Anda di halaman 1dari 22

TEHNIK JAHIT RUPTURA

PERINEUM GRADE 1-2

DEVINA AULIA AZIZA


FAA 113 012

PEMBIMBING:
DR. IDA BAGUS WICAKSANA, SP.OG

KEPANITERAN KLINIK SMF ILMU KESEHATAN PEREMPUAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PALANGKA RAYA
RSUD DR. DORIS SYLVANUS
PALANGKA RAYA
2017
PERINEUM
 Perineum  bagian permukaan
pintu bawah panggul yang terletak
antara vulva dan anus.

 Panjangnya rata-rata adalah 4 cm.

 Berperan pada persalinan karena


merupakan bagian luar dari dasar
panggul
RUPTUR PERINEUM
 Merupakan robekan yang terjadi (kala
II) dimana bagian terdepan bayi berada
di dasar panggul, sehingga perineum
harus mengembang/ merengang.
 Peregangan perineum yang meregang
harus ditahan dengan tangan penolong
persalinan untuk menghindari terjadinya
ruptur perineum.
 Ruptur perineum dapat terjadinya
karena ruptur spontan atau episiotomi.
TUJUAN DAN INDIKASI EPISIOTOMI
TUJUAN INDIKASI
1. Mempercepat persalinan dgn 1. Terjadi gawat janin dan
melebarkan jalan lahir persalinan mungkin harus
2. Mengendalikan robekan diselesaikan dengan bantuan
perineum untuk memudahkan alat (ekstraksi cunam atau
menjahit vakum)
3. Menghidari robekan perineum
2. Adanya penyulit (distosia bahu,
spontan
persalinan sungsang)
FAKTOR PENYEBAB
FAKTOR MATERNAL
1. Partus presipitatus yang tidak dikendalikan dan tidak ditolong (paling sering)
2. Pasien tidak mampu berhenti mengejan.
3. Partus diselesaikan secara tergesa-gesa dengan dorongan fundus yang berlebihan.
4. Edema dan kerapuhan pada perineum.
5. Varikositas Vulva yang melemahkan jaringan-jaringan perineum.
6. Arcus pubis sempit dengan pintu bawah panggul yang sempit pula sehingga
menekan kepala
7. Perluasan episitomi
8. Primipara
FAKTOR PENYEBAB
FAKTOR JANIN
1. Bayi yang besar
2. Posisi kepala yang abnormal, ex : presentasi muka
3. Kelahiran bokong
4. Ekstraksi forceps yang sukar
5. Distosia bahu
6. Anomali kongenital, seperti hidrocephalus
FAKTOR PENYEBAB

FAKTOR PENOLONG PERSALINAN


1. Cara memimpin mengejan
2. Keterampilan menahan perineum
3. Anjuran posisi meneran
EPISIOTOMI

 Insisi dari perineum untuk


memperlebar ruang pada
jalan lahir sehingga
memudahkan kelahiran bayi
dan mencegah ruptur
perineium totalis
KLASIFIKASI (MENURUT SULTAN)

1 • Laserasi epitel vagina atau laserasi pada kulit perineum saja

II • Melibatkan kerusakan pada otot-otot perineum, tetapi tidak


melibatkan kerusakan sfingter ani
Kerusakan pada otot sfingter

III • 3a : robekan <50% sfingter ani eksterna


• 3b : robekan >50% sfingter ani eksterna
• 3c : robekan meliputi sfingter ani eksterna

IV • Robekan stadium tiga disertai robekan epitel anus


DERAJAT RUPTUR PERINEUM
PENJAHITAN RUPTUR PERINEUM
STADIUM I
 Bila perlukaan hanya terbatas pada mukosa vagina atau kulit
perineum pada perlukaan tingkat I, bila hanya berupa luka lecet,
tidak diperlukan penjahitan.
 Jahit bila :
 Perdarahan berlebih
 Kontinuitas jaringan diragukan
 Laserasi bilateral > labia dapat menyatu
PENJAHITAN RUPTUR PERINEUM
STADIUM II
 Pada perlukaan tingkat II, hendaknya luka dijahit kembali secara cermat. Lapisan otot
dijahit dengan jahitan simpul (interrupted suture) dengan kotgut kromik no. 0 atau 00,
dengan mencegah terjadinya rongga mati (dead space). Yang mengakibatkan pembuluh
darah menjadi hematom sehingga hematom dapat menimbulkan robekan jalan lahir
selanjutnya
 Adanya rongga mati di antara jahitan-jahitan memudahkan tertimbunnya darah beku
dan terjadinya radang terutama oleh kuman-kuman anaerobe. Lapisan kulit dapat
dijahit dengan benang katgut kromik atau benang sintetik yang baik secara simpul.
Jahit jangan terlalu ketat agar tidak edema.
TEKNIK JAHIT RUPTUR PERINEUM
Persiapan alat Persiapan pasien
 Minor set (needle holder, gunting  Posisikan ibu litotomi dan
benang, pinset anatomis, pinset senyaman mungkin
chirurgis, kocher)  Menjelaskan pada pasien agar
 Benang chromic catgut/vicryl 2.0-3.0, memberitahu penolong jika
benang seide selama penjahitan masih nyeri.
 Anestesi Lidokain 1%, spuit 10 cc,
ukuran jarum 27G Persiapan penolongan
 Bengkok, duk/underpads, ball tampon,  Memberitahu tindakan, tujuan dan
kapas dan air DTT meminta persetujuan
 Lampu sorot • Mengambil posisi yang nyaman
TEKNIK JAHIT RUPTUR PERINEUM
Prosedur tindakan
 Memakai sarung tangan
 Pasang duk/underpads dibawah bokong ibu
 Pastikan derajat robekan perineum
 Bersihkan daerah perineum dengan kapas dan air DTT
 Pasang ball tampon (jika perlu)
 Lakukan anastesi dengan lidocain 1%
 Tunggu 1-2 menit agar efek anastesi bekerja.
 Buat jahitan pertama 1cm diatas ujung laserasi dibagian dalam vagina. Setelah
membuat tusukan pertama, diikat.
 Tutup mukosa vagina dengan jahitan continous, jahit kebawah, kearah cincin hymen
... prosedur tindakan
 Lanjutkan menjahit otot perineum dengan jahitan continous
 Ikat benang dengan membuat simpul didalam vagina. Potong ujung benang dan
sisakan sekitar 1,5cm. Jika ujung benang dipotong terlalu pendek, simpul akan
longgar dan laserasi akan membuka.
 Ulangi pemeriksaan vagina dengan lembut, keluarkan ball tampon.
 Cuci daerah genetalia dengan air DTT
 Lalu keringkan dan posisikan ibu dengan nyaman
 Nasehati ibu:
 Menjaga perineum bersih dan kering
 Hindari obat-obat tradisional
 Kontrol 1 minggu kemudian atau jika sewaktu-waktu ada keluhan
 Konsumsi gizi seimbang
PENJAHITAN RUPTUR PERINEUM
STADIUM II

Penjahitan Teknik Konvensional Teknik Jahitan


Kontinu
Vagina Kontinu, locking Kontinu non-locking
Otot peritoneum Interuptus/jelujur kontinu Kontinu non-locking
Kulit Interuptus Jahitan subkutikular
transkutan/kontinu
subkutan
METODE KONVENSIONAL
METODE KONTINU NON LOCKING
TERIMA KASIH