Anda di halaman 1dari 11

*ALAT BUKTI

ELEKTRONIK
PERMASALAHAN
HUKUM

1. Bagaimanakah keabsahan alat bukti elektronik dalam


menangani kasus perkara perdata?
2. Bagaimanakah Hambatan Penerapan UU ITE dalam
Penegakan Hukum Acara Perdata?
PEMBUKTIAN

Pembuktian adalah upaya para pihak yang berperkara untuk


menyakinkan hakim akan kebenaran peristiwa atau kejadian yang
diajukan oleh para pihak yang bersengketa dengan alat-alat bukti
yang ditetapkan oleh Undang-Undang
ALAT BUKTI
ELEKTRONIK
Pasal 5 ayat (1) UU ITE mengatur bahwa Informasi Eletkronik
dan/atau Dokumen Elektronik dan/atau hasil cetaknya
merupakan alat bukti hukum yang sah.

Informasi Elektronik adalah satu atau sekumpulan data


elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas pada tulisan, suara,
gambar, peta, rancangan, foto, electronic data interchange
(EDI), surat elektronik (electronic mail), telegram, teleks,
telecopy atau sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses,
simbol, atau perforasi yang telah diolah yang memiliki arti
atau dapat dipahami oleh orang yang mampu memahaminya
Dokumen Elektronik adalah setiap Informasi Elektronik yang
dibuat, diteruskan, dikirimkan, diterima, atau disimpan dalam
bentuk analog, digital, elektromagnetik, optikal, atau sejenisnya,
yang dapat dilihat, ditampilkan, dan/atau didengar melalui
Komputer atau Sistem Elektronik, termasuk tetapi tidak terbatas
pada tulisan, suara, gambar, peta, rancangan, foto atau
sejenisnya, huruf, tanda, angka, Kode Akses, simbol atau
perforasi yang memiliki makna atau arti atau dapat dipahami oleh
orang yang mampu memahaminya
KEABSAHAN ALAT
BUKTI ELEKTRONIK

Keabsahan Alat Bukti Elektronik dibahas dalam UU ITE di dalam


Pasal 1,5,6,7 yang pada intinya menyatakan bahwa informasi
elektronik dan/atau dokumen elektronik dan/atau hasil cetaknya
merupakan alat bukti hukum yang sah.
HAMBATAN PENERAPAN UU
ITE DALAM PENEGAKAN
HUKUM ACARA PERDATA
1. Hambatan substansi UU ITE;
2. Hambatan hukum di luar UU ITE;
3. Hambatan teknologi;
4. Hambatan sosial dan kultural;
5. Hambatan stabilitas finansial dan keamanan;
6. Hambatan pemahaman UU ITE oleh aparat penegak
hukum
7. hambatan pembuktian dalam persidangan
Hambatan dalam pelaksanaan UU ITE
sulitnya pelaksanaan Pasal 5 sampai Pasal 22 UU ITE. Pasal-pasal
tersebut mengatur tentang informasi, dokumen, tanda tangan
elektronik, sertifikasi elektronik, dan transaksi elektronik.
Hambatan hukum di luar UU ITE
masih adanya pertentangan dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan yang lain
Hambatan teknologi
teknologi canggih serta penyebaran teknologi secara merata di
indonesia di rasa masih belum cukup.
Hambatan sosial dan kultural
masyarakat yang sadar pentingnya
mendokumentasikan/menyimpan setiap bukti transaksi bisnis ke
dalam media elektronik, namun masyarakat mengetahui tentang
alat bukti yang termasuk dalam cakupan pengertian alat bukti
elektronik sesuai UU ITE
Hambatan stabilitas finansial
penerapan ITE tidak hanya sebatas domestik di Indonesia saja,
melainkan terkoneksi secara internasional. Transaksi dapat
dilakukan secara global melewati batas negara, sehingga
pengeluaran negara semakin bertambah
Hambatan pemahaman UU ITE
Hambatan dirasakan oleh oleh aparat penegak hukum Ketika UU
ITE disahkan pada tahun 2008, salah satu masalah adalah ada
pihak yang menyatakan bahwa UU ITE tidak disosialisasikan
terlebih dahulu di masyarakat, sehingga menjadi gagap terhadap
penerbitan UU ITE
Hambatan pembuktian dalam persidangan
pada praktinya alat bukti elektronik masih sulit dibuktikan karena
tanda tangan jarang dibubuhkan namun berupa kumpulan
beberapa code digital yang disusun dan diacak dengan suatu
sistem elektronik tertentu.
SARAN
Menurut kami, hambatan-hambatan yang telah kami jelaskan
dalam makalah ini perlu diatasi. karena itu, perlu adanya
kejelasan lebih dalam UU ITE sendiri agar dapat
meningkatkan pemahaman terhadap aturan tersebut dan
melancarkan proses penegakan hukum yang bersangkutan.