Anda di halaman 1dari 55

CASE REPORT

Pembimbing:
dr. Meirianisari, MSc, SpA, IBCLC

Oleh:
Steven Yosiardo Purnama
406161027
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN ANAK
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TARUMANAGARA
RUMAH SAKIT SUMBER WARAS
PERIODE 21 AGUSTUS 2017 – 28 OKTOBER 2017 1
LATAR BELAKANG
TB Paru

Pneumonia

Gizi Buruk
I. IDENTITAS PASIEN

Nama: An. TR Suku Bangsa: Jawa


Umur: 11 bulan 12 hari Pendidikan: Belum bersekolah
Tempat/Tanggal lahir: Jakarta, 12
Status Pernikahan: Belum menikah
September 2016
Jenis kelamin: Laki-Laki Pekerjaan: Belum bekerja
Alamat: JalanTanjong Gedong, Tanggal Masuk RS:
Jakarta. 25 Agustus 2017
Agama: Islam NRM: 627323

3
I. ANAMNESIS

 Autoanamnesa dan Alloanamnesa (ibu pasien) Jumat 25


Agustus 2017 pukul 00:30 WIB di bangsal anak RS Sumber
Waras

A. Keluhan Utama: Demam sejak ± 7 hari SMRS.

4
B. Riwayat Penyakit Sekarang:

Pasien datang dengan keluhan demam, demam sejak ± 7 hari SMRS,


naik turun terasa lebih panas pada malam hari. Menurut keterangan ibu pasien,
pada hari rabu – kamis suhu pasien diukur tertinggi demam (38,4℃), tetapi pada
hari jumat sore pagi pasien kembali demam hingga 39.4 ℃, hingga menggigil dan
berkeringat dingin.

Keluhan ini disertai dengan keluhan lain yaitu berupa batuk pilek,
penurunan nafsu makan, mual, muntah, dan penurunan berat badan. Keluhan
batuk dan pilek muncul sejak 1 bulan SMRS. Batuk dan pilek dirasakan sepanjang
hari, terutama malam hari dan tidak menghilang hingga saat ini. Batuk dikatakan
berdahak, berwarna putih kehijauan. Batuk juga disertai rasa sesak, nafas yang
kasar, anak terasa rewel dan tidak dapat tidur dengan tenang

5
Keluhan penurunan nafsu makan dirasakan 6 hari SMRS, ibu pasien
mengatakan anaknya selalu susah diberi makan atau minum susu selalu ingin
mual dan muntah. Muntah mulai dirasakan sejak 4 hari SMRS, pasien muntah
sebanyak 2x berisi cairan susu dan makanan, dengan sekali muntah sebanyak 1/3
gelas aqua dan sifat muntah tidak menyemprot, BAK dan BAB normal

Ibu pasien khawatir karena dengan segala keluhan yang ada anaknya
semakin terasa kurus oleh karena itu ibu pasien mengatakan, sudah mencoba
berobat ke klinik dekat rumah dan mendapat obat penurun panas dan batuk saja,
dan sudah berobat ke puskesmas dan diberikan penanganan yang sama namun tak
kunjung membaik. Karena keluhan tidak kunjung membaik, pihak puskesmas
memberikan rujukan kepada keluarga pasien untuk berobat ke RS Sumber
Waras.

6
Riwayat Penyakit Dahulu: Riwayat Penyakit Keluarga:
 Riwayat sakit keras tidak  Keluhan serupa: disangkal
pernah  Riwayat Hipertensi, Asma,
 Hanya batuk pilek saja Diabetes mellitus, Penyakit
dan tidak pernah Jantung disangkal
dirawat sebelumnya
 Asma, Diabetes,
Penyakit Jantung bawaan
disangkal

