Anda di halaman 1dari 19

PERAN KEPOLISIAN

DALAM RANGKA
PENANGANAN DAN PENYELESAIAN
KONFLIK SOSIAL

Oleh
Akbp sonny mahar b. a., sh, sik.
Latar Belakang
 NKRI wajib melindungi segenap bangsa Indonesia dlm
memajukan kesejahteraan umum dan menegakkan hak
asasi warga negara

 Perseteruan dan / atau benturan antar kelompok masy dpt


menimbulkan konflik sos yg mengakibatkan terganggunya
stabilitas nasional dan terhambatnya pembangunan
nasional.

 Penanganan konflik sosial selama ini masih bersifat parsial


dan belum komperhensif sesuai dg dinamika dan
kebutuhan hukum masy.
Dasar Hukum
 Undang – Undang Nomor 2 tahun 2002 tentang Kepolisian
Negara Republik Indonesia.

 Undang – undang Nomor 8 tahun 1981 tentang Kitab


Undang – Undang Hukum Acara Pidana.

 Undang – Undang Nomor 7 tahun 2012 tentang Penanganan


Konflik Sosial

 Peraturan Kapolri Nomor 8 tahun 2013 tentang Teknis


Penanganan Konflik Sosial

 Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 42 tahun 2015


tentang Pelaksanaan Koordinasi Penanganan Konflik Sosial
dan Pencegahannya
FUNGSI DAN PERAN POLRI

Kepolisian Negara Republik Indonesia atau yang sering


disingkat dengan Polri dalam kaitannya dengan
Pemerintahan adalah salah satu fungsi pemerintahan
negara di bidang pemeliharaan keamanan dan ketertiban
BERDASARKAN masyarakat, penegakan hukum, perlindungan,
UU NOMOR 2 pengayoman, dan pelayanan kepada masyarakat,
TAHUN 2002 TTG
KEPOLISIAN
NEGARA REPUBLIK
INDONESIA
DAN KUHAP
Bertujuan untuk mewujudkan keamanan dalam negeri
yang meliputi terpeliharanya keamanan dan ketertiban
masyarakat, tertib dan tegaknya hukum, terselenggranya
perlindungan, pengayoman, dan pelayanan kepada
masyarakat, serta terbinanya ketentraman masyarakat
dengan menjunjung tinggi hak azasi manusia
DEFINISI

Konflik sosial, adalah perseturuan dan/atau benturan


fisik dengan kekerasan antara dua kelompok masyarakat atau
dampak luas yang mengakibatkan ketidak amanan dan
disintegrasi sosial sehingga mengganggu stabilitas nasional
dan menghambat pembangunan nasional.

Penanganan, Pencegahan, Penghentian, Pemulihan Pascakonflik, Pengungsi,


Status Keadaan Konflik, Satuan Tugas Penyelesaian Konflik, Pemerintah,
DPR, Pemda, DPRD, TNI, Kepolisian, Pranata Adat, Pranata Sosial, APBN,
APBD. (UU RI. No. 7 Thn 2012, BAB I Pasal 1)
(UU RI. No. 7 Thn 2012, BAB II Pasal 3)

Tujuan Penanganan Konflik


- Menciptakan kehidupan yang aman
- Memelihara kondisi damai
- Meningkatkan tenggang rasa dan toleransi
- Memelihara keberlangsungan pemerintah
- Melindungi jiwa, harta benda, sarana umum
- Memulihkan fisik sarana & masyarakatnya.
UU RI. No. 7 Thn 2012, BAB III Pasal 10,11

Membangun Sistem Peringatan Dini


Membangun sistem peringatan dini untuk mencegah
konflik di daerah, mencegah perluasan konflik yang
sedang terjadi. Pemerintah dan Pemda melalui media
komunikasi dgn cara :
- Penelitian & pemetaan wilayah Konflik;
- Penyampaian data konflik secara akurat;
- Penyelenggaraan Pendidikan dan pelatihan;
- Pemanfaatan modal sosial;
- Pemanfaatan fungsi intelijen.
(UU RI. No. 7 Thn 2012, BAB III Pasal 12, 13)

