Anda di halaman 1dari 19

Violence, Self, Self Compassion, Love dan

Benevolence
Psikologi Perdamaian

Fadhilah Lutfiani K.
1571041016
Istilah kekerasan berasal dari bahasa
Latin violentia, yang berarti keganasan,
kebengisan, kedahsyatan, kegarangan,
aniaya, dan perkosaan.
Tindak kekerasan, menunjuk pada tindakan
yang dapat merugikan orang lain.
Misalnya, pembunuhan,
penjarahan, pemukulan, dan lain-lain.
Walaupun tindakan tersebut menurut
Violence masyarakat umum dinilai benar.
Teori Violence

1. Teori Faktor Individual

Beberapa ahli berpendapat bahwa setiap perilaku kelompok, termasuk perilaku kekerasan, selalu berawal dari
perilaku individu. Faktor penyebab dari perilaku kekerasan adalah faktor pribadi dan faktor sosial. Faktor
pribadi meliputi kelainan jiwa. Faktor yang bersifat sosial antara lain konflik rumah tangga, faktor budaya dan
faktor media massa.

2. Teori Faktor Kelompok

Individu cenderung membentuk kelompok dengan mengedepankan identitas berdasarkan persamaan ras,
agama atau etnik. Identitas kelompok inilah yang cenderung dibawa ketika seseorang berinteraksi dengan
orang lain. Benturan antara identitas kelompok yang berbeda sering menjadi penyebab kekerasan.

3. Teori Dinamika Kelompok

Menurut teori ini, kekerasan timbul karena adanya deprivasi relatif yang terjadi dalam kelompok atau
masyarakat. Artinya, perubahan-perubahan sosial yang terjadi demikian cepat dalam sebuah masyarakat tidak
mampu ditanggap dengan seimbang oleh sistem sosial & masyarakatnya.

3
KONSEP DIRI
Konsep diri (self-concept) merupakan
kesadaran seseorang mengenai siapa dirinya.
Menurut Deaux, Dane, & Wringhtsman (1993),
konsep diri adalah sekumpulan keyakinan dan
perasaan seseorang mengenai dirinya.
Keyakinan seseorang mengenai dirinya bisa
berkaitan dengan bakat, minat, kemampuan,
penampilan fisik, dan lain sebagainya.
Self
Pengetahuan Tentang Diri

Konsep diri pada dasarnya merupakan suatu skema, yaitu pengetahuan


yang terorganisir mengenai sesuatu yang kita gunakan untuk
mengintepretasikan pengalaman. Dengan demikian, konsep diri adalah
skema diri (self-schema), yaitu pengetahuan tentang diri, yang
mempengaruhi cara seseorang mengolah informasi dan mengambil
tindakan (Vaughan & Hogg,2002). Menurut Higgins (1987), ada tiga jenis
skema diri antara lain :
· actual self , yaitu bagaimana diri kita saat ini,
· ideal self, yaitu bagaimana diri yang kita inginkan,
· ought self, yaitu bagaimana diri kita seharusnya.

5
Identitas Personal dan sosial

Pada identitas personal, seseorang akan mendefinisikan dirinya berdasarkan atribut atau trait yang
membedakan diri dengan orang lain dan hubungan interpersonal yang dimiliki. Sedangkan pada
identitas sosial, seseorang akan mendefinisikan dirinya berdasarkan keanggotaan dalam suatu
kelompok sosial atau atribut yang dimiliki bersama oleh anggota kelompok (Vaughan & Hogg, 2002).
Menurut BRewe & Gardiner (1996), tiga bentuk diri yang menjadi dasar bagi seseorang dalam
mendifinisikan dirinya adalah sebagai berikut :
•individual self, yaitu diri yang didefinisikan berdasarkan trait pribadi yang membedakan dengan
orang lain,
•relation self, yaitu diri didefinisikan berdasakan hubungan interpersonal yang dimiliki dengan orang
lain,
•collective self, yaitu diri didefinisikan berdasarkan keanggotaan dari kelompok tertentu

6
Harga Diri

Harga diri adalah penilaian atau evaluasi secara positive atau negative terhadap diri
seseorang. Setiap orang menginginkan harga diri yang positif karena :
•Harga diri yang positif membuat orang merasa nyaman dengan dirinya di tengah
kepastian akan kematian yang suatu waktu akan dihadapinya,
•Harga diri yang negatif membuat orang dapat mengatasi kecemasan, kesepian, dan
penolakan sosial

