Anda di halaman 1dari 41

DIET STROKE

JULEKA, SST, M.Kes


EPIDEMIOLOGI
 Stroke penyebab kematian nomor 2 di Dunia,
nomor 1 di Indonesia
 Stroke penyebab kecacatan nomor 1 di Dunia
 Angka kejadian stroke tertinggi di Aceh (RISKESDAS
2007)
 Biaya perawatan stroke tertinggi
 Kejadian stroke pria = wanita
 Resiko terserang stroke bukan lagi monopoli usia tua
Apa yang
disebut stroke ?
Definisi stroke
Kumpulan gejala klinis
“Tanda-tanda klinis yang berkembang cepat
akibat gangguan fungsi otak fokal (global),
dengan gejala-gejala yang berlangsung selama
24 jam atau lebih atau menyebabkan kematian,
tanpa adanya penyebab yang lain selain
pembuluh darah otak”

(Konsensus PERDOSSI 2007)


Non-Modifiable Risk Factors
•Advancing Age Usia >65 thn

•Gender Laki-laki > perempuan

•Race African-Americans and Hispanic


Americans > European

•Family History Genetika, kebiasaan


Modifiable Risk Factors
 Hypertension

 Diabetes Mellitus

 High cholesterol

 Smoking

 Inactivity

 Obesity

 Alcohol or drug abuse


Pada stroke iskemik
 Aliran darah ke otak terhenti karena aterosklerosis
(penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh
darah) atau bekuan darah yang telah menyumbat
suatu pembuluh darah ke otak.
 Hampir sebagian besar pasien atau sebesar 83%
mengalami stroke jenis ini.
Pada stroke hemorragik
 Pembuluh darah pecah sehingga menghambat aliran
darah yang normal dan darah merembes ke dalam
suatu daerah di otak dan merusaknya.
 Hampir 70 persen kasus stroke hemorrhagik terjadi
pada penderita hipertensi.
Manifestasi Klinik
GEJALA STROKE
 Se : Senyum
Mulut terlihat mencong
 Ge : Gerak
Tidak bisa menggerakkan separuh badan
 Ra : Bicara
Pelo / cadel
 Ke : Kebas
Kebas separuh badan
R : Rabun
tidak melihat sebelah mata/keduanya
S : Sempoyongan
Jalan tidak seimbang
Gejala yang lain:
 Penurunan kesadaran
 Gangguan memori
 Gangguan menelan
 Gangguan bahasa
 Gangguan berkemih
Pemeriksaaan Penunjang yang segera diperlukan
bila dicurigai STROKE

• Pemeriksaan darah rutin


• Gula darah sewaktu, Lipid Profile,ureum creatinin
• EKG
• Foto Thoraks
• CT-Scan Kepala
KOMPLIKASI STROKE
Neurologik
 Oedem/sembab otak
 Hydrocephalus
 Peningkatan TIK
 Kejang
 Transformasi infark berdarah
 Stroke berulang
 Delirium/kebingungan akut
 Depresi
Pulmonal
 Sumbatan jalan nafas
 Hypoventilasi/kurang bernapas
 Atelektasis
 Aspirasi/keselek
 Pneumonia/infeksi paru

Cardiovascular
 Infark jantung
 Aritmia jantung
 Gagal jantung kongestif/bendungan
 Hipertensi
 Hipotensi orthostatik/karena posisi
 Deep-vein thrombosis/bekuan darah vena
 Emboli paru
Nutrisional/Metabolik/Gastrointestinal
 Stress ulcers/luka lambung

 Perdarahan Gastrointestinal/saluran cerna


 Konstipasi/sembelit
 Dehidrasi/kekurangan cairan
 Gangguan elektrolit
 Malnutrisi
 Hiperglikemia/gula darah tinggi
Urinarius
 Inkontinensia

 Infeksi saluran kemih

Orthopedik/Dermatologik
 Decubitus
 Kontraktur
 Fraktur/patah tulang

 Kapsulitis/peradangan sendi
TATALAKSANA STROKE ( NEUROEMERGENSI)

Tujuan :

