Anda di halaman 1dari 20

Tax Planning PPh Pasal 21/26

Manajemen Perpajakan
Andi Nurul Azizah
105751104716
Pajak 2.16
PENDAHULUAN
PPh Pasal 21 adalah pajak atas penghasilan berupa, gaji, upah,
honorarium, tunjangan, dan pembayaran lain, dengan nama dan dalam
bentuk apa pun sehubung dengan pekerjaan atau jabatan, jasa, dan
kegiatan yang dilakukan oleh orang pribadi subjek pajak dalam negeri.

PPh pasal 21 diberlakukan kepada WPOP sebagai Subjek Pajak


Dalam Negeri (SPDN), apabila penerima penghasilan adalah orang
pribadi dengan status sebagai Subjek Pajak Luar Negeri (SPLN) selain
BUT (Badan Usaha Tetap), maka akan dikenai PPh 26.
Dasar hukum pengenaan PPh Pasal 21 yang mulai berlaku tahun
2009 adalah:

a. UU No. 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas UU No. 6 Tahun 1983 tentang
Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (KUP)
b. UU No. 36 Tahun 2008 tentang Perubahan Keempat atas UU No. 7 Tahun 1983 tentang
Pajak Penghasilan (PPh)
c. PMK No. 250/PMK.03/2008 tentang Besarnya Biaya Jabatan atau Biaya Pensiun yang dapat
dikurangkan dari Penghasilan Bruto Pegawai Tetap atau Pensiun.
d. PMK No. 252/PMK.03/2008 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pemotongan Pajak atas
Penghasilan Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi
e. PMK No. 254/PMK.03/2008 tentang Penetapan Bagian Penghasilan Sehubungan Dengan
Pekerjaan Dari Pegawai Harian dan Mingguan, serta Pegawai Tidak Tetap lainnya yang tidak
dikenakan pemotongan Pajak Penghasilan.
f. PER-Dirjen Pajak Nomor:31/PJ/2009 tentang Pedoman Teknis Tata Cara Pemotongan,
Penyetoran dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 Dan/Atau Pajak Penghasilan Pasal 26
Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jasa, dan Kegiatan Orang Pribadi, yang kemudian direvisi
dengan PER-Dirjen Pajak Nomor: 57/PJ/2009
g. PER-Dirjen Pajak Nomor: 31/PJ/2012 tentang Pedoman teknis Tata Cara Pemotongan,
Penyetoran, dan Pelaporan Pajak Penghasilan Pasal 21 dan/atau Pajak Penghasilan Pasal 26
Sehubungan Dengan Pekerjaan, Jaa, dan Kegiatan Orang Pribadi.
Pemotong Pajak PPh Pasal 21
1
Pemberi 2
kerja yang
terdiri dari 3
orang
pribadi dan Bendahara
atau Dana 4
badan, baik
pemegang pensiun,
merupakan
kas badan Orang
pusat
pemerintah penyelengg pribadi 5
maupun
cabang ara jaminan yang
sosial melakukan
tenaga kegitan
kerja, dan usaha atau
pekerjaan Penyeleng
badan-
bebas serta gara
badan lain
badan yang kegiatan
membayar
Yang tidak termasuk sebagai pemberi kerja yang mempunyai
kewajiban untuk melakukan pemotongan PPh Pasal 21 adalah:

1. Kantor perwakilan negara asing


2. Organisasi-organisasi internasional yang telah diterapkan oleh
Menteri Keuangan
3. Pemberi kerja orang pribadi yang tidak melakukan kegiatan usaha
atau pekerjaan bebas yang semata-mata mempekerjakan
orang pribadi untuk melakukan pekerjaan rumah tangga atau
pekerjaan bukan dalam rangka melakukan kegiatan usaha atau
pekerjaan bebas
Subjek Pemotongan PPh Pasal 21/26

