Anda di halaman 1dari 46

KONSEP TEORI

GAGAL GINJAL KRONIK


OLEH :
KELOMPOK IV

1
PENGERTIAN
Gagal Ginjal Kronik (GGK) adalah kemunduran fungsi ginjal yang
menyebabkan ketidakmampuan mempertahankan substansi tubuh
dibawah kondisi normal. Gagal Ginjal Kronik adalah kerusakan yang
progresif pada nefron yang mengarah pada timbulnya uremia yang secara
perlahan-lahan meningkat.( Muhammad,2012 ).

2
ETIOLOGI
• Glomerulonefritis
• Pielonefritis
• Nefrosklerosis
• Sindroma Nefrotik
• Tumor Ginjal

3
PATOFISIOLOGI

4
MANIFESTASI KLINIK
 Kelebihan cairan : edema, oliguri,
hipertensi, gagal jantung kongestif
Ketidakseimbangan cairan  Penipisan volume vaskuler : poliuria,
penurunan asupan cairan, dehidrasi

 Hiperkalemia : gangguan irama jantung, disfungsi


miokardial
 Hipernatremia : haus, stupor, takikardia, membran
kering, peningkatan refleks tendon profunda,
Ketidakseimbangan elektrolit penurunan tingkat kesadaran
 Hipokalemia dan hiperfosfatemia : iritabilitas, depresi,
kram otot, parastesia, psikosis, tetani
 Hipokalemia : penurunan reflek tendon profunda,
hipotonia, perubahan EKG

5
MANIFESTASI KLINIK
 Gatal gatal
 Kram dan kelemahan otot
Ensefalopati dan neuropati  Bicara tidak jelas
uremik  Parastesia telapak tangan dan telapak kaki
 Konsentrasi buruk
 Mengantuk
 Tanda tanda peningkatan tekanan intrakranial
 Koma
 Kejang

Asidosis : takipnea
 Pucat
 Kelemahan
Anemia dan disfungsi sel  Perdarahan ( stomatitis, feses
darah berdarah )

6
MANIFESTASI KLINIK
 Pertumbuhan tulang yang abnormal
Disfungsi pertumbuhan  Perkembangan seksual yang terhambat
 Malnutrisi dan pelisutan otot
 Selera makan buruk
 Nyeri tulang
 Ketidakteraturan menstruasi.

7
KOMPLIKASI
Akibat penurunan ekskresi asidosis metabolic,katabolisme dan
Hiperklemia masukan cairan berlebihan.

Efusi pericardial,dan temponade jantungakibat retensi produksi


Perikarditis sampahuremik dan dialysis yang tidak adekuat.

Akibat retensi cairan dan natrium serta mal fungsi dan system
Hipertensi renin.

Akibat penurunan eritropoetin,penurunan rentang usia sel dara


Anemia mera,perdarahan gastro intestinal.

Penyakit tulang Akibat retensi fospat.

8
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Pemeriksaan lab.darah  Urine
Hematologi Urine rutin
Hb, Ht, Eritrosit, Lekosit, Urin khusus : benda keton,
Trombosit analisa kristal batu
RFT ( renal fungsi test )  Pemeriksaan kardiovaskuler
ureum dan kreatinin ECG
LFT (liver fungsi test ) ECO
Elektrolit  Radiodiagnostik
Klorida, kalium, kalsium USG abdominal
Koagulasi studi CT scan abdominal
PTT, PTTK Renogram
RPG ( retio pielografi )

9
PENATALAKSANAAN
Dialisis (cuci darah)
Obat-obatan: antihipertensi, suplemen besi, agen
pengikat fosfat, suplemen kalsium, furosemid
(membantu berkemih)
Diit rendah protein dan tinggi karbohidrat
Transfusi darah
Transplantasi ginjal
10
RESUME KEPERAWATAN
RUANG HEMODIALISA

11
IDENTITAS
Nama (Inisial) : Ny. “HT”
Usia / tanggal lahir : 03 Juli 1950 / 68 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Alamat : Hative besar
Suku / bangsa : Maluku/ Indonessia
Status pernikahan : Menikah
Agama / keyakinan : Kristen Protestan
Pekerjaan / sumber penghasilan : Pensiunan PNS
Diagnosa medik : CKD on HD
No. RM : 02 92 95

