Anda di halaman 1dari 42

PERANAN ANALISA HIDROLOGI DALAM

PERANCANGAN BANGUNAN-BANGUNAN
HIDRAULIK

Oleh:
Ir. Priyono Maskur Dpl.HE

19 APRIL 2018
 Pengertian Umum
Hidrologi adalah ilmu yang mempelajari pergerakan,
distribusi dan kualitas air di muka bumi.
 Siklus Hidrologi
Air beredar melalui sistem yang disebut siklus hidrologi. Siklus ini dimulai ketika panas dari
matahari menyebabkan air yang ada di permukaan bumi (termasuk di samudera)
menguap (evaporasi maupun evapotranspirasi) dan menjadi uap air. Uap air tersebut
terkumpul di atmosfir dan membentuk awan secara berangsur angsur menjadi dingin.
Ketika kumpulan air sudah menjadi berat akan jatuh menjadi hujan atau juga berbentuk
salju.
Air hujan maupun salju mengalir ke bawah, sebagian mengalir ke laut sebagai air
permukaan (surface water) dan sebagian lagi terserap dan tersimpan dalam tanah sebagai
air tanah (ground water).
 Sungai
Selanjutnya air itu akan mengalir di atas permukaan tanah yang paling rendah, mungkin
mula mula merata, namun karena ada bagian-bagian di permukaan tanah yang tidak
begitu keras, maka mudahlah terkikis, sehingga menjadi alur alur yang tercipta makin
hari makin panjang, seiring dengan makin deras dan makin seringnya air mengalir di
alur ini yang disebut sungai.
Debit aliran sungai adalah volume air sungai yang mengalir dalam satuan waktu
tertentu.
 Daerah Aliran Sungai (DAS)
Daerah Aliran Sungai adalah hamparan wilayah/kawasan yang dibatasi oleh pembatas
topografi (punggung bukit) yang menerima, mengumpulkan air hujan, sedimen dan
unsur hara serta mengalirkan melalui anak anak sungai dan keluar pada sungai utama
ke laut atau danau.
Para ahli hidrologi membedakan daerah aliran sungai berdasarkan pola alirannya. Pola
aliran tersebut dipengaruhi oleh geomorfologi, topografi, dan bentuk wilayah. Menurut
Sosrodarsono dan Takeda (1977), coraknya terdiri dari corak bulu burung, corak radial,
dan corak pararel.
 Corak bulu burung, disebut bulu burung karena bentuk aliran anak sungainya
menyerupai ruas-ruas tulang dari bulu burung.
 Corak radial, atau disebut juga menyebar. Anak sungai menyebar dan bertemu di
titik-titik tertentu. Wilayahnya berbentuk kipas atau lingkaran.
 Corak pararel, memiliki dua jalur sub daerah aliran sungai yang sejajar dan
bergabung di bagian hilir.
Gambar 2. CorakDaerah Aliran Sungai (DAS)
 Data Klimatologi
Klimatologi berasal dari bahasa, klima, "tempat, wilayah, zona"; dan -logia "ilmu") adalah
studi mengenai iklim, secara ilmiah didefinisikan sebagai kondisi cuaca yang dirata-
ratakan selama periode waktu yang panjang. Klimatologi juga mencakup aspek
oseanografi dan biogeokimia.

Data Klimatologi digunakan untuk melakukan analisa hidrologi. Data Klimatologi berupa:

a. Data Hujan,

b. Data Kecepatan Angin,

c. Data Temperatur,

d. Data Penyinaran Matahari,

e. Dan data Kelembaban

Diaman data tersebut dapat diperoleh di kantor BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi
dan Geofisika), kantor Pemda, kantor Departemen PUPR, PLN dll.
a. Data Hujan