7
Presentasi Diri

Menurut Jones & Pittman (1982), lima strategi presentasi diri yang memiliki tujuan yang berbeda adalah sebagai
berikut :
1. Integration
Dengan tujuan agar disukai, kita menampilkan diri sebagai orang yang ingin membuat orang lain senang,
2. Self-promotion
Dengan tujuan agar dianggap kompeten, kita menampilkan diri sebagai orang yang memiliki kelebihan atau
kekuatan baik dalam hal kemampuan atau trait pribadi,
3. Intimidation
Dengan tujuan agar ditakuti, kita menampilkan diri sebagai orang yang berbahaya dan manakutkan,
4. Supplication
Dengan tujuan dikasihani, kita menampilkan diri sebagai orang yang lemah dan tergantung.
5. Exemplification
Dengan tujuan dianggap memiliki integritas moral tinggi, kita menampilkan diri sebagai orang yang rela berkorban
untuk orang lain.

8
Self-compassion merupakan salah satu
bahasan yang bisa menjelaskan bagaimana
individu mampu bertahan, memahami dan
menyadari makna suatu kesulitan sebagai hal
yang positif.

Self Compassion
Individu yang mempunyai self compassion tinggi
mempunyai ciri :

1. Mampu menerima diri sendiri baik itu kelebihan maupun


kelemahannya;
2. Mampu menerima kesalahan atau kegagalan sebagai
sebuah hal umum yang juga dialami oleh orang lain;
3. Mempunyai kesadaran tentang ketertubungan antara segala
sesuatu
Self-compassion dapat dipahami melalui beberapa komponen yang dikembangkan oleh Neff (2003b),
yaitu:
1) Self kindness (kebaikan diri) merupakan komponen yang menerangkan seberapa jauh seseorang
dapat memahami dan memaknai kegagalannya. Self kindness berisi afirmasi bahwa diri pantas
mendapatkan cinta, kebahagiaan,dan kasih sayang walaupun dalam kondisi terburuk sehingga tercipta
kenyamanan bagi diri sendiri (Neff, 2011). Self kindness bertolak belakang dengan self judgment, yang
berisi sikap permusuhan, rendah diri dan kritik terhadap diri sendiri.
2) Common humanity (sifat manusiawi) merupakan komponen tentang seberapa banyak seseorang
mampu menghargai pemikiran, perasaan dan tingkah laku orang lain yang beragam. Melalui common
humanity seseorang akan mampu melihat sebuah kegagalan atau masalah dari sudut pandang yang
lebih luas sehingga mampu memahami bahwa peristiwa yang sedang dialaminya tersebut terjadi bukan
semata-mata karena kesalahanya sendiri melainkan memang hal yang sudah sewajarnya terjadi.
Common humanity berkebalikan dengan isolasi diri. Ketika seseorang mengalami kegagalan, biasanya
dia akan merasa hanya dirinya saja di dunia ini yang mengalami kondisi tersebut dan merasa harus
bertanggung jawab sendirian. Akibatnya muncul perasaan malu dan berusaha mengisolasi diri.

11
3. Mindfulness (kesadaran penuh atas situasi saat ini) merupakan kemampuan menyeimbangkan pikiran
ketika dalam situasi yang menekan atau menimbulkan penderitaan (Neff, 2003b). Konsep dasar
mindfullness adalah melihat segala sesuatu seperti apa adanya dalam artian tidak dilebih-lebihkan atau
dikurangi sehingga mampu menghasilkan respon yang benar-benar obyektif dan efektif (Neff, 2011).
Mindfulness bertolak belakang dengan over identification, berupa hilangnya kontrol atas emosi.

12
Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang
kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi
cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua
kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang.
Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan
aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain,
berupa pengorbanan diri, empati, perhatian,
memberikan kasih sayang, membantu, menuruti
perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan
apapun yang diinginkan objek tersebut.
Love
Teori Roda Warna tentang Cinta

Teori cinta Sternberg menjelaskan bahwa ketiga unsur ini bisa saling dikombinasikan
dan menghasilkan jenis cinta yang berbeda. Sebagai contoh, kombinasi antara keintiman
dan komitmen akan menghasilkan cinta yang penuh kasih sayang (compassionate love).
Sementara kombinasi antara gairah dan keintiman bisa menghasilkan gairah cinta
(passionate love). Hubungan cinta yang mungkin paling sempurna, digambarkan oleh
Sternberg sebagai kombinasi antara ketiga komponen cinta (keintiman, komitmen dan
gairah). Cinta ini adalah cinta sempurna (consummate love). Namun demikian, Sternberg
sendiri menyangsikan bahwa ada bentuk cinta yang sempurna.