12
FASE PRE HEMODIALISA
Keluhan utama : Peningkatan berat badan
Riwayat Keluhan Saat ini : pasien datang dengan keluhan
peningkatan berat badan dari 47,8 Kg menjadi 49,3 Kg
Riwayat kesehatan masa lalu : Pasien pernah menderita
Hipertensi
Riwayat Kesehatan Keluarga : Dalam keluarga ada yang
menderita penyakit hipertensi yaitu ayah

13
PEMERIKSAAN FISIK
A. DATA FOKUS
• Keadaan umum : Lemah
• Kesadaran : Compos Mentis dengan GCS E4 M6 V5
• Tekanan darah : 170/90 mmHg
• Nadi : 92 x/m
• Respirasi : 24 x/m
• Suhu : 37 °C
• Berat badan : 49,3 Kg
14
B. KEPALA
• Inspeksi, Tidak ada ketombe, rambut tidak rontok dan
beruban, distribusi rambut merata, bentuk kepala
normocephal,dan odema pada Wajah
• Palpasi, Tidak ada benjolan dan nyeri
C. LEHER
• Inspeksi, Ada distensi vena Jugularis 9 cmH2O, tidak ada
benjolan dan pembesaran kelenjar tyroid
• Palpasi, Tidak teraba benjolan

15
D. DADA
• Inspeksi, Bentuk dada anterior posterior Transversal 1:2, Ekspansi dada simetris,
Payudara Simetris, retraksi dada tidak ada
• Palpasi, tidak ada benjolan pada mamae dan tidak ada nyeri tekan
• Auskultasi, Bunyi Napas Vesikuler
• Perkusi, Bunyi paru sonor / resonan
• Auskultasi Jantung, bunyi jantung S1 dan S2 tidak ada bunyi tambahan
E. ABDOMEN
• Inspeksi, Tidak ada asites bentuk datar
• Palpasi, tidak teraba benjolan tidak ada nyeri tekan, tidak ada massa dan penumpukan
cairan
• Perkusi, Membran Timpani
• Auskultasi, Suara peristaltik terdengar setiap 5-20 x/dtk

16
F. EKSTREMKITAS
• Atas, bergerak bebas dan ada terpasang AV Shunt (
Ekstremitas kanan)
• Bawah, Odema di kedua tungkai (derajat 3), tidak
bergerak bebas
G. INTEGUMEN
• Inspeksi, Warna kulit tampak pucat,
• Palpas, Turgor kulit tidak elastic

17
POLA KEBUTUHAN DASAR
• SRIKULASI : TD 170/90 mmHg, Nadi 92x/m, RR 24 x/m, bunyi vesikuler
• OKSIGENISASI : Pada jalan napas tidak ada sumbatan/obstruksi, SPO2 97 %
• NUTRISI
MAKAN : Sebelum sakit, Frekuensi makan 3 x sehari
Saat sakit, frekuensi makan 3 x sehari dengan mengdindari menu makanan yang kandungan airnya
banyak
MINUM : Sebelum sakit 6 – 8 gelas/ 24 jam
Saat sakit ± 2 gelas/24 jam ( ±400 ml/24 jam )
• ELIMINASI
BAB : Sebelum dan saat sakit : Frekuensi 1- 2 x sehari
Konsistensi Lunak
Warna Coklat
Bau
BAK : Sebelum sakit : Frekuensi 3-4 x sehari
Saat sakit : Frekuensi 1 x sehari
Volume ± 100 cc/ 24 jam

18
 Istirahat dan Tidur
Sebelum sakit, tidur siang 2-3 jam; tidur malam 6-7 jam
Saat sakit, tidur siang 1 jam; tidur malam 6-7 jam /hari kadang terjaga
 Kenyamanan
Pasien merasa aman dan nyaman bersama keluarga, Perawat, tidak ada
gangguan rasa nyaman nyeri maupun kecemasan
 Pola berpakaian
Dilakukan secara mandiri
 Pola Belajar
Pasien sudah mengerti tentang penyakit , Diit, Terapi yang dijalani dan
pembatasan cairan