Data utama yang digunakan untuk melakukan analisa curah hujan ini adalah data
hujan. Hujan adalah titik-titik air di udara atau awan yang sudah terlalu berat
karena kandungan airnya sudah sangat banyak, sehingga akan jatuh kembali ke
permukaan bumi sebagai hujan (presipitasi). Alat untuk mengukur curah hujan
adalah fluviometer. Garis khayal di peta yang menghubungkan tempat-tempat
yang mendapatkan curah hujan yang sama disebut isohyet.Curah hujan
merupakan ketebalan air hujan yang terkumpul pada luasan 1 m2. Data yang
dimuat dalam setiap buku data hujan adalah data hujan bulanan dalam setahun
dari pos-pos pengamat curah hujan di seluruh Indonesia.
Tabel 5.1. CONTOH DATA CURAH HUJAN
No. Hujan dalam mm

Jumlah
Tahun
Jan Peb Mar Apr May Jun Jul Aug Sep Oct Nov Dec setahun

152 38 125 150 48 201 169 318 290 243 83 144


1 2000 1960

303 216 437 234


2 2001 135 214 132 168 81 23 85 120 2148

524 354 287 300 197 130 65 121 212 309 345 404
3 2002 3248

276 439 271 345 166 47 174 246 404 218 693 372
4 2003 3651

293 130 237 371 396 93 508 123 342 145 472 309
5 2004 3419

491 298 342 242 174 271 362 421 330 542 414 305
6 2005 4192

429 400 547 307 70 256 105 382 434 111 282 425
7 2006 3748

794 164 273 288 178 430 243 332 253 560 160 457
8 2007 4132

69 440 412 303 146 168 609 184 177 152 493 323
9 2008 3476

587 356 409 289 111 221 236 587 196 399 497 504
10 2009 4392

312 235 599 212 169 147 178 170 331 502 173 199
11 2010 3227
b. Data Angin

Data Angin digunakan untuk menghitung besarnya penguapan Daerah Aliran

Sungai.Data Angin biasanya diperoleh di bandar udara terdekat.


c. Data Temperatur/Suhu

Suhu udara adalah ukuran energi kinetik rata – rata dari pergerakan molekul –

molekul. Suhu suatu benda ialah keadaan yang menentukan kemampuan

benda tersebut, untuk memindahkan (transfer) panas ke benda – benda lain

atau menerima panas dari benda – benda lain tersebut. Dalam sistem dua

benda, benda yang kehilangan panas dikatakan benda yang bersuhu lebih

tinggi.

 Data Temperatur/suhu digunakan untuk menghitung besarnya penguapan

Daerah Aliran Sungai.Contoh data Suhu Udara rata-rata periode tahun

tertentu dari Stasiun pengamatan suhu dapat dilihat pada tabel 2Contoh Suhu

Udara Rerata.
Tabel5.2.Contoh Suhu Udara Rerata

Suhu Rata-rata Suhu Rata-rata Suhu Rata-rata


Bulan Bulan Bulan
(oC) (oC) (oC)

Jan 21,68 May 22,30 Sep 21,96

Feb 21,93 Jun 21,82 Oct 22,18

Mar 21,77 Jul 21,70 Nov 21,96

Apr 22,15 Aug 22,15 Dec 22,53


 Analisis Hidrologi

Secara umum analisis hidrologi merupakan satu bagian analisis awal dalam perancangan
bangunan-bangunan hidraulik. Informasi dan besaran besaran yang diperoleh dalam
analisis hidrologi merupakan masukan penting dalam analisis berikutnya. Hasil dari
analisis hidrologi berupa data debit (data aliran) merupakan data dasar yang sangat
penting diperlukan dalam perencanaan suatu Bangunan hidraulik (Keairan), antara lain :

a. Bangunan Irigasi

b. Drainasi Perkotaan

c. Pengendalian Banjir

d. Air Minum

e. PLTA (Pembangkit Listrik Tenaga Air)

Analisis debit (aliran) meliputi analisis low flow (debit rendah) dan high flow (analisis debit
banjir).
Langkah-langkah Pra Analisis Hidrologi:

a. Menghitung luas Daerah Aliran Sungai (DAS)

Merupakan batas daerah aliran sungai (catchmen area). DAS ini dipakai untuk
menghitunganalisis low flow (debit rendah) dan high flow (analisis debit banjir) dan
dipengaruhi oleh luas dan bentuk daerah.

b. Lokasi Stasiun Pengamat Hujan

Banyaknya stasiun pengamatan yang diperlukan agar memadai dan memberikan


informasi yang benar serta cukup mengenai intensitas dan waktu berlangsungnya hujan
adalah seperti telah ditetapkan oleh World Meteorogical Organization (WMO) yang dapat
dilihat dalam tabel berikut ini.
Tabel 6.1 Hubungan luas catchmen area dengan jumlah stasiun pengamat hujan.