14
Teori Segitiga tentang Cinta

John Lee dalam buku klasiknya The Colors of Love pada tahun 1973 menggambarkan
teorinya tentang cinta. Cinta dianalogikan layaknya seperti lingkaran warna (color wheel
atau color circle). Dalam teorinya, ada ilustrasi abstrak yang menggambarkan hubungan
antara warna-warna primer, warna sekunder dan warna komplementer. Lee menjelaskan
warna utama dalam cinta ada tiga macam yang disebut sebagai Eros, Ludos dan Storge.
Eros merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan cinta yang paling ideal.
Sementara itu, Ludos merupakan cinta yang sifatnya hanya permainan saja. Storge
adalah cinta yang dianggap sebagai sebuah persahabatan saja.

15
Teori Segitiga tentang Cinta

Dari ketiga macam warna tersebut, maka Lee membuat analogi cinta sama halnya
dengan pencampuran warna. Penjabarannya adalah sebagai berikut:
•Eros + Ludos akan menghasilkan Mania. Mania merupakan bentuk cinta yang
obsesif.
•Ludos + Storge akan menghasilkan Pragma. Pragma adalah bentuk cinta yang
realistis dan praktis.
•Eros + Storge akan menghasilkan Agape. Agape merupakan bentuk cinta yang tanpa
pamrih.

16
Suka vs Cinta

Zick Rubin adalah seorang psikolog yang menjabarkan teorinya tentang cinta, dimana cinta yang romantis itu
terdiri dari tiga macam unsur yakni keterikatan (attachment), kepedulian (caring) dan keintiman (intimacy).
Keterikatan disebut sebagai suatu kebutuhan untuk mendapatkan perhatian dan kontak fisik dengan orang lain.
Sementara itu, kepedulian merupakan bentuk kemampuan individu dalam memberikan kebahagiaan untuk orang
lain dan juga kemampuan untuk menghargai orang lain. Keintiman memiliki pengertian tentang kebutuhan
berbagi pemikiran, keinginan dan perasaan dengan orang lain.

Dari berbagai macam unsur tersebut, Rubin kemudian merancang skala tentang menyukai dan mencintai. Skala
ini dikenal sebagai Rubin’s Scales of Liking and Loving. Skala ini bisa digunakan apakah seseorang hanya
sebatas menyukai sesuatu atau memang benar-benar berada pada tahap mencintai. Dalam penelitiannya, Rubin
mengidentifikasi bahwa hubungan antar teman biasanya akan saling menyukai sementara hubungan dengan
pasangan berada dalam tahap mencintai.

Cinta memang merupakan bentuk yang kompleks. Biasanya cinta disebut sebagai sesuatu yang abstrak. Namun
demikian, skala dari Rubin bisa digunakan untuk menggambarkan perbedaan dari menyukai dan mencintai.

17
Niat baik(Benevolence) yaitu kepercayaan
akan kesejahteraan atau kepemilikan
seseorang terhadap perlindungan dan
perhatian orang lain atau kelompok yang
dipercayainya. Sikap dan keinginan yang baik
akan menumbuhkan hubungan kepercayaan
ini.
Adanya niat yang baik dapat memunculkan
sikap merasa nyaman, sejahtera dan
membentuk kepercaayaan antar individu.
Benevolence
Referensi

Anantasarie. 2006.[Menyikapi https://www.academia.edu/11449566


Perilaku Agresif Anak, Yogyakarta: /teori_self_psikologi_sosial
KANISIUS. 4 http://ejournal.umm.ac.id/index.php/ji
]Sarwono, S. W. 2002. Psikologi
Sosial. Jakarta : Balai Pustaka. pt/article/download/2136/2284
Myers G, David . Psikologi Sosial. https://dosenpsikologi.com/teori-
2012. Jakarta : penerbit cinta-dalam-psikologi-sosial

19