Anda di halaman 1dari 24

FARMAKOTERAPI TERAPAN

ASMA
Kelas A Kelompok 9
Deby Septiana 2015000032
Deny Wirawan 2015000033
Devi Muliawati 2015000033
Dewi Anastasia K 2015000033
Glenry Manoppo 2015000149

Program Studi Profesi Apoteker


Universitas Pancasila
2014-2015
PENDAHULUAN
 Asma adalah suatu keadaan klinik yang ditandai
oleh terjadinya penyempitan bronkus yang
berulang namun reversibel.
PATOFISIOLOGI ASMA
PATOFISIOLOGI
DIAGNOSIS
 Gejala yang bersifat episodik
 Napas menjadi cepat dan dangkal
 Terdengar bunyi mengi pada pemeriksaan dada (pada
serangan sangat berat biasanya tidak lagi terdengar mengi,
karena pasien sudah lelah untuk bernapas).
 Pemeriksaan fungsi paru, yang dapat diperiksa dengan
spirometri atau peak expiratory flow meter.
PENILAIAN FUNGSI PARU
Istilah Definisi Nilai normal
FVC/KVP Forced vital capacity; kapasitas vital paksa; total 80% - 120%
volume udara yang dikeluarkan maksimal
FEV1 / VEP1 Forced expiratory volume in one second; volume 80 - 120%
ekspirasi paksa dalam 1 detik; volume udara yang
dihembuskan pada satu detik sebelum inhalasi
maksimal
FEV1/ FVC ratio The percentage of the FVC expired in one second. Within 5% of the
predicted ratio
Volume tidal(VT) jumlah udara yang dihirup dan dihembuskan 350-400 ml
setiap kali bernafas pada saat istirahat
Volume jumlah gas yang tersisa di paru-paru setelah 1200 ml
residu(RV) menghembuskan nafas secara maksimal atau ekspirasi
paksa
Kapasitas jumlah gas yang dapat diekspirasi setelah 4800 ml
vital(VC) inspirasi secara maksimal
Kapasitas total jumlah total udara yang dapat dimasukkan ke dlm 6000 ml
paru-paru(TLC) paru-paru setelah inspirasi maksimal.
Kapasitas residu jumlah gas yang tertinggal di paru-paru setelah 2400 ml
fungsional(FRC) ekspirasi volume tidal normal.
Kapasitas jumlah udara maksimal yang dapat diinspirasi setelah 3600 ml
Inspirasi(IC) ekspirasi normal.
KLASIFIKASI ASMA
Derajat asma Gejala Fungsi Paru

I. Intermiten Siang hari < 2 kali per minggu Variabilitas APE < 20%
Malam hari < 2 kali per bulan VEP1 > 80% nilai prediksi
Serangan singkat APE > 80% nilai terbaik
Tidak ada gejala antar serangan
Intensitas serangan bervariasi
II. Persisten Ringan Siang hari > 2 kali per minggu, tetapi < 1 Variabilitas APE 20 - 30%
kali per hari VEP1 > 80% nilai prediksi
Malam hari > 2 kali per bulan APE > 80% nilai terbaik
Serangan dapat mempengaruhi aktifitas
III. Persisten Sedang Siang hari ada gejala Variabilitas APE > 30%
Malam hari > 1 kali per minggu VEP1 60-80% nilai prediksi
Serangan mempengaruhi aktifitas APE 60-80% nilai terbaik
Serangan > 2 kali per minggu
Serangan berlangsung berhari-hari
Sehari-hari menggunakan inhalasi β2-agonis
short acting
IV. Persisten Berat Siang hari terus menerus ada gejala Variabilitas APE > 30%
Setiap malam hari sering timbul gejala VEP1 < 60% nilai prediksi
Aktifitas fisik terbatas APE < 60% nilai terbaik
Sering timbul serangan
ISTILAH
 Hyperpnea pergerakan napas meningkat
 Eupnea pergerakan napas normal
 Hypopnea pergerakan napas menurun
 Apnea berhenti napas dalam waktu singkat
 Bradypnea kecepatan napas menurun(<10 x
hembusan permenit)
 Tachypnea kecepatan napas meningkat (>60 x
hembusan permenit)
 Dyspnea kesulitan bernapas
 Asphyxia ketidakmampuan bernapas
 Orthopnea kesulitan bernapas, kecuali keadaan
duduk
PENATALAKSANAAN
 Tujuan penatalaksanaan asma :
 Menghilangkan dan mengendalikan gejala asma
 Mencegah eksaserbasi akut
 Meningkatkan dan mempertahankan faal paru
seoptimal mungkin
 Mengupayakan aktiviti normal termasuk exercise
 Menghindari efek samping obat
 Mencegah terjadinya keterbatasan aliran udara
(airflow limitation) ireversibel
 Mencegah kematian karena asma
TERAPI NONFARMAKOLOGI
 Edukasi
 Identifikasi dan mengendalikan faktor pencetus