Luas Cathmen Jumlah Stasiun


Area(km2) Pengamat
Hujan(Minimum)

0 -75 1

75 –150 2

150 – 300 3

300 –550 4

550 –800 5

800 –1200 6

Apabila data curah hujan pada masing-masing stasiun telah lengkap, maka dapat
dilakukan analisa hidrologi untuk mengetahui besarnya debit banjir pada periode
ulang tertentu
Analisis Low Flow (debit rendah)
a. Pehitungan Hujan Wilayah
Untuk menghitung rata-rata curah hujan pada catchment area dapat
menggunakan beberapa cara. Namun untuk cara Isohyet tidak dapat
digunakankarena tidak adanya data yang menunjukan tempat-tempat yang
mempunyaiketinggian curah hujan yang sama. Pada perhitungan curah hujan
pada DAS.

Analisis high flow (analisis debit banjir)


a. Menghitung besarnya produksi energi, bila hasil analisis debit sungai
digunakan untuk kepentingan Pembangkit Listrik Tenaga Air.
b. Menghitung volume waduk/reservoir,tinggi bendungan bila hasil analisis debit
sungai akan digunakan untuk perancangan bendungan digunakan untuk.
c. Perhitungan Tanggul Penahan Banjir
d. Menghitung besarnya gorong gorong maupun saluran drainase perkotaan bila
hasil analisis debit drainasi
e. Sedangkan Output dari analaisis High Flow, selanjutnya digunakan untuk
perhitungan pengamanan bangunan air.
• Analisis Ketersediaan Air
Kegiatan yang dilakukan saat melakukan optimasi Ketersediaan Air adalah :
a. Pengumpulan data Curah Hujan
b. Pengumpulan data Kecepatan Angin
c. Pengumpulan data Temperatur
d. Pengumpulan data Penyinaran Matahari
e. Pengumpulan data Kelembaban
f. Analisis Ketersediaan Air
600.0
586.6
536.5
500.0
470.7

400.0 393.6
358.7
342.4

300.0

200.0
126.8
101.5
100.0
43.4 43.7
24.7
10.0

0.0
JAN FEB MAR APR MEI JUN JUL AGS SEP OKT NOV DES

Gambar 6.3.1 Contoh Grafik Curah Hujan Maksimum Tahunan


7
6.38
6.08 6.06 6.10
5.91
6 5.76
5.55 5.55 5.59
5.28 5.37
5.02
5
Kecepatan Angin (km/hari)

0
JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOV DES
Pengamatan (Bulan)

Gambar 6.3.2 Grafik Kondisi Kecepatan Angin tahun 1990-2009


c. Temperatur

Tabel 6.3.3 Contoh tabel Temperatur Udara Harian Rata-Rata (oC) tahun 1990-2009
(DALAM km/hari)
NO. TAHUN JAN PEB MAR APR MEI JUN JUL AGT SEP OKT NOV DES