Subjek pajak yang dipotong PPh Pasal 21 atau Pasal 26, atau disebut subjek
pemotongan adalah orang pribadi yang menerima atau memperoleh penghasilan
sehubungan dengan pekerjaan, jabatan, jasa atau kegitan, yang meliputi:

1. Pegawai;
2. Penerima uang pesangon, pensuin atau uang manfaat pensiun, tunjangan hari tua, atau
jaminan hari tua, termasuk ahli warisnya;
3. Bukan pegawai yang menerima atau memperoleh penghasilan sehubungan dengan
pekerjaan, jasa, atau kegiatan, antara lain meliputi:
a. Tenaga ahli yang melakukan pekerjaan bebas, yang terdiri dari pengacara, akuntan,
arsitek, dokter, konsultan, notaris, penilai, dan aktuaris;
b. Pemain musik, pembawa acara, penyanyi, pelawak, bintang film, bintang sinetron,
bintang iklan, sutradara, kru film, foto model, peragawan/peragawati, pemain drama,
penari, pemahat, pelukis, dan seniman lainnya;
c. Olahragawan;
d. Penasihat, pengajar, pelatih, penceramah, penyuluh, dan moderator;
e. Pengarang, peneliti, dan penerjemah;
Apa saja yang dipotong
PPh Pasal 21 dan/atau
PPh Pasal 26?

Objek Bentuk
Penghasilan yang diterima atau diperoleh Penghasilan yang bersifat teratur maupun
Pegawai tetap. tidak teratur.
Penghasilan yang diterima atau diperoleh
Uang pensiun atau penghasilan sejenisnya.
Penerima pensiun secara teratur.
1. Uang pesangon,
Penghasilan sehubungan dengan pemutusan 2. Uang manfaat pensiun,
hubungan kerja dan penghasilan sehubungan
dengan pensiun yang diterima secara 3. Tunjangan hari tua atau jaminan hari tua,
sekaligus. dan
4. Pembayaran lain sejenis.
1. Upah harian,
Penghasilan pegawai tidak tetap atau tenaga
2. Upah mingguan,
kerja lepas.
3. Upah satuan,
Next 2
4. Upah borongan, atau
5. Upah yang dibayarkan
secara bulanan.
1. Honorarium,
2. Komisi,
Imbalan kepada bukan pegawai. 3. Fee, dan
4. Imbalan sehubungan dengan pekerjaan, jasa,
dan kegiatan yang dilakukan.
1. Uang saku,
2. Uang representasi,
3. Uang rapat,
Imbalan kepada peserta kegiatan. 4. Honorarium,
5. Hadiah atau penghargaan dengan nama dan
dalam bentuk apapun, dan
6. Imbalan sejenis dengan nama apa pun
Back 1 Next 3
Penerimaan dalam bentuk natura dan/atau
kenikmatan lainnya dengan nama dan
dalam bentuk apapun yang diberikan oleh:
Penghasilan berupa penerimaaan dalam
1. bukan Wajib Pajak; bentuk natura dan/atau kenikmatan lainnya
2. Wajib Pajak yang dikenakan PPh yang tersebut didasarkan pada harga pasar atas
bersifat final; atau barang yang diberikan atau nilai wajar atas
pemberian kenikmatan yang diberikan.
3. Wajib Pajak yang dikenakan PPh
berdasarkan norma penghitungan
khusus (deemed profit).

