Anda di halaman 1dari 43

REFERAT

kolesistitis kronik

FEBY CICILIA TANDIPAU


N 111 16 071

PEMBIMBING
dr. Yoma Sari Namari, Sp. PD

BAGIAN INTERNA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVESITAS TADULAKO
ANATOMI DAN FISIOLOGI

Kandung empedu merupakan


kantong otot kecil yang
berfungsi untuk menyimpan
cairan empedu (cairan
pencernaan berwarna kuning
kehijauan yang dihasilkan oleh
hati). Terletak didalam fossa
dari permukaan visceral hati.
Kandung empedu terbagi
kedalam sebuah fundus, badan
dan leher. 1
sekresi ke dalam jaringan
kanalikuli
duktus hepatikus kanan dan kiri
Empedu dibentuk dalam lobulus duktulus biliaris ,duktus biliaris
yang berlanjut sebagai duktus
hati cabang vena porta dan arteri hepatikus komunis
hepatika dalam traktus porta yang
terletak antara lobulus hati

Asam empedu primer yang telah


sekresikan ke duodenum akan
direabsorpsi kembali di ileum ampulla Vater masuk ke
duktus koledokus
terminalis kemudian memasuki duodenum
aliran darah portal dan diambil
cepat oleh hepatosit,

± 20% empedu intestinal tidak


konjugasi ulang dan disekresi direabsorpsi di ileum, yang
ulang ke dalam empedu (sirkulasi kemudian dikonjugasi oleh bakteri
enterohepatik), kolon menjadi asam empedu
sekunder
Klasifikasi
Kolesistitis atas 2 jenis yaitu:
1.Kolesistitis akut adalah reaksi inflamasi akut
dinding kandung empedu yang disertai
keluhan nyeri perut kanan atas, nyeri tekan,
dan demam. 1
2.Kolesistitis kronik mungkin merupakan
kelanjutan dari kolesistitis akut berulang,
tetapi pada umumnya keadaan ini timbul
tanpa riwayat serangan akut. 2
epidemiologi
Sejauh ini belum ada data epidemiologis
penduduk di Indonesia, insidens kolesistitis di
Indonesia relative lebih rendah di banding
negara-negara barat. Penyakit ini lebih sering
terjadi pada wanita dan angka kejadiannya
meningkat pada usia diatas 40 tahun.3
Etiologi dan patogenesis
kolesistitis kronik juga berhubungan erat dengan
batu empedu. Namun batu empedu tampaknya
tidak berperan langsung dalam inisiasi
peradangan atau nyeri. Supersaturasi
empedu mempermudah terjadinya peradangan
kronik dan terutama pembentukan batu.
Mikroorganisme (E. coli dan enterokokus) dapat
dibiak dari empedu pada 1/3 kasus 4,5
stasis
cairan
empedu

Patofisiologi

iskemia
dinding infeksi
kandung kuman
empedu
• Menyumbat duktus sistikus  stasis cairan
empedu distensi kandung empedu  aliran
darah dan limfe menjadi terganggu  iskemia
Batu kandung dan nekrosis dinding kandung empedu
empedu