7
Riwayat perinatal: Riwayat imunisasi:
 Anak ke-1 dari 1 bersaudara
 Imunisasi dasar wajib  lengkap:
 Kontrol ANC teratur ke
 0 bulan: Hepatitis B 0
Bidan/Puskesmas,1x/bulan,
 1 bulan: BCG, Polio 1
mendapat supplement besi, asam
 2 bulan: DPT/HiB 1, Polio 2
folat dan obat mual, keputihan (-).
 3 bulan: DPT/HiB 2, Polio 3
 Lahir normal di rumah dibantu oleh
 7 bulan: DPT/HiB 3, Polio 4
bidan, cukup bulan, BBL 3050
 10 bulan: Campak
gram, PBL 49 cm, langsung
 Booster  Tidak ada.
menangis kuat, tidak ada masalah
selama persalinan.  Kesan: Riwayat imunisasi dasar wajib
pasien lengkap tidak sesuai jadwal,
dan tidak di booster.
 Kesan: Riwayat perinatal dan
8 persalinan baik.
Riwayat pertumbuhan dan asing), kognitif baik (makan
perkembangan: sendiri), bahasa baik (babbles)
 9 bulan: motorik baik (pegang
 Riwayat pertumbuhan: barang dengan 2 jari, berdiri
 BBL: 3050 gram; PBL: 49 cm tanpa bantuan, takut jatuh),
 BB sekarang: 6.5 kg; TB sosial baik (bercanda), kognitif
sekarang: 68 cm  BB ideal: baik (makan sendiri), bahasa
kg; baik (dapat mengucapkan kata
dengan suku kata yang
 Riwayat perkembangan: berulang)
 Milestone:  KPSP 9 bulan Ya 7
 6 bulan: motorik baik (bisa  Kesan: Riwayat
memindahkan barang, berbalik, pertumbuhan dan
duduk tanpa pegangan), sosial perkembangan sesuai
baik (curiga terhadap orang dengan usia
9
Riwayat Asupan Nutrisi
 Pasien mendapat ASI eksklusif sampai usia 3 bulan kemudian
dilanjutkan dengan dicampur susu formula 3 – 5 kali/hari dan
MPASI.
 Food recall 1 x 24 jam pasien adalah sebagai berikut:
 Total kalori: kkal/hari (kuantitas tidak mencukupi, secara
kualitas kurang bervariasi)

Menu Jumlah makanan Kalori

Pagi Susu SGM 2 botol kkal


Siang Bubur Milna 2 porsi kkal
Susu SGM 1 botol
Malam Susu SGM 1 botol kkal
III. PEMERIKSAAN FISIK
 Pemeriksaan Umum
 Keadaan umum: tampak lemas.
 PGCS 15 (E4M6V5).
 Skala nyeri Wong Baker Faces 3
 Tanda vital
 Tekanan darah : 90/60 mmHg
 Nadi : 124 kali/menit, ireguler, isi cukup
 Frekuensi napas : 44 kali/menit, reguler
 Suhu : 38,6oC

11
Pemeriksaan Fisik
• Antropometri:
– BB = 6.5 kg
– TB = 68 cm

• WHO antropometri:
– BB/TB : 
– TB / U :  Normal
– BB/ U: Normal
– IMT / U (13.23) : Normal
– BB ideal  5 kg

• Waterlow :  Gizi
 Pemeriksaan Sistem
 Kepala: Bentuk bulat, normocephali tidak teraba benjolan, rambut berwarna
hitam, terdistribusi merata, tidak mudah dicabut, tidak tampak kelainan pada
kulit kepala, tidak teraba massa, ubun-ubun cekung (-)
 Mata: Pupil bulat, isokor, 2 mm/2 mm, reflex cahaya +/+, konjungtiva anemis
(-)/(-), sklera ikterik (-)/(-), mata cekung (-)/(-)
 Hidung: Bentuk normal, deviasi (-), jejas (-), sekret (-)/(-), napas cuping hidung
(-)
 Telinga: Bentuk normal, liang telinga lapang, sekret (-)/(-), fistel pre-aurikuler
(-)/(-), nyeri tekan (-)
 Mulut: Sianosis (-), stomatitis (-), mukosa basah warna merah muda, lidah
normal, faring hiperemis (-), coated tongue (+), atrofi papil lidah (-), gigi-geligi
lengkap, tidak ada karies, tonsil T1-T1
 Leher: Trakea di tengah, deviasi (-), terdapat pembesaran kelenjar getah bening
a/r superficial cervical kanan (+)
13
 Thorax:
 Paru-paru:
 Inspeksi: bentuk normal, simetris dalam keadaan statis maupun
dinamis, jejas (-), retraksi dinding dada (-), ruam – ruam kemerahan (+)
 Palpasi: tidak teraba massa, krepitasi (-)
 Perkusi: sonor di kedua lapang paru
 Auskultasi: vesikuler di seluruh lapang paru, ronkhi (+)/(+),
wheezing (-)/(-)
 Jantung:
 Inspeksi: pulsasi ictus cordis tidak tampak
 Palpasi: pulsasi ictus cordis teraba di ICS V MCL sinistra
 Perkusi: dalam batas normal
 Auskultasi: bunyi jantung I dan II normal, gallop (-), murmur (-)
14
 Abdomen:
 Inspeksi: tampak datar, simetris, striae (-), sikatriks (-), massa (-), pelebaran vena (-), jejas (-),
 Auskultasi: bising usus (+) normal
 Perkusi: timpani di seluruh abdomen
 Palpasi: supel, defans muskular (-), nyeri tekan (-), massa (-), hepatosplenomegali (-)
 Anus dan genitalia: anus (+), genitalia dalam batas normal
 Ekstremitas dan tulang belakang: ruam – ruam kemerahan (+), akral hangat, edema (-), CRT
<2s, sianosis (-), tulang belakang normal, kifosis (-), lordosis (-), skoliosis (-)
 Kulit: dalam batas normal, turgor kulit baik, sianosis (-)
 KGB: tidak teraba pembesaran KGB

