Anda di halaman 1dari 32

HEPATITIS B

MALARIA
TORCH
KELOMPOK 4
KELOMPOK 4

 Candrayani Alang 0130840041

 Dafiyanti Patandung 0130840051

 Djustiela Karrang 0130840060

 Jeffry I. Tame 0130840302

 Santalik F. Nurak 0130840220

 Sylvanny da Costa 0130840226


HEPATITIS B
HEPATITIS B

Virus Hepatitis B
Jika terjadi infeksi akut pada kehamilan bisa mengakibatkan
terjadinya hepatitis fulminan yang dapat menimbulkan
mortalitas tinggi pada ibu dan bayi. Pada ibu dapat
menimbulkan abortus dan terjadinya perdarahan pasca
persalinan karena adanya gangguan pembekuan darah akibat
gangguan fungsi hati. Pada bayi masalah yang serius umumnya
tidak terjadi pada masa neonatus, tetapi pada masa dewasa.
FAKTOR PREDISPOSISI

 Titer DNA-VHB tinggi pada ibu

 Terjadinya infeksi akut pada kehamilan


trimester ketiga

 Persalinan lama

 Mutasi VHB

 Kegagalan vaksinasi yang menyebabkan bayi


tertular 10-20% disebabkan oleh mutasi VHB
Pencegahan Virus Hepatitis B

Kewaspadaan • Hindari hubungan seksual dan pemakaian alat


Universal atau bahan dari pengidap. Vaksinasi HB bagi
(Universal seluruh tenaga kesehatan sangat penting,
terutama yang sering terpapar dengan darah.
precaution)

Skrining HBsAg • Skrining HBsAg pada ibu hamil, terutama pada


pada Ibu Hamil daerah dimana terdapat prevalensi tinggi

• Penularan dari ibu ke bayi sebagian besar dapat


Imunisasi dicegah dengan imunisasi
PENANGANAN KEHAMILAN DAN
PERSALINAN

 Persalinan pervaginam usahakan dengan


trauma sekecil mungkin

 Ibu hamil dengan viral load tinggi diberikan


HBIG atau Lamivudin 1-2 bulan sebelum
persalinan

 Persalinan sebaiknya jangan dibiarkan


berlangsung lama

 Menyusui diperbolehkan
MALARIA
MALARIA

P. Falsiparum

P. Vivaks

P. Ovale

P. Malariae
DIAGNOSIS MALARIA

 Klinik

 Demam, menggigil (dapat disertai mual, muntah diare, nyeri otot dan
pegal)

 Riwayat sakit malaria, tinggal didaerah endemik malaria, minum obat


malaria 1 bulan terakhir, transfusi darah)

 Untuk pasien malaria berat, dapat disertai satu dari gejala dibawah;
gangguan kesadaran, kelemahan umum, kejang, panas sangat tinggi,
mata, dan tubuh kuning, perdarahan hidung, gusi, saluran cerna,
muntah, warna urin seperti teh tua, oliguria, pucat.

 Pemeriksaan fisik; panas, pucat, splenomegali, hepatomegali

 Pemeriksaan mikroskopik; sediaan darah (tetes tebal/tipis) untuk


menentukan ada tidaknya parasit malaria, spesies, dan kepadatan parasit
MASALAH INFEKSI MALARIA PADA
KEHAMILAN

 Infeksi malaria lebih mudah terjadi pada kehamilan.


Keadaan ini disebabkan oleh sistem imun dan
imunitas terhadap malaria pada ibu hamil menurun.
 Malaria karena P. Falsiparum lebih sering pada ibu
hamil dibandingkan yang tidak hamil, karena
perubahan sistem imun dan hormonal.
 Penanganan komplikasi lebih sulit karena perubahan
fisiologis yang terjadi pada kehamilan
MANIFESTASI KLINIS MALARIA PADA
KEHAMILAN

Panas • Umumnya panas tinggi sampai menggigil

• Akan menjadi parah pada kehamilan karena


Anemia hemolisis dengan akibat asam folat menurun,
di samping karena perubahan pada kehamilan

Pembesaran • Umumnya pada trimester II


lien

Pada Infeksi • Ikterus, kejang, kesadaran menurun, koma,


yang berat muntah dan diare
KOMPLIKASI

Hipoglikemia

Edema Paru

Anemia Berat
RISIKO MALARIA PADA JANIN
Terjadinya panas tinggi, fungsi plasenta yang
menurun, hipoglikemia, anemia menyebabkan
mortalitas prenatal dan neonatal, terutama
karena P. Falsiparum dan P. Vivaks.
Transmisi plasmodium melalui plasenta dapat
menyebabkan malaria kongenital
PENANGANAN MALARIA PADA
KEHAMILAN

Pengobatan
Penanganan Penanganan
pada
komplikasi persalinan
malaria
PENGOBATAN
Pemberian obat antimalaria
Obat antimalaria pilihan untuk malaria berat adalah:
 Lini pertama : artemisin parenteral (+ amidokuin + primakuin)
 Lini kedua : kina parenteral (+primakuin + doksisilin/tetrasiklin)

Antimalaria pada kehamilan

 Pada semua trimester dapat diberikan: klorokuin; kuinin;


artesunat/artemeter/arteeter.

Kontraindikasi pada kehamilan; primakuin;


tetrasiklin; doksisiklin; halofanitrin
Lini pertama
 Artesunat injeksi
Loading dose 2,4 mg/kgBB I.V setiap hari sampai hari ke tujuh.
Bila penderita sudah dapat minum obat, ganti dengan artesunat
oral
 Artemeter
Dosis dewasa 160 mg (ampul) I.M pada hari ke-1; diikuti 80 mg (1
ampul) I.M. pada hari ke-2 sampai ke-5.