19
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Interprestasi

21 – 03 - Kimia Klinik
2018 Glukosa Puasa 91 mg/dl 80 – 100 mg/dl
Ureum 107 mg/dl 10 – 50 mg/dl
Kreatinin mg/dl 0.7 – 1.2 mg/dl
Asam Urat 6.3 mg/dl < 7 (P),< 6 (W)
Kolesterol total 155 mg/dl < 200
SGOT 23 u/L < 33
SGPT 21 u/L < 50
Bilirubin total 0.7 mg/dl < 1.5
Bilirubin direk 0.3 mg/dl < 0.5
Bilirubin indirek 0.4 mg/dl < 1.1

20
PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tanggal Jenis Pemeriksaan Hasil Nilai Normal Interprestasi

21 – 03 - Hematologi
Jumlah Eritrosit 3.15 1 3.5 – 5.5
2018 Hemoglobin 9.6 g/dl 14.0 – 18.0 (P), 12.0 – 15.0 (W)
Hematokrit 27.3 % 40 – 52 (P), 37-43 (W)
MCV 87 80 – 100
MCH 30.3 27 – 32
MCHC 35.0 32 – 36
RDW 15.3 11 – 16
Jumlah trombosit 17.3 150 – 400
MPV 8.7 6 – 11
PCT 0.150 0.150 – 0.500
PDW 15.3 11 – 18
Jumlah Leukosit 9.4 5.0 – 10.0
Hitung Jenis
Neutrofil 77.1 50 – 70
Limfosit 12.0 20 – 40
Monosit 9.0 2–8
Eosinofil 1.5 1–3
Basofil 0.4 0-1

21
DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO ANALISA DATA ETIOLOGI MASALAH

DS : - Intake lebih banyak dari output Kelebihan Asupan Hipervolemia


Intake selama 24 Jam 400 ml Cairan
Output semala 24 Jam 100 ml

DO : - Odema pada wajah


Odema pada kedua tungkai
(derajat 3)
Distensi Vena Jugularis 9 cmH2O
TTV TD 170/90 mmHg, N 92
x/m,RR 24 x/m, S 37°C
BB naik 1500 gram

22
INTERVENSI KEPERAWATAN
TUJUAN INTERVENSI
NO DX. KEP (KRITERIA NOC) (KRITERIA NIC)

Hipervolemia Setelah dilakukan tindakan Kaji lokasi dan luasnya odema


berhubungan dengan keperawatan selama 4 Jam Mengukur TTV pasien
kelebihan asupan cairan Hipervolemia teratasi dengan Monitor Cairan / makanan
Indikator, yang dikonsumsi
1. Tidak Terganggu : Monitor indikasi retensi cairan
Keseimbangan Intake dan Menimbang BB sebelum
Output dalam 24 Jam dialisis
Tekanan darah Edukasi Pasien dan keluarga
Berat badan stabil untuk Jaga intake/ asupan dan
2. Tidak ada output yang adekuat
Distensi vena jugularis Untuk pembatasan cairan
Odema
23
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
NO HARI/TGL/JAM TINDAKAN
DX.KEP
 Mengkaji lokasi dan luasnya odema
1 22 Maret 2018, Hasil : Odema wajah dan tungkai
Jam 3.15 WIT  Mengukur TTV pasien
Hasil : TD 170/90 mmHg
N 92 x/m
S 37°C
RR 24 x/m
 Monitor Cairan/makanan yang dikonsumsi
Hasil : Batasi minuman dan makanan yang banyak mengandung air
Intake lebih banyak dari output
Intake selama 24 Jam 400 ml
Output semala 24 Jam 100 ml
 Monitor indikasi retensi cairan
Hasil : Tampak kelebihan cairan dengan adanya odema pada wajah dan tungkai
Distensi vena jugularis
 Menimbang BB sebelum dialisis
Hasil : berat badan pasien pre HD 49,3 Kg
 Mengedukasi pasien dan keluarga untuk Mejaga intake dan output yang adekuat untuk pembatasan cairan