 Mencegah progresifitas penyakit

 Mencegah kecacatan

 Mencegah komplikasi

TIME IS BRAIN
STROKE ISKEMIK
 SUPORTIF
- Elevasi kepala 30°  meningkatkan aliran darah ke
otak
- Bebaskan jalan nafas, oksigenasi yang cukup
- Beri Cairan isotonis ( Ringer lactat, Nacl 0,9%)
- Pasang NGT  gangguan menelan  agar tidak aspirasi
- Foley cateter  kosongkan kandung kemih, gangguan
BAK
- Berikan pencahar
- Atur diet ( RG, DM )
STROKE ISKEMIK
 MEDIKAMENTOSA
- Regulasi tekanan darah
20% dari Mean Arterial blood Pressure (MAP)dengan
obat anti hipertensi
Untuk stroke iskemik tidak perlu agresif penurunan
tekanan darah
- Regulasi Gula darah
Insulin atau OAD
STROKE ISKEMIK
TERAPI KHUSUS
 REPERFUSI :
- Trombolisis < 3 jam onset stroke
dengan RTPA(Recombinant Tissu Plasminogen
Aktivator)
- Antikoagulan (Low Molecul Weight Heparin)
stroke dengan emboli
- Antiplatelet : aspilet, clopidogrel
 Neuroprotektor
citicholin , pirasetam
TERAPI REHABILITASI
 Fisioterapi Pasiv
- Sedini mungkin
- Menggerakkan anggota gerak yang lumpuh secara
pasif 3 s/d 4 kali sehari
- Rubah posisi setiap 2 jam, ganjal bantal pada lengan
dan tungkai yang lemah
- Chest fisioterapi  mencegah retensi sputum
 Fisioterapi Aktif
- Setelah lewat fase akut atau KU stabil
- Exercise, bobath, latihan keseimbangan,mekanik
(infrared dll)
- Terapi okupasi
- Speech terapi
STROKE
DETEKSI CEPAT

TERAPI AKURAT

PROGNOSIS BAIK
TUJUAN DIET

 Memberikan makanan secukupnya untuk memenuhi


kebutuhan gizi pasien dengan memperhatikan
keadaan dan komplikasi penyakit
 Memperbaiki keadaan stroke, seperti disfagia,
pneumonia, kelainan ginjal dan dekubitus
 Mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit
PEMERIKSAAN FISIK
 Kesadaran penderita menurun atau tidak,
 Ada tidaknya gangguan fungsi menelan.
• Ada tidaknya gangguan mengunyah dan saluran cerna lain
seperti tukak stres.
JALUR PEMBERIAN MAKANAN DISESUAIKAN
DGN KONDISI PASIEN
 melalui mulut (per oral),
 enteral (melalui sonde),
 melalui pipa (NGT)
 maupun parenteral (dengan selang infus) berdasarkan kondisi penderita.

Penyulit yang dapat timbul :

 pemberian nutrisi melalui infus (parenteral) berkepanjangan menimbulkan


komplikasi phlebitis (radang pembuluh vena) sehingga juga menghambat
kegiatan fisioterapi penderita.

