Anda di halaman 1dari 21

DEPARTEMEN ILMU BEDAH

SUBDIVISI UROLOGI
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
JULI 2017

PEMBACAAN JURNAL :
EPIDIDIMO ORKITIS AKUT :
STADIUM DAN PENGOBATAN
BANYRA O., SHULYAK A.
Central European Journal Of Urology/ September 2012
PENDAHULUAN
TANDA & GEJALA
DEFINISI
Nyeri hebat
 Penyakit inflamasi akut pada skrotum 
epididimis dan testis funiculus
spermaticus
ipsilateral
Hidrokel
 Paling sering timbul secara reaktif
unilateral
Suhu
subfebris

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


ETIOLOGI

Diagnostik
Infeksi Saluran Penggunaan transurethral/ Malformasi
Trauma
Kemih Amiodaron manipulasi urogenital
operasi

Obstruksi Operasi pada


Kelainan outlet saluran
Infeksi virus
autoimun kandung kencing
kemih bagian bawah

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


PEMERIKSAAN

Pemeriksaan
Pemeriksaan mikroskopis
Pemeriksaan
Pemeriksaan fisik ultrasonografi discharge
laboratorium
skrotum urethra (jika
ada)

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


TUJUAN
 Menentukan pendekatan pengobatan AEO berdasarkan
hasil pemeriksaan pasien

BAHAN & METODE


 254 pasien dengan AEO dirawat antara tahun 2006
dan 2010
 Kriteria eksklusi:
 Pasien dengan AEO karena tuberkulosis
urogenital atau orkitis autoimun atau virus
DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN
Kelompok I
• 74 orang pasien (29,1%)
• dengan perbedaan yang jelas antara epididimis dan testis (E/T +)
• tanpa hidrokel/ malacia/ abses pada epididimis atau testis.

Kelompok II

254
• 82 orang pasien (32,3%) dengan E/T +
• tidak ada malacia
• ada hidrokel
• tidak ada/ 1/ beberapa abses kecil berdiameter 0,5 cm masing-
masing.

orang Kelompok III


• 98 orang pasien (38,6%)
IIIA
• 45 orang pasien dengan tidak

pasien • tanpa perbedaan yang jelas


antara epididimis dan testis (E/T -)
• dengan atau tanpa malacia
ada, satu, atau beberapa
abses kecil berdiameter 0,5
cm
• Adanya hidrokel.
IIIB
• 53 orang pasien dengan satu
atau lebih abses berdiameter
lebih 0,5 cm

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


METODE
 Menggunakan perawatan konservatif empiris pada semua
pasien yang menggunakan analgesik dan salah satu dari
rejimen obat antibakteri berikut:
 Ceftriaxone 250 mg intramuskular dosis tunggal +
Doksisiklin 100 mg/ oral/ 12 jam selama 10 – 14 hari;
 Ofloxacin 300 mg/ oral/ 12 jam selama 10-14 hari;
 Levofloxacin 500 mg/ oral/ 24 jam selama 10-14 hari

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


METODE
 Jika selama 48-72 jam pertama pengobatan konservatif
tidak memberikan perbaikan  operasi - revisi testis, operasi
Bergmann.
 Jika terdapat abses, dilakukan tindakan operasi. Dalam
kasus penanganan purulen kami melakukan epididimektomi
dengan reseksi epididimis atau testis.
 Jika destruksi subtotal melibatkan testis, pasien menjalani
operasi orkiektomi.
DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN
HASIL

KELOMPOK I KELOMPOK II KELOMPOK IIIA KELOMPOK IIIB

Tidak respon terhadap


pengobatan antibakteri selama
Pengobatan konservatif Pengobatan konservatif 48-72 jam pertama  operasi.
Semua pasien berhasil
efektif dalam 70 orang efektif pada 24 orang
diobati dengan antibiotik
pasien (85,4%) pasien (53,3%)
32 orang pasien (60,4%)
abses(+)  operasi
Bergman.

10 pasien (18,9%) dilakukan


21 orang pasien lainnya epididimektomi.
12 orang pasien lainnya
(46,7%) organ sparing
Tidak ada pasien yang (14,6%) tanpa perbaikan
surgery dilakukan setelah
memerlukan operasi klinis dan menjalani organ
48-72 jam kegagalan
sparing surgery 11 kasus (20,8%) dilakukan
pengobatan konservatif
orkiektomi.

