapat rasa ketegangan,
Untuk diagnosis pasti adanya gangguan kepribadian permusuhan, mudah
dissosial setidaknya individu yang bersangkutan tersinggung dan kekerasan.
memiliki 3 kriteria diatas
 Kriteria diagnostik gangguan kepribadian dissosial
berdasarkan DSM-IV, yaitu:

• Terdapat pola pervasif tidak menghargai dan


melanggar hak orang lain yang terjadi sejak usia 15
tahun, seperti yang ditunjukkan oleh 3 atau lebih
• Individu sekurangnya berusia 18 tahun Terdapat
tanda-tanda gangguan tingkah laku dengan onset
sebelum usia 15 tahun
• Terjadinya perilaku dissosial tidak semata-mata
selama perjalanan skizofrenia atau suatu episode
manik
 Individu dengan gangguan kepribadian dissosial seringkali tampak normal,
hangat terhadap orang lain dan “mencari muka”.
 Mereka berbohong, membolos, melarikan diri dari rumah, mencuri, berkelahi,
menyalahgunakan zat dan terlibat dalam aktivitas ilegal.
 Mereka tidak memiliki waham.
 Mereka sangat manipulatif, tidak menceritakan kebenaran, tidak dapat dipercaya
untuk menjalankan suatu tugas sesuai moral
 melakukan penyiksaan terhadap pasangan dan atau anak
 individu yang mengalami gangguan kepribadian dissosial tidak menyesal akan
tindakannya dan tampak tidak menyadarinya
Psikoterapi:
 Jika pasien dengan gangguan kepribadian anti-sosial dibuat tidak dapat pergi
kemana-mana (contohnya dirumah sakit)
 mereka sering menjadi setuju terhadap psikoterapi.
 Jika pasien merasa bahwa mereka berada diantara teman senasib

Farmakoterapi:
 Jika pasien menunjukkan gangguan defisit-antensi/hiperaktivitas. Psikostimulan
seperti methylphenidate (Ritalin) dapat berguna. Betaadrenergik telah digunakan
untuk mengurangi agresi.
 Gangguan ini cukup strabil: pasien sedikit berubah dari ke waktu ke waktu.
 Studi longitudinal menunjukkan tidak adanya peningkatan ke arah skizofrenia,
tetapi pasien memiliki insiden yang tinggi untuk episode gangguan depresif berat.
 Diagnosis ini biasanya ditegakkan sebelum usia 40 tahun.
 Gangguan kepribadian ambang diperkirakan 1-2% populasi dan dua kali lebih
sering pada perempuan dibandingkan laki-laki
Diagnosis biasanya dibuat sebelum usia 40 tahun.
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian ambang berdasarkan DSM-IV, yaitu pola pervasif
ketidakstabilan hubungan interpersonal, citra diri dan afek, serta impulsivitas yang jelas pada masa
dewasa awal dan ditemukan dalam berbagai konteks, sepertiyang ditunjukkan oleh 5 atau lebih berikut:

• Usaha mati-matian untuk menghindari ketinggalan yang nyata atau khayalan. Catatan: tidak termasuk perilaku bunuh diri
atau mutilasi diri yang ditemukan dalam kriteria 5
• Pola hubungan interpersonal yang tidak stabil dan kuat yang ditandai oleh perubahan antara idealisasi ekstrem dan
devaluasi
• Gangguan identitas: citra diri atau perasaan diri sendiri yang tidak stabil secara jelas dan persisten
• Impulsivitas pada sekurangnya dua bidang yang potensial membahayakan diri sendiri (misalnya berbelanja, seks,
penyalahgunaan zat, ngebut gila-gilaan, pesta makan). Catatan: tidak termasuk perilaku bunuh diri atau mutilasi diri yang
ditemukan dalam kriteria 5
• Perilaku, isyarat atau ancaman bunuh diri yang berulang kali, atau perilaku mutilasi diri
• Ketidakstabilan afektif karena reaktivitas mood yang jelas (misalnya, disforia episodik kuat, iritabilitas atau kecemasan
biasanya berlangsung beberapa jam dan jarang lebih dari beberapa hari)
• Perasaan kekosongan yang kronis
• Kemarahan yang kuat dan tidak pada tempatnya atau kesulitan dalam mengendalikan kemarahan (misalnya sering
menunjukkan temper, marah terus-menerus, perkelahian fisik berulang kali)
• Ide paranoid yang transien dan berhubungan dengan stres, atau gejala disosiatif yang parah
Psikoterapi
 Merupakan salah satu terapi untuk penderita gangguan kepribadian ambang. Namun penderita
dapat secara berganti-ganti mencintai dan membenci ahli terapi dan orang lain di dalam
lingkungannya akibat dari sikapnya yang mengelompokkan orang ke dalam kategori baik dan
jahat.