Lini kedua
 Kuinin (kina) per infus (drip)
Kina 25% dosis 10 mg/kgBB atau 1 ampul (2ml = 500 mg) dilarutkan dalam
500 ml dekstrose 5% atau dekstrose dalam NaCl dalam 8 jam, diulang
setiap 8 jam dengan dosis yang sama sampai penderita bisa minum obat
PENGOBATAN PENCEGAHAN
Obat-obat yang dipakai di Indonesia:

Klorokuin

P. Vivax : 5mg/kgBB/minggu habis makan, diminum 1


minggu sebelum datang ke daerah endemik malaria, sampai
4 minggu setelah kembali.

Doksisiklin

P.Falsiparum : 1,5 mg/kgBB/hari selama tidak lebih dari


4-6 minggu
INFEKSI TORCH
INFEKSI SITOMEGALOVIRUS

 Sitomegalovirus (CMV) termasuk golongan


virus herpes DNA. Hal ini berdasarkan
struktur dan cara virus CMV pada saat
melalukan replikasi.

 Penularan/transmisi CMV ini berlangsung


secara horisontal, vertikal, dan hubungan
seksual.
PATOGENESIS CMV

 Infeksi CMV yang terjadi karena pemaparan pertama


kali atas individu disebut infeksi primer. Infeksi
primer berlangsung simptomatis serta virus akan
menetap dalam jaringan hospes dalam waktu yang
tidak terbatas . Selanjutnya virus masuk ke dalam sel-
sel dari berbagai macam jaringan. Proses ini disebut
infeksi laten.
Infeksi rekuren (reaktivitasi/reinfeksi) yang
dimungkinkan karena penyakit tertentu serta keadaan
supresi imun yang bersifat iatrogenik. Dapat
diterangkan bahwa kedua keadaan tersebut menekan
respons sel limfosit T sehingga timbul stimulasi
antigenik yang kronis. Dengan demikian, terjadi
reaktivitasi virus dari periode laten disertai berbagai
sindroma.
INFEKSI CMV PADA KEHAMILAN
 Transmisi CMV dari ibu ke janin dapat terdiri selama
kehamilan dan infeksi pada umur kehamilan kurang dari 16
minggu menyebabkan kerusakan yang serius.
 Infeksi CMV kongenital berasal dari infeksi maternal
eksogenus ataupun endogenus.
 Infeksi eksogenus dapat bersifat primer yaitu terjadi pada
ibu hamil dengan pola imunologik seronegatif dan nonprimer
bila ibu hamil dalam keadaan seropositif
 Infeksi endogenus adalah hasil suatu reaktivasi virus yang
sebelumnya dalam keadaan paten.
DIAGNOSIS

 Infeksi primer pada kehamilan dapat ditegakkan


baik dengan metode serologik maupun virologik.

 Dengan metode serologik, diagnosis infeksi


maternal primer dapat ditunjukan dengan
adanya perubahan dari seronegatif menjadi
seropositif (tampak adanya IgM dan IgG anti
CMV)
DIAGNOSIS PRANATAL
 Dilakukan pada ibu dengan kehamilan yang
menunjukan infeksi primer pada umur kehamilan
sampai 20 minggu.

 Menggunakan metode PCR dan isolasi virus pada


cairan ketuban setelah amniosentesis .

 Pemeriksaan ultrasound.
TERAPI DAN KONSELING

Tidak ada terapi yang memuaskan dapat


diterapkan, khususnya pada pengobatan infeksi
kongenital. Dengan demikian, dalam konseling
infeksi primer yang terjadi pada umur kehamilan ≤
20 minggu, setelah memperlihatkan hasil
diagnosis pranatal kemungkinan dapat
dipertimbangkan terminasi kehamilan.
TOKSOPLASMOSIS KONGENITAL

Aspek klinik dan Perilaku Biologik


Toksoplasmosis Kongenital
 Transmisi toksoplasma kongenital hanya terjadi bila
infeksi toksoplasma akut terjadi selama kehamilan.

 Keadaan parasitema yang ditimbulkan oleh infeksi


maternal menyebabkan parasit dapat mencapai plasenta.
DIAGNOSIS PRANATAL

Diagnosis pranatal umumnya dilakukan pada usia


kehamilan 14 – 27 minggu (trisemester II)

Aktivitas diagnosis pranatal meliputi sebagai berikut :


1. Kordosentesis, amniosentesis dengan tuntunan
ultrasonografi.
2. Pembiakan darah janin.
3. Pemeriksaan tambahan berupa penetapan enzim
liver, platelet, leukosit dan limfosit khususnya rasio
CD4 dan CD8
TERAPI DAN PENCEGAHAN
 Kehamilan dengan infeksi akut

 Spiramisin

2 – 4 g/hari per oral dibagi dalam 4 dosis dalam 3 minggu,


di ulangi setelah 2 minggu sampai kehamilan aterm

 Piremitamin dan Sulfadiazin

Piremitamin 1mg/kg/hari secara oral untuk 3 – 4 hari

Sulfadiazin 50 mg/kg/hari per oral dibagi 2 dosis serta


asam folinik 2 kali 5 mg injeksi I.M tiap minggu selama
pemakaian piremetamin
TERAPI DAN PENCEGAHAN
 Toksoplasma kongenital

o Sulfadiazin

50 – 100 mg/kg/hari

o Piremitamin

0,5 – 1 mg/kg setiap 2 – 4 hari selama 20 hari.


Disertakan juga injeksi I.M. asam folinik 5 mg
setiap 2-4 hari

 Penderita imunodefisiensi, pengobatan sama dengan


Toksoplasmosis kongenital
RUBELA
Infeksi Rubela atau dikenal sebagai German
measles menyerupai campak, hanya saja
bercaknya sedikit lebih kasar.