Penghentian Konflik :
- Penghentian kekerasan fisik;
- Penetapan status keadaan konflik
- Tindakan darurat penyelamatan
- Bantuan atau pengerahan TNI
Dikoordinasian dan dikendalikan oleh Polri,
melibatkan tokoh agama, masyarakat, tokoh
adat sesuai dengan peraturan perundang-
undangan.
UU RI. No. 7 Thn 2012, BAB III Pasal 14,15

Penetapan Status Keadaan Konflik


Keadaan konflik ditetapkan apabila konflik tidak
dapat dikendalikan oleh Polri dan terganggungnya
fungsi pemerintahan.
- Skala Kabupaten/Kota : dampak hanya pada
tingkat Kabupaten /Kota (ditetapkan oleh
Bupati/Wali Kota)
- Skala Provinsi : dampak hanya pada tingkat
Provinsi (ditetapkan oleh DPRD Provinsi)
- Skala Nasional : dampak hanya pada tingkat
Nasional (ditetapkan oleh Presiden berkonsultasi
dgn Pimpinan DPR)
UU RI. No. 7 Thn 2012, BAB IV Pasal 26, 27, 28

Tindakan dalam Keadaan Konflik


 Skala Kabupaten/Kota : Pembatasan dan
penutupan kawasan konflik, pembatasan diluar
rumah dan kawasan konflik, pelarangan memasuki
area konflik.
 Skala Provinsi : Penutupan kawasan konflik
sementara, pembatasan orang di luar rumah,
pelarangan memasuki kawasan konflik.
 Skala Nasional : Penutupan kawasan konflik
sementara, pembatasan orang di luar rumah,
pelarangan memasuki kawasan konflik.
Jangka Waktu Status Keadaan Konflik
Berdasarkan Evaluasi masing-masing skala dapat
memperpanjang jangka waktu status keadaan
konflik paling lama 30 (tiga puluh) hari setelah
dikonsultasikan oleh masing masing Pimpinan.
Dalam hal keadaan konflik dapat ditanggulangi
sebelum batas waktu yang ditentukan pimpinan
masing-masing skala dapat mencabut penetapan
status keadaan konflik.
UU RI. No. 7 Thn 2012, BAB IV Pasal 33

Penggunaan Kekuatan TNI


- Bantuan konflik skala Kabupaten/Kota,
bupati/walikota meminta bantuan TNI kepada
Pemerintah.
- Bantuan konflik skala Provinsi, Gubernur dapat
meminta bantuan TNI kepada Pemerintah.
- Bantuan konflik skala Nasional, Presiden
berwenang mengerahkan kekuatan TNI
Semuanya sesuai ketentuan peraturan perundangan
dan dikoordinasikan oleh Polri.
Mekanisme Penggunaan Kekuatan TNI
Konflik Skala Konflik Skala
Konflik Skala Nasional
Kabupaten/Kota Provinsi

Bupati / Wali Kota Gubernur Presiden

Pemerintah Pimpinan DPR

TNI

Dilakukan sesuai dengan ketentuan Peraturan


operundang-undangan
UU RI. No. 7 Thn 2012, BAB V Pasal 36

Pemulihan Pascakonflik
Pemerintah & Pemda wajib lakukan pemulihan pascakonflik
secara terencana, perpadu, berkelanjutan & terukur.
Pemulihan meliputi :
- Rekonsilitasi (Perundingan, pemberian restitusi, pemaafan)
oleh Pranata Adat/Sosial
- Rehabilitasi (Pemulihan psikologis, kondisi sosial, pemulihan
ekonomi, budaya, keamanan, perbaikan, kesejahteraan
masyarakat)
- Rekonstruksi (pemulihan pelayanan, penyediaan akses
pendidikan, perbaikan sarana, fasilitas pelayanan, perbaikan
tempat ibadah).
RELEVANSI DGN TUPOKSI POLRI
TUJUAN PKS TUPOKSI POLRI
1. MENCIPTAKAN KEHIDUPAN MASY.YG AMAN, 1. MEMELIHARA KEAMANAN DAN KETERTIBAN
TENTRAM DAMAI DAN SEJAHTERA
2. MEMELIHARA KONDISI DAMAI DAN HARMONIS 2. PENEGAKAN HUKUM
DLM HUB SOS KEMASYARAKATAN.
3. MENINGKATKAN TENGGANG RASA DAN 3. MELINDUNGI, MENGAYOMI DAN MELAYANI
TOLERANSI DLM KEHIDUPAN BERMASY. DAN MASYARAKAT.
BERNEGARA
4. MEMELIHARA KEBERLANGSUNGAN FNGSI
PEMERINTAHAN ,
5. MELINDUNGI JIWA, HARTA,BENDA SERTA SARAN
DAN PRASARANA UMUM
6. MEMBERIKAN PERLINDUNGAN DAN
PEMENUHAN HAK KORBAN
7. MEMULIHKAN KONDISI FISIK DAN MENTAL
MASY.
1. PELAKSANAAN TUPOKSI POLRI SELARAS DGN TUJUAN PKS BAIK DALAM TAHAPAN PENCEGAHAN KONFLIK,
PENGHENTIAN KONFLIK , DAN PEMULIHAN PASCA KONFLIK DENGAN MELIBATKAN BANTUAN TNI DAN TOKOH-
TOKOH MASYARAKAT.