Hasil : Pasien dan Keluarga Paham dan mengerti tentang pembatasan cairan untuk mempertahankan Balance Cairan

24
EVALUASI KEPERAWATAN
NO HARI/TGL/JAM EVALUASI
DX.KEP
1 22 Maret 2018, S:-
Jam 13.30 WIT O : - Odema Wajah dan Tungkai
TTV, TD 170/90 mmHg, N 92 x/m, RR 24 x/m, BB 49,3 Kg
Oliguri ( Intake 400 ml/24 jam, Output 100 ml/24 jam
A : Hipervolemia belum teratasi
P : Lanjutkan Intervensi
Kaji lokasi dan luasnya odema
Monitor TTV
Memantau cairan dan makanan yang dikonsumsi
Monitor indikasi retensi cairan
Menimbang BB pasien post HD

25
FASE INTRA HEMODIALISA
Tanggal dan Jam pengkajian : 22 Maret 2018, Jam 14.00 WIT
1. Persiapan HD
 Reuse Ke : Non Reuse
 Lama Dialisi : 4 Jam ( mulai jam 14.00 – 18.00 WIT)
 Ultrafiltrasi Goal : 1500 ml
 Ultrafiltrasi Rate : 375 ml/min
 Conductivity : 14.4 mS/cm
 Aliran Dialisat : Lancar
 Antikoagulan : Heparine
 Kontinyu : 3000 ui
 Jenis Akses : AV Shunt
 Ukuran jarum Fistula : 16 G
 Total Blood Volume : 170 ml/min

26
DATA FOKUS
 Data Subyektif : Sesak
 Data Obyektif : Kesadaran Compos Mentis
 TTV : TD 180/90 mmHg, N 98 x/m, RR 28 x/m, S 37°C,
 SPO2 : 97 %

27
TINDAKAN KEPERAWATAN SELAMA HD/FOLLOW UP DIALYSIS

Jam Blood UF TD Nadi Suhu RR Intake Output Paraf


(WIT) Flow Rate (mmHg) (x/m) ( °C ) (x/m) NaCl Lain UF
0,9 % lain Goal
14.00 170 0 0
15.00 165 375 170/90 98 37 28 375
16.00 165 375 170/90 98 37 28 750
17.00 165 375 1125
18.00 165 375 1500

28
TINDAKAN KEPERAWATAN SELAMA HD/FOLLOW UP DIALYSIS
 Observasi
 Pengobatan selama HD : Tidak ada
 Pengawasan Cairan selama HD
 Volume Priming : 50 ml
 Cairan Masuk : 500 ml
 Sisa Priming : 400 ml
 Cairan Drip : 0 ml
 Darah : 0 ml
 Wash Out : 50 ml
 Jumlah : 50 ml
 Penyulit selama HD : Tidak ada

29
DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO ANALISA DATA ETIOLOGI MASALAH

DS : Sesak Hiperventilasi Pola Napas tidak


efektif
DO : Tampak sesak
Penggunaan otot bantu pernapasan
RR 28 x/m
SPO2 97 %

30
INTERVENSI KEPERAWATAN
TUJUAN INTERVENSI
NO DX. KEP (KRITERIA NOC) (KRITERIA NIC)

Pola nafas tidak efektif Setelah dilakukan tindakan Posisikan pasien untuk
berhubungan dengan keperawatan selama 4 jam, pasien memaksimalkan ventilasi
hiperventilasi menunjukan Keefektifan pola Monitor status pernafasan dan
nafas, dibuktikan dengan indikator oksigenisasi
 Menunjukan jalan nafas yang Auskultasi suara nafas, catat jika
paten ( frekuensi nafas dalam ada suara nafas tambahan
batas normal Mengukur vital sign
Tanda – tanda vital dalam batas Kolaborasi dengan dokter
normal
Tidak ada penggunaan otot
bantu nafas dan retraksi dinding
dada
31
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
NO HARI/TGL/JAM TINDAKAN
DX.KEP
1 22 Maret 2018,  Mengatur Posisi pasien untuk memaksimalkan ventilasi
Jam 15.00 WIT Hasil : Sesak berkurang dan pasien tenang
 Monitor status pernafasan dan oksigenisasi
Hasil : RR 28 x/m, SPO2 97%
 Mengatur asupan cairan untuk mengoptimalkan keseimbangan cairan
 Auskultasi suara nafas, catat jika ada suara nafas tambahan
Hasil : tidak ada suara nafas tambahan
 Mengukur vital sign
Hasil : TD 170/90, N 98 x/m, RR 28 x/m
 Kolaborasi dengan dokter
Hasil : Pemberian oksigen 3 ltr/mnt