 Kesan: pada mulut didapatkan coated tongue (+), terdapat pembesaran


kelenjar getah bening a/r superficial cervical kanan (+), rhonki (+)/(+),
ruam ruam kemerahan di muka, badan, dan eksterimatas atas dan bawah.
Pemeriksaan fisik lain dalam batas normal.
15
 Pemeriksaan Neurologis
 Refleks fisiologis: biceps (+)/(+), triceps (+)/(+), patella (+)/(+),
achiles (+)/(+)
 Refleks patologis: babinski (-)/(-), chaddock (-)/(-), schaeffer (-)/(-),
Gordon (-)/(-)
 Meningeal sign: kaku kuduk (-), Brudzinsky I – IV (-)
 Normotoni, normotropi
 Kekuatan 5555/5555/5555/5555
 N. cranialis I – XII dalam batas normal

 Kesan: Pemeriksaan neurologis dalam batas normal.


IV. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Laboratorium (4 September Rontgen thorax (6
2017): September 2017)
Nilai Normal
 Hasil : Bronchopneumonia
Hemoglobin 10.6 g/dL 11,8 – 15 g/dl
Hematokrit 31.8% 36 – 46%
Dextra
4 – 5,2 juta/µL
Eritrosit 4.09 juta/µL

4500 – 13.500/µL
Leukosit 4.400/µL

150 – 440 /µL


Trombosit 231.000/µL

Hitung jenis 0/0/2/74/23/1

LED 35 mm/jam 0 – 15 mm/jam

Salmonella Thyphi
17 Positive
Ig M
V. RESUME
 Telah diperiksa seorang anak perempuan usia 4 tahun dengan demam sejak 6 hari SMRS,
demam naik turun dan dirasa lebih panas pada malam hari. Batuk pilek (+), penurunan nafsu
makan (+), Nausea (+), Vomitus (+), keluar bintik – bintik merah (+). Keluhan batuk dan
pilek dirasakan sejak 4 hari hingga saat ini. Keluhan batuk disertai dahak (+) putih susu.
Selama pasien sakit, kakak pasien mengatakan adiknya kurang nafsu makan dikarenakan setiap
makan mual dan ingin muntah. Pada saat 4 hari SMRS, pasien muntah sebanyak 3x, sebanyak
1/3 gelas aqua kecil yang berisi cairan. Keluar bintik bintik merah sejak 2 hari SMRS, bintik
bintik merah keluar pertama kali pada muka pasien, lalu sore harinya baru muncul didaerah
tangan, dada, abdomen dan kaki pasien. Keluhan ini gatal (-), perih (-), panas (-). Pasien telah
dibawa berobat ke puskesmas dan mendapat obat penurun panas, tetapi menurut keluarga
pasien tetap saja tidak ada perubahan oleh itu keesokan harinya dibawa berobat ke RS Sumber
Waras. Pada pemeriksaan fisik didapatkan status gizi kurang, coated tongue (+), pembesaran
kelenjar getah bening a/r superficial cervical kanan (+), rhonki (+/+), ruam ruam
kemerahan di seluruh tubuh. Pada pemeriksaan laboratorium didapatkan penurunan HT,
peningkatan LED, dan IgM Salmonella Typhi (+).