2. PENGGUNAAN KEKUATAN TNI BERDASARKAN PASAL 33 DISESUAIKAN DG PERATURAN DAN PERUNDANG-


UNDANGAN DAN TETAP DI KOORDINASIKAN POLRI
Peraturan Kapolri No. 8 th. 2013, BAB I, Pasal 3

Prinsip Penanganan Konflik


1. Legalitas, yaitu penanganan konflik berpedoman pada ketentuan
peraturan perundang – undangan.
2. Proporsional, yaitu penanganan konflik memperhatikan
keseimbangan antara kekuatan pengaman dengan massa yang
dihadapi
3. Akuntabel, yaitu penanganan konflik yang dapat dipertanggung
jawabkan sesuai dengan ketentuan perundang – undangan
4. Humanis, yaitu penanganan konflik dilakukan dengan sikap
ramah, santun, dan menjunjung tinggi nilai hak asasi manusia,
dan
5. Terintergritasi, yaitu penanganan konflik mengikut sertakan
instansi terkait, masyarakat adat dan pranata sosial.
Permendagri No. 42 Th. 2015 BAB IV, Pasal 15

1. Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Tingkat Kabupaten/Kota memiliki susunan keanggotaan, terdiri dari:

a. Ketua : Bupati/Walikota
b. Wakil Ketua I : Sekda Kab/Kota
c. Wakil Ketua II : Kapolres/ta/tabes
d. Wakil Ketua III : Dandim/Kepala Satuan TNI wilayah setempat
e. Wakil Ketua IV : Kajari
f. Sekretaris : Kaban Kesbangpol Kab/Kota
g. Wakil Sekretaris I : Kabag Ops Polres/ta/tabes
h. Wakil Sekretaris II : Kasi Ops Kodim
i. Wakil Sekretaris III : Kasi Intel Kejari
j. Anggota : Pejabat SKPD Kab/kota dan/atau instansi vertical
terkait sesuai kebutuhan.
2. Tim terpadu Penanganan Konflik Sosial Tingkat Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
dibantu oleh sekretariat yang berada pada unit kerja Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten/Kota.

3. Susunan keanggotaan Tim Terpadu penanganan konflik sosial dan sekretariat pada tingkat Kabupaten/Kota
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), ditetapkan dengan Keputusan Bupati/Walikota.
Permendagri No. 42 Th. 2015 BAB IV, Pasal 16

Tim Terpadu Penanganan Konflik Sosial Tingkat Kabupaten/Kota memiliki


tugas sebagai berikut:

a. Menyusun Rencana Aksi Terpadu Penanganan Konflik Sosial tingkat


Kabupaten/Kota;
b. Mengoordinasikan, mengarahkan, mengendalikan, dan mengawasi
penanganan konflik dalam skala Kabupaten/Kota;
c. Memberikan informasi kepada publik tentang terjadinya konflik dan
upaya penanganannya;
d. Melakukan upaya pencegahan melalui sistem peringatan dini;
e. Merespon secara cepat dan menyelesaikan secara damai semua
permasalahan yang berpotensi menimbulkan konflik; dan
f. Membantu upaya penanganan pengungsi dan pemulihan pascakonflik
yang meliputi rekonsiliasi, rehabilitasi, dan rekonstruksi.