Back 2
Pembayaran
Kenikmatan
manfaat atau
berupa pajak
santunan
yang ditanggung
asuransi dari
oleh pemberi
perusahaan
kerja
asuransi

Penerimaan
Beasiswa
Non Objek PPh dalam bentuk
natura atau
Pasal 21 kenikmatan

Zakat yang Iuran pensiun


diterima oleh yang dibayarkan
orang pribadi kepada dana
dari badan atau pensiun dan
yang disahkan iuran jaminan
pemerintah hari tua
PPh Pasal 21 ditanggung metode pemotongan pajak
oleh karyawan (Metode dimana karyawan
Gross) menanggung sendiri jumlah
pajak penghasilannya.
PPh Pasal 21 diberikan metode pemotongan pajak
Metode dalam bentuk tunjangan di mana perusahaan
Pemotongan (Metode Gross Up) memberikan tunjangan
PPh Pasal pajak yang sama besar
21 dengan jumlah pajak yang
dipotong dari karyawan.
PPh Pasal 21 ditanggung metode pemotongan pajak
perusahaan (Metode Net) di mana perusahaan
menanggung pajak
karyawannya
Tata Cara Perhitungan PPh Pasal 21

 Dasar Pengenaan Pajak (DPP)


a. Penghasilan Kena Pajak berlaku bagi:
o Pegawai Tetap
Penghasilan Kena Pajak = Penghasilan Bruto – Biaya Jabatan – PTKP

oPenerima Pensiun Belaka

Penghasilan Kena Pajak = Penghasilan Bruto – Biaya Pensiun – PTKP


oPegawai Tidak Tetap

Penghasilan Kena Pajak = Penghasilan Bruto – Biaya Pensiun – PTKP


Bukan Pegawai, meliputi:
o Distributor MLM atau direct selling
o Petugas dinas luar asuransi yang tidak berstatus pegawai.
o Penjaja barang dagangan yang tidak berstatus pegawai.
o Penerima penghasilan bukan pegawai lainnya yang menerima penghasilan dari
o Pemotong PPh Pasal 21 secara berkesinambungan dalam satu tahun kalender.

 Pengurangan yang Diperbolehkan

a. Biaya Jabatan
Pengurangan ini diperbolehkan tanpa memandang apakah yang bersangkutan
memiliki jabatan atau tidak.

b. Biaya Pensiun
Hanya boleh dikurangkan dari penghasilan bruto seorang pensiunan
yangberupa uang pensiun yang dibayarkan secara berkala (bulanan) karena
dianggap sebagai biaya untuk mendapatkan, menagih, dan memelihara
uang pensiunan.
c. Iuran yang terkait dengan gaji
Yaitu iuran yang dibayar oleh pegawai kepada dana pensiun yang
pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan atau badan
penyelenggara tunjangan hari tua atau jaminan hari tua yang
dipersamakan dengan dana pensiun yang pendiriannya telah disahkan oleh
Menteri Keuangan.
d. Penghasilan Tidak kena Pajak (PTKP)
Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) dalam penghitungan PPh Pasal 21
merupakan batasan penghasilan yang tidak dikenai pajak bagi orang
pribadi yang berstatus sebagai pegawai, baik pegawai tetap, termasuk
pensiunan; pegawai tidak tetap, pemagang, dan calon pegawai;
termasuk juga pegawai harian lepas, dan distributor multilevel
marketing atau direct selling maupun kegiatan sejenisnya, dengan
ketentuan yang berbeda-beda.
Rekonsilasi Objek PPh Pasal 21

Untuk meyakinkan bahwa atas Hubungan kerja antara karyawan


seluruh objek PPh Pasal 21 telah dengan perusahaan berlaku prinsip
dipotong pajaknya, perlu dilakukan umum, yaitu taxability-
rekonsiliasi antara data laporan deductiblity. Jika bagi karyawan
keuangan, baik yang berasal dari merupakan taxable income
akun neraca maupun akun biaya. (penghasilan yangmenjadi objek PPh),
Rekonsiliasi ini sangat berguna di perusahaan menjadi deductible
dalam rangka pelaksanaan expense (biaya), dan sebaliknya jika
pengendaian dan pembuktian bagi karyawan merupakan non
bahwa seluruh objek pajak ketika taxable income (penghasilan yang
diperiksa oleh petugas pajak bukan objek PPh), maka di
nantinya. perusahaan menjadi non deductible
expense (bukan biaya).
Taxability dan Deductibility Objek
PPh Pasal 21
Strategi Memaksimalkan Pengurangan (Maximing Deduction)

