Anda di halaman 1dari 13

Analisis Alat dan Bahan

Analisis Alat dan Bahan


• Percobaan ini menggunakan evaporator
climbing film, yang memiliki fungsi
utama untuk memekatkan larutan yang
ingin dievaporasikan.
• Pada unit operasi ini, terdapat feed
untuk mensuplai steam yang digunakan
sebagai media pembawa panas serta
sebagai fasa pembantu untuk
membawa sebagian uap air yang
teruapkan.
Analisis Alat dan Bahan
• Terdapat pressure relief valve dan juga
pressure gauge untuk mengontrol
tekanan steam sehingga tidak
berbahaya.
• Steam yang masuk ke dalam sistem lalu
dikontakkan dalam heat exchanger shell
and tube sehingga pelarut berlebih dari
larutan dapat terevaporasi
Pressure Gauge Steam Feed
Analisis Alat dan Bahan
• Steam yang masuk ke dalam sistem lalu
dikontakkan dalam heat exchanger shell
and tube untuk mengevaporasikan
pelarut berlebih dari larutan
• Laju alir kondensat steam maupun laju
alir resirkulasi dari wadah drain
kondensat ditunjukkan kuantitasnya
oleh flowmeter.
Flowmeter Aliran Kondensat
Steam dan Resirkulasi Pelarut
Analisis Alat dan Bahan
• Terdapat pengukur suhu untuk
mengetahui suhu dari masukan dan
keluaran heat exchanger shell and tube
setiap 2 menit.
Pengukur Suhu Otomatis
• Terdapat dua flowmeter lainnya untuk
menentukan laju alir kondensat uap air
yang terjadi setelah melewati unit HE
shell and tube yang mengkontakkan
steam dan larutan yang ingin
dievaporasikan
Flowmeter Kondensat Flowmeter Kondensat
Steam Sirkulasi Steam yang Terevaporasi
Analisis Alat dan Bahan
• Kondensat yang terbentuk akan
memasuki dua jenis tabung ukur:
• Tabung ukur pertama, sebelah kiri, untuk
mengetahui kuantitas kondensat steam
yang terakumulasi selama rentang waktu
tertentu.
• Tabung ukur kedua, sebelah kanan, untuk
mengetahui dan menampung kuantitas
kondensat dari uap yang terevaporasi dari Tangki Silinder (L2 & L3) serta Tangki
larutan selama rentang waktu tertentu Resirkulasi (L1)
Analisis Percobaan
• Dilakukan pengamatan terhadap pengaruh variasi tekanan sistem dengan
laju evaporasi air. Tekanan sistem divariasikan dengan mengatur P1 pada
besaran 100, 200, dan 300 mmHg sementara tekanan steam dan laju alir
air memasuki evaporator dibiarkan konstan.
• Tujuan kedua adalah untuk mengamati pengaruh variasi gradien suhu
terhadap laju evaporasi air. Suhu sistem dapat diamati dengan menekan
sejumlah tombol indikator suhu yang terdapat pada alat evaporator.
• Tujuan ketiga adalah untuk membandingkan keekonomisan antara sirkulasi
alami dan sirkulasi paksa. Sedangkan tujuan keempat adalah untuk
mendapatkan dan membandingkan neraca energi untuk operasi
evaporator sirkulasi alami dan sirkulasi paksa.
Analisis Hasil
Pengaruh Variasi Tekanan Sistem terhadap
Laju Evaporasi Air
• Pada sirkulasi alami, laju evaporasi akan semakin
meningkat dengan bertambahnya tekanan sistem. 1.3
Hal ini disebabkan karena semakin tinggi tekanan 1.2

dari sistem, kemampuan air untuk menguap akan 1.1


1
semakin besar dikarenakan tekanan air akan 0.9

E (kg/s)
mendekati tekanan lingkungan yang menyebabkan 0.8

kondisi air untuk proses penguapan sudah 0.7


0.6
terpenuhi. 0.5
0.4
• Pada sirkulasi paksa menunjukkan hasil yang sama 0.3

dikarenakan semakin tinggi tekanan sistem, maka 0.00 5.00 10.00


P1 (kPa)
15.00 20.00 25.00

konsentrasi air dalam fasa gas akan semakin besar


Konveksi Paksa Konveksi Alami
dan mendekati kesetimbangan uap-cair sehingga
kemampuan menguap menjadi lebih besar.
Pengaruh Variasi Laju Sirkulasi dan Evaporasi
dengan Perbedaan Suhu
• Berdasarkan grafik log(TE) versus log(E)
yang terbentuk, pada percobaan 0.1
sirkulasi alami dan sirkulasi paksa 0.05 y = 1.9262x - 3.0408
R² = 0.9974
menunjukkan bahwa semakin besar 0
1.2 1.25 1.3 1.35 1.4 1.45 1.5 1.55 1.6 1.65 1.7

perbedaan suhu maka semakin besar -0.05

-0.1
laju evaporasinya.

log E
-0.15 y = -1.2407x + 1.889
R² = 0.9891

• Hal ini disebabkan oleh semakin besar


-0.2

-0.25

perbedaan suhu, maka semakin banyak -0.3

energi panas yang ditransfer oleh steam -0.35

-0.4
dan akan berdampak pada peningkatan log ΔT

laju evaporasi. Konveksi Paksa Konveksi Alami


Perbandingan Keekonomisan Sirkulasi Alami
dengan Sirkulasi Paksa
• Pengolahan data menunjukkan bahwa
keekonomisan dari evaporator untuk 70

sirkulasi alami dan sirkulasi paksa semakin 60

lama akan semakin besar seiring dengan 50

pertambahan tekanan sistem.

Ec
40

30
• Hal ini disebabkan tekanan merupakan 20
faktor yang akan mempengaruhi suhu
10
sistem, dan suhu sistem ini akan 0.00 5.00 10.00 15.00 20.00 25.00
P1 (kPa)
berpengaruh terhadap keekonomisan dari
Konveksi Paksa Konveksi Alami
evaporator.
Perhitungan Neraca Energi untuk Sirkulasi
Alami dan Paksa
𝑊𝐹 = 𝑊𝐸 + 𝑊𝐶
𝑊𝐹 ℎ𝑓 + 𝑄𝐻𝑠 = 𝑊𝐸 ℎ𝐸 + 𝑊𝐶 ℎ𝑐 + 𝑄ℎ𝑠

• Terjadi penyimpangan hasil untuk nilai W di setiap aspeknya yang


ditunjukkan dengan kesalahan relatif yang cukup besar, yakni hingga
75,96% untuk sirkulasi alami dan 91,51% untuk sirkulasi paksa.
• Hal ini disebabkan kondisi sistem yang tidak steady lagi. Kesalahan
yang terjadi bisa diakibatkan dari kebocoran pipa terutama pada
sambungan-sambungan pipa.
Analisis Kesalahan
• Kondisi evaporator yang tidak steady saat pengambilan data dapat
mempengaruhi pengambilan data. Hal ini dapat disebabkan adanya
kebocoran pipa pada sambungan pipa.
• Heat loss yang berpindah dari evaporator ke lingkungan.
• Pada asumsi yang digunakan juga perlu dikaji lebih lanjut, yakni steam
keluaran shell evaporator adalah saturated, di mana terdapat
kemungkinan bahwa cairan berada dalam keadaan subcooled.
• Pembacaan data yang tidak akurat karena akurasi dari alat, tidak
konsistennya tekanan dari sistem, tidak konsistennya laju alir yang
disebabkan sulitnya mengatur valve, hingga ke pengukuran waktu
yang tidak akurat.