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


HASIL
Stadium Palpasi SUI Pengobatan Kemanjuran
E/T Malacia Hidrokel Abses pengobatan
konservatif

I + - - Tidak ada Konservatif 100%


II + - _ Tidak ada/ satu/ beberapa Konservatif awalnya. 85,4%
III A abses hingga 0,5 cm dalam Pembedahan setelah 53,3%
diameter terbesar masing- 48-72 jam kegagalan
masing pengobatan
konservatif
III B - + + Satu / lebih abses di atas 0,5 Operasi 0%
-* cm dalam diameter terbesar
masing-masing

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


DISKUSI
 Penyebab paling umum dari peradangan intraskrotal.
 Epididimitis, yang biasanya mendahului AEO, adalah
diagnosis urologis ke-5 yang paling umum pada pria
berusia 18-50 tahun.
 Baik epididimitis akut maupun AEO dapat menjadi
komplikasi dari infeksi saluran kemih bagian bawah atau
prostatitis kronis yang disebabkan oleh patogen spesifik
dan / atau non-spesifik.

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


DISKUSI
 Penelitian oleh Melekos M.D dan Asbach H.W :
 Pria usia < 40 tahun disebabkan oleh Chlamydia Trakomatis (56%)
 Pria usia > 40 tahun disebabkan oleh bakteri infeksi saluran kemih
bawah (68%), Chlamydia Trakomatis (18%)
 Penelitian oleh De Jong dkk (12 orang pasien : berusia > 35 tahun) :
 10 orang terinfeksi bakteri gram negatif
1 orang terinfeksi bakteri gram positif
1 orang terinfeksi Chlamydia Trakomatis

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


DISKUSI
 Pasien dengan AEO < 35 tahun berkemungkinan besar akan
menderita infeksi Chlamydia Trachomatis.
 Gonore dan penyakit menular seksual lainnya (PMS) dengan
atau tanpa adanya Chlamydia Trachomatis dapat
menyebabkan AEO pada kelompok pasien ini
 Orang-orang di atas usia ini memiliki kemungkinan tinggi untuk
mendapatkan infeksi bakteri, biasanya coliform.
 Sebagian kasus AEO terkadang bersifat idiopatik.
DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN
PENYEBAB AEO

Operasi Operasi open


Kateter uretra Post operasi endoskopi untuk reconstructive- Malformasi
yang menetap prostat pengangkatan plastic pada urogenital
uretra posterior urethra

Pengobatan Hubungan seks


Terapi termal – intravesikal untuk anal tanpa Penggunaan
hipertrofi prostat tumor kandung menggunakan obat amiodaron
kemih superfisial kondom

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


PENGOBATAN
 Mencakup obat antibakteri, analgesik, dan jika perlu,
operasi.
 Fluoroquinolon dan Sefalosporin generasi ketiga memiliki
keefektifan yang sama 90% pada pasien yang jarang
mengkonsumsi antibiotik.
 Fluoroquinolon efektif terhadap kebanyakan patogen
penyakit menular seksual kecuali Neisseria Gonorrhea
dan disarankan sebagai terapi lini pertama

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


KONKLUSI
 Suhu tubuh awal di atas normal dan tidak menentukan
strategi pengobatan. Namun, penurunan suhu tubuh
dalam tiga hari pertama setelah memulai pengobatan
antibakteri adalah tanda prognostik yang
menguntungkan.
 Investigasi ultrasonografi skrotal adalah metode yang
efektif untuk menentukan diagnosis dan stadium AEO.

DEPARTEMEN ILMU BEDAH/ SUBDIVISI UROLOGI/ FAKULTAS KEDOKTERAN/ UNIVERSITAS HASANUDDIN


PEMERIKSAAN

PALPASI KLASIK SKROTUM


 Metode pertama untuk mendiagnosis AEO
 Teknik ini memungkinkan pembentukan struktur
anatomis dari organ skrotum, karakteristik dan
tingkat perubahan inflamasi, diferensiasi antara
epididimis dan testis, dan pelunakan lokalnya
(malacia) sebagai konsekuensi dari destruksi
purulen
INVESTIGASI ULTRASOUND SKROTAL
 sangat membantu dalam mendiagnosis AEO
 memungkinkan untuk mengevaluasi kondisi epididimis
dan testis - struktur dan keberadaan atau ketiadaan
dan ukuran abses dan hidrokel.

PENCITRAAN DOPPLER WARNA


 Metode ini harus menjadi studi pilihan untuk
mengevaluasi torsi korda spermatika karena
menunjukkan tingkat akurasi yang tinggi.
 Mengevaluasi kandungan skrotum untuk mengetahui
adanya peradangan dan komplikasi yang terkait.
Abses epididymis (hiperekoik,
ditandai dengan +)