Farmakoterapi
 Farmakoterapi seperti antipsikotik dapat digunakan untuk mengendalikan kemarahan,
permusuhan dan episode psikotik singkat, antidepresan dapat memperbaiki mood pada
penderita gangguan kepribadian ambang yang sedang merasa depresi,
 inhibitor monoamin oksidase (MAOI) efektif untuk memodulasi perilaku impulsif
 benzodiazepine khususnya alprazolam dapat membantu mengatasi kecemasan dan depresi
 antikonvulsan seperti carbamazepine dapat meningkatkan fungsi global pada penderita dan
dapat juga diberikan obat serotonergik
 Penelitian menunjukkan gangguan kepribadian ambang tidak berkembang ke
arah skizofrenia tetapi penderita memiliki insidensi tinggi untuk mengalami
episode gangguan depresif berat.
 Pola perilaku berupa emosionalitas berlebih dan menarik perhatian, bersifat
pervasif, berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam berbagai konteks

 Menurut DSM-IV-TR, data terbatas dari studi populasi umum menunjukkan


prevalensi gangguan kepribadian histerik sekitar 2-3%.
 Sekitar 10-15 % telah dilaporkan di rawat inap dan rawat jalan pusat kesehatan
mental saat penilaian terstruktur digunakan.
 Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:
 Ekspresi emosi yang dibuat-buat (self-dramatization) seperti bersandiwara
(theatricality) yang dibesar-besarkan (exaggerated)
 Bersifat sugestif, mudah dipengaruhi oleh orang lain atau keadaan
 Keadaan afektif yang dangkal dan labil
 Terus-menerus mencari kegairahan, penghargaan dari orang lain atau oleh
keadaan
 Penampilan atau perilaku “merangsang” yang tidak memadai
 Terlalu peduli dengan daya tarik fisik
 Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
Psikoterapi
 Pasien dengan gangguan kepribadian histrionik seringkali tidak menyadari
perasaan mereka sendiri yang nyata; klarifikasi dari perasaan batin mereka adalah
proses terapeutik penting. Psikoterapi dengan orientasi psikoanalitik, baik
kelompok atau individu, mungkin adalah pilihan perawatan untuk gangguan
kepribadian histerik. 1
Farmakoterapi
 Farmakoterapi dapat adjunctive bila gejala ditargetkan (misalnya, penggunaan
antidepresan untuk depresi dan keluhan somatik, agen anti ansietas untuk
kegelisahan dan antipsikotik untuk derealisasi dan ilusi).
 Seiring bertambahnya usia, orang dengan gangguan kepribadian histrionik
menunjukkan gejala yang lebih sedikit. Orang dengan gangguan ini adalah
pencari sensasi dan mereka mungkin mendapatkan masalah dengan hukum,
penyalahgunaan zat dan bertindak sembarangan
 Terdapatnya pola rasa kebesaran diri (dalam fantasi atau perilaku), kebutuhan
untuk dikagumi atau disanjung, kurang mampu berempati. Bersifat pervasif,
berawal sejak dewasa muda dan nyata dalam pelbagai konteks