 Pemberian oksigen

 Banyak minum untuk menghindari dehidrasi


terutama pada anak-anak
 Kontrol secara teratur

 Pola hidup sehat


 Penghentian merokok
 Menghindari kegemukan
 Kegiatan fisik misalnya senam asma
TERAPI FARMAKOLOGI

 Bronkodilator  Kortikosteroid
 Simpatomimetik, terutama  Antagonis Reseptor
β2 Leukotrien
 Antikolinergik
 Obat lainnya: antihistamin,
 Metilxantin ekspektoransia
 Kromolin
MEKANISME KERJA OBAT
OBAT ASMA
Golongan Obat Mekanisme Contoh obat

B2 Agonis Stimulasi reseptor β2 yang menyebabkan Salbutamol, Salmeterol,


bronkodilatasi, peningkatan klirens mukosiliari, Terbutalin, Formoterol
stabilisasi sel mast dan menstimulasi otot skelet
Antikolinergik menghambat reseptor M3 pada otot polos sehingga Tiotropium Br, Iatropium
terjadi bronkodilasi. Br
Metil Xantin merelaksasi secara langsung otot polos bronkus, Teofilin, Theobromin
merangsang SSP, otot jantung, meningkatkan
diuresis
Kromon menghambat pelepasan mediator, histamin dan Kromolin sodium,
SRS-A (Slow Reacting Substance Anaphylaxis, nedokromil sodium
leukotrien) dari sel mast
Kortikosteroid menurunkan jumlah dan aktivitas dari sel yang Budesonid, flutikason
terinflamasi dan meningkatkan efek obat beta propionat, beklometason,
adrenergik dengan memproduksi AMP siklik, mometason
inhibisi mekanisme bronkokonstriktor, atau
merelaksasi otot polos secara langsung
Antagonis reseptor antagonis reseptor leukotrien zavirlukas, montelukas
leukotrien
Terapi anti IgE Inhibitor kompetitif IgE , sehingga menghambat Omalizumab
proses inflamasi
OBAT ASMA
Golongan Obat Efek Samping Interaksi
B2 Agonis Bronkospasme paradoksikal, urtikaria, pada B-bloker, diuretik
dosis tinggi hipokalemia.
Antikolinergik menyebabkan mulut kering dan rasa tidak enak. Antikolinergik lainnya

Metil Xantin takikardi, aritmia dan terkadang stimulasi pusat CCB, nonselektif b-bloker,
pernafasan rokok, barbiturat, b-agonis
Kromolin Pemberian jangka panjang menyebabkan
penurunan nyata dari jumlah eosinofil pada
cairan BAL dan penurunan hiperespon bronkus
nonspesifik

Kortikosteroid kandidiasis orofaring, disfonia dan kadang batuk. Flutikason+ketokonazole=


Efek samping sistemik tergantung dari potensi, kadar flutikason >>
bioavailabilitas, absorpsi di usus, metabolisme di
hepar dan waktu paruhnya

