Anda di halaman 1dari 40

ASKEP KLIEN DENGAN MASALAH

KECEMASAN (ansietas)

BY. Ns. RINA HERNIYANTI, S.Kep


PENGERTIAN

Kecemasan merupakan respon individu


terhadap suatu keadaan yang tidak
menyenangkan dan dialami oleh semua mahluk
hidup dalam kehidupan sehari-hari
Kecemasan adalah kebingungan,
kekhawatiran pada sesuatu yang akan terjadi
dengan penyebab yang tidak jelas dan
dihubungkan dengan perasaan tidak menentu
dan tidak berdaya.
(suliswati).
lanjutan

Kecemasan (ansietas) menurut


Stuart (1995) adalah kekhawatiran
yang tidak jelas dan menyebar, yang
berkaitan dengan perasaan tidak
pasti dan tidak berdaya.
TINGKAT KECEMASAN
Tingkat kecemasan menurut Stuart (2006)
dibagi menjadi 4 yaitu :
a. Kecemasan Ringan
 Individu waspada
Lapang persepsi luas
Menajamkan indra
 Dapat memotivasi individu untuk belajar
dan mempu memecahkan masalah secara
efektif.
 Menghasilkan pertumbuhan dan
kreatifitas
lanjutan
b. Kecemasan Sedang
 Individu hanya fokus pada pikiran
yang menjadi perhatiannya
 Terjadi penyempitan lapang
persepsi
 Masih dapat melakukan sesuatu
dengan arahan orang lain
lanjutan

c. Kecemasan Berat
 lapang persepsi individu sangat sempit
 Perhatian hanya pada detil yang kecil
(spesifik) dan tidak dapat berpikiran
tentang hal-hal yang lain.
 Seluruh prilaku dimaksudkan untuk
mengurangi kecemasan dan perlu banyak
perhatian/arahan untuk fokus pada area
lain.
lanjutan
d. Panik
 individu kehilangan kendali diri
 Detil perhatian hilang
 Tidak bisa melakukan apa pun
meskipun dengan perintah
 Terjadi peningkatan aktivitas
motorik
lanjutan

 Berkurangnya kemampuan
berhubungan dengan orang lain
 Penyimpangan persepsi dan hilangnya
pikiran rasional, tidak mampu
berfungsi secara efektif
 Biasanya disertai dengan
disorganisasi kepribadian
Kriteria serangan panik
1. Palpitasi
2. Berkeringat
3. Gemetar/goyah
4. Sesak nafas
5. Merasa tersedak
6. Nyeri dada
7. Mual dan distres abdomen
lanjutan
8. Pening
9. Ketakutan atau kehilangan kendali
diri
10. Ketakutan mati
11. Parestesia
(kusmawati, 2010)
RENTANG RESPON

Respon Adaptif Respon Maladaptif

Antisipasi Ringan Sedang Berat Panik


ETIOLOGI KECEMASAN
a. Faktor Predisposisi
ketegangan dalam kehidupan dapat berupa
hal-hal sebagai berikut :
 peristiwa traumatik
 Konflik emosional
 Gangguan konsep diri
 Frustasi
 Gangguan fisik
 Pola mekanisme koping keluarga
 Riwayat gangguan kecemasan
lanjutan

b. Faktor Presipitasi
1. Ancaman terhadap integritas fisik
 sumber internal dapat berupa
kegagalan mekanisme fisiologis
seperti jantung, sistem imun,
regulasi temperatur, perubahan
biologis yang normal seperti
kehamilan dan penuaan.
lanjutan
 Sumber eksternal dapat berupa
infeksi virus atau bakteri, zat
polutan, luka trauma
lanjutan
2. Ancaman terhadap harga diri
 sumber internal dapat berupa kesulitan
melakukan hubungan interpersonal di
rumah, di tempat kerja dan dimasyarakat.
 Sumber eksternal dapat berupa
kehilangan pasangan, orangtua, teman,
perubahan status pekerjaan, dilema etik
yang timbul dari aspek religius seseorang,
tekanan dari kelompok sosial atau budaya.
PENGKAJIAN
 Faktor Predisposisi
 Faktor Presipitasi
 Mekanisme Koping
 Perilaku
Faktor Predisposisi
1. Teori Psikoanalisa: ansietas mpk konflik elemen
kepribadian id dan super ego (dorongan insting
dan hati nurani). Ansietas mengingatkan ego akan
adanya bahaya yg perlu diatasi.
2. Teori interpersonal: ansietas terjadi krn
ketakutan penolakan dlm hub interpersonal.
Dihubungkan dg trauma masa pertumbuhan
(kehilangan, perpisahan) yg menyebabkan
ketdkberdayaan). Idv yg harga diri rendah mudah
mengalami ansietas.
Faktor Predisposisi