32
EVALUASI KEPERAWATAN
NO HARI/TGL/JAM EVALUASI
DX.KEP
1 22 Maret 2018, S : Sesak sedikit berkurang
Jam 15.30 WIT O : Sesak tampak berkurang, pasien tampak tenang
RR 26 x/m, N 94 x/m
A : Pola nafas tidak efektif teratasi
P : Lanjutkan Intervensi
Mengatur posisi pasien
Monitor TTV
Monitor status pernafasan dan oksigenisasi

33
FASE POST HEMODIALISA
1. DATA FOKUS
 Data Subyektif : Lelah, merasa kurang bertenaga dan membatasi
gerakan selama proses hemodialisis
 Data Obyektif : Kesadaran : CM, Tampak lesu, dan pergerakan tampak
 Minimal selama Hemodialisis
 Vital Sign : TD 170/90 mmHg, S 36,5°C, N 94 x/m,
RR 26 x/m SPO2 97%
 BB Setelah HD 47,9 kg, odema
 Lama Dialisis : 4 jam Mulai : 14.00 Wit Selesai : 18.00 Jam
Ultra Filtrasi : 1.5 Liter (1500 ml) Qb : 165 ml/mnt
 Pemberian Heparine :
 Kontinyu , Bolus 3000 iu, Dosis Maintenance 3000 iu/jam
34
DIAGNOSA KEPERAWATAN
NO ANALISA DATA ETIOLOGI MASALAH

DS : Lelah, kurang bertenaga Kondisi fisiologis keletihan


Membatasi gerakan selama proses
hemodialisis

DO : Tampak lesu
Pergerakan tampak minimal selama
hemodialisis

35
INTERVENSI KEPERAWATAN
TUJUAN INTERVENSI
NO DX. KEP (KRITERIA NOC) (KRITERIA NIC)

Keletihan berhubungan Setelah dilakukan tindakan keperawatan  Monitor dan catat waktu dan lama
dengan kondisi fisiologis selama 30 menit post hemodialisis, istirahat / tidur pasien selama HD
diharapkan Keletihan teratasi dengan  Monitor sistem kardiorespirasi pasien
indikator : setelah proses hd
1. Secara konsisten menunjukan  Lakukan ROM aktif / pasif untuk
Menyadari keterbatasan energi menghilangkan ketegangan otot
2. Tidak terganggu :  Berikan kegiatan pengalihan untuk
 Pemulihan energi setelah istirahat meningkatkan relaksasi
 Hematokrit  Berikan kegiatan pengalihan untuk
 Gula darah meningkatkan relaksasi
3. Tidak ada :
 Kelelahan
Tenaga yang terkuras

36
IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
NO HARI/TGL/JAM TINDAKAN
DX.KEP
1 22 Maret 2018,  Memonitor dan mencatat waktu dan lama istirahat / tidur pasien
Jam 18.10 WIT Hasil : pasien nampak sesekali tertidur walau durasinya tidak lama

 Memonitor sistem kardiorespirasi pasien setelah proses hd


Hasil : TD 170/90 mmHg, RR 26 x/m

 Melakukan ROM aktif / pasif untuk menghilangkan ketegangan otot


Hasil : Pasien mengatakan keletihan dan ketegangan otot berkurang
(dilakukan pada daerah yg tidak terpasang AV Shunt)