 Kesulitan menelan pada penderita, terutama yang berbentuk cairan, perlu


latihan menelan dengan bantuan gel atau guarcol. Guarcol ini tidak berbau
dan tidak memiliki rasa, rendah kalori dan tinggi akan gum yang dapat
digunakan untuk mengentalkan cairan, makanan dan minuman
Tahapan pemberian makanan dan
minuman
a. Pada tahap akut (24-48 jam)
 Bila kesadaran penderita menurun atau tidak sadar, diberikan
makanan parenteral (makanan intravena) melalui selang infus,
dan dilanjutkan dengan makanan lewat pipa (NGT).
 Pemberian makanan perlu hati-hati untuk memonitor kebutuhan
gizi dan cairan yang diperlukan. Kelebihan cairan dan
peningkatan gula darah di dalam darah dapat menyebabkan
edema serebri.
 Energi yang diberikan sesuai kebutuhan basal tubuh, protein
diberikan sampai dengan 1,5 g/ kg berat badan/hari, dan lemak
sampai 2,5 g/ kg berat bedan/ hari dan dekstrosa maksimal 7 g/
kg berat badan/hari.
 Direkomendasi agar kadar gula darah dipertahankan pada level
150-200 mg % pad afase akut stroke.
Pada tahap pemulihan
 Bila pasien sadar dan tidak disfagia, dapat diberikan makanan
melalui mulut (oral) secara bertahap seperti makanan lunak,
saring hingga berupa bentuk makanan yang biasa dengan porsi
kecil dan sering.
 Bila terjadi disfagia, jalur pemberian makanan diberikan bertahap
mulai parenteral, kemudian ¼ bagian mulut (per oral) dan ¾
bagian melalui pipa (NGT), selanjutnya ½ bagian per oral (semi
padat dan semi cair melalui NGT) dan diet lengkap (makanan
dan minuman oral).
 Bila penderita mengalami tukak stres akibat asam lambung dan
gastrin meningkat, diberikan makanan secara bertahap juga
dimulai dengan makanan enteral (bila tidak ada perdarahan
diberikan melalui selang infus (parenteral) sampai
perdarahan berhenti.
Bila penderita mengalami kesulitan
menelan, diet yang diberikan yaitu
 Makanan dengan aroma dan rasa yang tajam dengan tujuan untuk
merangsang dapat menelan semaksimal mungkin.
 Makanan dengan suhu hangat/dingin untuk merangsang dapat
menelan semaksimal mungkin
 Makanan yang semi padat untuk menghindari obstruksi
(penyumbatan).
 Potongan makanan yang tidak terlalu besar untuk menghindari
obstruksi.
 Makanan porsi kecil dan sering agar asupan makanan optimal.
 b. Bila sensasi (rasa) di mulut menurun, maka sebaiknya
dipertimbangkan :
 Letakkan makanan di area paling sensitif, suhu makanan dingin,
makanan dengan aroma dan rasa
 yang tajam agar penderita mendapatkan rasa yang maksimal.
 Tidak mencampur makanan dengan berbagai tekstur agar
memudahkan menelan.
Bila sensasi (rasa) di mulut
menurun
 Letakkan makanan di area paling sensitif,
 suhu makanan dingin,
 makanan dengan aroma dan rasa yang tajam agar
penderita mendapatkan rasa yang maksimal.
 Tidak mencampur makanan dengan berbagai tekstur
agar memudahkan menelan.
Bila koordinasi otot mulut
melemah
 Makanan semi padat agar ke otot mulut minimal.
 Hindari makanan yang licin untuk menghindari masuk ke saluran
nafas.
 Makanan porsi kecil dan sering agar asupan makanan optimal.

Bila porsi elevasi laring menurun, sebaiknya :


 Makanan kental dan lembut untuk mencegah menempelnya
makanan pada laring.
 Hindari potongan makanan yang besar untuk mencegah obstruksi.
Bila pita suara yang menutup optimal, sebaiknya
• cairan yang diberikan tidak terlalu encer untuk mencegah
cairan masuk ke saluran pernafasan.
Jenis diet

 Pemberian jenis makanan sebaiknya disesuian dengan


faktor-faktor risiko yang ada pada penderita.
 Pada prinsipnya, diet yang diberikan adalah diet seimbang
dengan modifikasi yang disesuaikan dengan penyakit
penyerta lain yang dialami penderita.
 Penderita stroke dengan hipertensi, sebaiknya diberikan
menu diet seimbang dengan jumlah garam yang dibatasi.
 Seeorang dengan penyakit Diabetes mellitus, asupan gula
dalam diet harus dibatasi.
 Bagi penderita stroke dengan peninggian asam urat, maka
diet yang dianjurkan untuk membatasi asupan purin.
Kebutuhan gizi