• E. Coli, spesies Klebsiella, Streptococcus grup D,


spesies Staphylococcus dan spesies Clostridium.
• Endotoxin  hilangnya lapisan mukosa,
Infeksi perdarahan, perlekatan fibrin,  iskemia
kuman nekrosis dinding kandung empedu.
Gejala Klinis
1. Kolesistitis Akut
- kolik perut di sebelah kanan atas epigastrium
- nyeri tekan menjalar ke pundak atau skapula kanan dan
dapat berlangsung sampai 60 menit tanpa reda.
- Demam, nausea, muntah
- ikhterus 6
2. Kolesistitis Kronik
Gejala kolesistitis kronik mirip dengan gejala kolesistitis
akut, tetapi beratnya nyeri dan tanda-tanda fisik kurang
nyata. Pasien sering memiliki riwayat dispepsia, intoleransi
lemak, nyeri ulu hati, atau flatulen yang berlangsung lama
6
PEMERIKSAAN FISIK
• Pemeriksaan fisik pada kolesistitis akut teraba
masa kandung empedu, nyeri tekan disertai
tanda-tanda peritonitis lokal (tanda Murphy).7
• Diagnosis kolesistitis kronik sulit ditegakkan
karena gejalanya sangat minimal dan tidak
menonjol. Riwayat batu empedu di keluarga,
ikhterus dan kolik berulang, nyeri lokal di daerah
kandung empedu disertai tanda Murphy positif,
dapat menyokong menegakkan diagnosis.8
PEMERIKSAAN LABORATORIUM
• Leukositosis
• tingkat Alanine aminotransferase (ALT) dan
aspartate aminotransferase (AST)
• Bilirubin yang digunakan untuk mengevaluasi bukti
penyumbatan saluran umum.
• Amilase digunakan untuk mengevaluasi kehadiran
pankreatitis.
• Tingkat alkali fosfatase tinggi diamati pada 25%
pasien dengan kolesistitis.
• Urine digunakan untuk menyingkirkan pielonefritis
dan batu ginjal 9
PEMERIKSAAN RADIOLOGIS
• Foto Polos Abdomen
Foto polos abdomen tidak dapat memperlihatkan gambaran
kolesistitis akut.10
• Kolesistografi Oral
Pemeriksaan kolesistografi oral dapat memperlihatkan
kolelitiasis dan fungsi kandung empedu10
• Ultrasonografi
Melihat besar, bentuk, penebalan dan dinding kandung empedu,
batu dan saluran empedu ekstra hepatik 10
• CT scan
CT scan abdomen kurang sensitif dan mahal tapi mampu
memperlihatkan adanya abses perikolesistik yang masih kecil
yang mungkin tidak terlihat pada pemeriksaan USG. 10
• MRCP (Magnetic Resonance
Choledochopancreaticography)
untuk melihat adanya batu di kandung empedu dan
duktus koledokus.5

• ERCP (Endoscopicretrograde
choledochopancreaticography)
ERCP pada kolesistitis kronik sangat bermanfaat
untuk memperlihatkan adanya batu di kandung
empedu dan duktus koledokus. 10
Pengobatan
• istirahat total
• diet rendah lemak
• obat penghilang rasa nyeri seperti petidin,
antispasmodik dan NSAID
• Pemberian antibiotik pada fase awal sangat
penting golongan ampisilin, sefalosporin, dan
metronidazol
• Kronik ; Kolesitektomi (minggu 6-8 setelah terapi
konservatif) 2,5
KOMPLIKASI
• Peritonitis
• Keganasan kandung empedu
• Jaundice
• Pankreatitis
• Empiema
• Pembentukan batu kandung empedu
• kebocoran empedu 5
prognosis
Angka rekurensi mencapai 40% dalam 2 tahun.
Jarang menjadi karsinoma kandung empedu
dalam perkembangan selanjutnya.
I. IDENTITAS

Nama : Ny. T Pendidikan Terakhir : SD


Umur : 64 thn Agama : Islam
Pekerjaan: IRT Tgl Pemeriksaan : 11-02-2017
Alamat: Desa Sikara Ruangan : CDR Bawah
II. ANAMNESIS
• Keluhan Utama :
Nyeri perut
Next....
RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG
Pasien masuk ke IGD Rumah Sakit Umum
Anutapura Palu dengan keluhan nyeri perut
bagian perut kanan atas yang dirasakan sejak 1
minggu terakhir namun memberat sejak 3 hari
terakhir dengan durasi kurang lebih 5 jam dan
hilang timbul dengan frekuensi lebih dari 3 kali
per hari sejak 2 hari sebelum masuk Rumah
Sakit. Nyeri berawal sejak ia mengkonsumsi
makanan yang berminyak dan berlemak.
Nyeri berawal sejak ia mengkonsumsi makanan
yang berminyak dan berlemak. Nyeri yang
dirasakan seperti dipelintir dan kadang-kadang
menjalar hingga ke bagian pundak kanan dan ke
belakang. Karena nyeri ini, pasien sering gelisah
dan sulit tidur bila nyeri perutnya timbul. Pasien
juga mengalami mual yang hilang timbul dan
terdapat muntah sebanyak 2 kali yang isinya
berupa makanan yang dikonsumsi dan pasien
sering buang angin.
Tidak terdapat keluhan demam, batuk, keringat
malam ataupun penurunan berat badan. Tidak
terdapat riwayat nyeri buang air kecil dan warna
urin normal. Tidak ada keluhan pada buang air
besar pasien. Riwayat penyakit yang sama pada
bulan Mei 2016 dan dirawat di RSU Anutapura
selama 8 hari, saat itu pasien mengeluhkan nyeri
bagian perut kanan atas disertai mual dan muntah
dan terdapat demam.
Buang air besar dan kecil normal. Riwayat Diabetes
Mellitus (-), Hipertensi (-).