18
VI. & DIAGNOSIS
Diagnosa Kerja:
 Rubella
 Thyphoid Fever
 Pneumonia
 Low Intake
 Gizi kurang

19
VII. PENGKAJIAN
a. Clinical Reasoning
 Rubella  Suatu penyakit virus yang umum pada anak dan dewasa muda yang
ditandai dengan masa prodromal yang pendek, pembesaran kelenjar getah bening,
disertai dengan erupsi yang berlangsung 2 – 3 hari.
Kasus : Demam sejak 6 hari SMRS, mulai muncul ruam – ruam kemerahan
terutama di daerah muka kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain 2
hari SMRS, terdapat pembesaran KGB di a/r superficial cervical dextra
(+).
 Demam tifoid  penyakit endemis di Indonesia yang disebabkan oleh infeksi
sistemik Salmonella typhi dimana terjadi demam bertahap tiap hari disertai gejala
saluran pencernaan dan lainnya.1
Kasus: demam sejak 6 hari SMRS, semakin hari semakin tinggi, terutama
malam hari, mual dan muntah, coated tongue (+), ronkhi (+)/(+), IgM
anti-Salmonella +, peningkatan LED.
 Pneumonia  Inflamasi yang mengenai parenkim paru, sebagian besar disebabkan
oleh mikroorganisme (virus/bakteri), hasil foto rontgen : Bronkopneumonia.
Kasus : Demam, batuk berdahak putih susu, rh (+/+).
20
b. Diagnosis Banding
Observasi febris ec viral infection
Demam Dengue
TB Paru

c. Rencana Diagnostik
 Pemeriksaan lab (Darah rutin, Tubex)
 Mantoux test
 Foto rontgen AP + Lateral

21
Rencana Terapi
Farmakologis Non-Farmakologis
 Ceftriaxone IV
 Kebutuhan cairan:
(50 – 75 mg/kgBB/hari)  775 – 1162.5
mg/hari IV  2 x 500 gram IV selama 5 hari  1175 cc/hari
 Paracetamol syrup  (Input: oral  675 cc/hari)
(10 – 15 mg/kgBB/kali)  150 – 232.5 mg/kali  IVFD RL (500 cc/hari  20 tpm
 3 x 1½ cth jika demam ≥38oC, dapat diulang
setiap 4 jam
mikro)
 Deksametason IV  Kebutuhan kalori:
(0,08 – 0,3 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis)   Energi  90 X 1.55  1395
1,24 – 4,65 mg/hari dibagi 3 dosis  3 x 1.5 mg kkal/hari,
selama 3 hari
 Vit. A 1 x 200.000 U untuk 10 hari
 Protein  1 x 15.5  15.5 kkal/hari
 Cetirizine  (3 x 1 porsi nasi dengan lauk + 2 x 1
(2.5 – 5.mg/hari dibagi2 dosis)  2 x ½ cth porsi snack)
22
selama 5 hari.
Rencana Evaluasi Edukasi
 Observasi keadaan umum,  Jaga pola hidup bersih
TTV (N, S, RR) dan dan sehat, cuci tangan
diuresis tiap 3 jam sebelum makan, makan
 Observasi balance cairan makanan yang dimasak
tiap hari dengan matang dan
mandi teratur.
 Istirahat cukup.

23
VIII. PROGNOSIS
 Ad vitam : bonam
 Ad functionam : bonam
 Ad sanationam : bonam

24
TINJAUAN PUSTAKA
1. Rubella

25
RUBELA
 Penyakit virus yang umum pada anak dan dewasa muda.Yang
ditandai oleh suatu masa prodormal yang pendek, pembesaran
KGB, disertai erupsi yang berlangsung 2 – 3 hari.
 Anak usia lebih besar dan orang dewasa, sesekali infeksi berat
disertai kelainan sendi dan purpura
 Kelainan prenatal akibat rubella pada kehamilan muda:
- abortus
- lahir mati
- kelainan kongenital yang berat
ETIOLOGI
 Virus RNA, genus Rubivirus, famili Togaviridae
 Pada waktu terdapat gejala klinik virus dapat ditemukan pada
sekret nasofaring, darah, feses dan urin
 Pejamu (host) manusia
PATOGENESIS