 Teori perilaku; ansitas timbul sbg akibat frustrasi


yg disebabkan oleh sesutu yg mengganggu
pencapaian tujuan. Mrpk dorongan yg dipelajari
utk menghindari rasa sakit/nyeri. Ansietas
meningkat jika ada konflik (konflik ~ ansietas ~
helplessness)
 Kondisi keluarga: ansietas dpt timbul secara
nyata dlm keluarga. Ada overlaps gg ansietas dan
depresi.
Faktor Predisposisi
 Keadaan biologis: menunjukkan bhw
otak mengandung reseptor khusus untuk
benzodiazepines. Reseptor ini membantu
mengatur ansietas. Ansietas dpt
memperburuk penyakit (hipertensi,
jantung, peptic ulcers). Kelelahan
mengakibatkan idv mudah terangsang dan
merasa ansietas.
Faktor Presipitasi

 Ancaman integritas fisik: ketidakmampuan


fisiologis dan menurunnya kemampuan
melaksanakan ADL.
 Ancaman thd sistem “diri”; mengancam
identitas, harga diri, integrasi sosial. Mis: phk,
kesulitan peran baru.
 Gabungan: penyebab timbulnya ansietas gabungan
dr genetik, perkembangan, stresor fisik, stresor
psikososial.
Perilaku
 Ansietas dpt diekspresikan lgs melalui
perubahan fisiologis dan perilaku scr tdk lgs
melalui timbulnya gejala/mekanisme koping utk
mempertahankan diri dari ansietas.
 Respon fisiologis dpt terjadi pd sistem
kardiovaskuler, pernafasan, meuromuskuler, GI,
perkemihan, dan kulit
 Perilaku: motorik, afektif, kognitif
Efek fisiologis ansietas
 Kardiovaskuler: palpitasi, berdebar-debar, TD,
pinsan, TD, N .
 Pernafasan: P, nafas pendek, dada sesak, nafas
dangkal, rasa tercekik, terengah-engah.
 Neuromuskuler:  refeks, terkejut, mata
berkedip-kedip, insomnia, tremor, kaku-kaku,
gelisah, wajah tegang, kelemahan umum, gerakan
lambat, kaki goyah.
Efek fisiologis ansietas
 Gastrointestinal: hilang nafsu makan,
menolak makan, abdomen tdk nyaman,
nyeri abdomen, mual, perih, diare.
 Sistem perkemihan: tekanan utk b.a.k.,
sering b.a.k.
 Kulit: wajah kemerahan, keringat lokal,
gatal-gatal, rasa panas dingin, wajah pucat,
berkeringat seluruh tubuh.
Respon Perilaku
 Motorik: gelisah, ketegangan fisik, tremor, sering
kaget, bicara cepat, kurang koordinasi,
cenderung celaka, menarik diri, menghindar,
menahan diri, hiperventilasi.
 Kognitif: gg perhatian, tak bisa konsentrasi,
pelupa, salah tafsir, pikiran blocking, menurunnya
lahan persepsi, bingung, kesadaran diri
berlebihan, waspada berlebihan, hilangnya
obyektivitas, takut hilang kontrol, takut
luka/mati.
Respon Perilaku
 Afektif: tdk sabar, tegang, nervous, takut
berlebihan, teror, gugup, sangat gelisah.
Mekanisme Koping
1. Task Oriented (orientasi pd tugas)
◦ Dipirkan utk memecahkan masalah, konflik,
memenuhi kebutuhan.
◦ Realistis memenuhi tuntutan situasi stres
◦ Disadari dan berorientasi pd tindakan
◦ Berupa reaksi: melawan (mengatasi rintangan utk
memuaskan kebutuhan), menarik diri
(menghilangkan sumber ancaman fisik atau
psikologis), kompromi (mengubah cara, tujuan utk
memuaskan kebutuhan)
Mekanisme Koping
2. Ego oriented:
◦ Task oriented tdk selalu berhasil
◦ Melindungi “self”
◦ Berguna pd ansietas ringan ~ sedang
◦ Melindungi dr perasaan inadequacy dan
buruk
◦ Berupa penggunaan mekanisme pertahanan
diri (defens mechanism)
Defens Mechanism
 Kompensasi  Proyeksi
 Denial  Rasionalisasi
 Displacement
 Reaksi formasi
 Disosiasi
 Regresi
 Identifikasi
 Intelektualisasi
 Introyeksi
 Isolasi
DIAGNOSIS KEPERAWATAN
Menurut NANDA:
◦ Ansietas
◦ Koping individu tidak efektif
◦ Ketakutan
Tujuan