• Riwayat Penyakit Terdahulu : -


Pasien memiliki riwayat penyakit yang sama pada
bulan Mei 2016 dan dirawat di RSU Anutapura
Palu. Riwayat dyspepsia (+)

• Riwayat Penyakit Dalam Keluarga : tidak ada


riwayat penyakit keluarga yang sama dengan
penyakit pasien
III. PEMERIKSAAN FISIK
• Keadaan Umum :
SP: SS / CM / GB BB : 50 Kg
TB: 155 cm IMT: 20,8 kg/m2

• Vital Sign :
Tekanan Darah: 130 /90 mmHg
Pernafasan : 20 kali/menit
Nadi : 82 Kali/menit
Suhu : 36,7 oC
KEPALA
• Wajah : simetris
• Deformitas :-
• Bentuk : normochepalus
• Rambut : hitam menyebar
• Mata
- Konjungtiva : anemis -/-
- Skelra : ikterik -/-
- Pupil : ishokor
• Mulut : hiperemis (-)
tonsilitis (-)
stomatitis (-)
LEHER

• Kelenjar GB : Pembesaran (-), NT (-)


• Tiroid : Pembesaran (-), NT (-)
• JVP : Peningkatan (-)
• Massa lain : (-)
THORAKS
Paru-paru :
• Inspeksi : simetris bilateral, tidak ada retraksi interkostal
• Palpasi : nyeri tekan(-), fokal fremitus ka = ki, ekspansi paru
normal
• Perkusi : sonor
• Auskultasi : bunyi paru vesikuler, rhonkhi (-/-), whezzing (-/-)
Jantung :
• Inspeksi : iktus kordis tidak terlihat
• Palpasi : iktus kordis teraba
• Perkusi :
Batas atas : SIC II linea parasternal dextra
Batas kanan : SIC IV linea parasternal dextra
Batas kiri : SIC V line midclavicular sinistra
Auskultasi : BJ I/II murni reguler, mur-mur (-)
ABDOMEN
Inspeksi : kesan datar
Auskultasi : peristaltik (+), kesan normal
Perkusi : tympani batas hepar dan lien normal
Palpasi : nyeri tekan di regio hipokondrium dextra
• Anggota Gerak :
Atas : akral hangat, edema tidak ada
Bawah : akral hangat, edema tidak ada

• Pemeriksaan Khusus : Murphy sign (+)


IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Glukosa :
Glukosa Darah Puasa 146 mg/dl

Darah Rutin :
RBC 3,7 x 10 ̂6 /uL

HB 8,3 g/dl

WBC 8,5 x 10 ̂ 3/ uL

PLT 172 x 10 3

HCT 25,9 %

Lemak :
Kolesterol 162 mg/dl

HDL Kolesterol 35 mg/dl

LDL kolesterol 108 mg/dl

Trigliserida 95 mg/dl

Faal Ginjal :
Ureum 16 mg/dl

Creatinin 0,66 mg/dl

Faal Hati :
SGOT 39 U/I

SGPT 48 U/I
Pemeriksaan Radiologi (USG)
USG ke-1 pada 14 Mei 2016.
Terdapat penebalan dinding kandung empedu
(Bilayer)

Kesan : kolesistitis
USG ke-2 pada 9 February 2017
Terdapat penebalan dinding kandung empedu
disertai dengan batu empedu.

Kesan : Kolesistitis dengan kolelitiasis.