1 1990 5,16 4,61 5,45 4,27 4,55 4,87 4,90 5,48 5,43 6,16 6,00 4,90
2 1991 5,52 7,39 4,94 4,97 5,61 5,03 5,23 5,84 5,73 6,32 5,20 5,16
3 1992 5,74 6,45 4,94 4,83 4,84 5,30 6,16 5,81 5,83 5,68 5,63 5,06
4 1993 7,26 6,54 4,97 5,03 5,32 5,87 5,84 5,90 6,57 6,58 6,13 5,65
5 1994 5,87 6,36 6,26 5,57 6,19 6,53 6,84 6,84 6,50 6,97 6,80 5,97
6 1995 6,16 6,61 5,90 5,03 5,00 5,27 5,90 6,68 6,17 6,58 5,70 6,10
7 1996 6,26 6,76 6,29 5,57 5,97 5,73 6,35 6,10 6,33 6,16 5,33 6,26
8 1997 6,74 6,61 5,90 5,67 5,45 5,87 6,65 6,13 6,10 6,74 6,43 5,71
9 1998 5,32 5,18 5,03 5,07 5,55 5,50 5,45 6,87 6,40 5,90 5,57 5,65
10 1999 5,45 6,46 5,61 5,40 5,97 5,70 6,26 6,32 6,87 6,06 5,17 5,65
11 2000 6,26 6,48 6,39 5,37 6,10 6,27 6,55 6,48 6,70 5,97 5,37 5,84
12 2001 5,55 7,50 6,00 5,27 5,39 6,27 6,29 5,87 6,20 5,77 5,23 5,39
13 2002 5,84 7,46 5,10 5,13 5,55 5,67 6,29 6,23 6,17 6,77 6,30 5,58
14 2003 6,03 7,18 6,10 5,87 6,06 5,87 6,71 6,32 6,43 6,29 5,80 5,39
15 2004 5,00 6,14 4,77 5,17 5,03 5,63 5,45 5,58 5,73 5,87 5,50 5,61
16 2005 6,23 6,50 5,52 3,93 4,35 4,57 5,23 5,81 5,40 5,71 5,53 5,26
17 2006 6,06 5,50 5,94 5,13 4,48 5,97 5,32 5,81 5,60 6,00 5,80 5,45
18 2007 5,23 5,29 6,55 4,37 4,65 5,60 5,32 5,90 5,57 5,48 5,13 4,45
19 2008 4,77 6,62 4,65 4,37 5,39 4,93 5,97 6,06 5,83 5,52 4,60 4,35
20 2009 4,74 6,07 4,65 4,37 4,06 4,50 5,42 5,52 5,53 5,52 4,60 4,06

JUMLAH 115,19 127,70 110,94 100,37 105,52 110,93 118,13 121,55 121,10 122,06 111,83 107,48
RATA - RATA 5,76 6,38 5,55 5,02 5,28 5,55 5,91 6,08 6,06 6,10 5,59 5,37
Gambar 6.3.3 Grafik Kondisi Temperatur Udara tahun 1990-2009

Temperatur udara bulanan rata-rata yang terjadi adalah 26.570C, pada umumnya
berkisar antara 25.58°C–27.85°C.Temperatur bulanan minimum terjadi di bulan Juli
sedangkan temperatur bulanan maksimum terjadi di bulan Nopember.
d. Lama Penyinaran Matahari
Tabel 6.3.4 Contoh Tabel Sinar Matahari Harian Rata-Rata (%)

Penyinaran matahari bulanan rata-rata yang terjadi adalah 80.38% dan umumnya berkisar
antara 56.89% hingga93.74 %. Penyinaran matahari bulanan terbesar terjadi di bulan
September sedangkan yang terendah terjadi di bulan Februari.
e. Kelembaban Relatif

Tabel 6.3.5 Kelembaban Udara Harian Rata-Rata (%) Tahun 1990-2009


Gambar 6.3.5 Grafik Kondisi Kelembaban Relatif tahun 1990-2009

Kelembaban relatif bulananrata-rata yang terjadi adalah sebesar 78.37% dan pada
umumnya berkisar antara 70.21 % hingga 87.66%.Kelembaban bulanan rata-rata
yang rendah terjadi pada bulan Agustus sedangkan tertinggi pada bulan Februari.
f. Analisis Ketersediaan Air

Analisis ketersediaan air menghasilkan perkiraan ketersediaan air di suatu


wilayah sungai atau suatu sistem tata air, secara spasial maupun dalam waktu.
Analisis ini pada dasarnya terdiri atas langkah-langkah sebagai berikut:

 analisis data debit aliran;

 analisis data hujan dan iklim;

 pengisian data debit yang kosong serta memperpanjang data debit runtut

waktu; dan

 analisis frekuensi mengenai debit aliran rendah.