Antagonis gangguan pencernaan , sakit kepala , reaksi Montelukas


reseptor hipersensitivitas , gangguan tidur , dan Na+fenobarbital,
leukotrien peningkatan kecenderungan perdarahan , di rifampisin= kadar
samping efek samping umum lainnya montelukas <<
FOLLOW UP DAN EVALUASI
 Asma dikatakan terkontrol bila :
Gejala minimal (sebaiknya tidak ada), termasuk
gejala malam
 Tidak ada keterbatasan aktivitas termasuk exercise
 Kebutuhan bronkodilator (agonis β2 kerja singkat)
minimal (idealnya tidak diperlukan)
 Variasi harian APE kurang dari 20%
 Nilai APE normal atau mendekati normal
 Efek samping obat minimal (tidak ada)
 Tidak ada kunjungan ke unit gawat darurat.
o Bertemu dengan pasien tersebut, baik secara langsung
atau dengan telepon,
PUSTAKA
 Ditjen Binfar dan Alker. 2007. Pharmaceutical
Care untuk Penyakit Asma
 Syamsudin, SA Keban. 2013. Buku Ajar
Farmakoterapi: Gangguan Saluran Napas
 Barreiro, TJ, DO, I Perillo. 2004. An Approach to
Interpreting Spirometry. Am Fam Physician.
2004 Mar 1;69(5):11071115.
 Silbernagl , S., et al. 2000. Color Atlas of
Pathophysiology.
 Sukandar, E.Y., et al. 2009.ISO Farmakoterapi.
Jakarta: PT ISFI.
THANK
YOU
SOAL UKAI-1
Seorang wanita BE, bersusia 20 tahun datang ke dokter
dengan keluhan sesak nafas setelah mendaki gunung
untuk pelatihan kepemimpinan. Pada usia 5-12 tahun
ia mengalami alergi rhinitis yang berangsur membaik.
Akhir-akhir ini ia mengeluhkan mengalami gejala
serangan asma kurang dari 1 kali seminggu dan pada
malam hari serangan asma terjadi < 2 kali dalam
sebulan. Setelah dilakukan uji fungsi paru didapatkan
nilai FEV1 ≥ 80%. Menurut anda, termasuk tingkat
apakah keparahan asma dari pasien tersebut ?
a. Asma intermiten ringan
b. Asma Persisten ringan
c. Asma persisten sedang
d. Asma Persisten Berat
e. Asma Presisten Berat Disertai Eksaserbasi Paru
SOAL UKAI-2
Menurut saudara golongan obat apa yang cocok di
berikan harian pada pasien BE tersebut ?
a. Dosis rendah inhalasi kortikosteroid
b. Dosis menengah inhalasi kortikosteroid
c. Dosis tinggi inhalasi kortikosteroid
d. Kortikosteroid tablet atau sirup
e. Dosis rendah antagonis beta
SOAL UKAI-3
Salah satu terapi obat penyakit asma adalah
dengan golongan obat antihistamin. Namun obat
antihistamin generasi pertama menimbulkan efek
sedasi sehingga merugikan pengguna pada saat
melakukan aktivitas. Manakah dari obat berikut
yang tidak menimbulkan efek samping sedasi
(antihstamin generasi II) :
a. Difenhidramin
b. Teofilin
c. Cetrizin
d. Ipatropium Bromida
e. Salbutamol
SOAL UKAI-4
Pada terapi pengobatan asma pemberian obat yang
dilakukan secara inhalasi ke dalam saluran
pernapasan memiliki beberapa kelebihan dan
kekurangan, manakah pernyataan berikut yang benar :
a. Lebih baik menggunakan peroral dibandingkan
inhalasi
b. Efek samping besar karena tidak mengalami proses
absorbsi
c. Dosis pemberian cukup besar sehingga timbul
kekhawatiran menimbulkan toksik
d. Penggunaan metered dose inhaler, atau dry powder
inhaler membutuhkan perhatian khusus untuk
menentukan keberhasilan terapi
e. Dosis peroral rendah lebih baik dibandingkan
inhalasi kortikosteroid
SOAL UKAI-5
Berikut merupakan salah satu farmakoterapi yang
dilakukan terhadap penyakit asma, kecuali
a. Penggunaan dengan golongan glukokrtikoid
b. Pengobatan dengan golongan anatgonis β
c. Pengobatan dengan anti-Leukotrien
d. Terapi anti-IgE
e. Pengobatan dengan golongan kromon
SOAL UKAI- JAWABAN
1. a. Asma Intermiten ringan
2. e. Tidak ada jawaban yang benar, karena asma
termasuk intermiten ringan sehingga tidak
diperlukan pengobatan harian
3. c. Cetrizin merupakan antihistamin generasi II
yang tidak menyebabkan efek sedasi
4. d. Penggunaan metered dose inhaler, atau dry
powder inhaler membutuhkan perhatian khusus
untuk menentukan keberhasilan terapi. Karena
banyak ditemukan pasien yang salah dalam
penggunaan sehingga dosis terapi gagal dicapai dan
kegagalan terapi dapat terjadi.
5. b. Pengobatan dengan golongan anatgonis β,
karena golngan antagonis β dapat menyebabkan
efek bronkokronstriksi sehingga dapat
memperparah kondisi penyakit asma