 Menurunkan
tingkat kecemasan
klien.
 Mendukung dan
melindungi klien
Tindakan Keperawatan pd
Ansietas Berat - Panik
Tujuan: memberi dukungan, melindungi, dan
menurunkan tingkat ansietas pada tkt
sedang atau ringan.
 Bina hubungan saling percaya dan terbuka:
dengarkan keluhan, dukung utk
menceritakan perasaan, jawab pertanyaan
scr lags, menerima tanpa pamrih, hargai
pribadi klien.
Tindakan Keperawatan pd
Ansietas Berat - Panik
 Sadari dan kontrol perasaan diri perawat:
bersikap terbuka sesuai perasaan, terima
perasaan positif maupun negatif termasuk
perkembangan ansietas, menggali penyebab
ansietas, pahami perasaan diri secara
terapeutik.
Tindakan Keperawatan pd
Ansietas Berat - Panik
 Yakinkan klien ttg manfaat mekanisme koping yg
bersifat melindungi dan tdk memfokuskan diri pd
perilaku maladaptif: terima dan dukung klien; tdk
menentang klien; nyatakan perawat bisa
memahami rasa sakit tetapi tdk memfokuskan
pada rasa tersebut; beri umpan balik thd perilaku,
stresor, dampak stresor dan sumber koping;
dukung ide keh fisik berhub dg kesehatan mental;
batasi perilaku maladaptif dg cara suportif.
Tindakan Keperawatan pd
Ansietas Berat - Panik
 Identifikasi dan mencoba menurunkan situasi
yg menimbulkan ansietas: sikap tenang;
lingkungan tenang; batasi kontak dg klien
lain; identifikasi dan modifikasi hal yg
menimbulkan cemas; terapi fisik: mandi air
hangat, pijat
 Anjurkan melakukan aktivitas di luar yg
menarik; share aktivitas yg sering
dilakukan; latihan fisik; buat rencana harian;
libatkan keluarga dan support system.
Tindakan Keperawatan pd
Ansietas Berat – Panik

 Tingkatkan kesehatan fisik: beri obat-obatan


yg meningkatkan rasa nyaman; observasi
efek samping obat dan beri pendidikan
kesehatan yang sesuai.
Tindakan Keperawatan pd
Ansietas Sedang
1. Bina hubungan saling percaya:
◦ Dengar dengan hangat dan responsif
◦ Beri waktu kepada klien untuk berespon
◦ Beri dukungan utk ekspresi diri.
2. Perawat menyadari dan mengenal ansietasnya
sendiri:
◦ Kenali perasaan diri
◦ Kenali sikap dan perilaku perawat yg berdampak
negatif pd klien
◦ Bersama klien menggali perilaku dan respon shg dapt
belajar dan berkembang
Tindakan Keperawatan pd
Ansietas Sedang
3. Bantu klien mengenal ansietasnya:
◦ Bantu klien mengekspresikan perasaan.
◦ Bantu klien menghubungkan perilaku dg perasaan klien.
◦ Memvalidasi kesimpulan dan asumsi.
◦ Pertanyaan terbuka.
4. Memperluas kesadaran berkembangnya ansietas:
◦ Bantu klien menhubungkan situasi dan interaksi yg
menimbulkan ansietas.
◦ Bantu klien meninjau kembali penilaian klien thd
stresor yg dirasa mengancam dan menimbulkan
konflik.
◦ Mengaitkan pengalaman saat ini dg pengalaman masa
lalu
Tindakan Keperawatan pd
Ansietas Sedang

5. Bantu klien mempelajari koping yg baru


◦ Menggali pengalaman klien menghadapi ansietas
sebelumnya.
◦ Tunjukkan akibat negatif koping yg saat ini.
◦ Dorong klien untuk mencoba koping adaptif yg lalu
◦ Memusatkan tanggung jawab perubahan pada klien
◦ Terima peran aktif klien. Mengaitkan hubungan sebab-
akibat keadaan ansietasnya.
◦ Bantu klien menyusun kembali tujuan memodifikasi
perilaku
◦ Anjurkan penggunaan koping yg baru
Tindakan Keperawatan pd
Ansietas Sedang

 Didik klien untuk memakai ansietas ringan


untuk pertumbuhan diri.
 Dorong aktivitas fisik untuk menyalurkan
energi
 Mengerahkan dukungan sosial ~ koping
adaptif diterapkan oleh klien.
TERIMA KASIH
SEMOGA BERMANFAAT

Anda mungkin juga menyukai