Tabel 6.3.6.1 Contoh Hasil Perhitungan Analisa Ketersediaan Air Dengan Metoda Mock
Rekapitulasi hasil perhitungan dari semua metode tersebut diatas adalah sebagai berikut:

Tabel 6.3.6.2 Rekapitulasi Stream Flow 1990 – 2009 Dengan Metode MOCK
Tabel 6.3.6.3 Analisa Debit Rencana (Andalan) Dengan Teori Kemungkinan (Probability)

Gambar 6.3.6.1 Lengkung Durasi Aliran (Flow Duration Curve)


Optimasi Ketersediaan Air (Perhitungan Volume Waduk).
Prinsip menghitung volume reservoir adalah Water Balance (keseimbangan air)
yaitu :

Air yang masuk ke reservoir (Inflow) dikurangi air yang keluar dari reservoir (Draft
dan Spill) menyebabkan terjadinya perubahan muka air reservoir (Cstr-Change of
Storage).

cstr
STE
STB SPILL
Inflow

RESERVOIR
BENDUNGAN
DRAFTT PENSTOCK

TURBINE

SIMULASI RESERVOIR
Air yang masuk ke reservoir yaitu air dari sungai (termasuk dari anak sungai). Air yang keluar
dari reservoir dapat berupa :

a. Air rembesan baik melalui tubuh bendungan, dasar bendungan, lereng reservoir,

b. Penguapan (evaporasi)

c. Air yang digunakan untuk memutar turbin (Draft),

d. Air yang keluar melalui spillway, bila reservoir dalm keadaan penuh.

Simulasi terebut dilakukan selama tersedianya data aliran sungai yang masuk ke reservoir.

Batasan dalam menghitung volume reservoir :

a. Diawali dengan asumsi bahwa reservoir dalam keadaan penuh air

b. Pada kondisi reservoir penuh maka volume reservoir ditetapkan 0 (nol) m3.

c. Apabila reservoir dalam keadaan penuh sedangkan air yang masuk lebih besar dari air
yang keluar, maka selisihnya adalah berupa spill air yang melalui spillway.

d. Besarnya volume reservoir adalah harga minimum yang paling besar.


Luas Genangan dan Volume Tampungan

Berdasarkan Peta Rupa Bumi Indonesia (RBI) untuk daerah sekitar PLTA BEH-
1 ini didapat luas genangan dan Volume Tampungan sebagai berikut :

Tabel 6.3.8. Luas Genangan dan Volume Tampungan


Gambar 6.3.8 Grafik Luas Genangan dan Volume Tampungan

Dengan adanya pembatasan Elevasi Puncak Spillway pada ketinggian +172.5 m, maka dari
tabel dan gambar diatas dapat dilihat bahwa Luas genangan untuk PLTA Beh-1 ini adalah
seluas 370 hektar dan Volume tampungan pada elevasi +172.5 m ini adalah sebesar 71 jt m3
PERANAN ANALISA HIDROLOGI DALAM
PERANCANGAN BANGUNAN-BANGUNAN
HIDRAULIK

Oleh:
Ir. Priyono Maskur Dpl.HE

20 APRIL 2018
 Analisis Debit Banjir

 Hidrograf Satuan Sintetik SCS dengan Metode HEC-HMS

Maksud perhitungan debit banjir maksimum boleh jadi adalah untuk memberikan
gambaran mengenai penelusuran banjir guna menentukan kemungkinan
terjadinya luapan pada bangunan yang ada berdasarkan banjir desain aliran
masuk (inflow design flood) yang disetujui, atau hidrograf aliran masuk Banjir
Maksimum Boleh jadi (BMB).

BMB dihitung dari Curah hujan Maksimum Boleh jadi – 24 jam (CMB - 24 jam).
Perhitungan CMB - 24 jam dilakukan dengan cara interpolasi Peta Isohyet PMP-
24 jam untuk Sumbawa.(Panduan Perencanaan Bendungan Urugan, Volume II
(Analisis Hidrologi), Juli, 1999, Departemen Pekerjaan Umum, Direktorat
Jenderal Pengairan, Direktorat Bina Teknik). Hasil interpolasi ini merupakan PMP
point yang kemudian dikonversi menjadi PMP area.
 Konversi CMB – 24 jam menjadi BMB dilakukan dengan distribusi curah hujan

jam-jaman dan analisa curah hujan – limpasan (rainfall-runoffi). Distribusi curah


hujan jam-jaman disusun dalam bentuk genta (bell shape) untuk perioda 24-jam,
12 jam dan 6-jam. Analisa curah hujan limpasan dilakukan dengan metoda
Hidrograf Satuan Sintetik Soil Conservation Service (SCS) – USA.

