Anda di halaman 1dari 19

‫هللا ال َّر ْح ٰم ِن ال َّر ِحي ِم‬

‫بِس ِم ِ‬

‫ُ‬ ‫هللا‬ ‫َّ‬


‫ِال‬ ‫ا‬ ‫ه‬‫َ‬ ‫ِل‬‫ٰ‬ ‫ش َه ُد اَ ْن َال ا‬
‫اَ ْ‬
‫ش َه ُد اَ َّن ُم َح َّم ًدا َّرسُو ُل ِ‬
‫هللا‬ ‫َو اَ ْ‬

‫هللا َربَّا َوبِا ْ ِْل ْ‬


‫س َل ِم ِدي َنا َو ب ِ ُم َح َّم ِد َّنبِيَّا‬ ‫يت بِا ِ‬‫َر ِض ُ‬
‫َو َرسُو َل‬

‫َربِي ِز ْدنِي ِع ْل َمأ َو ْر ُز ْقنِي َف ْه َمأ‪ .‬آ ِمين‬


FORMAT POLITIK BERDASARKAN
KHITTAH PERJUANGAN
MUHAMMADIYAH
A. Pendahuluan
Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330H) atau
November (18 November 1912M) merupakan
meomentum penting yaitu lahirnya organisasi
Muhammadiyah. Muhammadiyah sebagai suatu
organisasi, memiliki sifat-sifat seperti adanya
tujuan, usaha kerja sama dan sekelompok orang.
Sesuai yang telah dirumuskan dalam anggaran
dasar pasal 13 yang berbunyi “Menegakkan dan
menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud
masyarakat utama, adil dan makmur yang di rihoi
oleh Allah SWT”.
Persyerikatan Muhammadiyah merupakan bagian
dari daya kreatif hasanah pemikiran keislaman.
Perkembangan Muhammadiyah sebagai organisasi
dan gerakan yang berciri Islam, dakwah dan tajdid
mengendalikan suatu mata rantai hubungan hitories dan
dialog antara dimensi normative (wahyu illahi) dengan
dimensi objektif umat yang merupakan daya kreatifnya.
Muhammadiyah tidak pernah memproklamirkan
diri sebagai organisasi politik, namun terbukti bahwa
gerakan dakwah Islam yang diperankannya tidak dapat
dikatakan “sepi” dari nuansa politik.
B. Rumusan Format Politik Berdasarkan Khittah
Perjuangan Muhammadiyah
Muhammadiyah merupakan organisasi keagamaan yang ebrsifat
kemasyarakatan dan bukan organisasi politik. Muhammadiyah
berdasarkan agama Islam bersumber pada Al-Qur’an dan Sunnah
Rasullullah.
1. Landasan Ideologi Muhammadiyah
Landaasan idiil Muhammadiyah memberikan gambaran tentang:
Pandangan hidup, tujuan hidup dan cara atau metode
bagaimana tujuan hidup Muhammadiyah itu bisa tercapai.
2. Hakikat Muhammadiyah
Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah itu senantiasa
menjadi landasan gerakan Muhammadiyah, juga bagi gerakan
dan amal usaha dan hubungannya dengan kehidupan
masyarakat dan ketatanegaraan, serta dalam bekerjasama
dengan golongan Islam lainnya.
C. Dinamika Politik Muhammadiyah dan Dinamika
Muhammadiyah dalam Pembangunan Nasional.

Kehadiran Muhammadiyah sebagai gerakan


“multi wajah” artinya gerakan yang ditampilkan
yaitu tidak lepas dari persoalan bidang politik.
Muhammadiyah terlibat dalam proses
pembentukan parmusi, dua tokoh Muhammadiyah
tampil sebagai pemimpin Parmusi. Namun tidak
berlangsung lama karena terjadi konflik intern di
tubuh Parmusi, dan memutuskan untuk keluar dan
melepaskan hubungan organisator dengan
organisasi politik yang ada.
D. Aktualisasi Khittah Muhammadiyah dan
Format Peran Politik Kebangsaan

