Anda di halaman 1dari 22

YENNY PERMATASARI

PEMBIMBING : DR.BONAR L T SP.OG


Persalinan yang terjadi sebelum usia kehamilan 37
minggu atau kurang dari 259 hari sejak hari
pertama haid terakhir (C.Hubinont, 2011)

- Organisasi Kesehatan Dunia yaitu WHO (2013)


membagi persalinan prematur menjadi tiga kategori
berdasarkan umur kehamilan, yaitu:
- a. extremely preterm bila kurang dari 28 minggu
- b. very preterm bila kurang dari 32 minggu
- c. moderate to late preterm antara 32 dan 37 minggu
Waktu Persalinan

<28 minggu
28-31 minggu
32-33 minggu
34-36 minggu
Beberapa faktor resiko terjadinya persalinan preterm adalah abortus yang mengancam,
faktor gaya hidup seperti merokok, pertambahan berat badan ibu yang tidak adekuat,
penggunaan narkoba.
Faktor maternal lain :
 usia ibu terlalu muda atau terlalu tua

 kesenjangan ras dan etnik

 hiperaktivitas selama kehamilan,

 faktor genetik,

 penyakit periodontal,

 cacat lahir,

 interval antara kehamilan sebelumnya dan saat ini, serta riwayat persalinan preterm
pada kehamilan sebelumnya
Dampak mediator biokimia terhadap kontraksi Rahim
dan perubahan serviks:
1. Aktivasi aksis kelenjar hypothalamus hipofisis
adrenal baik pada ibu atau janin.
2. Inflamasi desidua-korioamnion atau sistemik akibat
infeksi asenden dari traktus genitourinaria atau infeksi
sistemik.
3. Perdarahan desidua
4. Peregangan uterus patologik
5. Kelainan pada uterus atau serviks
Ibu
Janin dan plasenta
a. penyakit berat pada ibu
b. diabetes mellitus
a.perdarahan trimester awal c. preeklamsia/hipertensi
b.perdarahan antepartum (plasenta d. infeksi saluran kemih/genital/intrauterin
previa, solution plasenta, vasa previa) e. penyakit infeksi dengan demam
c.ketuban pecah dini (KPD) f. stress psikologik
d.pertumbuhan janin terhambat g. kelainan bentuk uterus/serviks

e.cacat bawaan janin h. riwayat persalinan prematur/abortus berulang

f.kehamilan ganda/gemeli i. inkompetensia serviks (panjang serviks kurang


dari 1 cm)
g.polihidramnion
j. pemakaian obat narkotik
Beberapa kriteria yang dapat dipakai sebagai ancaman persalinan
preterm :
a. Usia kehamilan antara 20 dan 37 minggu atau 140 dan 259 hari.
b. Kontraksi uterus (his) yang teratur yaitu berulang 7-8 kali atau
2-3 kali dalam 10 menit.
c. Merasakan gejala seperti kaku di perut, menyerupai rasa kaku
seperti menstruasi, rasa tekanan intrapelvik, nyeri punggung
bawah.
d. Mengeluarkan lendir bercampur darah pervaginam.
e. Pemeriksaan dalam menunjukkan serviks telah mendatar 50-
80%, atau telah terjadi pembukaan sedikitnya 2 cm.
f. Selaput amnion sering kali telah pecah.
g. Presentasi janin rendah, sampai mencapai spina ischiadika
Berikut adalah beberapa faktor resiko terjadinya persalinan
preterm :
 Faktor Resiko Minor
a. Perdarahan pervaginam setelah 12 minggu
b. Riwayat pyelonefritis
c. Merokok
d. Riwayat abortus
a. Kehamilan multipel
b. Polihidramniom
c. Anomali uterus
d. Dilatasi serviks > 2cm pada usia kehamilan 32 minggu
e. Riwayat abortus 2 kali atau lebih pada trimester II
f. Riwayat persalinan preterm sebelumnya
g. Riwayat menjalani prosedur operasi pada serviks (cone biopsy,
loop electrosurgical excision procedure)
h. Penggunaan cocain dan amphetamine
i. Operasi besar pada abdomen
1. Tirah baring (Bedrest)
2. Hidrasi dan sedasi
3. Pemberian tokolitik
4. Pemberian steroid
5. Pemberian antibiotik
6. Emergency Cerclge
7. Perencanaan persalinan

(P.O.G.I, 2011)
 Nifedipin
 Magnesium Sulfat
 β - mimetics
 Progesteron
 Indomethacin
 Pemberian antibiotika pada persalinan tanpa infeksi tidak
dianjurkan karena tidak dapat meningkatkan luaran persalinan
 Antibiotik :
klindamisin ( 2 x 300 mg sehari selama 7 hari)
metronidazol ( 2 x 500 mg sehari selama 7 hari)
eritromisin (2 x 500 mg sehari selama 7 hari)
 Untuk kehamilan <32 minggu sebaiknya ibu dirujuk ke tempat
yang mempunyai fasilitas neonatal intensive care unit (NICU)
 Kehamilan 24-37 minggu diperlakukan sesuai dengan risiko
obstetrik lainnya dan disamakan dengan aturan persalinan
aterm. Tidak dianjurkan forsep atau episiotomi elektif
 Komplikasi pada ibu :
Pada ibu setelah persalinan preterm, infeksi endometrium lebih
sering terjadi sehingga menyebabkan sepsis dan lambatnya
penyembuhan luka episiotomi.
 Komplikasi pada bayi :
Masalah – masalah utama jangka pendek dan jangka panjang pada berat badan bayi sangat rendah

Organ atau sistem


Masalah jangka pendek Masalah jangka panjang

Paru – paru Sindroma distress pernafasan, kebocoran udara, displasia Displasia bronkopulmunore, penyakit jalan nafas
bronkopulmuner, pneumoprematuritas. reaktif, asma.

Gastrointestinal atau Hiperbilirubinemia, gangguan makan, necritizing Gagal tumbuh, sindroma short-bowel, kolestasis
nutrisional enterocolitis

Imunologi Infeksi nosokomial, infeksi perinatal, imunodefisiensi. Infeksi respiratory syncitial virus, bronkiolitis.

Sistem saraf pusat Perdarahan intraventrikularm leukomalasia Cerebral palsy, hidrosefalus, atrofi serebral,
periventrikular, hidrosefalus hambatan neurodevelopmental, gangguan
pendengaran

Oftalmologi Kebutaan, ablasio retina, miopia, starbismus


Retinopati prematuritas

Kardiovaskuler Hipotensi, paten ductus arteriosus, hipertensi pulmonal Hipertensi pulmonal, hipertensi saat dewasa
Renal Ketidakseimbangan air dan elektrolit
Hipertensi saat dewasa

Hematologi Anemia iatrogenik, memerlukan transfusi berulang,


anemia prematuritas

Endokrinologi Hipoglikemia, kadar tiroksin rendah sementara, defisiensi Kelemahan regulasi glukosa, peningkatan resistensi
kortisol insulin
 Memberikan pendidikan : kepada semua
wanita usia reproduksi diberikan pendidikan
mengenai faktor – faktor resiko persalinan
preterm.
 Mengkonsumsi suplemen nutrisi
 Menghentikan konsumsi rokok
 Melakukan asuhna prenatal.
 Melakukan perawatan periodontal
 Modifikasi aktivitas ibu (tirah baring,
pembatasan aktifitas kerja, tidak
berhubungan seksual selama kehamilan).
 Pemberian sumplemen nutrisi
 Peningkatan perawatan bagi wanita yang
beresiko
 Pemberian progesteron