 Penularan: oral droplet dari nasofaring/ pernafasan


 Selanjutnya memasuki aliran darah
 Penularan dapat terjadi sejak 7 hari sebelum hingga 5
hari sesudah timbulnya erupsi.
 Daya tular tertinggi pada akhir masa inkubasi, kemudian
menurun dengan cepat dan berlangsung hingga
menghilangnya erupsi.
EPIDEMIOLOGI

 Terdistribusi secara luas di dunia


 Epidemi terjadi dengan interval 5 – 7 tahun, paling sering
timbul di musim semi.
 Sebelum ada vaksinasi, angka kejadian tertinggi pada anak
usia 5 – 14 tahun
MANIFESTASI KLINIS

 Masa inkubasi 14-21 hari ( 12-21 hari)


 Masa Prodromal (1-5 hari)
 Masa Eksantema
MANIFESTASI KLINIS

 Masa inkubasi 14 – 21 hari ( 12-21 hari)


 Masa Prodromal (1-5 hari):
 Demam ringan, sakit kepala, nyeri tenggorok, kemerahan, conjungtiva,
rinitis, batuk, limfadenopati menghilang pada waktu erupsi timbul.
 Gejala dan tanda prodromal biasanya mendahului erupsi di kulit 1 – 5
hari.
 Pada 20% selama masa prodromal atau hari pertama erupsi, timbul
enantema (tanda Forschheimer) yaitu berupa makula atau petekie pada
palatum molle
 Pembesaran kel. Limfe 5-7 hari sebelum timbul eksantema khas kel
suboksipital, postaurikular dan servikal, disertai nyeri tekan
 Masa Eksantema
 Mulai retro-aurikular atau pada muka dan dengan cepat meluas
secara kraniokaudal ke bagian dari tubuh.
 Mula-mula makula berbatas tegas, meluas, menyatu morbilliform.
 Hari ke 2 eksantem di muka menghilang, hari ke 3 di tubuh dan hari
ke 4 di anggota gerak
 Limfadenopati merupakans suatu gejala klinis yang penting dari
rubella. Biasanya pembengkakan KGB berlangsung 5 – 8 hari.
PENYULIT

 Remaja dan dewasa: artritis dan arthralgia sendi kecil,


tangan, kaki, lutut, dan bahu yang berupa pembengkakan
dan nyeri.
 Khususnya artralgia pada tangan timbul setelah erupsi pada
dewasa, merupakan gejala klinis yang sangat meyakinkan
 Artritis biasanya hilang dalam 1 bulan
 Encefalitis sangat jarang terjadi.
 1 minggu setelah erupsi timbul dapat terjadi purpura
trombositopenik, epistaksi, perdarahan gusi dan saluran cerna,
hematuria serta ekimosis di palatum dan periorbita.
Diagnosa Banding
 Penyakit yang memberikan gejala klinis dan eksantema yang
menyerupai rubella :
 Penyakit virus : Campak, roseola infantum, eritema
mononukleosis infeksiosa, pityriasis rossa.
 Penyakit bakteri : Scarlet fever.
 Erupsi obat : Ampisilin, penisilin, asam salisilat, bartiburat,
INH.

34
Diagnosis
 Sifat demam → Jarang sekali diatas 38℃.
 Pada infeksi yang atipikal, macula merah muda yang menyatu
menjadi eritema difus di muka dan badan serta arthralgia di
tangan merupakan petunjuk diagnosis rubella
 LAB : Leukopenia di awal penyakit, penurunan ringan
trombosit.
 Diagnosis pasti → pemeriksaan serologi berupa peningkatan
titer antibody 4x pada hemaglutination inhibiton test (yang
mulai meningkat 24 – 48 am setelah permulaan erupsi dan
mencapai puncak 6 – 12 hari) atau ditemukan antibido IgM
yang spesifik untuk rubella.