Muhammadiyah berada di pusaran


kehidupan berbangsa dan bernegara sehingga
perlu khittah sebagai garis perjuangan untuk
pembatas yang berfungsi secara objektif.
Khittah ini mampu mengoptimalisasikan peran
gerakan Muhammadiyah melalui jalur non-
politik praktis dan terhindar dari tarikan
kepentingan politik.
D. Aktualisasi Khittah Muhammadiyah dan Format
Peran Politik Kebangsaan
1. Masalah Bangsa
Indonesia sebenarnya memiliki pondasi yang kokoh dan peluang yang
terbuka untuk tegak menjadi bangsa dan negara yang maju, adil dan
makmur, sejahtera bermartabat dan bernegara.
Namun saat ini muncul sejumlah masalah antara lain :
1) Ketergantungan Indonesia kepada pihak asing cukup tinggi, karena
utang Indonesia yang semakin besar.
2) Tingkat pertumbuhan ekonomi mulai naik tetapi tidak disertai
pemerataan sehingga angka kemiskinan dan pengangguran tetap
tinggi.
3) Demokrasi yang maju di bidang politik di sertai dengan persoalan-
persoalan yang belum terintegrasi seperti sistem ketatanegaraan
dan pemerintahan yang rancu.
4) Masalah-masalah sosial-budaya seperti lemahnya rasa dan ikatan
kebangsaan. Kini posisi Indonesia di Asia Tenggara tertinggal
dalam banyak hal.
5) Masalah korupsi.
D. Aktualisasi Khittah Muhammadiyah
dan Format Peran Politik Kebangsaan
Tetapi sencara menyeluruh dan dalam konteks sistem
bangsa Indonesia kini kedepan memerlukan prakondisi
dan faktor-faktor strategis yang penting untuk meraih
kemajuan yaitu :
1) Kepemimpinan yang reformatif, yang mampu untuk
melakukan perubahan kearah kemajuan.
2) Good Govermance, tata pemerintahan yang baik
yang bebas dari korupsi
3) Trust atau kepercayaan, yakni berbagai kondisi
mental dan segala hal yang membuat Indonesia
dipercaya dan memperoleh kepercayaan, baik
internal maupun eksternal.
4) Karakter bangsa, sebagai prasarat mentalitas
dari seluruh warga negara untuk
menampilkan diri sebagia bangsa yang
memiliki watak dan kepribadian yang kuat,
yang ditandai oleh sifat-sifat religius
(agamis), cerdas dan mandiri.
D. Aktualisasi Khittah Muhammadiyah dan Format
Peran Politik Kebangsaan

2. Ranah Politik
Politik secara klasik berkaitan dengan urusan
negara atau pemerintahan. Politik dalam ranah
yang konkret selalu dikaitkan dengan kekuasaan,
termasuk di dalamnya pengaruh dan kekuatan.
Politik dalam konteks negara atau pemerintahan
itu tidaklah sekedar urusan perjuangan
kekuasaan (power struggle) semata
sebagaimana yang tumbuh kuat dalam alam
pikiran sebagian masyarakat.
Muhammadiyah memandang politik sebagai
alat perjuangan Islam melalui kekuasaan negara, yang
termasuk dalam wilayah al-umur al-dunya wiyyat
(permasalahan kehidupan dunia). Karena itu
perjuangan politik harus ditempuh oleh para kader
politik Muhammadiyah dengan segenap kemampuan
dan komitmen yang tinggi.
Pembagian kerja antara partai politik dan
organisasi kemasyarakatan secara tegas jauh lebih
realistik, produktif, dan mencegah konflik yang keras,
yang sebenarnya kurang begitu cocok bagi budaya
politik Indonesia maupun kultur dan sistem politik
modern.
D. Aktualisasi Khittah Muhammadiyah dan Format
Peran Politik Kebangsaan