V. PENATALAKSANAAN
• Non Medikamentosa :
 Bed rest
 Diet ringan yang rendah lemak

• Medikamentosa :
IVFD RL 20 tpm
Inj. Ranitidin 1 ampul/ 12 jam/ IV
Inj. Neurobion 1 ampul/ 24 jam/ IV
inj. Ondansetron 1 ampul/ 8 jam/IV
inj.Ketorolac 1 ampul/8 jam/IV
Cefixime 100 mg (2x1)
Curcuma (2x1)
Urdahex (2x1)

Bedah : Laparoskopi (kolesistektomi)


vi. RESUME
Pasien wanita, usia 64 tahun masuk RSU
Anutapura Palu dengan keluhan nyeri tekan
abdomen regio hipokondrium dextra sejak 1
minggu yang lalu dan memberat sejak 2 hari
terakhir dengan frekuensi 3x sehari dan durasi
lebih dari 5 jam sebelum masuk Rumah Sakit.
Bersifat nyeri kolik setelah makan makanan yang
berlemak atau berminyak dan kadang-kadang
menjalar hingga ke os. Scapula dextra.
Pasien mengalami nausea yang hilang timbul, vomitus
sebanyak 3 kali, dan flatulens. Pasien juga merasakan
anxietas sehingga sulit tidur. BAK dan BAB lancar.
Riwayat dirawat di RSU Anutapura Palu dengan
keluhan yang sama pada bulan Mei 2016. Riwayat
dyspepsia (+). Pada palpasi abdomen terdapat nyeri
tekan di regio hipokondrium dextra. Murphy sign (+).
Pemeriksaan penunjang WBC 8,5 x 103 /µL , SGOT :
39, SGPT : 48. Ultrasonografi (USG) kesan kolesistitis
dengan kolelitiasis.
VII. DIAGNOSIS AKHIR :
 Kolesistisis kronik

VIII. ANJURAN PEMERIKSAAN :

IX. PROGNOSIS :
 Dubia ad bonam
DAFTAR PUSTAKA
1. Stancu M, Caruntu I, Giusca S. Hiperplasia,
Metaplasia, Dysplasia, and Neoplasia Lesions in
Chronic Cholecystitis – A Morpholoic Study.
Departement of Histology University Hospital,
Iassy. Romarian Journal of Morphology and
Embryology. 2007 June; 48(4): 355-62.
2. Manes K, Chatzimargaritis K, Apessou
DGranulomatous Cholecystitis in a Patient With
Schistosoma Mansoni Infection. Edorium
Journals. 2014; 5(6): 439-43.
3. Pridadi. Kolesistitis. Dalam : Buku Ajar Ilmu
Penyakit Dalam Jilid I Ed.IV. Hal 477- 478. Jakarta :
FKUI. 2007 . Hal 477 – 478
4. Price S, Wilson L. Patofisiologi Konsep Klinis
Proses-Proses Penyakit. 6th ed. Jakarta: Penerbit
Buku Kedokteran EGC; 2012. P. 85-7.
5. Nurman A, Lesmana L, Noer H. Batu Intrahepatik
di RSAL Dr. Mintohardjo. Konas II PGI/PEGI,
Pertemuan Ilmiah III PPHI, Palembang. 2015
January; 21:1-2
6. Rauws E.A.J. Komunikasi Pribadi pada
Postgraduate Gastroenterology Course
Indonesia. Jakarta. 2007 Oktober; 32: 221-4
7. Stancu M, Caruntu I, Giusca S. Hiperplasia,
Metaplasia, Dysplasia, and Neoplasia Lesions in
Chronic Cholecystitis – A Morpholoic Study.
Departement of Histology University Hospital,
Iassy. Romarian Journal of Morphology and
Embryology. 2007 June; 48(4): 355-62.
8. Radunovic M. Terzk D, Mugosa B, dan
Ratkovic M. Cholecystitis as a Cause of
Abdominal Pain in Patients with Acute Viral
Hepatitis A and B. Faaculty of Medicine,
Podrogica, Montenegro. 2014 August;
51(10):366-8.
9. Gladen, Don. Cholecystitis. Diakses
dari http://emedicine.medscape.com/article/1
71886-overview
10. Aben H, Demehri F, dan Chong, S. Evaluation
and Management of Gallstone-Related Diseases
in Non-Pregnant Adults. Clinical Alignment and
performance Excellence University of Michigan.
2014 January; 120: 1-15.