 Memberikan kegiatan pengalihan untuk meningkatkan relaksasi


dengan teknik bernapas dalam
Hasil : keletihan dan ketegangan otot berkurang

37
EVALUASI KEPERAWATAN
NO HARI/TGL/JAM EVALUASI
DX.KEP
1 22 Maret 2018, S : Kelelahan berkurang
Jam 18.30 WIT
O : Tidak tampak lesu, pergerakan bebas

A : Kelelahan teratasi

P : Intervensi dihentikan

38
JURNAL
JUDUL TANGGAPAN

Napas dalam menurunkan tingkat kelelahan pasien


post Hemodialisis Rumah Sakit Muhammadiyah Astuti dkk, melihat tingkat kelelahan
Bandung (Astuti,Kusmiran E, Gatinungsih Y)
post HD secara umum sementara Cahyu,
Pengaruh Breathing Exercise terhadap Level melihat sampai pada Level Kelelahan
Fatugue Pasien Hemodialisis di RSPAD Gatot HD pada pasien
Subroto Jakarta (Cahyu Septiwi)

39
Napas dalam menurunkan tingkat kelelahan
LATAR BELAKANG
Pengaruh Breathing Exercise terhadap Level
pasien post Hemodialisis Rumah Sakit Fatugue Pasien Hemodialisis di RSPAD Gatot
Muhammadiyah Bandung TANGGAPAN Subroto Jakarta
(Astuti,Kusmiran E, Gatinungsih Y) (Cahyu Septiwi)

Data statistik pasien Gagal ginjal di Indonesia (Roesli, 2005, Susanto, 2010, Suharjono,
Gagal ginjal kronik (GGK) bersifat irreversibeble 2010); Jadwal pengobatan HD 2-3 kali seminggu dengan lama waktu 4-5 jam; Efek terapi HD
selama 5 jam Pasien akan merasakan kelelahan, sakit kepala dan keluar keringat dingin
(Baradero, 2009); Pasien ESRD (Lewis, 2008); Efek akibat tekanan darah yang menurun ; Status nutrisi yang buruk juga dapat menyebabkan
Hemodialisis kronik (Sulistini, 2012); Jadwal penderita mengeluh malaise dan fatigue, Selain itu kadar oksigen rendah karena anemia,
pengobatan HD 3-4 jam selama 3 kali/minggu (Black & konsentrasi menurun, gangguan tidur, gangguan emosional, uremia dan penurunan
kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehariharinya (Black, 2005; Jhamb, 2008;
Hawks, 2014); Pengaruh proses terapi Hemodialisis Brunner & Suddarth (2001)); Koyama (2010) menemukan bahwa terdapat hubungan antara
melebihi waktu 5 Jam (Septiwi, 2013); Efek kelelahan level fatigue dengan meningkatnya resiko penyakit cardiovaskuler. Pengukuran fatigue
diperlukan untuk menentukan level dan meminimalkan progresifitas dan komplikasi akibat
pada pasien post-Hemodialisis (Septiwi, 2013); Kondisi fatigue pada pasien hemodialisis. Jham et al (2008) mengemukakan bahwa 94% pasien
kelelahan pasien HD (Septiwi, 2013); 8). Terapi dan hemodialisis mengalami peningkatan level fatigue dan penurunan skor kualitas hidup.
Breathing exercise adalah teknik penyembuhan yang alami untuk mengatasi berbagai
teknis medis alternatif (Black & Hawks, 2014) keluhan seperti fatigue.

Cahyu lebih banyak menjelaskan tentang pasien gagal ginjal


yang mengalami kelelahan dengan berpatokan pada beberapa
nara sumber yang menjadikan latar belakannya menjadi lebih
meyakinkan yang membaca, sementara Astuti dkk, tdk 40
TUJUAN
Napas dalam menurunkan tingkat kelelahan
TANGGAPAN
Pengaruh Breathing Exercise terhadap Level
pasien post Hemodialisis Rumah Sakit Fatugue Pasien Hemodialisis di RSPAD Gatot
Muhammadiyah Bandung Subroto Jakarta
(Astuti,Kusmiran E, Gatinungsih Y) (Cahyu Septiwi)

Mengtahui pengaruh napas dalam terhadap Mengetahui Pengaruh Breathing


tingkat kelelahan pada pasien post-hemodialisis Exercise terhadap Level Fatugue
Pasien Hemodialisis

Umumnya kedua peneliti ini melihat pengaruh napas dalam


pada pasien HD, akan tetapi ada sedikit perbedaan didalam
menggunakan parameter khususnya pada penelitian Cahyu
Septiwi lebih terhadap level kelelahan (1, 2, 3, dst….)