3. Khittah Politik
Muhammadiyah bahkan dipandang tidak memiliki konsep
politik yang jelas, cenderung sekuler (kecenderungan
memisahkan agama) karena emmisahkan politik dari
gerakannya.
Dipandang pula Muhammadiyah menjauhi politik itu
sebagai bentuk keputusasaan atau majrinalisasi
(peminggiran) diri dari dinamika poltik yang
sesungguhnya jauh lebih penting ketimbang dakwah.
Khittah apapun penting karena dengan Khittah itu
terdapat garis atau bingkai pembatas mana yang boleh
dan tidak boleh dilakukan Muhammadiyah, yang
mengikat seluruh anggota lebih-lebih pimpinannya.
Para kader atau elite pimpinan dalam
menerjemahkan kebijakan organisasipun dituntut
kearifan, kecerdasan dan etika organisasi agar
kebijakan organisasi tidak keluar jauh dari
koridornya karena apapun Muhammadiyah itu
merupakan organisasi Islam yang besar dan
menjadi amanah sejarah perjuangan umat Islam
dan bangsa Indonesia yang harus tetap dijaga
eksistensinya, keutuhan dan komitmen utama
gerakannya. Muhammadiyah tidak boleh menjad
lahan pertaruhan politik dan karena itu diperlukan
Khittah Perjuangan.
D. Aktualisasi Khittah Muhammadiyah dan Format
Peran Politik Kebangsaan

4. Peran Politik
Muhammadiyah akan menjadi salah posisi dan tidak
tepat manakala dipandang dan diposisikan dari sudut
partai politik atau kepentingan perjuangan kekuasaan
yang bersifat praktis. Organisasi kemasyarakatan maupun
organisasi politik bersama-sama membangun abngsa dan
negara.
Muhammadiyah baik dengan Khittah maupun tanpa
Khittah, sesungguhnya telah berada di jalur yang tepat,
sebagaimana pihak atau organisasi lain yang mengambil
jalur perjuangan politik sama tepatnya, manakala
semuanya dilakukan dengan terfokus, optimal, sungguh-
sungguh, dan lebih penting lagi dengan mengerahkan
segala potensi dna berpijak pada idealisme.
Peran kader Muhammadiyah dalam politik kebangsaan
yang perlu dikembangkan antara lain sebagai berikut :
1) Membawa dan mengaktualisasikan misi dan usaha
Muhammadiyah secara objektif dan inklusif.
2) Memelihara integritas, komitmen dan akhlak atau
moral politik sebagaimana Kepribadian dan Pedoman
Hidup Islami serta nilai-nilai yang berlaku dalam
Muhammadiyah.
3) Ketika berkiprah dan berada dalam lingkungan
internal Muhammadiyah lebih menunjukkan
Kemuhammadiyahannya daripada kepartaiannya,
meski menjadi politisi tentu saja perlu meraih simpati,
dukungan dan keyakinan dari warga Muhammadiyah.
4) Memberikan dukungan dan topangan terhadap
kepentingan Muhammadiyah melalui kiprahnya di
dunia politik di ranah perjuangan
kekuasaan/pemerintahan.
5) Menjadi politisi yang benar-benar sidiq, amanah,
tabligh dan fathanah dnegan mengedepankan
kewajiban dan tugas utama sebesar-besarnya
memperjuangkan kepentingan rakyat.
6) Berkiprah optimal dalam memajukan bangsa dan
negara sehingga Indonesia menjadi bangsa dna
negara yang maju, adil, makmur, bermartabat dan
berdaulat sebagaimana cita-cita nasional yang
diletakkan oleh para Pnediri Bangsa dan tertuang
dalam Pembukaan UUD tahun 1945.
Penutup
Muhammadiyah dengan Khittah dan manhaj
(sistem) gerakan yang melandasi serta
membingkainya dapat memainkan peran
kebangsaan secara lebih proaktif melalui aktualisasi
kerja-kerja dakwah kemasyarakatan yang lebih
progresif, baik untuk memperkuat basic civic-society
maupun penguatan kehidupan berbangsa dan
bernegara.
Muhammadiyah membebaskan anggotanya untuk
menjadi anggota partai politik namun terdapat
larangan untuk merangkap jabatan, kecuali sudah
mendapatkan ijin dari atasan.