Prinsip Taxability Deductibility merupakan prinsip dasar yang


lazim diterapkan dalam perencanaan pajak, yang pada umumnya
dilakukan dengan mengubah atau mengkonversikan penghasilan
yang merupakan objek pajak menjadi penghasilan yang bukan
objek pajak, atau sebaliknya mengubah biaya yang tidak boleh
dikurangkan menjadi biaya yang boleh dikurangkan, dengan
konsekuensi terjadinya perubahan pajak terutang akibat
pengubahan atau konversi tersebut.
Apa saja yang terkait denga unsur-unsur
biaya karyawan?
Bagi wajib pajak Badan atau Orang Pribadi yang yang melakukan kegiatan usaha,
salah satu biaya yang pasti adalah biaya tenaga kerja. Nah, kalau kita lihat dari
Kontes Pajak Penghasilan, ada dua pihak yang terlibat dan terkait dengan
kewajiban Pajak Pengahasilan, yaitu:

1. Wajib pajak badan atau orang 2. Karyawan sebagai penerima


pribadi sebagai pemberi kerja. penghasilan. Biaya karyawan yang
Biaya tenaga kerja tarkait diberi oleh pemberi kerja
langsung dengan PPh terutang, merupakan penghasilan yang bisa
karena biaya tenaga kerja adalah menjadi objek atau bukan objek
salah satu unsur biaya yang pemotong PPh Pasal 21. Nah, jika
menentukan jumlah pajak kita mebagi biaya tenaga kerja
terutang dilihat dari kdua pihak ini, maka
biaya tenga kerja dapat
digolongkan menjadi empat
bagian.
Apa saja penerapan Tax Planning terkait dengan PPh
Pasal 21 untuk meminimalkan Beban Pajak?

1. Klausal pajak dalam perjanjian/kontrak kerja


2. Pajak ditanggung pemberi kerja atau tunjangan pajak secara Gross-up ?
3. Biaya perjalanan dinas
4. Pemberian Tunjangan Makan atau Menyiapkan Makan Bersama
5. Memberikan Tunjangan Kesehatan atau Fasilitas Pengobatan
6. Meminimalkan Tarif Pajak (PPh Pasal 21)
Salah satu contoh yang dapat kita lihat pada Jurnal Ilmiah berikut
https://media.neliti.com/media/publications/186372-ID-penerapan-
perencanaan-pajak-untuk-memini.pdf . Peusahan tersebut menarapkan sebagaii
berikut:
a. Membuat daftar nominatif terkait beban entertainment
b. Mengganti pemberian uang makan untuk karyawan menjadi penyediaan
makanan dan minuman di kantor
c. Mengganti beban pengobatan untuk karyawan menjadi pemberian asuransi
kesehatan
d. Mengganti beban PPh Pasal 21 yang ditanggung perusahaan ke dalam
bentuk tunjangan pajak dengan metode Gross-Up
e. Membuktikan bahwa pemakaian pulsa handphone sepenuhnya terkait
dengan kepentingan usaha
Alur Perencanaan Pajak PP Alur Perencanaan
Pajak PPh Pasal 21

Setiap pengusaha berusaha Upaya penghematan beban


memaksimalkan pajak yang dilakukan perusahaan
kesejahteraan pemilik harus tetap memperhatikan
perusahaan dengan peraturan perpajakan (asas
legalitas). Perencanaan pajak
memaksimalkan nilai
dimulai dengan menganalisis dan
perusahaan, memperoleh laba
memastikan metode
sesuai keinginan. Untuk penghitungan pajak penghasilan
mengejal laba maksimal, pasal 21 yang lebih efisien serta
perusahaan melakukan memperhatikan mekanisme
berbagai upaya .Salah satu taxability-deductibility.
upaya adalah menghemat
beban pajak.