41
METODOLOGI PENILITIAN
Napas dalam menurunkan tingkat kelelahan Pengaruh Breathing Exercise terhadap Level
pasien post Hemodialisis Rumah Sakit Fatugue Pasien Hemodialisis di RSPAD Gatot
Muhammadiyah Bandung TANGGAPAN Subroto Jakarta
(Astuti,Kusmiran E, Gatinungsih Y) (Cahyu Septiwi)

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi


Penelitian ini menggunakan metode eksperimen (Quasy eksperimen dengan pendekatan pre-post test design. Populasi
experiment) dengan pendekatan pre-post test without dalam penelitian ini adalah
control. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 26 semua pasien di Unit Hemodialisis kriteria inklusi yaitu pasien
responden dan teknik pengambilan sampel dengan yang menjalani hemodialisis reguler 2 kali/minggu, usia pasien
consecutive sampling. Uji statistik yang digunakan 20-60 tahun, dapat berkomunikasi dengan baik, tidak menderita
adalah Mcnemar. Variabel penelitian yaitu tingkat kelainan mental, dan tidak mempunyai komplikasi penyakit yang
kelelahan sebelum dan sesudah dilakukan napas dalam. membahayakan. Data diuji menggunakan uji statistik uji T
berpasangan (paired t test).

sama-sama menggunakan (Quasy experiment) dengan


pendekatan pre-post test namun dalam uji statistik berbeda
peneliti Astuti dkk menggunakan Uji Mcnemar, sementara
Cahyu menggunakan uji t berpasangan (paired test) 42
Napas dalam menurunkan tingkat kelelahan pasien post
PEMBAHASAN Pengaruh Breathing Exercise terhadap Level Fatugue
Hemodialisis Rumah Sakit Muhammadiyah Bandung Pasien Hemodialisis di RSPAD Gatot Subroto Jakarta
(Astuti,Kusmiran E, Gatinungsih Y) (Cahyu Septiwi)
TANGGAPAN