 Menurut DSM-IV-TR, perkiraan prevalensi gangguan kepribadian narsistik berkisar


2-16 % dalam populasi klinis dan kurang dari 1 % di populasi umum.
 Jumlah kasus gangguan kepribadian narsistik yang dilaporkan terus meningkat.
Kriteria diagnostik gangguan kepribadian narsistik berdasarkan DSM-IV:
Sebuah pola bersifat pervasif tentang kebesaran (dalam khayalan atau perilaku), membutuhkan
kekaguman dan kurangnya empati, dimulai dengan awal masa dewasa dan hadir dalam berbagai
konteks, seperti yang ditunjukkan oleh lima (atau lebih) sebagai berikut:
 Secara berlebih merasa dirinya sangat penting (misalnya, melebih-lebihkan prestasi dan bakat,
mengharapkan untuk diakui sebagai yang unggul tanpa prestasi sepadan)
 Sibuk dengan fantasi kesuksesan tak terbatas, kekuasaan, kecerdasan, kecantikan, atau kekasih
ideal
 Percaya bahwa ia adalah istimewa dan unik dan hanya dapat dipahami oleh, atau harus bergaul
dengan orang-orang khusus atau tinggi status lainnya (atau lembaga)
 Membutuhkan pemujaan berlebihan
 Merasa dirinya “mempunyai hak istimewa” (contoh menuntut agar mendapat perlakuan khusus,
atau orang lain harus menurut kehendaknya)
 Tidak memiliki empati: tidak bersedia untuk mengenali atau mengidentifikasi dengan perasaan
dan kebutuhan orang lain
 Sering iri kepada orang lain atau percaya bahwa orang lain iri kepadanya
 Bersikap sombong
Psikoterapi
 Karena pasien harus meninggalkan narsisme mereka untuk membuat kemajuan,
 pengobatan gangguan kepribadian narsisistik adalah sulit.
 Psikiater seperti Kernberg dan Heinz Kohut menganjurkan menggunakan pendekatan
psikoanalitik untuk efek berubah, tetapi banyak penelitian diperlukan untuk
membuktikan diagnosis dan untuk menentukan pengobatan terbaik.
 Beberapa dokter menganjurkan terapi kelompok bagi pasien mereka sehingga mereka
dapat belajar bagaimana berbagi dengan orang lain dan, dalam keadaan yang ideal,
dapat mengembangkan respon empatik kepada orang lain. 1

Farmakoterapi
 Lithium (Eskalith) telah digunakan dengan pasien yang gambaran klinis mencakup
perubahan suasana hati.
 Karena pasien dengan gangguan kepribadian narsistik mentoleransi penolakan secara
buruk dan rentan terhadap depresi, antidepresan, obat-obatan terutama serotonergik,
juga dapat digunakan.
 Gangguan kepribadian narsisistik adalah kronis dan sulit untuk diobati.
 Pasien dengan gangguan terus-menerus harus berurusan dengan pukulan
narsisme mereka yang dihasilkan dari perilaku mereka sendiri atau dari
pengalaman hidup.
 Penuaan ditangani buruk; pasien menilai keindahan, kekuatan dan atribut muda,
yang mereka pegang teguh tidaklah tepat.
 Mereka mungkin lebih rentan mengalami krisis setengah baya (midlife crises)
daripada kelompok lain.
 Adanya pola perasaan tidak nyaman serta keengganan untuk bergaul secara sosial,
rasa rendah diri, hipersensitif terhadap evaluasi negatif. Bersifat pervasif, awitan
sejak dewasa muda, nyata dalam pelbagai konteks. 1

 Gangguan kepribadian menghindar adalah umum.


 Prevalensi gangguan adalah 1 sampai 10 % dari populasi umum.
 Tidak ada informasi mengenai rasio berdasarkan gender atau pola keluarga. Bayi
diklasifikasikan sebagai memiliki temperamen pemalu mungkin lebih rentan terhadap
gangguan dibandingkan mereka yang mendapat skor tinggi pada skala pendekatan
aktivitas.
Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian menghindar
berdasarkan PPDGJ III:

 Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:


 Perasaan tegang dan takut yang menetap dan pervasive
 Merasa dirinya tak mampu, tidak menarik atau lebih rendah dari orang lain.
 Preokupasi yang berlebihan terhadap kritik dan penolakan dalam situasi social.
 Keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disukai.
 Pembatasan dalam gaya hidup karena alasan keamanan fisik.
 Menghindari aktivitas social atau pekerjaan yang banyak melibatkan kontak
interpersonal karena takut dikritik, tidak didukung atau ditolak.
 Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
Psikoterapi
 Pengobatan psikoterapi tergantung pada memperkuat aliansi dengan pasien. Sebagai
kepercayaan berkembang, terapis harus menyampaikan sikap menerima terhadap ketakutan
pasien, terutama takut ditolak. Terapis akhirnya mendorong pasien untuk pindah ke dunia untuk
mengambil apa yang dianggap sebagai risiko besar penghinaan, penolakan dan kegagalan.
Tetapi terapis harus berhati-hati ketika memberikan tugas untuk latihan keterampilan sosial baru
di luar terapi; kegagalan dapat memperkuat pasien sudah miskin harga diri.