35
TINJAUAN PUSTAKA
2. Demam Tifoid

36
 Demam tifoid  disebabkan infeksi sistemik akut yang
disebabkan oleh Salmonella typhi.

 Epidemiologi
 91% demam tifoid  usia 3 – 19 tahun (meningkat sejak usia 5
tahun)

37
Patogenesis
 Melibatkan 4 proses kompleks :
 Penempelan dan invasi sel – sel M Peyer’s Patch
 Bakteri bertahan hidup dan bermultiplikasi di makrofag Peyer’s
Patch, nodus limfatikus mesentrikus, dan organ – organ ekstra
intestinal RES
 Bakteri bertahan hidup di dalam aliran darah
 Produksi enterotoksin yang meningkatkan kadar cAMP didalam
kripta usus dan menyebabkan keluarnya elektrolit dan air ke
dalam lumen intestinal.

38
Manifestasi Klinis
 Pada anak periode inkubasi antara 5 – 40 hari dengan
rata – rata 10 – 14 hari.
 Tipe Demam → Step ladder temperature chart.
 Pada saat demam sudah tinggi dapat disertai dengan
kesadaran menurun, delirium.
 Gejala sistemik lainnya → Nyeri kepala, malaise,
anoreksia, nausea, myalgia, nyeri perut dan radang
tenggorokan.
 Pemeriksaan Fisik → Coated tongue,
hepatosplenomegali, rose spot.

39
Diagnosis
 Berdasarkan gejala klinis → Demam, gangguan
gastrointestinal, perubahan gangguan kesadaran.
 Diagnosis pasti → IgM Salmonella Thyphi .

40
Tatalaksana
Farmakologi1,11 Non-farmakologi1,11
 Antibiotik
 Kloramfenikol (DOC) 100 mg/kgBB/hari, oral atau
 Suportif:
IV, dibagi dalam 4 dosis selama 10 – 14 hari  Demam tifoid ringan 
 Amoksisilin 200 mg/kgBB/hari, oral atau IV, selama 10
hari atau ampisilin IV selama 10 hari rawat di rumah
 Kotrimoksasol 6 mg/kgBB/hari, oral, selama 10 hari
 Tirah baring
 Seftriakson 50 – 75 mg/kgbb/hari, IV atau IM, sekali
sehari, selama 5-7 hari  Isolasi memadai
 Kortikosteroid  kasus berat (gangguan kesadaran)
 Deksametason 3 mg/kgBB/hari IV, dibagi 3
 Kebutuhan cairan dan kalori
dosis, diikuti dengan 1 mg/kgBB tiap 6 jam selama dicukupi
48 jam hingga kesadaran membaik

41
Komplikasi PROGNOSIS
 Perforasi Usus  Prognosis →
 Miokarditis tergantung dengan
 Sistitis / pielonefritis ketepatan terapi, usia,
 Pneumonia keadaan kesehatan
sebelumnya, ada
komplikasi atau tidak.

42
PENCEGAHAN

 Memperhatikan kualitas
makanan dan minuman
yang dikonsumsi.
 Vaksinasi

43
TINJAUAN PUSTAKA
3. Pneumonia

44
 Pneumonia → Inflamasi yang mengenai parenkim paru,
yang sebagian besar disebabkan oleh mikroorganisme.

45
Etiologi
 Streptococcus pneumoniae – Penyebab tersering pada
pneumonia bakteri di anak
 Haemophilus influenzae type b (Hib) – Penyebab
kedua yang menyebabkan bakteri pneumonia
 respiratory syncytial virus – Penyebab virus
pneumonia yang tersering

46
Manifestasi Klinis
 Gejala Infeksi Umum
 Gejala gangguan respiratori
 Takipnea atau terjadi retraksi saat inhalasi
 Ditemukan suara Wheezing pada pneumonia ec viral

47
Darah Perifer Lengkap

 Pneumonia virus  leukosit dalam batas normal / meningkat.


 Pneumonia bakteri  leukositosis berkisar 15.000-40.000/mm3.
 Leukopenia (<5.000/mm3)  prognosis buruk.
 Leukositosis hebat (>30.000/mm3)  infeksi bakteri, risiko
terjadinya komplikasi lebih tinggi.
Pemeriksaan Radiologi

 Secara umum gambaran foto toraks terdiri dari


 Infiltrate interstisial → Peningkatan corakan bronkovaskular.
 Infiltrate alveolar → Konsolidasi paru dengan air bronchogram
 Bronkopneumonia → Gambaran difus merata pada kedua paru, berupa bercak
– bercak infiltrat disertai dengan peningkatan corakan peribronkial.