Di dapat tingkat kelelahan sebelum dilakukan napas Data statistik pasien Gagal ginjal di Indonesia (Roesli, 2005, Susanto, 2010, Suharjono, 2010); Jadwal
pengobatan HD 2-3 kali seminggu dengan lama waktu 4-5 jam; Efek terapi HD selama 5 jam Pasien
dalam lebih dari setengahnya mengalami kelelahan akan merasakan kelelahan, sakit kepala dan keluar keringat dingin akibat tekanan darah yang menurun ;
Status nutrisi yang buruk juga dapat menyebabkan penderita mengeluh malaise dan fatigue, Selain itu
61,5% (16 orang) dan sebagian kecil tidak mengalami kadar oksigen rendah karena anemia, konsentrasi menurun, gangguan tidur, gangguan emosional,
kelelahan 38,5% (10 orang) sedangkan sesudah uremia dan penurunan kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehariharinya (Black, 2005;
Jhamb, 2008; Brunner & Suddarth (2001)); Koyama (2010) menemukan bahwa terdapat hubungan
dilakukan napas dalam terdapat sebagian kecil antara level fatigue dengan meningkatnya resiko penyakit cardiovaskuler. Pengukuran fatigue
diperlukan untuk menentukan level dan meminimalkan progresifitas dan komplikasi akibat fatigue pa 1.
mengalami kelelahan 23,1% dan lebih dari setengahnya Responden dalam penelitian ini mengalami fatigue dengan level yang bervariasi, yang disebabkan oleh
tidak mengalami kelelahan 76,9%. Terdapat pengaruh kondisi uremia dengan kadar ureum di atas normal, anemia dengan Hb rata-rata 9 g/dL, dan kurang
intake nutrisi karena adanya mual dan muntah akibat uremia ; Fatigue yang dialami oleh responden
yang bermakna sesudah dilakukan napas dalam menyebabkan penurunan konsentrasi, malaise, gangguan tidur, gangguan emosional, dan penurunan
kemampuan pasien dalam melakukan aktivitas sehariharinya;
terhadap tingkat kelelahan pada pasien post 2. Penerapan intervensi breathing exercise pada 10 Responden berdampak positif setelah dilakukan
hemodialisis di ruang hemodialisis Rumah Sakit secara teratur selama 4 minggu, ditunjukkan dari penurunan level fatigue pada semua responden dengan
tingkat yang bervariasi. Perbedaan penurunan level fatigue disebabkan oleh kondisi, frekuensi dan
Muhammadiyah Bandung dengan nilai P = 0,002. ketekunan responden dalam melakukan latihan ini di rumah, karena latihan ini tidak hanya dilakukan
selama proses hemodialisis saja;
3. ratarata level fatigue responden sebelum dilakukan breathing exercise adalah 5,70 dengan standar
deviasi 0,95. Setelah dilakukan breathing exercise rata-rata level fatigue responden adalah 3,80 dengan
Kedua peneliti membahas tentang tingkat kelelahan (fatigue) standar deviasi 1,23. Perbedaan nilai mean level fatigue sebelum dan setelah dilakukan reathing
pada pasien HD, sebelum dan sesudah (pre-post), pemberian exercise adalah 1,90. Hasil uji T berpasangan (paired t test) didapatkan nilai p 0,000 (p < 0,05) sehingga
napas dalam. Namun pada peneliti Cahyu, dalam penelitiannya dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara level fatigue sebelum dan sesudah
ada indikator berupa level kelelahan (fatigue)1, 2,3,4 dst yang breathing exercise da pasien hemodialisis. Jham et al (2008) mengemukakan bahwa 94% pasien
tidak dibahas dan diinformasikan apa hubungan antara level hemodialisis mengalami peningkatan level fatigue dan penurunan skor kualitas hidup. Breathing
exercise adalah teknik penyembuhan yang alami untuk mengatasi berbagai keluhan seperti fatigue.
kelelahan dengan pemberian napas dalam. pada level mana
sebaiknya dilakukan napas dalam sehingga pasien akan terasa 43
lebih nyaman.
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN
Penelitian 1 (Astuti,Kusmiran E, Gatinungsih Y)
Kelebihan : Peneliti melihat bahwa penerapan napas dalam bagi pasien HD sangat membantu
mengatasi tingkat kelelahan, dan ini direkomendasikan bagi tindakan keperawatan di setiap rumah
sakit. Kekurangan : Kelelahan terjadi tidak terlepas dari karakteristik yang melekat pada pasien seperti
penambahan usia, jenis kelamin, frekuensi napas, lama menjalani hemodialisis, dan pekerjaan. itu yang
tidak diteliti atau sebagai indikator penelitian. semakin banyak indikator penelitian makan smakin baik
hasil yang didapatkan.
Penelitian 2. (Cahyu Septiwi)
Kelebihan: Peneliti melihat peranan breathing exercise bagi pasien HD dalam mengatasi fatigue
(kelelahan), dan merekomendasikan bagi keperawatan dalam mengambil tindakan disaat pasien akan
menjalani cuci darah. Kekurangan : Peneliti tidak menyampaikan pada level mana yang tepat (1, 2, 3,
4, dst) untuk seharusnya diambil tindakan melakukan breathing exercise bagi pasien HD.

44
IMPLIKASI KEPERAWATAN

Implikasi : Tindakan keperawatan dalam


menangani pasien HD yang kelelahan hanya
sebatas dengan bantuan teknis berupa penerapan
napas dalam, tetapi untuk tindakan selanjutnya
dapat dikonsultasikan dengan dokter ahli.

45
D..A..N..K..E..E..E..E..E..E

46