Farmakoterapi
 Beberapa pasien yang dibantu oleh β-adrenergik reseptor antagonis, seperti atenolol (Tenormin),
untuk mengelola hiperaktivitas sistem saraf otonomik, yang cenderung tinggi pada pasien
dengan gangguan kepribadian menghindar, terutama ketika mereka mendekati situasi takut.
 Agen serotonergik dapat membantu sensitivitas penolakan.
 Secara teoritis, obat dopaminergik bisa menimbulkan hal-hal baru-mencari perilaku pada pasien,
namun pasien harus secara psikologis siap untuk setiap pengalaman baru yang mungkin timbul
 Banyak orang dengan gangguan kepribadian menghindar mampu berfungsi di
lingkungan yang terlindung.
 Beberapa menikah, memiliki anak dan hidup mereka dikelilingi hanya oleh
anggota keluarga.
 Keluarga harus mendukung apabila mereka mengalami kegagalan, namun, mereka
cenderung mudah mengalami depresi, kecemasan dan kemarahan.
 Penghindaran fobia adalah umum dan pasien dengan gangguan dapat
memberikan sejarah fobia sosial atau fobia sosial dikenakan dalam perjalanan
penyakit mereka
 Suatu pola perilaku berupa kebutuhan berlebih agar dirinya dipelihara, yang
menyebabkan seorang individu berperilaku submisif, bergantung kepada orang lain
dan ketakutan akan perpisahan dengan orang tempat ia bergantung, Besifat pervasif,
berawal sejak usia dewasa muda dan nyata dalam pelbagai situasi. 1

• Gangguan kepribadian dependen lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pada
pria.
• Satu studi didiagnosis 2,5% dari semua gangguan kepribadian jatuh ke dalam kategori
ini. Hal ini lebih umum pada anak-anak daripada yang lebih tua.
• Orang dengan penyakit fisik kronis di masa kecil mungkin paling rentan terhadap
gangguan ini.
 Gangguan kepribadian dengan ciri-ciri:
 Mendorong atau membiarkan orang lain untuk mengambil sebagaian besar keputusan penting
untuk dirinya.
 Meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah dari orang lain kepada siapa ia bergantung dan
kepatuhan yang tidak semestinya terhadap keinginan mereka.
 Keengganan untuk mengajukan permintaan yang layak kepada orang dimana tempat ia
bergantung.
 Perasaan tidak enak atau tidak berdaya apabila sendirian karena ketakutan yang dibesar-
besarkan tentang ketidakmampuan mengurus diri srndiri.
 Preokupasi dengan ketakutan akan ditinggalkan oleh orang yang dekat dengannya dan dibiarkan
untuk mengurus dirinya sendiri.
 Terbatasnya kemampuan untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa mendapat nasihat yang
berlebihan dan dukungan dari orang lain.
 Untuk diagnosis dibutuhkan paling sedikit 3 dari diatas.
Psikoterapi
 Pengobatan gangguan kepribadian dependen sering berhasil. Terapi perilaku,
pelatihan ketegasan, terapi keluarga dan terapi kelompok semuanya telah
digunakan, dengan hasil yang sukses dalam banyak kasus.

Farmakoterapi
 Farmakoterapi telah digunakan untuk menangani gejala-gejala spesifik, seperti
kecemasan dan depresi, yang merupakan fitur yang berhubungan umum dari
gangguan kepribadian dependen. Pasien yang mengalami serangan panik atau
yang memiliki tingkat kecemasan perpisahan dapat dibantu dengan imipramine
(Tofranil). Benzodiazepin dan agen serotonergik juga telah berguna. Jika depresi
pasien atau gejala penarikan menanggapi psikostimulan, mereka dapat digunakan.
 Sedikit yang diketahui tentang perjalanan gangguan kepribadian dependen.
 Berfungsi kerja cenderung dirugikan, karena orang-orang dengan gangguan tersebut tidak
dapat bertindak secara independen dan tanpa pengawasan ketat.
 Hubungan sosial terbatas pada orang-orang pada siapa mereka dapat bergantung dan banyak
menderita pelecehan fisik atau mental karena mereka tidak dapat menyatakan diri mereka
sendiri.
 Mereka risiko gangguan depresi besar jika mereka kehilangan orang pada siapa mereka
bergantung, tetapi dengan pengobatan, prognosis menguntungkan
 Pola perilaku berupa preokupasi dengan keteraturan, peraturan, perfeksionisme,
kontrol mental dan hubungan interpersonal, dengan mengenyampingkan:
fleksibilitas, keterbukaan, efisiensi, bersifat pervasif, awitan sejak dewasa muda
nyata dalam pelbagai konteks.