 Gambaran foto rontgen dapat membantu mengarahkan kecendrungan etiologi :


 Pneumonia Virus → Penebalan peribrokial, infiltrat interstisial merata,
hiperinflasi
 Pneumonia Bakteri → Infiltrat alveolar berupa konsolidasi segmen atau lobar,
bronkopneumonia, air bronchogram.
Klasifikasi pneumonia (berdasarkan WHO)

 Bayi kurang dari 2 bulan


 Pneumonia berat → Napas cepat dan retraksi yang berat
 Pneumonia sangat berat

 Anak umur 2 bulan – 5 tahun


 Pneumonia ringan → Napas cepat
 Pneumonia berat → Retraksi
 Pneumonia sangar berat → Tdk dpt makan minum, kejang, letargis.
Tatalaksana
 Rawat Jalan →
AB Lini pertama secara oral →
Amoksisilin 25 mg/kg BB atau
Kotrimoksazol (4mg/kgBB TMP – 20
mg/kgBB sulfametoksazol)
 Rawat Inap →
Antibiotik golongan beta lactam /
Chloramphenicol.

51
Komplikasi
 Empiema torasis → komplikasi tersering di pneumonia
bakteri
 Perikarditis Purulenta
 Pneumotoraks
 Infeksi ekstrapulmoner → Meningitis Purulenta

52
Kesimpulan
 Pasien An. S usia 4 tahun 7 bulan berdasarkan anamnesis,
pemeriksaan fisik dan penunjang didapatkan diagnosis kerja
Rubella, Demam Thypoid, Bronkopneumonia, Gizi Kurang.
Pasien mendapatkan pengobatan Zink, Pulvus Batuk, PCT
Syrup, Isprinol, Nebulizer tiap 8 jam, Ceftriaxone,
Dexamethasone, Cetirizine. Pasien dirawat selama 5 hari, dan
didapatkan kondisi membaik dan control kembali 11
September 2017.

53
Daftar Pustaka
1. Tifoid. Tanto C, Liwang F, Hanifati S, Pradipta EA. Kapita selekta kedokteran. Ed. IV. Jilid II. Jakarta: Medical
Aesculapius; 2014. p74-5.
2. Demam tifoid. Dalam: IDI. Panduan praktik klinis bagi dokter fasilitas pelayanan kesehatan primer. Ed. Revisi. Jakarta:
IDI; 2014. p104-11.
3. Demam enterik: demam tifoid dan paratifoid. Dalam: Garna H, Nataprawira HM, ed. Pedoman diagnosis dan terapi
ilmu kesehatan anak. Ed. 5. Bandung: Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas
Padjajaran RSUP Dr. Hasan Sadikin; 2014. p409-11.
4. Demam tifoid. Dalam: WHO. Buku saku pelayanan kesehatan anak di rumah sakit. Ed. 1. Jakarta: WHO; 2009. p167-68.
5. Demam tifoid. Dalam: Pudjiadi AH, Hegar B, Handryastuti S, Idris NS, Gandaputra EP, et.al, ed. Pedoman pelayanan
medis. Ed. I. Jilid I. Jakarta: IDAI; 2009. p47-50.
6. Shann F. Drug doses. 16th ed. Australia: ICU Royal Children’s Hospital; 2014.
7. Unicef/WHO. Pneumonia: the forgotten killer of children. Geneva: The united Nations Children’s Fund/World Health
Organization; 2006
8. Rahajoe NN. Supriyatno B, Setyanto DB. Buku Ajar Respirologi Anak. Edisi . Jakarta. Ikatan Dokter Anak Indonesia;
2010; H350-65
9. Garna H, Nataprawira HM. Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Kesehatan Anak. Edisi 5. Jakarta:
Departemen/SMF Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran/RSUP Dr.
Hasansadikin; 2014
10. Pudjiadi AH, Hegar B, Hardyastuti S, Idris NS, Gandaputra SP, Harmoniati ED. Pedoman pelayanan medis
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jakarta: Badan penerbit IDAI; 2011
54
55