 Setiap distribusi curah hujan jam-jaman diaplikasikan ke metoda tersebut di atas,

kemudian dipilih hasil yang terbesar.

 Berikut ini hasil perhitungan Debit Banjir Maximum boleh jadi PMF (Probable

Maximum Flood) yang diakibatkan oleh CMB (Curah hujan Maximum Boleh Jadi
CMB (PMP-Probable Maximum Precipitation) dan penelusuran debit banjir di
waduknya. Perhitungan dilakukan dengan model simulasi HEC-HMS (Hydrologic
Modelling Simulation) dengan skematisasinya sebagaimana ditunjukkan pada
Gambar 6.4.1.
Gambar 6.4.1.1 Skematisasi Model Basin untuk Simulasi HEC-HMS untuk Perhitungan Debit Banjir Maximum
Boleh Jadi (PMF-Probable Maximum Flood) Bendungan PLTA BEH-1
Dari analisis perhitungan hidrologi, diperoleh CMB DAS bendungan PLTA BEH-1
adalah 622.3 mm. CMB ini kemudian dikali faktor reduksi luas.

Tabel 6.4.1.1 Faktor Reduksi Luas

Luas DAS km2 10.00 30.00 100.00 200.00 300.00 400.00 500.00 600.00

Faktor Reduksi
1.000 0.980 0.935 0.890 0.858 0.832 0.819 0.789
Luas

1,000.0 2,000.0 3,000.0 4,000.0 5,000.0


Luas DAS km2 700.00 800.00 900.00
0 0 0 0 0

Faktor Reduksi
0.770 0.752 0.735 0.720 0.610 0.515 0.435 0.370
Luas

Sumber : Panduan Perencanaan Bendungan Urugan, Vol. II. Analisis Hidrologi, Ditjen Pengairan, Direktorat Bina Teknik,
Juli 1999

Perhitungan debit banjirnya dilakukan untuk setiap durasi distribusi curah hujan jam-jaman
kritisnya. Dari hasil perhitungan ini yang dipakai adalah hasil perhitungan yang maximum. Jika
yang maximum adalah durasi 12 atau 6 jam, maka CMBnya dikoreksi dengan factor
sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 6.4.1.2
Tabel 6.4.1.2 Intensitas Hujan Dalam % yang Disarankan PSA 007

Kala
Durasi Hujan
Ulang
Tahun ½ jam ¾ jam 1 jam 2 jam 3 jam 6 jam 12 jam 24 jam
5 32 41 48 59 66 78 88 100
10 30 38 45 57 64 76 88 100
25 28 36 43 55 63 75 88 100
50 27 35 42 53 61 73 88 100
100 26 34 41 52 60 72 88 100
1000 25 32 39 49 57 69 88 100
SumberCMB
: 20 Perencanaan
Panduan 27 34
Bendungan 45 52 II. Analisis
Urugan, Vol. 64 Hidrologi,
88 Ditjen100
Pengairan,
Direktorat Bina Teknik, Juli 1999

CMB akhir yang telah dikoreksi dengan faktor koreksi luas DAS (Daerah Pengaliran Sungai)
dan distribusi curah hujan jam-jaman kritisnya adalah sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel
6.4.1.3
Tabel 6.4.1.3 CMB Setelah Dikoreksi

Elemen Tahapan Desain Tahapan Inspeksi


Luas DAS km2 581
CMB point mm 622.3
Faktor Koreksi
Reduksi Luas 0.79
Faktor Koreksi 12 jam
Durasi Curah
Hujan 0.88
Faktor Koreksi 6 jam
Durasi Curah
Hujan 0.64
CMB Terkoreksi 24 jam 491.62
CMB Terkoreksi 12 jam 432.62296
CMB Terkoreksi 6 jam 314.63488
Sumber :Hasil Perhitungan