EPIDEMIOLOGI
 Prevalensi obsesif-kompulsif gangguan kepribadian tidak diketahui. Hal ini lebih
sering terjadi pada pria dibandingkan pada wanita dan didiagnosis paling sering pada
anak tertua.
 Gangguan juga terjadi lebih sering pada tingkat pertama keluarga biologis dari orang-
orang dengan gangguan daripada populasi umum. Pasien sering memiliki latar
belakang disiplin yang keras.
Dalam wawancara, pasien dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif mungkin memiliki sikap kaku.
Afek mereka tidak tumpul atau datar, tetapi dapat digambarkan sebagai yang terbatas. Mereka kekurangan
spontanitas dan suasana hati mereka biasanya serius. Pasien tersebut mungkin cemas tentang tidak
terkendali dalam wawancara. Jawaban mereka untuk pertanyaan luar biasa rinci. Mekanisme pertahanan
yang mereka gunakan adalah rasionalisasi, isolasi, intelektualisasi, pembentukan reaksi dan kehancuran.

Kriteria diagnostik untuk gangguan kepribadian obsesif-kompulsif :


 Perasaan ragu dan hati-hati berlebihan
 Terpaku pada rincian, peraturan, daftar, perintah, organisasi, jadwal

 Perfeksionisme yang menghambat penyelesaian tugas


 Teliti, berhati-hati berlebihan dan lebih mengutamakan produktivitas sehingga mengenyampingkan kesenangan dan
hubungan interpersonal.
 Terpaku dan terikat secar berlebih pada norma sosial.
 Kaku dan keras kepala
 Memaksakan kehendak agar orang lain melakukan sesuatu menurut caranya.

 Intrusi pikiran pikiran atau impuls yang tidak dikehendaki.


Psikoterapi
 Terapi kelompok dan terapi perilaku kadang-kadang menawarkan keuntungan
tertentu. Dalam kedua konteks, mudah untuk menginterupsi pasien di tengah-tengah
interaksi atau penjelasan maladaptif mereka.
 Mencegah penyelesaian perilaku kebiasaan mereka menimbulkan kecemasan pasien
dan membuat mereka rentan terhadap strategi belajar mengatasi yang baru.
 Pasien juga dapat menerima hadiah langsung untuk perubahan dalam terapi
kelompok, sesuatu yang kurang sering mungkin dalam psikoterapi individu. 1
Farmakoterapi
 Clonazepam (Klonopin), benzodiazepin dengan penggunaan antikonvulsan, telah
mengurangi gejala pada pasien dengan obsesif-kompulsif berat.
 Clomipramine (Anafranil) dan agen serotonergik seperti fluoxetine, biasanya pada
dosis 60 sampai 80 mg sehari, mungkin berguna jika tanda dan gejala obsesif-
kompulsif muncul.
 Nefazodone (Serzone) mungkin mendapat manfaat beberapa pasien.
 Perjalanan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif adalah bervariasi dan tak
terduga.
 Dari waktu ke waktu, orang dapat mengembangkan obsesi atau dorongan dalam
perjalanan gangguan mereka.
 Beberapa remaja dengan gangguan kepribadian obsesif-kompulsif berkembang
menjadi orang dewasa yang hangat, terbuka dan penuh kasih; pada orang lain,
gangguan dapat berupa pertanda skizofrenia pada dekade kemudian dan
diperburuk oleh proses penuaan atau gangguan depresi mayor.
 Gangguan kepribadian digambarkan sebagai gangguan berat kepribadian dan
perilaku yang dinilai sebagai suatu bentuk penyimpangan dari pola budaya yang
normal.
 Pedoman diagnostik gangguan kepribadian termasuk gangguan dengan durasi
yang lama pada beberapa fungsi, bersifat pervasif dan maladaptif, onset pada
masa kecil atau remaja; kelanjutan menjadi dewasa; kepribadian distres yang
cukup besar (meskipun kadang-kadang hanya terlihat pada akhir kursus
gangguan itu); dan biasanya , tetapi tidak selalu, masalah yang signifikan dalam
pekerjaan dan dalam perilaku sosial.
Any Question?