 Prinsip pemberian makanan harus memenuhi kebutuhan optimal


cairan, kalori, protein, lemak, mineral, dan vitamin.
 Porsi makan yang diberikan kecil dan sering (kurang lebih 6 kali sehari).
Energi
 Diberikan berdasarkan umur, berat badan (BB), tinggi badan (TB), jenis
kelamin dan aktivitas, atau sekitar 25-45 kkal BB/hari. Pada fase akut (<
48 jam) diberikan sekitar 1.100 – 1.500 kkal/kg BB/hari. Setelah fase
akut, pemberian makanan disesuaikan dengan keadaan pasien dan
penyakit penyerta yang ada, misalnya diet rendah garam (untuk
penderit ahipertensi), rendah kolesterol dan lemak (penderita dengan
kolesterol tinggi), rendah gula (penderita diabetes mellitus), atau
rendah purin (penderita dengan asam urat tinggi).
Karbohidrat
 Diberikan sekitar 60 – 65% dari total energi yang dibutuhkan.
Bagi penderita Diabetes mellitus,
 sebaiknya tidak diberikan gula murni dan membatasi pemberian
karbohidrat kompleks.

Protein
 Diberikan sesuai kebutuhan, sekitar 0,8 – 1 g/kg BB/hari.
Sedangkan penderita dengan gizi kurang
 diberikan lebih banyak yaitu sekitar 1,2 – 1,5 g/kg BB/hari. Untuk
penderita dengan penyakit penyerta seperti gagal ginjal kronik,
dibatasi hanya 0,6 g/kg BB/hari.
4. Lemak
 Asupan lemak sebaiknya diberikan sekitar 20-25 % dari total energi.
Sebaiknya diberikan lemak tidak jenuh ganda.
 Hindari makanan mengandung banyak lemak terutam lemak jenuh,
tinggi kolesterol, dan asam lemak trans (trans fatty acid), yang
banyak terdapat pada margarin, daging berlemak, makanan
gorengan, dan juga makanan kemasan seperti chips.
 Kolesterol sebaiknya dibatasi sekitar 30% dari total lemak. Pilih
lemak yang tidak jenuh dalam memasak terutama yang banyak
mengandung vitamin E seperti minyak zaitun.
 Pemberian asam lemak omega-3 (dari minyak ikan) bermanfaat
untuk mencegah atero sklerosis dan mengencerkan darah. Oleh
karena itu, konsumsi ikan laut yang banyak mengandung omega-3
dianjurkan.
 Vitamin cukup, terutama kalsium, magnesium, dan
kalium. Penggunaan natrium dibatasi dengan memberikan
garam dapur maksimal 11/2 sendok teh/hari (setara dengan
± 5 gr garam dapur atau 2 gr natrium
 Serat cukup, untuk membantu menurunkan kadar
kolesterol darah dan mencegah konstipasi
 Cairan cukup. Yaitu 6-8 gelas/hari, kecuali pada keadaan
edema atau asites, cairan dibatasi. Minuman hendaknya
diberikan setelah selesai makan agar porsi makanan dapat
dihabiskan. Untuk pasien dengan disfagia, cairan diberikan
secara hati-hati. Cairan dapat dikentalkan dengan gel atau
guarcol
Vitamin

 Terutama vitamin C, vitamin B (riboflavin), vitamin B 6,


vitamin B 12 , asam folat, dan vitamin E.
 Untuk penderita yang mendapat obat anti koagulan
(warfarin) pemberian bahan makanan sumber vitamin K
harus dibatasi karena vitamin K merupakan antagonis dari
obat antikoagulan tersebut.
 Batasi sumber makanan yang mengandung vitamin K seperti
kembang kol, brokoli.
EDUKASI
Dilakukan untuk :
1). Agar keluarga dapat memberikan dukungan pada pasien
2). Menambah pengetahuan keluarga ttg stroke yang meliputi :
- kecacatan neuropsikologis baik motorik, kognitif, emosi,
bahasa, gangguan tidur dan depresi
- ketrampilan merawat pasien
- faktor risiko, diet dan prevensi
3). Mengurangi rasa takut dan kecemasan berlebihan
EDUKASI
Mengendalikan Faktor Resiko stroke Cegah stroke
berulang
1) Stop rokok & Stop minum alkohol
2) Kontrol tekanan darah dan gula darah
3) Konsumsi garam dikurangi apabila didapatkan hipertensi
4) Turunkan berat badan
5) Aktivitas olahraga rutin
6) Hindari stress
7) Pola makan sehat seimbang